.
Our Destiny
Suho : Girl (GS) | Kris : Boy | Yixing : Girl (GS) | Kai | Chanyeol | lead+
Warning : Typo's , Absurd , No Feel
Rated : T+ - M
...
BunnyJun's Present
...
.
.
.
Kris enggan larut dalam derita nestapa tak berujung, hanya diam dan menangisi kepergian Junmyeon juga bukan to do list dalam hidupnya. Namun daripada pergi bersama wanita murahan lainnya, Ia lebih memilih membuang seluruh harga dirinya dan datang kembali pada Junmyeonnya. Pada wanita yang justru telah muak dengan kehadirannya, wanita yang selalu memandang Kris dengan tatapan sakit.
.
Kata menyerah tak pernah ada dalam kamus hidup seorang Kris Wu. Tak peduli seberapa banyak kegagalan yang pernah Ia telan, maka sebanyak itulah Ia akan bangkit. Kris angkuh, semua orang tahu akan hal itu. Namun yang kini tengah bersimpuh dengan wajah memelas di depan pintu rumah mewah milik keluarga Junmyeon bukanlah seorang Kris Wu yang angkuh, melainkan Kris Wu yang butuh belas kasihan dan sebuah maaf.
"Kau membuatku terlihat seperti seorang penjahat" Junmyeon menyerah, menampakkan dirinya setelah hampir 5 jam membiarkan Kris di sana tersengat matahari terik, akhirnya Ia mau menemui Kris, bahkan kali ini bersuara tak seperti sebelumnya yang hanya menatap Kris tajam dan meminta security rumahnya untuk menyeret Kris keluar, membuat Kris tanpa sadar menarik sudut bibirnya, Kris tersenyum.
Kris memberanikan dirinya untuk menatap wajah Junmyeon, namun sepersekian detik kemudian Ia kembali tertunduk. Sungguh, wajah dingin tanpa belas kasih itu menyiksa Kris lebih dari panasnya terik matahari.
"Apa yang kau inginkan dengan bersikap seperti ini ? Meminta belas kasihanku untuk memaafkanmu ?" wanita itu berujar dingin, tak mempedulikan wajah lemah tak berdaya Kris, Suami ah calon mantan suaminya itu bahkan terlihat begitu pucat dengan keringat bercucuran deras membasahi pahatan tajam rahang miliknya.
Namun Kris tak goyah, Ia sama sekali tak gentar menerima serangan bertubi-tubi bak puluhan anak panah yang ditembakkan langsung tepat mengenai ulu hatinya. Perih, tentu saja, tapi untuk sekedar menjelaskan betapa sesak dadanya pun Kris rasanya begitu enggan ketika semua perasaan sakit itu Ia jadikan dasar untuk sebuah pertanyaan 'Apakah istrinya juga merasakan hal yang sama dengannya ?' Ketika Ia bersikap dingin dan angkuh, ketika Ia bersikap bajingan dan tanpa belas kasih. Jika Ia, maka Kris tengah mengutuk dan memaki dirinya sendiri 'Bajingan kau Kris, biadab kau Kris, bejad kau Kris, kenapa tak bunuh saja dirimu ?'
"Hey Tuan Wu .." panggil Suho sombong "Hentikan aktingmu, kau sungguh-sungguh tak berbakat. Tak perlu bekerja begitu keras untuk air mata palsumu !" desis Suho kejam, jujur saja Ia muak .. air mata palsu, tobat palsu, janji palsu, wajah memelas yang palsu, kalimat palsu, percayalah Suho sudah merasakan itu berkali-kali. Entah mengapa rasanya lebih baik jika Kris datang padanya dengan wajah angkuh khas miliknya, setidaknya Suho tak perlu merasa sakit hati atas alibi-alibi yang diluncurkan untuk mengelabuinya lagi.
Kris menunduk dalam, bagaimanapun Ia mencoba begitu tegar tetap saja tubuhnya tak bisa mengikuti semua kehendak otaknya. Matanya memanas, air mata yang memang telah berkumpul di sudut mata tajamnya itu tak bisa lagi Ia bendung, dadanya sesak, kalimat Suho, penolakan Suho, sorot kebencian itu. Siapa yang menduga semua itu akan terasa begitu sakit ? Untuk ukuran seorang Kris Wu, siapa yang pernah menduga jika semua kebencian itu sanggup membuat dirinya serendah ini hingga sanggup berlutut tanpa harga diri yang selalu Ia junjung tinggi ?
