-The Royal Revenge-
.
.
by : Ms. Veeloony Rosea
(Ms. Loony Lovegood—Veela Rosea)
Harry Potter © J.K Rowling
M for Safe
Romance, Crime, Tragedy
Draco Malfoy X Hermione Granger
Tom Riddle Jr. X Hermione Granger
Standar Warning Applied!
AU, OOC, Typo(s) maybe
Don't like? Don't read!
.
.
.
Draco's PoV
Aku menyeringai tipis ketika melihat 'Mionini'ku berjingkrak-jingkrak senang tatkala ia berhasil menuntaskan misi kami kali ini dengan tangannya sendiri. Dia membunuh? Well, seharusnya aku tak perlu terlalu banyak dipersalahkan. Toh, sepertinya dia juga menyukai segala 'aktifitas' yang kami lakukan selama ini.
Kulihat Hermione kembali menaruh pistol FN Five-SeveN itudi bawah kursi rodaku masih dengan senyuman lebar yang terpatri manis di wajahnya. Dan gadis ini baru saja akan mendorongku meninggalkan gedung Royal Hospital Slytherin ini ketika sesosok laki-laki jangkung bersurai hitam berantakan—hah, ia tak pernah bersisir rupanya!—dengan setelan tuxedo abu, serta pantofel mengilat datang ke arah kami dengan senyum arogan yang mendominasi.
Untuk sesaat, aku membeliak terkejut. Untuk apa kutu busuk ini datang ke sini, eh? Dasar tamu tak diundang! Aku mengumpat kesal ketika melihat kehadirannya yang nyatanya sekarang makin mempersempit jarak diantara kami. Mataku menyipit hingga segaris ketika ia mulai mengangkat suara baritonnya.
"Kau menyuruh tunanganku membunuh lagi, Malfoy?" Ia berkata santai. Pandangannya menusuk tepat ke arah bola mata kelabuku. Aku mencibir sesaat lantas membuka suaraku untuk menyapanya seolah-olah aku mengharapkan kedatangannya.
"Riddle!" Ujarku sok senang. Yah, sebenarnya aku mengenal lelaki yang satu ini. Dia adalah Tom Riddle. Orang yang paling menyebalkan menurutku.
Kulihat ia mengangkat sudut bibirnya ke atas, membuatku semakin ingin memberikan bogem mentah padanya. Dan detik selanjutnya pandangannya bergulir tepat ke arah Hermione yang masih berdiri diam di belakang kursi rodaku. Well, itu artinya aku tak dapat melihat ekspresi wajahnya dalam posisi yang seperti ini.
"Hi, Hermione ..." Ia mengeluarkan satu tangannya dari saku celananya, melepaskan kacamata hitam yang bertengger di wajahnya.
Gaya sekali sih dia! Tapi toh, ia lebih mirip tukang pijat. Cih! Aku mencibir dalam hati.
"Mau apa kau datang ke sini?" Aku bertanya dalam nada datar, sebenarnya berusaha menyindir. Ia terkekeh sebentar lantas melangkahkan kakinya untuk memutari kursi rodaku, atau ... dia memutari Hermione? Ugh!
"Kau makin cantik saja, love," desisnya. Aku memutar kursi rodaku atas inisiatifku sendiri. Dan dapat kulihat jika kini ia tengah menyentuh dagu Hermione dengan pandangan nakal.
"Hey! Jangan sentuh-sentuh!" Aku berujar secara reflek, membuat si kutu busuk itu menoleh ke arahku. Ia mengangkat sebelah alisnya tinggi.
"Kenapa? Tak suka?" Sial! Dia mau menantangku rupanya. Tapi bukannya menjauh dari 'Mionini'ku, ia justru makin mendekat dan kini malah memainkan jarinya di sekitar leher jenjang Hermione. Jenjang? Ah, itu menurutku sih.
