Yukeh: So sorry telat update T.T Sebagai gantinya, ini adalah satu chapter yang aslinya bisa dijadikan 2 chapter: 7,6k words loh Kakakk! XD Jangan tepar ya :*

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Genre: Drama/Romance/Fantasy

Alternate Universe

Standard warning applied

No profit gained

Enjoy!


Kedua mata bulatnya tampak semakin membulat tatkala menatap sosok di depannya.

Oke, di dunia ini ada tiga hal yang menurut Hinata tidak bisa dipercaya. Pertama, mengapa negara-negara Timur Tengah dari dahulu hingga sekarang belum bisa mencapai kesepakatan perdamaian antara mereka. Kedua, mengapa Hinata sampai sekarang belum mendapatkan pacar pertamanya. Dan ketiga, mengapa pada saat ini, tepat di depan matanya berdiri satu sosok yang bagaikan refleksi dirinya ketika menghadap cermin?

"Hinata Hyuuga dari masa depan, hajimemashite."

Hinata masih terdiam, tak merespon sama sekali. Hanya sesekali mengerjapkan mata dengan mulutnya yang sedikit membuka. Kentara sekali perasaan terkejut dan syok itu tengah didapatkannya.

Sedangkan sosok dirinya yang berkimono itu tersenyum tenang. Tampak tenang sekali, seolah-olah ia tidak dikejutkan melihat 'kembaran' dirinya hadir di depan mata.

"Aku tahu apa perasaanmu. Aku juga tidak menyangka bisa benar-benar melihat dirimu," ia tersenyum, "Banyak hal di dunia ini yang belum kita ketahui, bukan?"

Hinata menelan ludah, tampak begitu sulit, "…A-Aku—kamu… siapa—" mata lavender Hinata membelalak tatkala ia menyadari sesuatu. Segera saja, ia memejam sembari kedua tangannya menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri, "Aku pasti bermimpi. Mimpi aneh. Mimpi yang sangat aneh. Ayo bangun, Hinata—" gadis itu segera kembali membuka matanya tatkala mendengar suara tawa lirih.

Sosok di depannya menatapnya dengan pandangan geli, "Kita tidak sedang berada di alam mimpi," ujar gadis berkimono itu, "Pun tidak di alam nyata. Apa ya, namanya… Mungkin suatu tempat yang menjadi batasan antara keduanya?"

"A-Aku—" Hinata benar-benar kehilangan kemampuannya untuk berpikir apa yang bisa ia ucapkan. Semuanya terasa begitu tidak mungkin, bahkan dalam fantasinya sekalipun.

Sedangkan sosok di depannya menaikkan sebelah alisnya, "Kau begitu ekspresif—aku bisa melihatnya."

Hinata masih terdiam. Amat begitu sulit untuk mengerti apa yang terjadi, lebih-lebih meyakini apa perkataan gadis di depannya itu—bahwa semua ini bukan mimpi.

Selain di mimpi, bagaimana bisa ia melihat sosok bagaikan pantulannya di cermin di tempat yang bahkan tidak tahu apa ini?

Dan pandangan Hinata tanpa sengaja terjatuh pada benda yang terpegang oleh tangan putih sosok yang bagaikan kembaran yang tak pernah ia ketahui atau temui itu.

Buku bersampul coklat tua.

"Ah!" ia membelalak, lantas segera menunduk dan mengamati benda yang sejak awal ia pegang di tangannya.

Apa semua ada kaitannya dengan buku ini? Jika ini semua memang bukan lelucon otaknya yang mungkin sudah gila, berarti semua ini memang ada hubungannya dengan buku tua itu.

Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa sebuah buku tua yang lusuh dan tipis seperti itu mampu menghadirkan semua yang ada di hadapan Hinata sekarang?

"Buku yang menarik, bukan?" sosok berkimono itu hanya tersenyum kecil, seakan ekspresi terkejut dan heran dari gadis dengan helai tergerai di depannya itu amat lucu untuk dipandangnya.

"Aku—" Hinata tidak tahu harus berkata apa. Semuanya terasa mustahil, dan bahkan hingga kini ia masih berpikir bahwa semua ini hanyalah mimpi, atau jika tidak, imajinasinya semata, "Kau siapa? Bagaimana kau bisa sangat mirip denganku?"

Senyum di sosok berkimono itu tampak sedikit memudar, namun hanya sejenak, sebelum kembali terkulum tipis, "Siapa sangka jika beratus tahun kemudian kemampuan ingat dan analisaku bisa demikian menurun seperti ini."

"Ha?"

"Kau ingat, apa yang pertama kali kukatakan padamu saat pertama kali kau melihatku tadi?"

Hinata yang memakai jubah dan kimono itu terdiam dan hanya menatap gadis bak refleksinya di depannya. Gadis di depannya itu tampak berpikir, sembari masih menatap heran antara sosok di depannya dengan buku yang ada di pegangan kedua tangannya.

Ketika beberapa saat berlalu tanpa adanya jawaban dari Hinata berkacamata, gadis berkimono itu kembali membuka mulut. Ekspresinya tenang. Dua bola soft lavender miliknya menatap dua iris yang meniru dengan baik dan sempurna miliknya itu. Suaranya terdengar setenang raut mukanya: halus, datar, namun tak pelak terdengar tanpa candaan.

"Aku Hyuuga Hinata," ucapnya, "Dan aku adalah masa lalumu."

-oOo-

Trotoar malam itu tampak sepi. Hanya sedikit pejalan kaki yang tampak. Wajar saja, hari telah larut. Sebagian besar lampu di bangunan-bangunan sekitar tampak padam. Sebagian besar toko telah tutup. Dan hanya beberapa kali saja kendaraan melintas di jalan raya yang tampak lumayan lengang.

Berjalan dengan langkah tenang dan dua tangan yang termasukkan ke saku celana seragamnya, Uchiha Sasuke menatap lurus ke arah depan. Hawa dingin malam ia tangkal hanya dengan kaus abu-abu yang sore lalu ia tukar dengan kemeja sekolahnya. Tas ranselnya tersandang di sebelah pundak, dan hand band khas klub sepak bola terpasang di sebelah pergelangan tangannya.

Banyak hal yang ada di pikirannya. Jabatannya sebagai kapten klub sepak bola Konoha Institute, salah satu klub paling bergengsi dan populer yang dimiliki oleh sekolah prestisius itu, cukup menyita perhatian dan pemikirannya bahkan di hari pertama ia mulai menjalankan tugasnya. Acara promosi klubnya memang lancar, bahkan ramai dan flyer hampir habis, meskipun sebagian besar di tangan para siswi yang mengaku sebagai fansgirlnya. Tetapi jumlah siswa yang menyerahkan formulir pendaftaran justru menunjukkan hal sebaliknya. Sebagai akibat, pada rapat klub pasca promosi sore tadi, Sasuke mendapat kritik dari Iruka-sensei, pelatih, dan juga Hidan-senpai, mantan kapten klub sepak bola tahun lalu.

Dan Sasuke cukup dongkol dengan semua itu—terutama para gadis menjengkelkan itu.

Pemikiran Sasuke putus ketika ia merasakan lengannya tersentuh dan terguncang lirih. Ia menoleh, dan hampir ia menaikkan sebelah alisnya tatkala melihat gadis yang berjalan di sampingnya.

Bibir tipis berpoles lipgloss itu cemberut kecil, "Kau pasti melamun dan tidak mendengarkan apa yang sudah kukatakan, 'kan?"

Sebenarnya Haruno Sakura tidak membutuhkan jawaban. Pertanyaan retoris. Karena jelas ia tadi melihat bagaimana ekspresi kekasihnya itu menyatakan bahwa pikiran pemuda itu tidak tengah tertuju pada apapun yang dikatakannya—hah, mungkin jiwa pemuda itu pun pergi ke tempat lain sekalipun raganya tengah berjalan di sampingnya.

Bahkan saat menoleh ke Sakura tadi, gadis itu jelas bisa menerka bahwa pemuda itu seolah baru tersadar bahwa Sakura ada, bahwa ia tidak tengah berjalan sendiri.

