Dua minggu telah berlalu, tanpa ada yang namanya liburan sama sekali. Ino nyaris frustasi saat malam kemarin Sakura datang kerumahnya dan menceritakan jalan-jalan serunya bersama Hinata, Shikamaru, Sasuke, Naruto dan Lee. Wajah Sakura berbinar riang menceritakan konyolnya Naruto dan Lee yang melomba-lombakan hal konyol, Sasuke yang bad mood karena dicuekin Naruto, Shikamaru yang hanya duduk-duduk dan kadang memprovokasi Sasuke dan juga Hinata yang selalu bersama Sakura.

Ini sudah ketiga kalinya Ino mendengarkan cerita liburan mereka. Ino juga baru sadar dua minggu ini dihabiskannya bersama Gaara dengan belajar terus-menerus, tentu saja pengecualian di hari minggu. Hari minggu itupun tidak bisa dihabiskannya bersama teman-teman karena dia harus pergi bersama orang tuanya.

'Aku merindukan mereka,' Ino menyandarkan wajahnya di atas meja. Dia sedang berada di perpustakaan kota, keduanya sepakat mengganti tempat bertemu karena sudah bosan dengan lingkungan sekolah. Tentu saja itu usulan Ino.

"Ck, Gaara mana sih?"


Acknowledge my love!

Chapter 2

-o-o-o-o-o-

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Pair: GaaraxIno

Warning: AU, OOC, Romance Gaje, gombalisasi..

Don't like? Don't read.

Just Click the Back Button. Easy, right? =)

Rating: T

-o-o-o-o-o-

.

.


Ino melihat jam tangannya dengan jengkel. Wajahnya terlihat berkerut.

09.48

"Cih, aku kecepatan datang," Ino kembali menempelkan pipinya di atas meja. Ino benar-benar suntuk dirumahnya. Kedua orang tuanya sudah pergi bekerja, otomatis dia hanya sendiri dirumah mengingat Ino adalah anak tunggal. Berdiam di rumah pun sebenarnya sangat jarang, Ino lebih suka menghabiskan harinya di luar. Entah untuk ekskul, hang out ataupun sekedar bersantai dirumah sahabatnya.

"Cepat sekali datangnya." Sebuah suara menghentikan lamunan Ino. Pemuda itu terlihat mengamati jamnya, memastikan apakah ada yang salah dengan jam itu atau dia memang terlambat datang.

"Aku bosan di rumah. Makanya kecepatan datang." Ino menjawab masih dengan wajah tertekuk. Gaara yang sudah kebal dengan ekspresi yang satu itupun tidak mau ambil pusing.

"Ohh.." hanya itu balasan dari Gaara. Pemuda itu mendudukan diri dihadapan Ino.

"Gaara, aku bosann.. Bisa tidak kau menghiburku?" Gumam Ino, kepalanya masih diatas meja dan hanya lemari penuh buku yang menghiasi pemandangan dihadapannya.

"Aku kurang tau cara menghibur orang."

"Haahhh," Ino menghela napas panjang, teman barunya ini memang tidak kreatif dalam berbicara. "Kamu biasanya ngapain kalau lagi bosan?"

"Diam saja, hidupku memang membosankan." Jawab Gaara enteng. "Tapi tidak bisa kupungkiri, kadang-kadang aku dihibur Kankurou Nii dengan kejahilannya."

"Enak ya punya saudara.." Ino kembali bergumam-gumam kecil.

Sepolos-polosnya Gaara dalam bergaul, dia masih bisa menyadari bahwa gadis pirang dihadapannya sedang dalam masa frustasi akut. Dua minggu bersamanya membuat Gaara lumayan banyak mengerti tentang sifat gadis yang satu ini. Dia selalu ingin diperhatikan dan Gaara sadar, Ino sedang bersama orang yang kurang tepat. Gaara bingung bagaimana harus menghilangkan kebosanan Ino, dia tidak terbiasa membuka suatu pembicaraan.

Akhirnya Gaara memutuskan untuk mendengarkan gumaman-gumaman tak berarah Ino dan menanggapinya, bila Gaara memang bisa menanggapinya.

