New Story by Haruchan

Tittle : Fallin' with you

Summary : Mereka berbeda, dan sebuah batas menjadi pembedanya. Tapi di saat perasaan benci itu datang, cinta datang menghiasi hati mereka. Sorry for bad summary. THIS IS CHANBAEK/BAEKYEOL. GS (GENDERSWITCH).

RATENYA TERSERAH YANG PENTING ASIK

INI GS LOH YA!

SORRY FOR EVERYTHING

HAPPY READING!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pagi datang. Mendung menyelimuti bumi, tidak terkecuali dua bagian itu. Bagian utara yang terhiaskan berpuluh puluh rumah kumuh dan reyot, dan tentu saja bagian selatan yang di penuhi rumah rumah mewah kelas atas. Sangat kontras jika dilihat dari udara. Dan pembatasnya adalah tembok itu.

Wall of Shame.

Tembok setinggi tiga meter dengan panjang sepuluh kilo meter itu menjadi pembatas antara keduanya. Kontras yang sudah sangat terlihat sejak dulu di batasi oleh tembok tinggi dengan kawat panjang di atasnya. Menggambarkan jika diskriminasi sangatlah tinggi di daerah ini. Semua terasa terbatas bagi satu pihak, sedangkan yang lainnya merasa bahwa selama ini tidak ada apa-apa.

Vista Hermosa, bagian yang terbatas. Casuarinas, Bagian yang berlimpah kebahagiaan dunia.

Baekhyun tengah sibuk akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, adiknya mulai masuk sekolah dan segala keperluan sekolahnya Baekhyun yang mengurusinya. Mulai dari sepatu sampai penghapus semua Baekhyun yang siapkan. Sang adik, Baekho iya iya saja kakaknya memilihkan barang-barang sekolahnya meskipun itu bekas. Baekho tidak seperti anak-anak lainnya yang manja minta di belikan barang baru, dia dari kecil sudah di beritahu bagaimana kondisi keluarga dan daerahnya sehingga dia bisa "easy going" dalam berbagai hal. Mau tasnya bekas, sepatunya bekas, dia tidak masalah. Meskipun juga kadang dia menyebalkan, Baekhyun sangat bersyukur punya adik penurut seperti Baekho.

Gadis manis itu menyeka peluh di pelipisnya. Rambutnya yang terjuntai ke bawah semakin menambah kesan manis di wajahnya. Tangannya tengah sibuk menggosok sepatu bekasnya dengan sabun detergen dan juga air di dalam ember. Sesekali dia membalas sapaan orang-orang yang lewat di depannya dengan nada manis, padahal dia sedang dalam mood yang tidak baik.

"Memangnya aku menginjak apa sih? Kenapa susah sekali di bersihkan?" rengek Baekhyun, si gadis manis itu tatkala melihat bagian sepatu yang dia bersihkan. Dia menyelipkan rambut di telinganya dan mulai menggosok dengan cepat "Ish! Kotoran kenapa kau tidak hilang-hilang sih?"

Baekhyun sibuk dengan kotoran di sepatunya hingga tak sadar seseorang telah berdiri di sampingnya, melihat kekesalan Baekhyun yang menurutnya terlihat manis "Baekhyun selamat pagi!"

"Ah!" Baekhyun terjekut bukan main, sepatu yang dia pegang juga sempat terlempar ke depan "Luhan!"

"Ahaha, kau tidak merasakan keberadaanku disini makanya aku mengagetkanmu" Balas gadis bernama Luhan itu sambil ikut berjongkok seperti Baekhyun "Kau sedang apa?"

"Kau tidak lihat? Apa kau pikir aku sedang memasak begitu?"

"Kau sensitif sekali sih Baek" Luhan tersenyum menanggapi nada bicara Baekhyun yang terdengar kesal "Kau sudah tahu aku sedang mencuci sepatu. Aku sedang tidak dalam mood yang baik jadi maaf jika aku membuatmu sakit hati"

"Tidak papa Baek, kau juga kelihatan lelah"

"Tentu saja" jawab Baekhyun "Baekho sudah kelas satu dan aku harus mengurusi kebutuhannya sekolahnya" Baekhyun mengucapkannya sambil terus menggosok sepatu. Luhan mengangguk pelan dengan mulut terbuka.

