chapter 2
Sweety Boy
Naruto by Masashi Khisimoto
Pairing : NaruHina
.
.
I'm going crazy because of you. Why you tryin playing games with me?
(Sistar19 ~ Ma Boy)
.
.
Sepanjang yang bisa ku ingat, selama 17 tahun aku hidup belum pernah aku merasa segila ini. Seolah seseorang tengah memutar tempat kepala dan kakiku, meletakkan kepala di bawah dan kaki di atas.
Ini semua ku rasakan sejak seseorang bernama Uzumaki Naruto hadir di hidupku. Dengan tanpa aba-aba menyatakan cinta padaku setelah aku menolongnya dari Sasori yang berusaha mendorongnya supaya terjun ke selokan. Dan dengan tanpa aba-aba pula aku menerimanya, akh... gila kan?
Kau pikir sebelumnya aku mengenal anak itu? Tidak. Sama sekali tidak, tapi dia berkata bahwa dia mengenalku, sangat baik malahan. Hingga tahu detail terkecil kegiatan yang biasa ku lakukan di sekolah.
Tapi demi Tuhan, Naruto itu pemuda yang aneh. Sangat-sangat aneh hingga aku pikir, aku memiliki pacar seorang pemuda sinting yang mungkin saja baru kabur dari rumah sakit jiwa. Dan otakku pun ikut miring, kenapa aku tidak jatuh cinta pada Uchiha Sasuke yang tampan menawan, dan lagi... dia seorang kapten tim voli. Atau Gaara, si cuek yang cool, dan begitu lincah memainkan bola basket di lapangan. Atau lagi Kiba, si kapten sepak bola yang membuat para gadis berteriak histeris tiap kali dia tersenyum.
Hhhh... sumpah, aku sendiri tidak tahu, apa yang membuatku jatuh cinta pada Naruto, yang notabene adalah murid tanpa bakat dan... aneh.
.
.
Siang itu, aku menghabiskan acara istirahat bersama Naruto. Memesan ramen dan 2 gelas jus alpukat. Aku heran kenapa Naruto ikut membeli ramen, padahal jelas-jelas ia membawa kotak makan, dan tentu saja ada makanan di dalam sana yang ia bawa dari rumah.
"Kau tidak makan, Hinata?" Tanyanya, mungkin sadar ketika aku hanya diam memandangi kotak makan merah mudanya tersebut.
"Bagaimana mungkin kau memesan ramen, sementara masakan ibumu sudah tinggal makan saja." Dia boros sekali.
Naruto mendecak. "Ibu memasukkan roti isi keju ke dalam kotak makan itu. Dan aku benci keju."
Aku mengernyit? Memangnya keju pernah berbuat salah padanya? Oh... makanan yang satu itu memiliki cita rasa yang luar biasa. "Kenapa?"
"Aroma keju itu aneh. Seperti kotoran burung." Seolah mengatakan hal ringan itu tak ubahnya menyumpalkan sepotong batu ke tenggorokan, Naruto kelihatan enggan sekali.
Tentu saja aku terkejut dengan pernyataannya, sekaligus ingin tertawa keras sekali. Sebab, otot-otot di perutku rasanya begitu kaku dan tak kuat untuk menahan tawa. "Ya Tuhan... bagaimana kau bisa beropini begitu?" Namun, pada akhirnya aku tetap menahan tawa. Tak ingin Naruto merasa kecewa karena tingkahku.
Dia mengedikkan bahu, kembali memakan ramennya dan menganggap pertanyaanku hanya sebuah angin lewat.
"Aku bawa ke mari, karena ku pikir kau pasti mau."
Ya, aku pasti mau. Aku suka keju, dan aroma keju tidak seperti kotoran burung. Tapi, bukan ide bagus kelihatannya memakan roti isi keju setelah menghabiskan ramen pesananku, perutku bisa meledak nanti. "Biar ku makan usai sekolah saja."
