Tae Zan

-2-

—◌—

A fanFic By : Jun Se Jung

Cast :

Kim Tae Hyung (V) [BTS]

Kim Seok Jin [BTS]

—◌—

Kisah fiksi (FanFiction) hasil perbuatan GJ dari penulis, tidak berhubungan dengan tokoh, maupun kejadian dalam dunia nyata(?).

Malam harinya mereka telah sampai dirumah sederhana didekat dermaga pelabuhan yang dirindukan. Jin langsung menuju ke kamarnya, ia rindu kasur beserta guling-bantalnya yang nyaman. Merasa ada yang berjalan mengikutinya dibelakang, ia menoleh.

"Apa? Kenapa kau mengikutiku?" tanyanya ketus mendapati manusia rimba itu mengikutinya, apa manusia rimba itu adalah fansnya?.

TaeHyung hanya diam tak mengerti apa yang Jin katakan, yang ia tahu dari ekspresi Jin, dia sedang marah dengannya.

"Dia akan tidur denganmu." Ucap ayah kepada Jin yang kemudian melotot tajam.

"Apa?! Aku tidak mau! Kenapa harus?" Protesnya, "Kenapa tidak tidur dikamar ayah saja?" Ia mengusulkan.

Ayahnya terlihat tak suka dengan usul itu, "Hey, kasur ayah sempit. Lagipula ayah sudah tua, punggungku saja terasa sakit saat bangun tidur!" Ayahnya juga memprotes dan mengeluh atau mungkin curhat?, "Kasurmu kan cukup luas untuk dua orang."

"Tidak mau! Badannya bau dan menyebar kemana-mana!" Ungkap Jin yang merasakan bau tidak wajar disetiap sudut ruangan, bahkan mungkin sampai langit-langit rumahnya. Ia menutup hidungnya risih.

"Kalau begitu mandikan saja dia." Suruh ayahnya enteng lalu pergi masuk kekamarnya.

Jin melongo tak percaya ayahnya menyuruh dia untuk melakukan hal yang tabu baginya. Ayolah, dia sudah cukup lelah dan bisa mengeluarkan emosinya kapan saja!.

Jin menatap orang yang tubuh bawahnya hanya ditutupi daun pisang saat mereka mau pulang tadi, dia terlihat tidak tahu apapun diketahui dari ekspresi kosongnya. Jin mengusap wajahnya frustasi, menahan amarahnya.

"Kau...bisa mandi sendiri, kan?" Tanyanya menunjuk pintu kamar mandi yang berada didalam kamarnya. "Kalau tidak, terpaksa kau harus tidur diluar, mengerti?" Tanyanya meminta kepahaman TaeHyung atas ucapannya, yang entah apakah makhluk rimba itu mengerti atau tidak. Ia tidak cukup peduli lagi dan ia beranjak ke kasurnya untuk beristirahat.

TaeHyung mengerti isyarat dari Jin yang menunjuk kearah pintu itu, tanpa ingin membuat Jin marah lagi, ia segera masuk kesana, tapi dia tak bisa membuka pintu itu, lebih tepatnya tak tahu caranya.

Ia mendorong dan menarik gagang pintu, namun tetap tak terbuka. Aneh pintu ini tak sama dengan pintu yang ada dirumahnya.

"Astaga, kau hanya perlu memutarnya seperti ini!" Jin bangkit dari kantuknya, membukakan pintu bergagang lingkaran tersebut. Suara dobrakan pintu yang dibuat TaeHyung sangat menggangunya yang sedang berusaha untuk tidur.

TaeHyung mengerti lalu masuk kedalam setelah pintunya ditutup kembali oleh Jin. Terdapat kubangan air yang biasanya orang lain selain TaeHyung sebut sebagai bak mandi. Ia berfikir mengerti dan menyimpulkan bahwa ada air berarti tadi Jin menyuruhnya untuk membersihkan tubuhnya.

Jin yang merasa lega kembali berbaring kekasurnya dengan tenang, melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu tanpa tahu apa yang sedang dilakukan TaeHyung didalam kamar mandi.

Baru saja ia memejamkan matanya beberapa menit, ia mendengarkan suara air yang tumpah. Ia terbangun dan mengerutkan alisnya, apa yang terjadi? Jin jadi curiga. Dengan langkah tergopoh ia membuka pintu kamar mandi.

