CHARACTER: Uzumaki Naruto, Kirigaya Kazuto, Yuuki Asuna, dll

GENRE: Fantasy, Friendship, Romance, Adventure, Action, Hurt/ Comfort

WARNING: Ooc, semi canon, FemKirito, tidak suka tidak usah dibaca

Maaf kalau ada kesamaan dengan fic lainnya

Tittle:

The Heroe's of Yellow Flash

Chapter 2:Harapan yang tidak boleh disia-siakan

2 Desember 2022

Sebulan lebih telah berlalu semenjak para pemain terjebak di Dunia Sword Art Online. Dan selama itu, dikabarkan 2000 pemain sudah game over, alias meninggal Dunia. Serta yang lebih mengejutkan, belum ada satu pun pemain yang bisa menyelesaikan lantai pertama. Bahkan, Kirito yang seorang Beta tester pun belum mampu menemukan lokasi Boss lantai pertama.

Hingga kemudian, akhirnya para pemain sepakat untuk bekerja sama. Mereka termasuk Kirito di dalamnya mengadakan suatu pertemuan untuk membahas bagaimana cara menemukan dan mengalahkan Boss lantai pertama.

Para pemain yang mengikuti rencana ini telah berkumpul di lokasi yang ditentukan. Sebuah gedung terbuka yang cocok untuk dijadikan tempat pertemuan. Mereka, para pemain yang jumlahnya sekitar tiga puluh orang itu duduk sambil mendengar arahan dari pemain yang berdiri di depan, pemain berambut biru yang kelihatannya merupakan pencetus ide dibuatnya kerja sama seperti ini.

"Baiklah, ayo kita mulai pertemuannya" Ucap orang itu.
"Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih pada kalian semua karena mau hadir pada pertemuan ini, namaku Diabel" Pemuda itu memperkenalkan diri.

"Aku menyebut pekerjaanku ini sebagai kesatria" Ucap Diabel lagi.
"Hahaha" Para pemain yang mengikuti pertemuan itu malah tertawa, "Di game ini tak ada sistem pekerjaan kan?" Ucap salah seorang dari mereka.

"Kesatria katamu?"
"Jangan main-main"
"Jangan-jangan pertemuan ini hanya bercanda?"

"!" Tiba-tiba saja tatapan Diabel yang mulanya santai berubah menjadi serius.
"Hari ini, party kita akan dimulai" Ucapnya.

Dalam kebanyakan game, Party merupakan istilah yang berarti kelompok atau group. Kalian yang sering bermain RPG dengan lebih dari satu pemain pasti sudah tak asing.

"Lokasi Boss pertama telah berhasil ditemukan" Jelas Diabel.

"Eh? benarkah?"

"Kita harus mengalahkan Boss lantai ini agar bisa naik ke lantai selanjutnya ... Dan memberitahu orang-orang yang sedang berada di Kota Awal Mula bahwa kita semua bisa menyelesaikan Game ini!" Ucap Diabel. Ia tak ingin melihat para pemain lain pasrah, merasa kalau mereka akan terjebak di Dunia ini selamanya, melainkan terus berusaha karena menyelesaikan Sword Art Online bukanlah hal yang mustahil.

"Dan karena kalian semua telah berada disini, mari kita saling berbagi kekuatan! Apa kalian setuju!?" Tegas Diabel, sosok yang benar-benar pantas sebagai seorang pemimpin.

Untuk sesaat, para pemain ragu dengan hal ini. Namun kemudian, mereka yakin dan memberi tepuk tangan. Sementara Naruto, ia tersenyum melihatnya.

"Baiklah, rencana kita adalah seperti ini ..." Setelah mendengar antusias para pemain untuk bekerja sama, Diabel mulai menjelaskan rencananya :
"Pertama, kita akan dibagi menjadi enam party ..."

"Eh!?" Naruto kaget saat mendengar keputusan ini.