"Aku banyak pikiran," ucap Sasuke setelah terdiam beberapa saat.

Dan lelah. Setelah sibuknya promosi klub, lantas rapat klub hingga pukul 7 malam, lantas ia harus pergi ke kompleks perbelanjaan untuk menemani Sakura yang katanya ingin membeli bahan untuk membuatkannya coklat di hari Valentine besok.

Sangat lelah.

"Begitu…" Sakura menggumam sembari tetap berjalan lirih di sebelah Sasuke. Kedua tangannya menggenggam tali satu kantung belanjaan di depan kedua paha dan kakinya.

Emerald jernih itu melirik ke pemuda raven tersebut. Di dalam pikirannya, terbayang satu peristiwa sebelumnya, saat mereka masih berada di pusat perbelanjaan. Tepatnya, di saat Sakura baru selesai memilih dan membeli beberapa baju dan aksesoris di sebuah toko dan mendapati bahwa kekasihnya sudah tidak lagi terduduk di satu bangku panjang di dalam toko untuk menunggunya. Merasa heran, gadis itu keluar dari toko dan sejenak mengedarkan pandangan. Dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan kekasihnya, karena sosok pemuda itu begitu khas—tatanan rambutnya yang unik, tubuh jangkung, dan kulit pucatnya memang tidak bisa ditemukan di banyak pria. Hendak memanggil nama sang Uchiha, namun Sakura urung bersuara tatkala menyadari di mana Sasuke berada.

Berdiri di depan salah satu etalase sebuah toko perhiasan. Satu gelang tipis berwarna putih yang berada di dalam sebuah kotak beludru berwarna biru, terperlihatkan oleh kedua tangan pegawai toko.

Sakura hanya menaikkan alisnya. Karena ia tahu bagaimana Uchiha Sasuke—pemuda itu bukanlah tipikal pemuda yang hobi berbelanja dan menghabis-habiskan uang untuk hal yang tidak perlu.

Pegawai toko itu tersenyum, menutup kembali kotak beludru itu, lantas menyerahkan sebuah kertas yang segera ditulisi sesuatu oleh Sasuke, dan kotak beludru biru berisi gelang berkilau itu berpindah tangan ke pemuda raven itu untuk kemudian termasukkan ke dalam tas ransel yang dibawanya.

Jantung Sakura berdebar.

Jika Sasuke sampai rela menghabiskan waktu di toko, apalagi itu toko perhiasan, membeli salah satu yang terlihat begitu mewah dan berkelas….

Pastilah gelang itu berarti sesuatu bagi si pemuda Uchiha.

Dan untuk orang yang juga begitu berarti baginya.

Sakura mengalihkan pandang ketika lamunannya buyar. Kepala dengan helai unik itu menunduk ketika ia merasakan wajahnya terasa menghangat dan jantungnya berdebar lebih cepat. Ingatannya barusan membuat pikirannya menuju ke satu simpulan yang begitu menyanjung dirinya sendiri dan membuatnya tersipu. Tanpa bisa dicegah, matanya melirik ke arah tas ransel Sasuke dan membayangkan seperti apakah gelang cantik itu jika melingkar di pergelangan tangannya dan kapankah Sasuke akan memberikan 'kejutan' yang dipersiapkannya untuk Sakura.

Beberapa saat perjalanan mereka habiskan hanya dengan kesunyian. Sasuke dengan tatapan impasif miliknya, dan Sakura yang repot dengan berbagai pemikiran terkait Sasuke, gelang, dan dirinya sendiri. Hingga tidak terasa bahwa langkah dan waktu membuat mereka telah berdiri di depan mansion Haruno. Langkah sepasang kaki mereka berhenti tepat di depan gerbang.

"Jadi, sampai jumpa," ucap Sasuke sembari mengangkat sebelah tangannya dan membalikkan badan. Namun belum sempat pemuda itu melangkah, sebelah tangannya tertarik dan membuat kepalanya kembali menoleh.

"U-um…," Sakura dengan kikuk melepaskan pegangannya. Gadis itu tidak mengarahkan pandangannya ke arah Sasuke, dan tampak begitu gugup, "A-Aku mendengar sesuatu di sekolah."

Sasuke terdiam. Ekspresinya sama sekali tidak berubah dan hanya menatap ke gadis yang ada di depannya.

Dan itu diartikan Sakura sebagai lampu hijau baginya untuk meneruskan ucapannya, "….Kau… mereka bilang kau sedang dekat dengan seorang gadis…," Sakura menelan ludah dan mencoba untuk mengingat suatu nama, "…Hyuuga?"

Ada sedikit ketidakmengertian yang tergambar samar di raut muka itu. Matanya sedikit menyipit, seakan kekasihnya baru saja mengatakan sesuatu yang tidak bisa dinalarnya. Meski demikian, otaknya bekerja, mencoba mengartikan sendiri maksud Sakura sebelum mulutnya terbuka untuk berbicara.

"…Hyuuga?" nama itu terasa begitu asing terucap di mulutnya.

Sakura mengangguk, "Mereka bilang itu nama gadis yang dekat denganmu…"

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," jawab Sasuke cepat dengan tenang. Ekspresinya kembali tampak datar.

Menggeleng, Sakura menatap Sasuke, "Banyak teman perempuanku yang bilang demikian," ia terdengar begitu bersihkeras, "Kau menolongnya pagi ini dan kau duduk di sebelahnya di kelasmu. Iya?"

Di detik itulah, Sasuke mengerti. Seketika bayangan satu gadis tertentu muncul di pikirannya.

Bahkan ia baru tahu jika gadis itu bernama Hyuuga.

"Sasuke," Sakura mulai terdengar merajuk, "Inilah mengapa aku tidak suka saat tahu bahwa aku tidak sekelas denganmu. Dan kau—kau sudah berjanji untuk tidak berbohong padaku."

"Sakura—"

"Mereka bahkan bilang bahwa dia mengajakmu pergi ketemuan di taman belakang sekolah. Kenapa Sasuke?"

Pemuda itu memejamkan kedua mata dan mengatupkan rahangnya dengan kuat. Ia tengah berada dalam keadaan begitu lelah. Pikiran kalutnya mengenai promosi rekrutmen klub belum selesai dan masih rumit. Dan berdebat dengan Sakura mengenai gosip dan isu yang benar-benar tidak dimengerti, tidak ia minati, dan terdengar begitu konyol, adalah hal terakhir yang paling ia inginkan saat ini.

"Apa dia cantik?" Sakura bertanya dengan pandangan terluka ke arahnya, "Apa dia manis hingga kau langsung tertarik padanya bahkan di hari pertama kita kembali sekolah—"

"Hentikan omong kosongmu, Sakura," Sasuke tidak bisa menahan nada ketus dan penat dalam suaranya. Ia membuka mata dan tanpa perlu memandang sepasang emerald itu, pemuda itu berbalik dan mengangkat sekilas tangannya, "Selamat malam."

Dan Haruno Sakura hanya bisa berdiri memandang kepergian pemuda itu. Menatap punggung berbalut kaus abu-abu yang perlahan tampak menjauh dengan langkah yang tenang itu. Udara malam hari terasa sejuk, namun tidak berefek apapun pada rasa penat dan panas yang perlahan menggerogoti hati Sakura….

….untuk kesekian kalinya semenjak mereka berdua bersama.

Lagi, sikap dingin dan tak acuh Uchiha Sasuke terasa begitu menyakiti hati dan perasaannya.

Namun pula, lagi, cinta Haruno Sakura yang begitu besar pada pemuda itu membuatnya hanya bisa menerima dan merasakannya.

-oOo-

Hinata berkedip. Sekali. Dua kali. Lantas menelan ludahnya yang terasa seperti batu saat mengaliri tenggorokannya.

"….Jadi, k-kau adalah masa laluku dan a-aku….," gadis itu mencicit lirih, "…M-masa depanmu?"