"Oh iya aku sampai lupa! Baek ayo ikut aku"

"Kemana?"

"Ke tembok"

Baekhyun langsung menoleh mendengar jawaban Luhan "Hah?"

"Iya Baek, ke tembok. Aku ingin sekali ke casuarinas!"

"Kau gila apa?"

"Byun Baekhyun tolonglah~"

"Hei aku tidak mau berurusan dengan tembok menyebalkan itu! Dan lagi, apa yang kau bilang barusan? Ke casuarinas? Kumohon jangan seperti ini Luhan"

Baekhyun tak habis pikir dengan Luhan. Kemasukan apa sehingga Luhan meminta untuk pergi ke tembok? Dan lagi, Luhan bilang dia ingin ke casuarinas. Ini gila atau mimpi? Casuarinas yang telah membuat Baekhyun dan yang lainnya sengsara dan Luhan seakan-akan seperti tidak ada beban terhadap casuarinas.

"Baekhyun kumohon~"

"Tidak Lu. Aku benar-benar tidak mau. Kau tahu kan casuarinas yang membuat kita seperti ini? Iya kan? Dan apa jadinya jika kita benar-benar kesana dengan keadaan yang seperti ini? Bisa-bisa kita di bunuh kau tahu"

"Tapi Baekhyun-"

"Jangan Lu! Aku tidak mau!" Bentak Baekhyun, seketika semua yang lewat di depan mereka berhenti, menatap mereka asing dan tak lama kemudian kembali berjalan seperti biasa.

Baekhyun yang sudah menahan marah menghembuskan nafas pelan, menormalkan pikirannya yang sudah tidak keruan "Maaf Lu"

"Tidak papa Baek, aku yang salah" Terdengar sekali jika Luhan kecewa dengan jawaban Baekhyun. saat ini dia tengah menunduk sambil bermain-main tanah dengan jarinya sedangkan Baekhyun kembali melanjutkan mencuci sepatunya dengan malas.

Sekarang dirinya jadi tidak fokus. Tentu saja, Luhan sudah membuat pikirannya tidak keruan. Untuk apa dia ke casuarinas?

"Untuk apa kau ke casuarinas?" Baekhyun buka suara lebih dulu. Luhan langsung menoleh dan menjawab "Aku ingin bertemu kakakku"

Baekhyun sedikit membulatkan mata. Dia lupa jika kakak Luhan tinggal di casuarinas. Ya, kakak laki-laki Luhan terpisah dari dia dan keluarganya saat Luhan masih berumur tujuh tahun. Kakak Luhan kabur dari rumah dan pergi ke casuarinas dengan cara melompat dari tembok berkawat itu, hingga Luhan tahu bahwa kakaknya dari awal sudah merencanakan hal ini dan itu membuatnya menangis selama seminggu. Setelah kakaknya pergi dan dia beranjak dewasa, Luhan sudah pasrah bagaimana keadaan kakaknya saat ini dan beberapa waktu lalu terdengar kabar bahwa akan ada peremajaan daerah yang di pimpin oleh beberapa direktur perusahaan dan salah satunya adalah kakak Luhan.

"Karena peremajaan itu ya?"

Luhan mengangguk pelan "Hm.. aku khawatir dengan kakakku. Selama ini aku merindukannya dan sekarang namanya terdengar di seluruh penjuru daerah. Aku ingin membuktika bahwa dia ada, dia masih hidup" ucap Luhan dengan suara bergetar. Nampaknya dia tengah menahan tangis dan Baekhyun sangat tidak suka seperti itu.

Mereka diam. Yang satunya meneteskan air mata dan yang satunya lagi termenung sambil menggosok sepatu. Saling diam karena bingung harus berbuat apa. Luhan yang merindukan kakaknya dan Baekhyun yang bengong tanpa sebab yang jelas.

"Baiklah aku antar"

Hati Luhan serasa terbebas dari kurungan. Dia sontak menoleh dengan pandangan tak percaya "hah?"

"Aku antar, mau tidak?"

