Disclaimer: NARUTO © Masashi Kishimoto

Inspirated by:

J-Drama: Mysterious Transfer Student

Cold as Ice — Fanfiction (Percy Jackson and The Olympian) by Mandi2341

.

Tittle : Another World

Genre : Fantasy, Sci-Fic, Hurt/Comfort, Romance

Rating : T

Pairing: NaruSasu, slight NaruSaku

Summary: Naruto—pangeran matahari yang hidup dalam dunia yang penuh dengan monsters dan titans terkena kutukan. Kutukan tersebut membuatnya harus mengalami rasa sakit yang berkepanjangan. Ia hanya bisa selamat jika orang yang mengutuknya dilenyapkan atau jika dia bisa mendapatkan Batu Moonlith. Sasuke—pangeran bulan yang hidup dalam dunia yang kejam akibat peperangan dan senjata nuklir, hidup-mati nya tergantung pada daya Moonlith yang ia miliki sejak lahir. Keduanya kemudian dipertemukan di dunia parallel dimana Sakura hidup.

Warning! : AU, Sho-Ai, semi-crossovers (with Percy Jackson and The Olympian), OOC, typo(s), dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.

Enjoy and Hope You Like It!

.

Chapter 2: Fate

.

Tokyo – Japan, D-7

"Juugo, ikut aku ke kamar mandi!" perintah Sasuke di pagi hari yang tentu saja membuat Juugo bingung.

"Untuk apa kau memintaku untuk mengikutimu ke kamar mandi, Sasuke?"

"Tentu saja untuk mencuci rambutku."

"Astaga, cuci rambutmu sendiri Sasuke. Kau itu bukan anak umur 7 tahun."

"Aku tidak biasa melakukannya. Biasanya Naruto yang melakukannnya sejak aku masih kecil."

"Uzumaki-sensei terlalu memanjakanmu. Yah, apa boleh buat," ucap Juugo. Ia sebenarnya tidak ingin memanjakan Sasuke, tetapi hari ini wajah Sasuke terlihat jauh lebih pucat dari biasanya. Juugo yang merasa khawatir pun memasuki kamar mandi.

Sasuke mulai membuka pakaiannya satu per satu. Sementara Juugo sibuk menambahkan air dingin ke dalam bathtub yang sudah diisi dengan air panas sebelumnya. Juugo mengecek suhu air di bathtub untuk memastikan airnya tidak terlalu panas ataupun tidak terlalu dingin.

"Naruto tidak ada, jadi aku akan menceritakan padamu tentang penyakitku. Dia bukannya terlalu memanjakanku tetapi dia yang paling tahu cara merawatku karena dia juga merupakan dokter pribadiku. Dia juga yang meracik sendiri obat untukku. Sebenarnya alasan mengapa dia selalu melarangku untuk ikut bertarung juga karena penyakitku."

"Eh? Kau sakit?" kaget Juugo dan dia semakin kaget saat melihat tubuh telanjang Sasuke. Ada banyak memar yang muncul pada beberapa bagian tubuh Sasuke. Kulit Sasuke yang putih semakin memperjelas bintik-bintik merah-keunguan yang terjadi pada kakinya.

"Penyakitku kambuh tadi malam. Itu karena aku tidak minum obat. Waktu itu obatku tinggal sedikit dan Naruto sepertinya belum sempat meracik obat-obatan yang baru. Katakan pada Suigetsu agar tidak membiarkanku terluka. Jika aku terluka, pendarahaannya akan sulit dihentikan. Lalu, katakan juga pada Karin untuk tidak membuat makanan yang susah dicerna, agar aku tidak mengalami pendarahan pada gusi. Aku takut darah, karena itulah Naruto tidak pernah membiarkanku terluka. Biarpun aku terus memancingnya untuk melakukan 'itu' denganku, Naruto selalu menahan hasratnya."

Mendengar cerita panjang lebar Sasuke, Juugo semakin tercengang. Ia pun menghampiri Sasuke lalu menyentuh belakang leher Sasuke yang memar. "Apa memar yang satu ini gara-gara ulahku?"

"Benar. Seharusnya waktu itu kau tidak perlu sampai memukul tengkuk ku!"

"Kau sakit apa?" tanya Juugo. Ia jadi semakin merasa bersalah karena waktu itu sudah berbuat kasar pada Sasuke.

"Idiopathic thrombocytopenic purpura. Sudah dua tahun aku mengidap penyakit ini, yang tidak kumengerti karena biasanya penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita rentang usia 15-50 tahun daripada pada pria."

"Bukankah itu penyakit langka?"

"Hn. Hanya terjadi 100 kasus pada 1 juta penduduk per tahun. Obat-obatan yang diracik oleh Naruto membuat penyakitku jarang kambuh, tapi sekarang dia tidak bersamaku. Aku bahkan tidak tahu dia masih hidup atau sudah— Aku juga tidak tahu apa di dunia ini ada obat untuk penyakitku. Kalaupun ada, mungkin khasiatnya juga tidak akan seampuh yang dibuat Naruto."

Juugo menghela nafas. Selama ini Naruto tidak pernah bercerita kalau pangeran mereka sakit. Penyakit ITP adalah suatu penyakit autoimun yang menyebabkan tubuh kekurangan trombosit darah. Penyakit ini menyerang keping darah atau platelet, mengakibatkan trombosit kurang dari 150.000/mm3 sehingga terjadi pendarahan. Umumnya pendarahan akibat kekurangan trombosit terjadi di kulit berupa ruam merah atau kebiruan.

Pada tubuh normal, jumlah trombosit antara 150.000 – 450.000/mm3. Sedangkan pada penderita ITP trombosit hanya berjumlah 20.000 – 25.000/mm3 saja. Jika dalam kondisi normal trombosit berumur sekitar 10 hari. Sementara pada penderita ITP, trombosit umurnya hanya 2-3 hari bahkan beberapa menit saja. Memendeknya umur trombosit ini disebabkan karena peningkatan destruksi trombosit di limpa oleh karena proses imunologi, dan umur trombosit berhubungan dengan kadar antibody platelet sehingga bila kadar antibody platelet meninggi, maka umur trombosit semakin pendek.

"Lalu, bagaimana? Kita belum punya uang," kata Juugo semakin cemas.

"Aku akan baik-baik saja selama trombositku masih di atas 10.000/mm3. Itulah sebabnya ku perintahkan kalian untuk segera mencari pekerjaan. Jika trombositku sudah di bawah 10.000 per mikroliter, pendarahan internal dapat terjadi meskipun aku hanya mengalami sedikit cedera. Moonlith pun tidak akan bisa menolongku."

"Aku mengerti. Aku dan Karin pasti akan segera mencari pekerjaan. Lalu, makanan apa saja yang harus kau hindari?"

"Junk Food, makanan yang berlemak tinggi seperti daging, santan serta susu yang berlemak sangat tinggi, minuman kaleng, dan juga makanan yang beresiko bisa melukai gusi ku."

"Baiklah, akan kukatakan itu pada Karin. Lalu makanan yang sehat untukmu apa saja?"

"Naruto bilang… Sayur-sayuran hijau sperti brocoli, Apel merah, Jambu biji, Nasi beras merah, Pepaya, dan Semangka bagus untukku."

"Ceritakan pada kami kalau merasa sakit, ya!"

"Hn."

Juugo mengelus kepala Sasuke. Sasuke mulai berendam di dalam bathtub dan Juugo mulai mencuci rambutnya.

Sementara itu di meja makan, Karin yang sedang menyiapkan sarapan hari ini, bertanya pada Suigetsu. "Suigetsu kau makan apa?"

"Aku tidak butuh makan ataupun minum. Tapi energiku perlu diisi ulang setiap satu minggu sekali."

"Dengan apa?"

"Tentu saja dengan listrik. Oh iya, Profesor memintaku untuk menyerahkan ini pada kalian," ucap Suigetsu yang kemudian menyerahkan sebuah buku catatan pada Karin.

"Rencana Keperawatan?" baca Karin. "Apa maksudnya ini?" lanjutnya.

"Sasuke sakit. Itu yang harus kalian lakukan jika terjadi sesuatu pada Sasuke. Pokoknya, semuanya sudah tertulis dengan lengkap di situ. Di mulai dari; Jika dia mengalami ketidakseimbangan nutrisi atau mengalami mual dan muntah, jika terjadi ketidakefektifan prefusi jaringan akibat penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen atau nutrisi ke sel, jika terjadi intoleransi aktifitas yang menyebabkannya mengalami kelelahan umum, jika terjadi nyeri akut yang disebabkan oleh cedera, jika terjadi kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan faktor imunologis, dan lain sebagainya," ucap Suigetsu panjang lebar.

Karin melongo mendengar ucapan Suigetsu tersebut. "Jadi mimisannya waktu itu, bukan cuma karena terjadi sesuatu pada rakyatnya?"

"Dia mengidap Idiopathic thrombocytopenic purpura. Apa saat itu darah yang keluar dari hidungnya cair?"

"Ya, cair sekali."

"Berarti saat itu penyakitnya sedang kambuh."

"Aku mengerti sekarang. Pantas saja waktu itu Naruto memberinya obat."

