Outcast
by Futsuki Fuzuki
Summary : Jemari mereka yang saling bertautan tak mengubah fakta ikatan ini. Ikatan yang tak semestinya terjalin. Tapi, biarkanlah mereka berharap untuk saat ini. Meski harapan itu hanyalah sebuah impian manis, yang bisa pudar kapan saja.
Disclaimer : Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Warning : AU, mistypo, OOC BANGET, tsundere!Armin, Armin-centric, crack pair!
A/N : Futsuki here...
Chapter ini baru keliatan alternate umur beberapa chara nih ya. Dan mungkin di sini ceritanya lebih ringan dari sebelomnya. Yeah...gomenne jika unsur sinetron nongol dengan tiba-tiba wkwkwk namanya juga drama~ Have fun 8))
Oh ya, buat anon yang panik sama hubungan si heichou en si cewek sixpack...yah, liat ajalah yaa :P
- Chapter 1 -
.
.
" Sometimes the heart sees what is invisible to the eye – H. Jackson Brown, Jr. "
.
.
"Ibu..?" suara kekanakan terdengar ketakutan, tidak familier dengan pemandangan di sekitarnya.
"Tidak ada ibu di sini," suara yang lebih berat menanggapi pertanyaan itu. "Berhentilah menjadi anak yang lemah dan buat aku bangga, Armin."
.
.
Sepasang iris biru terkesiap dari alam bawah sadar. Bola matanya bergerak liar, masih tak sepenuhnya sadar dari tidurnya. Dan segera sadar seratus persen tatkala mendengar sebuah pekikan yang melengking tinggi.
"KAKAK! DIA BANGUN! DIA BANGUN!"
Armin tak mengenali suara tersebut. Tapi, kesadarannya yang kembali membuatnya mencoba mengubah posisi berbaringnya menjadi posisi duduk—dan rubuh lagi dengan sukses. Menyadari ia tak dapat bergerak, matanya mengamati seluruh tubuhnya dan mendapati badannya hanya berbalut perban dan kain. Selain itu, yang menempel pada dirinya hanyalah celana panjang yang merupakan bagian dari seragam militernya.
Sekarang—setelah memperhatikan—ia berada di tempat yang tak dikenalnya sama sekali. Kepalanya yang agak pusing dan sekujur tubuhnya terasa nyeri sama sekali tak membantu keadaannya saat ini. Membuatnya tak bisa mencerna informasi dengan baik.
Ada di mana dirinya? Apa yang sebenarnya terjadi?
Sementara berusaha mengumpulkan semua memori yang tersebar di kepala, dua langkah kaki yang berbeda terdengar menghampirinya. Ia menoleh dan mendapati seorang bocah lelaki dan gadis remaja –kakaknya?—melihat ke arahnya dengan wajah bersahabat.
"Selamat pagi," gadis berwajah ramah itu menyapanya, lalu segera mengambil kursi terdekat dan duduk di atasnya. Yang disapa memilih untuk tidak menjawab. "Maaf, adikku memang agak berisik."
"Aku tidak berisik!" cibir seorang bocah lelaki di sebelah sang gadis. Kakaknya hanya tertawa kecil sembari mengelus-elus rambut adiknya itu, lalu kembali membuka bibirnya untuk memperkenalkan diri. "Perkenalkan. Namaku Carla Jae—"
"Katakan, di mana aku berada?"
"Tunggu seben—"
"Aku harus pergi."
"Tapi, kau masih terluka dan—"
"Itu bukan urusanmu."
Mata cokelat sang gadis memandang makhluk di depannya dengan tatapan tak percaya. Apa orang ini tak pernah diajari untuk mendengarkan omongan orang sampai selesai? Si gadis kemudian menggembungkan pipinya, tanda kesal.
"Coba saja kalau kau bisa berjalan!" tantang gadis bernama Carla itu sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Ia tersenyum penuh kemenangan ketika lawan bicaranya tak menunggu detik berlalu untuk terjatuh kembali di tempat tidurnya.
Armin mengumpat dalam hatinya. Kedua kakinya sama sekali tak dapat merasakan apapun. Seluruh tubuhnya sakit semua. Kenapa?!
"Kenapa kakiku mati rasa? Kau apakan kakiku?!" cecar Armin dengan nada tinggi—frustasi dengan keadaan sendiri dan sekitarnya.
Gadis bersurai hitam kecokelatan itu hanya menghela napas melihat kelakuan pemuda blonde di depannya.'Kenapa dia langsung menyalahkanku sih?'
"Eren, kemarikan koran di dapur," perintah Carla sembari mendorong adiknya itu untuk pergi ke luar kamar. Tak menunggu lama, bocah lelaki itu sudah kembali dengan sebuah koran di tangannya sembari berlari-lari kecil.
"Kau belum menjawab semua pertanyaanku!" desis Armin marah. "Di mana ini, dan kau apakan tubuhku?!"
"Koran hari ini menarik lho..." Carla mengabaikan ucapan sang kolonel. Jemarinya membuka lembaran koran yang dipegangnya.
"Apa peduliku?!
"Tuan Kolonel Armin Arlert!" Carla membaca dengan keras sambil membentangkan koran ke depan wajah yang bersangkutan. Di halaman depan koran tersebut, terpampang wajah yang sama dengan wajah orang di seberangnya. "Jadi, Tuan Kolonel, setidaknya kau harus pulih dulu jika ingin kembali, bukan?"
Mata Armin menyusuri halaman koran yang ada di depan wajahnya. Rupanya keberadaannya yang saat ini tidak diketahui sudah menjadi topik hangat di berbagai media pagi itu.
Bagaimana nasib pabrik itu pada akhirnya?
"Hm... Lihat ini, Tuan. Beberapa pihak mencurigai kau melarikan diri dan bekerja sama dengan pihak pemberontak. Sepertinya kau butuh pengacara," ujar Carla dengan nada menyindir, "Ah, lihat yang ini juga—"
Armin hanya diam di tempatnya mengabaikan suara si gadis. Ia sudah memikirkan kemungkinan ini. Beberapa pihak yang tak menyukainya pasti memberikan kesaksian yang jauh dari kenyataan. Sebuah kesempatan emas untuk menjatuhkannya. Ia harus segera kembali ke pabrik...atau markas, walaupun kakinya lumpuh. Ia harus menjelaskan segalanya, sebelum pemerintah pusat mengambil tindakan lebih lanjut mengenai hal ini. Nasib jabatannya dipertaruhkan di sini.
"Aku harus pergi," Armin tak berteriak kali ini, tapi cukup untuk menghentikan ocehan si gadis. Sang kolonel muda menatap mata cokelat itu dengan keras kepala, menantang untuk mencegahnya.
Carla hanya memutar bolanya, sama sekali tak terpengaruh. "Kepalamu terbuat dari batu, ya, Tuan Kolonel. Apa kau tidak sadar kedua kakimu cedera? Harusnya kau berterima kasih pada kami yang telah menyelamatkanmu!"
Gadis itu mendengus kesal melihat orang yang diajaknya bicara tak menghiraukan ucapannya sama sekali. "Kalau mau pergi, coba saja kalau kakimu mampu! Kudoakan kau tidak berpapasan dengan beberapa pemberontak di luar sana!" ia berdiri dari kursinya. "Ayo, Eren, bantu Kakak memasak makan siang," ujarnya masih dengan nada kesal, kemudian beranjak ke dapur diikuti adiknya.
"Menyelamatkan?" Armin sedikit meninggikan suaranya, agar terdengar dan berharap dijawab oleh Carla yang tengah berjalan menuju dapur.
