BAG 1. Butterfly
Jika di ibaratkan kalian sama
Sulit untuk ku gapai
Kupu-kupu sampaikan padanya
Bahwa ia lebih indah dari apa pun di dunia ini...
"Taetae, ku mohon kali ini saja eoh—" ia tetap berkeras kepala, memandangku dengan mata kelincinya yang bersinar cerah. Bibirnya sedikit mengerucut menggemaskan. Ku gelengkan kepalaku, berusaha terlihat tak gampang menyerah akan aegyonya sekalipun.
"Tidak bisa Kook," ku tatap ia dengan pandangan tegas, bibirnya tampak lebih mengerucut mendengar penolakan tegasku. Ah, kelinci di hadapanku ini benar-benar menggemaskan. Membuatku tak tahan untuk tidak mencubit pipi gembilnya, jeritku histeris –tentunya dalam hati.
"Jangan memasang aegyomu di hadapanku, karena itu takkan berpengaruh sedikitpun untukku" ujarku cuek kala melihat sosoknya yang entah secara sadar atau tidak tambah mengeluarkan aegyo menggemaskannya. Ia mendelik, seolah tak terima akan penolakan dan perkataanku barusan. Memutar kedua bola matanya –yang ketika melakukannya wajahnya berkali-kali bertambah imut- mencari cara lain untuk meluluhkanku –lebih tepatnya merobohkan benteng pertahanan yang sudah ku bangun secara kokoh-
Tak lama ia kembali mengerling, menatapku dengan senyuman lebar yang menyebabkan dua gigi kelincinya menyembul malu-malu. Oh, apa yang tengah ia rencanakan kini? Batinku seketika merasa was-was, pasalnya kelinci di hadapanku walau wajahnya saja yang terlihat menggemaskan namun ketika mempunyai sebuah rencana maka ia akan berubah menjadi seekor singa betina yang gagal kawin.
"Taetae—" firasatku benar-benar berubah tak enak, di tambah sosoknya yang mulai menghampiriku secara perlahan membuat nyaliku seketika menciut, keberanian yang sedari tadi ku rasakan pun menghilang entah kemana. Melihatnya mendekat membuatku refleks mundur hingga berakhir di ujung sofa yang tengah kami duduki.
Ia masih tersenyum dan entah mengapa kali ini senyuman yang biasanya terlihat manis itu di mataku berubah menjadi senyum yang menyeramkan. Persis seperti seorang psikopat gila yang tengah mengincar korbannya. Oke, tolong setelah ini ingatkan aku untuk tak menonton film tentang psikopat lagi. Lebih baik kita kembali ke cerita sebelumnya, oke.
"Jangan coba-coba untuk lakukan itu Jeon Jungkook—" ujarku dengan nada yang ku buat tegas –walau aku sendiri awalnya ragu karena jelas mendengar suaraku yang gemetar- Jungkook tak merasa takut sedikit pun –kan sudah ku katakan jika ia bisa berubah menjadi seekor singa betina- ia malah terkekeh –yang sialnya sangat manis untuk di dengar- masih mendekat, tambah mendekat. Hingga akhirnya—
Nafas kami bertabrakan, aku bahkan bisa dengan jelas merasakan nafas yang beraroma lemon dan ada bau buah stoberi manis –apakah itu berasal dari lipbam yang ia pakai? Jika iya, maka ia sukses membuatku sedikit mabuk- di pipi ku. Kedua netra kami saling menatap lekat, seolah ada sebuah rasa yang kami tunjukkan lewat pancaran mata kami. Oh, sungguh pemandangan yang menyejukkan –serta menggetarkan hatiku. Namun itu hanya terjadi beberapa detik, setelahnya aku kembali tersadar jika gadis di hadapanku ini kini telah bertranformasi dari seekor kelinci menjadi seekor singa. Oh ayolah, kenapa dari tadi aku selalu membicarakan kelinci dan singa?-_-
"Apa yang kau lakukan? Menjauh dariku gadis bodoh!" ujarku risih, sangat risih. Bagaimana tidak risih jika kalian berada di posisi semenjijikan ini dengan sahabatmu sendiri. Namun double sialnya ia malah tersenyum polos seolah tak memiliki kesalahan apapun.
