Umbrella X Sword (OkiKagu Drabbles)
by Collaboration of Vongola Sherin & D.N.A. Girlz

Gintama by Sorachi-sensei

We just own this fic, the prompts are from the OkiKagu Event on LINE & FB. The disclaimer belongs back to its own.

Warning: Second chap—NEED SOME LOVE AND FLUFFINESS!

Pairing: Okita X Kagura 4EVER

Rating: T+

Genre (this chapter): Romance/Comedy

Asli dari pemikiran author. Jika iya, itu dikarenakan oleh ketidak sengajaan, mohon dimaklumi. Kalau ada typo, kritik dan saran, tolong bilang ya~

Long Live Gintama Fandom and be creative in any supporting way ^_^

Suka tapi mau review? Yah silahkan review x3

Suka tapi gak mau review? Silahkan Fav~ :D

Gak suka tapi mau review? Ampun jangan flame xC

DLDR! WDGAF LOL

Happy reading guys~


BGM for this Chapter: Mamamoo – Love Lane

.

.

.

Pertemuan akan dua orang yang tidak disengaja sering di sebut-sebut sebagai takdir.

Tapi apakah itu benar?

Apa pertemuan seorang gadis dan seorang pemuda yang saat ini saling berhadapan secara kebetulan bisa dihitung sebagai takdir?

Tidak.

Mereka berdua tidak ingin menganggap pertemuan mereka ini sebagai hal seperti itu.

Kebetulankah?

Mungkin saja iya, ataupun bukan.

Sepertinya seseorang—entah siapa itu—sudah mengatur pertemuan mereka saat ini.

Di depan rumah yang sama, dalam keadaan membawa koper yang berisi barang-barang pribadi mereka.

Sepasang muda mudi tersebut menatap satu sama lain dengan heran sekaligus bingung.

Pertanyaan yang muncul di kepala mereka hanya satu.

Kenapa dia ada disini?

Dalam tanda kutip.

Karena sudah muak dengan acara saling tatap-menatap yang tidak kunjung berakhir, gadis cantik berambut jingga sebahu tersebut berniat untuk membulatkan tekad untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.

"Etto, apa yang kau lakukan disini, Sadist?" tanyanya kepada pemuda bersurai coklat pasir yang masih terdiam menatapnya heran.

"Seharusnya aku yang menanyakan itu, China. Kenapa seorang Kagura yang selalu menghindariku—sekarang muncul di hadapanku dengan sendirinya? Apa kau mengikutiku, heh?" Pemuda itu bertanya balik sambil tersenyum licik mengejek gadis kecil yang sekarang kita ketahui namanya; Kagura.

Mendengar ejekan yang keluar dari mulut pemuda tersebut, Kagura mendengus kesal lalu memalingkan wajahnya.

"Siapa yang sudi mengikuti orang yang kejamnya tidak ketulungan sepertimu. Jangan terlalu percaya diri kau, Okita Sougo. Cih." Kagura membalas dengan decihan kesal.

Seenaknya saja pemuda yang bernama Sougo itu menyamakan dirinya sebagai stalker.

Seorang gadis cantik seperti Kagura tidak mungkin menjadi stalker, bukan? Itu hanya akan menghancurkan reputasi nya sebagai wanita terpopuler di kampus universitasnya.

"Kau sedang apa disini, sadist?" tanyanya sekali lagi.

Kalau Sougo menjawab lagi pertanyaannya dengan ejekan, Kagura yakin dirinya akan memukul wajah sialan itu sekeras mungkin. Untungnya, kali ini dia menjawab dengan benar.

"Aku disini karena Kondo-san memintaku untuk menggantikannya mengikuti suatu acara reality show." jawab Sougo malas sambil menatap ke arah lain.

"Dan kau kenapa ada disini, China?" lanjutnya datar.

Kagura mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya.

'Apa? Jadi aku harus mengikuti reality show ini bersama orang ini? Aku tidak mau!' protesnya dalam hati.

Keringat dingin mulai muncul di pelipis dengan tak elitnya.

"A—… Aku di pinta Anego untuk mengikuti reality show ini juga.." Kagura menjawab terbata-bata sambil menunduk.

Bagaimana riwayatnya nanti kalau semua orang tahu bahwa Kagura tinggal satu atap dengan Sougo? Meskipun itu karena reality show, fakta bahwa dia tinggal bersama lelaki tetap tidak akan berubah.

Sougo memperhatikan gelagat gadis itu sedari tadi hanya menunduk dan terlihat raut panik. Tanpa bertanya pun, pemuda itu bisa mengetahui apa yang ada di pikiran Kagura saat ini.

Kenapa? Karena Sougo pun memikirkan hal yang sama.

Ternyata mereka sepemikiran. Eaaa.