"Mau mau! Terima kasih Baek!" Seruannya terdengar manis di lanjutkan dengan pelukan seorang Luhan untuk Baekhyun. Gadis manis yang memegang sepatu itu hanya bisa tersenyum getir, dia sangat tidak suka pergi ke tembok itu, apalagi ke casuarinas. Tapi demi Luhan dia rela melawan rasa bencinya.

"Iya Lu.. tapi.."

Luhan meregangkan pelukannya sambil menatap Baekhyun heran "Kapan kita kesana?"

"Malam ini. Bisa kan?"

Baekhyun tersenyum manis "Tentu saja Lu, kita ke sana malam ini"

Luhan senang bukan main, setelah itu dia kembali memeluk Baekhyun. kali ini lebit erat "Kau sangat baik Baek. Terima kasih"

"Hm"

.

.

.

.

.

.

"Chanyeol!"

"Apa?"

"Cepatlah!"

"Iya iya sebentar!" Chanyeol segera memakai cardigannya dan pergi menghampiri sumber suara. Nampak si pemilik suara, Jongin dan Kyungsoo, istrinya, tengah berdiri di depan rumahnya dengan mobil audy di belakang mereka. Saat Chanyeol keluar nampak senyum cerah terukir di bibir mereka terutama Jongin.

"Akhirnya datang juga"

"Sudah aku bilang aku tidak suka tembok itu, jadi maklum saja aku begini"

Jongin tertawa bukan main "baiklah tapi satu hal yang kau harus tahu ini bukan untukku tapi istriku. Jadi aku akan memaafkanmu kali ini"

"Hah. Memangnya aku salah apa. Dasar kebanyakan gaya"

"Dasar otak udang"

"Kyungsoo, kenapa kau mau menikahi dia sih? Sudah tahu seperti ini juga"

Kyungsoo hanya menanggapi ucapan Chanyeol dengan kikikan pelan, pelan sekali. Suara saja tidak terdengar. Mungkin Kyungsoo memandang Jongin lain daripada Chanyeol. Tentu saja, dia kan perempuan.

"Hah, percuma berdebat dengamu. Ayo berangkat" Ketus Jongin lalu membawa istrinya masuk ke dalam mobil diikuti Chanyeol yang duduk di kursi belakang. Dengan wajah datarnya dia duduk dengan Jongin sebagai supirnya.

Perjalanan memakan waktu kurang dari se-jam karena jarak tembok dari tempat tinggal mereka. Tak jauh dari tembok itu Jongin memarkirkan mobilnya dan turun untuk menuntun Kyungsoo. Chanyeol juga ikut turun bersama Kyungsoo dan mereka mulai berjalan menuju tembok.

"Kenapa kau diam saja?"

"Sudah aku bilang aku tidak suka ke sini"

Jongin hanya meng'oh'kan ucapan Chanyeol sambil fokus terhadap Kyungsoo, tak sadar mereka sudah sampai di depan tembok itu.

Dinginnya malam tidak menyurutkan semangat Jongin untuk menuruti permintaan Kyungsoo. Sebenarnya sih dia juga tidak suka dengan tembok ini, tapi tidak separah Chanyeol. Kyungsoo malah sebaliknya, dia suka wall of shame. Bukan karena dia tidak akan kerampokan, ini lebih kepada rasa percayanya bahwa banyak sekali hal-hal indah di balik tembok itu, walaupun sangat sederhana.

"Nah kita sampai sayang. Bagaimana? Kau suka kan?"

"Iya. Terima kasih Jongin"

"Hm. Cepatlah, sentuh temboknya"

Kyungsoo dengan perlahan mulai menyentuh tembok di depannya. Seketika senyuman terukir indah di bibirnya, membuat Jongin juga merasakan kebahagiaan yang Kyungsoo alami.

Chanyeol hanya diam memandang kedua insan itu menikmati kebahagiannya. Sejenak Chanyeol menyunggingkan senyuman kecil sebagai tanda haru bagi teman-temannya itu. Sungguh aneh memang, tapi bayi mereka yang meminta dan itu tidak bisa di tolak.

