Chapter 1. Kenapa Shino Aburame sedikit 'Out Of Character'?.
"Ah, lelah sekali, aku paling benci disuruh berdiri diam seperti itu. Apalagi harus mendengar pidato nenek Tsunade."Naruto mengomentari upacara hari api di siang hari, dia menguap lebar di depan mie ramen yang mengepulkan asap gurih ke udara.
"Hmm, Kau jadi mengingatkanku pada masa lalu, ketika latihan upacara para guru harus selalu mengawasi kau dan Kiba agar tidak melakukan kekacauan, mencari di mana shikamaru berada dan memisahkan Ino dan sakura, lalu serta menghindarkan Sasuke bersebelahan dengan murid perempuan manapun. Kalian semua semakin dewasa."
"Tentu saja dong guru."
Naruto segera menyeruput ramennya. Beberapa saat dia juga melirik Ayame yang kini memakai pakaian khusus demi menyambut Festival nanti malam. Gadis penjaja ramen itu sekarang pakaian yang berupa yukata merah yang menurut Naruto sangat cantik. Yukata itu diangkat hingga memperlihatkan bahunya. Kainnya tak memiliki motif, hanya saja berkesan tebal dan kasar.
Tiba-tiba muncul di depan Naruto, Shino Aburame, membuatnya nyaris menumpahkan ramen miliknya.
"Apa-apaan sih kau Shino!"
Naruto memandang Shino, dia tidak seperti biasanya. Dia bergetar dan menekuk-nekukkan jarinya dengan aneh, membuat Naruto sedikit takut. Kepalanya bergoyang dan berkedut.
"YUBE..." Kata Shino
"Hiiii, Ada apa nih?" Naruto ketakutan.
"A.. Apa kau melihatnya, Yubeku..." Shino berbisik lirih.
"Ti..Tidak." Jawab Naruto spontan.
Tak lama kemudian Shino, si pria yang biasanya selalu cool segera merayap dengan kaki dan tangannya di tanah. Dia kemudian merayap bagai kecoa pergi memeriksa setiap jengkal warung ramen sebelum pergi merayap ke pohon terdekat, meloncat kembali, kemudian dia menghilang dalam gorong-gorong kota.
Naruto mengerutkan kening "Apa-apaan sih!" Dia sempat berfikir bahwa itu bukan Shino, tapi samaran Orochimaru.
"Itu benar-benar Shino. Entahlah dia memang aneh begitu sejak pagi, selamat siang guru Iruka" Jawab Kiba yang kebetulan lewat.
Guru Iruka membalas salam "hai Kiba, Akamaru,"
"Guuk"
"Hai, juga Hinata, lama tidak bertemu." Guru Iruka menyapa seorang gadis yang bersembunyi di balik punggung Kiba.
Naruto menoleh. Dia melihat Hinata yang sedang menunduk memancangkan matanya ke bawah menghindari tatapan Naruto. Tangannya bertautan bergerak-gerak resah.
"Hai Hinata" Sapa Naruto.
Sapaan itu malah dibalas Kiba dengan dengusan kesal. "Huh naruto, kenapa kau santai-santai saja, seluruh desa sedang sibuk tahu?"
"Eh, itu. Entahlah, Aku kan baru datang ke desa."
Hinata tiba-tiba memberanikan diri untuk maju ke depan, wajahnya pucat dengan sedikit bersemu merah di pipi. Dia mencoba untuk tidak melihat ke arah Naruto, tapi percuma karena ke arah manapun matanya terfokus ke arah Naruto, mata spesial klan Hyuga, dan dia tak bisa mengalihkan perhatianya.
Hinata memulai bicara "Ta.. Tapi aku juga merasa Shino agak aneh hari ini. Aku cemas."
"Yah, dia memang aneh banget. Kayak gimana gituu" Naruto menangguk.
Kiba menggeleng "Tapi itu kan Shino, aku rasa kita tak perlu khawatir berlebihan. Dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya."
"Benar, itu poin yang penting. Aku rasa kita tak perlu terlalu cemas. Lagipula dia kan Shino." Naruto mengangguk menyetujui kata-kata Kiba.