Dia tidak menyangka Kaguralah yang akan menjadi pasangannya di reality show ini. Tentu saja Sougo awalnya sangat terkejut ketika melihat Kagura—orang yang disukainya sejak lama—berdiri di depan rumah yang sudah ditentukan oleh pihak reality show sebagai tempat berlangsungnya acara yang akan dia ikuti.

Sougo dan Kagura sebenarnya sudah mengenal satu sama lain. Sougo adalah salah satu mahasiswa laki-laki terpopuler yang selalu diperebutkan oleh para gadis-gadis genit dan jelalatan; di setiap kemanapun dia pergi dan berada, sementara Kagura adalah gadis tercantik pujaan para kaum adam di kampus mereka.

Untuk sesama orang yang memegang sebutan 'Populer' di kampus, apa mereka akur?

Jawabannya tidak. Tidak sama sekali.

Setiap bertemu—bahkan bertatapan, mereka pasti langsung melaukan haltak terpuji. Mau contoh? Sini~

Seperti beradu mulut, bertengkar, bahkan sering memukul satu sama lain. Hubungan yang sangat buruk bukan?

Sougo yang mulai lelah berdiri menghela nafas panjang. Perlahan, dia genggam tangan Kagura dan menariknya masuk ke dalam rumah setelah melewati pagar.

"O-oi, apa yang kau lakukan, Sadist?!" Kagura tertarik oleh Sougo sampai masuk ke dalam rumah. Jantungnya mendadak berdetak dengan cepat karena tindakan pemuda itu yang menariknya secara tiba-tiba.

"Kita bicarakan semuanya di dalam. Tidak enak kalau di luar, banyak yang memperhatikan kita." ucap Sougo sambil melepaskan genggamannya dari tangan gadis berambut jingga tersebut.

Setelah masuk ke dalam bangunan, yang bersangkutan berjalan menuju ruang tengah lalu duduk di sofa yang terbilang empuk. Kagura mengikutinya dari belakang dan ikut duduk di sofa yang berseberangan dengan Sougo.

Gadis berambut jingga itu mengesampingkan koper yang dia bawa lalu menatap Sougo serius.

"Sadist, jelaskan alasanmu kenapa bisa ada disini." pinta Kagura tanpa basa-basi. Dia berusaha sebisa mungkin agar rasa gugupnya tidak terlihat oleh Sougo.

Kalau pemuda sadis itu mengetahuinya, dia bisa memanfaatkan kesempatan ini dan mengolok-ngolok Kagura.

Dan Kagura tidak ingin itu terjadi.

Yang bersangkutan balas menatap sang empunya serius, namun dia tidak berbicara apa-apa. Dia terus menatap Kagura tanpa berkedip.

Kagura bergidik, dia bisa merasakan tatapan Sougo itu bagaikan tatapan hewan buas yang sedang memperhatikan mangsanya.

"S-sadist, berhenti menatapku seperti itu..." gumam Kagura pelan tapi masih menatap sedikit keheranan.

Mendengar itu, Sougo hanya tertawa kecil lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Ah—maaf, maaf. Habisnya, kau terlihat seperti kelinci yang ketakutan, China." balas Sougo, senyuman terukir di wajah tampannya. "Aku pikir itu adalah hal yang menarik."

BLUSH!

"Be—Berisik kau, Sadist! Y-Yang lebih penting lagi, cepat jelaskan alasanmu mengikuti reality show ini!" Kagura berteriak sambil menggebrak meja.

Perkataan Sougo tidaklah sehat untuk kebaikan jantungnya, maka dari itu Kagura harus mengalihkan pembicaraan.

"Tidak usah terburu-buru begitu, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu."

Sougo membenarkan posisi duduknya dan menatap lurus Kagura. "Aku sudah bilang kan bahwa aku disini karena menggantikan Kondo-san? Nah sebelum itu, kemarin malam dia datang menemuiku tanpa memberiku kabar terlebih dahulu."

.

.

.


FLASHBACK…

Tok Tok Tok!

Suara ketukan pintu malam itu terdengar nyaring di telinga Sougo yang sudah tertidur dari beberapa jam sebelumnya. Dengan mata yang masih tertutup, ia menarik selimut dan bersembunyi di dalamnya, berharap kalau hal itu bisa meredam suara nyaring dari depan pintu.

Namun hal itu berakhir sia-sia. Suara ketukan pintu malah terdengar semakin keras.

Tch. Siapa yang mendatangiku malam-malam begini? pikirnya kesal. Akhirnya, Sougo terpaksa membuka kedua matanya dan turun dari kasur. Dia berjalan dengan malas ke depan pintu masuk, lalu membukakan pintu untuk seseorang yang sudah berani-beraninya mengganggu tidurnya.

"Berhenti mengetuk pintu sekeras itu. Kau pikir sekarang itu jam berap—Kondo-san!"

Sougo terkejut ketika melihat senior terdekatnya di kampus—Kondo Isao—mendatanginya tengah malam seperti ini.

Ada apa sebenarnya? Apa sesuatu hal yang serius terjadi?

