Beberapa saat yang lalu...
"Kau tetap harus datang."
"Tidak."
"Datang. Harus datang."
"Tidak, kalau begitu kau saja yang datang."
"Datang!"
"Tidak."
"Datang atau kau tidak akan merasakan gaji pertamamu nanti."
"Tid- APA? Kau mengancamku, heh?"
"Itu gampang, Hinata bekerja di bagian keuangan bukan di kantormu?"
"Hei itu curang!"
"Kalau begitu kau harus datang."
Sudut bibir Sakura berkedut menahan kekesalan tiada tara, "Akan kuusahakan datang, pig"
Senyum kemenangan terpancar di wajah cantiknya. "Bagus. Gampang sekali ternyata merayumu Sakura."
Ingin sekali rasanya Sakura memberikan bogem mentahnya ke wajah mengerikan itu. Shit, tanganku telah siap untuk meninjunya. Tapi mau bagaimana lagi, jika ia tidak datang melayang sudah gaji pertamanya yang bahkan belum sempat melintas di pikirannya. Hinata itu berbahaya jika sudah dihasut Ino untuk menjahilinya. Sayang sekali nasibmu Hinataku yang manis karena mengenal penyihir alaska menyeramkan ini.
Sedangkan Ino hanya menatap Sakura dengan menaikan sebelah alisnya karena tidak mendapatkan perlawanan yang berarti.
"Kenapa? Kau sudah pasrah? Itu bagus, lagi pula hanya itu pilihanmu sayang." Ino tertawa dalam hati. Lagipula ini juga ia lakukan demi Sakura sendiri.
"Oh, kurasa aku harus pergi sekarang Sakura. Aku ada janji dengan seseorang. Tak apa jika kutinggal?"
Sakura menganggukan kepala, "Aku akan pulang naik bus. Berhati-hatilah, pig."
Melihat Ino yang sudah mulai menjauh, Sakura segera berjalan menuju halte bis. Entah mengapa angin malam saat ini terasa begitu dingin.
Berjalan di temani dengan keheningan yang sungguh sangat tidak disukainya. Saat tidak sedang memikirkan apapun, terkadang kenangan pahit akan muncul di kepalamu. Itu kelemahannya, ia mengakuinya.
Sebenarnya jika ada yang bertanya apa ia baik-baik saja jawabannya adalah tidak. Atas apa semua terjadi pada dirinya, ini semua begitu menyakitkan. Ia hanya berusaha bertahan untuk orang-orang yang ada di sekitarnya. Orang tua dan sahabat adalah alasan terbesar ia bisa sampai sejauh ini. Cintanya terlah pergi. Cinta yang dipikirnya akan memberikan kebahagiaan malah hanya memberikan luka.
Menghembuskan nafas perlahan serta melanjutkan jalannya, Sakura berhenti sejenak untuk membeli minum di mesin minuman otomatis yang ada di pinggir jalan. Ia butuh butuh minum untuk sedekar menghilangkan rasa kering di tenggorokannya.
"Teme, Dompetmu tertinggal, sialan!"
Hah. Siapa orang waras yang berteriak di tengah jalan begini. Orang-orang zaman sekarang memang kurang didikan tentang kesopanan.
"Cih, cepat lempar bodoh!"
Woa, bahkan yang satunya sampai berdecih. Heh? Tunggu, suara itu terasa tidak asing di telinganya. Sakura menggosok telinganya untuk memastikan sesuatu. Tapi tak terdengar suara teriakan memekakan telinga lagi. Mata emeraldnya memandang ke depan. Ke asal suara yang sepertinya di kenali olehnya. Dan ketemu.
Uchiha Sasuke alias Bos barunya terlihat sedang kesulitan untuk mengambil sebuah dompet di tengah jalan. Itu pasti dompet Bosnya. Sebuah ide terlintas di kepala liciknya. Ini sebuah kesempatan. Oke, rencana siap dilaksanakan.
