Allooohaaaa *tebar kolor anak EXO* saya kembali membawakan One Mistake One Regret Chapter 2. Setelah baca repiu kalian ada yang minta Kris-Baek-Chan ada juga yang minta KaiBaek.. hohoho soal itu saya ga bisa kasih spoiler sama kalian xD rahasia author.. jadi intinya kalian ikutin aja ceritanya.
Dan untuk soal judul emang untuk awalnya agak ga nyambung tapii saya janji kedepannya bakalan nunjukkin apa maksud dari One Mistake One Regret, intinya kalian nikmati Lovey Doveynya dulu lah... hohoho *ketawa nista*
So untuk saat ini alurnya masih selow ya, tapi saya janji secepatnya konfiknya bakalan dimunculin.. jadi saya minta para readers bersiap-siaplah huahahahaha
Main Cast
• Park Chanyeol
• Byun Baekhyun
Other Cast
• Find it yourself
Gendre : Romance, Hurt/Fluff
Rating : T menjurus M
DISCLAIMER : STORY BELONG TO AUTHOR, CAST SEUTUHNYA MILIK SM
WARNING : TYPO MENGHANTUI ANDA XD ! DON'T BE SIDERS !
•
•
•
•
•
IT'S YAOI FICTION
•
•
•
- CHANBAEK STORY -
•
•
•
DON'T LIKE DON'T READ
STORY BELONG TO AUTHOR !
•
•
•
- HAPPY READING -
BAEKCHANNIE PRESENT
•
•
•
•
•
"ONE MISTAKE ONE REGRET"
Author POV
Esok harinya seperti biasa Chanyeol kembali disibukkan dengan beberapa kontrak kerja dan dokumen-dokumen yang harus diperiksanya secara teliti.. rambutnya sedikit berantakan, berulang kali ia harus menanda tangani dokumen-dokumen itu dan memeriksa arsip-arsip lama. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk," tukas Chanyeol tanpa memalingkan wajahnya dari dokumen-dokumen yang dibacanya.
"Permisi Tuan Park, Presdir Park memintamu untuk segera menemuinya di ruangannya." tukas seorang yeoja yang bernama Yoona -sekretaris Chanyeol-
Chanyeol pun mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen tadi dan mengangguk kepada sekretarisnya.
"Ah ne, kamsahamnida aku akan segera menemuinya."
"Ne.. em Tuan Park boleh aku mengatakan sesuatu?"
"Tentu, katakan saja."
"Kalau boleh jujur, kau semakin terlihat tampan. Oh bahkan lebih tampan dari sebelumnya."
"Ah kamsahamnida." tukas Chanyeol sambil tersenyum paksa. -kukira tentang apa- pikir Chanyeol.
"Tapi sayang sekali kau sudah menikah, hehe."
Chanyeol mengangkat sebelah alisnya selama beberapa detik, "Ah.. nhe." Ia pun tersenyum paksa.
"Tapi kau tau kan, aku akan selalu menunggumu. Aku takkan menyerah."
Chanyeol hanya mengangguk. "Yoona, aku harus segera menemui Presdir Park. Jadi kita lanjutkan lain waktu saja."
"Ah n-ne, Tuan Park," tukas Yoona sambil membungkuk hormat. Terlihat raut mukanya sedikit kecewa.
Setelah Yoona keluar dari ruangannya, Chanyeol merapihkan rambut dan pakaiannya yang sedikit berantakan. Kemudian segera beranjak menuju lift terdekat, sesekali mengangguk tersenyum menerima sahutan karyawannya.
Author POV end
Chanyeol POV
Ah jinjja, Yoona tetap saja begitu.. Aku ingin sekali mengeluarkan dia dari perusahaan ini. Apa ia tak pernah bosan dan lelah selalu mengatakan hal seperti itu padaku? Apa ia pikir aku menyukainya? Apa ia tak berpikir aku ini sudah menjadi milik Baekhyun?
Haah.. Aku heran kepadanya, sejak aku bekerja disini ia selalu menggodaku bahkan sampai sekarang. Ia sudah sangat lama bekerja di perusahaan ini, kinerjanya pun termasuk bagus, lumayan menguntungkan perusahaan dan juga appa sudah sangat mempercayainya. Aku bahkan sudah pernah mengeluh kepada appa perihal ia yang selalu menggodaku, tapi appa hanya menyuruhku untuk bersabar dan menanggapi Yoona dengan tenang. Selain itu, Yoona adalah anak dari sahabatnya appa, jadi appa tak mungkin tega memberhentikannya hanya karena alasan personal dan bukan yang menyangkut pekerjaan ataupun perusahaan.
Awalnya aku mengganggap Yoona sebagai 'noona' ku sendiri dan pernah memintanya untuk mencoba membuat Baekhyun cemburu. Tapi, sepertinya Yoona terlalu mengganggapnya serius dan berpikir aku tertarik padanya. Setelah kejadian itu, ia sering sekali mengumbar cintanya dan melakukan hal-hal aneh lainnya di hadapanku. Bahkan ia selalu memenuhi perintahku sekalipun aku menyuruhnya melakukan hal-hal yang tidak terlalu penting atau yang tidak masuk akal. Aku sedikit tidak keberatan jika ia melakukannya di dekat Baekhyun -membuat Baekhyun cemburu- tapi kalau tak ada Baekhyun tentu sama sekali tak berguna dan hanya akan membuatku risih.