"Profesor bilang, Sasuke harus check up setiap dua minggu sekali, karena itulah cepatlah kalian mencari pekerjaan! Dia juga harus menjaga pola makannya, juga ada banyak makanan dan minuman yang tidak boleh dia konsumsi. Kurasa semuanya juga sudah tertulis dalam notebook itu, jadi tidak perlu kuceritakan."

"Aku mengerti. Aku dan Juugo akan mempelajari semuanya dan segera mencari pekerjaan."

"Aku dan Sasuke mau keliling kota hari ini. Setelah liburan musim panas berakhir, kami sudah bisa masuk sekolah," cerita Suigetsu pula.

Tidak lama kemudian Hiruzen datang. Karin pun langsung menyapanya, "Selamat pagi Ayah. Aku sudah membuat sarapan. Silakan dinikmati."

Hiruzen mengangguk dan duduk di depan meja makan.

"Kakek, apa kau punya uang? Aku ingin pinjam dulu karena harus membeli obat untuk Sasuke. Nanti Juugo-Niisan akan menggantinya dua kali lipat," ucap Suigetsu pada Hiruzen.

"Berapa yang kau butuhkan?" tanya pria tua itu.

"Entahlah, yang jelas aku harus membawanya ke Rumah Sakit dulu. Selain itu dia bilang, ingin membeli pakaian baru. Aku juga butuh pakaian baru sih. Lalu, kami juga belum membeli seragam sekolah dan alat tulis."

Hiruzen mengangguk mengerti. Dia pun mengambil dompetnya, lalu menyerahkan sebuah kartu ATM pada Suigetsu. "Pin-nya 190896," kata Hiruzen.

"Arigatou, Ojii-san."

"Ngomong-ngomong, Sasu-chan sakit apa? Aku lupa! Apa penyakitnya parah?"

"Idiopathic thrombocytopenic purpura tipe Kronik. Presentasi kesembuhannya hanya 5%. Sasuke bisa beraktifitas layaknya orang normal pada umumnya. Hanya saja, dia harus lebih waspada dalam memilih aktifitas apa yang hendak dilakukan. Intinya, dia jangan sampai melakukan aktifitas yang dapat membahayakan diri sendiri. Jika dia mengalami cedera, pendarahannya akan sulit dihentikan. Jika sudah begitu, dia akan membutuhkan tranfusi darah."

Hiruzen mengangguk. "Kalau begitu jaga Sasu-chan ya, jangan biarkan dia terluka!"

"Aku pasti akan menjaganya, Kakek. Lagipula, itu memang kewajibanku."

Beberapa menit kemudian Sasuke datang bersama Juugo. Mereka semua (kecuali Suigetsu) mulai menyantap sarapan mereka.

"ITADAKIMASU!" seru Karin, Juugo, dan Hiruzen serentak.

.

.

Sakura terkejut saat melihat dua orang pemuda berdiri di depan pintu apartemen Hiruzen Sarutobi. Hal yang membuatnya terkejut adalah, Sakura belum pernah melihat kedua orang asing itu sebelumnya.

"Ano, apakah kalian keluarga Sarutobi-san?"

"Hai. Namaku Suigetsu Hozuki. Dan orang di sampingku ini adalah Sasuke, cucu nya." ucap Suigetsu.

Sasuke sedikit tersentak melihat sosok Sakura. Ia tak menyangka bisa menemukan identik Sakura secepat ini. Hal yang paling membuatnya terkejut adalah usia Sakura. Sakura di dunianya sudah berumur 30 tahun seperti Naruto. Namun Sakura yang ada di hadapannya sekarang sepertinya masih seumuran dengannya. Ia jadi teringat ucapan Naruto yang mengatakan bahwa di dunia D-7, mungkin usianya baru 17 tahun. Sementara identik Sasuke sendiri mungkin sudah berumur 30 tahun.

'Dia benar,' ucap Sasuke dalam hati.

"Namaku Sakura Haruno. Yoroshiku onegai shimasu."

"Yoroshiku onegai shimasu," balas Suigetsu.

Sakura menatap Sasuke heran karena sejak tadi pemuda itu hanya diam. Suigetsu pun menyikut siku Sasuke. "Sasuke Sarutobi. Yoroshiku!"

"Kalian baru pindah ke sini, kan? Kalau kalian ingin bertanya sesuatu, katakan saja padaku!" kata Sakura sambil tersenyum.

"Kalau begitu Haruno-san, aku ingin tanya alamat Rumah Sakit yang paling dekat dari sini," ujar Suigetsu pula.

"Rumah Sakit?" tanya Sakura sambil memiringkan kepalanya.

"Ya. Sasuke—"

"Jangan beri tahu dia!" potong Sasuke tegas.

"Yah, pokoknya kami ada sedikit urusan."

Sakura mengangguk mengerti. "Tunggu sebentar ya, akan aku ambilkan peta dan juga ku tulis alamat lengkapnya!" kata Sakura yang kemudian lekas masuk ke dalam apartemennya.

"Sakura-san itu isteri professor, kan? Kenapa aku tidak boleh memberitahunya?" tanya Suigetsu.

"Ini bukan dunia kita dan dia itu hanya identik Sakura-san, ingat itu baik-baik!"

"Aku mengerti. Aku tak menyangka kalau Sakura-san di dunia ini masih remaja. Kalau begitu, professor juga sama?"

"Sakura-san di dunia kita sudah mati. Menurutmu mengapa kita bisa bertemu dengannya di sini?"

"Mungkin di dunia ini orang-orang yang sudah meninggal di dunia kita, masih hidup. Sebaliknya, orang-orang yang masih hidup di dunia kita, sudah meninggal di dunia ini."

"Maksudmu, kalau sampai aku bertemu dengan identik Naruto juga… itu berarti dia sudah—" Sasuke tidak sanggup melanjutkan perkataannya. "Iiada! Iiada!" teriaknya.

"Tenanglah Sasuke! Haruno-san keburu datang," nasihat Suigetsu. Dan benar saja, Sakura yang baru saja keluar dari apartemennya menghampiri mereka sambil tersenyum. Lalu menyerahkan sebuah peta dan juga selembar kertas memo.

"Aku mencatumkan nomor teleponku juga di sana, kalau-kalau kalian tersesat atau butuh bantuan."

"Arigatou Haruno-san," ucap Suigetsu.

"Tidak perlu berterimakasih. Aku permisi dulu ya, Okaa-san menyuruhku untuk belanja ke super market."

"Ya, hati-hati di jalan Haruno-san!"

"Mm. Kalian juga," kata Sakura yang kemudian lekas pergi.

Sasuke nampak terkagum-kagum begitu dia sudah keluar dari gedung apartemen. "Langit biru. Sugoi. Indah sekali," ujarnya sambil menatap langit biru dengan awan-awan putih yang berarak.

Dunia D-11 adalah dunia yang sudah tidak layak dihuni akibat perang dunia. Semuanya hancur lebur karena bom nuklir. Udaranya juga sudah tidak layak dihirup oleh manusia dan makhluk hidup lainnya. Semua orang di dunia itu mulai membangun hunian di bawah tanah, dan seiring berjalannya waktu teknologi semakin canggih. Mereka bisa bernafas walaupun hidup di bawah tanah dalam kurun waktu yang lama. Mereka bahkan bisa menanam sayuran dan makanan pangan seperti; beras, gandum, dll—tentunya dengan menggunakan kecanggihan IPTEK yang semakin berkembang. Adapun untuk air, mereka mendapatkannya dari sumber air yang lokasinya berhasil ditemukan dengan menggunakan Moonlith.

Sasuke dan keluarganya adalah keluarga kerajaan dari Negeri Bulan. Selain harus menghadapi perang yang berkepanjangan, mereka juga memiliki musuh bebuyutan yaitu Para Teroris Galatea. Mereka juga lah yang sudah membunuh orangtuanya. Teroris Galatea mengincar Moonlith yang memang sudah dimiliki oleh keluarga kerajaan sejak mereka dilahirkan. Tidak hanya Batu Moonlith, para teroris tersebut juga mengincar mata sharingan klan Uchiha yang katanya memiliki kekuatan yang tersembunyi.

Mereka juga lah yang kemarin menyerang Itachi dan melukainya, bahkan membunuh para penduduk. Itachi sebenarnya memiliki 12 Tentara Pelindung keluarga kerajaan yang disebut Akatsuki. Namun sepertinya para teroris Galatea sudah semakin kuat bahkan menang jumlah, sehingga Itachi saja sampai harus menggunakan batu Moonlith-nya untuk melindungi rakyatnya. Tidak cukup sampai di sana, Itachi juga mengalami luka fatal seperti yang diderita Mikoto Uchiha (Ibunya) satu tahun yang lalu.

Sasuke tidak tahu sudah berapa lama mereka semua hidup di bawah tanah. Yang pasti dia sudah sangat merindukan langit biru. Dia juga tidak pernah melihat bunga asli. Bunga yang ada di dunianya sekarang hanya bunga-bunga yang terbuat dari plastik atau kertas. Memang benar bentuknya seperti bunga asli, teknologi juga membuat bunga-bunga tersebut memiliki wangi yang khas. Namun tetap saja bunga asli dan bunga buatan itu berbeda. Bunga buatan tidak pernah layu dan Sasuke juga tidak dapat merasakan keindahannya.