Aku menggeram rendah. Mengepalkan tanganku hingga buku-buku jariku memutih. Berani sekali dia?! Dan yang lebih menjengkelkan lagi, kenapa Hermione justru tak bergerak sedikit pun? Hah! Semuanya makin membuat emosiku ingin meledak rasanya.
Hermione hanya menatapku dengan pandangan yang tak bisa ku definisikan. Apakah ia menikmatinya? Menikmati sentuhan si keparat cecunguk itu? Ataukah ia ingin aku menjauhkan si pria tak tahu malu itu darinya? Otakku berputar cepat, berusaha keras memikirkan sesuatu.
Riddle pikir aku akan diam dan pasrah saja setelah keadaanku seperti ini, eh? BIG NO! Cih! Seorang Malfoy selalu bisa melakukan apapun yang diinginkannya, bahkan dalam kondisi tersulit pun sekalipun!
Aku menarik sudut bibirku ke atas, menyeringai tipis. Sementara satu tanganku bergerak menuju bawah kursi rodaku. Dan pria brengsek ini belum menyadari pergerakanku rupanya, bagus! Ia masih sibuk dengan Hermione. Dan dapat kurasakan sekarang tanganku telah menyentuh benda yang kucari-cari sedari tadi. Pistol FN Five-SeveNku.
Aku mengangkat benda berat itu dengan pelan, mulai mengarahkannya ke arah targetku, si Riddle keparat!
Satu ...
Dua ...
Ti— ...
Kini tanganku sudah hampir menarik platuk sepenuhnya, dan sebentar lagi kepala Riddle akan pecah menjadi kepingan-kepingan menyedihkan tak berguna.
Hahaha. Baru kubayangkan saja, aku sudah sangat senang seperti ini.
Aku sudah akan membidik sasaranku—kepala Riddle—dengan tepat ketika kudengar suara gemerisik mulai berdesing di sekitar kami. Tampaknya mereka—polisi—mengetahui keberadaan kami di dalam Rumah Sakit ini.
Cih, baru kali ini mereka hebat menurutku. Tidak biasanya mereka bisa melacak keberadaan kami secepat ini, apalagi mengingat si targetku tadi berada di klub malam seberang gedung ini, bukan di sini.
"Hey siapa di sana?!" Aku mendengar seseorang berteriak dari kejauhan, disusul dengan bunyi sirine yang teramat nyaring.
Sial! Ternyata Riddle juga menyadarinya, hingga ia berbalik dengan cepat dan akhirnya turut menyadari apa yang akan aku perbuat padanya.
DOOORRRR!
Aku sudah terlanjur menarik platuk FNku sepenuhnya, membuat suara tembakan yang mengerikan di gedung Rumah Sakit ini menguar begitu saja. Dan hal itu cukup membuatku yakin bahwa pasien yang memiliki komplikasi jantung dalam gedung kolosal ini bisa dengan cepat menghadap Tuhan—mati! Well, meskipun pasien yang menghuni gedung Royal Hospital Slytherin ini bisa kupastikan manusia seutuhnya, tapi jujur aku lebih menyukai menggunakan kata 'mati' untuk mereka ketimbang harus menggunakan kata 'meninggal'.
Namun sayangnya bidikanku tidak tepat sasaran. Riddle dengan lincahnya bergerak menghindari peluru kalliber yang sedari tadi kupersiapkan untuknya, hingga tembakanku telak membentur salah satu pilar kokoh Rumah Sakit ini hingga menjadikannya rusak di beberapa bagian. Well, aku juga tak mengerti sebenarnya. Kami sekarang berada di atap gedung terbuka, tapi toh mungkin karena saking mewahnya, masih ada beberapa pilar yang tampak disini—membentuk atap kecil lagi di atas kami (tapi tak ada tembok, jadi tetap terbuka kok!). Tapi tetap saja, atap yang kami pijaki sekarang adalah atap utamanya. Oh, sudahlah. Berhentilah membuatku untuk mempermasalahkan tetek bengek gedung 'kurang sehat' (bukankan namanya saja sudah 'rumah sakit?' Berarti kurang sehat, 'kan? Haha) ini.