Chanyeol berjalan menjauh. Dia tidak ingin mengganggu sesi acara Jongin dan Kyungsoo. Sementara itu berjalan dia pergi ke sisi lain tembok untuk sekedar melihat-lihat bagaimana keadaan tembok yang selama ini dia benci itu.

Tembok setinggi tiga meter itu sedikit menarik perhatian Chanyeol saat ini. Entah apa itu hingga dia tanpa sadar menaiki sebuah batu di sampingnya. Batu setinggi kurang lebih lima puluh senti meter itu membuat tingginya semakin bertambah dan tanpa sengaja vista hermosa terlihat oleh mata lebarnya yang menawan.

Pemandangan asing nampak jelas di sana. Semua terlihat remang, bagaikan tak berpenghuni. Chanyeol merasa mual jika terus melihat remang terus menerus tapi anehnya dia merasa tidak ingin turun dari batu itu. Dia layaknya tertahan di atas batu itu, sepertinya batu yang dia pijak menahannya untuk pergi karena suatu alasan hingga akhirnya sebuah tangan meraih ujung atas tembok.

Deg!

Chanyeol terkejut bukan main. Tangan siapa itu? Kenapa ada tangan di sini? Chanyeol berpikir bahwa itu tangan hantu yang mendiami vista hermosa. Jantungnya mulai tak keruan, dengan keadaan jantungnya saat ini perlahan dia mulai turun.

Angin seketika berhembus. Nampak kepala yang menyembul dari sisi sana. Chanyeol sontak berhenti. Sejenak dia memandang lalu mulai menyadari, ada gadis yang sedang memanjat tembok.

Gadis itu menatapnya sendu, lelah. Dari kawat berduri yang panjang itu dia bisa melihat wajah gadis itu, di bantu sinar rembulan membuat wajahnya semakin nampak bersinar. Rambutnya yang panjang berkibar di terpa angin. Dia cantik, pikir Chanyeol saat itu juga.

Menyadari ada yang aneh dari dirinya membuatnya terkejut hingga tubuhnya terjatuh. Gadis itu melihat Chanyeol tanpa arti dan kembali memanjati tembok itu.

"Apa di sana aman Baek?"

"Kau tidak perlu khawatir"

"Benar tidak apa kan?"

"Ish" Baekhyun langsung saja menaiki tembok dengan sekali lompatan dan usaha, perlahan melewati kawat berduri itu dan loncat begitu saja. Baekhyun selamat walaupun dia sempat terguling dua kali karena salah mendarat.

"Tidak papa Lu, di sini aman"

"Oke"

Luhan pun juga mengikuti gaya Baekhyun turun. Mereka sudah berada di casuarinas dan hal pertama yang dia lakukan yaitu menatap Chanyeol yang terjatuh karena terkejut.

"Baek, apa sebaiknya kita kembali saja?"

"Kenapa?"

"Dia tahu kalau kita dari sini. Dia melihat kita barusan"

"Kita sudah di sini Lu, semua akan sia-sia jika kau takut seperti itu" Baekhyun mengucapkan itu semua sembari terus menatap Chanyeol. Yang di tatap tidak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya Chanyeol menyadari bahwa gadis-gadis itu berasal dari vista hermosa.

"Hei kalian-"

Baekhyun dan Luhan tidak mendengar lanjutannya karena mereka berlari pergi dari sana. Chanyeol mendadak terkejut, di tambah kecepatan mereka yang cukup cepat – terutama Baekhyun – membuatnya tak sempat mengejar mereka.

Chanyeol tak bisa berkata apa-apa. Semua terasa cepat, Jongin tentu saja tidak melihat semuanya. Dia terlalu sibuk dengan istrinya, dan saat ini hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Hei kenapa kau duduk di sana?" Jongin mengucapkannya dengan nada tidak bersalah. Benar apa yang di pikirkan Chanyeol, Jongin tidak tahu.

"Hah? Oh tidak ada, hanya saja bokongku rasanya mau duduk di bawah soalnya dingin" Chanyeol tertawa canggung setelah itu. Jongin berdecak heran sambil bergeleng, tidak percaya dengan Chanyeol yang mau duduk di tanah.

"Sudahlah" lanjut Chanyeol "Ayo pulang. Sudah selesai kan?"