Angin berembus di sekitar mereka. Helaian rambut Sasuke tertiup angin. Rasanya ia merasa lebih hidup. Angin segar menggelitik kulitnya. Sasuke merentangkan kedua tangannya, menghirup dalam-dalam oksigen yang masih alami tersebut.

"Sasuke, ayo jalan! Kau sudah lama tidak hidup di bawah sinar matahari, jadi kita harus membeli krim matahari dan juga payung."

"Mana peta yang diberikan Sakura-san tadi?"

"Aku menyimpannya di dalam tas. Lagipula aku sudah menghapalnya. Tanpa melihat peta pun, kita tidak akan tersesat."

"Bagaimana caranya kau menghapal peta dalam waktu singkat?"

"Aku ini robot yang paling canggih. Apa kau lupa?"

"Benar juga."

Mereka kembali berjalan dan berhenti di depan mini market. Kebetulan ada ATM BCA di dalam mini market tersebut, jadi Suigetsu meminta Sasuke untuk menunggu sebentar sementara ia akan mengambil uang. Setelah Suigetsu mengambil sejumlah uang, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan. Mata onyx Sasuke langsung berbinar-binar saat melihat sebuah toko bunga. Dengan cepat, Sasuke berjalan mendekati toko yang bernama Yamanaka's Florist itu. Sasuke memasuki toko dan seorang gadis muda berambut orange panjang menyambutnya dengan senyuman ramah.

"Selamat datang!"

"Apa semua bunga di sini asli?"

"Tentu saja. Silakan dilihat-lihat, tuan!"

Sasuke mulai melihat-lihat bunga-bunga beraneka jenis tersebut. Sebuah senyuman terulas di bibirnya. Disentuhnya bunga-bunga tersebut. Lalu ia mengambil setangkai bunga mawar merah dan mencium wanginya.

"Apakah anda ingin membeli hadiah untuk seseorang?" tanya gadis penjaga toko tersebut, tetapi tidak ditanggapi oleh Sasuke yang kini sedang memilih beberapa jenis bunga aneka warna dan mencium wanginya sambil memejamkan mata.

"Dia seperti baru pertama kali melihat bunga saja, sampai aku dicuekin!" gumam gadis itu.

"Maaf, saudara ipar ku baru pulang dari rumah sakit. Dia harus di rawat lama sekali. Dan biasanya orang-orang yang datang untuk menjenguknya hanya membawa parcel buah-buahan atau bunga-bunga buatan yang terbuat dari plastik atau kertas. Yah, mungkin mereka hanya ingin menghibur saudaraku dengan ide kreatif mereka. Sayangnya, mereka tidak tahu kalau Sasuke lebih suka bunga asli," ucap Suigetsu mengarang cerita.

"Oh, pantas tadi dia juga bertanya, semua ini bunga asli atau bukan."

"Apa kau anak pemilik toko ini?"

"Aku sebenarnya hanya anak angkat yang diadopsi dari panti asuhan. Otou-sama kehilangan isteri dan anak perempuannya dalam kecelakaan pesawat sepuluh tahun yang lalu."

"Oh, begitu rupanya. Apa nama anak perempuannya itu adalah Ino?"

"Benar. Dari mana kau tahu?"

"Dulu waktu aku masih kecil, aku berteman dengan seorang anak perempuan berambut pirang dan bermata aquamarine yang bernama Ino Yamanaka. Dan karena ini toko bunga Yamanaka, aku asal tebak saja kalau namanya Ino. Tak kusangka jawabanku benar. Sebenarnya dulu Ino sekeluarga tinggal di Pulau Goto – Kyusu, sebelum pindah ke Tokyo karena pekerjaan Ayahnya."

"Ya, Otou-sama memang berasal dari Kyusu. Apa kalian juga pindah ke Tokyo atau hanya menghabiskan waktu selama liburan musim panas saja?"

"Hai. Kami baru pindah dua bulan yang lalu," bohong Suigetsu. "Oh ya, siapa namamu? Kita belum berkenalan."

"Namaku Sasame. Yoroshiku onegai shimasu!"

"Aku Suigetsu Hozuki dan saudara ipar ku itu namanya Sasuke Sarutobi. Yoroshiku!"

"Sasuke-kun, ya? Namanya sama dengan Uchiha-sama."

"Kalau boleh tahu, siapa itu Uchiha-sama?"

"Donatur tetap panti asuhan tempat aku tinggal dulu. Dia masih muda tetapi sungguh dermawan. Kalau tahun ini sepertinya umurnya 30 tahun-an. Dan kalau kulihat-lihat lagi saudara iparmu itu— mereka berdua mirip. Mungkin seperti itulah wajahnya saat masih remaja dulu."

"Apa kau masih sering bertemu dengannya?"

Sasame menggeleng. Ekspresinya nampak begitu sedih. "Uchiha-sama sudah meninggal kemarin, dalam kecelakaan beruntun."

Suigetsu hanya mengangguk. Akhirnya dia mendapatkan petunjuk baru. Petunjuk mengenai keberadaan identik Sasuke di dunia ini. 'Ini aneh. Mengapa identik Sasuke meninggal bertepatan dengan kedatangan kami ke sini? Mungkinkah untuk membuat dunia ini tetap seimbang karena kedatangan Sasuke?' pikir Suigetsu.

Sasuke menghampiri Sasame. "Tolong buat rangkaian bunga yang bagus!"

"Hai," kata Sasame yang mulai bekerja.

"Sasuke, isterinya Itachi-sama sepertinya masih hidup."

"Maksudmu Ino-Neesan?"

"Ya, soalnya identik Ino-sama di sini sudah mati. Itu yang dikatakan gadis itu," ujar Suigetsu sambil melirik Sasame.

"Bagaimana dengan identik Ani-ue?"

"Aku akan bertanya padanya."

Suigetsu mendekati Sasame yang masih sibuk memotong tangkai bunga dengan gunting. "Ano, aku harus memanggilmu Yamanaka atau—"

"Sasame juga tidak apa-apa."

"Baiklah. Aku ingin tanya, apa kau kenal dengan Kakaknya Uchiha-san?"

Sasame menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap mata Suigetsu. "Itachi-sama?"

"Ya. Apa dia masih hidup? Dia teman Kakak ku, dan Aniki sepertinya ingin reunian."

"Itachi-sama sudah meninggal satu tahun yang lalu karena penyakitnya."

"Oh, begitu. Ini berita yang sangat mengejutkan. Kakak ku pasti akan shock, soalnya sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Dulu keluarga Uchiha juga tinggal di Kyusu sama seperti kami."

"Ya, berita itu juga sangat mengejutkan Kepala Panti dan juga kami semua," kata Sasame yang kemudian mengalihkan pandangannya dari Suigetsu untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.

"Aku turut berduka cita untuk kedua bersaudara itu."

Sasame hanya menanggapi ucapan Suigetsu tersebut dengan anggukkan kepala. Dia juga sudah selesai merangkai bunga yang dipilih Sasuke tadi. "Semuanya 2650 Yen," kata Sasame pula sambil menyodorkan buket bunga tersebut pada Suigetsu.

Suigetsu mengeluarkan 3 lembar uang 1000 Yen dan menyerahkannya pada Sasame. Ia kemudian mengambil buket bunga tersebut dari tangan Sasame. Sementara gadis remaja berusia sekitar 15 tahun-an itu mulai mencari uang kembalian.

"Tidak usah. Kau ambil saja kembaliannya."

"Arigatou gozaimasu," kata Sasame sambil tersenyum lebar.

Suigetsu mengangguk. Ia kemudian menghampiri Sasuke dan menyerahkan buket bunga itu padanya.

"Apa yang dikatakan gadis itu soal identik Ani-ue?"

"Identik Itachi-sama sudah meninggal. Itu berarti di dunia D-11, beliau masih hidup."

"Yokatta!" kata Sasuke, airmata mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.

"Yah, tetapi kita harus secepatnya mencari spesialis DRS sebelum nyawa Itachi-sama hilang."

Sasuke mengangguk lalu menyeka airmata yang jatuh tadi dengan kedua tangannya. "Kita mau ke mana sekarang?"

"Tentu saja ke Rumah Sakit Sasuke. Kau kehabisan obat, bukan?"

"Kau sudah tahu tentang peyakitku? Kupikir Juugo belum memberitahu kalian."

"Aku humanoid ciptaan professor, tentu saja aku tahu. Dia memberiku banyak memori termasuk tentangmu dan keluargamu."

"Dia memang sangat perhatian," gumam Sasuke dengan wajah bersemu merah.

Suigetsu membimbing Sasuke menuju sebuah halte bus. Sebuah bus lewat dan mereka berdua pun segera naik. Di dalam bus Sasuke nampak terkagum-kagum melihat pemandangan dari balik jendela. Dia bahkan tersenyum saat bus yang mereka tumpangi melewati sebuah jembatan yang di bawahnya ada sungai dengan air yang mengalir.

'Sasuke terlihat bahagia sekali professor. Bagaimana kabar anda di sana? Apa anda masih hidup?' pikir Suigetsu.