"Anu..." Hinata sedikit kurang setuju, tapi dia tak berani mengungkapkannya. Naruto dan Kiba sudah setuju, jadi mungkin saja memang dia yang terlalu khawatir. Hinata memilih untuk mengalah.
Hinata kemudian memfokuskan diri untuk urusan yang lain. Urusan yang penting. Sangat penting...
Hinata memulai bicara "Na.. Naruto.. aku mencarimu dari tadi.. anu.. maukah kau nanti malam..."
"Eh!" Naruto tidak begitu mendengar.
Nafas Hinata tersengal di tenggorokan, dia memaksakan diri menelannya, namun suaranya parau kering susah didengar oleh menusia normal "Nanti malam.. maukah kau menemaniku nanti malam."
"Apa? Aku tidak dengar..." kata Naruto.
"Ak.. Aku.. Hyaaaa!"
Tiba-tiba asap Ninja membumbung di udara "Maaf aku meminjam Naruto sebentar!"
Seorang Ninja, dengan rambut putih panjang muncul entah dari mana, secepat kilat dia menutupi Naruto dengan kelambu rambut putih. Ninja dengan pakaian mencolok dan eksotis itu kemudian pergi menghilang. Hinata ketakutan dan kaget.
"Hei, Hinata, kau sudah bekerja terlalu banyak! Rasanya kau perlu istirahat agar nanti kau bisa menikmati acara nanti malam."
"Anu.." jawab Hinata ragu.
Tapi kemudian tubuh Hinata menguap menyetujuinya dan dia mengikuti nasihat Kiba. Setelah memberi salam ke guru Iruka, yang nanti malam juga bertugas, Kiba kemudian pergi.
"huh!Naruto.." Kiba mengkeriutkan bibirnya "Pulanglah, Akamaru. Aku akan menengok Shino sebentar. Kau kan ada latihan pentas, kau pulanglah dahulu."
"Woof"
"Iya.. Iya..."
….
"Kau tahu Naruto, aku terpaksa membawamu kemari diam-diam karena aku diikuti beberapa Anbu, si Tsunade pasti memerintahkan diriku untuk diawasi." kata Jiraiya.
"Kenapa harus menculik sih? Petapa mesum itu kan bukan urusanku?"
"Tentu urusanmu, aku kan gurumu! Jelas kau harus membantuku dalam urusan ini."
Naruto menggeleng "Untuk urusan yang mesum-mesum tanggung sendiri deh!"
"Kok, kok begitu sih Naruto? Dan apa maksudmu urusan yang mesum-mesum. Kau hanya perlu menyamar menjadi aku dalam waktu dekat ini. Gampang-kan. Nanti aku ajari jurus baru gimana!"
"Aku tak mau berurusan dengan nenek Tsunade." Naruto menggeleng dengan tangan bersidekap di depan dadanya.
Ada suara gemersak di pepohonan di dekat mereka. Bagi orang biasa mungkin tidak terdengar, tapi bagi ninja terlatih seperti mereka, itu tanda bahwa mereka telah ditemukan.
"Sial, mereka menemukanku, aku harus cepat pergi. Hei kalian, perlu seribu tahun bagi kalian untuk bisa menggagalkan sang ninja besar Jiraiya. Rasakan ini."
Jiraiya melemparkan senjata bom asap yang klasik dan langsung menghilang sementara asap berubah bentuk menyerupai kodok raksasa. Naruto hanya bisa terbatuk-batuk sementara beberapa Anbu meloncat mencari di mana Jiraiya menghilang.
Orang-orang itu langsung menghilang, tidak memperdulikan Naruto.
Naruto berdiri di atas ranting yang tadi ditempatinya di bersama Petapa mesum. Tangannya bertopang pinggang dan dia menatap desa Konoha yang jadi sibuk mendirikan tenda-tenda sementara sore menjelang datang.
"Sebenarnya ada apa sih?" Naruto manyun.
"Yube.. di mana dirimu?" Shino Aburame masih meloncat dari cabang ke cabang. Meloncat melewati Naruto dengan cueknya.
#
post note:
Disclaimer : Naruto is manga by Masashi Kishimoto. The Title and the character belong to its respective owner. This fanfiction is created to non-profit orientation and used for fair use.
