"Akakuro Detected"

Disclaimer:

Kuroko No Basuke ©Fujimaki Tadatosi

Story by Seilurou (vid)

Warn! Absurd, maksa, OOC

DLDR!

Enjoy Reading~

.

..

Kuroko Tetsuya itu terlalu baik menurut Seijuurou. Pemuda biru penyuka Vanilla shake itu pada dasarnya memang tidak tegaan, polos membuatnya banyak disukai bahkan jadi bisa saja jadi korban penculikan hanya dengan pancingan Vanilla shake. Seijuurou beruntung segera menjadikan Tetsuya menjadi miliknya, dengan begitu pemuda manis itu akan aman. Tetsuya itu agak tertutup, jarang menceritakan masalahnya pada orang lain dengan berdalih tidak ingin merepotkan orang lain. Benar-benar keras kepala mirip dirinya. Kadang juga suka bertindak tanpa memikirkan konsikuensinya, seperti waktu itu, sebelum Seijuurou berpacaran dengan Tetsuya..

.

..

"Ugh Sakit.." Tetsuya memegangi bahu kirinya. Latihan tengah berlangsung, dan ia beristirahat sejenak. Untungnya tidak ada sang kapten yang mengawasi latihan seperti biasa karena masih ada urusan dengan Momoi dan pelatih. Ia mengambil botol disebelahnya dan mulai minum.

"Kurokocchi! Ayo sekarang giliranmu" Menghela nafas sebentar , Tetsuya mulai beranjak berdiri dan mulai latihan lagi. Seijuuro datang tepat ketika latihan berakhir.

Aomine Daiki si Ace Teiko menatap heran sang bayangan yang sudah berkemas dan bersiap pulang, "Oi Tetsu, kau sudah mau pulang?"

"Aku harus segera pulang karena ada urusan" Bohong. Tetsuya terpaksa melakukannya. Sakit di bahunya sudah menjadi-jadi.

"Mandilah dulu agar kau tidak terkena flu, Tetsuya. Atau jika tidak gantilah pakaianmu" kini Akashi sang kapten yang angkat bicara.

"Aku baik-baik saja, Akashi-kun. Kalau begitu aku pergi dulu" Tetsuya pergi dari ruang loker. Berusaha setenang mungkin mereka terutama kaptennya tidak curiga dengan kondisinya. Tanpa menyadari jika manic heterocom yang setia menatap kepergiannya.

Tetsuya baru sajamelepas perban di bahunya. Lukanya ada yang terbuka lagi. Ibunya tadi sempat menyuruhnya ke rumah sakit tapi ia menolak karena masih bisa menanganinya. Pintu kamar Tetsuya diketuk dari luar, ibunya masuk.

"Tet-chan yakin tidak kerumah sakit? Kaa-san tidak tega melihatmu seperti ini. Besok bagaimana kalau Tet-chan tidak perlu ikut kegiatan klub basket dulu? Biar Kaa-san yang meminta ijin pada pelatih dan kaptenmu"

"Tidak perlu, Kaa-san. Tetsuya masih bisa latihan kok"

"Kaa-san bangga pada Tet-chan karena membantu orang yang kesusahan, tapi pikirkan konsekuensinya dulu agar tidak seperti ini kejadiannya"

"Ya Kaa-san. Tetsuya janji tidak akan mengulanginya lagi"

.

Kali ini Tetsuya sudah tidak bisa menahan nyeri di bahunya. Ia hampir saja terjungkal kearah Kise karena tidak melihat kedepan, dan untung reflek Kise bekerja.

"Kurokocchi?! Kau tidak apa-apa –ssu?!" Teriakan Kise tentu saja mengundang anggota kisedai lain yang masih berada di lapangan.

"Tetsu?!"

"Kurochin~?"

"Kuroko?" Mereka melihat Tetsuya yang terduduk di lantai meringis memegangi bahunya.

"Bisa jelaskan apa yang terjadi? Ryota?" Akashi mendekat dan berjongkok kearah Tetsuya.