"Ohh—Sougo, kau ada di rumah! Syukurlah, aku kira kau tidak ada disini karena lama tidak membuka pintu." ujar Kondo sambil menghela nafas lega dan menggaruk kepalanya yang tak gatal bagaikan gorila. Sougo tersenyum canggung karena sebelumnya dia sudah menganggap Kondo sebagai pengganggu.

"Ah, aku hanya sedang mengerjakan tugas tadi." kata Sougo dengan akal-akalan bulusnya yang dibuat.

"Masuklah, Kondo-san. Aku akan membuatkanmu teh." sambungnya sambil mempersilahkan seniornya untuk masuk ke dalam rumah.

Tanpa menunggu apa-apa lagi, Kondo menutup pintu, berjalan masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah beberapa menit, Sougo kembali dari dapur sambil membawa dua cangkir teh panas untuk mereka berdua.

Sougo menaruh dua gelas teh itu di meja lalu duduk berhadapan dengan Kondo.

"Ada apa kau datang tengah malam seperti ini, Kondo-san? Apa sesuatu terjadi?" tanya Sougo tanpa basa-basi.

"A-Ah, itu… Sebenarnya ada hal yang aku ingin bicarakan denganmu, Sougo. Aku membutuhkan bantuanmu." jawab Kondo serius.

Tidak biasanya Sougo melihat seniornya berbicara seserius begitu.

Apakah memang penting?

"Bantuan? Bantuan apa, Kondo-san?"

"Besok itu—reality show favoritku, akan diadakan di sekitar daerah tempat tinggal kita, Sougo. Aku sangat menyukai program TV itu dan ingin mencoba setidaknya sekali. Aku sudah berniat untuk mengikutinya sendiri—tapi …" dia menggantung kata-katanya, membuat Sougo penasaran.

"tapi apa?"

"Kesehatanku tiba-tiba memburuk—dan aku tidak bisa mengikuti reality show itu. Sebagai gantinya, aku ingin kau untuk menggantikanku, Sougo."

Dahi Sougo mengernyit. Reality Show? Reality Show seperti apa?

"Maaf sebelumnya, Kondo-san. Tapi, reality show seperti apa yang kau maksud? Selain itu—kalau kau sakit, kenapa kau ada disini?" Sougo bertanya dengan penuh kecurigaan. Dia menyipitkan matanya curiga.

Kalau jawaban seniornya itu tidak masuk akal, Sougo tidak akan membantunya.

"Kau tidak usah melakukan apa-apa di reality show itu, Sougo. Kau hanya perlu tinggal serumah bersama seseorang yang sudah ditentukan oleh pihak TV—aku disini karena baru saja pulang dari rumah sakit. Kita tidak ada waktu lagi sampai besok, jadi aku meminta Toshi untuk mengantarku sampai sini." jelas Kondo panjang lebar. Keraguan tidak terdengar dari cara berbicaranya.

Apa dia secinta itu kah dengan reality show itu—sampai dalam keadaan sakit pun dia memaksakan diri untuk datang ke rumah Sougo untuk meminta bantuan darinya?

Sungguh senior yang sangat aneh.

Sougo menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasannya.

"Aku mohon, Sougo. Gantikanlah aku dan ikuti reality show ini." pinta Kondo sambil menundukkan kepalanya.

Melihat seniornya yang sedang sakit memohon di hadapannya, Sougo tidak memiliki pilihan lain selain menerima permintaan Kondo bukan?

Meskipun dia dikenal sebagai pangeran sadist, Sougo tidaklah sekejam itu untuk menolak permintaan dari seniornya yang bahkan sampai menundukkan kepalanya.

Cie, yang kasihan.

"Tidak usah memohon seperti itu, Kondo-san. Aku akan menggantikanmu." ucap Sougo datar sambil meminum teh hangatnya.

Wajah Kondo mendadak menjadi sumringah—lebih ke bahagia. Rencana —maksudnya permintaannya diterima dengan begitu mudahnya oleh yakin perempuan yang dicintainya -Otae- sekaligus orang yang merencanakan reality show itu akan senang jika mendengar hal ini.

"Benarkah, Sougo? Terimakasih! Tenang saja, kau pasti akan menyukai acara TV ini!"

Kondo tersenyum bahagia lalu ikut meminum teh hangatnya sekaligus sampai habis. "Besok aku akan memberikanmu info yang lebih detail. Untuk sekarang, kau siapkanlah barang-barang pribadi yang akan kau gunakan selama dua minggu ke depan—Oh, dan juga… Sepertinya aku harus pulang sekarang. Toshi menungguku di dalam mobil." lanjutnya sambil berdiri.

Sougo mengangguk dan mengantarkan seniornya itu sampai pintu depan. Setelah Kondo pergi, Sougo langsung mempersiapkan semua yang dia butuhkan ke dalam koper.

'Semoga hal ini tidak membosankan.'