"Ya! Aku yang menyelamatkanmu!" jawab sang gadis setengah berteriak. "Pagi tadi, Eren menemukanmu terdampar di pinggir sungai dan dia berteriak memanggilku berkata kalau ada orang mati di sungai. "
Carla tertawa kecil mengingat kejadian yang masih segar di ingatannya, dan melanjutkan ceritanya, "Yah... Kemudian, kami menggotongmu ke rumah kami di hutan ini. Untungnya kau tidak benar-benar mati—"
"Lalu kau akan menyerahkanku pada pemberontak-pemberontak itu, kan?!" tuduh sang Kolonel tajam yang sudah ada di ambang pintu dapur, berdiri dengan dibantu sebatang kayu yang ada di sebelah tempatnya berbaring tadi, "Kau sekongkolan mereka, 'kan?"
Gadis beriris cokelat itu menyampirkan sendok sayur yang dipegangnya pada pinggiran panci, lalu berbalik sambil menyipitkan matanya. Emosinya memuncak. "Apa sudah jadi sifatmu untuk suka sekali berburuk sangka pada orang?!" Carla menggeram—sama sekali tidak feminin. "Kasihan sekali orang yang ada di sekitarmu."
Pemuda pirang itu tak menyahut, malahan ia membuang pandangannya ke arah lain dengan perasaan muak. Carla menghela napas lagi dan kembali menyibukkan diri dengan masakannya. Tangannya dengan cekatan mewadahi lauk-pauk di atas piring-piring di tangannya secara bergantian seperti sudah terbiasa. Mata Armin masih terfokus pada pola-pola lantai kayu di dekat kakinya sampai ia merasakan tarikan ringan di bajunya dan mendapati seorang bocah lelaki—Eren?—sedang tersenyum polos di sampingnya.
"Kakak biasanya tidak galak seperti itu," Eren berkata lembut, masih dengan senyum di wajahnya, "Tuan pasti sudah membuat Kakak sangat marah. Minta maaflah padanya. Kakak itu baik, dia pasti akan memaafkanmu."
Armin tak menjawab lagi, bahkan tak mengacuhkan keberadaan bocah itu di dekatnya. Dirinya tak merasa berbuat kesalahan. Lebih baik ia mengkhawatirkan misi jaminannya yang terancam gagal. Tapi, keadaannya sekarang sama sekali tak berdaya. Lengah sedikit saja dirinya bisa dengan mudah tertangkap pemberontak. Apalagi, semua senjatanya ada di baju seragamnya yang entah di mana.
Tunggu... Seharusnya ada sebilah pisau di salah satu saku celananya.
Sibuk menelusuri sakunya, Armin tak menyadari sebuah sosok mendekatinya. Sosok itu mendehem dan segera menampilkan senyum lebar, disambut oleh nada suara ceria. Tangannya memegang semangkuk sayuran yang tadi dimasak.
"Aku memaafkanmu kok. Makanlah ini, Tuan Kolone—"
"Memangnya kapan aku minta maaf padamu? Aku tak pernah berbuat salah kepadamu," sahut suara di seberang Carla dengan dingin.
Eren yang entah sejak kapan duduk di meja makan, hanya menggelengkan kepala berkali-kali sambil mengulum ujung sendok.
Sungguh, jika sang gadis Jaeger tak memiliki kesabaran tingkat dewa, mungkin sudah ia landaskan piring berisi lauk di tangannya itu ke wajah sang kolonel. Bukan hanya perihal meminta maaf, bahkan sedari tadi pun ia tak mendengar anggota militer itu mengucapkan 'terima kasih' karena sudah diselamatkan! Yang benar saja!
Carla menaruh piring yang ada di tangannya dengan kekuatan yang lebih besar dari seharusnya, membuat beberapa butir nasi berceceran di meja. Tapi, gadis itu tak peduli. Wajahnya berkerut kesal menanggapi semua kelakuan pemuda kurang ajar di depannya.
"Kau akan makan ini," ancam si gadis, tak berusaha bersikap manis lagi, "atau kulempar kau kembali ke sungai."
Tak ada nada bercanda dalam suara itu—membuat nyali Armin sedikit kendur. Ia duduk dengan enggan dan mengambil sendok dengan lambat, tak peduli dengan tatapan Carla yang terus memperhatikannya. Ia menyuap sesendok nasi dan lauk ke mulutnya dan mengunyah perlahan.
...Enak.
"Bagaimana?" Carla berteriak dengan ceria seolah ia tak pernah marah.
Armin bersumpah gadis ini punya kepribadian ganda.
"Tidak ada rasanya," ucapan yang sangat kontradiktif dengan tindakannya yang kembali mengambil sesendok masakan gadis itu.
Carla hanya tersenyum melihat kelakuan kolonel muda itu. Ia menyibukkan diri untuk menyuapi adiknya yang kesulitan untuk memotong sayuran. Sesekali ia melirik ke arah Armin dan melihat isi piringnya yang sudah hampir habis.
'Ah... Dasar orang tidak jujur.'
.::arucaru::.
Seminggu berlalu begitu cepat tanpa Armin sadari. Sebagian besar waktunya ia habiskan di tempat tidur dan sebagiannya lagi bertengkar dengan gadis bersurai cokelat—yang entah kenapa senantiasa membuatnya emosi.
"Kak Armin..." suara kekanakan terdengar di samping tempat tidurnya. Ia melirik ke asal suara dan melihat Eren berusaha menaiki kasurnya dan duduk di dekatnya. Sebenarnya, Armin juga sedikit heran dengan bocah lelaki di sebelahnya ini, yang sama sekali tak peduli dengan tatapannya yang menyuruhnya pergi. Malahan, bocah ini tak lagi memanggilnya 'Tuan' seperti sebelumnya dan beralih menjadi 'Kakak'...dalam waktu satu hari.
Semua yang ada di rumah ini benar-benar aneh.
"Ayo kita bermain," suara Eren menyadarkan Armin dari lamunan pendeknya, "Tapi, jangan bilang Kakak, ya. Soalnya, Kakak bilang Eren tidak boleh menganggu Kak Armin."
"Hm..." si kolonel bergumam tak jelas.
"Hehe..." Eren tertawa kecil. Ia membuka buku yang tadi ia bawa dan berhenti pada suatu halaman dengan ilustrasi air yang bersinar kebiruan dengan hamparan pasir yang luas. Mata hijaunya bersinar senang melihatnya. Ia kemudian menoleh ke arah Armin dengan penuh harap. "Kakak tahu ini apa?"
"Laut," jawab si pemuda singkat, sedikit heran dengan pertanyaan itu.
"Wah..." Eren kembali memandang bukunya. "Laut itu seperti apa?"
Sekarang Armin benar-benar heran. Kenapa ia berbicara seperti tak pernah melihat laut?
"Eren tak pernah keluar dari hutan ini," celoteh bocah itu, tanpa sadar menjawab pertanyaan sang pemuda, "Kakak bilang kalau di luar berbahaya."
"Berbahaya? Kenapa?" tanya Armin, tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Katanya ada naga yang akan memakan Eren kalau mencoba keluar dari hutan."
Seseorang harus membuat gadis itu untuk berhenti membohongi anak kecil.
"Tidak ada yang namanya naga, " Armin tanpa sadar meninggikan suaranya, frustasi dengan ucapan absurd Eren, "Kalau di luar hutan ini ada naga, aku pasti sudah lama dimakannya."
"Oh! Kak Armin juga dari luar hutan seperti Kak Mikasa?!" Eren tiba-tiba berteriak senang. "Berarti Kak Armin juga pembasmi naga?!"
'Ada apa dengan semua orang dan naga?!' teriak Armin dalam hati.
.
.
'Tunggu...'
'Siapa Mikasa?'
Sang kolonel sepertinya tanpa sadar menyuarakan pikirannya karena Eren langsung menanggapinya.
"Kak Mikasa?" bocah bermata hijau itu memiringkan kepalanya. "Kak Mikasa sering sekali datang kemari. Dia teman Kakak sejak kecil. Itu kata Kakak sih. Eren tidak tahu apa maksudnya."
"Ceritakan lebih banyak tentangnya. Mungkin nama lengkapnya?" pancing Armin. Kalau orang ini sering sekali datang kemari, cepat atau lambat ia pasti akan bertemu dengannya. Setidaknya ia harus mendapatkan sedikit informasi tentang orang ini.