Dan wajah Naruto menunjukkan seringaian konyolnya, dia lebih mirip bocah idiot yang IQ nya tidak lebih dari 50.
.
.
Naruto suka sekali bercerita, entah itu tentang sapi tetangganya yang mendadak kabur dari rumah. Anjing si nenek tua di ujung gang yang suka menyalakinya ketika ia lewat atau tentang betapa mengerikannya sang ibu. Yang dia maksud, bukanlah mengerikan dari sisi suka memukul atau begitu sadis dalam berkata-kata. Tapi mengerikan dalam hal memanjakannya. Naruto bilang ibunya begitu menginginkan anak perempuan, dan kenyataan menyakitkan adalah ia lahir sebagai laki-laki.
Si pirang jabrik itu masih ingat bagaimana sang ibu rela berlama-lama berkutat dengan dirinya semasa kecil, hanya karena ingin mendandaninya layaknya anak perempuan. Tak cukup sampai disitu, wanita itu juga akan mengambil gambarnya. Dan demi Tuhan, Naruto lebih banyak menemukan foto kecilnya dalam balutan gaun-gaun aneh yang menjijikan, daripada kaos dan rompi mungil khas pemuda cilik.
Mau bilang benci, tapi tidak bisa. Ibunya adalah wanita nomor satu yang dia cintai.
"Lalu... nomor 2 nya adalah kau." Itu yang pernah ia katakan padaku.
Terlepas dari sifatnya yang nyeleneh dan menjijikan. Naruto tetaplah Naruto dan aku tak bisa berhenti mencintainya. Mungkin aku memang sudah tidak waras, tapi siapa yang peduli? Selama aku bisa merasa bahagia bersama Naruto, ku rasa julukan sinting pun tidak masalah bagiku.
.
.
"Langitnya biru ya."
Sumpah, aku benci sekali ketika kalimat-kalimat itu meluncur dari bibir Naruto. Dia sudah melafalkannya sebanyak 5 kali. Dan... ayolah, langit itu tidak akan berubah hijau hanya karena ia terus-menerus bilang 'langitnya biru'.
Kali ini, aku dan Naruto baru saja pulang sekolah. Anak itu terus saja bercerita mengenai Spongebob dan patrick, seolah di usianya yang sudah bukan lagi anak-anak hal tersebut masih menyenangkan untuk ditonton.
Tapi ya... berapa kalipun aku bilang padanya jika aku tidak suka spongebob, dia akan terus berceloteh begitu.
"Kenapa ya Patrick begitu bodoh, aku kasihan pada spongebob."
Aku memutar bola mataku, jengkel. "Demi Tuhan, Naruto. Kau seharusnya tidak membicarakan film itu. Berhenti melihat hal-hal konyol yang mereka lakukan."
Reaksinya membuatku nyaris melotot, dia malah tertawa, seolah kalimatku barusan adalah hal yang patut untuk ditertawakan.
"Itu tidak lucu, tahu."
Melihat reaksi marahku dia akhirnya diam. Baguslah, setidaknya suaranya yang terkadang mengganggu tidak berlebihan terekam dalam memoriku. "Kau harusnya menjadi pria romantis seperti Gaara." Hari ini entah kenapa emosiku menjadi tak stabil, dan aku sendiri bingung kenapa bisa menjadi seseorang sesensitif ini.
"Gaara? Memang apa yang dia lakukan?" Ekspresi bingungnya membuatku tak habis pikir, pasalnya nyaris seluruh gadis di sekolah tak henti-hentinya menggaungkan nama Gaara sebagai pria romantis sepanjang masa. Dan dia tidak tahu itu? Oh... ini konyol. Apa Naruto tidak memiliki telinga hingga tak mendengar kabar itu?