Senyum terkembang di bibir gadis berkimono itu. Senyum paling lebar yang ditunjukkannya selama ia bertemu dan berhadapan dengan gadis di depannya itu, "Akhirnya kau mengerti garis besarnya. Tapi, lebih tepatnya, kau adalah reinkarnasiku di ratusan tahun ke depan dari masaku hidup sekarang."

Hinata merasa penat dan rasanya ingin pingsan.

Ia sudah cukup dikejutkan dan merasa gila hanya dengan melihat sosok yang bahkan refleksinya, tepat di depan matanya. Begitu mirip, begitu sama—seakan-akan mereka adalah satu tubuh hanya saja beda jiwa. Namun rasa terkejut dan heran yang ia rasakan tersebut tidak seberapa jika dibandingkan rasa syok berat saat mendengarkan penjelasan yang dituturkan gadis berkimono itu padanya untuk beberapa lama. Tidak hanya syok, Hinata berpikir bahwa mungkin ia terkena serangan jantung dadakan, atau jika tidak, benar-benar gila.

Dari awal, ia memang sudah gila dan semua itu hanya khayalan gila di otaknya yang sudah sinting?

"….Itu tidak mungkin…" gumam Hinata, seakan pada dirinya sendiri. Tanpa sadar ia menggeleng, "Aku tidak percaya. Aku tidak mempercayaimu."

Anehnya, Hinata berkimono itu sama sekali tidak terkejut, ataupun tersinggung, "Aku sudah menduga."

Mencengkeram helai di sebelah sisi kepalanya, pandangan Hinata sontak mengarah pada buku lusuh dan tipis yang ada di genggaman sebelah tangannya.

The Book of Time.

Bagaimana…. Bagaimana mungkin buku lusuh, kuno, dan aneh seperti itulah yang menjadi sumber semua kegilaan ini? Setidaknya, itulah yang disampaikan oleh Hinata Hyuuga yang lain di depannya sana.

"Kita terbawa ke sini ketika mengucapkan satu mantera di buku tersebut," ucap Hinata berkimono dengan tenang, mengulangi lagi penjelasan yang sudah ia buat beberapa saat yang lalu ketika ia melihat kebingungan dan keraguan di ekspresi sosok dirinya di masa depan, "Mantera itu akan membawa siapapun pembacanya, ke dimensi antara masa depan dan masa lalu, dan mempertemukannya dengan sosoknya di kehidupan yang lain."

Mantera?

Hinata berpikir. Membaca mantera? Apakah sebelumnya ia membaca atau melakukan sesuatu dari buku ini?

Ah.

Ia segera membalik halaman buku itu dan pandangannya terhenti di suatu halaman.

"Pejamkan mata dan dekaplah lembaran ini. 'Aku memejamkan mata, dan saat aku membukanya, maka datanglah'. Itu adalah kunci untuk menuju tempat tersebut."

Mulut gadis itu ternganga ketika ia mengingat bahwa sebelum semua ini terjadi, ia memang benar-benar melakukan dan mengucapkan semua petunjuk tersebut. Persis.

Dan pertemuan antara masa lalu dan masa depan inilah yang dimaksud dengan 'tempat' oleh buku itu.

"Tapi—" tenggorokan Hinata terasa tercekat akibat semua ini yang terdengar begitu mustahil baginya, "Mengapa? Maksudku—aku mendapatkan buku ini di perpustakaan umum. Mengapa aku?"

Ia hanya ingin mengatakan, mengapa buku itu harus ia temukan ketika banyak orang lain yang kemungkinan bisa menemukannya lebih dahulu daripada Hinata sendiri. Namun sayang, karena rasa terkejut dan syok yang begitu kuat, kemampuan Hinata untuk merangkai kata menjadi melemah.

"Karena aku memanggilmu kemari."

Hinata menyipit ragu dan semakin tidak mengerti.

Hinata berkimono itu mengangkat buku lusuh yang ada di genggamannya sendiri, "Buku ini hanya ada satu, baik di duniaku atau di duniamu. Aku sendiri tidak tahu siapa pembuat atau kapan buku ini pertama kali dibuat—Aku hanya mendapatkannya dari ruangan khusus salah satu tetua di wilayahku."

"Jadi…," Hinata menunduk dan menatap ke bukunya, "Apakah buku di punyamu itu diwariskan turun temurun hingga—"

"Sudah kubilang, buku ini hanya ada satu di kedua masa kita," Hinata kembali menjelaskan, "Atau lebih tepatnya, di masaku. Buku yang ada di tanganmu itu hanya manifestasi semua dari buku ini," ia kembali mengangkat bukunya, "Dengan kata lain, buku itu ada karena aku memanggilmu. Buku itu ada hanya untuk kau temukan, bukan orang lain," ia kembali tersenyum kecil menatap sorot ragu yang sedari awal tidak menghilang dari wajah Hinata, "Akulah yang membaca mantera itu pertama kali, sehingga buku yang sama dengan mantera yang sama, muncul di duniamu—untuk kau temukan, untuk kau baca, untuk kau, diriku di ratusan tahun ke depan, datang dan menemuiku."

Hinata mengerti. Hinata paham sekarang. Tak heran, keberadaan buku itu sendiri cukup aneh. Ia masih ingat bagaimana ia menemukannya—buku lusuh itu terjatuh secara mendadak tepat di depan kakinya saat ia melangkah menyusuri rak perpustakaan. Namun waktu itu Hinata tak terlalu memikirkan, dan menduga bahwa ia tanpa sengaja menyenggol rak dan membuat buku itu terjatuh dari tatanannya di rak.

Dan tak aneh pula, sama sekali tak tertulis penulis, tahun terbit, penerbit, atau data apapun yang menjadi identitas buku itu.

"Untuk apa?" Hinata menatap masa lalunya, "Jika semua hal yang kau ucapkan itu benar, jika ini semua memang bukan mimpi atau imajinasi, maka untuk apa kau ingin menemuiku?"

"Apa yang ditulis di bukumu di halaman ketiga?"

Hinata membalik lembar buku itu dan menuju halaman yang dimaksud, "Tempat pertemuan antara masa lalu dan masa depan. Antara penyesalan dan harapan," ujarnya membaca satu kalimat yang menjadi satu-satunya hal yang tergores di lembaran yang terbuka itu.

"Jadi, bisakah kau menebak jawaban dari pertanyaanmu sendiri?"

Hinata terdiam. Namun kali ini bukan karena dia mencoba berpikir dan meyakinkan diri sendiri bahwa semua ini bukanlah kemustahilan atau akal-akalan otaknya yang mungkin entah bagaimana, sudah miring. Bukan.

Namun karena untuk pertama kalinya, ia mendapati ekspresi sendu di wajah yang selalu tampak tenang dan anggun itu.

Hinata berkimono itu menatap lurus lavender di depannya—lavender yang sama persis dengan miliknya sendiri. Dan dengan lirih dan pelan, hampir terlihat bibir tipisnya sama sekali tidak bergerak, ia bersuara.

"Untuk menemukan harapan dan menghapus penyesalanku."

-oOo-

Cahaya lampu di atap halte bus terpantul di permukaan logam berwarna putih-bening itu. Kelima jemari pucatnya sesekali memutar benda berbentuk lingkaran tersebut. Onyx segelap langit malam yang menaunginya, tampak berkelip memantulkan cahaya yang ditempa oleh perhiasan yang dipandanginya. Dan demikianlah, beberapa menit ia habiskan hanya untuk memandang benda tersebut, terdiam di bangku halte yang hanya ia yang menempati, sembari menunggu bus yang membawanya bertolak menuju ke mansionnya.

Kesialan yang harus ia dapatkan hari ini, karena ada masalah dengan mobil yang ia bawa ke sekolah dan membuat mobil mewah itu terpaksa ia titipkan dan perbaiki di bengkel sore tadi.

