"Sakura."

"Apa, sayang?"

"Kau yakin si Boruto itu pilihan yang tepat?"

"Kan sudah kubilang kalau dia itu lolos seleksi! Kau ini bagaimana, Sasuke? Si Bolt itu tampan rupawan, keluarganya harum namanya, udah kenal baik sama Sarada dari dulu, dan ada kerjaan juga! Ya, walau baru pemburu hantu tak kasat mata saja, sih, tapi kan sudah lebih dari lumayan."

"Bukan soal seleksinya, Sakura!" Teriak Sasuke sedikit. Ya, harus sedikit karena ia tidak mau kedengaran sama kedua pemuda pemudi yang lagi ngobrol bareng itu. "Kau lupa, apa hubunganku dengan Naruto dulu?"

"Eh, TTM, teman tapi musuh?"

"Bukan TTM yang itu! Sesuai dengan apa yang fangirlsku selalu bilang-"

"FANGIRLS?! HAH! MANA MEREKA! AKAN KUCABIK-CABIK MEREKA KALAU SAMPAI MEREKA BERANI MENYENTUH SASUKE-KU! MILIKKU! AKAN KUBUNUH DAN SEMBUNYIKAN DI-"

"Sakura. Sakura! Tenang!"

Tapi tetap saja si perempuan berambut pink yang awet muda itu ngerocos sambil ngamuk akibat mendengar kata yang baginya lebih laknat dari najis anjing tetanus melakukan fusion dengan darah babi di neraka yang sudah dipermak sama Zetsu areng. Akibatnya, Sasuke pun terpaksa membius sang istri dan membawanya ke ruang bawah tanah untuk menenangkannya, membiarkan Boruto dan Sarada berduaan sendiri.

Menyadari kalau mereka sekarang ditinggal sendiri, Boruto nyengir mesum.

"He..Hentai!" Sarada berteriak sambil mendaratkan tamparan di pipi milik anak Gubernur yang bakal lengser dalam 1 tahun lagi itu. Sebenarnya, seharusnya Naruto sudah tidak menjabat 8 tahun yang lalu karena ia sudah memerintah selama 2 periode, tapi karena kandidat-kandidat baru Provinsi Api terbukti terlibat konspirasi untuk menggunakan proyek pembangunan mantan Gubernur Kakashi dan Naruto untuk kepentingan pribadi dan partai lain, Naruto pun menjadi gubernur untuk dua periode lagi agar proyeknya bisa diselesaikan dan didesain agar kebal hukum. Untung saja Naruto jujur, jadi dia tidak menggunakannya untuk hal-hal korup yang bisa ia lakukan, misalnya membangun restoran-restoran Ramen yang mana keluarganya bisa makan gratis sepuasnya. Tapi jelas kalau ia benar-benar berada di situasi yang eksepsional, dan tidak akan pernah terjadi pada pemimpin yang tingkat kepercayaannya lebih rendah sedikitpun.

"ADUH!" Teriak Boruto keras. "Apa-apaan kamu?"

"Kau! Karena mama dan papa terpaksa pergi ke ruang bawah tanah, kau berpikir yang tidak-tidak, kan? Untuk apa lagi kamu senyum-senyum gak jelas mesum kayak tadi, hah?"

"Oh." Kata Boruto datar. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya ke Sarada, menatapnya dengan tatapan yang datar dan dingin pula. "Sebegitu rendahnya diriku di matamu, hah?"

"Bu...bukan begitu, t-t-tapi..." Sarada menjadi segagap calon mertuanya karena kelakuan Boruto itu. Sedingin-dinginnya Uchiha perempuan, dia tetaplah perempuan. Dan inilah reaksi normal para perempuan yang mendapati dirinya diamati layaknya arloji rusak oleh seseorang yang SEDIKIT ia sukai dan CUKUP tampan.

Cuma sedikit nggak apa-apa, kan? Toh, dia udah kenal dari lama.

"Kenapa? Malu diperhatiin cowok ganteng?"

"B...Baka!" Teriak Sarada sembari mendorong tubuh calon suaminya itu. Sialnya, ketika ia mendorong Boruto dirinya malah merasakan sejenak dada bidang dan perut berotot milik lelaki berambut pirang itu. Kontan ia pun merasa sedikit canggung mengetahui kalau calonnya yang dulu nggak tahu beda Panda sama Beruang kini punya tubuh idaman layaknya model papan atas. "A...aaaaa..."

Cengiran Boruto pun kembali ketika sahabat masa kecilnya kembali salah tingkah. Hatinya berbunga-bunga melihat kemanisan Sarada yang sedang merona merah di seluruh wajahnya. "Hehe. Kamu suka tubuh seksiku ini, kan?"

