Your Eyes

.

.

Disclaimer: Kyuhyun and Sungmin belong to each other. The storyline is mine.

Be a smart readers pls, didn't spend ur time for bashing my story.

Thanks.

.

Rate: T

.

Cast: Kyumin.

.

Lenght: MultiChap

.

Summary: Sungmin yang memulai hidup barunya, tidak sengaja bertemu dengan Kyuhyun—lelaki dengan sejuta keburukan. Bagaimana jika kehidupan Sungmin yang baru dipenuhi dengan Kyuhyun dan Kyuhyun. Sampai pada akhirnya Sungmin tahu sesuatu hal, alasan Kyuhyun masuk dalam hidupnya selama ini.

.

WARN: alur ngebut, ide pasaran, bahasa berantakan, tulisan abstrak.

OOOC! Hanya bermaksud menyalurkan kebiasaan, tidak bermaksud menghina nama baik tokoh. Sorry, tuntutan cerita.

YAOI. BxB. Don't like Don't Read! Basher Plagiator Stay Away!

.

©Baby's Kyumin

.

.

Chapter 2 : THANK YOU

.

"Oh… Tidak!" Sungmin segera beranjak dari tempat tidurnya saat melihat jam mungilnya yang berbentuk hello kity warna pink.

"Kenapa bisa kesiangan begini?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengambil handuk lalu mandi. Begitu selesai Sungmin langsung berangkat ke sekolah. Seharusnya ia berjalan menuju sekolahnya namun kali ini ia berlari mengingat waktu yang ia punya sangat sedikit.

"hosh… hosh… Cho sialan!" ditengah larinya Sungmin masih sempat mengutuk Kyuhyun. Sebenarnya apa salah namja itu sehingga Sungmin menyumpahinya sepagi ini. Aneh dan konyol sekali.

Saat Sungmin sudah sampai di depan kelasnya, ternyata Shin seongsanim sudah menjelaskan materinya. Ia mengusap peluh yang ada di keningnya kemudian mengetuk pintu kelas.

"Apa yang kau lakukan disana?" Tanya Shin seongsanim yang bertubuh tambun tersebut pada Sungmin.

"Siapa yang menyuruhmu masuk, eoh?" Tanyanya lagi begitu melihat Sungmin melangkahkan kakinya masuk.

"Maaf seongsanim, saya terlambat" ucap Sungmin sambil membungkukkan badannya.

"Semua orang tahu itu, " balas Shin seongsanim datar.

Sungmin terkejut saat tangannya ditarik masuk. Kyuhyun. Dengan santainya lelaki itu membawanya masuk tanpa menghiraukan Shin seongsanim.

"Apa yang kau lakukan, Kyuhyun?" Tanya seongsanim saat melihat mereka sudah duduk di tempat duduknya. Namun bukannya meminta maaf atas perbuatannya Kyuhyun justru memasang earphone di telinganya.

"Bahkan semua orang tahu apa yang aku lakukan." jawab Kyuhyun membalas Shin seongsanim telak, sambil memilih lagu yang akan di dengarkannya.

"Lebih baik kau diam jika masih menyayangi pekerjaanmu." Lanjutnya tanpa memandang Shin seongsanim.

Keadaan seolah hening, tak ada yang berani menyahut ataupun menegur. Mereka mengambil keputusan yang benar. Siapapun tidak ada yang berani menetang kata-kata Kyuhyun jika mereka masih menyayangi dirinya sendiri. Sedangkan Sungmin hanya menatap Kyuhyun tak percaya. Pasalnya dia juga terlambat seperti dirinya namun dia terlihat sangat santai. Bahkan bisa dibilang sangat acuh. Memang Sungmin pernah mendengar orang tua Kyuhyun adalah donatur terbesar di sekolah ini. Jadi semua orang menghormati keberadaan Kyuhyun. Tetapi yang barusan ia lihat tadi itu sudah keterlaluan. Kyuhyun seolah membuat dunianya sendiri, bertingkah sesuka dirinya sendiri tidak menghormati orang lain terlebih orang yang lebih tua dari dirinya.

"Apa yang kau lihat?" Kyuhyun tersenyum sinis saat mengetahui Sungmin sedari tadi melihatnya.

"Jika kau ingin mengucapkan terima kasih. Simpanlah aku tidak membutuhkannya." Sambungnya sambil mengeluarkan PSP miliknya.