"Boss lantai pertama tak akan bisa dikalahkan hanya dengan sebuah party ... Kita perlu menyusun party penyergapan dengan membentuk banyak party"

Naruto semakin panik saat mendengar ini. Bukannya kenapa, dia panik karena pemain-pemain lainnya telah saling menginvite untuk jadi anggota party. Sementara Naruto, ia duduk di jarak yang cukup jauh dari pemain-pemain lainnya, belum mengajak atau diajak oleh siapa pun.

Hingga akhirnya Naruto melihat seorang pemain berjubah merah duduk jauh di pojokan, juga masih sendiri seperti dirinya. Lalu, Naruto pun menghampirinya.

"Mmm, apa kau akan ikut juga?" Naruto bertanya.
"Aku tidak ikut, aku duduk berjauhan dari mereka, kelihatannya mereka memang sudah saling kenal" Sahut pemain itu, sosok misterius yang dari suaranya terdengar sepertinya merupakan seorang perempuan.

"Single Player ya? Bagaimana kalau kau ikut dan bergabung denganku?" Ajak Naruto.

"?"

"Dia bilang kita tak akan bisa mengalahkan Boss di lantai ini sendirian ... Jadi, hanya untuk pertempuran ini saja, bagaimana?" Tawar Naruto lagi. Dan kemudian, pemain misterius itu menganggukkan kepala.

Setelahnya, Naruto membuka menu untuk menginvite seseorang masuk ke partynya. Dan lalu, pemain misterius itu pun menerima undangannya.

Dengan bergabungnya pemain misterius itu ke dalam party, Naruto pun bisa melihat Status Barnya. termasuk nama dari pemain itu, Asuna.

"Baik, semuanya sudah memiliki kelompok kan? Kalau begitu ..."

"Tunggu sebentar!" Tiba-tiba seorang pemain datang menyela pertemuan ini.

"Namaku adalah Kibaou" Lelaki berambut jingga itu maju ke depan para pemain serta memperkenalkan dirinya, lalu berkata, "Sebelum kita menghadapi Boss lantai itu, aku ingin menyampaikan sesuatu. Yaitu, seseorang yang ada disini perlu meminta maaf pada dua ribu korban yang telah meninggal!" Kibaou menunjuk ke arah tempat duduk para pemain.

"Kibaou-san, apa yang kau maksud adalah Beta Tester?" Diabel bertanya.
"Tentu saja!" Sahut tegas Kibaou.

"..." Naruto yang juga Beta Tester sempat terkejut karena hal ini. Untungnya, para pemain yang ada disana tak tahu kalau ia juga adalah Beta Tester.

"Saat game bodoh ini pertama kali dimulai, orang-orang Beta Tester selalu menganggap kita sebagai seorang pemula. Dan sekarang, mereka menghilang, mengambil semua tempat berburu yang bagus, dan mengambil Quest (Misi) yang ada untuk diri mereka sendiri. Jadi, hanya merekalah yang akan memperoleh kekuatan. Orang-orang seperti mereka tak akan mempedulikan pemain pemula seperti kita" Kelihatannya Kibaou benar-benar tidak suka dengan Beta Tester.

"Aku yakin, pasti ada Beta Tester di antara kalian!" Ucap Kibaou ke para pemain yang ada disana. "Angkat tangan dan minta maaflah! Serta berikan semua item serta uang yang kalian dapat! Atau kami tak akan mempercayai kalian dalam party ini, begitu pun sebaliknya"

"kh" Naruto hanya diam, bingung, tubuhnya gemetar, antara mengaku kalau ia adalah seorang Beta Tester atau tidak. Namun tiba-tiba, seseorang angkat bicara, "Bolehkah aku berbicara?" Tanyanya, seorang pemain bertubuh coklat kekar dengan rambut botak.

