Seokjin benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang tuanya menjodohkannya dengan orang yang tidak Seokjin cintai? Bahkan sama sekali tidak Seokjin kenal.

Baru kali ini Seokjin menyesal ditakdirkan menjadi anak semata wayang dari sebuah keluarga yang sangat kaya raya. Seokjin rasa Yoongi lebih beruntung karena menjadi anak dari sebuah keluarga sederhana.

Walaupun keluarga Yoongi bukan termasuk keluarga kaya, tapi keluarganya benar-benar baik. Tidak pernah memaksa Yoongi untuk melakukan apa yang tidak dia sukai, apalagi sampai memaksanya untuk menikah dengan orang asing yang tidak dicintainya.

Bukan, bukan berarti keluarga Seokjin tidak baik. Percayalah, Seokjin adalah anak kesayangan kedua orang tuanya. Apapun yang Seokjin minta pasti akan dituruti oleh appa dan eommanya. Sekalipun permintaannya terdengar sulit, tapi sebisa mungkin mereka akan mengabulkan permintaan Seokjin.

Mereka juga tidak pernah memaksa Seokjin melakukan sesuatu yang tidak Seokjin suka, setidaknya sebelum ini.

"Jangan egois Seokjin. Apa belum cukup selama ini kami selalu menuruti semua permintaanmu? Satu kalipun kami tidak pernah memintamu melakukan sesuatu. Kami hanya memintamu untuk melakukan satu hal, menerima perjodohan ini. Tidak ada alasan untukmu menolak."

Tidak ada alasan untuk menolak katanya?

Apa 'sama sekali tidak mencintainya' bukan alasan yang cukup kuat untuk menolak perjodohan ini?

Itu alasan yang cukup kuat, bahkan sangat kuat untuk menolak. Bagaimana mungkin Seokjin bisa menjalani hari-harinya yang sangat berharga dengan orang yang sama sekali tidak dicintainya?

"Keluarga Kim adalah keluarga baik-baik. Kami mengenal keluarga Kim jauh sebelum kau lahir. Pun dengan anaknya, Kim Namjoon. Walaupun dia seumuran denganmu, dia sudah lulus dua tahun yang lalu. Bahkan sudah mempunyai perusahaan sendiri."

Lalu apa Seokjin peduli?

Tentu saja tidak. Sepintar atau se-jenius apapun si Kim Namjoon itu, Seokjin tidak peduli. Bukan urusan Seokjin. Dan yang terpernting adalah Seokjin tidak mencintai orang itu.

"Kami akan sangat senang jika kau menikah dengannya. Hubungan keluarga kita menjadi semakin erat. Kami sudah menantikan ini sejak lama."

Tapi Seokjin tidak senang. Seokjin juga sama sekali tidak menantikan pernikahan ini, apalagi mengharapkannya terjadi.

Mempererat hubungan keluarga?

Tidak adakah alasan lain yang lebih masuk akal dan bisa Seokjin terima? Walaupun sebenarnya alasan apapun tidak bisa Seokjin terima.

Tapi mempererat hubungan keluarga adalah alasan yang terlalu klise. Memangnya selain dengan cara menikahkan kedua anak mereka yang tidak saling kenal apalagi tidak saling mencintai, hubungan keluarga mereka tidak bisa semakin erat? Apa hubungan keluarga mereka akan semakin hancur? Tidak kan?!

"Lihat, nama kalian saja cocok. Kim Namjoon dan Kim Seokjin. Benar-benar serasi. Bukankah akan sangat hebat jika dua keluarga Kim bersatu? Tuhan memang sudah menakdirkan kalian berdua untuk berjodoh. "

Omong kosong apalagi ini? Apa hanya karena nama depan yang sama, itu berarti mereka berjodoh? Sangat banyak diluar sana keluarga lain dengan marga Kim. Apa itu berarti Seokjin juga berjodoh dengan anak keluarga Kim lainnya? Ini benar-benar konyol.