Wajah Eren tampak berseri-seri karena teman bermainnya itu tampak tertarik pada topik barusan. Bocah itu melebarkan senyumnya sebelum menyahut pertanyaan yang baru saja datang itu.
"Namanya—"
"EREN!" suara teriakan mengejutkan bocah lelaki itu—membuatnya langsung menutup mulut. Sosok Carla yang berkacak pinggang terlihat kesal dengan adik lelakinya, "Apa yang kubilang tentang masuk kemari?"
"Jangan menganggu Kak Armin," suara kekanakan merengek sedih, "Tapi, Eren ingin main. Kak Mikasa sudah lama tidak ke sini..."
Wajah Carla sedikit mengendur melihat wajah adiknya yang kesepian. Ia sudah akan menggendong adiknya untuk keluar ketika suara ketukan yang cukup keras membuat semua orang yang ada di kamar itu menoleh ke arah pintu depan.
—duk duk duk
"Kak Mikasa!" Eren berteriak kesenangan. Ia kemudian melompat dari tempat tidur dan segera berlari dengan cepat ke arah pintu depan, tetapi tangan Carla segera menahan lengan adiknya dengan erat.
"Eren," Carla berkata dengan nada tegas, "Jangan cerita apapun tentang Tuan Kolonel pada Mikasa. Apapun."
Eren hanya menatap kakaknya dengan pandangan tak mengerti. Tapi, ia menganggukkan kepalanya dan segera berlari untuk membuka pintu depan. Carla menoleh ke arah sang kolonel yang tak bereaksi apapun.
"Tetaplah diam di sini dan jangan bersuara," ujar gadis beriris cokelat itu sebelum menutup pintu kamar Armin perlahan.
Bukan Armin Arlert namanya jika tak ada kata 'penasaran' di dalam kamus imajiner di kepalanya. Kenapa Carla melarangnya bersuara? Apakah ada hubungannya dengan para pemberontak? Ia tahu kalau dirinya tak boleh tertangkap di sini, maka setidaknya ia bisa mencuri dengar percakapan mereka dari ruangan tempatnya berada sekarang. Sang kolonel mulai memelankan napasnya, agar saluran telinganya dapat bekerja tanpa terganggu. Suara percakapan pun mulai terdengar sedikit lebih jelas.
"—iya, Eren. Maaf, maaf. Kali ini pekerjaan Kakak sedikit lebih...besar—" Terdengar suara yang bukan milik Carla maupun adiknya. Suara seorang gadis.
Pekerjaan besar?
"Wah, kali ini naganya besar, ya, Kak?! Ceritakan, ceritakan!"
...Cukup naganya.
"Sudah, sudah, Eren. Biarkan Mikasa istirahat dulu..." tegur Carla. Kemudian terdengar bunyi cangkir yang di letakkan di meja. "Minumlah, Mikasa."
"Jadi, jadi? Bagaimana cerita naganya?" ujar Eren mengabaikan teguran kakaknya.
"Eren!"
"Tak apa, Carla..." suara asing—yang ia yakini milik orang bernama Mikasa—itu berkata lembut, "Eren, kau tahu? Naganya besar sekali lho!"
Sepertinya Armin harus mulai kebal dengan pembicaraan-pembicaraan naga ini.
"Wah...sebesar apa? Bagaimana Kakak mengalahkannya?"
"Lebih besar dari gunung! Naga itu lari ke utara, kami mengejarnya dengan gesit! Saat itu, ia sempat terpojok, kami lumpuhkan dia!" Mikasa membuat suara seperti pistol yang ditembakkan, "Lalu, dengan senjata rahasia kami, akhirnya kami berhasil mengalahkannya sebelum dia kabur ke laut!"
"HOREEE!" Eren bertepuk tangan kegirangan. "Kak Mikasa memang hebat!"
"Itu karena kami bekerja sama dengan kompak, Eren..." terdengar nada sayang dari suara gadis itu. " Suatu hari, kau juga harus jadi orang yang hebat!"
"Tentu saja!" balas bocah lelaki itu dengan yakin.
Sejauh ini tak ada yang mencurigakan. Apakah Mikasa ini sekedar penduduk biasa?
"Eren, bisa tolong petikkan beberapa buah jambu air di tempat biasa?" suara Carla memotong pembicaraan kedua manusia itu.
Tak ada jawaban dari Eren. Namun, terdengar langkah cepat yang makin menjauh disusul oleh bunyi pintu yang dibuka dan ditutup kembali. Armin yakin itu suara langkah Eren keluar rumah untuk menunaikan tugas dari kakaknya.
Sunyi. Sekarang hanya ada bunyi cangkir yang beradu yang terdengar di luar kamarnya. Armin hampir yakin kesunyian itu akan berlangsung terus sampai ia mendengar suara Carla yang mulai berbicara.
"Jadi...naga itu—"
Naga lagi? Apa sebenarnya naga yang mereka bicarakan ini? Armin jadi mulai meragukan kewarasan dirinya sendiri.
"Ya," tiba-tiba suara gadis bernama Mikasa itu berubah menjadi suram, "Semingguan ini, aku, Kakak, dan Ketua serta yang lainnya sudah mencarinya ke mana-mana," gadis itu berhenti sejenak, "Kau juga harus berhati-hati, Carla. Aku tidak yakin orang itu mati hanya karena terhanyut—"
Déjà vu. Kata yang menggambarkan perasaan Armin saat ini. Otaknya mencerna apa yang baru saja Ia dengar. Jadi...
"Ah..." Ia kembali mendengar suara Carla yang terdengar ganjil, "Iya, aku akan berhati-hati."
Sialan! Jadi benar gadis itu bersekongkol dengan pemberontak! Kenapa aku segera percaya pada kalimat-kalimatnya. Setelah ini, pasti ia akan menyerahkanku pada pihak mereka! Sialan!Tamat sudah!
Armin terus mengutuk kebodohannya sampai suara kursi yang bergeser keras membuat otaknya berhenti meracau dan kembali memasang telinganya.
"Hei, Carla," suara Mikasa kembali terdengar, "biarkan aku bermalam di sini, ya?"
"JANGAN—" Carla tiba-tiba berteriak panik. Gadis itu sepertinya menyadari tingkahnya yang aneh, karena ia langsung menambahkan dengan gugup, "Eh..Maksudku jangan sekarang. A-aku punya kejutan buatmu, Mikasa."
Oh? Gadis penipu itu masih mau sok melindungiku? Armin menyindir dengan pahit.
"Wah, kau masih ingat ulang tahunku..?"
"Te—tentu..." Carla masih terdengar gugup, "AH! Kau mau ke mana, Mikasa? Eren belum kembali membawa jambunya!"
"...Kau 'kan pernah bilang anggap saja rumah sendiri. Boleh 'kan aku berbaring sebentar saja?" suara Mikasa terdengar heran, "Tenang saja. Setelah itu, aku kembali ke markas—"
"Di—di kamar Eren saja bagaimana?"
"..."
"..."
"...Kenapa sih kau ini?!" suara Mikasa terdengar meninggi, "Gelagatmu aneh sejak tadi!"
"A—aku seperti biasa kok!" ujar Carla, sama sekali tak meyakinkan.
"Aku mengenalimu sejak kecil. Aku tahu saat ini kau sedang tidak seperti biasa, Carla! Memangka kejutan seperti apa yang membuatku tak bisa masuk ke kamarmu?" sekarang suara sang gadis benar-benar terlihat tidak senang, "Biar kutemukan sendiri kejutan darimu!"
Mendekat! Langkah-langkah kaki mereka mendekat! Armin bisa merasakannya. Dan... Kenop pintu di depannya mulai bergerak ke bawah!
Krieeet—
Jantung Carla hampir berhenti—hiperbola tentunya—sebelum melihat pemandangan janggal di depannya.
Kosong?