"Aku benci Orochi-Sensei! Aaarrgh! Dia benar-benar menyebalkan! Bukan hanya karena tugas tidak jelas yang menyiksa ini saja! Dia juga sering memberi kita tugas laknat! Dan Kau tau? Yang paling membuatku kesal adalah saat dia lupa memberi tau kelas kita kalau ada tugas, dan besoknya malah minta dikumpul. Padahal kelas lain sudah diberitahu jauh-jauh hari! Padahal yang salah kan dia! Iya kan Gaara!"

"Ya."

Gaara sedikit lega melihat Ino kembali bersemangat saat mengeluarkan unek-uneknya seperti sekarang. Walaupun terkadang dia harus tersiksa dengan teriakan-teriakan Ino yang entah kenapa kurang digubris penjaga tempat ini, mengingat mereka sedang berada di perpustakaan.

"Dan dia tega sekali menghancurkan rencana liburanku dengan tugasnya yang nista ini!" Ucap Ino semangat, sampai-sampai menggebrak meja. "Untung dia memintamu mengajariku! Kalau tidak, aku bisa benar-benar stress dengan tugas ini dan pasti akan sangat kesepian!"

Hening.

Ah, sepertinya Gaara itu menangkap sinyal ambigu dari kalimat Ino barusan. Ino pun sepertinya juga menyadari hal itu, terlihat dari semburat merah diwajah cantiknya.

Gaara? Untuk kesekian kalinya, dia merasa perutnya bergejolak. Apa akhir-akhir ini dia salah makan ya?

"Ah, Err~," Ino sepertinya ingin mengembalikan suasana yang membuatnya salah tingkah ini. Tapi dia tidak mendapatkan topik pembicaraan yang cocok. "Ah! Gaara.."

"Ya?"

"Aku baru terpikir."

"Hn, kau bisa berfikir?" Tanya Gaara spontan, disusul buku yang melayang ke arahnya.

"Dengarkan dulu!" sungut Ino kesal. "Apa kau tidak merasa lelah belajar terus menerus walaupun seharusnya kita libur?"

"Biasa saja."

"Apa kau tidak merasa terbebani?"

"Tidak."

"Memangnya kau tidak merasa bodoh!"

"Aku cukup pintar untuk diminta mengajarimu, Ino." Jawab Gaara sedikit kesal dengan pertanyaan-pertanyaan tidak bermutu Ino.

"Kenapa kita harus belajar setiap hari? Kenapa tidak 5 kali seminggu saja? Atau bahkan 3 kali seminggu? Atau kalau bisa tidak usah belajar sama sekali?"

"Karena Orochimaru-sensei yang menyuruh."

"Nah! Itu dia!" seru Ino nyaring! Menyadari death glare dari pustakawan, Ino langsung menutup mulutnya. Dia lalu mendekat kearah Gaara dan berbisik. "Padahalkan Orochi tidak mengawasi kita. Tapi kenapa kita tetap patuh dan belajar tiap hari? Lagipula Orochi itu tidak menyuruh kita belajar bareng tiap hari. Tapi kenapa kita malah bertemu setiap hari?" Ino bertanya dengan sangat antusias.

"Itu…" Gaara mengerutkan keningnya. Iya juga sih, ngapain tiap hari capek-capek mengajari cewek berisik ini? Kembali Gaara berusaha menemukan jawaban yang tepat, alasan 'tugas Orochimaru' sepertinya sudah tidak masuk akal sekarang.

Lalu apa jawabannya? Jawaban dari kerajinannya mengajari Ino selama ini? Jawaban dari semangatnya menunggu-nunggu jam janjian mereka? Jawaban dari kesenangannya saat berenang, mengingat dia sangat benci berenang, yang entah kenapa? Alasan kenapa dia mau bersusah-susah, hingga akhir-akhir ini Gaara selalu merasa ada yang salah dengan perut dan jantungnya saat bersama Ino. Apa?

"Apa kau tidak bosan belajar bersamaku terus?" Tanya Ino, dia terlihat begitu antusias menunggu jawaban Gaara yang dari tadi terdiam.

"Tidak."

"EH? Tidak bosan meliat wajahku setiap hari?"

"Tidak. Memangnya kenapa sih? Jadi kamu bosan bersamaku?" Tanya Gaara agak tersinggung.

"Ah? Ti.. Tidak kok!" Ino sedikit takut, baru kali ini Gaara terlihat emosi. "Tidak sama sekali, aku senang kok! Swear deh." Ino membentuk huruf V dengan dua jarinya.