Dengan senyum terpasang dengan indah di wajah cantiknya, Sakura berjalan menuju ke tengah jalan raya. Ia tak memperdulikan mobil yang melintas di depannya. Ia hanya cukup menghindar agar tak tertabrak, itu mudah.
Mengambil dompet sang Bos yang terlihat sangat sehat, Sakura berjalan santai ke arah Sasuke yang hanya memandangnya dengan tatapan tekejut. Oh ini sungguh langka. Apa ia terkesan karena kabaikanku? Haha bersiaplah dompetku, tak lama lagi kau akan menerima banyak tamu istimewa.
"Sasuke-sama, kupikir dompet ini milikmu." Ucap Sakura dengan menyodorkan dompet coklat sang Bos dihadapannya.
Tak mendapat respon, Sakura memajukan sedikit tubuhnya. "Sasuke-sama? Ini dompetmu kan?" tolong katakan 'ya' karena aku sudah repot mengambil ini di tengah jalan tadi.
Mengedipkan mata beberapa kali, Sasuke tersadar dari rasa terkejutnya karena panggilan Sakura. Ini sungguh memalukan.
"Aa, terima kasih dan maaf merepotkanmu, Haruno-san."
Sakura tersenyum, "Tidak masalah. Kebetulan aku melihat anda sedikit kesulitan tadi. Sakura, anda bisa memanggilku dengan nama kecilku Sasuke-sama."
Sasuke diam memandangi Sakura, "Hn, baiklah Sakura."
Astaga suaranya terdengar sangat sexy. "Kalau begitu, aku pamit duluan Sasuke-sama." Sakura langsung berbalik tanpa menunggu respon Sasuke, ia tau Sasuke adalah tipe irit bicara. Jadi percuma saja ia menunggu Sasuke hanya untuk mendengarnya mengatakan satu kata khas dirinya.
.
.
.
Clek
Membuka pintu apartemen yang sudah beberapa tahun di tempatinya ini, Sasuke melangkah mendekati sofa yang terlihat begitu menggoda. Rasa lelah yang di rasanya ini sungguh mengganggu dirinya. Apalagi setelah ia menginjakan kaki di mansion mewah keluarganya. Apakah bagus menyambut seorang anak setelah pulang kerja dengan berbagai pertanyaan? Menyudutkan dirinya seperti dirinya yang paling cocok untuk di salahkan. Itu bukan sambutan yang baik.
Memilih untuk memejamkan mata sejenak, Sasuke jadi teringat beberapa hal yang terjadi pada dirinya. Urusan perjodohan, bayangan yang muncul di benaknya, dan wanita itu.
Di tinggalkan di hari pernikahan bukanlah perkara yang mudah. Menanggung malu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang selalu membelenggunya. Tanpa alasan, itulah yang membuatnya geram dan akhirnya membenci wanita itu. Jika dari awal dia tidak ingin menikah dengannya kenapa bukan dari jauh-jauh hari dia meninggalkan dirinya? Kenapa harus di hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan untuk dirinya?
Naif memang jika ia berbicara bahwa ia tidak akan sudi dan mau melihat wanita itu lagi.
Tapi apa di kata, hatinya masih sedikit mengharapkan kehadirannya dalam hari-harinya.
Kadang juga ia suka berkhayal kalau dirinya bisa mengucapkan janji sakral di hadapan pendeta dan para tamu dengan seorang yang di cintainya. Mengharapkan sebuah rumah tangga yang membuatnya nyaman. Dan tentu saja mengharapkan kehadiran bayi mungil diantara mereka.
Apakah ia masih bisa mengharapkan semua itu terjadi di kehidupannya?
Dan bayangan yang muncul di kepalanya juga sangat mengganggu dirinya. Ia rasa ia bukanlah seorang cenayang atau paranormal yang bisa memprediksi sesuatu. Apakah ini kekuatan tersembunyi yang telah di wariskan leluhur Uchiha kepada dirinya? Kalau itu benar hidupnya akan terasa sangat konyol sekali.
