"Hoaamh!"
Cahaya matahari pagi menerobos jendela apartemen Hinata melalui kaca yang sedikit terbuka. Hinata bangkit berdiri dari tempat tidur yang ia tempati. Merapikannya, mengambil handuk, kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Enam belas menit-lebih delapan detik-telah berlalu.
Hinata keluar dari kamar mandi, kemudian memakai seragam kerja miliknya. Memakai make up seperti biasa, menyisir rambut, dan mengikatnya. Dan tak lupa memakai sneakers favoritnya.
Hinata melirik jam tangan hitam miliknya. 06.28 AM. Kemudian berjalan santai menuju pintu.
Namun ia memutar kembali badannya, lalu berjalan mendekati kursi rias yang tadi didudukinya.
"Hampir saja aku melupakanmu," Hinata tersenyum simpul sambil menarik jaket biru laut miliknya, masih sama seperti yang kemarin dipakainya. Kemudian ia berjalan lagi menuju pintu, masih dengan gaya berjalan yang sama. Perlahan-lahan ia membuka pintu itu, melihat keluar, dan-
"Hei Naruto-hime, tunggu aku! Kau ini, ya.."
Naruto-hime?!
.
.
.
Fanfic by Hana Lavender
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Alternate Universe
.
.
Love Story
.
.
Hinata tidak konsentrasi bekerja hari ini. Ia masih memikirkan kata-kata yang tak sengaja didengarnya tadi pagi, di depan apartemennya.
"Naruto-hime? Apa benar perempuan tadi menyebut kata Naruto-hime? Atau telingaku yang error?" gumam Hinata.
Sebenarnya Hinata tidak sempat melihat perempuan itu karena ia berlari sangat kencang. Hinata hanya mendengar suaranya yang memanggil Naruto-kalau tidak salah.
"Hinata-sama,"
"Eh. I-iya?" Seketika lamunan Hinata buyar begitu mendengar namanya dipanggil.
"Hinata-sama, ada yang mencari anda di luar. Katanya, kau sudah ada janji dengannya hari ini," jelas salah seorang asisten Hinata itu. Hinata segera melirik jam tangannya.
"Oh, astaga! Aku hampir saja lupa. Terima kasih," Hinata tersenyum tipis kepada asistennya itu, kemudian bergegas keluar dari dapur. Sama seperti tadi pagi, dia memutar balik tubuhnya, melepas celemek, kemudian kembali ke arah sebelumnya. Dasar Hinata.
Hinata melangkah penuh semangat menghampiri Naruto yang sedang duduk manis-tak jauh dari tempat Hinata berdiri sekarang-sambil menyeruput milktea yang telah dipesannya. Senyum manis tersungging di bibirnya. Namun tiba-tiba langkah Hinata melambat. Senyumnya pun memudar. Pandangannya tertuju pada wanita yang sedang duduk disamping Naruto. Siapa dia?
"Eh, hai Hinata! Apa kabar? Lama tak bertemu," Naruto berdiri, kemudian mengulurkan tangan kanannya begitu menyadari Hinata sudah berjalan menghampirinya.
"B-baik.. Bagaimana denganmu?" Hinata menjabat tangan Naruto dan memaksakan seulas senyum dibibirnya.
"Baik.. O iya, perkenalkan ini Mei Terumi," Naruto menatap Hinata dan Mei secara bergantian.
"Mei Terumi, panggil saja Mei," Mei, wanita itu mengulurkan tangan kanannya dan tersenyum manis.
"Pantas saja Naruto menyukainya. Ia sangat cantik," batin Hinata.
"Hi-Hinata Hyuuga" Hinata menjabat tangan wanita itu kemudian tersenyum.
Mereka bertiga pun duduk di bangkunya masing-masing.
"Kalian mau pesan apa? Nanti akan kubayar," Naruto tersenyum sambil menatap Hinata dan Mei.