Aku takkan pernah lupa ketika Baekhyun selalu cemburu saat melihat aku bersama Yoona, padahal hanya urusan perusahaan tapi ia selalu jengkel dan mendiamkan aku. Atau tiba-tiba berubah agresif dan mencoba mencari perhatianku.
Flashback ON
Hari itu Yoona datang ke ruanganku untuk memintaku menandatangani dokumen-dokumen yang di bawanya. Yah seperti biasa ia menyelipkan pujian dan rayuannya padaku. Aku hanya menanggapinya dengan santai karena sudah terbiasa.
Ponselku berdering dan menampilkan sebuah nama 'Baekki chagiya' di layar ponselku. Aku tersenyum -menyeringai- terpikir untuk menjahilinya saat ia mengatakan bahwa ia sudah sampai di kantor dan sudah mendekati ruanganku, kebetulan sekali Yoona ada di sini -pikirku- dan aku segera menyuruhnya untuk masuk ke ruanganku.
TOK TOK TOK
"Masuk," Aku yakin itu pasti Baekhyun. Aku berpura-pura menyibukkan diriku dengan Yoona.
CKLEK
Nampak Baekhyun sedikit terkejut melihat Yoona ada diruanganku dengan perilaku yang cukup berlebihan -kurasa-, ia pun berjalan menghampiri kami.
"Yoona, sepertinya ada jerawat di pipimu." tukasku sambil memandang Yoona lalu melirik Baekhyun dengan ekor mataku.
"OMO! Ah jinjja? Benarkah? Ah.. ottokae? Ah aku malu.. Tuan Park melihatnya." ia mengeluarkan alat make up nya lalu berdandan ria. "Ah.. bagaimana ini Tuan Park melihatnya.. Ah apa masih terlihat? Di sebelah mana? Ah aku malu.. aku malu!"
Aku tercengang melihat reaksinya yang begitu berlebihan, aku melirik Baekhyun.. dia menaikkan sebelah alisnya dengan bibir yang sedikit terbuka sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Aku terkekeh melihatnya.
Kemudian ia memutar bola mata malas melihat Yoona yang masih sibuk dengan kegiatannya, lalu mengalihkan pandangannya kepadaku, dan tiba-tiba merengkuh lengan kiriku dengan erat.
"Chanyeol apa kau lelah, kau boleh bersandar di bahuku." tukasnya sambil tersenyum dan langsung memelukku.
Aku terkejut dan bingung, tapi aku memilih membalas pelukannya dan membenamkan wajahku dilehernya. Mencium aroma khas bayi dari tubuhnya. Tanpa sadar aku memejamkan mata lalu mengecup lehernya dan semakin menempelkan indra penciumanku di leher jenjangnya.
"Ahh.. Chan- Ouh.." Baekhyun mendesah, dan -kurasa- desahannya terdengar seperti dibuat-buat. Ah.. biarlah yang penting aku bisa menikmati leher halusnya. Aku tetap melanjutkan kegiatanku, hanya mengecup leher jenjangnya dan merasakan harumnya tak berniat meninggalkan jejak di leher putihnya.
Samar-samar aku mendengar suara sesenggukan seperti orang menangis, apa itu Yoona?
"T-tuan Park.. k-kau tega melakukan ini.. di hadapanku? K-kau... a-aku tak tahan lagi.."
Tak lama terdengar suara pintu ruanganku di buka dan terbanting dengan suara yang cukup keras. Kurasa Yoona sudah keluar dari ruanganku. Ah baguslah.. jarang-jarang Baekhyun seperti ini. Aku masih memejamkan mataku dengan kegiatanku mengecup leher Baekhyun dan menikmati aroma tubuhnya.
"Yak Chanyeol! Sudah cukup! Aku pegal."
"Sedikit lagi chagiya, siapa suruh kau memancingku.. dan kenapa kau tak mendesah lagi? Lanjutkan desahanmu, chagi."
Ia memberontak, "Yak lepaskan!" ia memukul punggungku dan mencubit perutku namun tetap saja aku tak bergeming.
"Tenanglah chagi, kau hanya perlu mendesah, lanjutkan desahanmu. Lebih bagus lagi aku bisa mendengar sebuah 'erangan'.."
"Oh baiklah Park Chanyeol kalau itu maumu!" dapat kurasakan tubuhku langsung bergetar hebat dan terasa lumpuh. Cengkeramannya sangat kuat dan tepat! Mengenai sasaran.
"Aaaakkh..sshh..ouh..ssh..akh.." Aku memekik kuat sambil meringis, sungguh sakit tak tertahankan.
"Rasakan! Mengerang saja sendiri! Siapa suruh kau membuatku cemburu! Kau kira aku tak menyadari ide jahilmu?!"
"Ouh..sshh..akh.. kau gila?! Sshh..bagaimana kalau ini sudah tidak bisa digunakan?! Apa yang akan kau lakukan?! ssh...ouuhh.. sshh..akh.." tukasku masih meringis kesakitan.
Ia terkekeh kecil. "Itu mudah Chanyeol, aku tinggal menggantikan posisimu." tukasnya sambil mengelus anggota tubuhku yang sangat sakit.. amat sangat sakit.
"Sshh..takkan ku biarkan, Baekhyun! takkan pernah!"