Jongin menanyakan hal yang sama kepada Kyungsoo dan istrinya itu mengangguk "Ya sudah ayo pulang"

Jongin kembali membopoh Kyungsoo dan Chanyeol mengikuti mereka dari belakang. Chanyeol berjalan dengan mata yang tertuju ke langkah kakinya, sesekali dia melamun di sela berjalannya. Sebersit bayangan seorang Baekhyun terbayang di pikirannya, membuatnya menggeleng kepala cepat. Nampak sekali Chanyeol memikirkan gadis manis itu. Wajahnya yang cerah di tambah cahaya bulan membuat jantungnya bertedak tidak beraturan. Chanyeol menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya sendiri. Entah bagaimana caranya Baekhyun bisa masuk ke dalam pikirannya, yang jelas saat ini Chanyeol tidak mau ambil pusing. Dunia nyata sedang menunggunya saat ini.

.

.

.

.

.

.

"Sekarang kita harus kemana?"

"Aku tidak tahu Lu. Aku pikir kau tahu jalan di sini"

"Kau bodoh ya? Aku baru pertama kali kesini"

Baekhyun berhenti tiba-tiba lalu menatap Luhan tidak percaya "Jadi kau tidak tahu?"

Luhan mengangguk pelan. Baekhyun berdecak pinggang lalu menghela nafas kasar "Luhan sudah aku bilang-"

Baekhyun tidak melanjutkan perkataannya saat melihat Luhan yang saat ini tengah mencibikkan bibinya menahan tangis. Baekhyun membuang muka, berpikir bagaimana caranya dia dan Luhan bisa bersembunyi dan mencari kakak Luhan tanpa ada orang yang tahu siapa dan darimana mereka.

"Ya sudah" Baekhyun kembali menatap Luhan "Kita lanjutkan perjalanan ini"

Mendengar pernyataan Baekhyun membuat mata Luhan berbinar. Baekhyun langsung membuang muka "Ayo lanjutkan"

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Malam dingin di casuarinas adalah hal baru bagi mereka. Meskipun di dalam satu negara tapi mereka bisa merasakan perbadaan yang berarti. Di vista hermosa mereka jarang mendapati lampu-lampu temarang yang menyala di kegelapan malam, sedangkan di casuarinas cahaya dari bangunan di seluruh penjuru daerah. Mereka bisa merasakan keramaian walaupun hanya tersilaukan oleh lampu dari dalam bangunan.

"Baekhyun" Teriak Luhan setengah berbisik "Aku menemukan sesuatu"

Baekhyun mengikuti arah mata Luhan. Nampak sebuah gang buntu nan sempit. Gang itu terbentuk karena dua gedung yang berdempetan. Dengan cepat mereka berlari dan memeriksa gang buntu yang pendek itu.

"Aman" Saut Baekhyun "Benarkah?"

"Hm, tapi untuk beberapa malam saja. Kita haru cepat-cepat pindah sebelum orang-orang tahu keberadaan kita"

Baekhyun membuang nafas lega setelahnya. Dia bersyukur masih ada tempat di pinggiran casuarinas –yang menurutnya—kurang terjamah oleh manusia-manusia serakah yang ada di sini. Tidak mudah bagi mereka untuk bisa sampai di sini. Mereka harus melewati jalanan yang sepi nan membingungkan di pinggi kota hingga akhirnya mereka sampai di tempat mereka bernaung.

Baekhyun mulai meletakkan tasnya di ikuti Luhan. Mereka mulai menata semuanya secara teratur di sana. Sejenak di antara kesibukannya saat ini Baekhyun menengok ke atas, menatap bintang di langit malam casuarinas. Baginya semuanya berbeda, meskipun di negara yang sama, meskipun di langit yang sama, meskipun di bumi yang satu sekalipun dia menganggap semuanya berbeda.

Karena takdirnya yang apa adanya.

.

.

.

.

.

Luhan mengerejap. Merasakan ada yang menepuk-nepuk kakinya dia segera bangkit dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul "Hm ada apa?"

Gerakan menggaruk kepalanya terhenti saat melihat seorang perempuan tua tengah memandangnya khawatir. Luhan langsung membuka matanya lebar dan tersentak kaget.