Sasuke tidak bisa membuat kesimpulan sendiri tentang kejadian ini. Ia butuh teman berbicara. Apakah ia harus menghubungi seseorang yang sekiranya pas untuk diajak berbicara tentang ini? Seseorang yang tidak akan menganggap dirinya gila setelah bercerita panjang lebar.
Naruto.
Hanya Naruto yang cocok untuk menjadi pendengar yang baik untuk dirinya.
Mengambil handphone yang ada di atas meja, Sasuke bersiap untuk menelpon Naruto.
Ting tong ting tong
Seketika itu Sasuke menatap pintu apartemennya dengan sengit. Siapa orang idiot yang berani membuat kerusuhan di apartemennya? Hanya ada dua kemungkinan yang ada di kepalanya. Naruto atau Itachi.
Ia akan bersyukur kalau itu Naruto karena waktunya pas sekali dan ia tidak perlu repot-repot menyuruhnya datang kemari.
Berjalan santai menuju pintu. Dan senyuman kecil berhasil menancap tepat di wajahnya.
"Kebetulan sekali Dode. Ada yang perlu ku bicarakan dengan mu."
"Hah?" Naruto hanya memandang Sasuke bingung. Biasanya Sasuke akan akan menutup pintu apartemennya apabila tau jika ia akan kemari. Niat awalnya kemari adalah untuk sedikit bersantai setelah mengantar Hinata pulang.
Memilih tak ambil pusing, Naruto masuk mendahului pemilik apartemen ini yang bahkan belum sedikitpun bergeser dari posisi awalnya.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Naruto duduk dengan santai di sofa dan menatap Sasuke yang terlihat sedikit jengkel karena ulahnya.
"Kau harus berjanji untuk tidak menyebutku gila setelah kuceritakan ini." Mengambil nafas, Sasuke melirik Naruto yang tengah sibuk mengorek telinganya.
"Apa kau percaya kemampuan mistik seperti cenayang, paranormal atau semacamnya? Awalnya aku berpikir ini hanya kebetulan karena mendengar suara seorang wanita yang tidak ku kenali di dalam kepalaku. Kau tau bukan aku memiliki sekretaris baru? Suaranya sama persis, dan kalimatnya pun sama seperti yang ku dengar di kepalaku. Suara itu, suara sekretaris baruku."
Naruto tidak lagi sibuk dengan kotoran telinganya, ia memilih mendengarkan cerita Sasuke dengan seksama.
"Kupikir hanya sampai di situ. Ketika aku pingsan setelah mabuk aku juga melihatnya. Ini bukan hanya suara, tapi juga gambaran. Walau saat itu wajahnya tidak sempat ku kenali. Tapi itu terjadi. Setelah kau melempar dompetku, ia muncul persis seperti gambaran di kepalaku. Apa kau pikir ini hanya sebuah kebetulan?"
Naruto terlihat tampak berpikir. Ini konyol, "Apa kau yakin? Bisa saja itu terjadi karena kau mabuk bukan?"
Sasuke menatap Naruto aneh, berpikir dan tidak berpikir tidak memberi perubahan untuk Naruto. Ia tetap bodoh.
"Itu bukan karena aku mabuk. Aku yakin 100% Dobe."
Sekarang Naruto yang memandang Sasuke aneh, "Jadi kau percaya kau punya memampuan mistik? Ini bukan kau sekali Teme."
Sasuke melotot memandang Naruto, ini melukai harga dirinya. "Aku tidak percaya pada hal-hal mitos. Tapi yang terjadi padaku ini nyata, sialan."
Naruto hanya ber-oh ria mendengarnya.
"Jadi siapa saja yang sudah pernah kau lihat?"
"Hanya sekretarisku. Haruno Sakura." Ujar Sasuke dengan mimik yang serius.
.
.
Apa salahnya ia bercerita? Tentu tidak salah, tapi sebuah kesalahan kerena orang yang kau ajak bercerita adalah Naruto. Ia bodoh, otaknya dangkal. Walau sebenarnya Naruto adalah orang yang pintar tapi tak jenius. Tapi kali ini Sasuke tak merasa melakukan kesalahan setelah bercerita pada Naruto. Ia mendengarkan dengan baik.