Jin memukul kepalanya sendiri dengan perasaan tercengang, lalu mendesah kesal, "Aaah...! kau..., apa yang kau lakukan? Aargh!" Ia berteriak mendapati TaeHyung mencebur kedalam bak mandinya sehingga membuat airnya tumpah sampai masuk kedalam kamarnya.

"Aaa!" Ia mendesah frustasi melihat semua kacau dengan banyaknya air hingga menjadi banjir. Selanjutnya ia tak tahu apa yang akan ia lakukan terhadap manusia rimba yang telah mengacaukan tidurnya yang semula tenang.

TaeHyung hanya menatap Jin dengan tampang bodohnya yang tak mengerti apa-apa. Sepertinya Jin marah padanya. Itu saja yang ia tahu, tanpa tahu apa penyebab Jin marah-marah frustasi begitu. Terlihat seperti simpanse tua yang suka mengomelinya dihutan. Itu mengingatkannya.

"Keluar." Ucapnya lemas, ia sudah cukup lelah untuk memarahi manusia hutan ini. TaeHyung tak melakukan gerakan apapun, karena dia tak megerti suruhan yang Jin ucapkan.

Jin yang baru ingat jika TaeHyung adalah manusia rimba yang tak mengerti bahasa dan berbicara, ia menarik lengan TaeHyung untuk keluar dan melemparinya handuk yang diambilnya.

TaeHyung yang tak mengerti benda bewarna pink itu hanya diam. Jin menghela pasrah, lalu mengkeringkan air yang membasahi seluruh tubuh TaeHyung. Demi apapun ia mencoba untuk tidak berfikir apapun!.

Setelah selesai mengerjakan itu sambil menutup mata, ia memberi TaeHyung kemeja miliknya, "Pakai ini." Namun lagi, TaeHyung diam tak mengerti. Jin menghela nafas pasrah, lebih berat.

Haruskah ia memakaikannya? Sepertinya harus. Jika tidak, makhluk ini akan berkeliaran dengan tubuh tanpa pakaian dan menggangu penglihatannya.

Helaan nafas pasrah (lagi), dengan terpaksa ia memakaikannya, memasukkan tangan TaeHyung untuk masuk ke lengan baju lalu mengkancingkan satu persatu kancingnya.

"Ce... celananya pakai sendiri!." Suruhnya berlagak marah untuk menutupi rasa malunya, melempar celana itu pada TaeHyung. Bagaimana mungkin ia melakukannya? Lakukan saja sendiri, Memalukan...

Namun TaeHyung hanya memasang wajah blank (lagi) yang Jin rasa ia sudah bosan melihatnya walau SEBANYAK empat kali. Argh!.

Haruskah ia memberikan contohnya pada makhluk rimba ini? Dengan cara ia yang memperagakan memakai celana dalam? Diberi uang 10 juta won pun dia tidak mau, sungguh. Walau orang dihadapannya kini tidak tahu apapun, tetap saja dia malu dan enggan!. Memalukan bagi anak muda berimage dan berharga diri tinggi sepertinya.

Tak mau melakukan perbuatan memalukan itu, ia mencari ide dan ia menemukan boneka beruang yang terdapat diatas bantal lalu mengambilnya.

"Nah, caranya kau harus memasangnya seperti ini, mengerti?" Jin memakaikan celana dikedua kaki boneka tersebut, menunjukan caranya kepada TaeHyung lewat boneka yang menjadi alat peraga itu. Dan Jin berharap, demi celana dalam, makhluk itu harus mengerti tugasnya. Kalau tidak, ayahnya pasti akan menyuruhnya untuk memakaikan celana dalam itu pada TaeHyung.

Dan Jin harus menerima kenyataan bulat-bulat saat mendapati wajah TaeHyung yang tak mengerti apa yang dia ucapkan dan lakukan.

*sensor*skip*penuh dengan jeritan hati Jin*sensor*skip*

-%-

Tiga anggota keluarga, yang mana salah satunya adalah anggota keluarga baru yang dipungut dari hutan oleh sang kepala keluarga, namun anaknya yang mengalami emosi jiwa tidak setuju dan tidak merasa senang, selalu terlihat diwajah tampannya saat melihat TaeHyung yang menyusahkan seperti bayi. Mereka telah berada disekeliling meja makan untuk makan malam yang sudah disiapkan Jin.