Memandang ke arah ujung jalan raya, bus yang ditunggunya belum juga nampak. Hari memang sudah beranjak larut, namun bukan berarti sudah tidak ada bus sama sekali, meskipun memang jarang. Dan hal itu menjadi faktor lain yang menambah badmood pemuda raven tersebut. Karena hal yang paling ia inginkan sekarang adalah sampai di rumah, mandi, lantas segera terbaring di tempat tidurnya meskipun tak apa melewati makan malam. Banyak pikiran dan kondisi tubuhnya yang lelah, membuatnya ingin segera menghempas ke kasur tanpa perlu berbuat apa-apa lagi.

Mengalihkan pandang lagi ke arah perhiasan di tangannya, Sasuke teringat lagi akan mengapa ia membeli benda tersebut. Empat hari lagi adalah hari ulang tahun Ibunya. Uchiha Mikoto adalah satu-satunya manusia di Bumi ini yang Sasuke paling syukuri kehadirannya. Ia sayang, hormat, dan begitu menghargai Beliau. Bukan berarti Sasuke memandang sebelah mata pada Ayah, Fugaku Uchiha. Namun hari Fugaku yang lebih banyak dihabiskan di luar negeri daripada di rumah, di restoran daripada di ruang makan keluarga, bersama kolega bisnis daripada istri dan anak-anaknya, membuat jalinan batin antara Sasuke dan Mikoto lebih kuat. Namun Sasuke bukanlah pemuda atau putra manja dan kekanakan yang egois—ia mengerti bahwa Fugaku berperilaku demikian semata-mata untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga dan juga demi kebaikan para karyawan perusahaan mereka.

Dan setiap tahun, setiap ulang tahun Mikoto, pasti Sasuke akan memikirkan sesuatu sebagai hadiah yang berkesan dan membahagiakan Ibunya. Dan untuk tahun ini, adalah gelang emas putih yang Sasuke belikan dengan uang hasil jerih payahnya bekerja part time selama liburan musim panas dan musim dingin. Secara diam-diam tentu—bisa-bisa Mikoto dan Fugaku terkena serangan jantung jika mengetahui putra bungsu mereka mencari uang tambahan sedangkan Sasuke tahu, ia bisa mendapatkan apa saja hanya dengan tinggal meminta pada kedua orang tuanya. Dan tentu, Uchiha Itachi, Kakaknya, pasti akan datang ke tempatnya bekerja, sebuah restauran cepat saji, hanya untuk menggodai dan membuatnya jengkel semata.

Akhirnya, ia bisa membelikan sesuatu untuk Ibunya. Meski bukanlah perhiasan mewah, bukan barang paling mahal di toko itu, tidaklah penuh dengan permata atau berlian di permukaannya, namun Sasuke pikir Ibunya pasti terkesan dan tidak akan mempermasalahkannya.

Bunyi dering terdengar di halte bus yang sepi. Sasuke meletakkan kotak beludru biru itu ke permukaan bangku di sisi tepi, lantas meraih ranselnya untuk berada di pangkuannya dan merogoh salah satu ruang ranselnya.

Adalah ponsel pintarnya yang ia ambil, dan menampakkan satu pesan yang ia dapat dari Kakaknya.

Dimana?

Sasuke memutar bola mata. Tipikal Itachi, mengirim pesan hanya dengan satu kata seakan-akan biaya pulsanya dihitung perkarakter.

Ia segera mengetikkan balasan. Dan baru saja ia menekan tombol kirim, ketika telinganya mendengar suara klakson yang keras mendekatinya. Kepalanya menoleh, dan ia tidak bisa menahan napas lega terhembus dari mulutnya saat onyxnya mendapati bus yang ditunggunya akhirnya datang dan tengah mengarah ke halte tempatnya menunggu.

Ia segera memasukkan ponselnya ke ransel, lantas kembali mengarahkan tasnya ke belakang dan kembali menyandangnya. Bunyi sesuatu yang tergeser, lantas jatuh, terdengar, namun ia tidak mempedulikannya. Ia segera bangkit, lantas berjalan mendekati pintu dari bus yang sudah berhenti tepat di depannya. Hanya ada satu hal di pikirannya: pulang dan istirahat. Dan Sasuke terlalu bersyukur dengan kehadiran bus itu untuk mempedulikan hal lain apapun.

Termasuk bahwa ia terlupa akan dan meninggalkan kotak beludru berisi gelang yang sudah ia persiapkan untuk ulang tahun Ibunya.

-oOo-

"Kita bertukar," ucap Hinata Hyuuga dari masa lalu itu dengan tenang. Aura tenang dan ramahnya yang khas, kembali muncul dan menggantikan ekspresi sendu yang sejenak saja, sempat tergambar di wajah putihnya.

Sedangkan si lawan bicara, Hinata Hyuuga yang berasal dari ratusan tahun setelah masanya, hanya menatap ragu ke arahnya.

"Bertukar?"

Kepala berhelai indigo tersanggul itu mengangguk sekali, "Kita bertukar masa. Dengan kata lain, aku hidup di masamu, dan kau hidup di masaku."

"Itu tidak mungkin," bahkan tanpa ragu Hinata menjawabnya. Kali ini, ia yakin, apa yang dikatakan oleh sosok yang mengaku sebagai masa lalunya, adalah hal yang keliru, jika bukan gila, "Tidak bisa."

"Tentu bisa—itulah kegunaan utama buku ini, kau tahu?" tawa lirih terdengar geli, "Kita bisa melakukannya."

"Aku tidak mau," Hinata menggeleng, "Jika tujuanmu melakukan semua hal gila ini… membaca buku aneh itu dan—dan memanggilku kemari hanya agar kita bertukar… tidak mau."

Alih-alih kecewa atau terkejut, Hinata berkimono itu hanya menaikkan sebelah alisnya dan mendengus geli, "Kau harus bisa berbohong lebih baik dari itu."

"Ha?"

"Apa kau tahu, Hyuuga Hinata?" gadis itu berujar, "Apa syarat lain, selain memiliki buku ini yang asli, agar bisa bertemu dengan sosok kita di kehidupan yang lain?"

Hinata terdiam.

"Buku ini bisa membawa seseorang ke alam ini, dengan sosoknya di kehidupan lain, hanya jika reinkarnasinya itu memiliki perasaan yang sama dengannya."

Senyum lebih lebar tak bisa tertahan untuk tidak terlukis dari bibir tipis si gadis berkimono tatkala melihat dua lavender itu membelalak.

"Dengan artian, kau, Hyuuga Hinata, memiliki perasaan, keinginan, dan pemikiran yang sama persis dengan apa yang kumiliki sekarang."

"…Apa maksudmu?"

"Kau juga memiliki keinginan untuk memiliki harapanmu dan menghapus penyesalanmu, bukan?"

Ada sesuatu yang terhentak dari dalam diri Hinata tatkala mendengar gadis bersanggul itu berbicara dengan tenang padanya. Suaranya terdengar halus, menenangkan, namun di saat yang sama, tanpa ragu seolah ia mengatakan hal paling jelas di dunia.

Harapan…

Penyesalan?

"Harapan yang tidak bisa kau miliki. Semua penyesalan yang membuat harapanmu masih berada di luar jangkauan tanganmu. Penyesalan yang membuatmu merasa gila, namun kau tahu bahwa kau tidak bisa menolaknya. Perasaan tak berdaya karena membiarkan harapanmu jauh—semakin jauh….," Hinata Hyuuga berkimono berhenti sebentar, semata-mata untuk mengamati air muka lawan bicaranya, "Penyesalanmu yang tertinggal dan harapanmu yang belum datang, yang membuatmu membenci hidupmu… Ya?"

Pandangan Hinata menurun ke arah buku yang digenggamnya. Setiap kata yang diucapkan oleh sosok di depannya entah mengapa terasa begitu menyakitkan di hatinya. Atau lebih tepatnya, setiap kata Hinata di depannya sana itu, membawa ingatan dan pikiran Hinata pada hal-hal yang begitu menyakiti hatinya saat teringat. Entah bagaimana, namun gadis yang datang dari masa lalunya tersebut benar-benar mengatakan hal yang tepat, meski menyakitkan dan begitu Hinata benci untuk ia dengar dari mulut orang lain kepadanya.