Sasuke menatap langit kamarnya dengan tenang. Naruto sudah pulang dan kini hanya tinggal dirinya seorang. Setelah mendengarkan ceritanya tadi, Naruto menyarankan agar Sasuke segera berkonsultasi pada psikiater untuk menangani kasusnya ini.
Sempat juga Sasuke pikir ia mempunyai kontak batin yang kuat dengan Sakura. Tapi itu sangat tidak mungkin, karena Sasuke baru saja kenal dengan Sakura. Hubungan mereka juga hanya sebatas karyawan dan atasan.
Itu adalah pikiran terkonyol yang pernah ia pikirkan.
Entah sejak kapan pikirannya sekarang hanya dipenuhi dengan kejadian konyol ini. Jujur saja Sasuke sebenarnya bukan tipe manusia yang akan memikirkan hal-hal yang sekiranya tidak penting. Ini memang tidak penting tapi ini mengganggunya. Apakah itu termasuk alasan yang kuat?
Membalikan badan menghadap jendela Sasuke memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur kerena besok ia akan kembali beraktivitas seperti biasanya.
.
.
.
Suara pagi hari terdengar merdu di telinganya. Suara burung saling bersaut, suara ricuh karena aktivitas orang lain. Sakura memandang keluar jendela apartemennya. Ia sudah rapih dengan balutan kemeja kerjanya. Hanya tinggal bersiap untuk sarapan dan berangkat.
Ini adalah salah satu kebiasaan uniknya. Selalu memandang keluar jendela ketika pagi hari. Ini menyenangkan pikirnya. Memandang sang mentari yang perlahan memunculkan dirinya.
Berjalan menuju meja riasnya, Sakura sedikit membenarkan dandanannya. Tidak terlalu mencolok namun terlihat cantik. Sakura tersenyum simpul beberapa saat sebelum senyum manisnya hilang karena melihat nama seseorang yang menelponya dirinya saat ini.
Ibunya.
Tolong katakan ini hanyalah sebuah halusinasi belaka, ia sudah sebulan ini menghindar dari orangtuanya. Ini ia lakukan bukan tanpa alasan, ia hanya tidak ingin ditanyai perihal pernikahannya waktu itu. Kenapa ia membatalkannya.
Orang-orang hanya tau bahwa kegagalan pernikahannya adalah karena dirinya yang tiba-tiba saja ingin membatalkannya. Sejujurnya itu tidak benar, ia hanya terlalu malu pada dirinya sendiri sehingga ia mengatakan bahwa ia ingin membatalkan pernikahannya.
Sakura mencintainya, jadi untuk apa ia membatalkannya? Itu tidak masuk akal.
Tanpa terasa ia kembali menangis.
Ia benci menjadi lemah. Tapi ia sadar ia tidak bisa melawan rasa sakit ini. Miris memang.
Menghapus air matanya dan mengambil nafas berat. Dengan mantap Sakura mengangkat panggilan dari sang Ibu. Sakura sadar ia tidak bisa terus menghidar.
"Ada a-"
"Jangan menghindar lagi, sudah saatnya kita berbicara." mulutya masih ternganga, karena ucapannya yang terpotong oleh sang Ibu.
Menghela nafas pasrah dengan kepala tertunduk, Ibunya benar.
"Hari ini aku bekerja, Bu."
Dan Sakura yakin Ibunya pasti sedang memutar kedua bola matanya. Ini bukan sebuah alasan untuk dirinya melarikan diri lagi. Ini adalah sebuah fakta. Sakura sudah mendapat pekerjaan baru, dan ia harus bekerja.
Samar-samar Sakura mendengar suara helaan nafas, itu Ibunya. "Kalau begitu saat jam makan siang. Tidak ada alasan untuk tidak datang bagimu."
"Waktu istirahatku hanya sebentar." Tanpa sadar Sakura menggenggam erat telapak tangannya.
Hening. Ibunya tidak menyautinya lagi. Sakura tau dia sudah membuat orangtuanya kecewa padanya, ia akan memberitahukan alasan sebenarnya tapi tidak untuk saat ini.