"Namaku adalah Egil" Ia memperkenalkan diri dan maju menghampiri Kibaou.
"Kibaou-san, katakan padaku jika yang aku katakan ini benar ... Kau berkata begitu karena kau berpikir Beta Tester tak peduli pada mereka yang telah mati kan? Dan karena yang mati itu adalah pemula, kau menyalahkan Beta Tester, dan mereka harus bertanggung jawab, meminta maaf, dan memberi suatu kompensasi untuk semua ini, begitu kan?"

"Be-benar ..." Ucap Kibaou. Kemudian, Egil mengambil sebuah buku dari sakunya.

"Kau juga memiliki buku panduan seperti ini kan? Aku mendapatkannya secara gratis dari Item Shop"

"Aku juga memilikinya, memangnya kenapa?" Kibaou tak mengerti. Lalu kemudian Egil menjelaskan kalau, "Semua informasi yang ada di buku ini didapat dari Beta Tester"

"Eh? Benarkah?" para pemain baru tahu hal ini.

"Kh ..." Kibaou tak bisa berkata-kata, kemudian Egil menghadap ke arah pemain ...

"Dengar, padahal semua pemain bisa mengakses informasi yang ada di dalam buku ini ... Tetapi, masih saja ada banyak pemain yang tewas, siapa yang patut disalahkan? Dari sini harusnya kita bisa mengambil pelajaran dari mereka yang sudah mati dan menemukan cara bagaimana mengalahkan Boss lantai ini" Jelas Egil, hingga membuat Kibaou tak mampu berkata-kata lagi dan duduk.

"Yosh, sekarang mari kita lanjutkan yang tadi ..." Diabel kembali mengambil alih.
"Di dalam edisi terakhir buku panduan ini, terdapat informasi mengenai Boss di lantai ini ... Dan menurut buku ini, nama Boss dari lantai ini adalah Illfang Kobold Lord" Jelas Diabel ke semuanya sambil melihat buku panduan yang ia miliki.

"Dia dikawal oleh beberapa pengawal yang dikenal dengan nama Ruin Kobold Sentinel. Senjata dari Boss ini adalah kapak dan sebuah Buckler. Dia memiliki empat bar nyawa. Dan ketika satu bar yang tersisa sudah berwarna merah, dia akan beralih ke sebuah senjata pedang lengkung bernama Talwar, serta merubah pola serangannya ... Itulah informasi yang kita miliki" Jelas Diabel dan kemudian menutup buku panduan.

"Lalu, item dan EXP yang nantinya didapat akan tersebar pada kelompok yang mengalahkannya, apa ada yang keberatan dengan ini?" Diabel memastikan sebelum penyerangan dimulai. Dan kelihatannya, tak ada pemain yang protes, mereka semua setuju.

"Baiklah, kalau begitu kita akan segera pergi ke tempat itu besok pagi jam sepuluh ... Pertemuan dibubarkan" Pertemuan pun berakhir.

Malam harinya, para pemain tadi berkumpul, makan dan minum bersama, sebelum memulai penyerangan besok pagi. Namun berbeda dengan mereka, Asuna, pemain misterius berjubah merah yang merupakan anggota party Naruto memilih untuk sendiri, makan sepotong roti di pojokan.

"Rasanya enak, bukan?" Tiba-tiba Naruto menghampirinya, "Boleh aku duduk?"

Asuna diam saja tak menyahut, merasa kalau Asuna tak melarang, Naruto pun duduk di sebelahnya, sambil mengambil roti yang sama dari sakunya.

"Apa kau benar-benar berpikir kalau makanan ini enak?" Asuna bertanya.

"Tentu saja" Sahut Naruto sambil memakan satu gigitan roti itu.
"Aku selalu memakan ini setiap hari sejak pertama aku tiba di kota ini" Ucapnya.
"Tapi, aku sudah memodifikasinya sedikit sih" Naruto mengambil sesuatu lagi dari sakunya.

"Modifikasi?" Asuna tak mengerti, kemudian Naruto memperlihatkan sebuah item kecil mirip toples tempat bumbu.

"Coba tambahkan ini sedikit ke rotimu" Saran Naruto dan kemudian Asuna pun menyentuhkan jarinya ke ujung benda itu. Serta secara mengejutkan, jari tangannya bercahaya.