Flashback Off
Aku terkekeh kecil mengingat hal-hal yang dilakukan Baekhyun saat ia cemburu, konyol dan -terkadang- membuatku senang dan juga menderita sekaligus.
Ah jinjja.. Park Baekhyun, mustahil aku bisa menemukan orang sepertimu. Aku sangat beruntung telah memilikimu, aku akan selalu mencintaimu.
TING
Pintu lift terbuka, membawaku ke lantai dimana terdapat ruangan CEO. Aku pun segera menuju ruangan tersebut.
TOK TOK TOK
"Masuk," sebuah suara menjawab ketukan pintu dariku, tak perlu berlama-lama akupun segera masuk.
"Kau memanggilku?" tanyaku yang saat ini berdiri di hadapan meja kerja appa.
"Ne Chanyeol.. ini dokumen tentang perjanjian kerjasama dengan Do Coorporation, tolong kau pahami dan pelajari dokumen ini dengan baik." Appa memberikan sebuah map berwarna biru.
"Appa, apa kau yakin memberikan posisi sepenting ini padaku?"
Appa berdiri menghampiriku dan menepuk pundak kananku. "Sangat yakin, karena aku tahu kau bisa melakukannya. Dengar Chanyeol, appa memilihmu bukan semata-mata karena kau anakku tapi appa melihat kerja kerasmu selama ini, bagaimana kau menarik minat klien dengan proyek-proyek yang kau buat dan kau mampu menaikkan saham perusahaan ini. Potensimu untuk menjadi seorang pemilik perusahaan sangat tinggi, dan appa percaya padamu sepenuhnya."
"Haaishh kau sama saja dengan Baekhyun," tukasku.
"Benarkah? Apa yang ia katakan padamu?" tanya appa antusias, akupun menjelaskan padanya perihal perkataan Baekhyun semalam.
"Bukankah itu bagus? Itu tandanya ia mempercayaimu sepenuhnya, ia yakin kau bisa. Chanyeol kau hanya perlu menanamkan tekad dalam dirimu bahwa kau bisa, kau harus percaya pada dirimu sendiri. Lagipula, sulit bagiku untuk mempercayakan perusahaan ini kepada orang lain. Kau mengertilah Chanyeol, hanya kau yang bisa appa percaya." Appa menepuk-nepuk punggungku.
Aku berpikir sejenak dan mengingat perkataan Baekhyun semalam, aku tak ingin mengecewakan orang-orang yang kucintai.. Baekhyun dan keluargaku, yang sudah bersedia mendukungku dan mempercayaiku. Kemudian aku mengangguk yakin. "Baiklah.."
"Appa bukannya kau dan eomma akan berangkat besok?"
"Yah begitulah.. tadi pagi Presdir Kim menghubungiku, ia mengatakan kalau appa dan eomma harus berangkat besok jam 10 pagi."
"Mwo? Tapi jam 10 besok aku ada rapat. Aish mengapa harus jam 10.."
"Kau tak perlu mengantar kami, lagipula ada Baekhyun yang akan mengantarkan appa dan eomma ke bandara."
"Mianhe, aku tak bisa pergi mengantar kalian."
"Gwenchana Chanyeol, eomma pasti akan mengerti.." tukas appa dengan tatapan meyakinkan.
Setelah berbincang-bincang dengan appa akupun segera kembali ke ruanganku. Aku menyandarkan tubuhku di kursi hanya sekedar merilekskan punggungku, iseng-iseng aku mengambil dokumen yang baru saja diberikan appa dan membacanya dengan teliti. Ah rasanya kepalaku semakin pusing saja setelah membaca proyek perjanjian bersama Do Coorporation. Bagaimana tidak, proyek kerja sama dengan Do Coorporation ini bisa dibilang merupakan project yang sangat besar dan memusingkan, selama ini aku tak pernah melakukan kerja sama dengan proyek sebesar ini.
- One Mistake One Regret -
Malam ini aku dan Baekhyun berencana menginap di rumah appa dan eomma, kalau dipikir-pikir sudah hampir 4 bulan aku tak mengunjungi rumah mereka karena saking sibuknya. Lagipula besok appa dan eomma akan pergi, karena aku tak bisa mengantar mereka, jadi aku menyempatkan waktuku untuk bersama mereka walaupun hanya malam ini.
Sekarang aku dan Baekhyun sudah sampai di rumah appa dan eomma. Sebelumnya aku sudah memberitahu eomma bahwa aku dan Baekhyun akan datang menginap, eomma sangat antusias mendengarnya. Aku yakin eomma sudah menunggu kami dan sudah menyiapkan segalanya.
Aku menekan bel rumah, menunggu seseorang akan membukakan pintu. Akhirnya pintu terbuka dan ku dapati sosok wanita yang tampak tetap cantik untuk seusianya. Dia menyambutku dengan senyuman yang lembut.
"Chanyeol akhirnya kau datang berkunjung. Eomma sangat merindukanmu! Kau jarang sekali memberi kabar padaku." eomma langsung memelukku.
"Mianhe eomma, akhir-akhir ini aku sangat sibuk." tukasku
"Baiklah, eomma mengerti. Tapi setidaknya kau harus sering menghubungi eomma. Eomma sangat mengkhawatirkanmu."
"Ne, arraseo eomma.."