"Maaf .." Kris berucap lirih
"Aku benar-benar mohon ampunanmu Kim Junmyeon"
"Sungguh .. untuk yang terakhir kalinya .. Aku bersumpah, berikan aku satu kesempatan, hanya satu untuk yang terakhir kalinya .." Suho jengah, Ia muak dengan kata maaf yang terlalu sering keluar dari mulut Kris, kalimat maaf penuh penyesalan yang beriringan dengan deraian air mata, seolah Ia telah hapal urutannya, bahkan Ia mampu mengulang kalimat maaf persis seperti yang baru saja Kris ucapkan.
Suho tahu, bahwa tak ada kebohongan dan keraguan seperti yang sudah-sudah dalam tatapan tegas Kris padanya. Namun bagaimanapun Ia mengakui semua kenyataan Kris yang telah berubah, bagaimanapun Ia coba tutupi sendiri lukanya untuk melihat kesungguhan dari setiap ucapan Kris, tetap saja akal sehat dan kesakitan yang telah Kris ciptakan merasukinya lebih dalam.
"Cihh .. kau benar-benar berusaha begitu keras Kris .." cibir Suho ketus "Aktingmu boleh juga" cemooh wanita itu bernada remeh "Kenapa tak kau gunakan untuk menarik perhatian wanita jalang di luar sana seperti yang biasa kau lakukan ?" kalimatnya telak, mematikan, melupuhkan, mengunci rapat-rapat semua pembelaan yang siap meluncur dari mulut Kris.
"Aku benar-benar minta maaf, tak bisakah kau sekali saja melihat semua ini sebagai sesuatu yang tulus ? tak bisakah kau melihat semua penyesalanku ? Tak bi-"
"never you say sorry when you're not!" bantah Suho dingin. Mungkin dulu maaf Kris adalah kalimat yang paling ingin Suho dengar setiap mereka bertengkar seperti ini, maaf tulus dari orang yang begitu Suho cintai. Namun itu dulu, kemana saja Kris selama ini hingga baru begitu menyesal setelah Suho memutuskan untuk keluar dari kehidupan pria itu.
Airmata Kris tak lagi coba Ia tahan, sungguh Ia berani bersumpah demi apapun termasuk nyawanya sendiri jika semua ini BUKAN akrting semata, maafnya bukan sebuah kebohongan, penyesalannya bukan sebuah lelucon "Aku tau aku begitu sering menyakitimu, dan sekarang aku disini, memohon maafmu untuk semua hal yang telah aku lakukan, aku bersumpah ini akan jadi yang terakhir kalinya" Kris memelas pada sosok Suho yang terus memandangnya penuh sorot kemuakkan, seolah menatapnya dengan tatapan keji untuk para pria laknat sepertinya.
Suho tersenyum miring, "Kau tahu ? Ini adalah drama terhebat yang pernah aku tonton selama hidupku" perasaan wanita itu telah tertutup oleh kebencian dan sakit yang begitu dalam, dan -lagi- semua ini diciptakan oleh diri Kris sendiri. Ternyata pepatah itu benar, siapa yang menabur benih maka Ialah yang akan menuainya dan kini pria itu tengah menuai hasil dari tingkahnya selama ini, bahkan terasa beribu kali lebih menyakitkan bagi Kris.
Air mata ? Persetan ! Memelas ? Terdengar begitu lucu ! Bersimpuh ? Tak sama sekali berarti ! Suho seolah telah menutup seluruh hatinya, menutup seluruh cintanya dengan perasaan sakit, kecewa dan terkhianati yang telah Kris tanam, yang telah Kris pupuki dan kini tengah tumbuh subur. Harusnya Kris nikmati semua buahnya bukan ?
"Ku mohon maafkan aku" pinta Kris lemah dengan deraian airmata yang benar-benar menghilangkan sosok angkuh dan dingin yang selama ini Suho lihat. Sosok arogant, ambisisus, egois, dingin, kaku, penuh harga diri dan martabat kini telah melebur, bersama tangis penuh harap, kata per kata yang lolos dari bibirnya seolah semakin menegaskan betapa tersiksanya Ia atas perasaan bersalah juga penyesalan yang begitu mendalam.
"Aku mohon maafkan aku dan kembalilah padaku" lirih Kris kembali, tak menjunjukkan tanda-tanda Ia telah lelah dan menyerah.
Sayangnya .. Semakin deras airmata Kris menguar, hati wanita itu justru semakin dingin, beku dan membatu, semakin kokoh tanpa belas kasih. Di matanya kesakitan dan penyesalan itu kini hanya sekedar drama picisan, murahan, yang jalan ceritanya mudah ditebak, dan Suho sama sekali tak tertarik bahkan untuk mengikuti drama ini sampai selesai.