Lalu, Asuna mengoleskan cahaya itu ke roti. Dan kembali secara mengejutkan, cahaya itu berubah menjadi olesan krim, benar-benar futuristik, akankah di masa depan cara mengoleskan krim bisa jadi sesederhana ini?

"Krim?"

Naruto juga melakukan hal yang sama, mengolesi rotinya dengan krim dan lalu memakannya dengan lahap. Untuk sesaat, Asuna sempat ragu. Namun kemudian ketika ia mencoba memakan satu gigitan, ternyata rasanya memang enak dan ia pun menghabiskan semua roti itu.

"Aku mendapat item ini dari Quest yang aku selesaikan" Jelas Kirito.
"The Heifer Strikes Back, begitulah mereka menyebutnya ... Jika kau ingin mencoba, aku akan menunjukkannya"

Asuna menggeleng-gelengkan kepala, lalu berkata "Aku datang ke kota ini bukan untuk memakan makanan yang enak"

"Lalu, untuk apa?" Naruto bertanya.

"Seperti inilah diriku ... Aku selalu berjalan sendiri sampai saat ini,
duduk sendiri tanpa ada yang mempedulikan, lalu kembali ke kota pertama ... Meskipun seorang monster membunuhku, Aku tak akan kalah ... Dari game ini dan juga dunia ini, apa pun yang terjadi"

"Rupanya kau punya ambisi juga, ya ... Maa, itu tidak masalah buatku, tapi jangan sampai kau terlalu berambisi ... atau kau akan berada dijalan yang salah ... selain itu, jangan sampai kau mati besok" Ucap Naruto setelah memakan potongan roti terakhirnya.

"Aku mengerti" Ucap Asuna datar

Keesokan harinya, 3 Desember 2022, para pemain masuk ke dalam hutan, menuju lokasi di mana Boss lantai satu berada.

"Kita harus terus maju. Tetapi, kita juga harus menyisihkan kekuatan kita untuk melawan pengawal dari Boss lantai satu, yaitu Ruin Kobold Sentinel" Jelas Naruto ke Asuna, mereka berada di barisan paling belakang, cukup jauh dari barisan di depannya.

"Aku mengerti" Ucap Asuna.

"Aku akan menggunakan skill pedangku untuk menyerang gagang kapaknya ... Lalu selanjutnya, aku akan melakukan switch"

"Switch?" Asuna tak mengerti.

Switch adalah suatu perintah untuk bertukar pemain yang akan melakukan serangan.

"Apa ini pertama kalinya kau mengikuti party?"

"Ya" Ucap Asuna.

"Be-begitu ..." Ucap Naruto 'Habislah aku' Pikir Naruto

Setelahnya, mereka semua sampai di depan gerbang lokasi ruangan Boss lantai satu berada.

"Dengarkan aku, semuanya ..." Diabel memimpin mereka. Sebelum mereka masuk ke dalam, ia berkata, "Hanya ada satu hal yang ingin aku sampaikan sebelum kita masuk ke dalam. Yaitu, mari kita menangkan pertarungan ini!"

Para pemain semakin bersemangat.

"Ayo maju!" Diabel pun membuka gerbangnya, di mana sesosok monster raksasa berkapak yang merupakan boss lantai pertama menunggu.

"Oarghhhh!" Boss lantai pertama, Illfang the Kobold Lord meraung, memunculkan ketiga pengawalnya dan langsung menyerang para pemain secara bersamaan.

"Serbu!" Diabel memberi perintah, lalu pasukan pun bergerak menyerang.

Pertempuran sengit terjadi, para pemain terus berjuang melakukan serangan demi serangan sementara Diabel memberi perintah, "Pasukan A, switch C! Dia datang! Pasukan B, lakukan blocking!" Pasukan B termasuk Egil di dalamnya memblok serangan para pengawal.