Kemudian eomma mengalihkan pandangannya ke namja imut yang berada di sebelahku. "Dan kau Baekhyun, mengapa kau tidak berkunjung kemari selama satu bulan ini? Kau tahu baru satu bulan kau tak berkunjung, aku sudah sangat merindukanmu." Eomma langsung memeluknya, dan langsung di balas oleh Baekhyun.
"Hehehe, mianhe eomma. Aku tak mau sering berkunjung karena takut merepotkanmu. Jadi kupikir aku hanya akan datang kalau bersama-sama dengan Chanyeol." tukas Baekhyun sambil tersenyum.
"Aigoo.. sejak kapan kau berpikiran seperti itu? Eomma sama sekali tak pernah merasa kerepotan chagi, justru eomma sangat senang kalau kau datang kemari. Seperti biasa kau bisa datang kesini kapanpun kau mau, jadi tak usah menunggu Chanyeol dulu, kau tau sendiri kan dia sangat sibuk."
"Ah ne, eomma.." tukas Baekhyun sambil mengangguk dan tersenyum manis. Aigoo.. kalau tidak ada eomma aku pasti sudah menyerangnya.
"Baiklah, cepat masuk! Eomma sudah menyiapkan makan malam untuk kalian."
Kami pun segera menuju ruang makan.
Di ruang makan sudah ada appa yang menunggu kami, aku dan Baekhyun pun segera memberi salam kepadanya. Ia menyambut kami dengan hangat, dan langsung mempersilakan untuk makan malam.
"Tunggu.. Chanyeol kau terlihat semakin kurus saja, aigoo kau pasti kurang istirahat." tanya eomma sebelum aku mendudukkan diri didepan meja makan.
"Aniya, selama ini istirahatku sangat cukup." sela ku, tentu saja aku berbohong bagaimanapun juga aku tak ingin eomma khawatir.
"Pembohong!" tiba-tiba Baekhyun mengiterupsi pembicaraanku dan eomma, ia memicingkan matanya kearahku.
"Itu tak benar eomma. Kau tahu, selama ini Chanyeol sering sekali melupakan jam makan siang dan juga makan malamnya, kalau aku tak memaksanya mungkin saat ini tubuh Chanyeol sudah seperti tengkorak berjalan. Bahkan saat malam pun ia masih berkutat dengan file-file kesayangannya." jelas Baekhyun, dan tentu saja eomma langsung men-deathglare ke arahku.
"Yak Park Baekhyun, kenapa kau mengadu pada eomma?" tanyaku dengan reaksi yang tentu saja tak terima karena Baekhyun malah mengatakan hal yang ingin aku sembunyikan dari eomma.
"Biar saja. Siapa suruh kau sangat keras kepala dan tak mau menuruti nasehat dariku, kau seringkali mengurus dokumen kesayanganmu itu lalu tidur jam 3 pagi dan tak menghiraukan kesehatanmu. Bagaimanapun juga aku tak ingin terjadi sesuatu padamu Park Chanyeol." Baekhyun mempoutkan bibirnya, sementara itu kedua orang tuaku hanya terkekeh melihat tingkah kami berdua yang kadang kala meributkan hal yang sepele.
"Baekhyun benar, kau sebaiknya lebih memperhatikan kondisi tubuhmu, bagaimanapun juga kau sudah seharian bekerja di perusahaan setidaknya beristirahatlah walau hanya sejenak," terang eomma sambil menatapku lekat-lekat.
"Tapi eomma, beberapa bulan belakangan ini aku benar-benar di sibukkan dengan file-file yang harus ku urus, banyak sekali hal-hal yang harus ku selesaikan. Kalau aku tak segera mengurusnya maka akan semakin menumpuk." jelasku.
"Eomma tau chagiya, tapi setidaknya kau jangan terlalu memaksakan diri, luangkan waktumu untuk Baekhyun. Kau tidak sadar dia cemburu dengan file-file kesayanganmu itu?" tukas eomma sambil terkekeh.
"Ne eomma, arraseo.." anggukku dan tersenyum pada eomma lalu mengalihkan tatapanku pada Baekhyun sambil menaikkan kedua alisku dan tersenyum nakal.
Baekhyun langsung mendengus. "Aish.. untuk apa aku cemburu dengan file-filenya. Itu konyol. Aku hanya khawatir dengan kesehatannya saja."
"Tak usah menyangkal, mengaku saja lah!" tukasku menggodanya.
"Aish.. kau menyebalkan!" tukasnya, kulihat wajah dan telinganya memerah.
"Sudahlah Chanyeol berhenti menggoda Baekhyun, lihat wajahnya sudah memerah.. Aigoo." tukas appa menggodanya.
Baekhyun memijit dahinya "Ah jinjja.. keluarga Park sama saja!" Kami semua terkekeh mendengarnya.
- One Mistake One Regret -
Setelah selesai makan malam, kami berempat berkumpul di ruang tengah dan terlibat dalam pembicaraan ringan dan hangat.
"Eomma bagaimana kabar Yoora noona?" tanya Baekhyun yang saat ini duduk di sebelahku.
"Dia baik-baik saja, sepertinya saat ini ia sedang sibuk mengurus bisnis butiknya di Paris." jelas eomma.