Tapi, tentu saja Mikasa yang tidak mengetahui keberadaan Armin hanya bisa menatap pemandangan kamar itu dengan biasa. Berbeda dengan sahabatnya yang terlihat kebingungan.
"Aah, berantakan sekali..." suara keluhan terdengar dari pintu yang baru saja terbuka itu. "Ini alasan sebenarnya kau melarangku masuk ke kamarmu?"
"Eh? Iya, begitulah. Aku belum sempat membereskannya..." Carla berkata dengan agak ragu pada sahabatnya itu, "A—apa kau masih ingin berbaring di sini, Mikasa..?"
"Yah...sedikit kehilangan nafsu berbaring sih..." gadis bernama Mikasa itu mengambil posisi duduk di kasur ruangan itu. Tangannya yang bersandar pada kain seprei menyentuh sesuatu—membuat gadis itu menaikkan alisnya sejenak, sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.
"...Sudah mau ke markas?" suara Carla terdengar gugup, "Tunggulah Eren dulu, Mikasa."
"Baiklah," Mikasa membalas singkat seperti tak fokus. Kamar itu hening karena keduanya seperti sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai suara kekanakan menghancurkan keheningan itu.
"AKU PULANG!"
Suara Eren terdengar dari luar dan kedua gadis itu pun mulai beranjak meninggalkan kamar tidur tersebut, menghampiri sang bocah yang membawa keranjang penuh dengan jambu air. Carla berjalan di belakang Mikasa dan menoleh ke kamarnya untuk terakhir kali sembari menutup rapat pintunya.
Tak ada yang menyadari, sang kolonel muda yang bersembunyi di kolong kasur dengan susah payah.
.::arucaru::.
"Aah... Kak Mikasa sudah mau pergi lagi?" Eren memanyunkan bibirnya, tidak rela dengan kepergian gadis itu. Yang bersangkutan hanya tersenyum kecil.
"Begitulah, Eren, kami sangat sibuk akhir-akhir ini," Mikasa mengacak-acak rambut Eren dengan sayang, "Jumlah naganya bertambah! Lain kali, kubawakan telur naga sebagai balasan jambu air yang tadi kau petik."
"Benarkah?!" mata Eren berbinar senang.
Tampaknya membujuk seorang Eren adalah hal yang mudah—asalkan ada kata 'naga' didalamnya.
"Sudah, ya. Aku pergi dulu," Mikasa kemudian melepaskan tangannya dari kepala Eren dan beralih ke arah Carla kemudian memeluknya. Sahabatnya itu membalas pelukannya. Ia kemudian berbisik pelan, "Berhati-hatilah. Ingat karena apa Paman dan Bibi meninggal."
Carla mengerjap kaget mendengarnya dan melepaskan pelukannya dengan cepat. Ia berdiri kaku di ambang pintu. Sahabat masa kecilnya hanya menatap matanya penuh arti dan berbalik pergi. Gadis itu hanya melihat sosok Mikasa yang mulai menghilang. Ia kemudian menatap adiknya yang berdiri di sebelahnya.
"Eren, aku akan menyiapkan makan malam," ucap gadis bersurai cokelat itu, membenarkan posisi celemek putihnya—sambil berjalan menuju ke dapur, "Kau coba periksa keadaan Tuan Kolonel. Aku yakin dia sedang bersembunyi di suatu tempat di kamarnya—"
"Jadi, benar kau teman mereka," tukas pemuda pirang yang sudah ada di belakang Carla dan adiknya—dengan disangga sebatang kayu, seperti biasa.
"Tu—Tuan Kolonel!" Carla tergagap dengan kemunculan si pemuda yang tiba-tiba.
"Tampaknya sebuah kesalahan aku percaya padamu," desis Armin dengan murka.
"Jangan bicara begitu..." kedua alis Carla terlihat bertautan, "Aku berusaha melindungimu sedari tadi."
"Ternyata benar. Pada dasarnya, semua manusia memang sama saja," mata biru itu menyipit keji, "semuanya busuk sepertimu!"
"AP—BERANINYA KAU BICARA BEGITU DI DEPAN EREN!" teriak Carla. Tak terima dengan ucapan sang kolonel yang sudah di luar batas.
"LALU?! AKU HANYA BICARA FAKTA!"
"TIDAK USAH SOK MERASA PALING BENAR, DASAR MANJA!"
"Apa katamu?!" sekarang giliran Armin yang tak terima. "DASAR PENIPU!"
Wajah Carla langsung pucat pasi mendengar perkataan itu. Tak bisa memungkiri kebenaran di dalamnya. "A—aku hanya mencari waktu yang tepat untuk memberitahu—"
"Alasan!" Armin merasa di atas angin melihat wajah gadis itu yang merasa bersalah.
"Ta—tapi itu yang sebenarnya..." balas sang gadis dengan suara lemah.
"Iya, yang sebenarnya: itu hanya alasanmu!"
Untuk beberapa detik, Carla tak terdengar menyahut lagi. Eren yang tadinya hanya bisa menonton dengan bingung, akhirnya menarik ujung lengan baju Armin—yang sebenarnya baju yang dipinjamkan—sembari menurunkan kedua alisnya.
"Kak Armin... Kakak tidak bermaksud begitu..." Eren berkata dengan sedikit takut, tak terbiasa mendengar suara keras di rumah ini, "Kakak...Kakak benar-benar mengkhawatirkanmu..."
Alis si blonde sedikit menukik. Ia menepis tangan kecil yang menarik lengan bajunya, membuat sang bocah tersentak. "Tidak usah ikut campur!" bentak Armin ke arah bocah lelaki itu.
PLAAK—
Seketika, pipi pemuda Arlert terasa sangat panas dan memerah. Kolonel itu merabanya perlahan dengan perasaan geram. Apa-apaan tiba-tiba gadis itu menamparnya?!
"Kau—Kau boleh mencaci-makiku... Ta—tapi...jangan sekali-sekali—jangan sekali-sekali melibatkan Eren—" Carla tak menatap pemuda di depannya. Ia terus menundukkan kepalanya—berkata dengan suara bergetar hebat. Ia menggigiti bibirnya dambil menahan tangis. Selang beberapa menit saling diam, gadis itu melepas celemeknya dan digenggamnya erat-erat ketika ia berlari keluar rumah tanpa mengatakan apapun.
Armin hanya berdiri mematung di tempatnya. Tangannya masih ada di pipinya yang masih terasa panas. Ia melihat Eren bergerak gelisah seperti sedang memilih antara kakaknya atau tetap berada di sana. Akhirnya, bocah kecil itu melirik ke arah Armin untuk terakhir kali dan lebih memilih untuk masuk ke kamarnya, serta langsung menguncinya dari dalam.
Tiba-tiba rasa malu yang amat sangat menguasai dirinya. Menyadari bahwa ia sudah bertindak keterlaluan. Terlebih terhadap seorang perempuan dan anak kecil.
Benar-benar jauh dari kata 'gentleman'.
Entah apa yang mendorongnya untuk berjalan keluar—ke arah Carla tadi menghilang. Perjalanan yang terasa sangat panjang baginya mengingat kakinya yang belum pulih. Tapi, ia tak mengindahkan rasa nyeri itu dan terus menyusuri jalan setapak yang semakin gelap karena matahari yang sudah mulai tenggelam.
Armin menghentikan langkahnya ketika ia melihat sosok sang gadis yang duduk termenung di bawah pohon yang ada di samping sungai. Wajahnya terlihat sendu, tapi tak terlihat ada jejak air mata di sana. Sepasang iris cokelat memandang ke arah langit, tapi sama sekali tidak melihatnya.
Sang kolonel merasa canggung yang teramat sangat. Ia tak tahu apa yang harus di lakukannya saat ini. Menghibur? Yang benar saja. Sejak kapan seorang Kolonel Armin Arlert menghibur seseorang? Mengancam sih iya.
Kalau boleh, sekarang dirinya lebih memilih dilempar kembali ke sungai dari pada menghibur seorang gadis.