Maafkan aku.
Ini adalah tindakan yang sulit baginya karena ia tidak biasa berbohong.
"Hanya sebentar. Ibu mohon, Saki. Mari kita bicara." Mohon sang Ibu dengan suara lirih.
Matanya berkaca-kaca. Anak macam apa yang membuat Ibunya sampai memohon pada anaknya? Sakura bahkan lebih dari sekedar anak durhaka.
"Baiklah. Saat jam makan siang kita bicara. Bagiaman jika di restoran Italia dekat kantorku? Itu tempat yang bagus."
"Tentukan sesukamu. Kali ini kau harus benar datang, jangan buat Ibu kecewa lagi. " sambungan terputus secara sepihak. Ia tidak mempermasalahkan ini. Tapi entah mengapa hatinya menjadi gundah.
Yang di inginkannya saat ini hanya satu, keberanian. Sakura butuh itu untuk bisa jujur. Tolong biarkan kali ini ia jujur, ia lelah berbohong.
Sakura menatap bayangan dirinya di cermin. Matanya sendu. Ia terlihat menyedihkan.
.
.
.
Sakura berjalan cepat, ia sedikit terlambat hari ini. Walau hanya terlambat 5 menit itu akan tetap menjadi masalah. Apalagi ini adalah hari keduanya bekerja di sini. Selamat atas keterlambatanmu.
"Oh, Hai Sakura. Terlambat di hari keduamu bekerja?" sindir Tayuya yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Ia sudah mengenal beberapa orang disini. Mereka semua baik. Kecuali geng Karin. Ia sangat tidak menyukainya. Walau mereka bekerja dengan baik, tapi kelakuan mereka seenaknya. Mereka sangat suka bergosip sesuatu yang sangat tidak penting sekalipun. Menyebarkan rumor buruk tentang salah satu karyawan kantor. Mungkin hanya karena kinerja kerja mereka yang baik mereka masih tetap bertahan di sini. Dan Tayuya termasuk ke dalam geng Karin.
Sakura tersenyum menaggapi, "Halo Tayuya. Terlambat di hari kedua tidak buruk juga."
Tayuya terlihat merenggut kesal, apa karena ia melawan? Ini akan lebih menyenangkan apabila mereka sampai saling menjambak rambut.
Tapi karena Sakura cinta damai, itu tidak akan terjadi. Sakura tidak suka menjadi pemulai dalam perkelahian. Lebih baik orang lain yang memulai dan ia akan menyahut.
Dengan langkah anggun Sakura berjalan menuju lift melewati Tayuya, heh rasakan.
Saat hendak memasuki lift Sakura terkejut melihat pria dengan kulit tan dan berambut kuning cerah sedang menatapnya. Ia tidak merasa pernah melihat pria ini, apa pria ini termasuk orang penting? Haruskah ia membungkuk hormat?
Mengangkat bahu acuh Sakura memilih bersikap biasa saja. Mungkin karyawan baru pikirnya.
Sedangkan pria yang dimaksud hanya diam sambil mencuri pandang pada wanita berambut merah muda di sampingnya. Senyumnya mengembang saat matanya melihat kartu pengenal yang di gantung di lehernya.
Haruno Sakura. Target terkunci.
Sebenarnya niatnya datang kesini adalah ingin melihat wanita yang dimaksud oleh Sasuke. Jujur saja, Naruto merasa tertarik dengan kasus Sasuke kali ini. Sangat tertarik.
Entah Sasuke menganggapnya sebagai kesialan atau sebaliknya, menurut Naruto itu adalah anugrah yang di berikan oleh Tuhan untuknya. Untuk segala penderitaan yang Sasuke alami. Naruto yakin ini bukanlah suatu hal yang akan menjadi sia-sia, pasti ada maksud tertentu di baliknya.
Sebagai teman tentu saja ia ingin Sasuke bahagia.
Cintanya telah hilang. Maka kali biarlah cinta baru yang menghapirinya.