Suara sirine polisi makin mendekat ke arah kami. Dan bisa kulihat dari atap gedung ini beberapa mobil polisi telah memenuhi halaman Rumah Sakit di lantai bawah dan beberapa lagi terparkir alot di klub malam seberang Rumah Sakit ini. Tidak. Selama ini kami belum pernah tertangkap oleh pihak polisi manapun. Mataku membulat panik, sama dengan Hermione. Dan kulihat si Riddle juga tak jauh berbeda dengan ekspresi kami berdua.
Dengan cepat Hermione berlari ke arahku, segera mengambil posisi di belakang kursi rodaku. Ia mendorongku sekuat tenaga. Dan dapat kupastikan bahwa ia sama paniknya denganku. Sementara Riddle, aku tak tahu lagi kemana perginya pria brengsek itu. Untuk saat ini aku sudah tak memedulikannya. Pelarianku bersama Hermione jauh lebih penting sekarang.
"Ayo cepat, Mionini!" Seruku tak sabar ketika kulihat Hermione baru akan memencet tombol lift di hadapan kami. Yah, sekarang kami tengah berada di lantai 45 gedung kolosal ini. Atau sebut saja, lantai teratas!
"Ya, ya ... sabar sebentar, Drake!" Ia berseru tak kalah kerasnya dariku. Setelah pintu lift terbuka, dengan cepat ia mendorongku masuk ke dalamnya.
.
-OoOo-
.
Author's PoV
Mereka—Draco dan Hermione—kini tengah berada di dalam lift, hanya berdua di dalam sana. Suatu hal yang sangat kebetulan dalam keadaan seperti ini.
"Kita berhenti di lantai 31," ujar Draco datar. Hermione tampak mengernyit.
"Kenapa harus di lantai 31?" Hermione tak bisa menahan dirinya untuk tak berkomentar.
"Kau ini bodoh atau apa sih?! Kalau kita langsung turun ke lantai satu, itu artinya polisi-polisi jelek itu akan segera meringkus kita!" Suara Draco meninggi beberapa oktaf.
"Ah, ya. Kau benar," ujar Hermione seolah tersadar. Draco mendengus.
.
.
"Lalu sekarang kita kemana?" Tuntut Hermione setelah mereka tiba di lantai 31 Rumah Sakit itu.
"Tunggu sebentar." Draco menaikkan jemarinya ke udara. Ia berusaha mendengar sayup-sayup suara yang kini sudah tak begitu memenuhi indera pendengarannya seperti sebelumnya.
"Ke lantai satu sekarang." Perintah Draco seenaknya. Hermione melepaskan pegangannya pada kursi roda lantas beringsut maju ke hadapan pemuda platina itu.
"Beberapa detik yang lalu kau bilang kalau kita tak boleh ke lantai satu sekarang, dan baru beberapa detik setelahnya, kau lantas menyuruhku dengan seenak jidatmu untuk ke lantai satu!" Hermione berkata tak percaya. "Apa sih maumu?!" Serunya jengkel.
"Kau berani menentangku, Mionini?" Desis Draco pelan namun berbahaya. Hermione memutar bola matanya bosan, lalu kembali mengambil posisi di belakang kursi roda Draco—tak ada gunanya melawan. Gadis itu mendengus jengkel. Akan tetapi, baru dia akan kembali mendorong Draco untuk kembali ke lift, ketika pemuda itu lagi-lagi melambaikan jemarinya ke udara.
"Tunggu!" Serunya tiba-tiba.
"Ada apa lagi sih?!" Hermione menyentakkan kakinya kesal. Gadis itu nampaknya nyaris habis sabar. Pemuda pirang yang notabene adalah majikannya ini sungguh membuatnya jengkel dan kesal hingga ke ubun-ubun.
"Pakai ini," ucap Draco datar dalam nada dingin—nada favoritnya. Pria itu mengeluarkan dua buah masker dari balik kaos Jersey lengan panjang berbulu wol halus yang dikenakannya.