"Lalu kenapa bertanya seperti itu? Kalau bosan bilang saja. Kalau merasa terganggu, tidak suka, atau kalau mau ini semua dihentikan bilang saja langsung. Tidak usah bertele-tele seperti ini!" sentak Gaara kesal. Entah kenapa dia merasa Ino terkekang dengan semua ini. Tapi walaupun benar, bukankah seharusnya Gaara tidak usah peduli, bukankah dia tidak pernah menggubris pendapat orang. Lalu? Kenapa sekarang dia merasa benar-benar kesal?

Menyadari apa yang baru saja dikatakannya, Gaara langsung membereskan barang-barangnya dan pergi meninggalkan Ino.

"Eh, Gaara! Kamu mau kemana! Tunggu!"

Ino yang masih bingung dengan perubahan emosi Gaara, langsung mengejarnya. Untung dia belum mengeluarkan barangnya satupun, dari tadi mereka belum mulai belajar, namun Gaara sudah bersiap sebenarnya.

Ino berlari mengejar Gaara yang juga berlari keluar perpustakaan. Perpustakaan ini tidak jauh dari pusat kota, 5 menit berjalan juga sudah sampai.

'Gaara kenapa sih! Dia marah? Tapi marah kenapa?' Ino resah, baru kali ini dia melihat Gaara marah. Mana marahnya sama dia lagi. Untung hari ini Ino memakai sneaker .

.

#


"Gaara tunggu!" Teriak Ino, dia sudah benar-benar lelah berlari. Entah sudah sampai mana mereka sekarang. Ah, ada warung paman Teuchi, berarti mereka hampir keluar dari pusat kota.

Sudah benar-benar tidak kuat, Ino terduduk lemas di jalan. Gaara yang melihatnya, akhirnya juga berhenti berlari dan malah menghampiri Ino.

"Kau kenapa?" Tanya Gaara. Ada sedikit kekhawatiran disana.

"Ah! Ini semua kan gara-gara kamu! Ngapain pake acara kabur segala!" Teriak Ino pada Gaara. Ino memegang kakinya, sakit. Sepertinya dia keseleo, ternyata sneakersnya tidak membantu banyak mengingat sepatunya itu memang sudah sempit untuk ukuran kaki Ino dan tadi malah dipakinya berlari.

Gaara tidak menghiraukannya. "Masih bisa jalan?" Gaara mencoba membantu Ino berdiri.

"Aau! Sakitt.." Ino terpekik, sial! Sepertinya untuk berjalanpun dia tidak bisa. Tiba-tiba Ino merasa tubuhnya melayang. "Gaara! Turunin!" ah, ternyata Gaara menggangkat tubuhnya.

"Kau tidak bisa berjalankan?"

"Iya sih, tapi aku tidak mau digendong begini!"

"Lalu bagaimana?"

"Aku di belakang."

Gaara menurunkan Ino, lalu berjongkok di depannya. Ino mengalungkan tangannya ke leher Gaara, untuk menumpukan tubuhnya di punggung Gaara.

Mereka berjalan, tanpa arah sebenarnya. Mengingat Ino tidak bilang ingin kemana, dan untuk kembali ke perpustakaan itu pun sudah malas rasanya.

"Gaara…"

"Hn?"

"Aku lapar. Kita cari makan siang ya?" pinta Ino, perutnya mulai berbunyi. Dan benar saja, bahkan Gaara mendengarnya. Oh iya, perut Ino kan bersentuhan langsung dengan punggung Gaara. Gaara menolehkan wajahnya kekanan, menghadap Ino yang wajahnya memerah. Entah karena malu suara perutnya didengar atau karena jarak antara wajahnya dan Gaara yang sangat dekat.

"Mau makan dimana?" bahkan napasnya pun sampai menerpa wajahnya.

"Makan yakinuku saja, tempatnya ada sebelum perpustakaan tadi."

"Oke."

Wajah Ino semakin memerah. Ah, ini memalukan! Ino merasa Mereka sepertinya menjadi pusat perhatian disana. Mungkin orang-orang menganggap aneh melihat ada seorang remaja seperti dirinya digendong. Terlebih si penggendong, Gaara kan keren, pasti banyak yang menatapnya, walau tanpa Ino di punggung pemuda itu. Apalagi sekarang.