Naruto tetap saja Naruto, pria dengan ketololan yang luar biasa mengerikan. Dan aku tidak pernah mengerti kenapa masih setia menjadi pacarnya, yang ku pikir... kelewat sabar menghadapinya. "Kemarin dia nembak Matsuri di kafe dekat toko bunga. Dia membacakan puisi yang begitu romantis. Ya... andai aku bisa mendapatkan sesuatu seperti itu." Sejujurnya, diam-diam aku berharap bahwa Naruto akan berubah menjadi pria yang peka dan romantis. Tapi... ugh... itu mustahil.
Pemuda itu diam. Tak melontarkan kalimat apapun. Apa yang dia pikirkan? Dia tidak sedang sakit hati karena ucapanku kan?
.
.
Kelasku baru saja selesai dengan kegiatan olah raga, yang... menurutku benar-benar menjemukan. Olah raga hanya akan membuat tubuh lelah, dan aku tidak suka berada dalam keadaan lelah.
Aku tengah duduk di tepi lapangan bersama Sakura dan Ino, yang tidak berhenti bersorak untuk menyemangati Kiba. Mereka membuatku senewen dengan teriakan-teriakan memuakkan itu. Berlebihan sekali sih. Lagipula tanpa berteriak seheboh itu semua siswa juga tahu jika Kiba inuzuka hanya milik Ino seorang. Oke, lupakan, karena ketidak hadiran seseorang lebih menyita perhatianku. Kemana Naruto?
Aku beberapa kali mengedarkan pandangan. Mencari sosok Naruto yang biasanya sudah muncul di hadapanku ketika acara istirahat tiba. Tidak berada di satu kelas membuat kami kadang tak bisa bertemu dengan mudah, dan itu menyebalkan.
Baru saja hendak berdiri dari tempat itu dan menuju kelas untuk mengambil ponsel. Pengeras suara sekolah tiba-tiba berbunyi. Pengumuman apa yang kiranya akan disampaikan si pembicara ini? Bahkan suara 'nging' nyaring yang memekakkan telinga mampu menghentikan acara sepak bola yang tengah seru-serunya itu. Ino dan Sakura pun turut diam, menutup telinga mereka dengan ekspresi kesal yang begitu kentara.
"Aku akan mempersembahkan sebuah puisi cinta untuk Hinata Hyuuga."
Semua aktivitas siswa benar-benar terhenti ketika suara Naruto muncul di sana. Dan... apa-apaan itu? Kenapa dia membawa-bawa namaku?
"Kau adalah apa yang kusebut cinta.
Matamu laksana mutiara di kedalaman samudera.
Bibirmu bagai mawar yang mekar.
Dan wajahnu adalah jelmaan matahari.
Aku memikirkanmu di malam-malam yang sepi.
Memikirkanmu ketika makan, belajar dan berjalan.
Bahkan, kau masuk dalam mimpiku.
Membaur dengan ribuan bidadari
Jika ku bilang ada 30 bidadari
Maka... hanya satu yang paling bersinar
Dan itu kau...Hinata
Aku mencintaimu
Cintaku sedalam lautan dan setinggi gunung everest."
"Hei... apa-apaan kau ini?" Suara Bu Guru kurenai masuk dalam pengeras suara.
"Kau mengacaukan rapat kami, Nak..."
Dan tak ada lagi yang terdengar, pengeras suara itu telah dimatikan. Ya Tuhan... Naruto memulai aksi gilanya, dan konyolnya ia memabacakan puisi untukku lewat pengeras suara sekolah. Apa yang tengah dipikirkannya? Apa dia memang benar-bebar gila?
"Matamu laksana mutiara di kedalaman laut." Sakura mencoba menirukan apa yang dikatakan Naruro tadi, dan gayanya itu, membuatku ingin muntah mendadak.
"Ugh... romantis." Sementara Ino tak mampu berhenti tertawa.
Entah sejak kapan para murid yang ada di tempat itu tengah menatapku aneh, antara ingin tertawa, mencemooh, heran, tak percaya dan... mereka semua membuat hatiku sakit. Oh, apa-apaan sih Naruto itu. Dia membuatku malu mendadak di hadapan banyak orang. Kenapa dia senekat itu?