"Hebat, sepertinya bisnis butiknya berkembang pesat. Apakah ia masih sering menghubungi appa dan eomma?" tanyaku dengan antusias, bagaimanapun juga Yoora noona adalah kakak kesayanganku dan menurutku ia dulu termasuk anak yang manja, aku tak pernah menyangka sikapnya bisa mandiri seperti ini. Bahkan bisnis yang digelutinya saat ini dapat ia jalani tanpa bantuan appa dan eomma.
"Tentu saja, bahkan disela-sela kesibukannya ia masih menyempatkan diri untuk menghubungi appa atau eomma.. tak seperti dirimu, untuk memberi kabar pada eomma saja sulit sekali," sela eomma dan memasang wajah masam.
"Mianhe eomma, kau tentu tau seberapa sibuknya aku saat ini kalau eomma tak percaya kau bisa tanyakan langsung kepada appa. Bukankah aku dan appa satu kantor, jadi tentu saja appa tau seperti apa kondisiku saat dikantor, lagipula hanya akhir-akhir ini aku tak menghubungi eomma." tukasku dengan pembelaan besar-besaran. Hey tentu saja apa yang kukatakan barusan itu kenyataan.
"Aigoo sejak kapan kau menjadi seserius ini hmm?" Eomma terkekeh sambil mencubit pipiku gemas. "Eomma hanya bercanda sayang, kau jangan menganggapnya terlalu serius."
"Aish ini tidak lucu eomma," tukasku dan sedikit mempoutkan bibirku, yah sepertinya saat ini sikap manjaku sedikit keluar jika diperlakukan seperti ini. Kulihat Baekhyun dan appa hanya terkekeh kecil melihat kelakuan eomma padaku barusan.
"Ah Chanyeol appa hampir lupa, besok kau sudah bisa menempati ruang CEO milik appa, tadi appa sudah menyuruh Yoona untuk mengatur beberapa file milik appa yang mungkin kau perlukan." jelas appa.
"Baiklah appa, gomawo sudah memberi kepercayaan padaku. Lalu siapa yang akan menggantikan posisi lamaku?"
"Soal itu appa percayakan pada Kai, bagaimanapun juga kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil yang sangat bagus." tukas appa tersenyum puas.
"Kami harap kalian takkan mengecewakan kami.." kali ini eomma yang berbicara, bagaimanapun juga dulu eomma sempat menjadi sekretaris pribadi appa jadi ia tau seberapa sulitnya menjaga dan mempertahankan sebuah perusahaan yang sudah sangat berkembang.
"Tidak akan eomma.." tukasku sambil tersenyum.
Chanyeol POV end
Author POV
Keesokan harinya sesuai rencana, kedua orang tua Chanyeol akan segera berangkat menuju Canada. Awalnya hanya Baekhyun seorang diri yang akan mengantar Tuan dan Nyonya Park, namun karena Chanyeol bersikeras agar seseorang dapat menemani Baekhyun pulang, akhirnya ia memilih Kai untuk menemani Baekhyun ke bandara.
"Appa dan eomma berhati-hatilah di sana. Kalian jangan terlalu memaksakan diri, jagalah kesehatan kalian." pesan Baekhyun kepada kedua mertuanya.
"Iya sayang, kalian juga jangan lupa menjaga kesehatan kalian berdua. Kami menitipkan Chanyeol padamu, menjadi CEO itu tidaklah mudah baginya jadi kami harap kau akan selalu siap untuk menemaninya dan membantunya, bagaimanapun juga ia selalu membutuhkan dukungan dari orang yang dicintainya," tukas eomma sambil memeluk Baekhyun dan mengelus kepalanya.
"Ne eomma." tukas Baekhyun sambil membalas pelukan nyonya Park.
"Kai, aboeji percayakan posisi lama Chanyeol padamu. Kuharap kau mampu beradaptasi." Tuan Park merangkul lalu menepuk punggung Kai.
"Ne aboeji, terima kasih atas kepercayaanmu padaku. Aku akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Kai sambil mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah, kami berangkat dulu... jaga kesehatan kalian," tukas Nyonya Park sambil menggandeng suaminya.
"Ne eomma/omonim."
"Appa dan eomma juga berhati-hatilah." tukas Baekhyun sambil melambaikan tangannya bersama Kai.
- One Mistake One Regret -
"Baekhyun bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?" tanya Kai sambil mengemudikan mobil begitu mereka dalam perjalanan kembali dari bandara.
"Ide bagus, lagipula sudah lama kita tak jalan-jalan bersama." jawab Baekhyun mengangguk setuju.
"Baiklah, kalau begitu kita akan jalan-jalan kemana?"
"Umm... bagaimana kalau kita makan siang di tempat biasa? Lagipula saat ini aku sudah kelaparan." tukas Baekhyun sambil mengelus perutnya.
Kai terkekeh dan menggelengkan kepalanya "Dasar tukang makan!" iapun segera mengemudikan mobilnya menuju restoran yang dimaksud.
"Kau mau pesan apa?" tanya Kai begitu mereka berdua tiba dan duduk di salah satu kursi yang ada di restoran itu.
"Samakan saja dengan pesananmu." jawab Baekhyun.
Akhirnya Kai memesan makanan untuk Baekhyun sama seperti miliknya, sambil menunggu makanan tiba Baekhyun dan Kai terlibat dalam pembicaraan kecil.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kai membuka pembicaraan.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Kau sendiri? Bagaimana dengan pekerjaanmu di kantor?" Baekhyun balik bertanya pada Kai.