"T-tidak!" Teriak Sarada lagi. Entah separah apa amukan mama Sakura sampai Sasuke tidak menggubris amarah gadis kecilnya itu. "Mana mungkin aku bisa suka sama orang narsis dan mesum macam kau ini!"

"Kalau kau tidak suka sama diriku, lalu apa maksud dari rona merah di wajahmu ini, cantik?"

"Uh..." Sarada pun kehabisan kata-kata untuk membantah kata-kata Boruto. Pendiriannya yang mengatakan kalau ia cuma punya SEDIKIT rasa suka dan BANYAK rasa benci sama orang TTM-tampan tapi mesum ini pun perlahan-lahan goyah karena kelakuan Boruto yang walau ngeselin diam-diam menggoda imannya.

"Hm...apa yang harus kulakukan agar kau menginginkanku, atau mengakui rasa sayangmu kepadaku?" Tanya Boruto kepada dirinya sendiri sembari mengetuk dagunya sendiri. "Menciummu dengan mesra? Atau liar layaknya binatang yang hendak memasuki musim kawin, mencoba menarik hati seseorang yang ia anggap sebagai pasangan hidup sejatinya?"

Sarada tidak dapat mendorong balik Boruto yang telah memeluknya erat. Entah kenapa tenaga monster titisan ibunya hilang ketika sang pemuda berambut pelepah pisang itu mengunci pergerakannya dan mendekap lekat dirinya. Padahal mendengar niatnya saja sudah jelas kalau orang ini adalah lelaki predator yang sangat berbahaya. Mungkinkah si mesum sialan itu diam-diam menggunakan jurus keluarga Hyuuga untuk membuat dirinya tidak berdaya? Atau lebih parah lagi- ia benar-benar jatuh hati hingga tidak tega menyakitinya?

Sarada menjadi panik ketika calon suaminya mulai mendekati wajahnya. Bibirnya yang basah, merah merona dan sedikit terbuka mulai menghampiri bibirnya sendiri membuat dirinya kalang kabut. Hati kecilnya membayangkan betapa seksi dan empuknya bibir si tampan itu, tapi jiwanya ingin menendang orang mesum ini hingga ke ujung dunia. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukann. AAAAGH! Help me, papa!

Dan tambah nano-nano saja perasaannya, ketika Boruto hanya mengecup keningnya saja.

"Kita lanjutkan di dunia lain besok, ya?" Katanya masih nyengir sebelum meninggalkan tempat itu.

Untuk pertama kalinya di malam itu, hati kecil dan jiwa Sarada mencapai kesepakatan.

"SIALAN KAU, UZUMAKI BORUTO!"

Berteriak sekencangnya, Sarada. Toh, orangnya sudah pergi sejak 5 menit yang lalu. Keasikan ngefly, sih...

-ng-

"Yosh! Semuanya siap?"

Tidak perlu bertanya, Boruto. Tidak bisakah kau lihat sendiri kalau ketiga Uchiha ini kurang tidur semalaman?

"Kenapa kalian?"

Tidak ada yang menjawab, rasa malu mengalahkan etika sopan santun untuk menjawab semua pertanyaan yang dilemparkan kepadamu. Tentunya sangat memalukan jika alasannya Sakura tidak bisa diam semalaman, dan Sarada terus saja memikirkan Uzumaki TTM-tampan tapi mesum ini, kan?

"Ah, sudahlah! Ayo, kita pergi!"

"Tunggu dulu!" Sergah Sasuke. "Bisakah kami memilih lokasi yang kami inginkan?"

"Tentu saja, om!" Kata Boruto sebelum menjelaskan mekanismenya. "Biasanya aku mengunjungi dunia lain ke tempat nenek moyang Hyuuga berasal karena keturunanku, jadi asalkan kita punya genetika yang cocok, kita bisa memilih daerah yang kita inginkan, atau setidaknya dekat dengan area tempat peristirahatan arwah-arwah yang akan kita kunjungi."

"Kalau begitu," Sasuke menyerahkan sebotol darah kepada Boruto. "Antarkan kami ke tempat peristirahatan keluarga Uchiha."

Pada awalnya, Boruto ingin menanyakan apakah Sasuke segila itu untuk menyedot darahnya sendiri sebanyak 1 liter, tapi tentunya ia sudah tahu kalau jawabannya iya. Untuk menghindari semprotan Sasuke yang tidak suka basa-basi itu, ia langsung membawa seluruh calon besannya ke dunia lain.