"Kim Seokjin. Kami hanya meminta satu hal padamu, kami harap kau tidak menolak perjodohan ini. Kami tau kau belum mengenal Kim Namjoon, apalagi mencintanyai. Tapi seiring berjalannya waktu, kami yakin kalian berdua akan saling mencintai. Namjoon adalah anak yang baik dan juga bertanggung jawab. Kami yakin kau akan hidup bahagia dengannya. Percayalah, appa dan eomma melakukan ini semua demi kebaikanmu. Kami tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa menjerumuskan anak kesayangan kami ini. Kau mengerti kan sayang? Appa dan eomma saangat menyayangimu."

Dan akhirnya, sekeras apapun Seokjin menolak keputusan orang tuanya, dia tetap menerima perjodohan ini. Seokjin hanya tidak mau mengecewakan kedua orang tua yang sangat menyayangi dan sangat disayanginya itu.

Seokjin ingin membalas semua kebaikan yang sudah diberikan orang tuanya untuknya. Membalas semua cinta, kasih sayang, perhatian dan segala sesuatu yang sudah diberikan secara tulus pada Seokjin. Sekalipun itu berarti dia harus mengorbankan impiannya.

Tapi, Seokjin tidak yakin bisa mencintai calon suaminya itu. Entah sampai kapan Seokjin akan menjalani hidup dengan orang yang sama sekali tidak dicintainya.

Mungkin, selamanya...

...


...

Seokjin berdiri di salah satu sudut ruangan dengan memegang gelas di tangan kirinya. Semeriah apapun suasana di ruangan ini, sama sekali tidak berpengaruh pada perasaan Seokjin. Dia masih menatap kearah luar dari jendela yang ada disampingnya dengan pandangan kosong.

"Jin eonni?" Yoongi menepuk pelan bahu Seokjin, membuat Seokjin sadar dari lamunannya.

"Yoongi.." Seokjin tersenyum, dia tidak mau merusak suasana hati Yoongi yang sedang berbahagia karena melihatnya bersedih. "Kenapa kau kesini?"

"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa eonni ada disini? Aku sudah mencari dari tadi, ternyata malah bersembunyi disini."

"Ah, maafkan aku Yoongi. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Sebaiknya kita kesana, tamu-tamu pasti sudah menunggu dan ingin segera mengucapkan selamat padamu."

Seokjin berjalan ke tengah ruangan. Sadar Yoongi masih diam ditempatnya, membuat Seokjin berbalik dan menghampiri Yoongi.

"Yoongi?"

Melihat Yoongi yang masih diam dan menunduk, membuat Seokjin penasaran. Dengan lembut Seokjin mengangkat dagu Yoongi. Seokjin begitu terkejut saat melihat air mata mengalir di pipi putih Yoongi.

"Astaga Yoongi, kenapa menangis? Seharusnya kau berbahagia, bukannya malah menangis di acara pernikahanmu. Apa ada yang membuatmu sedih? Kataka-"

Seketika perkataan Seokjin terhenti karena Yoongi yang tiba-tiba memeluknya. Beruntung mereka berada di tempat yang sepi, jadi tidak ada tamu yang melihat si pengantin wanita ini sedang menangis.

"Katakan padaku Yoongi, ada apa sebenarnya?"

"Seharusnya aku yang bertanya pada eonni." Yoongi melepaskan pelukannya untuk memandang wajah Seokjin. "Bagaimana bisa kau pura-pura bahagia saat sebenarnya sedang merasa hancur? Bagaimana bisa aku tersenyum saat melihatmu seperti ini? Apa eonni pikir aku bisa?"

Seokjin tau betul apa yang sedang dibicarakan Yoongi. Hanya Yoongi lah yang mengerti bagaimana hancurnya Seokjin. Tapi sesedih apapun, Seokjin tidak akan merusak momen bahagia Yoongi. Dia tidak mau Yoongi berpikir bahwa dirinya sedang bahagia diatas penderitaan Seokjin.

"Lalu, apa yang harus kulakukan Yoongi-ya?"