"Sedang apa kau di sini nak?"

"A-hah? Itu- aku- eh em aku-" Luhan mendadak tergagap. Nyonya tua itu semakin mendekat dengan ekspresi yang sama "Kenapa kau di sini nak? Kenapa kau tidur di sini?"

"Itu bi, aku hanya-"

"Jangan takut nak. Aku tidak ingin melukaimu, sungguh"

Luhan semakin mundur walaupun nyonya tua itu sudah mengingatkan. Luhan segera menggoyang-goyangkan tubuh Baekhyun "Baek! Baekhyun bangun Baek!"

Baekhyun yang sedang enaknya tidur harus rela di bangungkan oleh bisikan Luhan. Langsung saja Baekhyun bangun dengan rambut panjangnya yang acak-acakan "Ada apa sih Lu?"

"Baek, itu.."

Baekhyun mengikuti arah Luhan menunjuk dan matanya juga ikut melebar sama seperti Luhan.

"Sedang apa kalian di sini?"

.

.

.

.

.

"Kalian boleh tinggal selama yang kalian mau"

"Terima kasih nek. Maaf merepotkan"

"Tidak apa nak. Aku sudah tua, butuh teman. Dan mengurus toko sendirian membuatku menjadi lansia yang kesepian" Kekehan terdengar dari mulut keriput wanita itu. Baekhyun dan Luhan ikut tertawa walaupun canggung.

Kejadiaan itu berlangsung cepat. Baekhyun dan Luhan di ajak oleh nenek yang membangunkan mereka dan yang lebih mengejutkan lagi sang nenek mengizinkan mereka untuk tingga di rumahnya.

"Oh iya nak" Saut nenek itu saat Baekhyun mulai melangkahkan kakinya "Kalian bisa panggil aku nenek Jung"

"Baik nek" Baekhyun tersenyum lalu berjalan di ikuti Luhan di belakangnya. Mereka masuk dan menata barang-barang mereka.

Sebelum di bawa ke rumah nenek Jung mereka sempat menolak di ajak karena takut terjadi apa-apa dengan mereka, lebih tepatnya mereka takut nenek Jung akan berbuat yang tidak-tidak. Tapi melihat nenek Jung yang lembut dan pengertian membuat mereka mau di ajaknya tinggal di rumahnya.

Nenek Jung mempunyai sebuah toko roti. Toko itu menyatu dengan rumahnya sehingga nenek Jung tidak perlu pulang pergi apalagi beliau sudah tua.

Nenek Jung tersenyum. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Beliau kemudian berjalan mendekati kursi goyangnya dan duduk di sana. Meskipun dirinya masih belum terlalu tua, tapi dia sangat senang saat kedua gadis manis itu memanggilnya nenek, terutama Baekhyun. Nenek Jung merasakan akan ada kejadian yang bisa merubah sesuatu yang ada di sekitarnya. Dia yakin sekali.

Beliau yakin, terpancar dari senyumannya yang terus mengembang.

.

.

.

.

.

Remang sangat terasa malam ini. Meja bar yang melingkar penuh berisi cangkir dan juga botol wisky maupun bir yang tak jarang semakin bertambah tiap waktu. Asap rokok yang terkadang meyeruak membuat dada sesak. Chanyeol dengan wajah murungnya duduk di salah satu kursi bar dengan kepala tersanggah oleh tangan kokohnya.

"Hei bruh!"

Chanyeol melirik dengan tidak minat, membuat pria yang memanggilnya mengerutkan dahi "Oh kau"

Pria itu duduk setelah melihat reaksi Chanyeol. Langsung saja dia memanggil pelayan dan meminta sebotol bir mahal kepadanya.

"Aku sudah menduga kau akan datang ke sini"

"Apa urusanmu? Aku sedang sibuk" ketus Chanyeol.