"Untuk apa?" Hermione bertanya bingung, membuat Draco kembali mendengus.
"Sebagai antisipasi kalau-kalau ada yang mencurigai kita di lantai bawah," terang Draco malas. Hermione hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf 'o' dan segera menerima masker itu dan memakainya. Ia kembali mendorong Draco untuk segera memasuki lift sebelum langkahnya terhenti kembali lantaran ia lagi-lagi mendapat interupsi dari si Malfoy junior.
"Mionini?" Kata Draco lagi.
"Ya? Ada apa lagi tuan muda Malfoy?" Hermione menekankan suaranya di tiga kata terakhir seraya memutar bola matanya.
"Kau lupa sesuatu." Hermione kembali mengernyit, matanya ikut menyipit hingga segaris sebelum ia akhirnya buka suara.
"Apa?" Draco menaikkan satu tangannya ke udara, memperlihatkan satu masker lagi ditangannya.
"Merlin, Draco!" Hermione mendengus (hidupnya dipenuhi dengan dengusan rasanya apabila terus menerus berada di dekat Draco), namun tak urung ia menerima masker itu dan memakaikannya kepada Draco.
'Benar-benar menjengkelkan!' Hermione membatin kesal..
.
-OoOoO-
.
"Maaf nona, apa anda melihat orang yang mencurigakan di sekitar sini?" Tanya seorang polisi gendut yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka di lantai satu Rumah Sakit.
"Orang mencurigakan?" Hermione berpura-pura tidak tahu akan maksud dari polisi di hadapannya kini, yang tak lain dan tak bukan tentulah mereka yang dimaksudkan polisi tersebut.
"Ya, orang mencurigakan. Pembunuh bayaran berdarah dingin—buronan kelas kakap. Well, aneh memang mengingat kami tak tahu persis bagaimana sosok rupanya. Yah, kuakui target kami adalah seorang mafia berotak encer," jelas polisi itu.
'Kalian memang polisi-polisi bodoh! Bagaimana kalian mau menangkapku kalau kalian sama sekali tak tahu rupaku?' Draco membatin senang, meremehkan.
Yah, tentu saja tak ada yang mengira bahwa seorang pengusaha tampan ternama seperti Draco Malfoy adalah seorang mafia kelas kakap yang telah menjadi buronan polisi beberapa tahun terakhir ini atas berbagai tindak kejahatan kriminal.
Draco berpura-pura memasang raut wajah datar, pandangannya kosong ke arah depan. Dan riasan cream pemucat yang digunakannya tentulah sangat membantu perannya sekarang ini.
"Oh, maaf, Sir. Aku harus segera mengantarkan pasien ini ke kamarnya. Ia menderita kelainanan saraf. Kurasa ia sama sekali tak mengerti apa yang anda bicarakan." Hermione berkata sesopan mungkin, benar-benar layaknya seorang suster yang tengah bertugas menjaga pasiennya.
"Ah, ya. Maafkan aku, nona. Silakan kalau begitu. Dan terima kasih atas waktunya," ujar sang polisi ramah. Hermione kembali melemparkan senyum manisnya, meskipun tertutupi oleh sebuah masker, namun senyum itu terpeta jelas dengan gerakan mata Hermione yang seolah menyipit—layaknya orang yang tengah tersenyum lebar.
Dengan cepat Hermione kembali mendorong Draco untuk menjauhi polisi itu. Namun tak disangka-sangka bahwa sang polisi kembali berbalik ke arah mereka.
"Ah, ya nona ..." ujarnya lagi. Hermione menghentikan langkahnya sesaat. Sementara Draco terlihat waspada di tempatnya.
"Kenapa kalian berdua memakai masker?"
'Kepo sekali sih orang ini!' Inner Hermione kesal tatkala mendengar pertanyaan konyol yang terlontar dari si polisi gendut. Tak ayal gadis itu merutuk. Ia kembali berbalik ke arah sang polisi dan secepat mungkin memasang wajah malaikatnya.