"Sasuke, sepulangnya dari Rumah Sakit kita akan berbelanja baju, bahan makanan seperti sayur-sayuran hijau, buah-buahan, seragam sekolah, dan juga alat tulis."

"Wakatta!" kata Sasuke masih assik melihat pemandangan di luar sana.

oOOo

.

.

Naruto terbangun dari tidurnya. Ia melihat seseorang yang begitu mirip dengan Ibunya tersenyum padanya. Wanita di hadapan ini adalah identik Ibunya di dunia ini. Chouji memanipulasi ingatan Minato-Kushina, sehingga mereka bisa tinggal kediaman Namikaze untuk sementara waktu. Naruto sebenarnya tidak ingin memanipulasi ingatan orang-orang baik seperti mereka, apalagi sebenarnya 'Naruto' putera mereka sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas. Sayangnya, ia tidak punya pilihan lain. Mereka harus secepatnya menyelasaikan misi, lalu kembali ke dunia D-9 untuk meyelamatkan teman-teman mereka sekaligus menyelamatkan dunia itu dari ambang kehancuran.

"Bagaimana dengan demam mu, Naru-chan? Apa kau bisa masuk sekolah hari ini?"

"Yeah," jawab Naruto dengan suara serak dan ia mulai batuk-batuk. Setiap batuk menghasilkan rasa sakit di dadanya, seperti seseorang tengah menikam paru-paru nya dengan sebuah pisau yang terbuat dari es. Naruto juga merasa kedinginan dan tubuhnya gemetar.

Naruto mencoba untuk berdiri, tetapi dadanya terasa sakit. Ia pasti akan terjatuh jika Kushina tidak menangkapnya. "Kita pergi ke Rumah Sakit saja, ya!" saran wanita itu dengan tatapan khawatir.

Chouji mengatakan padanya kalau dia juga menanamkan ingatan palsu pada Minato dan Kushina, sehingga mereka berpikir bahwa puteranya mengidap penyakit asma kronis. Naruto malah lebih merasa seperti terkena hipotermia namun beberapa kali lipat lebih buruk.

"Lihat, kau masih menggigil!" kata Kushina yang kemudian meletakkan tangannya di dahi Naruto kemudian menyentuh pipi kirinya. "Kau juga masih demam. Kita ke Rumah Sakit, ya!"

"Tidak mau. Panggil saja Ino ke sini!"

"Baiklah Naru-chan," kata Kushina pula.

Tidak lama kemudian Ino datang dan mulai meletakkan kedua tangannya di dada Naruto. Cahaya hijau kekuningan terlihat. "Sudah merasa lebih baik?"

"Ya. Sankyuu, Onee-san."

"Hm. Pakailah baju hangat, ya!"

"Okay. Ne, apa yang Chouji lakukan pada Kepala Sekolah KIHS?"

"Dia bilang kau sudah lulus tes masuk bulan Maret lalu, tapi kau baru bisa masuk sekolah hari ini karena baru pulang dari Rumah Sakit."

"Apa yang dia lakukan? Semua orang akan berpikir kalau aku mengidap penyakit yang serius, kan?"

"…tapi kau kan memang sakit akibat kutukan itu. Ayah dan aku saja sampai tidak bisa menyembuhkanmu. Jadi katakan itu pada semuanya di depan kelas nanti."

"Kalian bertiga tidak akan masuk kelas ku?"

"Yah, dunia ini seperti kebalikkan dari dunia kita… cuma aku yang satu kelas denganmu. Shikamaru dan Chouji masuk kelas lain."

"Aku masih tidak mengerti kenapa kita harus sekolah? Bukankah tujuan kita ke sini adalah untuk mencari pangeran bulan?"

"Shikamaru bilang, kita bersekolah sekalian untuk melakukan pengintaian."

"Memangnya kita ini mata-mata?"

"Yah, siapa tahu di sana ada pangeran bulan. Apa kau meragukan intuisi Shika walaupun dia adalah putera Dewi Athena? Dia tidak kalah jenius dari Annabeth lho~"

"Tentu saja aku tidak pernah meragukannya. Aku hanya berpikir kalau itu merepotkan."

"Percy tetap sekolah walaupun dia memiliki dyslexia dan ADHD. Setidaknya kau dan Chouji cuma memiliki ADHD. Aku dan Shika lah yang merasa paling repot karena kami memiliki dyslexia seperti Annabeth. Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya. Jangankan membaca huruf kanji, katakana, atau hiragana… membaca huruf alfabet saja kami tidak bisa. Bayangkan betapa seringnya kami dibully dan dikucilkan karena sering merasa kesulitan dalam membaca, kecuali membaca buku-buku berbahasa Yunani atau Latin."

"Yah, itu sepertinya tidak menyenangkan."

"Tentu saja! Huruf-huruf itu seperti bergerak-gerak sendiri dalam pandangan kami, seakan-akan mereka mau lari. Terkadang huruf-huruf itu seperti tersusun terbalik, seperti dimana kau melihat tulisan yang terpampang di dinding lewat cermin."

"Tenang saja, bukan cuma kalian saja yang mengidap disleksia. Kebanyakan demigods menderita disleksia. Itu sebenarnya bertujuan untuk melatih para demigods muda agar kita siap ketika harus terjun ke dunia pertarungan melawan para monster atau titans."

Benar. Tentu saja Ino mengetahui hal tersebut. Alasan mengapa kebanyakan demigods mengidap ADHD dan dyslexia adalah karena alam bawah sadar mereka telah dirancang untuk berperang dan membaca huruf-huruf Yunani kuno ataupun Latin. Ia sudah tahu sejak dirinya menginjak usia 13 tahun, bahwa nyawa demigods seperti mereka selalu diincar oleh para monster dan makhluk mengerikan lainnya—atau bahkan bisa lebih buruk dari itu semua. Misalnya saja Titans dan para Raksasa. Ino jadi teringat masa lalu.

.

Ino Yamanaka tumbuh tanpa hadirnya seorang Ayah. Ia dulu selalu bertanya pada Ibunya, mengapa Ayahnya begitu tega meninggalkannya? Apakah sang Ayah tidak pernah menyayanginya?

Ibunya selalu berkata bahwa Ayahnya tidak benar-benar meninggalkannya. Ibunya selalu menjawab pertanyaan puterinya dengan jawaban yang sama, "Jika waktunya telah tiba, Ayahmu akan mengunjungi kita!" Tidak sering Ibunya mengalihkan pembicaraan ketika mereka mulai membahas masalah Ayahnya, seolah-olah topik tentang siapa Ayah Ino adalah topik yang sensitif untuk dibahas.

Pada awalnya, kehidupan Ino bersama Ibunya biasa saja. Namun seiring bertambahnya usia, dia sering melihat hal-hal aneh; seperti seekor singa dengan sayap, wanita yang seperti kelelawar, dan makhluk-makhluk aneh lainnya. Divonis mengidap penyakit disleksia adalah hal yang baru bagi Ino. Ia selalu saja merasa kesulitan membaca huruf-huruf biasa yang beredar disekitarnya. Anehnya, ia sangat lancar disaat membaca huruf-huruf Yunani atau Latin. Hal rutin yang selalu terjadi pada dirinya pada setiap tahunnya adalah, dikeluarkan dari sekolah yang berbeda karena sering sekali terjadi kekacauan disekitarnya. Kekacauan yang sebenarnya diakibatkan oleh para monster yang selalu mengincar nyawanya. Otomatis, Ino selalu berpindah-pindah sekolah saat tahun ajaran baru di mulai. Ibu Ino tak pernah menyalahkan puterinya sedikitpun, mata Inoue yang hangat dan kebaikan yang selalu dicurahkan pada Ino selalu membuat Ino tenang walaupun dunia seakan menyingkirkannya. Ino selalu mempunyai tempat untuk pulang, yaitu Ibunya—Inoue Yamanaka.

Musim dingin 5 tahun yang lalu adalah musim yang paling buruk bagi Ino. Ketika ia, Shikamaru, Chouji dan George (satu-satunya anak yang mau berteman dengan mereka bertiga) menaiki bus sekolah untuk pulang, bus tersebut berhenti tanpa sebab yang jelas. Saat itulah Ino melihat wanita setengah ular sedang menghadang bus, seketika itu pula ia bercerita pada ketiga orang temannya. Namun ketika ia melihat kembali ke depan bus, makhluk setengah ular dan setengah manusia tersebut sudah menghilang.

Shikamaru yang memang tertidur sepanjang perjalanannya menganggap Ino salah lihat. Sementara Chouji yang memang sibuk makan keripik kentang sepanjang perjalanan berkata, bahwa mungkin Ino hanya lelah dan butuh istirahat. Namun tidak dengan George, wajahnya memucat dan berkata sesuatu yang aneh, seperti "Oh tidak, ini gawat. Sudah waktunya membawa kalian pergi dari sini!" seolah-olah dunia ini tidak lagi aman bagi Ino, Shikamaru, maupun Chouji. Kata-kata George sukses membuat mereka bingung, namun hal yang dilakukan George adalah menarik mereka turun dari bus dan kembali ke Sekolah.

