Feeling Guilty
Katekyo Hitman Reborn
Pair: D18
Author: shourarara
AU, OOC/OC, shounen-ai.
A/n: Shou kembali—mungkin chapter ini membosan untuk para pembaca (yang mau meluangkan waktunya untuk baca fic saya yang abal, jelek, tidak jelas alurnya) ini. Saya juga berterima kasih kepada pembaca yang senantiasa mau memberikan review kepada fic ini. Oh ya—chapter ini berisi flashback semua yap. Dan maaf chapter ini pendek 8((
KHR BUKAN PUNYA SAYA/
Reply (review) *untuk orang terdekat saya menggunakan bahasa gaul.
Yukiko Yoora: maunya sih emang awalnya angst gitu tapi—kayaknya ya, belum tentu aku buatnya angst tapi liat aja di kelanjutan fic ini salam kenal juga yoora-san! Terima kasih atas reviewnya.
*Mochiyo-sama: aduh ini siapa saya gakenal /DIBUANG/ hai panjang! I am gomen, gue emang ngebuatnya sengaja kayak drabble gitu aksdjhfkjsd tapi ternyata ada juga yang mau baca fic gue HAHAHAH. Nanti gue buat lo lebih penasaran kayak setan kalang kabut /APA. Terima kasih reviewnya panjang!
*Rein Yuujiro: sumpah gue bahasanya ga ada yang bagus yeap, gue ngetranslate dari google pls HAHAHA /MATI. Tapi cuma dikit sih sisanya gue belajar kosa kata dari kamus gitu /TAMPAR/. Terima kasih reviewnya Rein!
...
Chapter 1. What Hibari did to Dino
...
"Kyouya, kenapa kau jahat sekali hari ini? Tingkahmu ini tidak seperti sewajarnya," tanya Dino dengan wajah yang terbilang bingung.
Dino menjulurkan lengannya bersiap untuk menyentuh pipi halus pemilik tonfa itu. Namun, lengannya telah dicegah oleh tonfa milik Hibari dan kedua matanya memandang lurus tajam lelaki bersurai pirang yang tengah terlihat terkejut itu.
"Kau sama sekali tidak punya urusan dengan diriku, jika mendekat berarti kau kugigit sampai mati. Kau tahu kan betapa bencinya aku terhadap orang yang sok perhatian, hal tersebut hanya membuat-ku muak." ucap Hibari geram sembari menggenggam erat tonfa kelam milik-nya.
Dengan segera—Dino menoleh ke arah yang berbeda dengan keberadaan lelaki pemilik tonfa itu dan parasnya terlihat tidak cerah seakan kata-katayang dilontarkan oleh Hibari itu telah menusuk hatinya. Lengannya kemudian terlepas dari tonfa milik Hibari, kemudian ia berjalan menjauhi Hibari.
"Apa kau setakut itu terhadap diriku?" tanya Hibari menyeringai. Ia terlihat menikmati pemandangan di depan-nya. Melihat Dino mundur tanpa sepatah kata.
Secara tidak sadar, kata-kata tersebut keluar dengan begitu saja di mulut Hibari. Tidak mengindahkan resikonya, Dino kemudian menoleh ke arah Hibari.
"Mungkin ya, dan mungkin tidak," jawab pasrah lelaki bersurai pirang.
Mengernyitkan dahi sembari menghembuskan nafas—Hibari melangkahkan kedua kakinya mendekati Dino. Wajah yang tertampang saat itu ialah wajah yang tidak pernah orang lain lihat. Wajah yang menandakan dirinya geram akan tindakan serta ucapan Dino.
"Maksudmu, kau tidak takut padaku?"
Semakin mendekat, Hibari bersiap-siap untuk melawan Dino menggunakan tonfa miliknya. Kedua tangannya telah menggenggam erat tonfanya tersebut. Dengan cepat—Hibari melemparkan tonfa itu hanya untuk ditahan oleh Dino menggunakan lengannya tersebut. Hibari saat itu hanya bisa terkejut dengan tindakan yang tidak terduga ioleh dirinya. Hal tersebut tidak pernah terlintas dalam pikiran lelaki bersurai kelam yang saat itu kembali menghempaskan beberapa pukulan yang tertuju kepada lelaki bersurai pirang.
Namun apapun yang telah Hibari lakukan—hanya mendapatkan dirinya terkejut dengan perlindungan diri Dino. Setiap kali dirinya menyerang Dino—yang Dino lakukan hanya bertahan. Hal tersebut membuat diri Hibari muak. Demi Tuhan saat ini dia hanya menginginkan satu pukulan atapun tendangan yang ia hempaskan mengenai wajah Dino—kemudian ia bisa pergi dalam keadaan puas dari tempat yang ia pijak sekarang.
"—Hei, untuk apa kau hanya membela diri? Apa kau sebegitu takutnya terhadap diriku yang saat ini memukulmu dengan sekuat tenaga—oh aku tahu, yang kau inginkan adalah mengetahui seberapa takutnya dirimu terhadap diriku,"
Dino yang masih dalam keadaan membela diri itu menjadi tidak fokus diakibatkan oleh ucapan tajam milik Hibari.
Satu serangan yang Hibari hempaskan setelah ia mengucapkan hal tersebut membuat Dino tidak sadar diri. Puas—ia segera meninggalkan tempat dimana mereka berdua berkelahi.
Tanpa diketahui Hibari—Dino saat itu sebetulnya masih dalam keadaan sadar. Walaupun ia berada pada keadaan merintih yang diakibatkan oleh Hibari.
Berdiri sembari merintih, Dino mencoba untuk meraih barang apapun yang berada dekat pada dirinya.
"—T-tunggu Kyouya—"
Melirik dari kejauhan, Hibari memandang tajam wajah milik Dino seakan-akan Dino adalah hal yang selalu membuat diri Hibari muak akan hidupnya selama ini.
"Dino—selama ini aku membenci-mu, aku hanya merasa puas jika aku telah mengalahkanmu pada saat kita berdua berkelahi. Sekali lagi. Aku. Benci. Dirimu. Jangan pernah sekali-kali menampakkan dirimu di depan diriku—atau kugigit kau sampai mati." Ia pun meninggalkan Dino.
Ucapan Hibari telah menusuk hati milik Dino.
...
T B C
...
A/n: halo—saya tidak tahu mengapa saya membuat fic seperti ini- tapi dalam lubuk hati saya berkata "Ayo Shou—sekali-kali kamu harus bisa membuat fic angst," menurut saya fic ini gak ada angstnya sama sekali dan itu adalah pendapat saya. Saya tidak tau apa pendapat reader semua—tapi cuma bisa berharap chapter ini bisa mendapat review yg bisa membuat saya termotivasi dalam karya-karya saya yang selanjutnya.
Review? /tidak memaksa
