.
.
.
"KIBUM SIAL!" maki Changmin sepenuh jiwa.
"Ada apa?" seseorang di bawah Changmin menatap bingung ke arahnya. "Suami"nya itu tiba-tiba berteriak tujuh oktaf memaki nama Kibum, dan itu sangat menyakitkan telinga.
"Kyuhyun sakit dan 'suami' sialannya itu menyuruhku segera ke sana."
Shim Minseok, mendorong tubuh Changmin kasar hingga perpaduan yang mereka lakukan terlepas. Mereka sama-sama tidak memakai apa pun sekarang. Changmin mengacak rambutnya frustasi. "Dia tidak akan apa-apa!" kata Changmin seraya mendekati Minseok lagi.
"Aniya! Kyuhyun memang tidak akan apa-apa tapi kau benar-benar dibunuhnya nanti Shim! Kau lupa kejadian yang lalu, eoh?! Harusnya kau belajar dari kesalahan. Lagipula sekarang masalahnya Kyuhyun sedang sakit. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Kyuhyun. Bila sesuatu terjadi, aku akan mengosongkan kulkas selama tiga bulan tanpa masak!"
Dan yang bisa dilakukan Changmin hanya meratapi "adik" kecilnya yang tegang sekarang terkulai lemas di atas kasur. Mengikuti suasana suram yang dia rasakan. Dan itu menyakitkan! Hampir saja tadi dia klimaks! —Astaga!
[~KiHyun~]
Pemuda berkulit tan yang berbalut kemeja putih ketat —memperlihatkan bentuk kotak-kotak menawan di perut dan bagian tubuh lainnya— tengah berlari cepat. Pemuda itu tidak memperdulikan tatapan kagum dari orang-orang yang berdecak kagum padanya. Biasanya, pemuda itu selalu menutup tubuhnya dengan jas kerja yang terlihat kaku. Dan sekarang, berpeluh keringat, pemuda itu tampak begitu seksi.
Baru saja dia menerima telefon dari seseorang yang sangat dia cintai. Telefon pertamanya dan yang dia dengar adalah suara barang-barang pecah. Tentu saja membuat dirinya lepas kendali. Ingin segera menemui orang yang dia cintai itu.
[~KiHyun~]
"KYUNGSOO! HENTIKAN!" teriak Jongin lantang. Sesampainya di apartemen Do Kyungsoo— apartemen yang dia berikan kepada pemuda itu, semua barang pecah dan berserakan di mana-mana. Jongin tidak perduli bila barang itu rusak, yang paling mengiris hatinya adalah keadaan Kyungsoo. Pria bertubuh mungil itu penuh luka dengan darah yang mengalir deras. Tangan, kaki, wajah, penuh dengan cairan kental berbau anyir itu.
Tidak terelakkan, lantai apartemennya pun berjejakkan darah.
Jongin segera mendekap tubuh Kyungsoo erat dari belakang. Menghiraukan rasa sakit ketika Kyungsoo sengaja atau tidak, serpihan kaca yang dia pegang tertancap di lengan Jongin. "Hentikan… Ku mohon. Jangan sakiti dirimu lagi. Aku disini. Do Kyungsoo." Kata itu bagai mantra yang diucap berulang-ulang untuk menenangkan Kyungsoo. Jongin menangis. Melupakan sejenak kesan maskulin pada dirinya.
Keadaan Kyungsoo sangat miris. Kyungsoo tidak pernah berbuat seperti ini lagi sejak pertama kali Jongin menemukan pria itu. Menyakiti diri sendiri. Tanpa rasa takut dan perasaan menyesal pada dirinya.
Jongin memejamkan mata. Mengontrol deru napasnya bersamaan deru napas Kyungsoo —mengirim sinyal damai pada pria bermata bulat itu.
"Ku mohon…" katanya lagi. Perlahan tapi pasti, tubuh Kyungsoo melemah. Mencabut serpihan kaca yang tertancap di lengan Jongin dan melepasnya begitu saja. Ringisan tertahan dari Jongin segera terdengar oleh Kyungsoo. Pemuda bertubuh mungil itu mengusap rambut Jongin dengan tangan yang berlumuran darah. Mengatakan bila dia tidak apa. Kau tidak perlu khawatir. Dan —terimakasih.