Tapi, kakinya bergerak mendekati penyelamatnya itu, mengkhianati suara hatinya yang menjerit untuk berhenti. Ia kemudian duduk dengan susah payah di sebelah sang gadis. Masih kikuk dengan keadaan ini.
Carla tak bereaksi apapun. Entah karena masih berada di alam pikirannya atau memang mengabaikan keberadaan sang kolonel sepenuhnya.
"Hei."
Tak ada tanggapan.
"Ca—Carla."
Masih sunyi.
"Ma—maafkan aku," ujar Armin kaku, merasakan kalimat yang teramat asing di lidahnya. Tak yakin dengan apa yang harus dilakukan.
Namun sepertinya kalimat itulah yang ditunggu oleh Carla, karena sang gadis kemudian memiringkan kepalanya dan menatap mata sang pemuda. Mata biru itu berkedip—heran—melihat ucapannya barusan membuat sebuah senyum terkulum di bibir sang gadis.
"Tidak susah 'kan, mengucapkan kalimat itu kalau kau bisa menyampirkan egomu?" ujar Carla masih dengan senyum di bibirnya.
Mulut Armin hanya terkatup rapat, tak tahu bagaimana ia harus menanggapinya.
"Kau selalu begitu. Bersikap seperti semua orang di sekitarmu adalah musuh. Apa kau tidak lelah harus seperti itu terus?" Carla memainkan celemek yang ada di tangannya. "Tenang saja. Aku tak akan memberitahu siapapun tentangmu."
Keduanya sama-sama terdiam. Armin tanpa sadar fokus ke arah tangan sang gadis di sebelahnya—yang masih sibuk dengan celemek putihnya.
"Aku tidak meminta apapun darimu," sang gadis berkata lagi dengan lembut. "Aku hanya ingin kau berjanji untuk mempercayaiku."
Mata keduanya bertemu dramatis. Armin bisa mengetahui bagaimana sifat orang hanya dengan melihat tatapan orang tersebut. Tapi, iris cokelat yang sekarang ia lihat benar-benar memancarkan sesuatu asing. Sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Sebuah kejujuran.
"Baiklah," tanpa sadar kata itu keluar dari mulut sang pemuda. Tapi, yang bersangkutan sama sekali tak menyesalinya. Entah kenapa, hati kecilnya mengatakan bahwa gadis yang ada di hadapannya itu tak akan pernah mengkhianatinya.
Keheningan yang nyaman menyelimuti suasana di tempat itu. Kenyamanan yang mungkin akan terus berlangsung sampai salah seorang dari mereka—Carla—mulai bangkit dari duduknya. Sang gadis kemudian membantu kolonel muda di sampingnya untuk berdiri.
"—Ah," Armin tiba-tiba teringat tentang tujuannya datang kemari. "Jadi, apa kau memaafkan—"
"Tentu saja aku memaafkanmu," senyum lebar merekah dari kedua ujung mulut Carla. "Kalau tidak, sudah kulempar kau sejak dulu ke sungai itu," tambah sang gadis dengan nada bercanda.
Untuk pertama kalinya, Armin tersenyum. Gestur yang berlangsung sekejap mata sehingga gadis di sebelahnya itu tak sempat menyadarinya.
Apa yang barusan itu?
Pemuda itu bertanya-tanya dalam hati, sama sekali tak paham apa yang sebenarnya bibirnya baru saja lakukan. Atau mungkin lebih tepat ia tak tahu apa yang membuat bibirnya melengkung ke atas—tanpa diperintah.
"Kau masih harus melakukan sesuatu," Carla memecah kesunyian ketika mereka sampai di depan pintu rumahnya yang terbuka lebar, kemudian kembali melanjutkan kata-katanya, "Kau mengerti, 'kan, Tuan Kolonel?"
Armin agaknya mengerti maksud sang gadis, karena ia langsung masuk mendahului si pemilik rumah. Perlahan, diketuknya pintu kamar sang bocah Jaeger—tanpa sedikitpun suara yang keluar dari bibirnya.
Apa yang harus dikatakannya? Sejujurnya, lidahnya masih agak kelu perkara kalimat penyesalan yang tak biasa diucapkannya tadi.
"Kau tidak akan bisa melakukannya tanpa berkata apapun, Tuan," Carla pun turut mengetuk pintu tersebut, lalu berseru, "Eren, tolong bukakan pintunya."
Mungkin karena kali ini kakaknya yang meminta, Eren menggeser kunci slot pintu kamarnya dan membuka pintunya. Iris hijau menggambarkan perasaan takut saat bocah itu melihat pemuda blonde di depan kamarnya. Sebelum Armin sempat membuka mulut untuk berbicara, si bocah kecil itu cepat-cepat bersembunyi di belakang Carla.
"Eren... Tuan Kolonel ingin berbicara denganmu..." sang gadis berbalik menghadap adiknya, lalu mengambil posisi berjongkok untuk menyejajarkan pandangannya. Tapi, panggilannya barusan langsung disambut dengan gelengan berkali-kali. Eren malah memeluk kakaknya itu dan membenamkan wajahnya ke tubuh Carla.
Carla hanya bisa menghela napas dan menepuk punggung adiknya perlahan, sampai sang bocah melepaskannya. Ia kemudian bangkit dan berbisik pada si blonde yang sedari tadi bungkam, "Cobalah lagi nanti. Tampaknya Eren butuh waktu untuk menerimamu kembali."
Ia kemudian beranjak menuju dapur untuk mengerjakan pekerjaan yang tadi Ia tinggalkan—menyiapkan makan malam. Eren tak mengikutinya kali ini. Sang bocah memilih untuk kembali masuk ke kamarnya dan berdiam diri di sana.
Armin tak tahu apa yang harus dilakukannya, akhirnya ikut menyusul Carla ke dapur. Ia kemudian berdiri di samping gadis manis itu dan menatap kosong air di dalam panci yang sudah mulai mendidih.
"Kau tahu, Tuan?" ujar Carla tiba-tiba. Ia berhenti sejenak untuk memastikan kalau Armin mendengarkannya "Eren itu mengagumimu—setelah Mikasa."
"...Tidak usah menghiburku," mau-tak mau, Armin membantah pernyataan yang dikeluarkan orang di depannya itu. Jangan bercanda. Bagaimana bisa seseorang sepertinya dikagumi? Sudah pasti itu hanya sebuah spekulasi sang gadis dalam upaya menghiburnya.
Bagaikan dapat membaca pikiran kolonel muda itu, Carla segera melanjutkan, "Aku tidak mengada-ada, Tuan," tangannya seperti biasa, menari-nari dengan gesit di atas nyala kompor, dengan bibir yang tak berhenti berbicara. "Eren sering membicarakan topik yang sama tentangmu. Yah, mungkin karena dia sempat melihatmu sebagai orang hebat yang bertarung melawan musuh. Apalagi dengan penampilanmu yang memakai seragam tentara waktu kami temukan," mata gadis itu tiba-tiba mengerjap seperti menyadari sesuatu. "Oh iya, akau belum memberitahumu. Seragammu belum selesai kujahit. Banyak lubang di mana-mana. Jadi, tolong bersabarlah dengan baju milik kakakku ."
"...Oh, ternyata benar-benar ada di tanganmu..." tanggap Armin sedikit tak fokus oleh kata-katanya sendiri. Terngiang kembali topik yang dibicarakan oleh Carla sebelumnya. Orang yang dikagumi? Dirinya? Tampaknya si Jaeger cilik itu telah salah mengidolakan orang.
"Kalau begitu, adikmu tampaknya salah mengagumi orang," sang kolonel berkata lagi dengan nada datarnya, hanya saja tak ada bentakan kasar di dalamnya. "Sebaiknya kau segera meluruskan hal itu."
Tiba-tiba saja sang gadis menoleh ke arah dirinya. "Kau tidak bisa seenaknya melarang seseorang untuk menyukai sesuatu, Tuan Kolonel. Termasuk siapa orang yang ingin Eren kagumi."