Air mataku turun melewati pipi, membuat Ino dan sakura yang sempat tertawa mulai menatapku iba. Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan tentangku, yang jelas dia... dan mereka semua telah membuatku marah.
Dengan gerakan cepat aku berlari meninggalkan tempat itu, menuju toilet wanita dan menangis tersedu di sana. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa Naruto akan melakukan tindakan gila semacam ini. Oh... kupikir aku telah salah mengharapkan Naruto bisa menjadi pria romantis seperti yang selalu ku bayangkan.
.
.
Aku mengabaikan Naruto selama beberapa hari belakangan. Pura-pura tidak mendengar ketika dia memanggilku, tak menghiraukannya ketika ia mengajakku makan siang. Membiarkannya berceloteh sendirian ketika mengajakku pulang bersama. Aku muak dengan segala tingkah konyolnya, berharap seseorang bisa menghentikan aksi sintingnya untuk terus mengganggu hidupku. Aku benci Naruto, benci.
Apalagi setelah puisi yang dia bacakan di pengeras suara itu. Semua murid di sekolah tak henti-hentinya mengolokku, memandangku seolah aku adalah objek yang pas untuk dicandai sepanjang waktu. Oh ayolah, mereka sudah keterlaluan.
Siang itu Ino mengeluh dengan setengah wajah suntuk, dan air mata yang menggenangi pelupuk matanya. Bercerita padaku dan sakura mengenai, betapa tidak pekanya Kiba terhadap perasaannya. Kenapa pria itu lebih suka berinteraksi dengan para pasien di klinik sang kakak ketimbang menemaninya kencan. Keluhannya tidak sampai disitu saja, ia terus mengoceh mengenai gadis-gadis genit yang entah bagaimana telah membentuk sebuah perkumpulan dan mengatas namakan diri mereka sebagai fans Kiba. Yah... entah semengerikan apa jadi Ino, tapi kurasa nasibnya lebih beruntung dibanding denganku.
Lain lagi dengan Sakura yang begitu meragukan perasaan Sasuke terhadapnya. Dia bilang selama 8 bulan mereka berpacaran, baru sekali pria itu mengajaknya kencan. Oh, oke itu keterlaluan, karena kau tahu sendiri jika Sasuke adalah makhluk dingin yang entah berasal dari benua mana. Tapi... ku tegaskan sekali lagi bahwa... nasib mereka masih jauh lebih baik dariku.
Ketika masing-masing dari mereka menatap ke arahku, ku pikir aku tak perlu menjekaskannya. Karena mereka pasti tahu tanpa ku beri tahu. Kisah romansaku... begitu mengenaskan.
.
.
Ketika aku mulai terbiasa dengan kegiatan Naruto yang selalu merecoki hariku dengan berbagai aksi menyebalkannya. Akhirnya dia tak lagi hadir di sekitarku. Seolah menghilang begitu saja ditelan bumi. Meskipun awalnya aku agak lega, namun sejujurnya ketidak hadirannya membuatku bertanya-tanya. Apakah pria itu sudah bisa melupakanku dan memilih menyerah untuk mempertahankanku? Ya Tuhan... kenapa rasanya menyakitkan sekali memikirkan kemungkinan itu. Tapi... mungkin dia hanya butuh waktu untuk menyendiri sebelum kembali pada aktivitas biasanya, yakni...menggangguku.
Namun hingga nyaris satu minggu kemudian dia masih saja tak menemuiku. Aku tak mendapatinya di kantin, perpustakaan, taman belakang sekolah, dan di koridor-koridor kelas. Membuatku ketakutan sendiri. Apakah dia pindah sekolah? Apakah Naruto ingin melupakanku? Apakah Naruto ingin meninggalkanku? Tidak, itu tidak boleh terjadi. Karena bagaimana pun aku masih begitu mencintainya, telepas dari sikapnya yang seperti keledai idiot.