"Silahkan kalian pesan duluan saja," Hinata menyodorkan buku menu yang ada di hadapannya kepada Naruto.
"Hn. Baiklah kalau begitu," Naruto menerima buku menu tersebut kemudian meletakkannya di meja, di antara dirinya dan Mei.
"Kau mau pesan apa?" tanya Naruto pada Mei, diikuti senyum manis tanpa gula.
"Mm.. Kau mau pesan apa?"
"Lah, kok malah balik bertanya?"
"Habisnya aku bingung,"
"Hm, kau mau coba ramen? Itu adalah makanan terlezat di dunia,"
"Haha, terserah kau saja Naruto-hime,"
DEG!
Naruto-hime?!
Untuk kedua kalinya Hinata mendengar kata-kata itu. Apa yang ia dengar tadi pagi itu adalah suara Mei?
.
.
.
"Baiklah, sampai jumpa lagi Hinata," aku melambaikan tanganku ke arah Hinata.
"Eh, o iya, Naruto-kun. Aku hampir saja lupa. Tiga hari lagi, Sasuke-kun dan Sakura-chan akan bertunangan. Datang ya, acaranya di rumah Sasuke-kun, nanti aku beri tahu alamatnya,"
"Sasuke dan Sakura tunangan? Bwahaha. Tak kusangka, Sasuke tertarik pada Sakura yang galak itu,"
"-ups," aku menghentikan tawa geli-ku.
"Um, maaf,"
"Tak apa. Ya sudah, sampai jumpa lain waktu," Hinata melambaikan tangan kanannya ke arahku, kemudian kembali menuju dapur, tempatnya bekerja.
Aku menoleh ke arah Mei yang sedang berdiri menyandar di tembok sambil memainkan ponselnya. Entah mengapa perasaan ini muncul lagi. Perasaanku pada Hinata. Jujur, aku ingin dekat dengannya seperti dulu, 12 tahun yang lalu. Bermain di taman bersamanya dan.. Ah! Mikir apa sih aku ini. Aku sudah memiliki Mei yang jelas-jelas menyayangiku dengan tulus. Sementara Hinata? Aku tak tahu siapa pria yang kini bertahta di hatinya.
"Naruto-hime?"
Suara itu mengagetkan Naruto.
"I-iya? Ada apa Mei-chan?"
"Ayo kita pulang. Mau sampai kapan kau berdiri seperti patung disitu?"
"Hn. Ya sudah, ayo,"
Hinata hanya masa lalumu Naruto. Lupakan dia. Ya, lupakan dia.
.
.
.
Aku menyipitkan mataku. Matahari bersinar sangat terik siang ini. Aku mengusap keningku yang basah penuh keringat. Aku mencoba untuk berlari sekuat tenaga. Hingga akhirnya aku sampai disini, tempat dimana aku dan Naruto-kun sering bermain bersama-dulu. Banyak kenangan yang tak dapat kulupakan disini. Aku menjatuhkan tubuhku ditengah-tengah rumput liar yang tumbuh disini. Langit sangat cerah hari ini. Jauh berbeda dari suasana hatiku sekarang. Sedih. Sakit. Kacau.
Apa sangat mudah bagi Naruto-kun untuk jatuh cinta pada wanita? Atau aku saja yang sulit jatuh cinta?
Dulu Naruto-kun pernah berjanji padaku kan, kalau kita tidak akan hilang komunikasi? Kalau kita akan terus berhubungan? Kalau kita tidak akan pernah berpisah? Ya, walaupun hanya sebagai sahabat. Tapi apa buktinya? Kau menghilang tanpa kabar dua hari setelah kau pindah ke Amerika. Aku sudah ratusan kali, bahkan ribuan kali mencoba menghubungimu selama 12 tahun terakhir. Tapi tak ada hasilnya. Sampai kemarin kau menghubungiku dan mengatakan bahwa nomor ponselmu sudah ganti. 12 tahun, kau baru menghubungiku kemarin?