Armin sedikit menundukkan kepalanya. "Tapi akhirnya kau tahu 'kan, orang seperti apa—" kedua tangannya menggenggam kayu penyangga kakinya erat-erat. "—orang seperti apa aku sebenarnya?" sambungnya.
"Dengar," ucap Carla memegangi kedua tangan si pemuda yang tampak sedikit bergetar, menenangkannya. "Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Bahkan orang paling terpuji sekalipun."
Omong kosong apa lagi itu? Kalaupun ada orang paling terpuji, itu pasti bukan dirinya. Dia adalah antitesis dari orang itu. Dialah orang yang paling buruk.
"Hentikan," ucap Armin yang berjalan keluar dari dapur—setelah melepaskan tangannya dari genggaman sang gadis. Ia berjalan menjauh. "Semua ini membuatku merasa tidak nyaman."
"Tunggu! Makan malamnya—" teguran Carla sukses menghentikan langkah si pemuda sejenak.
"...Aku akan ke situ nanti," Pemuda itu menyahut tanpa menoleh.
Si gadis hanya menyiratkan senyum tipis di wajahnya, sebelum kembali sibuk oleh masakan di atas kompornya.
.::arucaru::.
Armin berjalan terpincang melewati ruangan demi ruangan, hingga menemukan pintu kamar Eren terbuka sedikit. Si blonde merasa harus melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan tadi pada Carla, mengucapkan kalimat asing itu lagi—sebuah kalimat yang sudah lama ia kubur dalam alam bawah sadarnya.
"Eren," tangan kanannya mendorong daun pintu di depannya, sehingga ia dapat melihat sosok yang dicarinya. "Bolehkah aku masuk?"
Tak ada jawaban. Tapi, Armin bisa melihat bocah lelaki itu tampak duduk di atas kasurnya sambil memandangi sebuah buku yang terbuka lebar di depannya. Armin tahu buku itu—buku yang ditunjukkan padanya tadi siang. Saat Ia mencoba memasuki kamar itu, sang bocah segera mengangkat bukunya—yang masih terbuka—menutupi wajahnya.
"Aku...benar-benar menyesal, E—" sang kolonel tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena pandangan yang Eren arahkan kepadanya. Ketakutan. Tak ada ekspresi kemarahan. Tapi, Armin merasa tatapan itu tak semestinya ada di bola mata hijau itu.
Armin hanya terdiam ketika Eren mencampakkan buku favoritnya itu untuk bersembunyi di dalam selimut. Sang kolonel hanya menggaruk pipinya—kebingungan, apa yang harus dilakukannya. Apakah ia terlihat seperti monster di mata sang bocah?
"Li—lihat, kita bisa bercerita tentang laut lagi..." Armin menggapai buku Eren yang dicampakkan tadi dan membukanya, mencari halaman yang dipenuhi oleh ilustrasi lautan. "Bahkan aku bisa menceritakanmu jauh lebih banyak dibandingkan apa yang ada di dalam buku ini."
Tak ada reaksi. Tapi, Armin tak menyerah.
"...Oh iya, kakakmu sedang menyiapkan makan malam. Ki—kita ke sana—?" ajak pemuda itu terbata-bata. Masih tidak ada tanggapan apapun. Armin mulai berpikir frustasi. Apa sekarang aku yang seharusnya merajuk?
"Eren, makan malam sudah siap—ah, Tuan Kolonel juga," suara Carla Jaeger yang telah berdiri di ambang pintu kamar adiknya, membuat pikiran Armin kembali ke alam nyata. Bocah itu membuka selimutnya perlahan, dan tanpa melirik kolonel muda itu sedikit pun dan segera berlari begitu saja ke arah dapur. Sang gadis kembali menghela napas. "Kau sudah berusaha sebisamu, Tuan. Tunggulah dia tenang," hibur sang gadis sembari membantu Armin bangkit dari tempat tidur.
Selama di meja makan, kedua makhluk adam itu tak mengeluarkan suara dari bibir mereka. Yang terdengar hanyalah bunyi alat-alat makan yang berbenturan, bunyi kunyahan, dan sesekali suara Carla yang mengajak bicara keduanya—walaupun niatannya itu tak begitu sukses. Tak lama kemudian, Eren beranjak dari tempat duduknya dan mulai berlari ke arah kamarnya lagi.
"Aku sudah selesai," ujarnya meninggalkan meja makan.
"Eren, sayurnya belum—" sebelum gadis beriris cokelat itu menyelesaikan kalimatnya, yang bersangkutan sudah menghilang dari pandangan. "Aah! Dasar, anak itu..." saat pandangan Carla kembali pada meja makan, terlihat piring makanan si pemuda sudah licin—seperti biasa. Ia pun mengembangkan senyum tipis.
"Hm...tidak perlu gusar, Tuan. Eren memang begitu. Tunggu—"
"Aku tahu apa yang akan kau ucapkan," tiba-tiba saja Armin teringat akan Jenderal Keith yang terus mengulang ucapannya selama tujuh hari berturut-turut saat ia masih di markas Shiganshina. Dan seketika rasa jengkelnya timbul kembali. Kenapa orang-orang suka sekali mengulang-ulang ucapan mereka?
"Maaf, maaf. Aku tahu keadaan hatimu sedang buruk. Aku hanya mencoba untuk menghiburmu... Tidak berhasil, ya?" Carla memasukkan suapan terakhir ke dalam mulut kemudian melanjutkan perkataannya lagi, "Eren mudah memaafkan kok. Apalagi, dia menyukaimu. Dia hanya sedang menenangkan diri."
Armin sama sekali tak mempercayai ucapan itu.
"Ah. Kau mau ke mana?" tanya sang gadis saat melihat pemuda di hadapannya berdiri dan berjalan meninggalkan meja makan.
"Tidur."
Carla kembali tersenyum mendengar jawaban singkat itu, "Kalau begitu, selamat beristirahat."
Armin hanya mengedikkan bahunya dan berjalan pelan ke kamarnya. Ia sudah setengah jalan ketika matanya menangkap seragamnya yang tergantung di pojok ruang baca. Matanya menangkap simbol militer yang ada saku dada seragamnya.
Memicu sepenggal memori merasuki kepalanya secara tiba-tiba.
.
.
"Kenapa aku harus melakukan ini?! Kasihan dia! Lepaskan, kumoh—"
.
.
"Tidak mau—aku tidak mau! Hentikan! Aku tidak mau lagi membu—"
.
.
"Kau tidak bisa seperti ini terus!" suara familier itu masih terdengar jelas di telinganya meski kesadarannya tengah menurun. Pipinya merasakan lantai dingin tempatnya berbaring. Matanya melirik lemah ke sosok di hadapannya, menangkap simbol yang bersinar keemasan di ruang bawah tanah itu. "Sepertinya aku harus menyingkirkan semua hal yang bisa mengganggu jalanmu."
.
.
"Tuan Kolonel?! Kau tidak apa-apa?!"
Suara ketakutan dan khawatir menarik Armin kembali dari alam bawah sadar. Tangan kolonel muda yang masih berbalut perban itu sibuk menahan tubuh ke dinding, sedangkan tangan satunya memegangi pelipisnya yang terasa nyeri setelah memori buruk itu masuk ke kepalanya secara tiba-tiba.
Beberapa detik sampai Armin yang mulai bisa menguasai diri, segera menepis tangan Carla yang berusaha menopangnya sedari tadi. Ia bisa melihat kursi si gadis Jaeger yang jatuh terjungkal. Membuatnya sadar kalau sang gadis pasti cepat-cepat menghampirinya yang hampir ambruk ke dinding dekat ambang pintu dapur.
"Minggir," tukasnya mencoba untuk berjalan lagi. Perlakuan itu membuat sang gadis di sebelahnya mau tak mau melepaskan genggamannya. Wajah manisnya berubah muram dengan cepat.