"Err ... Selain kelainan saraf, dia juga mmh ... Memiliki penyakit menular," ujar Hermione tersenyum. Draco mengernyit mendengar alasan Hermione.
"Penyakit menular?" Lagi-lagi si polisi gendut itu memasang wajah tak yakin, tampak sangsi.
"Ah ya. Err, semacam koreng atau kudis begitu. Ya, maksudku pria ini kudisan!" Draco Malfoy mendelik ketika mendengar Hermione yang mengatakan dirinya kudisan.
What the fucking hell! Seorang Malfoy kudisan?! Hellooo?! Yang benar saja! Ingin dicekik rupanya si gadis megar ini. Tunggu saja. Toh, masih banyak jenis penyakit menular lainnya yang setidaknya masih sedikit 'elegan', 'kan?
Si polisi nampak terkekeh sebentar menanggapi perkataan Hermione.
"Kau harus berhati-hati kalau begitu, nona." Ia mengedipkan sebelah matanya jenaka, seolah benar-benar meremehkan Draco dan berharap agar Hermione tak sampai tertular. Pemuda pirang itu merasa kepalanya mendidih seketika.
"Ya, tentu saja. Selamat malam, Sir. Permisi." Hermione kembali memutar kursi roda Draco. Berusaha untuk meninggalkan sang polisi cerewet secepat yang ia bisa. Namun langkahnya lagi-lagi terhenti.
"Tunggu!" Teriak sang polisi lagi secara tiba-tiba. "Apa itu pistol sungguhan?" Ia menunjuk ke arah bawah kursi roda Draco. Manik bluish-nya menyipit tajam ke arah benda yang tergolek kaku di sana. Hermione menahan napas ketika pria tersebut kembali berjalan mendekat ke arahnya.
"Err, itu pistol mainan, Sir," ujar Hermione berbohong. "Selain menderita kelainan saraf dan kudisan, pasien ini juga menderita kepribadian ganda. Jadi sewaktu-waktu ia terkadang bisa bersikap layaknya anak kecil yang suka bermain." Namun seolah tak percaya, sang polisi justru semakin menyipitkan matanya curiga dan di detik berikutnya ia berjongkok untuk melihat pistol itu lebih dekat.
Jangan tanyakan betapa paniknya Draco dan Hermione sekarang. Bahkan Draco pun sudah tak peduli lagi meskipun Hermione sudah mengatakan bahwa dirinya berkepribadian ganda, seolah tak cukup hanya dengan embel-embel penyakit kelainan saraf serta kudisan.
Sang polisi mengangkat pistol itu, meneliti. Dan detik selanjutnya ia membeliak terkejut.
"Ini ... ini sungguhan!" Ungkapnya tak percaya. "Jangan-jangan kalian ..."
"Ayo lari, Mionini!" Seru Draco. Hermione mengangguk cepat lantas bersiap-siap melarikan diri. "Ambil pistolnya dulu, bodoh!" Tambah Draco sesaat ketika Hermione sudah akan mendorong kursi rodanya. Hermione melayangkan pandangan tak percaya, bisa-bisanya pemuda pirang itu masih memikirkan pistol itu, huh? Kalau Hermione tertangkap, lantas bagaimana? Namun tak urung gadis curly itu merebut si pistol FN dari tangan si polisi gendut lalu kemudian berlari dengan cepat—sambil mendorong kursi roda Draco. Pakaian suster biru mudanya ikut berkibar lantaran lajunya yang terpacu cepat, suara sol sepatunya turut beradu di lantai dingin Rumah Sakit dan mendominasi kelengangan di malam yang hening itu.
"Hey! Jangan lari kalian!"
Sekilas, Hermione menoleh ke belakang, melihat sang polisi yang tampak ikut berlari mengejar mereka.