Tentunya, ia juga tersenyum, karena ia juga bisa meminta restu kepada orang Uchiha lainnya disana, dan juga melihat sang calon besan melihat keluarganya kembali.

-ng-

"Nah! Kita sudah sampai!" Kata Boruto riang.

Tempat yang mereka datangi, sesuai dengan deskripsi alam lain di kebanyakan fiksi, gelap dan angker. Layaknya malam kelabu di padang rumput yang gersang, tempat ini memiliki atmosfir yang tenang. Terlalu tenang, hingga dapat membuat orang awam gila jika terlalu lama berada di dalamnya. Minimalisnya tempat itu juga menambah kesan misterius tempat tersebut.

Jadi singkatnya, mereka tidak langsung ke tempat peristirahatan keluarga Uchiha.

"Eh, Bolt...mana orang tuaku?" Tanya Sarada heran.

Belum sedetik Boruto menyadari kalau kedua calon mertuanya tidak ada, Sarada sudah mengancamnya duluan. Kedua tangannya mencengkram erat kerah bajunya."Kalau sampai mereka berdua..."

"Tenang, Sarada! Semua ada penjelasannya." Kata Boruto sembari mengibaskan kedua tangannya untuk menghentikan amukan Sarada.

"Apa yang membuat mereka tidak bisa kemari, hah? Jangan bilang kalau jiwa mereka terlalu ternodai hingga seluruh alam kubur menolak keberadaan mereka!"

"Sarada, aku juga pernah ditolak sementara oleh dunia lain. Aku yakin ini hanya karena masalah teknis lain. Dan ingat kata kuncinya; sementara!"

"Seperti apa?" Tanya Sarada penasaran, meski dirinya sudah lebih tenang mengetahui kalau ini bukan berarti kedua orang tuanya berdosa sangat besar sampai ditolak alam kubur.

"Ya, misalnya..."

-ng-

"APA MAKSUDMU KAMI BERDUA TIDAK BISA MASUK?"

"Tenang nona." Kata sang penjaga gerbang dunia lain kalem. Padahal dia bisa dibikin remuk sama pukulan super si Sakura itu. "Hanya karena anda tidak bisa masuk sekarang, bukan berarti anda tidak bisa masuk selamanya."

"Tapi kami sedang mengetes calon suami anak kami! Apa-apaan ini? Kenapa kami saja yang tidak masuk sedangkan mereka bisa?"

"Karena hati dan nurani kalian telah terkotori oleh pikiran pikiran buruk, seperti keinginan untuk membunuh banyak orang karena kecemburuan dan semacamnya. Hingga kalian bisa menyucikan diri kalian, atau waktu pelarangan habis, kalian tidak akan bisa masuk." Kata sang penjaga gerbang dunia lain menjelaskan mekanisme peraturan tata masuk alam kubur.

"Hah? Aku memang termakan emosi kemarin sampai semalaman teriak terus, tapi apa yang menyebabkan suamiku ikut-ikutan tidak bisa masuk?" Tanya Sakura heran. Kemudian ia melihat tatapan Sasuke yang tetap adem ayem. Tapi ia tahu benar; jauh di dalam tatapan dingin itu adalah tatapan dari seseorang strategis jitu yang telah merencanakan untuk melakukan sesuatu yang keji.

"Sasuke! Jangan bilang kau ingin membunuh Boruto hanya karena dia ingin melamar Sarada?"

"Hn. Kau salah." Jawab Sasuke, membuat Sakura keheranan. Kalau dosa-dosanya ketika menjadi teroris naungan Akatsuki sudah dimaafkan, dan dia memang benar-benar taubat, lantas kenapa ia masih tidak bisa masuk?

"Aku ingin membunuh seluruh teman laki-lakinya yang menobatkan dirinya sebagai perempuan tercantik idaman seluruh kampus. Beraninya mereka membicarakan tubuh putriku dan-"

"SASUKE BAKAAAAA!"

-ng-

"Hehehe...tampaknya hanya ada kita berdua saja untuk sementara, sayang..." Kata Boruto sembari mengalungkan lengannya di sekitar Sarada, suaranya berat seakan-akan ingin menambah daya tariknya kepada lawan jenis.

"Be..berapa lama hingga mereka bisa ikut masuk, Bo..bolt..." Tanya Sarada lemah. Takut diapa-apai, atau antisipasi diapa-apai nih?

"Hmm...karena orang tua kita pahlawan perang lawan Nyai Kaguya, tentu mereka bakal bisa masuk dalam waktu yang cepat. Tapi pastinya masih ada cukup waktu bagi kita untuk melakukan pendekatan, kan..." Boruto pun mendekap dirinya. "Sarada..."