"Sedikit memusingkan, apalagi saat ini aku sedang mengurus proyek kerja sama dengan Wu Coorporation jadi mungkin kerjaanku akan semakin banyak." jelas Kai panjang lebar.
"Mwo? Wu Coorporation? Setahuku untuk mendapatkan ijin kerja sama dengan perusahaan itu bukanlah hal gampang.. Kau mendapatkannya? Chukkae Kai." tukas Baekhyun antusias sambil tersenyum.
"Gomawo Baekkie.."
Pembicaraan mereka terhenti karena pelayan telah tiba membawa pesanan mereka.
"Kai, omong-omong apakah sudah ada orang yang berhasil menarik hatimu?" tanya Baekhyun sambil menyuapkan makanannya.
"Hmm.. ya, tentu saja ada." jawab Kai
"Benarkah? Wah.. ia pasti sangat beruntung bisa menarik hati seorang Kim Jongin. Aku jadi penasaran seperti apa orangnya."
"Kau benar-benar ingin tahu seperti apa orangnya?" tanya Kai dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. Mungkin hanya Kai yang tahu maksud dari tatapan itu.
"Tentu saja aku ingin tahu Kai.." tukas Baekhyun mantap.
"Umm dia.. baik, bahkan terlalu baik. Ia bisa mencintai dengan tulus, ia bisa membuatku senang dan juga gugup di waktu yang sama, ia bisa memberiku semua rasa saat aku bersamanya, aku nyaman bersamanya. Ia juga memiliki senyuman yang sangat manis dan indah. Aku sangat menyukai kepribadiannya yang hangat dan humoris. Ia... sangat sempurna di mataku dan kurasa... sampai saat ini hanya ia yang mampu membuatku seperti ini." Kai menatap Baekhyun lekat-lekat selama beberapa detik, lalu tersenyum hambar. "Tapi sayangnya, saat ini sudah ada seseorang yang memilikinya." raut wajah Kai berubah menjadi sedih iapun menghela nafasnya berat.
"Ah sayang sekali, apa kau tak pernah berusaha untuk merebut hatinya?"
"Sudah kucoba tapi sepertinya ia sangat mencintai kekasihnya."
"Aigoo Kai, aku turut sedih.. andai saja aku tahu siapa orangnya aku pasti akan membantumu untuk mendapatkannya." Kai hanya tersenyum miris mendengar perkataan Baekhyun.
"Tidak perlu Baekkie, melihatnya bahagia saja itu sudah membuatku senang." tukas Kai sambil tersenyum hambar.
"Apa kau tak berusaha untuk mencari penggantinya?"
"Terlalu sulit Baekkie, aku rasa aku sudah terlanjur mencintainya, ia terlalu sempurna di mataku. Aku tak yakin apakah aku sanggup berhenti mencintainya atau tidak."
Baekhyun menggenggam tangan Kai dan tersenyum "Kau pasti bisa Kai, kau hanya perlu mencari seseorang yang lebih baik darinya. Aku yakin Tuhan telah mempersiapkan seseorang yang suatu saat nanti akan mengisi hari-harimu. Aku yakin."
Kai mengangguk dan membalas genggaman tangan Baekhyun sambil menatapnya "Ne, semoga.. gomawo Baekhyun kau sudah mau mendengarkan ceritaku, aku tak tau lagi harus bagaimana."
"Sama-sama Kai, aku hanya ingin melihat kau bahagia bersama orang yang mampu melengkapi hidupmu."
- One Mistake One Regret -
Malam harinya Baekhyun terbangun pada pukul 1 pagi, ia meraba kasur di sebelahnya dan sedikit terkejut begitu mengetahui bahwa Chanyeol tak berada disampingnya, iapun segera bangun dan menuju ruang kerja Chanyeol yang ada di sebelah kamar mereka dan sesuai dugaannya Chanyeol lagi-lagi sedang berkutat dengan laptop dan dokumen kesayangannya. Ia yang melihatnya hanya menghela nafas dan berjalan menghampiri namja tinggi tersebut.
"Channie, kenapa kau belum tidur?" Baekhyun bertanya dengan selembut mungkin, tak berniat mengagetkan Chanyeol.
Sontak Chanyeol menoleh dan terkejut mendapati Baekhyun yang saat ini berdiri di hadapannya "Baekkie apa aku mengganggu tidurmu? Mianhe. Kau kembali tidur saja, sedikit lagi aku selesai."
Baekhyun mempoutkan bibirnya "Shireo! yak Channie ini sudah ke 7 kalinya kau selalu mengabaikan jam tidurmu dalam sebulan ini.. Seharusnya saat ini kau istirahatkan tubuhmu itu untuk bekerja besok, aku khawatir akan kesehatanmu, aku tak ingin kau kecapean dan sakit." terlihat raut wajah Baekhyun menunjukkan ekspresi khawatir, bagaimanapun juga ia sangat khawatir melihat cara kerja Chanyeol yang tak jarang suka lupa waktu.
Chanyeol segera berdiri dan langsung memeluk Baekhyun erat, mengelus kepalanya dan menciumnya "Mianhe Baekkie, aku tak bermaksud membuatmu khawatir.. mianhe chagiya."