Jongin semakin menyelusupkan wajahnya pada perpotongan leher Kyungsoo. Mengecup dan mengendus kulit selembut bayi itu dan bau alami yang menguar dari tubuh Kyungsoo.
Jongin takut. Kyungsoo-nya —yang sangat dia jaga, terluka lebih parah dari hari itu. Kilasan balik peristiwa mengerikan itu terulang bagai kaset rusak di kepala Jongin, bukan Kyungsoo lagi di sini yang penuh luka namun Jongin. Luka di hatinya membuat tubuhnya melemah.
Kyungsoo merasa berat badan Jongin bertumpu seluruhnya padanya. Dengan sigap pria mungil itu menyeret tubuhnya beserta Jongin di punggungnya menuju sofa. Membaringkan Jongin perlahan di sana.
Jongin menggigil. Menggenggam erat tangan Kyungsoo. "Hentikan… Hentikan…" racau Jongin.
[~KiHyun~]
BRAKKK
Kyungsoo terbangun dari tidurnya. Cepat-cepat kaki kecilnya berlari keluar kamar. Melihat apa gerangan yang terjadi dirumahnya. Mata Kyungsoo terbelalak. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya, jantungnya berpacu cepat hingga Kyungsoo bisa mendengar sendiri detak jantungnya.
Dilantai bawah, lantai satu rumah megahnya. Seakan lautan darah. Lantai putih yang bisa memantulkan bayangan Kyungsoo—yang sangat dia kagum—, ditutupi oleh cairan berwarna merah pekat. Potongan-potongan tubuh para asisten rumah tangga yang selalu bermain dengannya berserakan dipenjuru tempat. Kyungsoo tahu tangan siapa itu, Kyungsoo tahu kaki siapa itu, dan Kyungsoo sangat tahu kepala-kepala milik siapa itu.
Yang saling tidak terhubung satu sama lain.
"KYUNGSOO!" Kyungsoo bergeming. Jeritan ibunya tidak diindahkan olehnya. Kyungsoo kecil yang masih berusia 10 tahun terlalu shock menggambarkan kejadian didepannya. Kyungsoo kecil tahu, makna dari semua potongan tubuh itu. Diam-diam dia sering menonton film horor yang tidak pantas ditonton oleh anak seusia dirinya.
"Kyungsoo-ya…" Ibu Kyungsoo mendekap anak semata wayangnya itu erat. Mengecupi pipi bulat Kyungsoo. Air mata mengalir deras dari mata lelah sang ibu.
"Bersembunyilah. Ibu mohon." Kyungsoo menurut saja ketika tubuhnya digiring sang ibu menuju kamarnya, mendudukkan dirinya dibawah lemari pakaian yang penuh dengan pakaiannya. Ibu Kyungsoo mencium dalam dahi sang anak untuk terakhir kali. Lantas menutup lemari itu dari luar.
Kyungsoo tidak bersuara. Dia bahkan tidak menjerit. Air mata murninya sudah mewakili seluruh perasaannya saat ini. Yang paling menyakitkan, Kyungsoo tahu dia tidak akan bertemu dengan ibu atau ayahnya lagi.
…
Kyungsoo tidak tahu berapa lama dia bersembunyi ditempat pengap dan menyesakkan ini. Kyungsoo bahkan hampir kehabisan napas. Namun, tidak terpikir sekalipun oleh jalan pikiran polosnya untuk keluar dari lemari itu.
Seseorang membuka lemarinya. Kyungsoo terlalu lemah untuk melihat wajah orang itu. Dia juga pasrah saja ketika tangan yang terasa dingin itu mengangkat tubuhnya.
Kyungsoo menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Menstabilkan kembali kinerja organ-organ tubuhnya. Antara sadar dan tidak, Kyungsoo bisa melihat lautan darah dibawah.
…
Jongin memaki sahabat sejatinya—Oh Sehun. Manusia albino itu —begitu sebutan Jongin padanya, berkata secara gamblang kepada eomma Jongin jikalau dirinya selalu tidur setiap pelajaran eksak.
Dan sekarang Jongin harus merasa sakit akibat dua orang sekaligus —ibu dan kakak perempuannya. Jongin bisa mati ditangan wanita berhati iblis itu bila saja ia tidak langsung lari menuju apartemennya.