"Jika aku memaafkanmu dan kembali padamu, maka hanya lubang kematian yang menungguku esok hari"
"Hanya sebuah kesakitan, sebuah pengkhianatan, sebuah kekecewaan lalu akan diakhiri lagi dengan formalitas sebuah kalimat maaf" Jujur saja, apa yang dirasakan Kris saat ini benar-benar tak sebanding dengan semua luka yang pernah Suho alami atas siksaan Pria bajingan itu.
"Aku akan mencintaimu .." janji Kris cepat
"TIDAK" geleng Suho keras
"Aku mencintaimu .." aku Kris cepat
"TIDAK ! KAU TAK PERNAH" bantah Suho tak kalah cepat,
Suasana mulai memanas, Suho tak enggan lagi meninggikan seluruh kalimatnya, Suho tak ragu lagi menekankan dan membantah seluruh kalimat Kris. Tidak setelah semua luka yang begitu dalam, luka di atas luka yang selalu Kris torehkan. Luka di atas darah yang bahkan masih segar atas luka yang juga Pria itu torehkan.
"Kau menyakitiku .. dan aku memaafkanmu !"
"Tapi kau kembali menghancurkanku .. dan aku dengan bodohnya kembali memaafkanmu !"
"Kau balas maafku dengan pengkhianatanmu .. dan aku kembali dengan naifnya berpikir masih mencintaimu .."
"Kau kecewakan aku lagi .. lalu aku menjunjung tinggi cinta atas dirimu untuk kembali dalam pelukanmu !"
"Dan .." Suho menjeda kalimatnya, air matanya tak sanggup lagi Ia bendung bagaimanapun caranya "setelah semua luka ini, aku mungkin butuh waktu seumur hidupku untuk kembali baik-baik saja Kris" isakan itu kembali terdengar, setelah semua kalimat kasar yang terus-terusan wanita ini jadikan tameng atas hatinya, akhirnya Ia menangis, Ia terisak, meraung begitu perih di hadapan Kris -lagi-.
Kemana janji suci pernikahan yang pernah mereka ucapkan dengan penuh keyakinan dulu di altar ? Janji sehidup semati, janji berada di saat susah dan senang, janji untuk menjadi sepasang suami istri yang saling melengkapi, menyayangi, mengasihim, mencintai, semua jadi di hadapan Tuhan itu apa tak pernah sedikitpun mengikat hati Kris atas Suho ? Janji yang Kris ucapkan di hadapan Ayah Suho yang tengah terbaring sekarat di ranjang rumah sakit, janji di hadapan kedua orang tua Kris sendiri, SHIT ! Suho membenci semuanya.
Suho sungguh tak ingin lagi seperti ini, Ia butuh kedamaian. Ia begitu lelah, Ia butuh menghidupkan kembali semangat hidup yang telah pergi dari dirinya akhir-akhir ini .. Tapi setelah melihat Kris, memori masa lalunya kembali terputar, membuka kembali lukanya, kesakitannya, dan usahanya untuk menjadi baik-baik saja selama ini.
"Selama ini (hiks) aku belajar untuk hidup dalam siksaan kematian" airmata dan isakan Suho kini keluar tanpa coba lagi Ia tahan, mengingat atau mungkin Ia tengah mencoba memberitahu pada Kris bahwa kesakitan yang selama ini di alaminya benar-benar menghantarkan-nya pada kehidupan yang lebih layak disebut sebuah derita kematian, sakit, lebih dari sekedar menyesakkan, teramat sakit.
"Tapi toh .. setelah semua derita itu .." Suho menjeda kalimatnya, menarik nafasnya dalam ".. Aku selalu kembali padamu, dalam pelukan .. Ah .. kembali dalam cekikan atas tanganmu sendiri" ucapnya nanar, menarik sudut bibirnya sakratis. Menghapus kasar air mata tak berguna yang harus kembali Ia tumpah ruahkan hanya demi sosok yang justru adalah penjahat di sini. Kembali memandang Kris penuh kebencian, memandang sosok itu dengan sorot tajam tanpa belas kasihan.
Kris melihat semuanya, semua air mata yang justru kali ini lebih menghanyutkannya pada penyesalan tak berujung, seolah Ia tahu benar bagaimana sakit yang telah Ia torehkan pada wanita di hadapannya. Kris pun menangis, berhakkah Ia mengatakan jika kini dadanya pun begitu sesak, jika kini Ia juga sakit dan begitu terluka atas tangis pahit yang Suho coba sembunyikan selama ini darinya.
Apa jika Kris mengatakan kini tengah ada pedang tajam yang telah mencincang hatinya hingga tak berbentuk, maka Kris bisa berkata bahwa Ia tahu bagaimana terlukanya Suho ?