"Ayo, Mionini! Semangat!" Draco mencoba memberi dorongan semangat dengan sedikit melayangkan tinjunya ke udara. "Give me K! Give me A! Give me B! Give me U! Give me R! Kita KABUR, Mionini! Yeyeyelalalayeyeyelalala," Draco berujar heboh di atas kursi rodanya. Hermione menunduk, menatap rambutnya sesaat, sementara peluh mulai membanjiri keningnya. Ia benar-benar tak percaya, sempat-sempatnya seorang Draco Malfoy dengan konyolnya berlagak seperti itu bak gadis cheerleader yang kelewat centil dalam kondisi genting seperti sekarang? Hell!
Dengan langkah seribu, Hermione kembali memacu kaki reniknya dengan kecepatan penuh menyusuri lorong-lorong remang Rumah Sakit yang hanya bermandikan cahaya minim. Peluhnya sudah membanjiri sekujur tubuhnya, total! Tentu saja sangatlah melelahkan ketika kau harus berlari sembari mendorong sebuah kursi roda yang diduduki oleh seorang pemuda songong dengan berat tubuh sekitar satu ton! Oke, itu berlebihan. Hermione hanya merasa sebal terhadap pemuda pirang itu hingga dia beranggapan demikian.
"Hey kalian! Tunggu!" Terdengar suara tembakan di udara, sebagai tanda peringatan untuk Draco dan Hermione. Namun bukannya berhenti, justru Hermione semakin mempercepat lajunya.
Oh, Tuhan! Pria itu makin dekat saja rupanya! Gendut-gendut begitu, ia tetap merupakan seorang polisi yang tangkas dan terlatih.
Sampai akhirnya beberapa lama kemudian, sebuah tangan besar kini mendarat mulus di bahu kanan Hermione, membuat gadis itu terlonjak kaget dan terpaksa menghentikan pergerakannya.
"Kenapa berhenti, Mionini?! Kita bisa tertangkap!" Seru Draco emosi. "Apakah dukungan semangatku kurang meriah, eh?!" Merasa tak ada jawaban, akhirnya Draco mendongak—namun tak mendapati siapa-siapa, lantas pemuda pirang itu memutar kepalanya ke belakang. Dilihatnya Hermione yang kini tengah dipegang erat-erat oleh sang polisi.
Ah, rupanya gadis itu tertangkap.
Sang polisi menyeringai keji melihat ekspresi keterkejutan terpatri jelas di bingkai wajah Draco.
"Sudah kuduga, kalianlah buronan yang selama ini kami cari-cari." Pria itu tersenyum senang, dan di detik berikutnya ia tampak mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya. "Buronan tertangkap, ditemukan di Royal Hospital Slytherin! Segera ke lantai satu di lorong melati!" Ia menyimpan alat itu kembali ke dalam sakunya. Tampaknya ia baru saja menghubungi kawanan polisi lainnya. Draco berusaha keras memutar otaknya.
Tanpa pikir panjang, ia segera mengambil pistol FN nya—yang untungnya tadi berhasil direbut kembali oleh Hermione.
DOORRR!
Sebuah peluru kalliber kembali menghantam salah satu tembok. Polisi gendut itu terkejut bukan kepalang. Ia pun kini ikut mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sakunya. Well, sebuah pistol biasa, sangat jauh levelnya dibandingkan dengan pistol FN Five-SeveN milik Draco.
Dengan kasar ia menarik masker Hermione sehingga wajah gadis itu terekspos seluruhnya. Hermione dan Draco sontak saling melempar pandang panik. Selama ini tak seorang pun yang pernah melihat wajah mereka ketika sedang beraksi menyelesaikan misi. Dan sekarang? Ah, apalagi nantinya mereka akan melihat wajah Draco. Sungguh itu bukan hal yang bagus untuk kelangsungan perusahaan-perusahaan seorang Draco Malfoy kedepannya. Apalagi mengingat status darah ningrat yang masih mengalir jelas di setiap pembuluh nadinya.
Tak ada cara lain, kalau mau aman berarti si polisi gendut ini harus dilenyapkan. Singkat kata, 'dibunuh'.