Malam itu, aku memberanikan diri mengirim pesan padanya. Awal-awal hanya mengucapkan selamat malam, namun pada akhirnya aku meminta maaf soal sikapku akhir-akhir ini. Tak lupa juga aku menanyakan alasannya tak hadir di sekolah. Namun tak satupun pesanku di balas? Apa dia marah? Aku bahkan sudah berusaha menelfon, namun segalanya nihil. Naruto juga tidak mengangkat panggilanku. Membuatku frustasi sepanjang malam karena memikirkannya.
Jika besok dia masih tidak hadir di sekolah, maka aku akan pergi ke rumahnya.
.
.
Karena Naruto masih tidak hadir di sekolah, aku benar-benar pergi ke rumahnya sore itu. Dan sumpah, rumah bocah itu adalah rumah paling mengerikan yang pernah ku temui. Rumput-rumput di halaman rumah dibiarkan tumbuh tinggi tak terpotong, ranting pohon yang mengganggu dibiarkan begitu saja, pagar besinya berkarat tak terurus. Halamannya yang becek digenangi air sisa hujan semalam. Membuat tanah yang lembek begitu menjijikan dengan lumpur kecoklatan. Lalu... ayam-ayam yang gembul entah kenapa berkeliaran di sepanjang halaman.
Aku menghela napas, tetap menapakkan kakiku di sana. Meski berkali-kali nyaris menyenrah karena muak dengan tingkah para ayam yang tak berhenti mengikutiku.
Beberpa kali, aku mengetuk pintu, mengucapakan permisi yang sia-sia. Tak ada sahutan dari dalam, rumah itu begitu sepi. Aku hampir mengira satu keluarga itu telah pindah entah kemana, pulau Nami mungkin. Tapi, aku ingat sesuatu. Naruto pernah bilang bahwa ayah dan ibunya akan bekerja dari pagi hingga menjelang malam. Maka seharian ia akan dibiarkan di rumah sendirian.
Ketika aku iseng membuka pintu, ternyata tak terkunci. Dengan cepat aku masuk, mengira tak ada seorang pun yang tinggal di sana. Namun sepertinya aku salah. Dengan sekali lihat, aku menemukan seorang pemuda tengah bergelung di dalam selimut. Pintu kamarnya dibiarkan terbuka, itu... Naruto?
Aku berjalan pelan memasuki kamarnya, dengan penyesalan yang bertumpuk di atas pundakku. Rasa takut dan sedih bercampur aduk memainkan emosiku. Ada apa dengan Naruto? Mungkinkah ia memutuskan mengurung diri di kamar karena aku tak lagi peduli padanya? Tapi jika benar begitu, kenapa dia membiarkan pintunya tak terkunci? Atau... dia memutuskan tidur sepanjang waktu tanpa mau pergi ke sekolah karena aku tak mau berbicara lagi dengannya? Oh sumpah, aku sedih sekali membayangkan betapa menderitanya Naruto karenaku.
"Naruto..." aku memanggil pelan. Bocah itu tak bergeming. Dia... tidak mati kan? "Naru..."
Ku lihat tubuh yang teronggok mengenaskan itu mulai bergerak. Matanya mengerjap, dan ketika aku sampai di depannya, dia bergerak cepat untuk bangun.
"Hi-Hinata?" Matanya yang sayu seolah dipaksakan untuk melebar.
Dia... sangat... menyedihkan. Rambut pirangnya acak-acakan, kusut, piyama micky mousenya terlihat begitu menggelikan, dan kaus kaki yang dipakainya itu... hei... kenapa dia harus memakai kaus kaki merah muda seperti itu? "Naru... kenapa? Kenapa kau menghilang selama beberapa hari ini?" Aku mengabaikan segala hal mengerikan tentangnya. Biar saja dia memakai pakaian memuakkan seperti itu, atau memakai jepitan rambut sekalian. Karena bagiku... Naruto akan selalu lebih spesial dibanding siapapun.