Baekhyun menghela nafasnya, "Kau tak tau seberapa khawatirnya aku akan dirimu. Aku tak ingin kau sakit karena terlalu lelah. Kau harus menjaga kesehatanmu Chanyeol. Aku tak mau kehilanganmu."
"Tidurlah chagi, ini sudah sangat malam."
Baekhyun menggelengkan kepalanya "Aku tak mau kalau tanpamu, kau juga harus istirahat."
"Sedikit lagi pekerjaanku selesai, aku janji aku akan segera menyelesaikannya."
"Kalau begitu lebih baik aku menunggumu, bukankah katamu pekerjaanmu sedikit lagi selesai?"
"Tapi disini dingin chagiya, bukankah kau tak tahan suhu dingin?" tanya Chanyeol sambil mengelus pipi Baekhyun.
"Aku tak peduli, lagipula aku bisa mengambil selimut tebal yang ada di lemari," jawab Baekhyun, iapun segera kembali ke kamar dan mengambil selimut miliknya.
"Tidak ada penolakan!" tukasnya begitu ia kembali ke ruang kerja Chanyeol dan duduk di salah satu sofa panjang di ruangan itu. Chanyeol hanya menghela nafas dan kembali berkutat dengan pekerjaannya, ia merasa sudah sangat lelah untuk berdebat dan memilih mengikuti kemauan Baekhyun.
Author POV end
Chanyeol POV
Aku merenggangkan otot-otot badanku yang terasa kaku, berkutat dengan beberapa file dan dokumen benar-benar sangat melelahkan. Aku melirik jam kecil yang ada di samping laptop milikku, aku sedikit terkejut begitu mengetahui jam telah menunjukkan pukul 2.30 pagi sontak aku langsung menoleh kearah Baekhyun dan ternyata saat ini ia sedang tertidur dengan posisi meringkuk kedinginan. Aku yang melihatnya merasa tak tega, maka akupun menggendongnya dan membaringkannya di ranjang kami.
"Mianhe, karena aku kau sampai kedinginan seperti ini." bisikku sambil mengelus pipinya "Padahal kau tak tahan suhu dingin tapi kau rela menungguku.."
"Aku tahu, aku ini sangatlah keras kepala dan seringkali membuatmu kesal karena aku tak mendengarkan nasehat darimu. Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan diriku, mianhe Baekkie aku benar-benar tak bermaksud membuatmu khawatir dengan keadaanku saat ini.. Terima kasih kau mau bersabar menghadapiku dan mengerti akan posisiku saat ini, terima kasih karena hingga saat ini kau masih mencintaiku." Aku mendekatkan wajahku kearahnya dan mengecup dahinya lembut, "Jeongmal saranghae.. aku tak mau kehilanganmu." ku elus lagi pipi lembutnya dan mengecup bibirnya lebih lama hingga beberapa detik.
Aku berdiri lalu menyelimutinya, dan kembali menuju ruang kerjaku.
- One Mistake One Regret -
Sesuatu bergetar di meja kerjaku dan berhasil membuatku terbangun, aku mengambil benda itu dan mengecek Caller IDnya, tertera sebuah nomor yang kuyakini berasal dari Canada. Akupun segera mengangkatnya.
"Hello?" jawabku dengan suara khas orang baru bangun.
"Chanyeol ini appa, apa aku mengganggumu?"
"Ah appa, wae?" tanyaku begitu mengetahui siapa pemilik nomor ini.
"Appa hanya ingin memberitahumu, hari ini kau ada rapat pertemuan dengan Do Coorporation, tadi siang mereka menghubungi appa dan meminta untuk mempercepat pertemuannya, dan appa mempercayakannya padamu, Chanyeol." tukas appa panjang lebar.
"Tunggu maksudmu hari ini waktu Seoul?"
"Tentu saja Chanyeol, pokoknya appa serahkan semuanya padamu."
"B-baiklah appa.."
"Yasudah, appa hanya ingin menyampaikan hal itu. Jangan terlalu memaksakan dirimu, istirahatlah. Bukankah saat ini waktu Seoul menunjukkan pukul 4 pagi?" mendengar pertanyaan appa, sontak membuatku langsung melirik jam kecil di meja kerjaku dan ternyata benar.
"Hehe kau tau saja appa, ne arraseo aku akan menjaga kesehatanku, kalian berdua juga jangan terlalu memaksakan diri, berhati-hatilah."
"Arraseo.. baiklah kau juga hati-hati."
"Ne," aku menutup telepon dari appa dan kembali meregangkan otot-ototku yang terasa kaku, aku mematikan lampu ruang kerjaku dan segera menuju kamar melanjutkan tidurku yang sempat terganggu.
Chanyeol POV end
Author POV
Pagi harinya, disebuah rumah bernuansa minimalis terlihat seorang namja berkulit putih pucat sedang membersihkan mobil sedan hitam miliknya.
"Sehunnie, ayo sarapan!" panggil seorang namja cantik dari pintu depan rumah.
"Ne eomma," namja yang bernama Sehun itu akhirnya menghampiri namja cantik tadi.
"Yak sudah ku katakan jangan memanggilku eomma, aku bukan eommamu." Luhan memukul ringan bahu Sehun.
"Memang bukan, tapi kau sebentar lagi akan menjadi eomma dari anak kita." goda Sehun sambil mengelus perut Luhan.
Ia memukul punggung Sehun ringan "Yak berhentilah menggodaku Oh Sehun!"