Kehidupan sekolahnya.

Teman-temannya.

Ayah.

Keluarganya.

Begitu banyak penyesalan, dan begitu banyak harapan yang masih tetap menjadi angan-angan.

"Ka-kalau begitu…," Hinata kembali mengarahkan tatapannya pada sosok di depannya, "Penyesalan dan harapan apa yang kau miliki?"

Lagi, sorot sendu itu tampak samar muncul di wajah cantik itu, "Kehidupan yang kumiliki dan kehidupan yang lebih baik yang kuharapkan, itu saja."

"K-Keluargamu…," Hinata kembali menunduk, lantas memainkan ujung jemarinya dengan gugup, "Teman-temanmu… apakah mereka yang menyebabkan semua itu?"

Gadis bersanggul itu menggeleng, "Seperti yang kau lihat dan mungkin kau tahu, aku berasal dari masa ratusan tahun sebelum dirimu sekarang. Aku putri salah satu bangsawan besar di masaku. Jika ada hal yang membuatku bahagia akan hidup yang kumiliki sekarang, adalah keluarga dan teman-temanku."

Hati Hinata mencelos.

Begitu berbedakah hidup dirinya dengan masa lalunya? Jika masa lalunya mengatakan hal yang sebenarnya, maka bagaimana bisa kehidupannya di masa lalu jauh lebih baik daripada di masa ratusan tahun setelahnya? Apakah Hyuuga Hiashi dahulu juga menjadi Ayahnya? Apakah Ayahnya di masa dahulu menyayanginya? Apakah teman-temannya di masa sebelumnya menghormati dan menyayanginya pula?

Lantas mengapa gadis itu ingin bertukar masa dengannya di saat ia memiliki semua hal yang ingin Hinata miliki selama ini?

Jika memang demikian… Jika semua hal yang Hinata harapkan ada di masa sebelum ia terlahir di dunia yang ia tinggali sekarang… Jika semua penyesalannya bisa terhapus…

Tidakkah buku ini dan penawaran gadis di depannya sana itu masuk akal?

Tidakkah ia ingin menyetujuinya?

"Apa itu yang menjadi penyesalan dan harapanmu, Hyuuga Hinata?"

Hinata tidak menjawab dan semakin menunduk. Ia genggam dengan erat buku lusuh tersebut, seakan desperet untuk menjawab meskipun mulutnya rasanya terkunci rapat.

"Kita bisa bekerjasama dan saling membantu, Hinata. Penyesalan kita tak bisa terhapus di masa ini, namun kita bisa mendapatkan harapan kita di masa yang lain."

Terbayang lagi olehnya perilaku Karin dan teman-teman gadis sekelasnya yang sepertinya sudah mengibarkan bendera permusuhan terhadapnya. Terbayang pula olehnya Uchiha Sasuke yang menjadi salah satu sumber dan alasan drama di kehidupan sekolahnya yang semula datar, hampa, namun tenang. Teringat olehnya sang Ayah yang senantiasa menuntutnya, sang adik yang bisa melakukan apapun jauh lebih baik darinya.

"Jika kau memang tidak ingin kita bertukar selamanya, setidaknya hanya untuk beberapa waktu."

Dan juga kehidupannya—kehidupan memuakkan sebagai seorang gadis lemah, kutu buku, pendiam, pemalu… membosankan.

"Jika kau tak bersedia melakukan untuk dirimu sendiri di masamu sekarang…," Hinata berkimono itu menurunkan pandangan. Tanpa sadar, satu tangannya bergerak ke atas, lantas menyentuh satu ornamen berwarna emas yang terselip di helai indigonya, "Lakukanlah untuk dirimu di masa lalu, karena kita adalah satu dan sama."

Keduanya memejamkan mata. Keduanya mengulas semua hal yang ada di kehidupan masing-masing. Semua harapan. Berbagai penyesalan. Keduanya merasakan perasaan sesak, desperet, dan ingin menyerah.

Oleh kehidupan yang sama-sama memuakkan. Oleh kehidupan lain yang terdengar menarik dan membuat antusias.

Oleh perasaan ingin menyerah dan melarikan diri yang terasa begitu terdengar memikat.

Hinata berkimono kembali membuka mata, dan pandangan itu kembali berubah datar, "Hyuuga—Ack!"

"Ack!"

Dan secara tiba-tiba terdapat sengatan bagai listrik yang terasa begitu mengejutkan, terasa di tubuh mereka. Terasa menyentakkan, dan begitu tiba-tiba.

Tanpa mampu kedua gadis itu sadar apa yang baru saja terjadi dan mengapa, tubuh mereka limbung dan mata mereka yang perlahan menutup.

Akhirnya tubuh keduanya terjatuh, terjun, seakan menembus kumpulan awan dan menuju ke dasar yang tak menentu.

-oOo-

Suara gedoran terdengar begitu keras, beserta suara yang meneriakkan namanya berkali-kali terdengar. Namun Hinata enggan membuka mata. Kedua kelopaknya terasa bertambah berat—begitu enggan dan sulit untuk dibuka. Tubuhnya yang terasa lemaspun tak membantunya. Dan oleh karena itu, ia memutuskan untuk menghiraukan suara gedoran dan teriakan itu dan berguling ke samping—

Brukh.

"Ah!"

Barulah ia membuka mata, meski untuk menyipit kesakitan, tatkala tubuhnya terjatuh dan kemudian menghantam permukaan yang keras. Mulutnya meringis, dan tangannya tanpa sengaja mengelus pinggang dan lengannya.

Namun ingatan tentang suatu hal adalah yang pertama muncul di otaknya.

Reinkarnasi. Hyuuga Hinata yang menjadi masa lalunya. Buku tentang waktu.

Bertukar masa.

Penyesalan dan harapan…

Seketika rasa kantuknya lenyap, dan yang ada di pikirannya hanyalah panik dan di dalam hatinya adalah rasa kaget, cemas, takut.

Apakah ia sudah berada di…

Segera saja ia membelalakkan mata dan menatap ke arah sekitar.

Yang dilihatnya adalah pemandangan khas kamarnya—ruangan yang sudah ditempatinya sejak belasan tahun lamanya.

Ia masih berada di zaman ia seharusnya berada. Ia masih hidup di tahun 2014 tahun seharusnya ia berada.

Ia menghela napas, memejamkan mata, dan menggeleng lirih.

Pasti itu mimpi. Pasti semua hal yang baru saja diingatnya hanyalah mimpi. Bunga tidur yang konyol, mustahil, lucu… Ia tidak menyangka jika pikirannya bisa overactive demikian.

Suara gedoran yang keras dan teriakan kembali terdengar oleh telinga Hinata yang sejenak mengalami 'disfungsi' akibat banyak dan keruhnya pemikirannya. Gadis itu melonjak kaget dan menatap ke arah sumber suara.

"Nee-chan! Kau bangun sekarang atau aku yang akan meminta Ayah untuk ke sini dan membangunkanmu!"

Tanpa dikomando lebih jauh lagi, Hinata terburu-buru bangkit dari posisi duduknya di lantai.

"B-baik, Hanabi! Aku sudah bangun! Sebentar!"

Entah, apakah seharusnya ia merasa lega atau justru kecewa ketika ia mendapati dirinya masih berada dalam hidupnya semula.

-oOo-

Melirik arloji di pergelangan tangannya, Hinata menghela napas. Masih empat puluh menit lagi bel masuk sekolah berbunyi, dan dirinya sudah terduduk di halte untuk menunggu bus. Hal ini karena ia melewatkan sarapan paginya—untuk yang kesekian kalinya, karena di waktu itulah Hiashi dan Hanabi akan membicarakan mengenai rencana dan prestasi sang adik di sekolah. Dan tentu saja, Hinata akan merasa kecil, tidak signifikan, dan terlupakan, jika ia menghabiskan waktu bersama mereka untuk menikmati sarapan.

Memang tidak ada yang signifikan di dalam hidupnya. Apapun itu.