"Pasukan C, tetap bersiaga dan bersiap melakukan switch ... Sekarang! Bersiagalah dan siapkan serangan pada tiap sisi ... Pasukan D, E, F, jauhkan Sentinel dari kami!" Perintah Diabel lagi.

"Dimengerti!" Naruto yang berada di pasukan F menyerang pengawal.
"Switch!" Perintah Naruto dan lalu Asuna dengan cepat melesat menyerang.

"Nomor tiga ..." Asuna menyiapkan suatu skill dengan senjata yang ia bawa.

"Aku pikir dia pemula ... Ternyata, dia hebat juga" Pikir Naruto.
"Tarian pedang yang bagus" Puji Naruto

Asuna memang cepat dan hebat, ia bahkan mampu menghancurkan salah satu pengawal dengan senjata yang ia bawa.

"Teruskan itu" Ucap Naruto.

Namun tentu saja, matinya satu pengawal tidak berarti semuanya berakhir. masih tersisa dua pengawal dan seorang Boss yang harus dikalahkan.

Salah satu dari dua pengawal itu menyerang Naruto. Namun untungnya, Naruto memiliki skill yang cukup untuk bisa menghindar, serta balik menyerangnya.

"Arggghhhh!" bar nyawa boss lantai ini hanya tinggal satu dan telah menjadi merah. Lalu seperti apa yang ditulis dalam buku panduan, ia berganti senjata.

"Yeah, sepertinya informasi itu memang benar" Ucap Kibaou.

"Mundur! Biar aku yang menghabisinya!" Diabel yang sejak tadi memberi perintah kini mulai beraksi. Ia menerobos pasukan dan bersiap untuk mengakhiri hidup si boss.

"!" Naruto kaget saat melihat ke arah si boss. Karena ternyata, senjata yang ia keluarkan bukanlah Talwar seperti apa yang tertulis di buku panduan, tapi pedang besar bernama No-Dachi.

"Ini sama sekali berbeda dengan saat Beta Test!" Pikir Naruto dan kemudian berteriak pada Diabel, "Jangan lakukan! Mundurlah secepat yang kau bisa!"

Akan tetapi, Diabel tetap maju dan menyerang. Dan pada akhirnya, malah si monster yang berhasil menebas tubuhnya.

"Diabel!"

"Oarghhh!" Monster itu kini bersiap untuk menyerang pemain lainnya.

"Diabel!" Naruto berlari menghampiri Diabel yang sudah terbaring.
Keadaan Diabel benar-benar parah, bar nyawanya terus menurun secara drastis.

"kenapa kau melakukannya sendirian?" Naruto bergegas mengambil obat dari sakunya.
Namun ketika Naruto hendak menyembuhkan Diabel, lelaki berambut biru itu malah menolak.

"Aku tahu kau pengguna Versi Beta ... Jadi, kau mengerti apa yang aku lakukan bukan" Ucap Diabel.

"Ah ..." Naruto baru sadar, "Jadi, kau mengincar bonus dari last attack yaitu item langka ... Jadi, kau juga pengguna versi Beta ya?"

"Hmm" Diabel hanya menjawab dengan senyuman. Kemudian meminta, "Aku mohon ... Kalahkan... Kalahkan Boss lantai ini ... Demi semuanya" Pinta Diabel pada Naruto sebelum akhirnya ia menghilang.

"Ketika game ini dimulai, Aku yang seorang Beta Tester hanya bisa berpikir untuk bertahan hidup ... Tapi Diabel, kau juga adalah seorang Beta Tester ... Kau tak pernah membeda-bedakan pemain lain ... Kau membiarkan mereka semua bertarung bersamamu ... Kau telah melakukan apa yang tak bisa aku lakukan"

Naruto ingat saat berpisah dengan Klein dan Kirito, teman-teman pertamanya di versi final Sword Art Online. Saat itu, Naruto berpikir kalau Klein yang berencana mengajak teman-temannya yang masih pemula tak akan bisa bertahan jika bertarung bersamanya, begitupun dengan Kirito, namun berbeda dengan Diabel yang tidak membeda-bedakan pemain dan percaya kalau mereka bisa bertarung bersamanya.