"Aku tidak tahu, Akashicchi, sejak aku masuk ruangan, Kurokocchi sudah kesakitan-ssu"

Memandangi Tetsuya sebentar, Akashi bertitah,

"Lepas pakaianmu, Tetsuya"

"A-apa? Tapi-"

"Sekarang." Manik heterocom itu menatap Tetsuya tajam, membuat pemuda biru itu mau tidak mau menurutinya. Kaosnya sudah ditanggalkan. Kise histeris, Daiki melotot kaget, sisanya menebak-nebak apa yang terjadi. Kini bahu berbalut perban itu terpampang jelas didepan mereka. Tetsuya pasrah, ia yakin pasti sebentar lagi kaptennya marah padanya. Akashi menyelimuti si biru dengan jaketnya dan menggendongnya di punggungnya. Kisedai melongo melihatnya.

"A-Akashi-kun, kau mau membawaku kemana?"

"…."

"Aka-"

"Diam dan menurutlah." Ini bukan permintaan, tapi perintah. Tetsuya langsung bungkam. Hening melanda. Ngomong-ngomong ia tidak pernah bermimpi bisa sedekat ini dengan kaptennya. Kalau boleh jujur, Tetsuya menaruh rasa kagum ah bukan, mungkin suka terhadap Akashi. Namun ia tidak berani mengungkapkannya, beruntung ekspresinya datar jadi ia bisa menyembunyikannya. Ternyata Akashi membawanya ke rumah sakit terdekat. Pemuda merah itu mendudukkan Tetsuya ke bed rumah sakit.

"Tunggu Akashi-kun, aku tidak mau disini. Aku mau pulang" Tetsuya baru akan turun sebelum suara Akashi mengintrupsinya,

"Dokter akan memeriksamu, jadilah anak baik, Tetsuya" ujarnya penuh penekanan membuat Tetsuya sekali lagi menurut. Rotgen telah dilakukan dan beruntung tidak ada sesuatu yang terlalu serius, hanya sedikit retakan kecil. Perbannya dilepas, dan luka lebamnya diberi obat semacam salep, juga obat oral untuk menghilangkan nyerinya.

Akashi mengantarkan Tetsuya hingga didepan rumahnya. Tetsuya yakin Akashi ini pasti tengah marah padanya. Buktinya sepulang dari rumah sakit, pemuda merah itu hanya diam dan memasang wajah serius.

"Terima kasih sudah mengantarkanku, Akashi-kun" lirih. Bahkan nyaris tak terdengar. Tetsuya tak berani menatap sang kapten.

"Lakukan semua yang dikatakan dokter. Aku pergi" Akhirnya Akashi berbicara walaupun agak dingin. Tetsuya memandang mobil Akashi yang mulai menjauh sedih.

.

Beberapa hari setelahnya, bahu kiri Tetsuya mulai membaik. Nyerinya juga hilang, hanya bekas luka saja yang terlihat.

"Untunglah ada yang membantumu saat itu, Kurokocchi. Jika tidak, aku tidak membayangkan apa lagi yang akan dilakukan preman itu-ssu" ujar KIse.

"Lagipula kenapa kau nekat menghadapi preman itu, Tetsu. Kau tau sendiri jika kau pasti akan kalah" kali ini kata si kulit eksotis

"Aku hanya merasa kasihan pada anak itu. Lapangan itu kan untuk umum, jadi preman itu tidak ada hak untuk mengusir anak-anak yang bermain basket itu" Keduanya menghela nafas. Si bayangan ini memang keras kepala.

.

Akashi menatap pemuda biru didepannya. Usai latihan, tiba-tiba si biru menemuinya. Yah selama pemulihan bahunya, Tetsuya memang tidak berlatih, jadi ini pertama kalinya mereka bertatap muka setelah terakhir ia membawanya ke rumah sakit. Pemuda biru itu meminta maafdengan alasan karena sudah menyembunyikan cederanya, juga karena merepotkannya dan berterimakasih setelahnya.

"Well, aku akan memaafkanmu. Tapi.."