Jongin menyusuri gang sempit —terpaksa karena aksi kabur. Mempercepat langkah biar sampai ke halte. Nasib buruk memang ada di pihaknya, kunci mobil Jongin suksesberpindah tangan pada noona-nya.
Saat Jongin berbelok, hampir saja ia terpekik. Darah segar tercecer di sepanjang jalan gang itu.
Jantungnya berdegup kencang, bagaimana jika ini aksi pembunuhan? Dan dia akan dibunuh juga? Tapi, rasa penasaran Jongin mengalahkan segalanya. Jongin mengikuti arah darah itu dengan hati-hati.
Betapa terkejutnya ia menemukan seonggok tubuh berjalan terseok-seok dengan darah disekujur tubuhnya. Tanpa pertimbangan apa pun, Jongin segera berlari mengejar tubuh itu.
"Kau tidak apa?" sembur Jongin yang berdiri tepat di hadapan pemuda itu.
Pemuda itu mendongak kemudian menyeringai lebar ke arah Jongin. Membuat pemuda berkulit tan itu mengernyit bingung.
"Apa kau punya pisau? Aku ingin memotong lengan ini."
Tidak ada candaan didalamnya. Jongin terpaku ditempat. Keadaan pemuda ini begitu miris. Wajahnya saja tertutupi oleh darah yang sudah mengering. Jongin tidak berusaha memberhentikan lagi sosok itu yang sudah melanjutkan jalannya.
Jongin berpikiran, WHAT THE HELL ! Apa dia gila?!
DUAGH… DUAGH…
Jantung Jongin harus kembali berpacu. Sosok yang lebih mungil dari dirinya itu, membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.
"HENTIKAN!" teriak Jongin refleks.
Jongin langsung saja mengangkat tubuh pemuda itu. Berlari secepat yang dia bisa menuju jalan raya, membawa pemuda itu ke rumah sakit.
"Kau membawaku kemana?! Berikan aku pisau!" pekik pemuda itu.
"Hentikan! Hentikan! Hentikan!" teriak Jongin tidak kalah kuat.
Jongin tidak menghiraukannya. Entah mengapa perasaan Jongin sakit melihat keadaan sosok itu. Entah mengapa Jongin merasa bersedia menggantikan keadaan sosok itu. Sosok yang tidak dikenalinya namun bisa menggetarkan hatinya.
[~KiHyun~]
"Hentikan… Hentikan…" Kyungsoo mengganti kain tebal yang dia gunakan untuk mengompres dahi Jongin. Kembali membisikkan kata-kata penenang kala Jongin mulai mengigau lagi.
"Aku disini… Aku disini… Dalam keadaan baik…" bisik Kyungsoo tepat di telinga Jongin. Perlahan Jongin mulai membaik. Deru napasnya kembali teratur. Gantian Kyungsoo yang mengobati lukanya sendiri. Apartemen Kyungsoo telah bersih, terlihat lebih lengang dari sebelumnya. Sebab hampir sebagian barang-barang yang ada di sana rusak. Kyungsoo membuang semuanya dengan dibantu jasa cleaning service.
Kyungsoo mulai mengambil benang dan jarum khusus manusia. Melumuri luka di lengannya dengan alkohol. Kemudian, menusukkan jarum tersebut dan menggerakkan sesuai pola. Menutup luka yang cukup lebar itu. Tanpa obat bius.
Setelah selesai, Kyungsoo menjahit luka yang ada di dadanya. Melakukannya secara perlahan dan terlatih. Tidak ada ringisan. Dan percayalah, Kyungsoo akan memilih menjahit seluruh tubuhnya, untuk menikmati rasa sakit yang mendera —dan terasa nikmat baginya.
Jongin melenguh. Perlahan kelopak matanya terbuka. Buru-buru Kyungsoo menyembunyikan peralatannya dan luka yang baru saja dia jahit, Kyungsoo tahu Jongin paling tidak tahan melihat hal seperti itu.
"Kyungsoo…" bisik Jongin lembut. Kyungsoo mendekat, mengusap pipi Jongin zig-zag.
"Nde…" sahutnya.
Jongin tersenyum. Kyungsoo-nya telah kembali normal di mata Jongin. "Kau tidak apa?" Kyungsoo menggeleng singkat.
"Maafkan aku, aku adalah pria lemah." Sesal Jongin.