Naruto tak mau terpuruk berlama-lama, ia kembali mengangkat pedang dan bersiap untuk mewujudkan permintaan terakhir Diabel, yaitu mengalahkan Boss lantai ini.
Naruto tak mau terpuruk berlama-lama, ia kembali mengangkat pedang dan bersiap untuk mewujudkan permintaan terakhir Diabel, yaitu mengalahkan Boss lantai ini.

"Aku juga akan maju" Asuna kembali ke sebelah Naruto, juga telah siap untuk bertarung.
"Tolong, ya" Naruto dan Asuna berlari ke arah si monster dengan sebuah pedang di tangan, serta tekad yang telah benar-benar bulat untuk menang.

"Ayo kita lakukan seperti saat melawan Sentinel!" Perintah Naruto.
"Aku mengerti" Sahut Asuna.

Monster itu pun tak tinggal diam. Ia menyiapkan pedang raksasa yang dibawanya, serta mencoba untuk menebas Kirito. Akan tetapi, Naruto menahan serangan itu dengan pedangnya.

"Switch!"

Setelah Kirito menahan pedang si monster, Asuna melesat maju.

"!" Namun sayang sekali, boss lantai pertama tidaklah semudah itu untuk dikalahkan.
Dengan cepat, ia menebas Asuna yang bahkan belum sempat menyerangnya.

"Asuna, merunduk!" Teriak Naruto.

Untungnya, Asuna juga bukanlah pemain yang bisa dikalahkan semudah itu. Serangan monster tadi hanya mampu menghancurkan jubah yang selama ini dipakai olehnya, sementara Asuna sendiri masih bisa menyerang : dan kali ini sukses, boss lantai satu terpental.

Naruto terpana saat melihat Asuna. Bukan karena kehebatannya, melainkan karena sosok di balik jubah yang selama ini menutupi Asuna, begitu cantik. Naruto tidak menyangka kalau yang ada di balik jubah merah itu adalah gadis cantik berambut orange panjang.

"Argghhh!" Kembali bangkitnya si monster membuat lamunan Asuna buyar.
Untuk beberapa saat, pertarungan sengit terjadi. Hingga pada akhirnya, monster itu berhasil mengenai tubuh Asuna.

Serangan monster tadi cukup membuat bar nyawa Asuna berkurang drastis, hampir separah yang Diable alami.

"Arghhh!" Monster itu tak berhenti menyerang.

"Hieahhh!" Untuk saja masih ada yang lain. Egil menghempas serangan si monster dengan pedangnya dan kemudian memerintahkan pasukan untuk kembali menyerang, "Maju!"

"Kami akan mengurus mereka sampai kau pulih" Ucap Egil.

"Kau ..."

Para pemain menyerang Boss lantai satu yang bar nyawanya benar-benar tinggal sedikit itu secara bersamaan. Namun meski begitu, si boss masih sangat kuat, terlebih untuk pemula seperti mereka.

"Shimatta!" Naruto kembali bersiap untuk menyerang, "Kubunuh kau!" Ia menebas si boss, hingga terpental dan masih menyisakan HP sangat amat sedikit.

"Asuna, kau masih bisa melakukannya kan ... ayo maju!" Ucap Naruto
"Mengerti!"

Naruto dan Asuna saling menyerang secara bergantian, benar-benar kolaborasi yang luar biasa. Hingga akhirnya, si monster berhasil ditaklukkan, namun saat mereka berpikir kalau semua sudah berakhir, si boss lantai bangkit lagi.

"Graaauuuu!" semua pamain sempat membulatkan matanya saat melihat monster tersebut bangkit lagi.