Ah, seharusnya Ino minta antar pulang saja tadi.

Ino memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya diantara rambut gaara. Walaupun rambut Gaara pendek dan jelas saja tidak bisa menyembunyikan dirinya, Ino tidak peduli. Yang ada di otaknya sekarang, dia tidak ingin melihat orang-orang menatap aneh padanya.

Tapi sepertinya Ino berpikiran terlalu pendek, orang-orang di pusat kota ini kan sibuk. Tidak ada waktu untuk memperhatikan dua orang itu. Kalaupun ada, mereka hanya menatap kagum pada kegentlean Gaara. Dan yang ada, Ino yang masih belum sadar akan hal itu malah tersedot pikirannya sendiri.

Ino merasa jantungnya mulai berdetak lebih kencang. Wangi tubuh Gaara yang maskulin tercium jelas oleh Ino. Rambut merah pemuda itu menggelitik pipi gadis itu dan terasa sangat halus. Dan yang Ino yakini membuat jantungnya berdebar adalah saat dia menyadari bahwa dia memeluk leher Gaara terlalu kencang hingga membuat wajah Ino bersandar di pundak pemuda itu.

'Apa yang tadi kulakukan! Shiit! Pasti wajahku merah banget sekarang.'

Ino merasa Gaara menghentikan langkahnya padahal Ino yakin mereka belum sampai tujuan. Apa karena kecapekan menggendong Ino? Ah, Ino mulai bertanya-tanya, apakah ejekan Shika bahwa dia gendutan itu benar ya?

Ino mendongakan wajahnya. Dia hanya terdiam melihat pemandangan di depannya. Apakah ini yang membuat Gaara berhenti?

Ada Shikamaru disana. Pemuda berkuncir itu sedang bersama gadis yang juga berambut pirang dengan kuncir empatnya. Mereka terlihat sedang berbelanja bersama, terlihat dari kantong-kantong belanjaan yang sedang Shikamaru serahkan kepada perempuan itu. Tak lama mereka lalu berpisah dan saling melambaikan tangan.

Mata Ino terus mengamati setiap gerakan Shikamaru. Bagaimana cara pemuda itu menyerahkan belanjaan, cara pemuda itu berbicara dengan gadis yang tidak dikenalnya, bagaimana Shikamaru menggerutu lalu tersenyum untuk gadis itu.

Shikamaru terlihat berbeda.

Entah karena Shikamaru memang terlihat lebih lembut atau hanya penglihatan dan penafsiran Ino yang dilebih-lebihkan. Entahlah. Yang pasti Ino merasa ingin menghilang dari tempat itu dan meremove scene tadi dari otaknya.

Shikamaru terlihat berbalik sesaat setelah yakin gadis tadi sudah hilang dari pandangannya.

"Ino.." sapanya, sedikit terkejut melihat Gaara yang tengah menggendong sahabatnya.

"Ha.. Hai Shika.." Senyum, Ino berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum. Dia bisa merasakan matanya mulai perih dan berair. Ah, hari ini terasa benar-benar menyebalkan.

Rasanya sakit melihat Shika bersama gadis lain. Seharusnya Ino tau, seharusnya Ino siap untuk patah hati. Bukankah dia sudah memutuskan untuk memendam rasa ini? Bukankah sudah cukup memandang Shika dari kejauhan? Tapi, ternyata masih sesakit ini ya.. Ino tersenyum kecut memikirkannya.

"Kau kenapa?" Tanya pemuda berkuncir itu, dia menghampiri Ino dan Gaara.

"Ti.. tidak apa. Hanya keseleo sedikit karena jatuh." Jawab Ino cepat, tanpa sadar dia mengeratkan pelukannya di leher Gaara. Dia ingin menjauh dari Shika, jangan sampai dia melihatnya menangis. "Ah, aku mau pergi dengan Gaara dulu. Kami duluan ya Shika." Ino berbisik pelan pada Gaara agar segera pergi dari sana.

"Ino tunggu."

Tanpa menghiraukan panggilan Shikamaru, Ino meminta Gaara agar jangan berhenti. Ah, Ino merasa dirinya benar-benar menyedihkan sekarang.