"Wow wow tunggu dulu kawan" Sehun membuat gestur menahan dengan tangannya "Ada apa heh? Kau terlihat murung sekali"

"Aku hanya tidak mood saja. Minggir sana sebelum aku hajar"

Sehun menghembuskan nafas dengan wajah jengkel yang di buat buat. Dia sudah tahu sekali sifat Chanyeol jika sedang tidak mood "Kau tidak akan menghajarku bodoh"

"Kalau sudah tahu ya sana pergi"

"Katakan saja yang sebenarnya, sudah sekali mau membuka pintu curhat untukku"

Chanyeol hanya termenung sambil menatap cangkir yang ia genggam. Suara musik khas dunia malam terdengar riang di telinga, tapi bagi Chanyeol saat ini hanya sunyi yang dia dengar.

"Aku ke wall of shame"

Sehun membelalak "heh? Ada urusan apa kau kesana?"

"Jongin yang mengajakku" balasnya "Kyungsoo ngidam ingin menyentuh wall of shame dan aku di minta untuk ikut dengan mereka"

"Awalnya aku menolak tapi setelah melihat situasi dan entah kenapa aku seperti di masuki sesuatu jadi aku mengiyakan" lanjutnya dengan nada dingin.

"Lalu kau benar-benar ikut ke sana?"

"Ya jelas saja bodoh, kau ini memberi pertanyaan yang berbobot jangan yang berulang-ulang"

"Iya iya tuan Park aku mengerti" Sehun mengambil gelas dan botol birnya yang tahu-tahu sudah ada di hadapannya. Dia menuangkannya dan meminumnya dengan sekali teguk.

"Akhh" Erang Sehun dengan penuh kenikmatan, nampaknya dia sangat menyukai bir itu "So, what's your problem heh? Bukannya itu sudah selesai?"

"Aku tahu itu sudah selesai tapi ada satu hal yang setelah acara ngidam itu selalu menyangkut di kepalaku" Chanyeol mulai mengubah nada bicaranya, dia terdengar lebih seperti frustasi ketimbang gengsi dengan nada dingin.

"Apa itu?"

Chanyeol tidak menjawab. Baginya yang Sehun tanyakan adalah pertanyaan paling berat yang dia rasakan saat ini. Chanyeol dilema atara harus mengatakan bahwa dia bertemu dengan seorang gadis dari vista hermosa atau tidak sama sekali.

"Aku bertemu seseorang"

Sehun mengangguk mengerti "Lalu?"

"Dia seorang gadis"

"Itu bagus, kau kan suka gadis"

Chanyeol menghembuskan nafas dan mulai berbicara "Dan dia meloncat dari vista hermosa"

Sehun yang kala itu tengah meneguk birnya seketika menyemburkan semua yang ada di dalam mulutnya. Pengunjung bar terkejut mendengar suara semburan dan langsung menatap Sehun, Chanyeol hanya diam melihat reaksi Sehun, secara Sehun tahu apa yang dia suka dan apa yang dia benci. Sama seperti Jongin.

"Heh? Benarkah? Kenapa tidak kau laporkan-"

"Shhtt!" Perintah Chanyeol "Kecilkan suaramu bodoh"

Sehun mengelap bekas semburan di mulutnya seperti anak kecil "Kau tidak melaporkannya heh?" ucapnya dengan nada pelan.

"Tidak. Aku tidak tahu kenapa"

Sehun mengerutkan dahinya lagi, heran dengan sikap Chanyeol "Biar aku tebak"

Chanyeol menoleh, mengedipkan mata seperti merasa tidak bersalah.

"Karena gadis itu. Benar kan?"

.

.

.

.

.

.

.

TBC or END?

.

.

.

.

.

Makasih yang udah baca ff ini maupun ff ku yang lainnya. Aku sangat berterima kasih banget sama kalian semua sungguh. Makasih buat kakakku yang tercinta yang saat ini lagi berbunga bunga cie elaahh (jangan di umbar, takut ngga tercapai xD)

Dan thanks buat seseorang. Aku bakal usahain loss dengan kosakataku. Loss sama bahasa yang selama ini jadi salah satu prioritas penting di saat aku membuat fanfiction. Makasih banget.. i love you sister :*

SO.. LANJUT NGGA? LANJUT NGGA KU CIUM SATU SATU XD

FAVORITE SAMA REVIEWNYA YAAA AKU SAYANG KALIAANN :*