Yang mana ia tak tahu—

—bahwaseniornya sedang melakukan mak comblang padanya dengan hal yang tak biasa.

FLASHBACK END


.

.

.

"Hmmm.. Gorila itu menjebakmu, huh? Dia tidak sakit-aru. Tadi sebelum pergi, aku melihatnya bersama Anego." ujar Kagura sambil tersenyum puas dan melanjutkan, "Aku tidak menyangka seorang Okita Sougo bisa ditipu dengan mudahnya. Pfft—"

"Berisik kau, China. Terus kenapa kau juga datang kesini? Kau dijebak juga?"

"Ha! Jangan samakan aku denganmu, Sadist! Aku datang kesini atas keinginanku sendiri-aru. Anego sudah berjanji akan memberiku 10 lusin Sukonbu kalau aku mengikuti reality show ini." Dia menjawab pertanyaan pemuda itu dengan bangga.

Mendengar hal itu, Sougo tertawa terbahak-bahak. Hanya dengan tawaran 10 lusin sukonbu—perempuan cantik di hadapannya itu langsung menerima permintaan orang lain untuk mengikuti reality show?

Betapa bodohnya orang yang dia cintai itu.

Ke—Kenapa kau tertawa, ha?! Apa itu lucu?!" sergah Kagura kesal. Dia menatap lurus Sougo dengan mata safir miliknya.

"Hahahahaha... Bukan apa apa. Aku tau kalau kau itu bodoh—tapi aku tidak menyangka kalau kau akan sebodoh ini,"

Sougo masih terus tertawa. Dia memegang perutnya yang mulai terasa sakit karena tertawa terus menerus.

"Hahaha… Haaa… Sudah lama aku tidak tertawa lepas seperti ini. Dimana harga dirimu, China? Pfft—sepertinya kau akan mengikuti permintaan semua orang asal orang-orang itu memberimu Sukonbu."

"Ap—! Apa kau baru saja bilang kalau aku tidak punya harga diri!?" Kagura melempari Sougo dengan bantal sofa yang ada di dekatnya.

Dia baru menyadari betapa bodohnya dirinya yang sudah tergoda dengan tawaran Otae—dan menerima permintaannya begitu mudahnya.

Sougo benar, dia bodoh.

Wajah Kagura memerah karena malu soalkenyataan tersebut.

Sougo terkekeh sambil menahan serangan bantal Kagura, "Sudah, sudah… Berhentilah melempariku dengan bantal. Kalau kau terus seperti itu, ruangan ini bisa berantakan, bodoh."

Gadis berambut jingga itu akhirnya berhenti dan menunduk malu, tidak berani melihat Sougo dengan memajukan bibirnya beberapa senti.

Lucu sekali dia, pikir Sougo di dalam hati. Mungkin dia bisa memanfaatkan reality show ini untuk menjahili Kagura selama dua minggu penuh?

Ide bagus.

Sougo menyeringai puas, ini kesempatan yang bagus untuk membuat Kagura tersiksa—dalam arti lain tentunya.

Pangeran sadis beraksi lagi. Eng ing eng~

"Tidak ada gunanya kau meratapi nasib, China. Kita sudah terlanjur menerima permintaan mereka. Selama 2 minggu dari sekarang, berusahalah agar kau tidak menggangguku." kata Sougo dengan senyuman licik. Pikirannya sudah penuh dengan rencana-rencana khusus yang akan dia lakukan beberapa hari ke depan.

Pemuda bermata rubi itu beranjak dari sofa, mengelilingi semua ruangan di rumah itu sambil mengingat letak-letak posisi ruangannya.

Hmm…? Aneh. Aneh sekali. Kenapa kamar tidurnya hanya ada satu?

Sougo berpikir begitu sebelu kembali ke ruang tamu dengan ekspresi bingung. Dia menatap Kagura yang sekarang sedang bersantai di sofa sambil mengunyah Sukonbu kesukaannya.

Dia dekati gadis cantik berambut jingga tersebut dan tepuk pundaknya perlahan. Yang bersangkutan sedeikit terkejut langsung menoleh, "Ah—Ada apa, Sadist?"

"China, kamar tidurnya hanya ada satu."

Sougo mengucapkannya dengan ekspresi datar—sedangkan Kagura tersedak sukonbu saking terkejutnya dengan pernyataan Sougo.

"Uhuk! Uhuk!... Ugh, kau tidak berbohong kan?" tanya Kagura sambil menarik baju Sougo—setengah berangkat dari duduknya.

"Kalau tidak percaya ya periksa saja sendi—"

Belum Sougo selesai bicara, Kagura langsung berlari memeriksa semua ruangan.

Dan benar saja, kamarnya hanya ada satu.

Ampas.

"AAAAAHHHHHH! KENAPA?! KENAPA INI TERJADI KEPADAKU?!"

Teriakan nestapa Kagura dari dalam kamar terdengar hingga ke ruang tamu. Sougo menghela nafas panjang dan menghampiri Kagura di kamar.