Dia diam, tak menjawab. Ku pikir dia mungkin masih marah karenaku.
"Naru... ak-aku..."
"Aku sakit." Dia menggosok hidungnya yang memerah. Baru kusadari jika suaranya berubah, serak dan hampir habis.
Mulutku mengayun terbuka. Jadi ini alasannya? Bukan karena dia marah padaku kan? "Tapi kenapa kau tidak menelfonku?"
Dia menelan ludah, seolah ada sesuatu yang begitu mengganjal hatinya. "Ponselku mati, sudah tiga hari aku membiarkannya tak tersentuh."
Semua itu membuatku makin tercengang, bagaimana tidak? Selama ini aku bahkan mencoba menghubungi ponsel mati dan mengirim puluhan pesan tak terbalas karena alasan itu. Ugh... oke, dia mungkin tersiksa dengan keadaannya saat ini dan barangkali kepalalnya terlalu sakit hanya untuk mencharge ponsel.
"Sebenarnya aku ingin sekali menemuimu dan minta maaf." Kepalanya menunduk, tak berani menatap ke arahku. "Kau pasti malu karena kelakuanku waktu itu."
Itu benar, tapi... itu sudah lewat beberapa hari lalu dan teman-teman yang lain juga mulai melupakannya. Lagipula mana mungkin aku sanggup marah ketika melihat keadaannya seburuk ini. "Kenapa kau nekat melakukan itu?"
Kali ini dengan tatapan sayu dia mengarahkan iris birunya padaku. "Aku ingin seperti Gaara yang romantis, tapi... aku tidak memiliki kelebihan apapun. Aku tidak setampan Sasuke. Tidak sekeren Kiba yang bisa dengan mudah menendang bola ke gawang lawan. Aku benar-benar tidak memiliki apapun untuk dibanggakan." Tatapan bersalahnya membuatku teringat dengan mata para bayi yang tidak berdosa, dan itu semua membuat hatiku sakit.
Selama ini Naruto ternyata berusaha menjadi sempurna untukku. Namun, sayangnya semua usaha itu makin membuatku kesal. Aku merasakan air mataku mengalir melewati pipi. Dan tak bisa melakukan apapun kecuali memeluknya.
"Aku sedang sakit flu Hinata, nanti kau bisa tertular."
Pesetan dengan peringatan itu, dia pikir aku ini bayi apa? Yang bisa dengan mudahnya terserang flu hanya karena memeluk seseorang yang memiliki penyakit sejenis. Bahkan jika pun akan tertular, kupikir itu tidak akan menjadi masalah besar, hei... itu hanya flu. Bukan pneumonia atau kanker yang ganas. Aku menangis tersedu dan membiarkan tingkah kikuk Naruto menjadi latar belakangnya. Tidak peduli jika Naruto ini bocah paling idiot yang memiliki senyum persegi yang aneh. Aku tetap mencintainya. Bahkan jika caranya memelukku pun terlihat tak wajar.
"Jadilah dirimu sendiri. Aku selalu suka Naruto yang banyak bicara dan bertingah lucu, karena kau tak akan pernah sama dengan Sasuke, Kiba ataupun Gaara." Aku melepaskan pelukanku, mendapati ekspresinya yang sedikit lebih baik.
"Jadi... kau mau memaafkanku?"
Aku mengangguk dengan yakin. Tersenyum bahagia ketika melihatnya juga tengah tersenyum dan bersorak gembira. Dia... begitu kekanakan. Tapi aku menyukainya.
Barangkali tingkah konyolnya selama ini adalah caranya untuk menjadi romatis. Romantis dengan caranya sendiri. Meski ya... kau tahu sendiri, tak seorang pun wanita di dunia ini menganggap sikap konyol adalah hal yang romantis.
END
Review?