George berkata bahwa dia adalah penjaga Ino. Ia diberi tugas untuk melindungi anak-anak blasteran seperti Ino, Shikamaru, dan Chouji—yang tidak mereka mengerti. Chouji bahkan sampai berkata, "Bukankah yang blasteran diantara kita berempat itu hanya Ino?"

George langsung menjawab. "Maksudku bukan 'blasteran' yang itu!"

Hal tersebut tentu saja membuat InoShikaChou semakin bingung. George segera menuju telepon umum dan menelepon seseorang—yang ternyata adalah ibu Ino— untuk secepatnya menjemput mereka dan membawa beberapa perbekalan. George berkata pada Ibu Ino jika waktunya telah tiba. Dia juga meminta Ibu Ino untuk menyampaikan hal yang sama pada Ayah Shikamaru dan Ibu Chouji, dan jujur saja Ino benar-benar tidak mengerti apa arti dari semua ini.

Tidak lebih dari 20 menit, Inoue telah tiba dengan selamat sembari membawa mobil miliknya. Kaca mobil kemudian di buka. Inoue mengisyaratkan agar mereka semua segera masuk ke dalam mobil sekarang juga. Tidak pernah terbayang oleh Ino, Ibunya menyetir dengan kecepatan tinggi seolah-olah ada bahaya yang mengancam di belakang mereka. Lima menit perjalanan yang bisu, tidak seorang pun angkat bicara, perjalanan yang hening, tentu saja. Lalu, George pun angkat bicara ketika Shikamaru bertanya karena sudah merasa jengah dengan suasana yang sama sekali tidak dia mengerti.

George menceritakan semuanya, bahwa dia adalah seorang pelindung. Ia bahkan memperlihatkan kedua kaki cacatnya—yang sebenarnya tidak cacat— Di mulai dari bagian pinggang hingga kaki, tubuh George berbulu dan di balik sepatunya dia memiliki kaki kambing. Rupanya dia adalah Satir (manusia setengah kambing dalam Mitologi Yunani). Kepala George yang selama ini selalu tertupi oleh topi, rupanya menumbuhkan dua buah tanduk. George menjelaskan mengapa InoShikaChou divonis mengidap dyslexia dan ADHD. Ternyata mereka bertiga adalah demigods (makhluk setengah manusia dan setengah dewa). Hal itu semakin diperjelas oleh pengakuan Inoue yang mengatakan hal yang sama dengan mata berkaca-kaca.

"Aku jatuh cinta pada seorang Dewa. Kupikir dia manusia biasa sepertiku. Aku tidak tahu siapa Dewa itu. Dia tidak menceritakannya padaku, tetapi yang pasti dia adalah bagian dari Dewan Olympia. Ino, Okaa-san sebenarnya tidak ingin berpisah denganmu…tapi Camp Half-Blood adalah satu-satunya tempat yang aman untuk anak-anak istimewa seperti kalian."

Sejenak, Ino maupun Shikamaru dan Chouji tidak berkomentar apapun. Barangkali mereka masih tidak mempercayai apa yang terjadi sampai Ibu Ino mengangguk dan mengiyakan apa yang George jelaskan kepada mereka. Syok? Oh tentu saja iya, mereka baru berusia 13 tahun.

Perjalanan terus berlanjut hingga mereka berada di daerah yang sangat asing dan benar-benar seperti tidak pernah terjamah oleh manusia sekalipun. Mereka kemudian turun dari mobil dan saat inilah hal yang paling Ino benci, berpisah dengan Ibunya dalam waktu yang tidak bisa ditentukan, walaupun Inoue telah menjelaskan bahwa Perkemahan Blasteran adalah tempat teraman bagi mereka di muka bumi ini. Inoue memeluk Ino dengan erat dan penuh kasih sayang. Lalu, Inoue memasuki mobil seraya menoleh ke belakang dan berbicara beberapa patah kata. "Ibu menyayangimu."

Banyak tahun yang telah ia lewati bersama Shikamaru dan Chouji. Sebulan setelah mereka tinggal di Camp Half-Blood, mereka diakui oleh orangtua Dewa mereka. Ino diakui oleh Apollo, Shikamaru diakui oleh Athena, dan Chouji diakui oleh Dionysus. Mereka juga diperkenalkan pada saudara – saudari mereka. Ketiganya ditempatkan di kabin yang berbeda; seperti Chouji yang ditempatkan di Cabin 12 (kamar untuk putera dan puteri Dionysus), Shikamaru yang ditempatkan di Cabin 6 (kamar untuk putera dan puteri Athena), dan Ino sendiri ditempatkan di Cabin 7 (kamar untuk putera dan puteri Apollo). Saat itu anak yang paling muda di Cabin 7 adalah Naruto, dan konselor mereka saat itu adalah anak yang paling tua diantara mereka. Namanya Lee Fletcher dan saat itu usianya 17 tahun.

Begitu banyak pelatihan yang mereka jalani; memanah, berpedang, melempar tombak, dan serentet kegiatan pelatihan yang menurut mereka sangat keren. Tentu saja mereka bukan para pekemah tetap seperti Annabeth dan Luke. Mereka biasanya akan pulang di saat tahun ajaran baru dimulai. Sebelum diakui oleh orangtua dewa mereka, InoShikaChou tinggal di Cabin 11 atau Kabin Hermes yang penuh dan sesak. Alasannya adalah karena Hermes adalah Dewa Pengembara yang akan dengan senang hati menerima siapa saja. Namun setelah Athena, Apollo, dan Dionysus mengakui mereka, ketiganya pindah ke kabin masing-masing.

Hari-hari yang dihabiskan oleh mereka selalu saja penuh warna, dengan berbagai macam quest dan kehadiran para monster yang selalu saja menghadang mereka dimanapun dan kapanpun. Tahun-tahun yang paling menegangkan bagi mereka adalah sejak dimulainya pengakuan Poseidon bahwa dia mempunyai seorang putera yaitu Perseus Jackson. Dewan Olympia sudah menyepakati sebuah peraturan mutlak setelah terjadinya Perang Dunia II; bahwa Zeus, Poseidon, dan Hades tidak diperbolehkan untuk menjalin hubungan asmara dengan manusia fana. Alasannya adalah karena tokoh-tokoh terkenal dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II adalah demigods putera Zeus dan Poseidon yang bertarung melawan demigods putera Hades, bahkan ada sebuah ramalan besar mengenai 'Putera atau Puteri dari 3 Dewa Terkuat yang akan menghancurkan atau menyelamatkan Olympus dan dunia ini'. Dewan Olympia tidak ingin ramalan tersebut terjadi, karena berarti itu adalah akhir dunia.

Sayangnya, Zeus melanggar janji tersebut dengan memiliki Thalia— Puterinya dengan seorang manusia fana— Aktris ternama yang bernama Beryl Grace. Lima tahun setelah kelahiran Thalia, Percy lahir dari seorang manusia fana yang bernama Sally Jackson— yang berarti Poseidon juga melanggar perjanjian tersebut. Hades juga memiliki putera dan puteri yang bernama; Bianca di Angelo, Nico di Angelo, dan Sasuke Moriz Uchiha. Namun, berbeda dengan Zeus dan Poseidon, Hades tidak pernah melanggar janji tersebut. Ketiga anaknya itu sebenarnya terlahir sebelum Perang Dunia (sekitar 70 tahun silam) dan selama ini, Hades sebagai yah—bisa dibilang Ayah yang baik dan perhatian mungkin— menyembunyikan mereka bertiga di Kasino Teratai, karena Hades tidak ingin Zeus membunuh mereka, seperti halnya Zeus membunuh Ibu Bianca dan Nico yang bernama Maria di Angelo dan juga Ibu Sasuke yang bernama Mikoto Uchiha. Kasino Teratai sendiri bertempat di sebuah Casino di Las Vegas. Tempat tersebut mempunyai kekuatan mistis yang bisa membuat orang-orang dalam Kasino Teratai tidak tumbuh dan menua, kecuali apabila mereka sudah keluar dari sana.

Ino bahkan masih ingat, pada saat Percy berumur 15 tahun terjadi pertempuran di perkemahan. Ketika itu saudaranya Lee Fletcher (putera Apollo) tewas. Pertempuran tersebut juga menyebabkan belasan demigods lainnya tewas. Lalu, pada saat semua demigods (termasuk dirinya, Naruto, Shikamaru, Chouji, Sakura, dan Sasuke) ikut berperang melawan Kronos, konselor pengganti Lee—Michael Yew juga tewas. Tidak hanya saudaranya Michael, saudara Chouji yang bernama Castor, saudari Sakura yang bernama Silena Beauregard, Charles Beckendorf (pacar Silena), Luke Castellan, dan belasan atau bahkan mungkin puluhan demigods lainnya juga tewas dalam perang melawan Kronos saat itu.

.

"Jika kita sudah menemukan pangeran bulan, kita tidak perlu melakukan hal-hal konyol itu lagi, kan?" tanya Naruto, membuat Ino tersadar dari lamunannya mengenai masa lalu.

"Ya. Untung Ayahnya Chouji adalah Dewa Anggur sekaligus Dewa Kegilaan, jadi dia bisa memanipulasi orang-orang sesuka kita."