Kyungsoo kembali menggeleng. "Aku yang terlalu mengerikan. Maafkan aku."
Jongin menatap tidak percaya Kyungsoo. Suara dan cara bicara pria mungil itu berubah sepenuhnya. Kyungsoo adalah orang yang enggan berbicara banyak, tatapan matanya selalu tajam, dan nada bicaranya dingin.
"Kau…" gagap Jongin.
"Mungkin aku bisa menerimamu, Kim Jongin. Terimakasih telah merawat dan menungguku selama 10 tahun."
[~KiHyun~]
Kibum mencium bibir Kyuhyun berulang kali. Menatap khawatir pemuda manisnya itu. Kyuhyun belum membuka mata. Amarah Kibum semakin memuncak mengingat alasan Kyuhyun sakit. Park Chanyeol. Kibum tidak tahu apa hubungan Kyuhyun dengan Chanyeol, namun, itu cukup membuat setan tanpa hati di tubuh Kibum kembali bangkit.
Gara-gara itu semua, Kibum meninggalkan Kyuhyun dalam keadaan lemah. Bukankah dia pria yang sangat jahat?
Itu terpaksa Kibum lakukan, Kibum tetaplah Kibum. Amarahnya terlalu memuncak, Kibum tidak mau Kyuhyun menjadi sasarannya. Sebagai bukti luka sayatan melintang yang masih baru di paha Kibum.
"Park Chanyeol…" desis Kibum.
Kibum melirik ke arah jendela kamar mereka, tirai berwarna putih bersih itu tersibak oleh angin malam. Daun jendelanya belum tertutup rapat. Kibum menutupnya. Menatap sebentar langit malam yang terlihat sangat gelap. Sepertinya akan ada badai.
Seringai kecil tersungging di sudut bibir Kibum.
"Akan lebih mudah…" gumamnya.
Kibum mengambil jaket hitam panjang, memakai sarung tangan, menutup setengah wajahnya dengan kerudung hitam pada jaket tersebut. Kibum memandang wajah damai Kyuhyun. Mencium bibir Kyuhyun sebelum Kibum menyimpan pisau kecil —berukir huruf "K" pada gagangnya —di saku jaketnya, dan keluar dari kamar tersebut.
[~KiHyun~]
Sepeninggalnya Kibum, perlahan kelopak mata Kyuhyun terbuka. Menatap nanar pintu kamar mereka.
[~KiHyun~]
Kyungsoo mencium bibir tebal Jongin yang tidur di sebelahnya. Menyibakkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya, Kyungsoo berdiri mengambil pakaian bersih di lemari dan memakainya. Kyungsoo memilih kaus putih dan celana hitam. Ditutupi oleh jaket hitam panjang dan tebal milik Jongin.
Sekali lagi, Kyungsoo mencium bibir Jongin sedikit lebih lama. "Untuk terakhir, setelah ini aku tidak akan pergi darimu, Kim Jongin." Bisik Kyungsoo lembut.
Kyungsoo membuka laci meja di kamarnya, menemukan dua pisau kecil yang selalu dia simpan di sana, dan selalu dia pakai untuk "bersenang-senang". Kyungsoo menyimpan kedua pisau itu di saku jaket. Berjalan perlahan keluar apartemen.
Angin malam yang luar biasa dingin menerpa kulit wajah Kyungsoo. "Sepertinya akan badai…" gumam Kyungsoo setelah memperhatikan keadaan langit.
[~KiHyun~]
"Langit malam selalu tidak sesuai denganku. Langit tahu, dialah atapku. Tempatku berlindung. Sebagai tanah adalah lantaiku. Malam ini, sepertinya langit sedang tidak bercanda. Dia memaksaku mencari atap baru untuk malam ini. Angin pun membantu, dengan bertiup kencang menerpa tubuhku."
"Haaahhh…" aku menghela. Percuma berbicara pada langit, dia tetap mengundang badai. Seharusnya aku bergegas mencari tempat berlindung, namun, di mana? Aku sudah berkeliling tetapi tidak ada toko yang tutup. Kau tahu, aku akan diusir bila berteduh di depan toko yang masih buka.
Jiwa-jiwa manusia bukan jiwa-jiwa malaikat.
