A Thousand Paper Crane
Cast :
Choi Junhong, Bang Yongguk, Moon Jongup
Other B.A.P member
Rate : T
Genre : Shounen-ai, slice of live, angst
FOREWORD
Choi Junhong baru berusia 14 tahun saat mencoba membolos sekolah untuk pertama kalinya. Semua akan baik-baik saja, Junhong coba meyakinkan diri sendiri saat teman-temannya mulai mendorongnya masuk kedalam bis, Junhong bukan seorang straight A student ataupun murid paling bodoh dikelas. Hanya seorang remaja biasa dengan peringkat rata-rata, tapi Junhong cukup beruntung mempunyai bakat alami sebagai seorang dancer. Genius 14 years old dancing machine. Gelar yang membuatnya dikenal seluruh sekolah, dia popular tapi tetap rendah hati untuk tidak mengakui itu.
Choi Junhong berusia 14 tahun saat ia mencoba pergi keluar kota sendirian dengan teman-temannya untuk pertamakalinya. Setiap remaja melakukan itu. Menghabiskan waktu liburan akhir semester dengan teman dekat. Masih ada jadwal sekolah, tapi mereka pergi lebih awal dari jadwal libur. Semua berjalan lancar. Tapi itu hanya awal. Choi Junhong terjebak dalam situasi paling menyesakkan pertama kalinya saat berusia 14tahun.
Choi Junhong mengalami kecelakaan mobil pertamanya saat usia 14 tahun. Melihat keluar jendela dimenit-menit terakhir Junhong melihat sebuah mobil, berjalan dengan kecepatan tinggi ditengah turunnya salju. Junhong masih ingat segalanya, supir bis membanting setir kesamping untuk menghandari mobil itu. Salju membuat jalanan menjadi licin. Junhong dapat melihat dengan jelas dari tempat duduknya mobil lain datang dengan kecepatan tinggi kemudian tergelincir menabrak bis yang dinaikinya, bersama teman-temannya dan penumpang lain.
Berita cepat menyebar, beberapa jam setelah itu kejadian ini menjadi topic utama di seluruh stasiun TV. Beruntung semua korban selamat dan hanya menyisakan luka yang tidak seberapa parah, supir bis keluar menyelamatkan penumpang terlebih dahulu dengan tangan kanan patah. Parah memang tapi bukan apa-apa jika melihat kerusakan yang terjadi di bagian depan bis. Teman-teman junhong mengalami luka kecil, sialnya Junhong mengalami luka parah dibagian kepala. Mulai hari itu, Choi Junhong 14 tahun, perlahan-lahan muali kehilangan ingatannya.
.
.
Suara siulan kecil keluar dari mulut Yongguk saat ia berjalan santai di sebuah koridor, senyuman kecil terlukis diwajahnya saat ia sampai di ujung koridor. Yongguk menyisir rambutnya dengan jari kemudian tangan lain menyentuh gagang pintu di hadapannya, dia menghela nafas sejenak untuk mempersiapkan diri. Yongguk dapat mendengar suara tawa dari dalam ruangan, tanpa menunggu lebih lama ia membuka pintu dengan wajah sumringah. Dua pasang mata memperhatikannya saat ia perlahan-lahan menutup pintu di belakangnya
"Oi, Yongguk hyung" Jongup menyambut hangat kedatangan Yongguk, berbeda dengan Junhong yang hanya menatap bingung padanya.
"Jadi, bagaimana situasi diluar sana?"
"Masih sangat dingin dan macet seperti biasa." Yongguk meletakkan mantelnya di punggung kursi dan tersenyum pada Junhong. "Hai, Junhong"
Junhong balas tersenyum singkat. Junhong memperhatikan Yongguk dan Junhong secara bergantian, masih dengan tatapan bingung seperti sebelumnya. Jongup berdehem pelan untuk sedikit mencairkan suasana.
"Hey Jellbaby, aku membawakan ini untukmu" Yongguk melambaikan sebuah karangan bunga dihapan Junhong. "Tempat ini terlalu sepi, aku akan mencarikan vas untuk ini" Yongguk meletakkan karangan bunga itu di tempat tidur Junhong kemudian melangkah keluar kamar rumahsakit itu. Senyuman Yongguk terlihat semakin sedih tiap detiknya.