"Apa tidurmu nyenyak?" tanya ayah, Jin yang sedari tadi diam melamun menatap makanan yang sudah dihidangkan dihadapannya menoleh.

"Tidur sepuluh menit tidaklah nyenyak." Ucapnya datar, masih kesal atas jam tidurnya yang singkat. Lingkaran hitam dibawah matanya nampak seperti panda, ketampanannya jadi berkurang. Sebal.

Kerutan didahi ayah nampak saat ia menurunkan kedua alisnya, mempertanyakan hal itu dalam wajahnya, dan Jin tak ingin membahas persoalan itu lagi, apalagi mengingat. Hanya diam, Itulah cara dia meredam dan menyimpan emosinya daripada ia mengeluarkan emosi yang tak ingin dilihat siapapun. Lelah, tak beristirahat, membersihkan genangan air dikamar dan kamar mandi, merawat makhluk rimba itu, dan menyiapkan makanan. Kelelahan yang berpengaruh terhadap moodnya.

"Nah, kau coba makan ini, yah..." Ayah Jin memberikan sepiring kimchi dimeja hadapan TaeHyung.

TaeHyung yang memang masih kelaparan langsung memakannya dengan lahap. Ayah dan anak bermarga Kim itupun melongo, tercengang kaget dan Jin jijik melihat sikap TaeHyung dalam hal makannya yang tanpa menggunakan tangan, melainkan langsung dari piringnya.

TaeHyung mengangkat piring itu dan menjilati sisanya sampai habis, rasanya lebih enak dibanding dedaunan yang ia makan dihutan.

Jin meletakan kembali sendoknya, "Aku tidak nafsu makan." Ia kehilangan hasrat kelaparannya. Nafsunya hilang akibat melihat kelakuan TaeHyung yang membuatnya jijik, ilfeel.

"Eh.. kau harus makan menggunakan ini." Ayah Jin memberikan lagi sepiring kimchi dan sendok yang ia berikan ke tangan TaeHyung, menyuruhnya untuk menggenggam benda kecil itu namun TaeHyung kaku, ia lupa dan tak tahu lagi bagaimana caranya untuk memegang sebuah sendok. Dihutan ia sama sekali tak pernah memakai benda itu, karna memang tidak ada. Ia hanya menggunakan tangannya untuk berburu dan memakan hasil buruan dengan tangan.

"Astaga, apa dia tidak bisa apa-apa?" Desah Jin kesal. Unek-uneknya keluar, tapi dia belum merasa puas.

"Kau harus belajar sabar menghadapi orang yang tak tahu apa-apa ini dan mengajarinya secara pelan-pelan, kau kan tahu dia adalah manusia rimba yang hidup dihutan!" Ayahnya mulai ceramah, membuat Jin tidak tahan. "Dan jangan marah-marah begitu. Apa kau mau wajahmu lebih terlihat tua dariku? Lihat saja kau selalu mengkerutkan dahimu empat kali sehari!" Jin mengingat-ingat usia ayahnya yang berusia sekitaran 50 tahun dan kerutannya ada dimana-mana. Mengerikan sekali jika kadar ketampanannya berkurang. Dan jika ia kelihatan tua daripada umurnya dan kerutan-kerutan itu timbul maka itu disebabkan oleh TaeHyung yang membuatnya mengalami gangguan stress. Memperbanyak hadirnya kerutan itu dua kali lipat dalam satu hari.

"Sudah, kau makan saja makananmu, kalau tidak mau akan kuberikan pada anak ini." Ayah mengambil piring Jin yang masih penuh dengan kimchinya namun dipertahankan Jin yang jujur saja ia sangat kelaparan.

Selesai mereka makan dengan Jin yang masih merasa ilfeel dan badmood, ayahnya mulai berbicara.

"Aku tak bisa terus memanggilnya dengan sebutan 'anak ini'. Aku tak tahu siapa namanya. Sepertinya kita harus memberinya nama, bukan?" Ia berbicara kepada Jin, mengajukan usulnya dan mengajak Jin untuk berdiskusi, yang Jin tidak tanggapi dengan cuek karena menurutnya tak penting, sudah cukup baginya untuk memangil dengan 'manusia rimba' ataupun 'makhluk rimba'. Karna memang begitu, kan.