Atau aku kembali ke rumah? Benar-benar rumah. Rumah yang telah aku tinggalkan bertahun-tahun untuk melaksanakan cita-citaku berteman dengan alam. Kenapa baru terpikirkan sekarang? Selama ini aku tidak perduli jika itu badai, gempa, atau apa pun. Tidak ada niatan kembali...
...dan sekarang—
aku teringat pada janjiku. Janji yang tulus ku ucapkan kepada sosok malaikat di mataku —Kyuhyun. Semalam janji itu baru saja terjadi. Dan satu-satunya cara membawa uang yang banyak untuknya adalah kembali.
Dunia telah memakan usiaku. Harusnya pikiranku berubah. Aku bukanlah anak kecil lagi. Semakin dipikir semakin rasa bersalah itu mengoyak jantungku.
"Park Chanyeol…" aku menghentikan langkah saat mendengar suara berat di belakangku. Aku berbalik. Menemukan seorang pria berpakaian serba hitam. Aku tidak bisa melihat wajahnya, sebab ditutupi oleh kerudung panjang.
"Apa anda memanggil saya?"
Orang tersebut berjalan perlahan mendekatiku. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya. Aku bergeming. Menunggu perihal apa yang akan dikatakan orang ini.
"ARGGHHH!" teriakku. Sekejap mata pisau kecil yang dikeluarkan orang itu telah bersarang tepat di perutku. Cairan kental segera merembes dari luka itu.
Orang itu mencabut pisaunya kasar, memberi kesakitan berkali-kali lipat padaku. "KAU GILA!" pekikku. Dengan susah payah aku berjalan mundur ke belakang, menjauhi orang gila yang tiba-tiba menusukku tanpa sebab.
Aku memegangi luka yang dia torehkan. Meringis kesakitan sepanjang jalan. Orang itu kembali mendekatiku. Angin badai semakin bertambah kuat. Aku berusaha menahan diri dari terpaan angin yang disusul oleh curah hujan yang tiba-tiba datang dengan sangat deras.
Aku bisa melihat warna merah mengalir ke jalan.
Pandanganku mulai terhalang oleh hujan dan angin. Aku tidak tahu dimana orang gila tadi. Aku berlari cepat menuju trotoar, mencari bantuan, darah ini keluar bertambah banyak. Aku melihat tidak ada satu pun orang-orang yang berlalu lalang. Sial! Kemana semua orang!
"To…" aku akan minta tolong sebelum tancapan pisau yang lain mengenai punggung belakangku. "ARGGHHH!" aku berteriak kencang. Napasku putus-putus menahan rasa sakit ini. Orang itu mencabut lagi pisaunya dan menikamkan ke area punggungku yang lain.
Tanganku ditarik paksa ke belakang. Tenagaku seakan terkuras habis sehingga tubuhku mengikut saja.
Aku melihat ke sekitar, aku kembali ke gang sempit tadi. Tubuhku lantas ambruk ke tanah ketika satu pisau menancap di paha belakangku. Air hujan mengaburkan pandanganku. Tubuhku sudah basah kuyup, badanku menggigil.
"Jangan pernah mendekati Kyuhyun…" sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, aku bisa mendengar bisikan tajam orang itu. Aku berdecih. Jadi, ini semua karena Kyuhyun.
"Aku tidak akan menjauhinya, sialan!" aku meludah tepat di wajahnya yang berada di atasku. Saliva yang sudah bercampur darah segar milikku.
"KAU!... —ARGGHHH!" aku menutup mata. Cipratan darah mengenai wajahku seirama dengan teriakan kesakitan yang ku yakini milik orang gila itu.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil apa yang menjadi milikku! Kim Kibum!" seru suara lain dari belakang Kibum.
Aku berusaha bangkit. Dengan pisau yang masih tertancap di punggung dan kakiku.
Orang gila itu berbalik ke arah orang lain yang telah menikam bahunya dengan pisau. Aku mengenali suara khas ini. Do Kyungsoo. Pemuda yang mendeklarasikan aku menjadi miliknya.
[~KiHyun~]
.
.
.
To Be Continued
Halo... Apa ada yang masih ingat FF ini? Jika baru baca, disarankan membaca FF berjudul "I Want You" terlebih dahulu. Silahkan buka Daftar Cerita Lullaby. Dik
Meski tidak terlalu nyambung hahaha...
Bagi yang membaca, tinggalkan review, okay? I Love You