"Seharusnya eonni menolak. Aku tau eonni tidak mengenal orang itu, apalagi mencintainya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya harus hidup dengan orang yang sama sekali tidak kita cintai. Terlebih lagi eonni punya impian yang ingin eonni wujudkan. Dan karena perjodohan ini eonni harus rela mengorbankan impian itu." Yoongi kembali menangis ketika membayangkan betapa bersemangatnya Seokjin saat membicarakan tentang impiannya. Namun sayang, impian itu harus musnah karena rencana perjodohannya.

"Hei.. kau berharap aku jadi anak durhaka karena menolak permintaan orang tuaku?"

"Tapi..."

"Apa kau tau Yoongi? Menjadi model bukanlah satu-satunya impianku. Aku masih punya impian lain yang bahkan lebih penting dari sekedar menjadi model... membahagiakan appa dan eomma."

"Eonni..."

"Aku tau, mungkin ini terdengar sedikit kejam saat appa dan eomma menjodohkanku dengan orang yang sama sekali tidak ku kenal, apalagi ku cintai. Tapi aku yakin, appa dan eomma melakukan semua ini karena mereka sangat menyayangiku. Mereka menginginkan anak kesayangannya yang manja ini tetap hidup bahagia dengan cara menikahkanku dengan orang yang menurut mereka pantas. Dan aku percaya itu. Jadi, tidak ada alasan untuk ku bersedih, apalagi menolaknya kan?"

"..."

"Kau percaya pada eonni kesayanganmu ini kan?"

"Ne, aku percaya eonni sudah memikirkannya matang-matang sebelum memutuskan menerima perjodohan itu. Aku juga percaya pilihan eonni adalah yang terbaik."

"Kau benar Yoongi. Dan apa kau tau? Aku punya kabar baik."

"Apa?"

"Kemarin aku bertemu dengan pihak agensi model, mereka bilang akan mengontrakku sebagai model mereka. Mimpiku benar-benar akan terwujud."

"Benarkah?"

"Yup. Mereka bilang tidak masalah aku sudah menikah atau belum. Yang paling penting adalah aku tetap bisa menjaga bentuk tubuhku ini. Lagi pula, mana mungkin mereka bisa menolak calon model berbakat sepertiku ini? Hahaha."

"Ish eonni. Kau ini tetap saja ya, tingkat kepercayaan dirimu itu tinggiiii sekali."

Seokjin kembali menatap kearah luar. Dilihatnya bintang-bintang yang terlihat begitu indah menghiasi langit malam, membuatnya tersenyum.

"Asalkan aku tidak mempunyai anak, agensi akan tetap menerimaku dan aku bisa mewujudkan mimpiku. Mungkin ini sedikit egois, tapi aku bertekad untuk tidak hamil dalam waktu dekat. Setidaknya sampai aku berhasil mewujudkan mimpiku. Lagi pula, aku sama sekali tidak mencintai si Namjoon itu. Jadi tidak mungkin kan aku making love dengan dia? Apalagi sampai hamil."

"..."

"Yoongi?"

Karena merasa tidak mendapat jawaban dari lawan bicaranya, Seokjin membalikkan badan. Dia tersenyum saat melihat Yoongi sudah meninggalkannya sendiri dan sekarang sudah berada di tengah ruangan sambil berbincang dengan tamu-tamu lain.

Seokjin berjalan menghampiri Yoongi dan Hoseok.

"Hoseok, selamat ya.. akhirnya kau berhasil mendapatkan si mulut pedas ini. Dan kau harus berjanji untuk menjaganya dengan baik."

"Terima kasih Jin. Tenang saja, kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu menjaga si mulut pedas ini dengan saaaangat baik." Hoseok mencubit gemas dagu Yoongi. Membuat Yoongi tersenyum malu karena perlakuan Hoseok padanya.

"Sepedas apapun mulutku ini, Hoseok pasti akan selalu menjagaku eonni~"

"Jin, doakan semoga aku tetap bisa tahan dengan mulut pedas istriku ini." Hoseok terkekeh pelan.