Ayah menerawang, mencoba memikirkan nama apa yang cocok, "Kim Seok woo, Kim Seok..." Katanya terputus saat melihat Jin mendelik, sudah diketahui ia tak setuju jika nama manusia rimba sama dengannya. Itu akan membuatnya terlihat sama dengan 'MANUSIA RIMBA'. Tidak mau!.

Ayahnya beralih menatap TaeHyung yang sedang ketahuan sedang mengkorek-korek telinganya (lagi), "Ah, namamu siapa?" Tak lupa memberikan senyum agar TaeHyung tak takut, namun tak ada sahutan dari TaeHyung yang masih dengan kegiatannya, membuat Jin bertambah jijik lagi. Untung saja sarapannya sudah habis.

"Dia, orang berwajah stress ini bernama Jin." Ayahnya mencoba jelaskan dengan menunjuk orang yang dimaksud, yang disambut Jin dengan pelototan. "Dan namaku" ia menunjuk dirinya, "Namaku Kim Jeon-ah, aku Jeon-ah." Ia menjelaskan berkali-kali dengan pelan agar TaeHyung mengerti apa yang dimaksudkannya.

"Dan sekarang, siapa nama mu?"

TaeHyung yang sedikit mengerti mencoba mengatakan jawabannya, "T..Tae" dengan sedikit terbata. Yang dia ingat hanyalah sepenggal nama tengahnya, yang lainnya ia lupa. Kerena ingatan saat kecil sangatlah susah untuk diingatnya sampai sekarang.

Ini pertama kalinya TaeHyung membuka mulut sejak 6 jam lalu. dan Jin benar-benar harus menutup indera penciumannya, bau mulut TaeHyung yang tak sedap sampai tercium pada dirinya yang berada setengah meter dihadapannya. Aigo, makhluk ini... ia menggerutu dalam hati, apa dia tidak menggosok giginya sewaktu mandi tadi? Ah ya dia kan tak bisa apa-apa selain makan pisang!, pikir Jin yang terkesan sadis menurutnya sendiri. Tapi kenyataannya memang begitu, ia meyakinkan diri kalau dirinya bukanlah orang jahat dengan kenyataan TaeHyung yang ada.

"Tae? Tae Zan?" Tanya Jin asal, tapi menurutnya itu cocok sekali, namun kemudian nama itu mengingatkannya pada selembar foto yang ia pungut dipart.1. Lalu ia mengambil foto yang ia simpan di saku celana.

"Apa namamu TaeHyung?" Tanyanya sambil melihat balik foto yang terdapat nama tersebut.

"Apa itu?" Ayah Jin mengambil selembar foto itu dari tangan Jin. "Apa ini dia?" Tanyanya melihat gambaran foto anak kecil yang mirip dengan TaeHyung.

"Aku menemukannya dikolom meja yang kita buat untuk menambal kapal.", "Dan ini juga" Jin memberikan satu foto lagi.

"Apa ini keluarganya?" Tanya ayah setelah melihat dan menyamakan foto bayi difoto kedua sama dengan foto yang kesatu.

"Sepertinya."

Ayah menunjukkan foto pertama pada TaeHyung, "Apa ini kau?" Tanyanya, tak peduli jika TaeHyung mengerti ucapannya atau tidak, ia sudah terlalu ingin tahu dan penasaran.

Yang TaeHyung lihat, anak difoto itu seperti anak berambut cokelat yang berada dalam mimpinya kemarin. tak tahu siapa, tapi ia merasa anak kecil itu mirip seperti dirinya.

Dari ekspresi TaeHyung, ayah menyimpulkan bahwa itu benar. Namanya Kim TaeHyung. Tapi ia masih tak tahu asal-usul foto keluarga ini dan kenapa TaeHyung hingga berada dihutan. Ia menunggu untuk TaeHyung bisa berbicara dan mengingatnya.

-%-

Pagi yang indah menyambut desa yang terletak didekat dermaga kecil, lautannya berwarna kuning terkena sinar matahari yang sudah tinggi.

Jin tak menyambutnya dengan senang, bangun dari tidurnya ia dikagetkan oleh seorang yang tidur telanjang tanpa mengenakkan pakaian disampingnya.