Lagi-lagi Sungmin heran, makhluk seperti apa Kyuhyun ini? Dia bertindak seolah berada dalam dunianya sendiri. Tetapi yang lebih Sungmin heran Kyuhyun berada di peringkat tertinggi dalam angkatannya. Bagaimana mungkin? Semua orang juga bisa melihat kelakuan Kyuhyun di kelas, tak sedikitpun memperhatikan pelajaran.

"Daripada kau berdiam diri, lebih baik gunakan waktumu untuk mencatat." Kyuhyun menyodorkan bukunya pada Sungmin.

"Tidak perlu, aku punya—"

"Untukku." ujar Kyuhyun saat Sungmin menatapnya bingung.

"Apa?" teriak Sungmin ketika berhasil mencerna maksud Kyuhyun.

"Jaga bicaramu, bodoh." Bisik Kyuhyun saat menyadari seluruh isi kelas tengah melirik mereka.

"Tak sudi!"

"Kau sangat munafik, nona." seringaian Kyuhyun tampak ketika ia melihat Sungmin meraih bukunya dan mulai menyalin tulisan yang ada di papan tulis. Kyuhyun tersenyum tipis, Sungmin memang menulis catatan untuknya namun namja manis itu tidak berhenti mengutuk dirinya yang berada di sampingnya.

Semua siswa tengah sibuk dengan diri mereka sendiri, begitu juga dengan Kyuhyun yang menekan-nekan tombol kecil pada PSPnya. Ketika ia sangat berkonsentrasi melawan musuhnya tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat menggelikan. Sungmin tampak menggigit bibirnya menyadari betapa memalukan dirinya. "Perutmu memalukan Lee." Ia menoleh ke arah Kyuhyun yang sedang menahan tawanya. Dengan sedikit ragu Sungmin mengangguk.

"Ikut aku." Kyuhyun menarik tangannya dan membawanya keluar.

"Kalian mau kemana, eoh?" Tanya Shin seongsanim saat melihatnya membawa Sungmin keluar dari kelas.

"Bukan urusan mu." Jawab Kyuhyun cepat lalu menghilang dari kelas bersama Sungmin.

"Kyuhyun berhenti!" Sungmin menarik tangannya dari genggaman Kyuhyun.

"Kau sungguh keterlaluan!" Sungmin berucap frustasi. Ia bertambah geram melihat Kyuhyun menyilangkan tangannya dan menatap Sungmin dalam diam.

"Kau benar-benar tidak sopan pada Shin seongsanim."

"Sudah selesai?" Ia mendelik, menatap Kyuhyun tidak percaya.

Dirinya hampir meledak karna memendam emosi yang berlebihan akibat Kyuhyun, tapi namja itu justru…ah menyebalkan.

"Diam! Atau kau akan menyesal!" Lagi. Kyuhyun menarik Sungmin untuk mengikutinya.

"Makan." Kyuhyun menyodorinya sepiring omlete yang baru saja ia ambil di cafetaria. Sungmin menatap piring itu ragu, dan lelaki tampan tersebut menyadarinya.

"Aku tidak akan memberimu kesempatan dua kali, Lee." Kyuhyun mendesis, Sungmin selalu bisa membuatnya kewalahan.

"Kenapa kau selalu memanggilku Lee? Aku punya nama Cho." Tidak berbeda dengan Kyuhyun, Sungmin begitu keras kepala. Dia tidak sedikitpun mengindahkan perintah Kyuhyun justru senang memercikan api amarah pada sang penguasa.

"Berhenti menyulut emosiku!" Kyuhyun menatap Sungmin tajam.

"Terserah. Urusi hidup mu sendiri!" Sedetik itu juga ia meninggalkan Sungmin sendirian di cafeteria dengan sepiring omlete yang sudah mendingin.

"Sebenarnya…." Sungmin memandang punggung tegap Kyuhyun yang mulai mengabur.

"Kau ini makhluk seperti apa Cho?"

.

Your Eyes

.

"Terima kasih." Ucap Sungmin saat ia bergabung kembali di kelas.

"Jangan mudah mengucapkan terima kasih." balas Kyuhyun sinis.

"Kenapa?" Sungmin menyangga kepalanya menghadap ke lelaki yang berada di sebelahnya kini.

"Lakukan saja." Jawab Kyuhyun mutlak.

"Ayolah. Kau sudah membuatku tertarik?" Sungmin terlihat sangat antusias dengan topik yang Kyuhyun bawa.

"Hn. Ingin ku ceritakan sesuatu?" Akhirnya ia menoleh ke Sungmin yang mengangguk dengan cepat. Kyuhyun menyandarkan tubuhnya lalu menyilangkan kedua tangannya didada. Bagaimanapun sikap Kyuhyun, ia tetap terlihat mempesona, menjerat siapapun hanya dengan melihat wajahnya.