"Kenapa kau selalu begitu..? Kau bisa menceritakan apa pun padaku. Bukankah kau bilang sendiri, bahwa kau mempercayaiku, Tuan?" Armin menghentikan langkahnya saat Carla mencoba berbicara lagi padanya.
"Aku memang percaya padamu," tegas pemuda itu sedikit menoleh ke arah lawan bicaranya. "Tapi—sampai kapan kau mengurusi hal yang bukan urusanmu? Kenapa kau selalu campur tangan?"
"Karena aku peduli," senyum sang gadis kembali muncul di wajahnya.
"Kau mau bilang karena itu kau menolongku?" Armin masih berdiri di tempatnya, begitu juga Carla yang berjarak sekitar tiga meter darinya."Tanpa tahu aku bisa membunuhmu kapan saja?"
"Mm, aku yakin kau tidak akan membunuhku, Tuan Kolonel," sahut sang gadis tanpa ragu.
"Apa yang membuatmu yakin?" tanpa sadar si blonde sudah menyandarkan punggungnya pada dinding terdekat, tepat di sebelah sebuah jendela di mana cahaya bulan menembus kacanya, membuat tempat itu tersinari cahaya kebiruan.
"Bukankah kau lihat? Aku masih hidup sampai saat ini," sang gadis meregangkan kedua lengannya ke atas dengan santai. Sama sekali tak bersikap seperti sedang berhadapan dengan orang yang paling dicari seantero Shiganshina.
"Lagipula kalau kau sebegitu inginnya untuk kembali, kenapa kau tidak pernah mencoba untuk menyingkirkanku sejak awal? Kalau kau melakukannya, mungkin kau sekarang sudah ada di markas Shiganshina," Carla menjeda perkataannya sebentar untuk memperhatikan wajah datar pemuda di depannya. "Kira-kira, kenapa aku masih hidup sekarang, ya?" gadis itu memainkan kata sedemikian rupa—seperti sedang memancing kolonel muda itu agar meresponnya.
Yang diajak bicara tampak membuka bibirnya sedikit. Seperti ingin menjawab, namun tak ada sepatah pun kata yang keluar. Ia merasa tenggelam dalam kalimat-kalimat sang gadis.
Kenapa ia tak membunuhnya?
—Orang yang menghalanginya untuk kembali ke markas.
Ia tak akan dikenai hukuman hanya dengan melenyapkan satu-dua orang rekan dari pemberontak. Dan sebenarnya pun ia tak perlu membunuh gadis itu untuk kembali, karena sang gadis lebih lemah darinya.
Tapi kenapa—?
Armin tak dapat menemukan jawabannya.
"Saat kau mulai dapat berjalan menggunakan batang kayu itu, sebenarnya bisa saja, ketika aku lengah, kau menelusuri rumah ini untuk mencari senjata-senjatamu, Tuan. Kenapa kau tak berkutik sejengkal pun? Atau, lebih mudahnya..." gadis itu masih memperhatikan ekspresi wajah si pemuda—yang memandang tak fokus, entah ke mana. "...mudahnya, misalkan peralatan yang ada di dapur..."
Pisau.
"...atau sesuatu yang ada di belakang rumah..."
Kapak.
"...atau tempat penyimpanan perkakas..."
Gunting. Palu. Gergaji. Sabit.
"...dan mungkin kau bisa membunuhku dengan tangan kosong."
Pemuda bersurai pirang itu masih bungkam. Tidak ada yang bisa ia argumentasikan. Sama sekali tak pernah terpikir olehnya untuk membunuh gadis di depannya, semenyebalkannya anak hawa itu. Armin sama sekali tak menyadari, selama ini ia meributkan soal kembali ke markas—tetapi tak ada satu pun proses yang diwujudkannya.
Kenapa?
Kali ini, Armin menundukkan kepalanya dalam-dalam—menghindari tatapan sang gadis. Ia hanya bisa berkata dengan nada lemah, "Itu...tidak menjawab pertanyaanku..."
Suara lemah yang membuat gadis itu sedikit kasihan. Carla tak membahasnya lagi, ia tahu si pemuda sedang bingung.
Karena Armin masih belum bisa menjawab pertanyaannya.
"Kuharap kau akan menemukan jawabannya suatu saat, Tuan Kolonel," Carla melanjutkan, "Baiklah. Apakah pertanyaan mengenai kenapa aku yakin kau tidak akan membunuhku? Apakah bukti aku masih hidup tidak cukup?"
Armin tak menjawab, tetapi Carla tahu, pemuda itu sedang menunggu.
"Aku melihat wajahmu di koran, sebelum Eren menemukanmu. Makanya itu, aku menolongmu," ujar sang gadis kemudian tanpa ada sinar kebohongan di dalamnya.
"...Kau mengasihaniku karena kasus malam itu?" tebak pemuda di depannya.
"Mm mm..." gadis beriris cokelat itu menggeleng. "Tidak juga."
"Kalau begitu...kau tahu aku sedang cedera dan tidak sadarkan diri. Di saat itulah kau melucuti seluruh senjataku, untuk memastikan aku tidak akan bisa melukaimu. Apa aku benar?" Armin sangat yakin itulah yang Carla pikirkan saat itu. Sampai sekarang pun senjata-senjatanya masih berada entah di mana—tapi kenapa dirinya merasa sedang tak ingin mencarinya?
Kemudian terdengar sahutan dari kakak Eren itu, "Tidak, bukan itu kok."
"Apa maksudmu?" tanya sang kolonel masih menunduk—menyembunyikan wajah penasarannya.
Carla menyunggingkan senyuman penuh arti. "Aku bisa menilaimu...hanya dari tatapan matamu, Tuan Kolonel," agak-agaknya, Armin sedikit terperangah, karena merasa memiliki kemampuan yang serupa. Tapi—kalau ini bukankah hanya sebuah potret diri—?
"A—apa... I—itu 'kan cuma gambar," tukas Armin yang tak langsung meminta penjelasan—agak penasaran juga sebenarnya.
Senyuman Carla kian melebar. "...Pokoknya, aku bisa."
Cih. Jawaban macam apa itu?!
"Huh," kepala si pirang terangkat, membuat matanya bertemu pandang dengan dinding di seberangnya. "Sudahlah. Sebaiknya kau berhenti mempedulikanku."
"Kenapa begitu?" nada ceria terkandung di dalam ucapan sang gadis Jaeger kali ini.
"Kenapa? Karena aku tidak membutuhkannya dan itu menganggu kenyamananku."
Tapi, sang gadis malahan tertawa kecil mendengarnya, membuat si blonde—lagi-lagi—berkedip heran.
"A—apa..?"
"Su—sungguh, Tuan—" ujar Carla masih berusaha menghentikan kikiknya. "kau sungguh orang yang tidak jujur."
Armin membisu beberapa detik saat Carla kembali tertawa. "Kalau itu sudah pasti, bukan?"
"Eh?" sekarang giliran si gadis yang berkedip heran.
"Lihatlah. Apa aku terlihat seperti orang yang jujur?"
'Ah...memandang rendah diri sendiri,' pikir Carla. 'Dia pasti berpikir bahwa semua kejujuran itu mengarah ke sesuatu yang baik, sesuatu yang berada jauh di atasnya—tempat yang tidak akan pernah bisa ia gapai.'
"Bukan tidak jujur seperti itu yang kumaksud," ucap gadis itu dengan merendahkan intonasi kali ini, menyadari lawan bicaranya itu tak menangkap maksud ucapannya tadi. "Sepertinya, Tuan tidak biasa menerima kebaikan orang, ya?"
"Untuk apa?" Armin memberanikan diri untuk sedikit menatap ke arah Carla kembali, toh tak ada yang harus ia takutkan lagi. Gadis itu tak akan menanyakan pertanyaannya lagi tentang sesuatu yang tak dapat dijawabnya itu—entah kenapa ia yakin. "Itu tidak berguna."