Ting
Pintu lift terbuka dan Sakura memilih untuk segera keluar. Ia bahkan sempat melupakan fakta bahwa ia terlambat hari ini. Berjalan menuju meja kerjanya, Sakura langsung di sibukan oleh para tugas yang sudah menantinya.
Sementara Naruto berjalan memasuki pintu yang berada tepat di samping meja Sakura tanpa Sakura sadari.
"Yo, Teme!" sapa Naruto dengan suara girang. Kenapa ia terlihat girang?
Sasuke mendelikan mata menatap Naruto. "Apa tanganmu tidak mengerti caranya mengetuk pintu?"
Berjalan kearah sofa yang ada di ruangannya, Naruto merebahkan dirinya.
"Jadi dia orangnya?" tanya Naruto.
Menaikan satu alisnya Sasuke memandang Naruto bingung, "Siapa?"
"Wanita yang kemarin kau ceritakan, sekretarismu."
Sasuke diam sejenak. Jadi Naruto hanya ingin melihat sekretarisnya?
"Kurasa dia wanita yang baik." Gumam Naruto seraya menolehkan kepala pirangnya pada Sasuke.
Mata onyxnya menatap Naruto, "Kau tertarik dengannya?"
Naruto mendengus, yang benar saja. "Kenapa kau tidak mencoba berkencan dengannya? Dia bahkan sangat cantik, sebagai lelaki kau harusnya tertarik."
Onyxnya menatap tajam Naruto, ia tak suka arah pembicaraan ini.
"Aku tidak tertarik," jawab Sasuke pelan.
Mengubah posisinya menjadi duduk Naruto berkata, "Kau harus mulai membuka hatimu kembali. Sudah cukup lama kau menutup hatimu Sasuke."
Sasuke mendengus menahan tawa, menyeringai menatap Naruto yang sudah berdiri di hadapannya. "Kalau pun bisa aku pasti sudah melakukannya. Sayang sekali saat ini aku belum bisa melakukannya, Dode."
Sasuke mengutuk dirinya dalam hati, kenapa ia jadi lebih terbuka seperti ini? Bahkan Sasuke yakin saat ini Naruto melihat onyxnya yang sedikit menyendu. Persetanan.
"Cobalah. Sudahku bilang untuk ke Psikiater bukan? Tak perlu ku jelaskan. Kau cerdas, kau tau maksud semua ini kan? Ini tidak akan jadi sesuatu yang tidak berarti." Jelas Naruto.
Sasuke diam tak menjawab lagi. Apa yang bisa ia lakukan? Takdir sedang mempermainkannya. Ia hanya bisa menunggu sampai semua ini berakhir.
Satu tangannya ia taruh di kepala. Memijat pelan agar rasa peningnya hilang. Naruto sudah keluar beberapa saat yang lalu dari ruangannya. Ia tidak peduli.
Mata hitamnya bergulir ke samping, membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah figur. Menatap figur seorang wanita yang telah hampir satu tahun ini pergi dari hidupnya. Ia bodoh karena masih menyimpan figurnya.
Genggamannya mengerat, dan dengan sekejap Sasuke membanting figur tersebut ke lantai.
Hancur.
Pecahan kaca yang berserakan, Sasuke mengambil foto yang tergeletak menyedihkan.
Memandang sejenak sebelum meremukannya.
Dan membakarnya.
.
.
.
Mata emeraldnya terfokus pada objek di depannya. Kesepuluh jemari lentiknya bergerak lincah di atas deretan abjad. Rambut merah mudanya bergoyang seirama dengan gerakan kepalanya. Tak sadar jika waktu istirahat makan siang semakin dekat. Waktu yang di hindari olehnya untuk kali ini saja.
Oke tugasnya tinggal sedikit lagi terselesaikan.
Melirik arloji miliknya, dalam sekejap Sakura merasa panik. Waktunya tidak banyak lagi. Tidak, ia bukan mau mati atau semacamnya.