Kedua kaki Kagura mendadak lemas seraya menjatuhkan diri ke lantai. Aura suram mengelilingi Kagura.

Sungguh, dia menyesal karena sudah menerima permintaan Otae.

Semua ini salah sukonbu. Ya, sukonbu yang harus disalahkan.

Mbak Cina, makanan jangan disalahin. Salahkan kepolosanmu yang ter-bego-kan oleh sang produser laknat.

"Kau berlebihan, China. Oh apa jangan-jangan… Kau belum pernah tidur bersama lelaki?"

BLUSH!

Kagura bergidik, wajahnya tiba-tiba memerah sampai ke telinga.

Tebakan Sougo tepat sekali.

"Heee… Dugaanku benar, hm?"

Sougo tersenyum tipis tapi licik lalu berjalan mendekati Kagura.

Pemuda bersurai coklat pasir itu berjongkok di hadapannya lalu mengangkat dagu Kagura— membuatnya menatap manik safir Kagura lurus.

"Tenang saja. Aku akan mengajarimu, China." ucapnya dengan suara seduktif.

BLUSH!

Kagura bisa merasakan wajahnya seperti terbakar panas. Dia terus memperpendek jarak wajahnya dengan wajah gadis itu, hidung mereka sudah saling bersentuhan.

Kagura menelan ludah, dia refleks memejamkan kedua matanya.

Wajar 'kan kalau Kagura memejamkan matanya? Siapa pun yang berada di posisi Kagura pasti melakukan hal yang sama. Sudah beberapa menit Kagura memejamkan matanya, tapi tidak ada yang terjadi. Karena heran dan penasaran, Kagura pun perlahan-lahan membuka matanya.

Kosong.

Si sadist yang mau menciumnya tadi tidak ada di hadapannya.

Kemana dia? tanya dia dalam hati. Kagura menoleh ke kanan kiri mencari sosok pemuda tampan itu.

Suara tawa sarkastik pun terdengar dari ujung kamar.

"Hehehe… Kau mencariku, China? Kau berpikir aku akan menciummu, hm?"

Sougo yang bersandar di tembok, senyuman kemenangan terukir di wajahnya.

Kagura geram, seenaknya saja orang sadis ini mempermainkan perasaannya.

"Cih, kau bodoh! Siapa juga yang ingin mencium orang sepertimu!" Kagura berjalan mendekati Sougo lalu berdiri di hadapannya.

"Karena kau lelaki dan sebagai hukuman telah menjahiliku, kau tidurlah di sofa. Kamar ini untukku." deklarasi Kagura serius.

"Haa? Aku tidak akan memberikan kamar ini untukmu. Aku akan tidur di sini. Kalau kau tidak mau tidur bersamaku, kau saja yang tidur di sofa." balas Sougo tidak mau mengalah.

"Kau tidak mau mengalah kepada perempuan? Cih, dasar kau memang laki-laki kurang ajar."

"Kau? Perempuan? Hahaha… Jangan bercanda. Dari sisi mana kau bisa dibilang perempuan, hah? Daripada membicarakan hal yang tidak penting seperti ini, lebih baik kau pikirkan mau tidur di kamar ini bersamaku atau tidur di sofa." Balasnya datar dan jengkel.

Kenapa dia bisa menyukai perempuan keras kepala seperti Kagura? Tidak bisa di mengerti.

Ah, cinta.

"Argh.. Oke,oke! Aku akan tidur di kamar ini bersamamu. Tapi ingat—jangan pernah melakukan hal yang aneh aneh."

Sougo tersenyum manis. Dia tidak boleh membuang kesempatan yang sudah ada di depan mata, bukan?

Hehe.. Kita lihat saja nanti, batin Sougo dengan tawa imajiner sang iblis.

Hari itu, Kagura dan Sougo membereskan semua barang barang yang mereka bawa lalu menatanya di kamar. Karena mereka berdua akan tinggal di rumah itu selama dua minggu, mereka harus bisa menganggap kalau rumah itu adalah rumah mereka sendiri.

Setelah semua nya selesai, Kagura dan Sougo menjatuhkan diri ke kasur.

"Ahh… Aku lelah-aru." sahut Kagura sambil membenarkan posisinya di kasur. Dia ingin beristirahat dan tidur.

Sougo juga melakukan hal yang sama, dia membenarkan posisi dan berbaring di samping Kagura.

"Bahkan aku pun lelah." balasnya sambil menatap langit-langit kamar.

Mata mereka berdua tiba tiba terasa berat dan mereka pun tertidur lelap—melupakan fakta bahwa mereka tertidur di kasur yang sama dan juga berdekatan satu sama lain.

Pada akhirnya, mereka ikut bersama pergi kea lam mimpi di tempat tidur yang nyaman dan empuk.

Semenjak itu pun—mereka mulai tinggal bersama.