"Semoga saja. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya anak kalian nanti mewarisi sifat ibunya ini. Aku yakin kau akan cepat tua Hoseok. Hahaha "

"Kalian ini.." Yoongi merengut sambil melipat dua tangannya di depan dada. "Sekongkol ya ingin membuatku marah."

"Uuuh, Yoongi yang cantik. Kami kan hanya bercanda. Jangan marah yaa.." Seokjin mencubit gemas pipi Yoongi.

"Ne.. jangan marah dong. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku lebih memilih anak kita nanti mempunyai mulut pedas sepertimu.. " Hoseok menyentuh bibir Yoongi dengan ibu jarinya. "..dari pada harus mempunyai sifat percaya diri yang kelewat tinggi. Seperti..." Hoseok melirik kearah Seokjin.

"Yak! Apa kau bilang? Mau balik menyerangku ha?" Sekarang ganti Seokjin yang merengut karena ledekan Hoseok.

Hoseok dan Yoongi tertawa puas melihat reaksi yang diberikan Seokjin.

...


...

Satu bulan setelah pernikahan Hoseok dan Yoongi, Seokjin dan Namjoon juga melangsungkan pernikahan mereka.

Acara pernikahan Namjoon dan Seokjin berlangsung sangat sederhana. Sesuai permintaan Seokjin sendiri. Dia bilang tidak mau merayakan pernikahannya secara berlebihan. Cukup keluarga dan teman dekat saja yang diundang.

..


..

Dua minggu setelah menikah, Namjoon dan Seokjin pindah ke rumah baru. Ini adalah saran dari orang tua mereka berdua. Namjoon dan Seokjin menurut saja, karena mereka tidak mau terus diceramahi orang tua masing-masing jika menolaknya. Toh, ini bisa membuat rencana mereka berjalan sempurna.

Rumah Namjoon dan Seokjin berada di komplek perumahan yang sama dengan Hoseok dan Yoongi. Walaupun tidak berdampingan, jarak rumah mereka cukup dekat. Hanya sekitar 200 meter.

.

Pagi-pagi sekali, Hoseok dan Yoongi sudah berada dirumah baru Namjoon dan Seokjin. Mereka membantu acara pindahan keduanya.

Hoseok dan Namjoon bertugas membawa barang-barang ke dalam rumah. Sedangkan Seokjin dan Yoongi membereskan barang-barang tersebut dan meletakkan di tempatnya masing-masing.

.

"Namjoon.."

"Hmm"

"Kalau boleh tau, kenapa kau menerima perjodohan ini? Kudengar, kau masih sangat mencintai mantanmu yang bernama Yuri itu. Dan sangat berharap kalian bisa bersatu kembali."

"Kau benar. Aku memang masih sangat mencintainya. Tapi aku juga tidak bisa menolak permintaan orang tuaku. Setidaknya aku harus menuruti permintaan orang tuaku dulu."

"Maksudmu? Jangan bilang kau akan..."

"Kau benar Hoseok. Aku akan menjalani pernikahan ini sampai satu atau dua tahun, mungkin. Setelah itu akan menceraikan Seokjin."

"APA?! Kau bercanda kan? Bagaimana bisa?! Ini sama saja kau membohongi orang tua kalian, dan juga apa kau tidak memikirkan perasaan Seokjin? Mungkin bagimu menyandang status duda bukan masalah besar. Tapi Seokjin.. bagaimana mungkin kau membiarkannya menjadi janda?!"

"Tenang saja. Aku sudah merundingkan masalah ini dengan Seokjin. Kami sepakat menjalani pernikahan ini, untuk sementara waktu."

"Kalian gila!"

"Ya. Kau boleh menganggap kami gila. Tapi asal kau tau, kami punya impian masing-masing yang ingin kami raih. Aku ingin menikah dengan Yuri. Beruntungnya, Yuri mengerti dengan keadaanku dan bersedia menunggu sampai aku bercerai dengan Seokjin. Dan Seokjin, dia juga punya impian sendiri yang ingin di raihnya."