"Tidak mungkin" semua pemain putus asa

Namun berbeda dengan Naruto, kemudian kembali berdiri dengan gagah dan menantang monster itu untuk berduel tanpa rasa takut sedikitpun. " Sial, kalau begini, aku tidak punya pilihan lain selain menunjukkan identitasku" Dia kemudian membuka bar menunya dan mengganti senjatanya. Pedangnya yang tadi kini telah berganti dengan dua buah belati yang mirip dengan senjata pedang cakra konoha.

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Asuna

"Kau lihat saja" Ucap Naruto tersenyum kecil pada Asuna

Naruto menatap tajam kearah monster itu begitupun sebaliknya. Suasana begitu tegang diantara keduanya, sebelum akhirnya menyentak pijakanmasing-masing disaat yang sama. Dan-

Traaaaannnnggggggg

Suara benturan dari kedua senjata mereka terdengar sampai keseluruh penjuru ruangan.

Dakkkk

Setelah mereka bertabrakan, kemudian mereka sama-sama terpental kebelakang. Naruto kemudian dengan cepat kembali melancarkan serangannya, meski tidak secepat Asuna.

"Huuooooaaaaaa!" Teriak Naruto penuh semangat

Mereka pun kembali saling menghantamkan senjata masing-masing. Pertarungan menjadi sangat sengit, tidak ada satupun dari ereka yang mau mengalah, baik Naruto ataupun si monster tersebut. Naruto mengkombinasikan Taijutsu miliknya dari dunianya yang sulu dengan senjata yang dia gunakan saat ini.

Naruto menendang, memukul, dan menyayat tubuh monster itu dengan kedua belati miliknya. Semua orang yang ada disana begitu terpukau, termasuk Asuna dan Egil. Naruto saat ini bagaikan sedang menari diatas panggung.

"!" Naruto kemudian melompat keatas dan mengaktifkan sword skillnya, disaat itu pula kedua belati miliknya mulai bersinar kuning terang, dan dengan secepat kilat dia menebas kepala sang monster.

Zraaaaatttttt

Dan beberapa detik kemudian, Naruto telah beridiri dibelakang monster yang kemudian hancur dan berubah menjadi serpihan cahaya

"Be-berhasil!" Teriak senang para pemain. Dan dengan ini, selain bisa maju ke lantai dua, para pemain juga saling mendapatkan EXP secara merata. Dan untuk Naruto yang menjadi penyerang terakhir, ia mendapat bonus last attack berupa item bernama Coat of Midnight.

"Kerja bagus ... tadi itu teknik pedang yang mengagumkan ... Selamat, kemenangan ini kaulah yang melakukannya" Egil memberi selamat ke Kirito.
"Ah, tidak ..." Naruto merendah. Namun bagaimanapun, para pemain tetap memberinya tepuk tangan. Kecuali satu pemain, Kibaou, yang malah berteriak kesal ke arahnya, "kenapa!?"

"Kenapa kau membiarkan Diabel mati!?" Teriaknya.

"Membiarkan dia mati?" Naruto tak mengerti.

"Tentu saja! Sebenarnya kau sudah tahu teknik yang digunakan oleh boss itu kan!?
Jika saja kau mengatakannya lebih awal, dia tak akan mati!" Teriak Kibaou lagi hingga membuat para pemain yang mulanya memberi tepuk tangan kini diam tak bersuara.

"Dia pasti Beta Tester!" Teriak salah seorang rekan Kibaou.
"Karena itulah, dia bisa mengetahui pola semua serangan boss lantai ini! Dia mengetahuinya, tapi tidak mengatakannya!"

"Di antara kalian pasti ada juga Beta Tester lainnya kan? Mengakulah!"

Image Beta tester kelihatannya semakin jelek.
Para pemain yang mulanya bekerja sama juga mulai saling curiga.

"Ini buruk" Pikir Naruto.
Ia memikirkan sesuatu dan kemudian ...

"Ya, benar!" Ucap Naruto "Aku memang seorang Beta Tester, begitu pula dengan Diabel" Lanjutnya

"Eh!?" Para pemain terkejut

"J-jangan bohong ... Diabel tidak mungkin seorang Beta Tester" Ucap Kibaou

"Tidak, aku tidak berbohong!"