"Itu tindakan criminal namanya. Katakan pada Chouji untuk tidak melakukannya sesering mungkin."

"Tenang saja, Chouji tidak akan menggunakan kemampuannya itu setiap waktu."

"Aku benar-benar merasa bersalah pada identik Otou-san dan Okaa-san. Sayangnya, kita tidak punya pilihan lain."

Tiba-tiba saja Ino mengalihakan pembicaraan. "Ne, Naruto! Pernahkan kau membenci Percy karena Lee dan Michael mati?"

"Tidak pernah! Percy kan juga menanggung beban yang sangat berat di pundaknya! Bayangkan saja, dia adalah anak dalam ramalan besar itu. Lagipula, Percy adalah Savior Olympus. Dan dia satu-satunya demigods putera Poseidon."

"Ya. Poseidon berbeda dengan Hades yang mempunyai Sasuke, Bianca, dan Nico. Di suatu tempat di luar sana, Hades mungkin masih mempunyai anak blasteran lainnya. Siapa yang tahu, kan? Tapi bukankah Thalia juga sama seperti Percy?"

"Mereka berbeda. Aku ingat Kak Thalia pernah bercerita bahwa sebenarnya ia mempunyai seorang Adik laki-laki yang bernama Jason. Sayangnya, adiknya itu diculik oleh Dewi Hera, karena dia merasa cemburu suaminya (Zeus) selingkuh dengan Ibu mereka. Kak Thalia bilang Jason hilang ketika dia masih batita. Kalau tidak salah, katanya saat itu Jason baru berumur dua tahun. Ia bahkan tidak tahu Jason masih hidup atau sudah meninggal."

"Begitu. Mengenai Percy… terus terang, aku pernah membencinya."

"Eh?"

"Yah, kau tahu, kan? Dulu aku paling dekat dengan Kak Lee."

"Ya, kau juga dekat dengan Kak Michael."

"Saat itu aku berpikir, semua ini gara-gara Percy, karena dia bukan hanya menjadi incaran para monster dan titans, melainkan juga menjadi incaran para Dewa/Dewi Olympia. Kak Mike juga tewas dalam pertempuran Manhattan, saat Percy merobohkan Williamsburg Bridge, sehingga dia jatuh ke sungai."

"Apa sampai sekarang kau masih membencinya?"

"Iie. Itu karena Will berkata, bahwa mereka tewas karena mereka tidak cukup kuat."

Naruto mengangguk. Ayah mereka—Apollo dikenal dengan; Dewa Matahari, Cahaya, Puisi, Pengobatan, Musik, Seni, Oracle, dan masih banyak lagi. Apollo memiliki banyak domain karena Zeus percaya bahwa dia dapat bertanggung jawab. Jadi anak-anak Apollo seperti dirinya, memiliki bakat yang berbeda-beda. Seperti halnya Ino dan Will yang lebih berbakat dalam bidang pengobatan. Michael Yew yang lebih berbakat dalam bidang Musik. Lee Fletcher yang lebih berbakat dalam seni dan puisi. Kayla yang lebih berbakat dalam memprediksi atau meramal masa depan. Dan dia sendiri yang katanya lebih berbakat dalam bertarung.

"Meskipun kau tidak lebih kuat dari Shikamaru apalagi Sasuke dan Percy, kenyataannya kau memang lebih unggul dalam memanah jika dibandingkan dengan saudara-saudari kita yang lain, dan busur mu selalu tepat sasaran. Tembakan mu tidak pernah meleset."

"Tembakan mu tidak pernah meleset." Naruto merasa tertohok dengan ucapan Ino. Jika tembakannya tidak pernah meleset, apakah itu berarti suatu saat dia akan membunuh Sasuke seperti dalam mimpi itu?

"Pernahkan kau berpikir alasan Mr. Alexander lebih mengincarmu daripada aku?" tanya Ino pula. Naruto hanya menggeleng.

"Ini hanya pendapatku, tetapi kupikir 'mereka' ingin memanas-manasi Kakek. Asumsi ku, Apollo adalah putera favorit Zeus, dan kau adalah putera favorit Ayah—seperti halnya Percy yang merupakan putera favorit Poseidon. Kurasa Apollo jauh lebih mencintai Ibumu daripada Ibuku."

Naruto tertegun. Ada nada sedih dalam suara Kakaknya, terutama pada saat dia menyebutkan bahwa Apollo lebih mencintai Kushina Uzumaki daripada Inoue Yamanaka. Ia jadi teringat, suatu hari Ibunya pernah bercerita bahwa Apollo pernah berkata, "Manusia fana yang paling aku cintai adalah kau, Kushina."

'Mungkinkah asumsi Ino-Neesan itu benar adanya?' tanya Naruto pada dirinya sendiri.

"Ino-Nee, kita lanjutkan pembicaraan kita nanti, aku mau mandi dulu!" izin Naruto. Ino hanya mengangguk.

.

Naruto sudah selesai mandi dan berganti pakaian, begitupula dengan Shikamaru dan Chouji. Kini, mereka semua sedang sarapan bersama Minato dan Kushina. Pada dinding terpajang beberapa foto keluarga Namikaze dengan Naruto (dunia ini), yang masih bayi hingga Naruto yang sudah berumur 6 tahun.

"Naruto, kau yakin akan masuk sekolah hari ini? Bagaimana kalau penyakitmu kambuh?" tanya Minato tampak cemas.

"Hari ini adalah hari ke-empat sekolah setelah liburan masim panas, tentu saja aku harus masuk. Kalian tidak perlu khawatir, lagipula ada Ino-Neesan."

"Ino-chan, Shikamaru-kun, dan juga Chouji-kun, tolong jaga Naruto ya!" sahut Kushina.

"Kami bertiga pasti akan melindunginya, Minato-sama, Kushina-sama!" ujar InoShikaChou serentak.

"Ya ampun, memang benar kalau orangtua kalian adalah bawahan kami, tetapi kalian tidak perlu memanggil kami dengan suffik 'sama', benar kan Anata?" tanya Kushina yang dijawab anggukan kepala oleh Minato.

"…tapi—"

"Ini perintah!" tegas Minato. "Dan Naruto, jangan lupa bawa obatmu!" lanjutnya. Naruto hanya tersenyum dan mengangguk.

Ketika mereka semua keluar rumah, Naruto mulai terbatuk-batuk tanpa henti. Tubuhnya terasa sakit seperti sebelumnya. Ketika ia mulai mencoba untuk bernafas lagi, Naruto meringis. Dadanya sakit dan tenggorokkannya terasa tercekik. Naruto meremas dadanya.

Shikamaru meliriknya dengan tatapan penuh kekhawatiran. "You sure, you're okay, Ouji-sama?"

Naruto mencoba untuk tersenyum. "Yeah," suaranya terdengar serak tetapi ia melanjutkan, "Dan berhentilah memanggilku pangeran!"

Chouji sudah selesai memanaskan mobil dan duduk di kursi kemudi. Shikamaru membukakan pintu untuk Ino dan juga untuk Naruto. Mereka bertiga pun memasuki mobil. Naruto duduk di jok belakang dengan Ino di sampingnya. Sementara Shikamaru duduk di jok depan, di samping Chouji.

Lagi, Naruto merasa kedinginan. Tiba-tiba ia merasa sulit untuk bernafas. Naruto merasakan de ja vu. Kejadian ini hampir sama dengan mimpinya waktu itu.

"Naruto, daijoubu?" tanya Ino.

Naruto tidak menjawab. Ia tidak bisa bernafas. Ia menahan sakit sambil memejamkan kedua mata. Ia merasa seperti sedang tenggelam lagi, seakan-akan mustahil untuk mendapatkan oksigen. Kepalanya terasa berputar-putar.

"Hang in there!" kata Ino mulai menyalurkan kemampuan penyembuhnya pada Naruto lagi.

Di D-7 ini tidak turun salju di musim panas seperti di dunia mereka D-9, tetapi tangan Naruto terasa dingin. Ino juga tidak bisa memberinya nectar, karena untuk sekarang, minuman para dewa itu hanya akan membuat demam Naruto semakin tinggi dan Ino tidak mau mengambil resiko itu.

Chouji tidak bisa fokus menyetir saat melihat Naruto dari kaca spion. Naruto terlihat tidak bisa bernafas. Tubuhnya juga nampak gemetar dan menggigil kedinginan. Wajahnya pun pucat pasi dan penuh dengan keringat dingin. Bibir Naruto bahkan terlihat membiru. Shikamaru mengepalkan kedua tangannya, tidak tahu harus berbuat apa.

Naruto tidak hanya tidak bisa bernafas, tapi kepalanya juga terasa sangat pusing. Pandangan matanya memburam dan tidak lama kemudian, ia tidak ingat apa-apa lagi.

"Sial, Adikku pingsan lagi!" kata Ino.

Shikamaru menanggapi perkataannya. "Hime-sama, apakah kita harus kembali ke kediaman Namikaze atau membawanya ke Rumah Sakit?"

"Memangnya manusia fana bisa menolongnya? Aku dan Ayah saja tidak bisa! Aku akan berusaha melakukan apa yang ku bisa. Tetap fokus ke tujuan awal. Siapa tahu di KIHS ada Pangeran Bulan."