A... apa dia semalam habis berbuat tabu dengan seseorang? Tidak mungkin! memandikan tarzan itu saja dia ogah. Ia memukul kepalanya sendiri, menyadarkan dirinya yang masih setengah terjaga atau otaknya belum bekerja dengan benar karena pengaruh kantuknya.

Ah, ya dia lupa tentang tarzan yang kemarin malam tidur dikamarnya, tapi semalam makhluk itu lengkap mengenakan pakaiannya. Sekarang kenapa dia telanjang? Membuat Jin merasa aneh, apalagi TaeHyung tidur disampingnya.

Sedetik kemudian TaeHyung terbangun karena sinar matahari masuk melalui jendela yang membuat matanya silau.

"Mana bajumu?" Tanya Jin langsung. TaeHyung hanya diam dengan ekspresinya yang masih mengantuk, seharusnya ia mendengarkan kicauan burung dipagi hari, bukannya kicauan Jin.

Jin melihat baju itu tergeletak dibawah disamping kasur lalu mengambilnya, menyuruh TaeHyung untuk memasukkan tangannya kedalam lengan kemeja. TaeHyung yang telanjang sangat menganngu pemandangannya, bahkan mungkin pikirannya, bisa-bisa dia berpikiran hal-hal cabul, tidak! Ia tidak suka hal-hal tabu! Makanya ia harus menyuruh makhluk itu untuk mengenakan pakaiannya apapun yang terjadi.

TaeHyung memberontak saat Jin memaksa tangannya untuk mengenakan pakaian itu. Sampai batas ketahannanya, ia tidak sanggup dengan perbuatan pemaksaan Jin terhadapnya, ia tidak suka jika dipaksa melakukan hal-hal yang tak disukai. Ia hanya tahan memakai pakaian hanya 10 menit dan itu perjuangan, ia jadi tak bisa mengaruk-garuk tubuhnya yang gatal dengan bebas. Itu menyiksanya.

TaeHyung menjauhkan pakaian itu dari tubuhnya, kalau bisa jangan sampai menyentuh kulitnya, namun masih saja Jin menyodorkan pakaian itu pada TaeHyung dengan pikiran 'harus'. TaeHyung yang benar-benar tidak tahan akhirnya merebut baju itu dari Jin lalu merobeknya dan dibuang keluar jendela. Hore.

Jin menganga, ternyata makhluk itu bisa berontak juga, ya. Kemeja mahalnya lenyap sudah ditangan tarzan si makhluk rimba. Ia mengambil nafas panjang, Oke fix! ia akan mengadu, "Ayah, manusia rimbanya tidak mau pakai baju!" Sudah tidak tahan dia.

Ayah datang, memasuki pintu kamar Jin dengan ekspresi ingin memukul Jin yang telah menganggu waktu tidurnya yang kurang memuaskan. Ia akan memuaskannya dengan memukul Jin.

"Awas kau Jin!" Ia mengacungkan kepalan tangannya yang akan ditinjukan.

"Dia tidak mau pakai baju!" Frustasi adalah style wajahnya sekarang.

"Pokoknya kau urusi saja TaeHyung. Aku akan bekerja seharian nanti." Dan teriakan Jin telah mengacaukan istirahat untuk simpanan tenaganya nanti.

Ucapan tak bertanggung jawab macam apa itu tadi? Bukanlah dia yang mau memungut anak ini, tapi ayahnya... kenapa harus dia? Kenapa bukan tetangganya saja? Tapi tetangga tidak ada urusannya dengan makhluk rimba itu. Dialah, si Kim Seok Jin anak dari Kim Jeon-ah yang berhubungan, membuat hidupnya sedikit sulit untuk juga HARUS mengurus TaeHyung.

-%-

Liburan sekolah yang telah ia lewati empat hari ini malah tidak bisa merefreshing pikirannya, malah ada beberapa kejadian yang membuatnya stress.

Siang ini begitu membosankan, si tarzan sedang memanjat pohon depan rumah. Jin duduk disofa rumahnya sendirian, acara-acara TV yang dilihatnya sama sekali tak ada yang menarik, karena yah chanelnya cuma ada enam, dan semua itu kebanyakan acara jadul untuk orang tua yang sama sekali tak cocok untuk tuan muda Jin lihat.