"well, sepertinya kau cukup tau apa yang akan ku lakukan" ia menambah senyumannya –bahasa kerennya menyeringai yang sialnya malah terlihat jauh lebih menggemaskan-
"Jangan lakukan, atau aku akan marah padamu Jeon—" ujarku memperingati namun bukan Jeon Jungkook yang kalah hanya karena ancamanku. Karena pada dasarnya aku yang selalu kalah akan sikap semena-menanya.
"Kalau begitu, turuti permintaanku Tae-" Shit! Kenapa harus kembali lagi ke topik awal. Dasar menyebalkan!
"Tidak mau—" well, sepertinya aku harus mencari cara lain untuk bernegosiasi dengan kelinci gembil di hadapanku ini.
"Baiklah, tak ada cara lain lagi Tae-" kedua mataku membulat sempurna ketika tangannya menangkup kedua pipiku. Belum sempat aku bereaksi akan hal apa yang akan terjadi selanjutnya dengan cepat bagaikan lari seekor cetah ia melancarkan aksinya.
Chu!
Pipi kananku yang malang, kini ia sudah ternodai. Aku mendramatisi keadaan, merenungi kejadian barusan seolah aku adalah korban pemerkosaan –atau lebih tepatnya korban pelecehan seksual yang sialnya tersangkanya adalah seorang wanita- Big No! Dengan cepat ku hempaskan tangannya –mungkin sedikit kasar tapi aku tak peduli akan hal itu- lalu berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajahku –lebih tepatnya pipiku yang tadi menjadi korban seorang Jeon Jungkook.
Terdengar tawa kemenangan Jungkook. Sial, aku kalah lagi! Gadis itu selalu saja memanfaatkan kelemahanku. Dasar gadis rubah! Aku terus merutuki kesialanku akibat ulah gadis yang sialnya sangat manis itu. Ku buka pintu kamar mandiku, dan lihatlah Jungkook bahkan sudah berdiri menungguku seolah tengah menyambut kedatangan pangeran kelincinya. Oh sial, apa yang kau fikirkan kini Kim Taehyung! Melihatku yang tak bereaksi apa pun, selain memandangnya datar membuatnya terkekeh pelan. Ia menarik lenganku dengan penuh semangat. Membawaku pergi ke tempat yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
Jika kalian sekarang berfikir jika kami sepasang kekasih, berarti tebakan kalian salah besar. Kami hanyalah sepasang sahabat sehidup semati –begitu yang Jungkook katakan- berbeda gender yang saling bertolak belakang satu sama lain. Jungkook sangat senang melakukan skinship, entah bergandengan tangan, mencium pipi dan dahi –rambut juga jika aku tak lupa- memelukku –yang intinya bermanja-manja denganku perlu di garis bawahi hanya denganku tak dengan yang lainnya- sementara aku kebalikannya, aku sangat membenci semua skinship yang ia lakukan. Namun Jungkook, si gadis berkepala batu itu seolah tak peduli akan semua penolakanku selama ini. Aku benar-benar nyaris menangis menghadapinya, sungguh aku tak bercanda!
Aku menyukai tempat yang tenang, damai dan jika perlu tanpa keributan apa pun yang jelas-jelas membuat hatiku tenang berkebalikan dengan Jungkook yang menyukai tempar ramai. Semakin banyaknya orang berlalu lalang, semakin banyaknya suara yang bisa ia dengar maka ia akan teramat merasa bahagia. Mengalahkan kebahagiaannya mendapat banana milknya secara Cuma-Cuma alias gratis. Jungkook lebih memilih tertidur saat pelajaran matematika, sementara aku tidak. Benar-benar bertolak belakang bukan? Ya itulah kami.
Namun itulah yang membuat kami nyaman satu sama lainnya, itulah yang membuat persahabatan kami lebih berwarna. Bahkan banyak orang yang selalu memandang persahabatan kami dengan tatapan iri. Kami saling melengkapi satu sama lain, kami saling menempel di manapun kami berada namun satu yang tak bisa kami lengkapi. Hati. Apa aku belum mengatakannya? Baiklah, aku akan mengakuinya. Aku menyukai Jeon Jungkook. Sahabatku dari semenjak aku membuka mataku untuk pertama kalinya, sahabatku sejak aku pertama kali memakai popok. Sahabatku sejak aku bayi hingga detik ini. Sahabat yang mungkin hanyalah status itu yang akan kami gunakan sampai kapan pun. Bukankah aku menyedihkan?