Dan awal keseharian mereka selalu dipenuhi dengan pertengkaran. Sougo dan Kagura terus beradu mulut—meskipun hal yang mereka debatkan hanyalah hal kecil: seperti siapa giliran mencuci piring, memasak makanan, atau pun mencuci laundry.

Hari ini pun keseharian itu tetap terulang. Mereka sedang berdebat makanan apa yang harus mereka buat untuk makan siang.

"China, jangan bilang kalau ini untuk makan siang kita hari ini? Aku sudah bilang bukan kalau hari ini aku ingin memakan daging!" protes Sougo sambil menunjuk tamagokakegohan yang dibuat Kagura.

"Kau terlalu banyak protes, Sadist. Bisa tidak kau diam saja dan memakan makanan itu seadanya?Keuangan menipis." ujar Kagura sambil bermalas-malasan di sofa.

Sougo mulai geram, dia mendadak emosi. Tumben sekali emosi.

Pikirkan saja—siapa juga yang tidak bosan kalau makan pagi, siang, dan malam setiap dua hari sekali selalu saja Tamagokakegohan.

Perempatan siku-siku muncul di pelipis sang lelaki berkulit langsat tersebut.

"Hei, China. Aku selalu memasakkanmu makanan yang berbeda dan juga enak ketika aku mendapatkan giliran untuk memasak."

"Hmm~~~ Terus?" Kagura menjawab malas.

Perempatan siku-siku muncul lagi lebih besar di pelipisnya.

"Aku heran, kenapa kau hanya membuat Tamagokakegohan. Apa kau tidak bisa masak?" tanya Sougo berusaha untuk tidak emosi.

Sabar adalah kunci menghadapi hidup.

Curcol, mas?

"Tentu saja aku bisa. Tapi untuk apa aku memasakannya untuk orang sepertimu? Aku malas." jawab Kagura dengan santainya.

TWITCH

Pecah sudah batas kesabaran Sougo.

Selamat, Anda mendapatkan hadiah piring cantik karena sudah memuuskan kesabaran Okita Sougo. Pajak ditanggung yang dapat.

Oke lanjut.

Dengan kesal dan bete—dia masuk ke kamar, mengambil jaket, lalu bersiap untuk pergi keluar. "Aku tidak akan memasakkanmu sesuatu lagi. Mulai sekarang, aku akan makan diluar. Kau diamlah disini dan makanlah makanan kesukaanmu itu."

Mendengar itu, Kagura berdiri dari sofa dan berjalan ke arah sang pemuda. "Eeh—Tu-Tunggu dulu, Sadist. Jangan membuat keputusan sepihak begitu."

Menghiraukan omongan Kagura, Sougo berjalan ke pintu masuk sebelum sedikit terkejut—karena ketika membukakan pintu, dua orang yang sangat dia kenal berada di depan rumah-sementara-nya itu.

"Yo, Souichirou-kun." sapa salah satu tamu yang berambut perak.

Kagura yang mendengar suara yang sangat dia kenal langsung menghambur kepada ke depan pintu.

"Ohh! Gin-chan, Toshi, kalian sengaja berkunjung kemari?" tanya Kagura dengan aura berbunga dan bahagia. Akhirnya orang selain mereka berdua datang ke rumah itu.

"Kami hanya ingin melihat perkembangan kalian." balas Gintoki singkat.

Tamu satu lagi yang memiliki rambut hitam berponi huruf V menyahut, "Apa kalian menikmati keseharian kalian di rumah ini, huh? Kondo-san dan Otae sangat senang karena kalian menerima permintaan mereka." sambungnya sambil menghisap rokok.

"Begitulah… Perempuan ini sangat tidak berguna. Disuruh masak saja tidak mau." Keluh Sougo sambil menunjuk Kagura.

"Oi oi, nikmatilah keseharian ini Kagura, Souichirou-kun. Ini kesempatan yang tepat untuk saling mengenal satu sama lain."

Keduanya mengernyit akan ujarannya.

"Kusotenpa ini benar. Ah—hampir lupa, aku membawakan kalian Pizza. Makanlah."

Hijikata memberikan dua kotak Pizza berukuran jumbo ke Kagura.

"Terimakasih, Gin-chan, Toshi! Apa kalian mau masuk dulu? Kita makan Pizza ini bersama-sama."

Hijikata dan Gintoki menggelengkan kepalanya pelan.

"Aku dan Gintoki masih ada urusan dengan dosen di kampus. Kalian berdua bersenang-senanglah. Dah." Hijikata tersenyum kecil lalu pergi bersama Gintoki.

Kagura dan Sougo menatap kepergian tamunya dengan kebingungan. "Mereka kesini hanya untuk memberikan Pizza? Sayang sekali…" celetuk Kagura polos.

Sweatdrop overload.

"Entahlah. Tapi aku beruntung karena tidak harus mengeluarkan uang untuk membeli makanan. Ayo masuk."