Kebosanan itu membuat pikiran Jin melayang, pikirannya sudah tak berada di televisi lagi namun kepada ingatannya tentang ibunya yang telah meninggal 2 tahun lalu saat penyakit kanker merenggut nyawa beliau. Kalau saja ibunya masih ada, pasti tidak akan sepi seperti ini, dan ayahnya tidak akan sering memarahinya karena ia (yang memang pada dasarnya emosian) semakin emosian yang dikarenakan hal tersebut.

BRAK! BRAK!

Jin terperanjat kaget, sadar dari lamunan sedihnya. Dengan wajah tak terima karena pengheningan ciptanya dirusak, ia menoleh kesumber suara keras yang merusak suasana dramatisnya.

"Si...apa?!" Ia melotot kaget melihat TaeHyung ada dihadapannya dengan segala tampang bodohnya yang sedang memukul-mukul TV jadul miliknya, walaupun Jin stress mempunyai TV yang seharusnya sudah masanya ditaruh dirombengan, itu adalah TV ayahnya satu-satunya. Salah satu alat penghibur yang ia miliki dirumah ini, walaupun isinya tua-tua. Sekali lagi, itu adalah satu-satunya dan TaeHyung akan merusaknya jika ia tak menghentikan perlakuan brutal makhluk itu.

"Apa yang kau lakukan?! Ya, hentikan! Atau aku akan membalasmu seperti perlakuanmu pada TV ku!" Ia menarik-narik baju TaeHyung (yang dengan segenap kekuatan&kesabaran terbatas yang Jin miliki untuk mengenakan pakaian itu pada TaeHyung tadi).

TaeHyung tak memperdulikan Jin dibelakangnya. Ia penasaran, benda ini mengeluarkan suara dan anehnya ada orang didalamnya, TaeHyung berfikir akan mengeluarkan orangtua dari dalam box yang disebut 'TV' oleh Jin. Bagaimana bisa orang tua itu masuk kesana? Tenang saja TaeHyung akan mengeluarkannya.

Ia sudah memukul-mukulnya dengan keras. Namun naas, box itu malah meledak dan mengeluarkan asap hitam yang mengotori wajahnya. Nenek itu tak terselamatkan dan mati...? seperti itu yang dipikiran TaeHyung, apa itu karena dia memukulnya?.

" #x !" Jin menjerit histeris tidak jelas mengetahui riwayat TV nya. Pulang-pulang ayahnya akan membunuh dia, ayahnya pasti akan menjudgenya dengan 'kenapa kau tidak mengurusinya?' ia yang akan disalahkan. Riwayatnya akan seperti TV itu. Jin ingin menghilang sekarang juga, atau ia ingin TaeHyung saja yang menghilang.

"Tak apa, lagipula itu adalah TV tua yang memang bisa saja dipukul sekali akan meledak, memang sudah waktunya rusak." Ucap ayahnya sepulang kerja, setelah Jin jelaskan ceritanya, akhirnya Jin bisa menghela nafas lega.

Ada alasan udang dibalik batu kenapa ayah mengampuni Jin dengan mudah, "Kau harus mengajari TaeHyung belajar berbicara, membaca dan menulis."

Nah kan, sudah Jin ketahui, tak mungkin ayahnya mengampuninya dengan mudah, pasti ada udang dibalik batu. Penderitaan Jin belum berakhir dan sepertinya ia akan lebih menderita lagi.

END

To be continue...

Finish making : 25.05.14

thanks for review :D haha gak nyangka ada yang komen, hehe saya kira ini fanfic gak ada yg baca soalnya gak ada tanda2(?) komentar...

KimmyJV'DJ.s huaa trimakasih sudah baca+review :)... dan.. tentu saja jin itu seme'nya :D tapi ff ini bukan romance -_-v. sebenarnya saya juga bingung ini cerita akhirnya romance/nggak, soalnya saya gak buat kerangka ceritanya*malesbikinkerangka* jadi gak tau akhirnya*pletak!*lihat saja nasib ni ff nantinya(?)

JSBTS trimakasih sudah baca dan review :'D*terharu*ini lah chapter 2 nya... maap jika gak memuaskan -_-v sekalian saya update chapter 3 nya biar cepet update yang chapter 4...

sekian... terima kasih reviews nya.. :"D