"Baiklah, kami mengerti!" kata Chouji kembali fokus menyetir.

"Hime-sama, apakah anda membawa nectar atau ambrosia?"

"Tentu saja. Minuman dan makanan para dewa itu kan perbekalan kita yang paling penting. Nectar dan ambrosia bisa menyembuhkan luka parah dalam waktu singkat. Sangat penting, apalagi kalau tidak ada aku di sekitar kalian."

"Coba berikan Ouji-sama nectar ketika beliau siuman nanti!"

"…tapi demamnya bisa—"

"Itu tidak masalah, daripada Ouji-sama membeku!" kata Shikamaru pula. Ino mengangguk mengerti.

.

.

Naruto merasa seluruh tubuhnya sakit. Seseorang memanggil namanya. Tangannya yang lembut membelai kepalanya. Naruto mencoba untuk duduk, tetapi seluruh tulangnya terasa nyeri.

"Naruto, bisakah kau mendengarku? Katakan sesuatu, kumohon!" ucap Ino.

Naruto membuka matanya perlahan. Wajah Ino dekat sekali dengan wajahnya. Dia memegang sebuah gelas plastik berisi nectar di tangannya.

"Ini, minumlah! Kau akan merasa lebih baik. Tapi tolong katakan padaku jika demam mu tambah tinggi," kata Ino.

Naruto mengangguk. Ino membantunya duduk dan mendekatkan sebuah sedotan di dekat mulut Naruto. Naruto meminum nectar tersebut, dan rasa hangat dari minuman para dewa tersebut menyebar ke seluruh bagian tubuhnya. Ngomong-ngomong, rasa nectar tersebut seperti kue serpih cokelat yang baru dikeluarkan dari oven—salah satu makanan favoritnya, selain ramen—. Rasa nectar biasanya berubah-ubah tergantung siapa orang yang meminumnya, karena nectar akan menyesuaikan rasa dengan makanan atau minuman favorit orang yang meminumnya. Bagi Ino, rasa nectar itu seperti vanilla latte. Menurut Chouji rasa nectar itu seperti keripik kentang rasa kaldu. Sedangkan bagi Shikamaru, rasa nectar itu seperti jus buah naga favoritnya. Naruto menghabiskan nectar tersebut. Berkat nectar, rasa sakit yang terasa menusuk-nusuk tubuhnya mulai berkurang.

"Apa yang terjadi?"

"Kau baru saja pingsan," kata Ino yang kemudian menyentuh dahi Naruto.

"Lebih panas dari sebelumnya," sahut Ino yang kemudian mengalihkan pandangannya pada Shikamaru yang kini sedang menghadap padanya dari balik kursi.

"I'm fine, sister. Stop worrying!"

Wajah Ino terlihat ragu tapi ia berkata, "Baiklah!" dan Ino kemudian tersenyum.

"Lihat, sebentar lagi kita sampai di Sekolah!" sahut Chouji. Shikamaru pun kembali menghadap ke depan. Naruto mengubah posisi setengah berbaringnya menjadi duduk dan melihat ke depan.

'Bibirnya memang tidak lagi membiru, tetapi wajahnya merah karena demam. Bagaimana mungkin aku tidak merasa khawatir?' pikir Ino.

oOOo

.

.

Di depan kelas, Ino memperkenalkan diri. "Namaku Amora Lawrence, tetapi panggil saja aku Ino. Aku lahir di Amerika dan pindah ke sini empat hari yang lalu. Sebenarnya aku belum mengikuti tes masuk, tapi orangtuaku memberikan bayak dana untuk sekolah ini, jadi para guru tidak mempermasalahkannya."

"Ino-san, tolong jangan bicara begitu!" tegur wali kelasnya yang bernama Nohara Rin.

"…tapi itu memang benar."

"Cukup! Silakan duduk di samping Haruno Sakura!"

Sakura mengangkat tangannya. Ino dan Naruto nampak begitu terkejut karena siswi yang bernama Haruno Sakura itu, sangat mirip dengan Sakura di negeri mereka D-9. 'Cherry? Jadi gadis itu adalah identik Cherry yang dimaksud oleh Shikamaru?' tanya Ino pada dirinya sendiri.

"Nah, giliranmu Namikaze-kun!" kata Rin-sensei pula.

"Namaku Namikaze Naruto. Aku juga lahir dan besar di Amerika. Aku sudah lulus tes masuk bulan Maret lalu dan seharusnya aku mulai masuk sekolah setelah golden week. Yah, tapi sayangnya aku harus dirawat di Rumah Sakit selama beberapa bulan. Salam kenal semuanya dan mohon bimbingannya!"

"Dia mirip sekali dengan professor. Ya, dia seperti versi remaja professor. Anehnya, kenapa gadis yang bernama Amora itu mirip sekali dengan Ino-sama? Bukankah identik Ino-sama di dunia ini sudah meninggal?" kata Suigetsu.

Sasuke yang sebelumnya tengah tiduran di atas meja tersentak mendengar ucapan Suigetsu itu. Ia pun kembali duduk dan melihat ke depan. Betapa terkejutnya dia melihat sosok remaja yang sedang berdiri di samping wali kelasnya. Anak itu memang tidak memakai kacamata seperti Naruto di dunianya, tetapi mereka berdua benar-benar sangat mirip. Wajah tampan itu, kulitnya yang tan, rambut pirang keemasannya, mata birunya— mereka berdua seperti orang yang sama, hanya umur saja yang membedakan keduanya.

"Mungkinkah dia adalah identik Naruto di dunia ini?"

"Ya. Mungkin," jawab Suigetsu.

"Itu berarti Naruto di dunia kita sudah tiada?" tanya Sasuke yang kemudian menutup mulutnya dengan tangan. Menahan isak tangis yang sepertinya akan segera keluar. Airmata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Cih!" dengus Suigetsu saat mendengar suara bisisk-bisik dari teman-teman sekelasnya. Mereka semua memang berbicara dengan suara yang sangat pelan, tetapi Suigetsu adalah robot canggih yang memiliki pendengaran yang tajam, jadi suara-suara itu terdengar jelas sekali di telinganya.

"Aneh sekali ya dia? Padahal ini musim panas, tetapi dia memakai mantel tebal dan juga syal?"

"Mungkin dia sedang demam. Kau lihat, wajahnya juga pucat dan merah begitu?!"

"Mungkin dia sakit parah. Kalian dengar sendiri 'kan tadi? Dia bilang seharusnya dia masuk sekolah setelah golden week, tetapi dia bilang harus di rawat di rumah sakit dalam waktu yang lama."

"Suigetsu," kata Sasuke.

Suigetsu pun menatap mata Sasuke. "Ya?"

"Tadi dia bilang, siapa namanya?"

"Naruto. Namikaze Naruto."

"Bukankah Namikaze itu nama mendiang Ayah professor?"

"Benar."

"Sulit dipercaya! Aku bisa melihat sosoknya yang masih seumuran denganku?" kata Sasuke, mati-matian menahan emosinya yang meluap-luap.

"Namikaze-kun, silakan duduk di samping Shimura Sai!"

Sai mengacungkan tangan. Mata Naruto membulat ketika tatapannya tertuju kepada seseorang di belakang Sai. Seseorang yang sangat mirip dengan Sasuke di dunia D-9. 'Begitu ya? Jadi Sasuke benar-benar sudah tiada? Itulah kenapa aku bisa melihat identiknya di sini? Mungkinkah 'Sasuke' yang kulihat dalam mimpi ku itu adalah dia?' pikir Naruto.

"Namikaze-kun!" kata wali kelasnya.

Naruto tersentak dan lekas meminta maaf. Ia kemudian berjalan menuju jajaran bangku yang di tempati Sasuke dan duduk di samping Sai.

"Baiklah, pelajaran pertama akan segera di mulai. Sensei sudahi dulu pertemuan wali kelasnya," ucap Rin-sensei sebelum meninggalkan ruangan.

Seorang guru yang mengajar mata pelajaran Fisika masuk. Sasuke dan Suigetsu nampak terkejut. Guru fisika itu mirip sekali dengan mendiang paman Sasuke yang bernama Uchiha Obito. Mereka berdua baru masuk sekolah sejak 4 hari yang lalu dan ini adalah pertama kalinya mereka bertatapan muka dengan guru fisika tersebut.

"Dia pasti identiknya Obito-sama," gumam Suigetsu yang bisa didengar oleh Sasuke.

"Baiklah, minna! Cepat keluarkan buku paket kalian dan buka halaman 237," kata guru itu yang kemudian nampak tersentak saat melihat Sasuke.

"Apa kau murid pindahan itu? Siapa namamu?" tanya guru fisika tersebut sembari mendekati bangku Sasuke.

"Sasuke. Sartobi Sasuke. Kenapa sensei?"

"Yah, aku hanya merasa heran karena kau sangat mirip dengan saudara sepupuku, saat dia masih seumuran denganmu."

'Oh, jadi di dunia ini kau bukan Pamanku melainkan saudara sepupuku?'

"Mungkin itu hanya kebetulan saja sensei."

"Ya. Lagipula bulan depan ulang tahunnya yang ke-30, walaupun dia sudah meninggal satu minggu yang lalu. Tentu saja itu hanya kebetulan. Kau juga masih bocah."