Carla semakin melengkungkan bibirnya ke atas. 'Itu dia, tidak jujurnya muncul.' gumamnya dalam hati. Dipandangnya kolonel muda itu dalam-dalam. Di saat yang bersamaan pemuda itu berjalan ke arah ruang depan dan seketika, ekspresi gadis itu pun berubah. "Ah, Tuan? Bukankah kau mau tidur?"
"Penat. Aku ingin mencari udara segar," jawab yang ditanya. "Tidak lama," tambahnya setelah menyadari wajah cemas Carla. "Dan jangan ikut," kata Armin lagi—rasa canggung menghantuinya jikalau gadis itu ikut dengannya. Merasa ucapannya sedikit keras barusan, si blonde segera mengimbuhi dengan sedikit tergagap, "Ka—kalau kau ikut, a—aku marah."
"Iya, iyaa," Carla terkikik geli. "Tapi, memangnya kapan kau tidak marah, Tuan Kolonel?" Armin tak menjawab, ia cepat-cepat berbalik membuka pintu depan dan menutupnya kembali ketika sudah berada di luar rumah.
.::arucaru::.
Armin menghirup udara hutan yang asri itu dalam-dalam. Ia berjalan masuk ke dalam hutan dan menemukan pohon besar yang sepertinya tempat yang nyaman untuk berbaring. Matanya terpejam syahdu sembari bersandar di bawah pohon tersebut.
Hanya ada suara gemeresik daun yang tertiup angin yang terdengar. Tak ada yang bergerak lagi sampai kelopak mata sang pemuda terbuka, memperlihatkan iris biru yang sewarna dengan langit. Tapi, ada yang berbeda di dalamnya. Sekarang yang ada di dalam sepasang mata biru itu adalah tatapan seorang kolonel.
"Sampai kapan kau mau bersembunyi?" Armin berdesis, "Keluarlah. Aku tahu kau ada di sana."
Setelah sang pemuda menyelesaikan kalimatnya, terlihat sesuatu seperti bayangan manusia melompat dari atas dahan pohon tak jauh dari tempatnya duduk. Sesosok gadis berparas asia berbalut syal merah di lehernya berdiri di hadapannya. Tak perlu waktu yang lama sampai Armin menyadari siapa gadis tersebut.
Mikasa.
"Sejak kapan kau sadar?" ucap Mikasa dingin.
Meski sudah mendengar suara tersebut selama beberapa kali, tapi baru saat ini dia bisa melihat sosok sang gadis dengan jelas. Rambut hitam legam dan mata obsidian membuat kulit putih milik si asian terpancar lebih indah. Gadis yang cantik. Kalau saja dia bukan seorang pemberontak.
"Aku menyadarinya saat menyusul gadis menyebalkan itu masuk ke hutan," jawabnya tak acuh, "Kalau kau mau menyembunyikan diri, lebih baik kau lepaskan saja syal merahmu itu."
"Aku tidak butuh saran dari militer menjijikkan sepertimu," balas Mikasa, "Sudah kuduga kau hadiah yang ingin disembunyikan Carla. Sayang sekali tidak ada orang berambut pirang yang pernah datang ke rumah itu," gadis itu berkata geram sembari menggenggam beberapa helai rambut milik sang kolonel yang diambilnya saat duduk di kasur dan langsung menghempaskannya ke tanah. "Katakan apa rencanamu yang sebenarnya!"
"Tanya saja pada sahabat bodohmu itu, kenapa dia menyelamatkanku."
"KAU!" suara Mikasa meninggi, "Tidak mungkin buronan sepertimu tidak punya maksud tersembunyi! Apalagi kau mengetahui tempat yang mestinya tersembunyi ini!"
"Sudah kubilang tanya saja pada gadis naif itu! Aku sama sekali tidak tahu-menahu mengenai tempai ini!" sekarang Armin mulai kesal.
"Aku tak punya pistol seperti yang biasa kau gunakan, Kolonel," Mikasa mengeluarkan sepasang pisau lipat dari kedua sakunya, "Tapi, benda ini bisa sama menyakitkannya dengan timah panas kesukaanmu itu."
"HENTIKAN—!"
Kedua manusia itu langsung membeku, lalu segera menoleh ke asal suara, dan mendapati Carla Jaeger berdiri di sana dengan napas terengah-engah. Sang gadis segera berlari dan memposisikan diri di hadapan Armin yang masih tak bergerak, kaget dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
"Menyingkirlah, Carla!" Mikasa berteriak kepada sahabatnya itu. "Apa yang kau pikirkan dengan menyembunyikan makhluk ini di rumahmu?!"
"Mikasa, kumohon, biar kujelaskan dulu!" mata sang gadis Jaeger bersinar keras kepala. "Dia sama sekali tidak berbahaya. Lagipula, dia sedang terluka."
"Kau tidak tahu seberapa berbahayanya orang yang sudah terlatih militer sejak kecil!"
"Tentu saja aku tahu!" sekarang giliran Carla yang meninggikan suaranya. "Kau kira aku tidak bisa melihat bagaimana kau dan Kakak berlatih selama ini? Kalian kira aku senaif itu tanpa tahu konsekuensi atas apapun yang kuketahui dan kulakukan?!"
"Ya, kau sama sekali tidak bisa berpikir jernih karena dulu dia pernah menyelamatkanmu satu kali!"
Ucapan Mikasa membuat topeng datar Armin runtuh dan membuat sang pemuda tak bisa menyembunyikan rasa tertegunnya.
"Apa maksud—"
Tapi, ucapan sang kolonel sama sekali tak diindahkan oleh kedua sahabat yang saling melotot satu sama lain itu. Keduanya terlalu sibuk berargumen untuk mempertahankan pendapat mereka masing-masing.
"Itu tak ada hubungannya," Carla tetap berdiri tegak. "Aku melihatnya terluka dan aku berkewajiban untuk merawatnya. Dia memiliki hak untuk itu."
"Meskipun dia juga yang menyebabkan kemati—"
"Sudah kubilang tidak ada hubungannya!" suara sang gadis beriris coklat itu mulai bergetar.
Tampaknya Mikasa menyadari ucapannya yang kelewatan dan terkesiap melihat emosi duka yang mewarnai wajah sahabatnya itu. Perasaan bersalah pun muncul di hatinya. Kemarahan yang tadinya memuncak, perlahan menurun dengan pasti dan membuatnya bisa berpikir lebih jernih.
"Maafkan aku..." Mikasa berkata lirih, "Tapi, aku tetap tidak setuju dengan keputusanmu membiarkan dia ada di rumahmu."
Sang gadis asia menatap pemandangan di hadapannya dengan tidak suka. Apapun alasan sahabatnya itu, dia tak akan membiarkan si kolonel pirang itu tinggal di dekat kedua orang yang disayanginya tersebut. Tapi, ia tahu betapa keras kepalanya Carla kalau sudah meyakini sesuatu. Kepala berdenyut memikirkan sesuatu untuk membereskan masalah ini, sampai akhirnya sebuah rencana terbentuk di kepalanya. Membuat senyum bisnis tersungging di wajah manisnya.
"Baiklah," ujar Mikasa santai. "Baiklah, aku akan membiarkannya tinggal di sini."
"Tapi, dengan syarat."
Kedua manusia di hadapannya menatapnya dengan ragu. Mikasa tetap tersenyum ganjil.
"Kau harus bertemu dengan Levi terlebih dahulu."
.
.
.
.::end of Chapter One::.
Huahahaha. Akhirnya crack pair nya keluar juga, dum dum dum *nabuh bedug*
Yeah. Kalo ada sinetron tertulis, ingat, itu pasti gegara saya (Fue) *yg keluarganya nonton ntu genre tiap ari*
Nah, ntar yg ngelurusin ke jalan yg bener (?) si Qiqi/MochiiZuki—tentu semampunya, karena SUMPAH INI BANYAK PAKE BANGET. Hahaha...
Thanks for visiting~
Please leave a review. ^^