"Tapi, bagaimana bisa kalian menjalani pernikahan pura-pura ini selama satu atau dua tahun itu? Maksudku, kalian tinggal satu rumah. Setiap hari kalian bertemu, setiap malam kalian tidur satu kamar dan.."

"Hahaha. Apa kau pikir kami akan tidur dalam satu ranjang?"

"Ha?"

"Tentu saja tidak. Kami memutuskan untuk tidur dikamar yang terpisah. Lagi pula kami punya kesibukan masing-masing. Jadi kecil kemungkinannya kami melakukan itu. Kami bisa menjaga diri masing-masing."

"Terserah kalian sajalah. Tapi ingat, jangan pernah minta bantuanku kalau sampai orang tua kalian tau rencana busuk ini."

"Entahlah. Aku tidak janji. Hahaha"

...


...

Tok tok tok

Ini hari libur dan masih jam 8 pagi, tapi seseorang sudah dengan semangatnya mengetuk pintu rumah Seokjin. Membuat Seokjin mau tak mau harus keluar dari kamarnya di lantai dua, lalu berjalan menuju pintu depan untuk menegur orang yang sudah mengganggu tidurnya.

Seokjin membuka pintu dengan satu mata yang masih terpejam. Oh ayolah, Seokjin masih sangat mengantuk sekarang.

"Yoongi?"

Seokjin membuka matanya lebar-lebar setelah tau siapa gerangan orang yang sudah menganggu tidurnya. Terlebih lagi orang itu sedang menangis.

"Eonni~" Yoongi langsung memeluk Seokjin yang masih terdiam di depan pintu.

Seokjin mengusap punggung Yoongi. Berharap perlakuannya itu bisa sedikit menenangkan Yoongi yang sedang menangis ini. "Kau kenapa?"

Yoongi melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Seokjin.

"Ah! Apa Hoseok menyakitimu? Apa Hoseok ketahuan selingkuh? Apa Hoseok memarahimu? Apa Hoseok membuang semua koleksi boneka kumamonmu? Apa Hos- Aww. Yak! Kenapa kau mencubitku?!"

"Salah eonni sendiri sudah menuduh Hoseok macam-macam. Hahaha " Yoongi mengusap air matanya sambil tertawa lebar.

"Hei hei hei... ada apa ini sebenarnya? Kau datang kesini sambil menangis, lalu sekarang tertawa seakan lupa bahwa beberapa detik yang lalu kau baru saja menangis."

"Eonni~~ kau tau? Aku merasa menjadi orang yang paling bahagia didunia ini".

"Maksudmu?"

"Disini.." Yoongi meraba perutnya dengan lembut " ..ada impian terbesarku dan Hoseok."

"Hm?" Seokjin masih berusaha mencerna perkataan Yoongi. Lima detik kemudian mata Seokjin membulat sempurna setelah paham maksud Yoongi. "Baby baby baby? Disini ada baby?" Seokjin berteriak kegirangan dan hanya ditanggapi anggukan oleh Yoongi.

"Selamat Yoongi-ya~~ akhirnya semua mimpimu jadi kenyataan. Aku saaaangat senang. Dan sebentar lagi aku akan punya keponakan. Berapa usianya?" Seokjin mengelus perut Yoongi dengan lembut.

"Terima kasih eonni. Usianya baru tiga minggu."

"Kau harus janji padaku akan menjaga baby ini dengan sangat baik. Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan keponakanku." Seokjin berbicara di depan perut Yoongi.

"Tentu saja. Aku dan Hoseok akan menjaganya. Karena dia adalah impian terbesar dan harta kami yang paling berharga."

.

Bukankah akan sangat menyenangkan jika eonni juga mempunyai baby? Aku yakin kalian akan bisa saling mencintai..

.

.

.

.


Hey! Say! JUMP – Dreams Come True

8 Desember 2016