Berdoa dalam hati semoga saja ada keajaiban yang datang padanya. Sakura tidak berharap sesuatu yang muluk-muluk, ia hanya ingin ada seseorang yang datang dan membawanya pergi untuk hari ini saja. Hanya sampai besok pikirnya.
Tapi itu hanya khayalannya semata.
Sakura sudah berjanji tidak akan melarikan diri lagi.
Tapi tidak dengan kejujuran, ia belum bisa menjanjikan itu.
Mengambil ponsel miliknya, Sakura mulai menulis sesuatu di sana. Tenang saja, ini bukanlah sebuah wasiat. Ini hanya pesan singkat untuk Hinata. Ia tidak bisa makan siang bersama untuk kali ini, jadi ia mengirim pesan karena tidak mau nantinya Hinata akan mencari dirinya keliling kantor yang sangat luas ini. Itu bisa menghabiskan banyak waktu dan tenaga.
Sakura berjalan menuju restoran yang menjadi tujuannya, tidak perlu menaiki kendaraan karena jaraknya yang dekat dengan kantor tempatnya bekerja.
Ini akan menjadi hari yang panjang, pikirnya.
Memesan tempat duduk yang berada di dekat jendela dan tentu saja strategis untuknya. Sakura yakin akan terjadi perdebatan yang alot antara dirinya dan Ibunya. Tidak perlu khawatir tentang Ayahnya karena sang Ibu akan berbicara bertubi-tubi tanpa berhenti. Tidak ada kesempatan untuk Ayahnya berbiacara.
Kurang lebih selama sepuluh menit menunggu, orangtunya datang. Tak sulit bagi mereka untuk menemukan dirinya. Hanya dengan menyedarkan pandangan matamu dan carilah warna pink. Itu pasti dirinya.
Tanpa adanya sapaan atau sekedar basa-basi Haruno Mebuki langsung duduk di tempatnya diikuti oleh sang suami Haruno Kizashi.
Mebuki menatap Sakura dengan pandangan sendu. Ia Ibunya tapi ia tidak mengetahui apa yang di rasakan oleh putrinya sendiri. Mebuki sudah bersabar dengan membiarkan Sakura menenangkan dirinya, ia tau ini pasti sulit untuk Sakura. Sebulan waktu yang diberikan olehnya. Sudah saatnya ia bertindak tegas untuk mengakhiri ini semua.
Berharap Sakura akan bercerita dan menangis di pelukannya, menumpahkan semua bebannya. Tapi sayang, putrinya sangat keras kepala.
"Sakura, putriku. Sudah la-" ucapan Mebuki terpotong karena pelayan datang membawa pesanannya. Sakura sudah memesan menu spesial sebelumnya.
Terimakasih tuan pelayan, di mataku kau sungguh bersinar saat ini. Pikir Sakura dalam hati.
"Kita makan siang dulu. Setelah itu kita lanjutkan, Ibu." Sakura tersenyum memandang Ibu dan Ayahnya. Sudah lama rasanya ia tidak makan bersama seperti ini.
Seperti biasa, mereka makan dalam keheningan. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu. Tapi sesekali Ayahnya melontarkan candaan yang menurutnya konyol untuk mengisi keheningan di antara mereka.
Sial, Ibunya sudah selesai makan.
Mebuki berdehem, "Jadi apa yang akan kau jelaskan untuk ini, Sakura?" matanya mendelik menatap Sakura.
Demi Tuhan bahkan daging yang ada di mulut saja belum sempat ia telan.
Sekarang, apa yang harus ia jawab?
Meneruskan sandiwara ini?
Mata emerald menatap ke depan, "Aku sudah mengatakannya. Aku membatalkan pernikahan dengan Gaara seminggu sebelumnya."
Mebuki menatap Sakura tajam, "Kau su-" ucapannya terpotong karena Sakura langsung menyela.
"Kami sudah berjuang sepanjang waktu merencanakan pernikahan kami. Tapi nyatanya tidak berjalan lancar." Diam sejenak untuk sekedar menelan makanannya, Sakura lanjut berbicara. "Kami sudah saling melihat sisi sifat kami yang belum pernah di tunjukan. Dan kami tidak ingin menikah. Aku tidak akan menikahinya."