.

#


Gaara menghentikan gerakan sumpitnya. Matanya kembali memperhatikan Ino yang sedari tadi terus memainkan sumpitnya tidak karuan.

"Kenapa tidak makan?"

"Tidak nafsu.."

Sweatdrop. 'Jawaban macam apa itu!' batin Gaara. Tadi Ino merengek minta makan, lalu saat sampai dia memesan makanan yang sangat banyak, yang Gaara yakini dia tidak akan sanggup menghabiskannya. Dan sekarang si pemesannya malah bilang tidak nafsu makan?

"Kau kesal dengan yang tadi?"

"Sepertinya."

Gaara menghela napas, situasi ini membuatnya lagi-lagi kebingungan. Selama bersama Ino dia sudah disulitkan dengan perubahan emosi dan mood Ino yang mampu berubah drastis dalam waktu singkat. Jelas saja ini membuat Gaara kelabakan bagaimana harus menghadapi gadis berkuncir yang satu ini.

"Aku tidak tau kalau mereka benar-benar berpacaran."

"Mereka?" sepertinya Ino mulai tertarik dengan pernyataan Gaara barusan. "Kau kenal gadis yang bersama Shika tadi."

"Dia Nee-san ku."

"Ha? Kau yakin?"

"Aku tidak mungkin salah melihat Nee-san ku sendiri kan?" balas Gaara datar, sembari melanjutkan acara makannya.

Ino menghentakkan jidatnya pelan ke arah meja. "Aku benar-benar sial!" gumamnya. "Liburan malah dipenuhi tugas. Ditinggal teman-teman yang bersenang-senang. Di rumah bosan tidak ada orang. Kaki keseleo. Sekarang malah patah hati untuk kesekian kalinya."

"Turut berduka."

"Argh! Gaara! Kau ini dingin sekali sih sama seorang cewek! Seharusnya kalau cewek lagi sedih kau hibur dong! Masa kau sama sekali tidak paham perasaan cewek yang lagi patah hati? Kau pasti tau rasanya kan!" sungut Ino kesal.

"Tidak tau."

"Hah! Maksudmu?"

"Aku tidak pernah patah hati Ino."

"Heh," Ino mendengus sinis mendengar pernyataan Gaara, yang lagi-lagi tidak berperasaan. "Tentu saja, siapa sih yang berani menolah Sabaku No Gaara."

Nada bicara Ino barusan sepertinya sedikit mengganggu Gaara. "Aku belum pernah jatuh cinta, kurasa."

"Kau gila. Dasar manusia berhati batu."

"Terima kasih." Gaara memutuskan untuk mengabaikan Ino. Meladeninya saat bad mood benar-benar menyebalkan.

"Baiklah, aku minta maaf. Sepertinya aku terlalu banyak mengeluh hari ini."

Ino mulai makan, ternyata perutnya memang tidak bisa kompromi terlalu lama. Mereka makan dengan sunyi. Ino mulai sungkan dengan Gaara, sepertinya dia sudah telalu banyak membuatnya kesal hari ini.

"Eerr~ Gaara, boleh aku bertanya?"

"Hn?"

"Tadi.. saat di perpustakaan, kenapa kau lari?" Gaara tersedak saat mendengar pertanyaan Ino. "Apa aku membuatmu marah?"

"Enggak sih."

"Lalu kenapa?"

"Itu.. Emm, aku merasa salah bicara. Saat sadar, aku spontan berlari menjauhimu." Semburat merah muncul di wajah putih Gaara. Gaara melirik Ino yang masih mendengarkan dan meminta Gaara melanjutkan alasannya. "Tiba-tiba aku emosi, gak tau kenapa. Sampai bicara yang tidak-tidak."

"Alasan kau kabur?" Tanya Ino, perubahan mimik muka Gaara yang kurang Stoic membuat Ino menikmati pembicaraan kali ini.

"Hanya merasa tidak pantas saja."

"Tidak pantas dalam hal?"

"Kata-kataku saat di perpustakaan itu.." Gaara menggantung kalimatnya lalu melanjutkannya dengan volume yang lebih kecil. "Seperti sedang bertengkar dengan kekasihnya."