"Diabel juga seorang Beta Tester ... Tapi Diabel, tak pernah membeda-bedakan pemain lain ... Dia membiarkan kalian semua bertarung bersamanya ... dia percaya pada kekuatan kalian semua, dan memlih mati sebagai seorang ksatria yang memberikan harapan pada kita ..."

"Yang benar saja, kami ini bukan ksatria ... kita tidak akan bisa ..."

"Lalu apa kalian mau mati didunia ini, tanpa usaha apapun untuk bertahan hidup? Huh, menyedihkan" Ucap Naruto memotong perkataan yang lainnya

"Guh!" Para pemain lain kecuali Asuna dan Egil, geram mendengar ucapan Naruto

"..." Naruto terdiam sejenak, dirinya teringat akan kejadian didunianya dulu.

Naruto memulai mengingat-ingat kembali semuanya, mulai dari hari kelahirannya dan kematian kedua orang tuanya, masa kecilnya yang kelam, perjuangannya untuk mendapat pengakuan dari orang lain, pengakuan dari Iruka-sensei dan tumbuh menjadi genin, kematian Kakek Hiruzen, Sasuke yang menjadi ninja pelarian, kematian Asuma-sensei, kematian Ero sennin, tragedi invasi pain kekonoha, pertemuan antara Naruto dan kedua orang tuanya, perang besar dunia shinobbi keempat, pertarungan terakhir dengan Sasuke dilembah akhir, reinkarnasi kedunia ini, dan tragedi komet dua tahun yang lalu.

Naruto akhirnya kembali angkat bicara.

"Ksatria atau bukan ... aku tidak akan membiarkan harapan yang diberikan Diabel berakhir sia-sia" Ucap Naruto dengan tegas dan jelas

"Egh" Kibaou tidak bisa berkata-kata lagi

Ucapan Naruto tersebut membuat setiap pemain menelan kata-katanya sendiri.

Naruto membuka menu itemnya. Lalu mengklik nama item yang baru saja ia dapatkan, Coat of Midnight.
Lalu secara otomatis, pakaian yang ia kenakan berubah menjadi jubah berwarna putih.

Naruto mulai melangkahkan kaki, menjauh dari para pemain itu, menuju tangga di mana lantai berikutnya telah menunggu. Namun tiba-tiba, Asuna menghentikannya.

"Tunggu" Ucap perempuan itu.

Naruto hanya menghentikan langkahnya, tidak menyahut atau bahkan membalikkan kepala.

"Tadi saat bertarung, kau memanggil namaku kan?"

"Maaf telah memanggil namamu ... Apa aku salah menyebutkannya?" Akhirnya Naruto menyahut.

"Darimana kau tahu namaku?" Asuna tak mengerti.

"Kau bisa melihat indikator HP di sekitar sini kan? Kau bisa melihat nama anggota partymu disana ..." Jelas Naruto.
Kemudian, Asuna pun melihat nama di Indikator Naruto.

"Naruto ...
Naruto?" Asuna baru tahu kalau namanya adalah Naruto.
"Apa itu namamu?"

"Ya" Sahut Naruto.

"Hihi" Asuna malah tertawa kecil, dan kemudian berkata, "Apa-apaan, jadi selama ini namamu Naruto ya ..."

"Kau adalah pemain yang kuat ..." Ucap Naruto.
"Jika kau percaya pada seseorang dan bergabung dengan sebuah guild, Kau harus menjaga dan tidak membiarkan mereka mati ... Tapi, kau tak perlu melakukannya jika bermain single player"

"Kau sendiri?" Asuna kembali bertanya.

Namun kali ini, Naruto tak menjawab. ia malah mengklik menu, mencari submenu party dan lalu memutus partynya dengan Asuna. Kelihatannya, Naruto memang lebih suka bermain sendiri.

BERSAMBUNG...