Seolah mengerti dengan jalan pemikiran Draco, tangan Hermione yang masih bebas bergerak turun ke arah roknya. Menyingkapnya pelan lantas menarik Marc Lee Glory Knife dari balik sana. Tanpa tedeng aling-aling, tangan Hermione bergerak cepat menikam perut buncit si polisi gendut yang berdiri menahannya di belakang tubuhnya dengan pisau tajam itu. Membacoknya dengan beberapa kali sentakan. Hingga akhirnya polisi itu jatuh tersungkur dengan genangan darah yang bersimbah dari lubang menganga di perutnya.
"Good job, Mionini!" Seru Draco bangga dan tersenyum senang, turut mempersembahkan applause singkat untuk Hermione ketika melihat aksi gadis itu barusan.
Dengan napas terengah, Hermione berlari ke arah Draco dan segera mendorong kursi roda itu terburu-buru ketika mendengar adanya suara serta langkah-langkah tegas lain yang menuju ke lorong tempat mereka. Yah, mereka harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat.
'Tuhan, aku melayangkan tiga nyawa sekaligus dalam semalam!'
.
.
.
TBC
|Pojok Author|
Hi semua :) *senyum kalem.
Berjumpa dengan saya, Ms. Loony Lovegood di chapter 2 ... Akhirnya Loony bisa selesein chapter ini dalam kurun waktu waktu kurang lebih 3 jam! *sujud syukur. Terima kasih, Tuhan ...
Thanks for reading, guys. Mind to review? :)
Oh iya, Loony minta maaf banget kalau chapter bagian Loony ini gak memuaskan hati kalian (ini pertama kalinya Loony bergelut(?) di genre crime hehe) Tapi percayalah, Loony sudah berusaha kok. Dan doakan saja yah mudah-mudahan chapter2 selanjutnya akan lebih baik ;) Karena Loony sama sekali gak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini XD *lirik Veela Rosea~
At least, silakan tuangkan pendapat kalian tentang chapter ini di kolom review :)
.
.
|Pojok Review|
Loony balesin review2 kalian di chap 1 ya :) *Maklum, Loony kan asistennya Veela. Dan Veela juga asistennya Loony :D *nah loh? Lupakan XD ... Berikut balasan reviewnya, check it out!
Farah Zhafira :
Haha bisa aja ... Terima kasih, dear :) Ini sudah update chap 2 nya ... Review lagi?
Winda :
Begitu ya? Ah, nggak kok, jelas beda :D lagian ini udah dirancang dari hari kedua Ramadhan tapi baru sempat direalisasikan sekarang :) hehe ... Dan untuk adik Hermione yang namanya Alex, FYI itu emang nama asli dari salah satu adik laki-laki Emma Watson (pemeran Hermione) yg bernama Alex Watson, jadi jangan heran kalau banyak yg make nama ini sbg nama adik Hermione jg ;) Review lagi?
adera malfoy :
Hehe makasih :) soal typonya, maaf ya ... mungkin partner saya si Veela lagi kelilipan pas ngetiknya hehe *digetok Veela. Review lagi?
DeeMacmillan :
Draco bisa jalan apa nggak? Kasih tahu gak ya? Haha *ditimpuk bunga ... Daripada penasaran, mending baca aja terus ya hehe ... Ini udah update :) ini masih kilat gak? :D ... Review lagi?
Moku-Chan :
Ini sudah dilanjut kok :) entahlah, Loony pun belum tahu endingnya akan jadi pair apa hehe. Daripada penasaran, mending baca fict.y Loony yg judulnya 'The Ending' :D |promosi? Salah fokus| *tepar seketika karena dilempar batu gunung sama Moku. Oke, mending baca aja terus ya kelanjutannya :) Review lagi?
aira setiawan :
makasih, dear ;)
yanchan :
Makasih :) Err, kenapa ya? Haha baca aja deh ya! ;) Ini udah update ... Review lagi?
selamrt :
Wah makasih loh ya! ;) Untuk pair endingnya, semuanya akan terjawab di chapter demi chapter hehe ... Review lagi?