Dan pemikiran mengenai keluarganya, mau tak mau membawanya pada buku tua itu dan juga gadis yang ada di dalam mimpinya malam sebelumnya. Hinata yakin, itu hanya mimpi. Tentu saja, tidak ada kemungkinan apa yang didengar dan dilihatnya adalah hal nyata, bukan? Namun kini, ketika ia teringat, mau tak mau otaknya mengulas semuanya.

Reinkarnasi.

Bertukar masa.

Hidup yang membosankan dan menyakitkan untuknya.

Harapan.

Penyesalan…

Ia menarik napas dan sedikit menggelengkan kepalanya, "Ayolah, Hinata. Jangan mengkhayal di pagi hari begini…"

Lavendernya bergulir, menatap ke ujung jalan. Bus yang dinantinya belum datang juga. Namun ia tidak heran juga, karena hari masih terlalu pagi. Ia saja berada di halte itu seorang diri.

Kembali mengalihkan pandangan, sesuatu tampak membuat pandangan gadis itu terhenti. Suatu benda berbentuk kotak kecil. Berwarna biru beludru, tergeletak di sudut lantai halte yang sedikit kotor.

Dan dari bentuknya saja, Hinata tahu bahwa itu adalah kotak yang umumnya menyimpan perhiasan di dalamnya.

Penasaran, gadis itu beranjak dari duduknya dan menghampiri benda tersebut. Segera diambilnya, dan ia dapati permukaan kotak itu sedikit kotor oleh lantai berlumpur dan berdebu dari halte bus. Gadis itu menoleh sejenak ke sekitar, mencoba mencari apakah ada seseorang yang tengah menuju kemari dan kemungkinan adalah pemilik dari kotak itu. Setelah tak ia lihat siapapun dan ia masih sendiri di sana, ia kembali ke tempat duduk.

Ia membukanya, dan tarikan napas otomatis ia lakukan melalui mulutnya dan mata lavendernya seketika membelalak saat melihat benda yang ada di dalam kotak biru itu.

Gelang putih, dengan beberapa batu permata yang ada di permukaannya.

Insting, tangan Hinata segera menutup kembali kotak itu dan ia tegakkan badannya. Kedua matanya membelalak di balik lensa kacamata kotaknya. Mulutnya terbungkam rapat, napasnya tertahan. Ekspresi seakan-akan ia baru saja kepergok melakukan suatu hal yang memalukan.

Bagaimana mungkin ada kotak berisi perhiasan tergeletak di lantai halte? Milik siapa? Dan kenapa tidak diambil kembali kemari?

Hinata kembali menurunkan pandangan, dan membuka kotak itu.

Warna putih bening dengan batuan permata itu tampak terpantul indah di kedua matanya.

"Indah sekali….," gumamnya, tanpa sadar mengarahkan jempol kanannya untuk mengusap permukaan gelang itu.

Segera, gadis itu memeriksa isi kotak itu dan gelang itu. Mungkin saja ada petunjuk mengenai siapa pemilik atau alamat pemiliknya. Namun kosong. Tak ada apapun.

Hinata menghela napas. Lebih baik ia taruh kembali kotak ini di lantai bus. Atau jika tidak, membawanya ke kantor polisi, berharap bahwa pemiliknya jika ingin mendapatkannya kembali, akan melaporkan kehilangan ke pos polisi terdekat dari sini.

Tapi… Hinata hanyalah gadis biasa. Seperti kebanyakan gadis remaja pada umumnya, dan mungkin, seperti kebanyakan wanita, hatinya sudah terpukau oleh gelang di dalam kotak itu. Indah, berkilau tertempa sinar mentari di permatanya yang berkelip indah. Oleh sebab itu, berlandaskan rasa penasaran dan iseng, ia ingin mencoba sejenak memakai gelang itu ke pergelangan kirinya. Hanya sejenak ingin merasakan benda itu menyentuh kulitnya dan menghiasi tangannya. Dan ia berjanji, ia akan segera melepasnya dan membawanya ke kantor polisi.

Hinata mengambil gelang itu dari kotak itu, lantas menelitinya. Ternyata ada pengait yang menjadi kunci untuk membuka gelang tersebut. Ia mencoba membukanya untuk beberapa saat, tampak kesulitan dan bingung mendapati bahwa ternyata, gelang itu tidak mudah untuk dibuka dan terpakai begitu saja. Pasti ini dipesan khusus dan istimewa oleh pemiliknya. Namun, setelah beberapa saat, ia berhasil membukanya, lantas memakainya di pergelangan tangannya, dan menutup kembali pengait pembuka gelang itu.

Klik.

Senyumnya terkembang kecil. Lavender miliknya berkelip senang saat menatap pergelangan tangannya yang ia angkat. Ia memandangnya. Perhiasan itu melingkari tangannya yang putih kemerahan. Ia putar-putar sejenak.

Hhh… Andai saja ia bisa membeli benda sebagus dan seberharga ini…

Menghela napas, ia memutuskan bahwa waktu untuk berkonyol ria telah usai. Ia segera mengarahkan jemarinya ke pengait pembuka gelang itu dan mencoba membukanya.

Gagal.

Ia mencoba lagi.

Masih gagal.

Oke, Hinata mulai bingung kembali. Tetapi jemarinya masih berusaha dan mengotak-atiknya.

Gagal, pengait itu tidak mau membuka.

Di sini, Hinata bukan bingung lagi, tapi panik dan ketakutan.

"Uh…." Ia mengeluh. Tangannya secara acak berusaha membuka pengait itu. Tetapi tidak bisa terbuka. Ia mencoba menariknya, gagal. Ia mencoba cara simpel, yakni mengarahkan gelang itu untuk lepas melalui ujung tangannya. Gagal pula karena gelang itu terlalu kecil saat hendak melewati telapak tangannya. Ia menghentak-hentak dan mengibas-kibaskan tangannya, berharap secara ajaib, meskipun bodoh dan rasanya tidak mungkin, gelang itu bisa terlepas dari tangannya.

Kenapa ia sudah mendapatkan kerepotan di pagi hari demikian?

Bunyi dentinan mengalihkan perhatiannya. Dan rasa panik yang ia rasakan semakin berlipat saat mendapati bus yang ditunggunya telah datang dan menghampiri halte tempatnya terduduk dan terjebak dan situasi konyol tapi menakutkan demikian.

"Apa yang harus kulakukan?" ingin sekali ia menangis!

Tetapi jika ia ke pos polisi sekarang dengan keadaan gelang ini masih terpasang di tangannya tanpa bisa terlepas, pasti akan merepotkan, membutuhkan waktu lama, dan bahkan bisa menimbulkan kesalahpahaman yang mengarah pada masalah baru yang lebih rumit. Dan tentu saja, ia pasti akan terlambat ke sekolah. Itu sih tidak usah ditanya.

Oleh sebab itu, dengan sangat terpaksa, gadis itu segera bangkit dan memasukkan kotak beludru yang telah kosong isinya itu, ke tas selempangnya. Ia menggigit sebelah ujung bibir bawahnya, dengan jantung yang berdetak keras dan keringat dingin yang membasuh wajahnya yang putih.

"Siapapun pemilik gelang ini, maafkan aku!" gumamnya lirih, desperet, juga tulus, sembari melangkah menuju bus yang sudah berhenti di depannya "Gomenasai!"

Ia berjanji, ia akan mencari cara agar gelang ini bisa terlepas dalam jangka waktu di sekolahnya. Karena sepulang sekolah, bisa tidak bisa, gelang ini harus sudah ia serahkan ke pos polisi terdekat dari halte ini.

Pasti pemiliknya juga kebingungan mencarinya, bukan?

-oOo-

Hari diawali oleh Sasuke dengan begitu buruk. Suasana hatinya begitu menghitam. Wajah kusut, pun dengan mata yang semakin bersorot datar. Jauh lebih pendiam dan irit kata dari biasanya. Dan mengobral death glare khas miliknya ke siapapun yang berbuat hal sepele namun menyebalkan atau menganggunya. Tentu saja, jangan salahkan Sasuke. Urusan klub yang dibawahinya belum saja belum selesai, dan pagi tadi saat ia memeriksa tas untuk menyiapkan buku pelajaran, ia mendapati bahwa kotak beludru biru berisi gelang untuk ibunya tidak ada dalam tas ranselnya.