"Semua terlihat seperti fatamorgana, Lee." Sungmin mencoba menyimak dengan benar setiap kata yang keluar dari bibir kissable Kyuhyun.

"Jangan tertipu dengan apa yang kau lihat, karena kau tidak dapat menembus mereka sampai ke dalam." Kyuhyun tampak memejamkan matanya, begitu menikmati hembusan nafas yang bergerak in-out dari hidungnya.

"Mereka tidak pernah melakukannya dengan tulus." Kyuhyun kembali membuka obsidiannya.

"Kenapa kau bisa menyimpulkan begitu, Kyuhyun?" sela Sungmin penasaran. Ia menoleh sebentar lalu kembali melihat lurus ke depan. Matanya terlihat sendu entah mengapa.

"Semua terlihat jelas di mata ku. Ekspresi orang, kau tak dapat menebaknya namun terlihat jelas saat kau merasakannya. Kau tidak akan pernah tau dengan mereka yang berada di belakang mu." Sungmin diam mencoba mencerna dengan baik kata demi kata yang Kyuhyun ucapkan.

"Tampak baik di depan tetapi entah apa yang mereka lakukan di belakang mu." Sungmin merasakannya, amarah yang terlalu banyak menguar di kedua mata coklat Kyuhyun. Garis rahangnya mengeras diikuti dengan nafasnya yang terputus-putus. Apa yang terjadi padanya?

"Jadi, jangan terlalu sering mengatakan terima kasih." Kyuhyun sudah tampak membaik, wajahnya sudah tidak terlalu merah.

"Percuma kau bersikap baik pada orang yang tidak tulus padamu." Baru kali ini Sungmin melihat Kyuhyun tersenyum. Walau hanya tersenyum tipis namun ia dapat melihat sisi lain dari Kyuhyun yang ia sebut dengan namja arogan.

"Tapi aku tahu kau tulus padaku, Kyuhyun." Sungmin tersenyum pada Kyuhyun kemudian.

"Jangan mudah percaya padaku." Kyuhyun mendengus pelan.

"Kenapa? Kau tidak seburuk yang kukira."

"Kau akan menyesal mengatakannya." Sungmin mendelik kesal pada Kyuhyun. Padahal ia sudah berniat memperbaik hubungan mereka, tetapi Kyuhyun selalu merusak segalanya. Dasar…

"Bahkan kau sudah mengutuk ku lagi, kan?" Sungmin melotot. Jangan bilang dia bisa membaca pikiranku.

.

Your Eyes

.

"Diamlah, Cho! Aku sedang sibuk." Teriak Changmin dengan kedua tangannya bergerak aktif kesana kemari di atas benda hitam mungil tersebut.

"Donghae hyung, ayolah…" suara Kyuhyun terdengar memelas.

"Ajak saja Changmin hyung, aku sibuk." Balas Donghae tanpa mengalihkan perhatiannya pada smartphone miliknya.

"Chammie, kau akan menyesal jika aku mengatakan ini tentang makanan lezat." Kyuhyun mulai beranjak dari tempatnya. Ia sebal diacuhkan seperti ini, apa susahnya berdiri dan mengikutinya?

"Oke, Cho. First, call me hyung didn't Chammie. It made me nauseous." Changmin melempar PSPnya ke sembarang arah. Ia kesal saat lelaki Cho itu tidak sopan dalam memanggilnya namun setelah ia mendengar kata makanan maka ia akan berfikir dua kali.

"Your wish."

"Jerk, Ayo cepat. Kau bilang akan makan."

"Tidak, sebelum kau memberikan kaset game yang kau beli kemarin." Ucap Kyuhyun sambil meraih kunci mobilnya.

"Hell no! Kaset game itu limited edition, Kyuhyun."

"Justru itu aku memintanya." Balas Kyuhyun ringan.

"Sudahlah, ayo pergi." Suara Donghae menengahi mereka. Hanya karna masalah game Donghae tidak menjamin hal ini akan selesai dengan mudah, makanya ia menghentikan perdebatan kedua maniak game itu.

"Yo man! What's happend?" sahut Donghae lalu menempatkan dirinya duduk

di depan Kyuhyun. Ia tidak tahu apa yang terjadi karena tadi ia harus ke toilet sebentar lalu baru menyusul mereka. Melihat Kyuhyun yang hanya mendiamkannya Donghae berniat meminta tolong pada Changmin.