Cukup. Emosinya sudah sampai batas terendahnya. Mebuki berdiri dan menggebrak meja mereka. "Apa yang kau bicarakan? Hanya karena itu kau membatalkan pernikahanmu? Apa kau bercanda? Kau sudah gila!" nafasnya memburu menandakan emosinya yang sedang meledak.
"Dengerkan Ibu, setiap pasangan sudah biasa bertengkar sambil mempermasalahkan pernikahan! Demi Tuhan Sakura, kau benar-benar sudah gila." Memegang kepalanya yang terasa berdenyut, Mebuki duduk kembali dan menyandarkan dirinya di bangku.
"Gila.. Gila.." gumam Mebuki.
Kizashi memandang sendu Sakura. Ingin rasanya ia memeluk Sakura, tapi sekarang ia sedang bersusah payah menenangkan istrinya. Ia merasa gagal menjadi seorang Ayah yang dapat menjadi sandaran untuk putrinya.
Sakura hanya menundukan kepalanya, gila memang. Tapi bukan Sakura, Gaaralah yang gila dengan alasan tak masuk akalnya.
"Maafkan aku." Lirih Sakura.
Misinya sukses. Ia kembali berbohong.
.
.
.
Sementara itu di kantor, jam makan siang sudah lewat. Sasuke kembali di sibukan oleh tumpukan tugas yang sudah menantinya.
Brak!
Pria bermasker masuk dengan terburu-buru dan tanpa sengaja ia membanting pintu ruangan atasannya.
"Oh, maaf untuk itu." Ucapnya dengan telunjuk yang menunjuk pada pintu.
Membuang nafas dan memandang pria di depannya, "Apa ada hal yang penting, Kakashi?"
Mata hitam pria yang disebutkan tadi menajam dan serius.
"Kau harus baca ini." Perintahnya serta menyerahkan map coklat yang entah apa yang ada di dalamnya.
"Katakan saja langsung."
Memejamkan mata sejenak dan kembali menatap atasannya, Kakashi menghela nafas. Ini sesuatu yang pasti berat untuk Sasuke. Tapi ia harus tetap menyampaikannya.
"Sabaku Gaara tidak memiliki hubungan khusus dengan Miko Shion, mereka bersahabat. Dan yang akan menikah dengan Sabaku Gaara adalah..
Haruno Sakura."
Menahan nafas, Sasuke menatap Kakashi dengan terkejut. Matanya melebar setelah mendengar pernyataan Kakashi. Untuk saat ini ia tidak memperdulikan harga dirinya. Rasa bersalah menguasai dirinya.
"Kau bercanda?!"
.
.
.
TBC
Uwaaaa, halo readers maaf banget telat update. Banyak tugas yang harus dikerjain hiks..
Untuk tulisan yang masih acak acakan dan typo dimana-mana tolong di maapin yaaa.
Btw lupa nyantumin hehe, ini tuh idenya aku dpt dari drakor yang aku tonton*pecinta drakor yuhuu* ternyata ada yg bisa nebak juga yaaa wah sama2 suka oppa;)
Terimakasih buat dukungannya yaaa para readers semuanya.
Syalanaegino: Udah di lanjut ya cintaaaa.
Yuuzuhan: Udah di lanjut yaaa.
DanielleKang: Aseq di komen Kang Daniel, terhura aq. Hiks bias gue;( btw ini aku uda update yaaa, aku usahain bakal sampe tamat ko. Tapi gajanji update kilat yaa.
Qaunitaar: cia makasi udah ditunggu, dah update loh..
UchiHarunoKid: aw sa ae kamu.
Uchiha Nazura: Udah lanjut yaa.
Leader Kimmi: YAK SELAMAT! Kamu yang pertama bisa nebak loh... hehe btw sedih yak dramanya;((
Sqchn: hiks.. makasih aku terhura baca komen kamu, btw uda aku up yaa.
Luhputusetia.p: uda up yaa.
290418