"Hahaha.. kau galak sekali eoh? Apa ini gara-gara aegi kita?"
"Aish, ini gara-gara kau.. sudahlah, cepat sarapan! Bukannya setengah jam lagi kau harus ke kantor?" tanya Luhan lalu menarik tangan Sehun menuju meja makan.
"Luhannie, apa kau sudah bertemu dengan Chanyeol?" tanya Sehun sambil menikmati sarapannya.
"Belum.. kurasa ia benar-benar sibuk, ia benar-benar penggila kerja," Luhan menggelengkan kepalanya, "Aku kasihan sama Baekhyun."
"Maksudmu?"
Luhan meneguk air miliknya sebelum melanjutkan ceritanya, "Waktu itu Baekhyun cerita padaku tentang kesibukan Chanyeol, dan saking sibuknya terkadang ia mengacuhkan nasehat dari Baekhyun.. Aku tahu ini berat bagi Baekhyun karena harus bersabar menghadapi pola kerja Chanyeol yang mengkhawatirkan. Aku salut padanya karena ia sangat sabar dan tak pernah protes pada Chanyeol, aku rasa jika aku berada di posisi yang sama seperti Baekhyun saat ini mungkin aku tak akan sanggup dan menyerah."
"Kau harus bersyukur, baby.. karena kau tak memiliki suami yang mempunyai kesibukan sama seperti Chanyeol. Mungkin menurutku ia begitu karena Presdir Park sangat mempercayai kinerja Chanyeol yang rapi dan bagus, kau tahu sendiri Presdir Park tak pernah membedakan anaknya dengan karyawannya yang lain, bahkan ia berani menegur Chanyeol di depan kolega-koleganya." tukas Sehun panjang lebar sambil menggenggam tangan Luhan.
"Ya begitulah, Predir Park benar-benar professional dalam bekerja. Ah Sehunnie bukankah hari ini klien rapatmu dari Park Coorporation?"
"Begitulah, tapi dari yang kudengar mereka memiliki CEO baru karena Presdir Park saat ini sedang ke Canada untuk urusan bisnis."
"Nugu?"
"Ntahlah mereka tak memberi tahuku, mereka hanya menyuruhku membawa beberapa file dan kontrak perjanjian kerja sama dengan Park Coorporation yang pernah di tanda tangani 8 bulan yang lalu."
"Mwo? Bukannya mereka juga memilikinya?"
"Ntahlah ini hanya permintaan dari CEO baru itu."
Author POV end
Sehun POV
Saat ini aku telah selesai membersihkan tubuhku dan bersiap-siap ke kantor, kulihat Luhan saat ini sedang menyiapkan pakaian kantorku tak perlu berlama-lama aku langsung memeluknya dari belakang.
Ia terkejut begitu tanganku berhasil memeluknya dan daguku yang saat ini berada di bahunya "Sehunnie kau mengagetkanku."
Aku tetap diam dan masih menikmati aroma khas tubuhnya yang selalu menjadi candu untukku.
"Sampai kapan kau akan betah memelukku seperti ini hmm? Apa kau tidak takut terlambat?" tanyanya namun tak bergeming dari pelukanku.
"Biarkan aku memelukmu seperti ini sejenak sambil merasakan aroma tubuhmu baby.." jawabku lalu menciumi lehernya tanpa berniat meninggalkan bekas.
"Hei bukankah kau selalu menikmatinya setiap waktu? Apa kau tak bosan?" ia mengelus punggung tanganku lembut.
"Aku tak pernah bosan jika itu menyangkut dirimu, bagiku kau lebih dari sekedar heroin atau jenis narkoba manapun karena kau berhasil menjadi candu bagiku dan berhasil membawaku terperosok dalam pesonamu."
Tiba-tiba ia melepaskan pelukanku dan berbalik menatapku.
"Yak kau tega sekali menyamakan aku dengan narkoba, aish jinjja!" tukasnya sambil mencubit hidungku gemas. Aaah.. padahal sedikit lagi.
"Aduduh.. sakit baby." ringisku sambil memegang hidungku yang merah kerena bekas cubitannya.
Ia mempoutkan bibirnya kesal dan menatapku, sontak aku langsung mencium bibirnya lalu mengacak rambutnya iapun terkejut dan memandangku dengan pipi yang bersemu.
"Hehehe aku tak bermaksud chagiya."
"Kau menyebalkan!" tukasnya sambil melipat tangannya.
"Nado saranghae.." balasku dan menunjukkan senyuman terbaikku yang kuyakini selalu berhasil membuatnya gugup.
"Aish kau benar-benar menyebalkan! Sudahlah, cepat sana ganti bajumu! Aku harap kau benar-benar terlambat." tukasnya dengan wajah yang semakin merona lalu meninggalkanku. Aku hanya tertawa kecil melihat reaksinya.
Sehun POV end
TBC
Hohoho gimana ? masih kurang ya ? Mau dilanjut apa kaga nih ? seperti biasa, saya mengharapkan review dari kalian, semakin banyak review semakin cepat updatenya jadi kalo kalian penasaran silahkan review *puppy eyes(?)*
Sekian cuap-cuap dari saya.. fiction ini juga di post di AFF dengan judul :: One Mistake One Regret - Chanbaek/Baekyeol (Indonesia Fiction)