"Bukankah Yongguk hyung senior kita? Kenapa dia bisa ada disini?" Suara Junhong cukup keras sehingga Yongguk masih bisa mendengar walaupun pintu tertutup. Nafas Yongguk mulai tercekat, ia merasa dapat menangis saat itu juga. Tapi Yongguk berusaha untuk kuat ia sudah berjanji pada dirinya sendiri demi Junhong. Sudah dua minggu sejak kecelakaan itu terjadi, keadaan Junhong semakin membaik tapi tidak dengan ingatannya. Yongguk masih ingat, terakhir bertemu dengan Junhong ia tidak bisa mengingat nama orangtuanya sendiri. Itu sekitar tiga hari yang lalu, hanya tiga hari dan Junhong sudah melupakan siapa Yongguk.
Suara pintu yang terbuka menyadarkan Yongguk dari lamunannya, ia memijat batang hidungnya setelah melihat siapa yang keluar dari ruangan. "Dia sudah melupakanku heh?" Jongup hanya bisa memberikan senyum menenangkan untuk Yongguk. "Dia mengalami masa yang sulit, cobalah untuk datang lebih sering" Yongguk tidak menjawab. Yongguk menyayangi Junhong tentu saja, bukan dia tidak mau datang. Yongguk hanya tidak bisa melakukannya, rasanya benar-benar menyakitkan melihat orang yang kau cintai perlahan-lahan mulai melupakanmu. Yongguk sudah mengalaminya, merindukan Junhong padahal mereka sangat dekat. "Junhong membuatkan ini untukmu" Jongup menyerahkan tujuh bangau kertas pada Yongguk.
Yongguk tersenyum saat menerima bangau kertas dari Jongup kemudian menunduk sekilas sebelum pergi meninggalkannya. Yongguk benar-benar berusaha untuk tidak menangis tapi sesampainya diluar, saat udara dingin menyapu permukaan kulitnya Yongguk tidak dapat menahan air matanya lagi. Yongguk membiarkan air matanya mengalir tanpa keraguan. Hanya sekali ini maafkan aku Junhong. Junhong tau tentang keadaan dirinya sendiri, setiap ia mengalami sakit kepala hebat keesokan paginya pasti dia akan terbangun dan melupakan beberapa hal. Junhong tentu saja tidak ingin itu terjadi, maka Junhong menuliskan semua hal yang tidak ingin dia lupakan dan harapannya pada kertas lipat dan melipatnya sebagai bangau. Satu bangau untuk setiap ingatan. Setiap kedatangannya Yongguk selalu mendapat dua atau tiga bangau dari Junhong, dan kali ini tujuh.
.
.
Yongguk mengambil bangau kertas serupa dari laci lemari bajunya dan mengumpulkannya menjadi satu. Total 16 bangau. Sebagian dirinya merasa bahagia karena Junhong benar-benar berusaha untuk tidak melupakannya namun sebagian besar yang lain merasa sedih, menyesal, dan marah. Dia marah karena sisi egois dalam dirinya membenci Junhong yang melupakannya. Dokter Junhong bercerita padanya kalu Junhong masih sangat beruntung, benturan dikepalanya bisa saja membuatnya meninggal. Junhong mungkin atau tidak mungkin akan mengalami trauma dari apa yang ia alami, mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk menyembuhkan Junhong.
'Jangan menangis, Yongguk'
'Aku tidak mati'
'Aku akan sembuh'
'Kita akan pergi bersama lagi nanti'
Yongguk masih terus membaca tulisan pada burung kertas itu dengan wajah penuh air mata, ia terus menangis sampai ia tidak bisa melihat dengan jelas lagi.
'Aku tidak akan melupakanmu Yongguk, aku tidak akan membiarkan diriku melupakanmu'
Dan kalimat di bangau terakhir membuat air mata Yongguk mengalir semakin deras. Yongguk berterimakasih pada Junhong karena dia mau membuat bangau-bangau ini, membuatnya lega setidaknya masih ada Yongguk di ingatannya. Tapi dia juga membencinya, karena semakin banyak Junhong membuat bangau maka semakin banyak hal yang ia lupakan. Ketakutan terbesar Yongguk adalah suatu hari nanti Junhong akan benar-benar berhenti melipat kertas dan melupakan segalanya. Segalanya yang pernah ia alami. Dan segalanya segalanya tentang Yongguk.