"Tapi?"

"Asal kau bersedia menjadi kekasihku."

"….." hening. "EHH?! Ke-kenapa tiba-tiba Akashi-kun.."

"Kau keberatan? Atau punya alasan logis lain?"

"Meskipun status kita pacaran, apa bedanya kalau tidak saling suka" lirih Tetsuya.

"Kau kira aku memintamu menjadi kekasihku hanya iseng? Itu justru membuang waktuku, Tetsuya. Dengarkan baik-baik, Aku menyukai ah tidak, aku mencintaimu. Jadi aku memintamu lagi, kau mau kan jadi kekasihku?" Ditatap seintens itu, digenggam tangannya, membuat wajah Tetsuya sukses merona.

"Tetsuya, kau membuatku menunggu"

"Ah itu… a-aku mau, Akashi-kun" Tetsuya berharap ia bisa menghilang sekarang juga, malu sekali rasanya. Ternyata orang yang disukainya memiliki perasaan yang sama dengannya. Akashi memeluknya erat.

"Baiklah, pertama-pertama, mulailah memanggil nama depanku sekarang"

"Tapi Aka-"

"Seijuurou, Tetsuya"

"Seijuurou-kun?"

"Bagus"

"Jadi apa kau punya rencana dimana kencan kita yang pertama?"

.

..

Seijuurou mengamati Tetsuya yang tengah menemani seorang gadis kecil memakan es cream sembari bercanda. Gadis kecil itu sepertinya terpisah dari orangtuanya ketika asyik bermain, jadi mereka yang kebetulan tengah berkencan memutuskan menemaninya sampai orangtua si gadis kecil menemukannya.

"Hikaru-chan!" Sepasang orang dewasa tampak berlari terburu-buru kearah mereka.

"Tou-chan! Kaa-chan!" Gadis kecil itu berlari mendekati kedua orang yang diyakini orangtuanya.

"Kau kemana saja? Kami mencarimu kemana-mana"

"Maaf Kaa-chan, Hikalu telsesat, tapi ada Onisan yang menemani Hikalu" kedua orang dewasa menoleh kearah Seijuurou dan Tetsuya,

"Terimakasih kalian sudah menemani putri kami, kami tidak tahu harus membalas dengan apa" Ayah dari gadis kecil itu angkat bicara.

"Tidakperlu sungkan, paman bibi. Kami hanya kebetulan juga berada disini" ujar Tetsuya.

"Kalau begitu kami permisi. Maaf telah merepotkan kalian. Hikaru-chan, bilang terimakasih pada mereka"

"Nii-chan telimakasih" Tetsuya yang menyamakan tingginya dengan Hikaru mendapat kecupan di pipinya.

"Jangan sampai tersesat lagi ya, gadis kecil" Seijuurou mengusap surai Hikaru. Dan setelahnya mereka pergi meninggalkan Seijuurou dan Tetsuya.

"Seijuurou-kun, Hikaru menggemaskan sekali ya, aku jadi sedih berpisah dengannya" Seijuurou tiba-tiba menyeringai jahil.

"Tenang saja, Tetsuya, kita bisa kok membuatnya sendiri setelah menikah nanti. Kau mau anak laki-laki atau perempuan?" Tetsuya terbelalak tak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Seijuurou-kun hentai!" Seijuurou masih terkiki geli. Tetsuya melangkah meninggalkan Seijuurou dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal.

"Ah rupanya Tetsuya-ku ini sudah tidak sabar rupanya. Baiklah disekitar sini ada kok hotel-"

"SEIJUUROU-KUN BAKA!" Jerit Tetsuya membuat Seijuurou tertawa terbahak-bahak dibelakangnya. Tapi Seijurou tidak tahu jika pipi si biru merona manis.

.

..

END

.

Mau dilanjut atau berhenti disini?

Untuk sequel 'Pedofille?', masih otw ya, masih ngumpulin mood.

Thanks for Nakamoto Yuu Na, Akiko Daisy, & Zizie-akakuro.

.

Mind to Review?