Kotak itu hilang. Gelang yang ia beli dengan keringat hasil kerja part time selama liburan musim panas dan dingin tahun lalu, hilang. Dan tidak ia temukan tak peduli ia sudah menumpahkan isi tasnya ataupun merogoh saku celana yang ia pakai malam sebelumnya.

Ia begitu bad mood—sangat bad mood hingga ia sempat membentak Haruno Sakura untuk berhenti berbicara apapun yang gadis itu ceritakan, saat perjalanan mereka ke sekolah dengan mobil miliknya.

Perjalanan sunyi ke sekolah berakhir dan Sasuke segera keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi 'blam' sedikit keras. Tanpa menunggu apa-apa lagi, pemuda itu segera melangkah sembari menyandang tas ranselnya di sebelah pundaknya.

"Sasuke-kun!"

Lagi, pemuda berhelai raven itu tidak mengacuhkan. Bahkan mungkin kedua telinganya sama sekali tidak mendengar teriakan Sakura ketika semua yang ada di pikiran Sasuke hanyalah mengenai gelang untuk ulang tahun Ibunya.

-oOo-

Haruno Sakura hanya menghela napas sedikit keras, hingga juntaian merah muda yang ada di sekitar wajahnya, tergerak lirih oleh hembusan napasnya. Sepasang emeraldnya memandang dengan sedikit kesal bercampur heran pada punggung berbalut kemeja tanpa sweater sekolah, yang perlahan menjauh darinya.

Ia tak habis pikir, apa yang terjadi dengan kekasihnya itu hingga hari ini terlihat dan terasa jauh lebih dingin dan tak acuh dari biasanya.

Menghela napas lagi, gadis itu menggumam kepada dirinya sendiri, "Lebih baik aku berbicara padanya setelah menukar sepatu di loker," sebelum kedua kaki berbalut sepatu bebas dan kaus kaki hitamnya, melangkah menuju ke arah ruang loker yang dimaksud olehnya.

-oOo-

Entah sudah berapa lama Hinata berlaku demikian. Gadis itu tidak tahu. Yang jelas, semenjak ia naik ke bus hingga ia terduduk di bangkunya di kelas sejak 10 menit yang lalu, ia tidak bisa menghentikan detak jantungnya yang cepat, keringat dingin yang muncul di pelipisnya, ataupun lirikan dan pandangan matanya yang gelisah. Sesekali menelan ludah, seakan mencoba menelan pula ketakutan dan rasa bersalah yang menyergap hatinya. Tentu saja ia takut dan merasa bersalah, karena bahkan hingga pada detik ini, gelang yang tampak mahal itu masih melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masalahnya adalah, gelang itu milik orang lain dan hanya Hinata temukan di halte bus pagi ini!

'Seharusnya aku segera membawanya ke kantor polisi begitu melihatnya,' gumamnya merasa nelangsa pada diri dan nasibnya, 'Lebih baik lagi jika dari awal aku tidak melihatnya sama sekali.'

Gadis itu menghela napas dan menyendukan pandangan. Lengan kemeja putihnya ia tarik hingga menutupi seluruh jemari dari tangan kirinya yang ia letakkan di atas kedua pahanya—ia tidak ingin jika ada salah satu temannya yang melihat gelang itu. Entah kenapa, ia takut jika teman-temannya bisa menarik hubungan antara ekspresi gelisah Hinata dengan gelang mahal yang baru pertama kali ini ada di pergelangan tangannya.

'Mengapa susah sekali dibuka, sih?' pikirnya, merasa sedih, jengkel, sekaligus nyaris putus asa. Beberapa menit sudah ia coba membuka gelang itu secara diam-diam dengan kedua tangannya yang berada di kolong meja, tetapi usahanya nampaknya masih sia-sia.

Suara pintu kelas yang tergeser terbuka dan disusul dengan suara bisik-bisik dan pekikan tertahan para gadis yang sudah datang di kelas, mengalihkan perhatian Hinata.

Dan ketika pandangan sepasang lavendernya mengarah ke arah pintu, tanpa sengaja tatapannya bertubrukan dengan sepasang onyx yang juga tanpa sengaja mengarahkan pandangan ke arahnya.

Hinata menelan ludah, dan merasakan jantungnya melewatkan satu denyutan.

-oOo-

Sepasang iris jelaga itu menatap keki ke isi tas ranselnya yang sebagian besar hanya terisi oleh buku dan kertas-kertas klub. Tak peduli sekalipun ia sudah memeriksa tas ransel itu sebanyak enam kali di rumah, dua kali di mobil saat menjemput dan menunggu Sakura di depan apartemen gadis itu, dan satu kali saat ia tengah berjalan ke kelas pagi ini, ia merasa ia belum percaya bahwa kotak beludru biru itu hilang dari tasnya. Karenanya, meski merasa bodoh, ia ingin memeriksa lagi tas ransel itu—berharap bahwa ada sudut yang ia lewatkan dari rabaan tangan dan pandangan matanya dan akan menemukan kotak itu di sana. Namun, tentu saja, nihil.

Ia merasa begitu bodoh, payah, dan konyol. Tidak hanya ia kehilangan benda berharga itu, tetapi juga ia tidak ingat dimana terakhir kotak itu masih berada dengannya. Yang ia tahu, kemarin malam saat perjalanan pulang, semua masih baik-baik saja.

Ucapan dan obrolan beberapa teman laki-laki mengenai klub sepak bola yang dipimpinnya, sama sekali tidak menyentuh otaknya. Pemuda itu hanya mengarahkan pandangan pada jendela kaca, memandang ke arah luar. Pikirannya begitu kalut, bad mood, dan seperti biasa, jika ia sedang bad mood, berbicara atau berinteraksi apapun dengan orang lain adalah hal yang paling terakhir ia inginkan.

Gelang yang susah payah ia beli dengan hasil keringatnya sendiri…. Dan kini gelang itu raib dengan mudahnya hanya karena kecerobohannya.

Pemuda itu hendak mengalihkan pandang, namun kedua onyxnya tanpa sengaja mengarah ke suatu arah. Tepatnya ke arah samping, ke seorang gadis yang terduduk tepat di sebelahnya. Gadis pendiam, tenang, penyendiri, dan tidak pernah ia sapa atau ajak bicara—kecuali saat, ia ingat, Sasuke menabrak gadis itu hingga buku gadis itu terjatuh di pagi hari kemarin. Gadis yang tidak begitu benar-benar Sasuke perhatikan atau pedulikan sebelum ini, dan baru kali ini saja seolah-olah Sasuke menyadari keberadaannya.

Itupun karena kedua onyxnya menangkap satu benda berwarna kotak yang tampak dari tas selempangnya yang terbuka.

Hanya kecil, bahkan samar dan hampir terlewatkan dari pandangan…

Namun kedua mata Sasuke cukup jeli dan dapat dengan jelas melihat bahwa kotak itu berlapis beludru berwarna biru. Dengan tepian berwarna emas dan ukiran emas berbentuk bunga kecil di permukaan beludrunya.

Onyxnya menyipit.

Ia melirik ke arah gadis itu. Gadis yang tampak terduduk dengan terlalu tegak, seakan gugup. Gadis yang menunduk, menyembunyikan wajahnya dari pandangan dunia. Gadis dengan dua kaki yang merapat, kedua tangan yang berada di atas pahanya.

Dan tangan kanan yang sibuk menarik-narik ujung lengan kemeja untuk menutupi tangan kirinya hingga ke ujung jemari.

Entah apa yang ada di pikiran Sasuke saat itu—mungkin suatu harapan, penasaran, kecurigaan yang begitu besar hingga membuatnya segera bertindak impulsif.