"Hyung, bantu aku?" Donghae melirik Changmin yang tengah menghabisi mangsanya. Sedangkan yang di lirik hanya mengendikkan bahunya. Seorang food monster seperti Changmin tidak akan bisa diganggu ketika di depannya tersaji berbagai makanan lezat.

"Wajah mu menakutkan, Kyuhyun." Kata Donghae sambil mengeluarkan smartphonenya.

"Lebih baik kau diam, Hae! Dan nikmati makanan enak ini!" Changmin menegur Donghae agar jangan mengusik Kyuhyun yang sedang dalam mood danger.

"Aku tidak tertarik Hyung. Habiskan saja semua." Donghae sibuk mengotak-atik ponselnya antusias. Dia mungkin sudah kenyang dengan smartphone tersebut.

"Tanpa kau suruh pun, sudah akan ku lakukan."

Diam-diam Kyuhyun terus memutar kedua matanya ke segala arah, mencoba mencari peruntungannya siang ini. Kemana dia? Guman Kyuhyun dalam hati. Percuma saja jika pergi ke sini sedangkan orang yang ia cari tidak ada.

"Kau mau kemana, Kyuhyun?" Tanya Donghae saat melihatnya berdiri dari tempatnya. Kyuhyun hanya melirik Donghae sebentar lalu pergi.

"Ada apa dengan anak itu?

.

Your Eyes

.

Sungmin tampak sedang memilah beberapa bunga segar untuk ditata di toko bunga. Hari ini ia mengambil kerja part time di toko bunga milik Jang ahjumma. Yeoja paruh baya itu dengan baik hati menawarinya pekerjaan untuk menjaga toko bunga miliknya. Lagi pula Jang ahjumma senang melihat Sungmin begitu mencintai bunga-bunganya. Namja itu pandai menjaga bunganya agar tetap segar, sehingga banyak pelanggan yang sering mampir untuk membeli bunga kesukaan mereka disini.

Kringg…

Bunyi bel bergemerincing menandakan ada pelanggan yang datang. Sosok itu berjalan dengan tegap, wajahnya bersinar begitu indah, tubuhnya dibalut dengan kaos kasual yang senada dengan celana jeans hitam panjangnya. Langkahnya begitu tegas, aura maskulin menyebar di segala penjuru ruangan. Begitu senyumnya terkembang di bibir jokernya tersebut ditambah dengan lesung pipit di kedua pipinya, dapat memperjelas bagaimana tampannya orang itu.

"Apa kabar, Sungmin?" Siwon menyapa Sungmin yang sedang tersenyum ke arahnya.

"Baik, kau Siwon?"

"Lebih baik ketika aku melihat mu di sini."

"Oh, jangan mulai Siwon." Mereka tertawa pelan.

"Kau ingin pesan apa?"

"Kau"

"Please Siwon, Seriuslah." Balas Sungmin malas.

"Aku hanya bercanda, Min. Seperti biasa ambilkan sebuket bunga mawar untuk ku."

"Beruntungnya kekasih mu mempunyai pacar seorang Choi Siwon." Ucap Sungmin sambil mengambil beberapa bunga untuk Siwon.

"Kau bercerita seolah kau sedang cemburu?" timpal Siwon

"Kau sangat romantis." Lanjut Sungmin sambil mendelik pada Siwon.

"Benarkah? Ku fikir kekasih mu lah orang yang paling beruntung karena memiliki mu."

"Hentikan candaan mu, Siwon." Lelaki dewasa itu terkekeh pelan mendengar gerutuan Sungmin.

"Ingat, kau yang memulainya." balas Siwon santai.

"Baiklah, akan aku revisi. Eomma mu adalah wanita yang paling beruntung memiliki mu." Sambung Sungmin pura-pura kesal, lalu memberikan sebuket bunga mawar pesanannya pada lelaki itu.

"Begitu lebih baik."

"Oh, iya, nanti malam kau ada acara?" Tanya Siwon.

"Maaf, tapi aku harus part time di café." Jawab Sungmin penuh dengan penyesalan.

"Mungkin lain kali."

"Aku akan datang lagi untuk menagih janjimu, Min."

"Permisi" Senyum Sungmin mengantar Siwon pergi dari toko bunga tersebut.

"Kalian terlihat serasi." Sungmin teronjak mendengar Jung ahjumma yang sudah berdiri di belakangnya.

"Kami hanya berteman, ahjumma." Bantah Sungmin halus.