Suho merubah mimik wajahnya hanya dalam hitungan detik, senyuman remeh yang begitu menginjak harga diri Kris itu Ia tunjukkan pada Kris bahwa Suho-nya yang manis dan penuh cinta itu telah pergi.
"Kau memintaku kembali ?"
"Kau mau aku memaafkanmu dan kembali dalam siksaan kematianmu ?"
"BERMIMPILAH WU YIFAN !"
Kris menggeleng keras, tidak .. tunggu dulu .. Ia mohon agar semua ini dihentikan, Kris tak bisa menyaksikan ini. Ia tak lagi berhadapan dengan Kim Junmyeon, di hadapannya bukan Kim Junmyeon istri tercintanya. Setan telah merasukinya, sungguh siapapun tolong Kris.
"You can't get me back" Suho menggeleng tak berhenti bak orang gila "kau takkan pernah bisa mendapatkan Aku kembali Kris" ulang Suho tajam, Kris membulatkan matanya, katakan jika ini lelucon, demi tuhan katakan jika aura hitam yang menyelimuti istrinya itu hanya imajinasi tololnya saja
"Karna aku yang akan lebih dulu pergi dari kehidupanmu"
AARRRGGGHHHHH !
Erangan kesakitan itu sontak membuat Kris terhenyak, entah bagaimana, entah seperti apa, entah apa yang terjadi. Kris memandang takut apa yang mata obsidiannya tangkap, sosok Suho, sosok istrinya menusukkan sebilah pisau ke dadanya sendiri. Pisau yang berkilau diterpa sinar matahari terik itu kini tepat menusuk dalam, dalam tepat di ulu hati Suhonya.
"It's over" tubuh mungil itu terhempas, bersimpuh penuh darah, tubuh yang semula terlihat begitu kuat dan kejam kini ambruk tanpa perlawanya, bersimbah darah, bau darah segar itu bahkan menyeruak memenuhi indra penciuman Kris. Pisau itu terlihat begitu tegak, tertusuk begitu dalam.
Kris dengan langkah lemah terseok panik menuju wanitanya, apa yang Ia dapati sungguh jauh dari apa yang dia bayangkan. "Tidak .. tidakk .." wajah penuh air mata itu menatap kalut wajah Suho yang begitu pucat "Apa yang kau lakukan Suho-yya .." tangan bergetarnya menarik perlahan pisau yang telah berani melukai wanitanya "APA YANG KAU LAKUKAN !" teriakan ketakutan itu beriringan dengan isakan tak percaya, tubuh Kris bergetar hebat, telapak besarnya coba Ia gunakan untuk menutupi luka tusukan terus mengalirkan darah segar dari dada sang istri "Suho jangan .. Demi Tuhan, jangan seperti ini .." Kris rasanya telah meregang nyawa lebih dulu, wanita dalam rengkuhannya itu lebih memilih meregang nyawa daripada harus kembali padanya ? Sebejad apa dirinya ?
Matanya semakin buram oleh airmata, setiap ucapan yang keluar dari mulutnya di iringi isak tangis kepedihan melihat tubuh wanita yang di cintainya mengerang sekarat karena kesakitan. Nafas Suho yang mulai tersengal dan melemah ditangkap jelas olehnya.
"Maaf .." Suho berujar lirih.
"No .. Dont do this, Kim Junmyeon, NO !"
"Please stay with me beibh, stay with me..."
"STAY WITH ME !" Kris histeris melihat Suho yang berada dalam pelukkannya yang semula melenguh kesakitan kini mulai lemah, memelankan lenguhan-lenguhan pedih itu seiring dengan matanya yang perhalan tertutup.
"Kim Junmyeon ..
".. Kim Junmyeon .."
"Andwae ..
"Andwaeee Kim Junmyeon ..
"Suho-yya .. Bangun ! Bangun, aku mohon .."
"ANDWEEEEEEE .. WU JUNMYEOOONNNN !"
.
.
.
*(not) the end*
.
.
.
Note : Okay, maafkan Joon yang super dramatis hari ini. Pernah baca FF ini ? Yeah, FF berisi adegan akhir yang mengawali sesuatu dengan part bunuh diri kayaknya pasaran banget yeth. But, It's Okay and Last but not least, Joon punya rahasia .. Sssttt~ Part ini sebenernya belum berakhir xD So please stay tune ^^
.
.
Seriously, masalah krusial yang Joon punya itu hanyalah soal 'Kepercayaan Diri' Suka kecil hati dan berpendapat kalau tidak ada yang review ya berarti gak ada yang suka sama apa yang Joon tulis. Jadi mohon pendapatnya . Sekian Terima Kim Junmyeon~
.