"Orang bilang, ada 7 orang yang sangat mirip dengan kita di seluruh dunia ini. Awalnya aku tidak percaya, tetapi setelah aku melihat Amora-san, aku jadi sedikit mempercayainya!" sahut Suigetsu.

Guru berusia 32 tahun yang bernama Uchiha Obito tersebut mengangguk, lalu kembali ke depan papan tulis. Dia mulai menggambar proses terjadinya tsunami dan menjelaskannya. Selanjutnya guru fisika yang juga merupakan tunangan wali kelas mereka tersebut mulai menjelaskan tentang gelombang.

"Tohoku dilanda gempa dahsyat tahun lalu, serta mengalami kerusakan yang serius, bahkan sampai sekarang masih banyak yang tinggal di tempat penampungan sementara. Kerusakan tersebut penyebabnya adalah seperti yang kita ketahui, tsunami. Dan suara yang kugunakan saat ini ditransmisikan melalui udara dan sampai ke telinga kalian. Itu dikategorikan sebagai gelombang getaran. Gelombang,"

Obito-sensei menulis kata gelombang di papan tulis. "Apa itu gelombang? Apa yang kalian tahu tentang gelombang?" Ia kemudian menunjuk seorang siswa berambut bob dan beralis tebal, "Rock Lee! Jelaskan padaku apa itu gelombang?"

"Hai!" kata Lee reflek berdiri dari kursinya. "Etto… gelombang itu, basaan yang ada di lautan."

"Basaan apa? Kau memperhatikanku atau tidak?" kata Obito yang kemudian menunjuk Naruto, "Kau murid pindahan yang baru masuk hari ini, kan?

"Hai," jawab Naruto.

"Siapa namamu?"

"Namikaze Naruto."

"Baik, Namikaze-kun! Silakan jelaskan apa itu gelombang!"

"Gelombang?" tanyanya.

"Kau tidak tahu?" tanya seorang murid berkacamata yang sepertinya adalah murid paling pintar di kelas ini sambil melirik Naruto. Dia seperti hendak membantu menjawab, tetapi Naruto lebih dulu menjawab.

"Dalam ilmu fisika mungkin itu benar. Gelombang adalah perubahan fisik tertentu yang berubah secara berkala. Suatu fenomena yang mengarah ke suatu tempat."

"Wow! Sangat detail sekali!" puji Obito-sensei. "Ada yang kau ketahui lagi?"

"Gerakan gelombang, frekuensi, periode, amplitude… didefinisikan dari memecah suatu fisik gelombang. Misalkan seperti; gelombang sismik, gelombang air, dan gelombang suara, adalah getaran suatu zat yang berpindah melalui suatu media. Tapi ada juga gelombang yang tidak memerlukan media, contohnya gelombang elektromagnetik."

Semua murid di ruang kelas tersebut melongo mendengar penjelasan Naruto, bahkan siswa berkacamata tadi juga nampak terkagum-kagum.

"Dari semua itu, alam semesta sendiri juga merupakan gelombang… seperti sebuah pusaran ruang dan waktu yang dapat menciptakan dunia parallel dengan gelombang yang kompleks—"

"Hm? Yang terakhir tadi kau berbicara tentang apa?" potong Obito-sensei.

"Dunia parallel."

"Dunia parallel?" tanya Obito-sensei.

"Sensei tidak tahu? Apa sensei tahu tentang dunia D-9?"

"D-9?" guru fisika tersebut nampak bingung.

"Naruto!" tegur Ino memperingatkan.

"Eh?" Naruto yang baru saja tersadar lekas meminta maaf. "Gomen sensei. Itu bukan apa-apa."

Pelajaran kembali dilanjutkan hingga bel jam istirahat berbunyi. Naruto memijat keningnya yang terasa semakin pusing. Nampaknya demamnya semakin parah karena efek dari nectar yang diminumnya. Ino terlihat cemas karena wajah Naruto semakin pucat, matanya juga memerah. Naruto bahkan mengeluarkan keringat dingin sebesar biji jagung.

"Naruto kita ke UKS, ya!" kata Ino.

Naruto mengangguk. Baru saja ia akan berdiri, Haruno Sakura berpindah ke tempat duduk depan Naruto yang sudah kosong—karena para murid sudah banyak yang keluar kelas untuk makan siang.

"Ne, D-9 sekai tte nani?"

Naruto hanya tersenyum. "Bukan apa-apa. Obito-sensei benar. Itu hanya fiksi. Itu sesuatu mengenai SF atau Science Fiction yang tidak ada di dunia ini. Ada beberapa dunia yang bertumpuk-tumpuk seperti sebuah lapisan, seperti D-7 dan D-9. Mereka memiliki nomor sendiri. Yah, seperti itulah…"

Sai, Tenten, dan Kiba mulai tertarik dengan pembicaraan tersebut. Mereka pun ikut berkumpul di dekat Sakura. "Ceritakan pada kami!" kata Tenten antusias.

"Suatu hari manusia dari dunia D-12 —ketika intelektual dari Monolith berhasil ditemukan— melakukan perjalanan waktu ke dunia parallel yang bernama D-8, sebuah pergerakan dengan batasan waktu singkat akan terjadi. Yah, semacam itulah. Ada juga cerita tentang Demigods yang datang dari dunia D-9, yang melakukan perjalanan waktu ke dunia D-7 untuk sebuah misi."

"Naruto!" tegur Ino pula.

"Heh? Dari novel apa itu?" tanya Kiba penasaran.

"Aku lupa dari mana."

"Apa dari Arthur C. Clarke's '2001: A Space Odyssey'?" tanya Sai.

"Bukankah Arthur C. Clarke itu seorang ahli fisika?" ucap Sasuke yang tiba-tiba ikut nimbrung.

"Iie. Dia pengarang novel," jawab Sai.

"Benarkah?" tanya Sasuke. Ekpresinya yang awalnya datar terlihat agak terkejut.

"Benar!" tegas Sai.

"Sai 'kan SF otaku, jadi tidak mungkin salah!" sahut Sakura.

"Eh? Kau mengejekku, kan?"

"Bukan. Itu pujian," kata Sakura pula.

Sasuke reflek berdiri dari kursinya. "Souka? Jadi di 'dunia ini' Arthur C. Clarke bukan seorang ilmuwan fisika?" tanyanya yang kemudian meninggalkan ruang kelas, disusul Suigetsu yang mengikutinya dari belakang.

"Terkadang dia terlihat aneh," komentar Tenten.

"Mungkin karena kurang ekspresi saja," sahut Kiba.

"Sai juga kurang ekspresi tapi tidak aneh seperti dirinya," sambung Sakura.

Naruto jadi penasaran melihat reaksi Sasuke tadi. Baru saja ia akan menyusul Sasuke, tubuhnya oleng. Dengan sigap Ino menangkap tubuhnya yang hampir membentur lantai dan berbicara dengan nada penuh tekanan. "Ayo kita ke UKS!"

Naruto hanya mengangguk lemas. Sakura dan yang lainnya menatap Naruto dan Ino heran.

"Ada apa?" tanya Sai.

"Iie. Sepupuku hanya sedang kurang sehat hari ini. Maklum dia baru pulang dari Rumah Sakit kemarin," jawab Ino mengarang cerita.

"Pantas saja wajahmu pucat sekali," sahut Sakura.

"Kalau begitu, kami permisi dulu ya teman-teman!" pamit Ino yang kemudian memapah Naruto.

"Apa dia sakit parah?" tanya Kiba setelah Ino dan Naruto keluar dari kelas.

"Entah," jawab Tenten sambil mengangkat bahu.

Ekspresi Sakura terlihat cemas dan Sai menyadari hal itu. Selama ini dia memang sering memerhatikan sahabat masa kecilnya tersebut karena sebenarnya dia ada perasaan pada Sakura. Sai menyukai gadis musim semi itu. Sayangnya dia tidak berani untuk mengungkapkan isi hatinya pada Sakura. Sakura sendiri sepertinya tidak pernah menyadari perasaannya.

.

To be Continued

.

A/n: Panjang banget ya, chapter ini? Gomennasai! Terimakasih untuk yang sudah baca dan meninggalkan jejaknya. Apabila ada yang kurang dimengerti, bisa tanya pada saya lewat PM. Kritik dan Saran juga akan saya terima. Fanfiction ini sepertinya memang masuk kategori crossovers Percy Jackson, tetapi saya akan lebih fokus pada dunia D-7, jadi saya pikir tidak perlu saya ubah menjadi Naruto crossovers Percy Jackson and The Olympian.

.

Balasan review yang nggak login:

Guest: Saya nggak berubah haluan, cuma lagi cari suasana baru saja.

Shumozee: Gomen. Saya cuma sedang sedikit bosan dengan genre yang itu-itu saja.

Gatsuaki. Ipeh: Iya. Sengaja bikin konflik yang agak rumit karena saya lagi bosan dengan genre yang biasa saya tulis. Ya, saya pikir juga begitu tapi saya akan lebih fokus membuat plot di dunia Sakura daripada dunianya Sasuke atau Naruto, jadi nggak saya masukkin dalam kategori crossovers.