Sougo mendorong pelan punggung Kagura agar masuk. Mereka berdua memakan Pizza itu dengan saling bercanda satu sama lain—dan tumbennya tidak bertengkar berebut Pizza.


.

.

.

[Keesokan Harinya...]

Kagura dan Sougo terdiam di ruang tamu sambil menatap langit-langit rumah. Mereka bersandar di sofa bersebelahan. Entah kenapa hari ini mereka tidak ada keinginan untuk beradu mulut. Mungkin karena mereka bosan atau bisa saja karena malas.

Keheningan tercipta di antara mereka berdua.

Canggung. Suasananya sangat canggung sampai dengung nyamuk serta lalat bertengkar saja terdengar samar-samar dari sisi ruangan lain.

Gadis itu perlahan menoleh ke pemuda yang ada di sampingnya. Dia perhatikan wajah Sougo dengan detail dna sembunyi-sembunyi. Mulai dari mata, hidung, alis, pipi—serta upil yang samar tak terlihat karena kegantengannya—dan juga tak lupa dengan aspek tertentu. Bibir tipisnya.

Kini Kagura mengerti kenapa Sougo bisa menjadi salah satu laki-laki populer di kampus. Memang pantas dengan paras begitu.

Merasakan Kagura yang menatapnya terus menerus, Sougo pun ikut menoleh dan menatap balik Kagura dengan berani.

Semburat merah otomatis terlihat di wajah Kagura. Dia berniat untuk memalingkan wajahnya ke arah lain namun pria itu menahannya.

"Hei, China. Apa kau ingat, perkataanku sewaktu di kamar ketika kita pertama kali datang kesini?" tanya Sougo sambil menatap lurus mata Kagura.

"Huh? Sewaktu di kamar?"

Kagura mencoba mengingat-ngingat perkataan yang dimaksud Sougo.

"Tenang saja. Aku akan mengajarimu, China."

Ingatan ketika Sougo mengangkat dagunya dan berbicara seduktif begitu tak biasanya terlintas di kepala Kagura sepersekian detik kemudian.

Seketika wajahnya memerah karena malu.

"A-aku tidak ingat.." jawab Kagura berbohong sambil melirik ke arah lain. Sougo tersenyum usil dan berpindah posisi jadi di atas Kagura—membuat gadis berambut jingga itu gelagapan dan tidak tahu harus berbicara apa.

"Sekarang hari terakhir kita mengikuti reality show ini, China. Kita harus memberikan kesan yang bagus 'kan?"

"A-Apa maksudmu kesan bagus, Sadist... Selain itu wajahmu terlalu dekat! Men—Menjauhlah dariku.." Kagura berusaha mendorong dada Sougo, namun percuma. Tenaga Kagura sebagai perempuan tidak akan bisa mengalahkan tenaga laki-laki.

All hail the power of man.

Sougo menggenggam kedua pergelangan Kagura. Manik rubinya menatap lekat manik safir Kagura. Perlahan-lahan dia mendekatkan wajahnya ke wajahnya yang perlahan memerah.

"Aku bilang, aku ingin memberikan kesan kepadamu kalau kita pernah tinggal serumah." Sougo berbisik pelan di telinga Kagura sebelum menempelkan bibirnya di bibir Kagura.

Dia mencium gadis bermata safir itu dengan gerak lembut, menunggu reaksi Kagura—apakah dia akan menolak, atau membalas ciumannya.

Kagura membelalakkan matanya sesaat—namun dia tidak mendorong Sougo untuk menjauh. Dia memejamkan matanya perlahan, membiarkan Sougo menciumnya. Karena telah memastikan kalau Kagura tidak berontak, Sougo mulai menciumnya dengan ganas dan pnas. Dia lumat bibir bawah Kagura lalu memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kagura. Ciuman panas itu berlangsung lumayan lama—sekitar… Entahlah. Jikalau hasrat untuk menyerang sudah ada, bisa lama urusannya.

Merasakan stok udara sudah mulai menipis, Sougo melepaskan tautan bibir mereka. Benang saliva masih menghubungkan bibir mereka berdua yang bengkak karena ciuman hangat dan panas tersebut.

Kagura terengah-engah dibawah Sougo, wajahnya sudah memerah sepenuhnya karena malu. Posisinya mereka bertumpang tindih dudukan sofa yang empuk.

Ditariknya tubuh Sougo ke dalam pelukan lalu dia berbisik malu, "Kenapa kau melakukan ini…?"

Sougo tersenyum lembut dan membalas pelukan Kagura.

Jawaban yang akan di ucapkan Sougo hanya satu.

Inilah saat yang tepat untuk mengutarakan perasaan yang dia simpan selama ini, bukan?

Dengan membulatkan tekad, Sougo menjawab lembut. "Sudah jelas, bukan? Karena aku mencintaimu, Kagura."

TES

Air mata kebahagiaan lolos dari mata Kagura.