Dan kau mengajakku lunch bersama. Kukira, kau mengajakku lunch berdua. Aku dan kau. Tanpa Mei Terumi, pacarmu. Tapi ternyata? Kita lunch bertiga. Apa kau tak bisa meninggalkan pacarmu itu hanya untuk beberapa jam saja? Hanya beberapa jam saja.
Ya, mungkin aku yang salah. Aku salah, sudah terlalu berharap banyak padamu yang jelas-jelas tak pernah mencintaiku. Berharap kau mencintaiku sepenuh hati, sama seperti aku mencintaimu. Berharap aku adalah satu-satunya wanita yang ada dihatimu selama ini.
Aku melemparkan sebuah kerikil ke dalam sungai yang ada di hadapanku. Tanpa kusadari, setetes air mata jatuh di pipi kananku. Aku mengusapnya perlahan dan mencoba menahannya. Namun air mata ini sangat sulit untuk ditahan, bahkan mengalir semakin deras. Rasa sakit ini sudah terlalu dalam. Sudah terlalu sakit. Aku tak kuat lagi.
"Hei. Sedang apa kau disitu?"
Aku mengusap air mataku, lalu menoleh ke arah suara itu berasal.
"Toneri?" aku berusaha menyembunyikan air mataku.
"Hn. Sedang apa kau disitu?"
"Ti-tidak. Hanya duduk-duduk saja,"
"Jangan bohong Hinata, kau tak punya bakat untuk berbohong. Sekarang, cepat ceritakan padaku, mengapa kau menangis seperti itu?"
Toneri berjalan menghampiriku yang sedang duduk di pinggir sungai.
"Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Toneri,"
"Aku tak percaya bahwa kau baik-baik saja,"
"Kau ini keras kepala ya,"
"Tak ada salahnya menceritakan kesedihan yang sedang kaurasakan sekarang. Itu akan membuat bebanmu sedikit berkurang, Hinata,"
Perlahan Toneri duduk disampingku, kemudian merangkulku. Aku menundukkan kepalaku, menatap air yang mengalir dengan tenang. Mungkin benar kata Toneri, tak ada salahnya aku menceritakan hal ini padanya.
"Toneri,"
"Hn?"
Apa yang salah denganku? Tak biasanya aku merasa seperti ini berada didekat Toneri. Dan anehnya, aku tidak menarik diriku dari rangkulan Toneri.
"Boleh aku meminta tolong sesuatu padamu?"
"Tentu saja,"
Dan yang lebih aneh lagi, aku menyandarkan kepalaku di pundak Toneri.
.
.
.
Tokyo,
tiga hari kemudian.
"Sudah selesai!"
"Terima kasih Tsunade-san,"
"Sama-sama sayang,"
Aku menatap bayangan diriku di cermin. Sungguh berbeda dari penampilanku biasanya. Sebenarnya, aku tak mau sampai dirias di salon seperti ini. Tapi Sakura-chan yang memaksaku, sampai mengantarku ke sini. Ya sudah. Lagipula, Tsunade-san sangat baik dan ramah. Pantas saja banyak pelanggan yang senang ke salon miliknya.
"Berapa totalnya?"
"Tadi sudah dibayar oleh Sakura,"
Dasar Sakura. Aku sudah merepotkanmu.
"Baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih Tsunade-san,"
"Iya, hati-hati di jalan ya. Selamat bersenang-senang!"
Aku melambaikan tangan kananku ke arah Tsunade-san, kemudian berjalan keluar dari salon miliknya.
"Eh, kau sudah ada disini? Maaf ya membuatmu lama menunggu," aku menundukkan kepalaku.
"Tidak kok. Cepat naik, nanti kita terlambat,"
.
to be continued-
.
Yeay! Chapter ini selesai. Maaf belum bisa buat chapter yang lebih panjang.
Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca ff ini, menyumbangkan favorite dan follow, bahkan me-review ff ini. ^^
See you in the next chapter!
.
10/07/16