"Tapi kalian terlihat sangat dekat, dan aku senang jika kalian memang mempunyai perasaan yang sama." Sungmin menghela nafas pelan.

"Kau tidak akan mengerti, ahjumma."

.

Your Eyes

.

"Kemana saja kau?" Sungmin menoleh, menemukan Kyuhyun berjalan di sampingnya. Dia lagi?

"Kemarin kau tidak kerja?" Melihat Sungmin diam, Kyuhyun mencoba bertanya lagi.

"Bukan urusan mu." Jawab Sungmin ketus, lalu berjalan meninggalkan Kyuhyun.

"Oke, kau yang memulai, Lee." Desis Kyuhyun lalu berjalan memutar arah dari Sungmin.

"Hey, apa yang kau lakukan?!" Baru saja Sungmin masuk ke kelas, namun apa yang sudah ia dapatkan?

"Pergi dari tempatku." Sungmin mencoba menetralkan suaranya. Lelaki itu benar-benar ingin membunuhnya dengan menahan emosi terus-menerus. Sungmin menghembuskan nafasnya perlahan, melihat Kyuhyun masih diam di tempatnya. Namja itu duduk di kursinya dan kakinya berada di atas kursi Sungmin.

"Kyuhyun, aku memperingatkan mu." Desis Sungmin.

Diam. Ia justru memainkan PSP di tangannya tanpa memperdulikan kehadiran Sungmin.

"Jangan kekanakan, Kyuhyun. Cepat menyingkir!" Sungmin masih mempertahankan kesabarannya dalam menghadapi Kyuhyun.

"Kekanakan? Aku?" tawa Kyuhyun menggelegar.

"Pakai otakmu yang pintar itu, Lee. Sebelum kau membuat keputusan yang tidak rasional." Ucap Kyuhyun sarkastik.

"Kenapa diam? Otakmu lamban, eoh?" tanyanya sinis.

"Tutup mulut mu, Cho." Suara namja jangkung itu menengahi.

"Atas dasar apa kau menyuruhku diam, huh?"

"Apa yang menimpa kepala mu? Kau selalu berada dalam mood danger akhir-akhir ini."

"Bukan urusan mu."

"Sungmin benar, kau memang…"

"Shut the fucking up, Shim Changmin!" Ucap Kyuhyun setengah berteriak.

"Kyuhyun, kami hanya ingin…"

"Siapa yang menyuruh mu bicara, huh?"

Sungmin hanya diam melihat ketiga orang itu tengah bersitegang. Ia tidak tahu harus berbuat apa, Kyuhyun sungguh tampak emosi saat ini, bahkan Donghae baru saja terkena imbasnya. Sedangkan Changmin hanya berdiri tanpa ekspresi. Walaupun ia kesal dengan perlakuan Kyuhyun, tetapi dia masih bisa menjaga emosinya. Dia terkesan tenang dan mengamati.

"Kau. Dan kau menyingkir dari hadapanku!" kata Kyuhyun dengan menunjuk Changmin dan Donghae.

"Apa kau bilang?" Donghae ingin protes pada namja yang lebih muda darinya itu karena sudah terang-terangan mengusirnya dan Changmin. Tetapi Changmin lebih dulu menyentuh bahunya dan memberi isyarat supaya ia menyingkir.

"Kembali. Atau tidak sama sekali. Cho." Setelah mengatakan demikian Changmin lenyap dari sana mengikuti Donghae.

"Dan kau. Jangan sekali-kali melawanku." Perintah Kyuhyun mutlak.

"Atau kau akan menerima akibatnya." Imbuh Kyuhyun lagi.

"Terima kasih." Kyuhyun. Kau memang tulus padaku. Begitu tulus dalam membenciku. Lanjut Sungmin dalam hati.

.

.

TBC

.

A/N: berhubung dalam draf saya, cerita ini sudah sampai chapter 3 saya akan update cepat sampai chapter depan, namun setelahnya bergantung pada readers. Jadi saya harap kerja samanya. Saya memberi yang kalian inginkan, kalian juga—setidaknya, memberi saya reward atas usaha saya.

.

Terima Kasih sekali pada readers yang sudah bijak dalam mengambil langkah untuk menghargai tulisan abstrak saya. Ini memang jauh dari kata 'enak dibaca' maka dari itu saya berterima kasih pada readers yang sudah berbijaksana memilih tidak meninggalkan 'jejak'. Saya akan berusaha lagi, memperbaiki ini-itu untuk kalian pada pecinta fanfict Kyumin. Thanks a lot, Love you all :)