"Hmmph!" Ino tidak kuasa menahan tawanya. Ya ampun! Dia tidak pernah membayangkan Gaara memiliki ekspresi seperti tadi. Wajah dinginnya bisa telihat begitu polos, seperti seorang anak kecil yang membuat pengakuan terhadap ibunya. "Ahhahahahaa! Ya Tuhan, Gaara. Dari mana kamu dapat pikiran seperti itu!"

"Kenapa tertawa hah! Bukan salahku kalau tiba-tiba aku merasa de javu saat mengatakannya. Salahkan Kankurou yang merecokiku dengan drama-drama percintaannya dan memaksaku menonton sinema-sinema itu!" Gaara memakan makanannya dengan cepat, seperti sedang berusaha mengacuhkan Ino yang dari tadi terus tertawa.

'Banyak hal tentang Gaara yang belum aku ketahui.' Pikiran itu terlintas dibenak Ino. Ino mencolek pipi Gaara saat pemuda itu masih menyibukkan diri dengan makanannya. Tentu saja dibalas dengan death glare dari pemuda dengan mata gothic itu.

"Sepertinya kau harus merasakan indahnya jatuh cinta Gaara-chan. Hhihii.." Ino terkekeh pelan, cengiran lebar tidak lepas dari wajahnya. Rasanya menyenangkan sekali saat menggoda orang sok cool seperti Gaara.

Gaara yang merasa Ino sudah mulai ceria tanpa sadar tersenyum tipis. Dia memperhatikan wajah Ino yang tertawa. 'Cantik.'

"Sudah bisa tertawa rupanya." Ujar Gaara pelan disela makannya.

Wajah Ino memerah untuk kesekian kalinya, kali ini ditambah rasa hangat yang menjalari hatinya. Terlebih saat melihat senyum Gaara. Tidak bisa dipungkiri Ino, pemuda berambut merah ini benar-benar keren. Wajahnya putih, badannya tegap dan tinggi, rambutnya halus, pembawaannya Stoic dan cool. Orangnya sopan dan pintar. Hanya saja, kepolosannya dalam bergaul sangatlah menyebalkan. Selain itu? Almost perfect!

'Ah, apa sih yang kupkirkan?'

.

.

TBC


Balasan Review yg gak log-in:

YouiChi HiKaRi: Bagus? *blinking* terima kasihhh xD

Yuuaja: Iy, GaaIno memang masih sedikit, tapi bukan berarti mereka tidak cocok. Saia sangat suka pair ini. Terima kasih reviewnya.

Indah Hazel: Terima kasih *bow* Semoga masih mau menunggu update-an Saia yang lama ini. Hhehehee… xp

minami22: Makasih kalau mau menunggu. Saia memang lelet. Hhihihii.. Arigatou :D

lar d'gaara: Baru pertama kali? Tapi sudah mulai ada beberapa fic dengan pair GaaIno. Masih strange sih, tapi bukankah mereka lumayan cocok? ^^ semoga pair ini bisa di terima. Yah, mungkin saja *gak kepikiran sebelumnya* *headbang* Ugh, Saia merasa bodoh. -.-a makasih Reviewnya.

the awesome trio: Yupz. Saia suka banget sama Gaara. Apalagi semenjak dia jadi Kazekage.. x3 Ino juga, tapi sayangnya dia kurang diekspose. Ah? Benarkah dia pintar? *ugh, jadi malu* tapi gakpapa deh. Tuntutan skenario untuk .. Thanks Reviewnya! :D

.


(A/N):

*Pundung* Brrrr.. Ngeri sendiri ngeliat scene waktu makan itu. xO ah, si Gaara OOC gilaaaaa.

Ternyata Saia memang tidak bakat untuk update kilat. -.- Hari-hari Saia dipenuhi tugas & mood yang berbeda-beda. Maklum ya, Siswi ujian. Hhihihii

Ah, pokoknya semoga masih ada yang mau berbaik hati memberikan Saia multivitamin dalam bentuk Review. ^^

Makasih banyak atas reviewnya : Tobito_Uchiha, Light-Sapphire-Chan, Poci Sun, Zheone Quin, vaneela, YouiChi HiKaRi, yuuaja, Ayano Hatake, Indah Hazel, dilia shiraishi, Jee-ya Zettyra, Riztichimaru , alegre541, minami22, lar d'gaara, the awesome trio

Anyway, mind to review?