Ia sedikit mencondongkan tubuh ke arah Hinata, lantas tanpa berkata apa-apa lagi, mengarahkan tangan kirinya ke arah tangan kiri Hinata, lantas menyingkap ujung lengan kemeja yang dikenakan gadis itu dan mengangkat tangan putih itu ke beberapa jauh di depan wajah pucat dan impasifnya.

Sebuah gelang berwarna putih dan mahal, tampak melingkari pergelangan tangan itu.

Sasuke memandang datar ke arah perhiasan itu, sekalipun mulutnya sedikit terbuka walau samar.

Hinata memekik tertahan dan sedikit membelalakkan kedua matanya yang berada di balik lindungan lensa, dengan satu denyutan jantung yang kembali terlewatkan.

Para murid laki-laki menatap heran.

Para murid perempuan menatap heran, penasaran, dan kemudian berlumur benci dan dendam.

Dan Haruno Sakura, yang baru saja berhenti mendadak di depan pintu kelas yang terbuka, hanya berdiri dan memberikan tatapan dari kedua emeraldnya yang penuh sorot tidak percaya.

Drama baru di kehidupan Hinata akan dimulai dari sana.

-oOo-

Bunyi kayu bertabrakan dengan kayu terdengar keras di malam hari yang sepi itu. Meski demikian, dalam satu ruangan terbuka beratap langit itu, tidak kurang dari enam orang yang ada di sana—dimana dua orang adalah alasan dari bunyi tabrakan kayu yang telah beberapa saat terdengar. Awan tipis tampak bagai benang terurai, menghias langit kelam dan juga bulan yang bersinar penuh dan memberikan cukup cahaya temaram di tempat yang hanya terhias oleh obor kecil di beberapa sudut. Sedangkan tiga orang yang lain terduduk di tepi halaman kecil berbentuk lingkaran yang hanya terbatasi oleh shoji di sekeliling tepi halaman itu.

Trak.

"Ack!"

Suara tabrakan kayu kembali terdengar, hanya saja kali ini adalah karena satu pedang kayu berhasil menangkis sekaligus melempar pedang kayu lain. Juga suara dari si pemilik pedang yang terlempar, yang terjatuh terduduk dengan lumayan keras di tanah berdebu yang menjadi tempatnya berdiri dan 'bertarung' selama beberapa saat. Matanya terpejam erat, menahan sakit. Namun perlahan-lahan, kelopak itu membuka, menampakkan sepasang iris lavender, dan seketika mendapati ujung pedang kayu itu mengarah tepat beberapa senti di depan hidungnya.

"Refleksmu kurang bagus, kekuatanmu masih lemah dalam mempertahankan peganganmu pada pedangmu."

Ia mendongak ke arah sumber suara tenang dan lirih itu, dan didapatinya sepasang lavender lain yang menatap tenang ke arahnya. Pemilik dari pedang kayu yang saat ini teracungkan di depan hidungnya.

Ia mendengus dan membuang muka, "Standar Hinata Nee-sama saja yang terlalu tinggi."

Tentu saja. Apa yang tidak bisa dilakukan Hinata? Bertarung dan seni pedang demikian adalah salah satu dari keahliannya. Ditambah dengan berburu, menyanyi, dan memainkan musik—semua keahlian yang hanya bisa jadi mimpi sebagian besar wanita, dan mungkin juga pria jika mengingat kemampuan dan kekuatan Hinata.

Apa sih, yang tidak bisa diraih olehnya? Jikapun ada, itu hanyalah 'belum', dan suatu saat nanti pasti semua akan berjalan sesuai keinginannya.

Hinata hanya tersenyum kecil menatap sang adik yang masih terduduk di bawah, lantas kembali memasukkan pedang kayunya ke sarungnya. Adiknya yang tampak kelelahan, sedangkan Hinata merasa seakan ia belum begitu banyak menggerakkan ototnya. Adiknya yang berpeluh, sedangkan tatanan rambut dan pakaian Hinata masih rapi tak berdebu.

Seperti biasanya, saat ia berlatih tanding dengan sang adik, juga hampir semua lawan tandingnya sebelumnya.

Sementara sang adik berdiri dan menepuk-nepuk pahanya dari debu, suara tepuk tangan singkat terdengar. Hinata menoleh ke sumber suara, dan mendapati laki-laki berhelai segelap dan sepanjang miliknya yang tergelung, menghampiri mereka. Satu senyum samar tanda kepuasan dan kebanggan, ada di wajah paruh bayanya.

Daimyo Hyuuga yang tetap tampak begitu berkuasa.

"Seperti biasa, Hinata. Seperti biasa," gumamnya ketika mendekat ke arah mereka berdua. Dua orang lain yang juga ada di sana, turut mengikuti langkah laki-laki itu dan mendekat. Satu pemuda berhelai panjang dan beriris lavender, segera membantu Hanabi untuk berdiri dan menanyakan apakah gadis itu baik-baik saja.

"Aku baik-baik saja, Neji-nii," gumam Hanabi lirih.

"Terimakasih, Ayah," Hinata ber-ojigi ke arah laki-laki paruh baya itu. Meski demikian, hanya sangat singkat, dan itupun tanpa memandang ke arah iris lavender sang Ayah sama sekali.

Seakan-akan gadis itu sama sekali tidak berniat mengucapkan terimakasih, atau bahkan, tidak menganggap sang Ayah ada di depannya sama sekali.

Segera saja dan tanpa berucap apapun lagi, Hinata berbalik dan beranjak pergi. Langkahnya tampak tenang, sekalipun pandangan matanya yang semula lembut, kembali bersorot datar.

"Hyuuga-sama!"

Hinata tak menoleh, toh ia tahu siapa pemilik suara khas itu. Dan ia tahu dari suara langkah kaki yang mendekat, si pemilik suara tengah berlari ke arahnya dan Hinata tahu, apa yang akan orang itu katakan padanya.

Terutama di situasi seperti ini.

"Hyuuga-sama!" pemuda itu berhasil mensejajari langkah Hinata. Kepalanya yang tertumbuhi helai pirang, menoleh ke arah Hinata, pun dengan pandangan dari kedua iris birunya, "Tidakkah—"

"Uzumaki-san, aku lelah," Hinata berujar lirih, hampir tak tampak bibir tipisnya bergerak. Ia masih melangkah, tanpa sekalipun menatap ke arah lawan bicara.

'Mengapa kalian tidak bisa berhenti berisik dan membiarkanku sendiri?' itulah yang sebenarnya ingin terlontar, meskipun ia harus menelannya sebelum kalimat itu lolos dari ujung lidah.

"Tapi—"

"Nah, apakah kau sudah ada kabar dari Jenderal, suamiku sekaligus temanmu, Uzumaki-san?"

Namun pikiran gadis itu sama sekali tidak sedang ada dalam apa yang barusan ia ucapkan, pun apa yang menjadi jawaban pemuda berhelai pirang. Sama sekali tidak.

Yang ada di balik tatapan datarnya yang memandang lurus, bibir tipisnya yang mengatup rapat namun tenang, langkah kakinya yang masih tampak anggun sekalipun ia memakai pakaian latihan, adalah hal lain.

Hidupnya. Keluarganya. Teman-temannya.

Hidup yang amat membosankan baginya yang senantiasa mampu mendapatkan dan mengatasi semuanya dengan mudah.

Buku tua itu.

Juga gadis itu, Hyuuga Hinata, dirinya sendiri, yang hidup dalam dimensi dan masa lain ratusan tahun ke depan dari dimensi dan masa ia hidup saat itu.

'-oOo-


Yukeh: Betewe, saya bingung gimana ngebedain Hinata 'lama' dan Hinata 'baru'. Namanya sama-sama Hyuuga Hinata, sih. Ntar belibet dan ngebingungin lagi ToT Mungkin mulai chap depan saya pakai panggilan 'Hinata' untuk yang satu dan 'Hyuuga' untuk yang lain kali, ya? :/ Auk ackh geyap!

Makasih banyak untuk semuanya ^^

Critism and/or comment are whole-heartedly appreciated.

Yukeh