Shizyldrew :
Penasaran ya? Ini sudah update kok :) Review lagi?
Minri :
Makasih ... Ini udah next kok :) Tapi Loony gak tahu apakah chap ini masih masuk dalam artian 'keren' versi kamu apa nggak :( Review lagi?
:
Entahlah, dear ... Yg jelas ini proyek udah lama sih hehe ... Ini sudah update ;) soal typonya maaf ya, mmh ya mungkin si Veela lagi kepeleset jari seperti apa katamu hehe *dicekik Veela.
Constantinest :
Benarkah? Wah makasih loh mini-chan ;) Well, benar sekali. Ada pembunuhan! Haha ... Kalau gitu, doain ya biar fic ini bisa tamat dan gak discontinued hehe ... Review lagi?
Pixie Porsche Yousaf :
Wah berubah pen name lagi, sayang? Hehe ... Oke, Loony yakin kalau Veela udah baca saranmu itu :D so, Review lagi?
Selena Hallucigenia :
Hi Sel :) *Loony SKSD deh ... Makasih sarannya ;) Tapi well, Loony merasa enjoy kok sama sekali gak terkekang dengan setiap chapter yg berakhir rahasia *tenang aja. Yg terbaik akan selalu diusahakan :) Dan harapannya, yah semoga readers gak pusing bacanya hehe *wish ... Review lagi?
christabelicious :
Makasih say :) Bukan minggu kedua puasa, tapi hari kedua puasa hehe ... Iya ini udah lanjut kok, kamu juga ya tetap semangat, beb ... Loony tunggu loh XD~ Review lagi?
A Princess Slytherin :
Makasih, dis ;) Entahlah gimana nantinya, semoga segala keputusan akhir gak bikin kamu beneran spot jantung hehe ... Ini udah update :) Review lagi?
Rhikame :
Gimana ya? Jawab gak ya? Haha *disumpel berlian ... Daripada penasaran, baca aja lagi ya! ;) Review lagi?
Ochan Malfoy :
hi juga Ochan :D wah makasih yah, sayang ;) ... yuk baca lagi biar sedikit ngobatin rasa penasaranmu hehe ... Dan utk typo chap kemarin, maaf ya :) Review lagi?
X-Mionez :
Hehe makasih :) Ini sudah update kok ;) review lagi?
hanazawa yui :
Hehe, wah makasih ya! Ini sudah Loony lanjutkan, err moga gak begitu buruk dan mengecewakan ;) Review lagi?
Well, makasih banyak buat kalian yang sudah repot-repot sempetin diri buat baca dan review fict ini ... (maaf juga kalau masih ada typo ya) Dan semoga gak begitu mengecewakan ;)
See u chapter 4 :D Tapi kayaknya kalau Veela update kilat, err Loony sangsi kalau Loony juga bisa kilat di chap 4. Soalnya selama seminggu penuh kedepan, Loony mau ke luar kota nyari Snorkack Tanduk-Kisut XD~
P.S : Maaf banget buat A/N yg terlampau panjang, yah karena ini chap2 awal, jadi rasanya Loony kepengen balesin semua review hehe ... Utk chap2 selanjutnya, tenang aja kok—Insha Allah gak bakal sepanjang ini ;)
P.S.S : Err, promosi dikit ya! Hehe ... *digetok. Yg ikutin cerita2nya Loony, mmh FYI aja ya ... semua fict MC-nya Loony update! (MBiF, DGBH, & TE) Serta satu fict OS baru yg judulnya 'Istriku Sayang'. Yg sempet dan berkenan, capcus aja ke akun Loony—and then RnR! ;) *ini gk usah ditanggepin di kolom review TRR yaaa~
Veela: Laa-chan .. Ayo semangat chapter 3nya! ;) :D Semoga ini gak mengacaukan idemu XD~
.
.
Salam,
Miss Loony.