"Tae—" aku terlonjak dari lamunanku –ingat hanya sebentar oke- ku tatap gadis di hadapanku setengah malas. Ia masih tersenyum dengan riangnya tanpa adanya gurat kelelahan di sana. Sementara diriku? Entah ini kali keberapa aku mengeluh padanya. Terbalik? Aku tak peduli karena yang kini ku pedulikan adalah tubuhku yang lelah. Seriusan!
"Ayo bermain lagi" ku putar bola mataku malas, benar-benar tak kuat lagi akan perangainya. Oh aku sudah lelah, apa kau tak merasa lelah bunny? Pertanyaan itu hanya bisa terucap di dalam kepalaku.
"bukankah semua wahana sudah kita naiki?" aku bertanya, , berharap ia akan menjawab ya dan akhirnya ia memilih duduk di sampingku atau mengajakku pulang. Kembali ke kasur empukku, membayangkannya membuat air liurku nyaris menetes.
"tapi kita belum naik bianglala, ayo-" oh, harusnya aku berkata jujur tadi. Pelajaran untuk kalian semua, setidaknya berbicaralah jujur atau kau akan menjadi sepertiku. Dengan terpaksa ku ikuti langkah kakinya yang menyeretku riang,
Angin sepoi-sepoi di sore hari membelai wajahku, membuatku semakin merasa mengantuk di tambah aktifitas seharian ini dengan Jungkook yang sukses membuatku merasa sangat lelah. Bagaimana tidak, kami menaiki hampir semua wahana di taman bermain ini. Ku lirik Jungkook yang tengah memejamkan kedua netranya. Cantik! Tanpa sadar seulas senyum tepatri di kedua belah bibirku. Jangan lupakan juga hatiku yang berdesir hangat. Tak lama aku mendengus kecil, sementara ia hanya terkekeh pelan akan reaksiku.
Tangan mungilnya melingkari lenganku dengan erat dan jangan lupakan juga kepalanya yang ia senderkan ke bahuku. Aku diam tak bergeming, cukup lelah untuk mendebatnya atau mungkin mulai menikmati perlakuannya padaku? Entahlah.. aku juga merasakan hal aneh pada diriku sendiri.
"eoh, kupu-kupu—" ia berujar riang ketika seekor kupu-kupu cantik terbang melintasi kami dan hinggap di bunga dekat kami berdiam diri.
"indahnya, bukankah itu sangat indah Tae?" ia masih memandang hewan kecil itu takjub, seolah ia benar-benar hanya menganggap jika hewan kecil itulah yang tercantik –menurutnya- aku hanya mengangguk pelan sebagai responku.
"jika di ibaratkan, kau adalah kupu-kupu" aku berujar tanpa memandangnya, memandang lurus ke arah danau yang terbentang luas di hadapan kami. Ia mendongak, mengalihkan atensinya kepadaku.
"mengapa harus kupu-kupu?" dahinya mengerut samar, tak mengerti mengapa ia tiba-tba di ibaratkan mirip dengan hewan kecil nan cantik itu.
"karena dari luar kau terlihat sempurna layaknya seekor kupu-kupu, namun sesungguhnya kalian sama-sama rapuh" ujarku sambil tersenyum tipis. Dahi Jungkook mengerut terlalu dalam, ia masih belum paham akan teka tekiku.
"aku masih tak mengerti-" putusnya kebingungan, kemudian ia duduk tegak sambil menatapku dengan senyum khasnya.
"Kupu-kupu itu sangat cantik, apa aku juga secantik kupu-kupu?"
"— kau jauh lebih cantik dari kupu-kupu, apalagi jika kau tersenyum manis seperti saat ini!" tepat setelah mengucapkan kata yang entah sial atau tidaknya mengalir mulus bagai rel kereta api dari sela bibir sexyku, Jungkook langsung memelukku erat, sangat erat.
Sayap indahmu yang mencolok
Warna tubuhmu yang bersinar
Membuat siapa saja terpesona
Akan kesempurnaanmu...
- TBC -