Dia mendengar kata-kata cinta dari pria yang ia sukai juga—walaupun mereka bertengkar, tetapi mereka menyimpan perasaan yang sama.

Akhirnya, pada hari itu juga—pasangan yang awalnya datang karena terpaksa dan juga tertipu, kini saling menyatakan perasaan mereka sesungguhnya.

Mereka habiskan hari terakhir di reality show itu untuk saling merasakan kasih sayang yang selama ini terpendam jauh di dalam hati mereka dengan ciuman dan pelukan hangat dari yang mereka cintai.

Pertemuan dari kedua orang yang tidak disengaja sering di sebut-sebut sebagai takdir.

Apakah betul seperti itu?

Sekarang mereka berdua yakin—

—bahwa takdir mereka adalah untuk bersama satu sama lain.

.

.

.

- END-


.

[BONUS CHAPTER]

.

.

.

Keesokan paginya, Kagura dan Sougo baru mengetahui—kalau di rumah itu terdapat CCTV tersembunyi untuk memantau mereka.

Menyadari bahwa momen kebersamaan mereka kemarin terekam oleh CCTV, Kagura langsung pingsan di tempat—sedangkan Sougo hanya bisa tertawa garing sambil menangkap sang kekasih barunya yang shock.

Mereka sudah mengubah reality show itu menjadi sebuah tayangan live show cinta mereka berdua.

Dan Sougo bersyukur—serta berterima kasih pada Otae serta Kondo untuk kontak comblang yang aneh ini.

Mungkin saja dia akan mengusulkan hal ini untuk menjodohkan Hijikata dengan Gintoki.

Senyum manis Sougo terkembang, membayangkan rencananya akan terlaksana secepatnya.

Astaga.

.

.

.

-REAL END-


Thank you for reading~

===D.N.A. Girlz===

HAIIIIIII~~~ DNAgirlz aka Shinju desu~~~

Maafkan saya yang telat update wkwkwk dikarenakan keluar ke rumah family dan tidak bisa melaksanakannya sambil di perjalanan. Ini sudah saya berikan yang semaksimalmungkin dan semoga anda semua menyukainya!~

Thanks to Shena yang sabar menanti (MAAFKAN SISTA YAK CYIINNN~~LAGI GAGAL FOKUS LMAO)

Sebagai gantinya, ini dia chapternya~ Semoga tidak mengecewakan.

Untuk itu… Nantikan chap ketiga alias Future OkiKagu/5 Years Later ya!~

Thanks for all of your supports and advices for us!~ 3

Dan untuk yang baca, LOVE YOU FULL!~~~

Regards,
D.N.A. Girlz

.

.

.

===Shiroyasha Shena===

Halloooooooo Shena dan Shinju comeback dengan FF OkiKagu Week Day 2.

Jujur kami berdua awalnya tidak tau apa maksud dari Cohabitation yang dijadikan sebagai Prompt OkiKagu Week untuk hari kedua ini. Tapi setelah mencari-cari ke internet dan juga bertanya ke teman-teman yang lainnya, akhirnya kami berdua tau apa itu Cohabitation.

Untuk ff hari kedua ini, kami mengambil inspirasi dari acara reality show korea, We Got Married. Disini aku dan Shinju membuat AU mereka yang berlatar waktu modern alias zaman sekarang.

Biar jelas peran karakter Gintama di ff ini, aku rinci ya~~~

* Kagura = Cewe cantik terpopuler di kampus. Rambutnya diurai sebahu ya.

* Sougo = Cowo idaman para cewe di kampus. Sikapnya selalu dingin dan cuek ke orang lain, kecuali teman-teman terdekatnya. Apalagi Kagura.

* Kondo = Senior terdekat Sougo yang jurusan mata kuliahnya sama dengan Sougo.

* Otae = Kekasih Kondo yang sangat menyukai hubungan Kagura dan Sougo. Kagura sudah menganggapnya sebagai kakaknya sendiri.

* Gintoki = Kakak angkat Kagura. Selalu mendukung apa pun hal yang membuat Kagura bahagia.

* Hijikata = Saudara laki-laki Sougo yang selalu membantu Kondo.

Nah itu rinciannya.

Sebenarnya pikiran aku mendadak blank di akhir akhir cerita, karena itu mungkin alurnya sedikit kecepetan dan tidak nyambung.

Aku serahkan semuanya kepadamu Shinju!

Buat yang udah baca dan review ff kami yang pertama,

Terimakasih yaaaa... Review nya berhasil membuat aku dan Shinju menjadi termotivasi dan bersemangat.

Jangan lupa untuk baca dan review ff kami yang kedua ini... ^^

OKIKAGU LOOOOOOOOVVVVVEEEEEEEE...

Kita bertemu lagi besok yaaaa... Adios~~~~

.

.

.

JANGAN LUPA REVIEW YAK BUAT KRISAR~ THANKS!~

Love,

Shena & Shinju