"Kyaaa..." Itulah suara rontaan kecil Sarada ketika si rambut pelepah pisang mendesah manja ke telinganya. Ada rasa ingin ia membalas desahan itu, tapi tentunya ego seorang Uchiha tidak memperbolehkannya, apalagi membalas pelukan sang...hei, hei! Kemana tangan itu, kau gadis? Kenapa tangan itu malah memeluk leher orang mesum didepanmu itu, hah?

"Nah..." Si Boruto akhirnya berbicara. "Sekarang, ayo kita lakukan apa yang lazim dilakukan oleh pasangan lainnya."

"Bo...Boruto, kita kan belum..."

"Oh, kau menginginkan 'itu' ya..." Gadis Uchiha itu malah semakin tersudut. Kenapa malah jadi terdengar mesum gini? Oh, tuhan... "Tapi karena kita masih belum jadian betulan, bagaimana kalau kita...mulai jujur satu sama lain."

Jujur? Jujur apanya? Tentang cintakah? Aku saja masih bingung apa sebenarnya kamu ini, orang mesum atau-aaaah! Jangan dielus!

"Hmmm...aku dulu deh." Kata Boruto sembari berhenti mengelus rambut halus milik calon istrinya. Sarada yang tidak bisa berhenti mendengkur dari tadi pun bersyukur, meski sedikit bagian dari dirinya cemberut karena menginginkan lebih. Tapi dirinya juga bersyukur karena artinya dia duluan yang bertanya kepada Boruto. Mana mungkin dia siap ditanya sekarang.

"Karena aku duluan, aku yang nanya."

SYALAAAAN!

"Waktu dulu, ketika kita kuliah bareng...siapa yang selalu kau pilih sebagai lelaki paling mempesona di kampus Konoha?"

"Ha-hah?!" Teriak Sarada terkejut mendengar pertanyaan yang kacau dan datang tidak dijemput bin diantar itu.

"Ayolah!" Seru Boruto sambil melepas pelukannya. "Aku tahu kau dulu ikut fansclub orang-orang cakep di kampus. Siapa yang selalu kau pilih waktu itu? Selalu aku kan?"

"Ti...tidak! Mana mungkin aku memberitahukan hal memalukan seperti itu padamu!" Teriak Sarada. Hancur sudah pesona orang didepannya ini. Jadi selama ini dia cuma pengen tahu apakah Sarada menganggap dirinya orang paling ganteng di kampus? Dasar narsis ketinggian! Rugi dia menanti ciuman dan pernyataan cinta itu.

Eh? Pernyataan Cinta? Ciuman?

"TIDAAAAK! AKU TIDAK CINTA! Eh?"

Tersadar, Sarada langsung merona. Apalagi melihat wajah Boruto yang cuma bengong melihat teriakan Sarada. Oh, tidak. Apakah Boruto berpikir kalau apa yang ia teriakan itu betulan? Tapi bukannya itu malah bagus? Atau tidak, ya? AAAH! Pusing aku!

"Hehehe...tidak apa iya..."

AAAGH! Kok malah tambah percaya diri, sih?

Dan selanjutnya, bibir keduanya semakin berdekatan, layaknya ada dorongan antara keduanya itu... Oke, tentu si mesum Bolt itu bakal maju sendiri, tapi kenapa si Sarada malah pasang muka pengen diserang? Mulut kebuka dikit, mata terpejam, kepala maju dan miring sedikit...

Tidak apa iya, sih!

"Wah! Boruto dan Sarada! Tidak kusangka akan ketemu disini 'tebannaro!"

Ah! Sedikit lagi, teriak hati Boruto. "Kamu..."

"Eh? Sarada? Kok, rambutmu hitam? Biasanya kan-UMPH!" Orang seumuran mereka itu pun langsung dibungkam mulutnya oleh Boruto, yang wajahnya berubah spontan dari marah ke takut.

"Jangan bilang itu ke dia!"

"Memangnya kenapa? Oh, jadi...dia itu 'Sarada' di duniamu? Wah, selamat ya!"

"Selamat dengkulmu! Gara-gara kamu bisa kacau semua, ini!"

"Lho, kalian berdua belum nikahan? Kupikir kalian lagi bulan madu disini."

"Mana ada yang bulan madu di tempat angker kayak gini, sableeng!"

Sementara keduanya lagi debat, si Sarada asyik menganalisa situasi si orang asing di depannya itu.

Kelihatannya dia mirip Gubernur Uzumaki, bahkan Boruto. Jadi kemungkinan mereka itu saudara dekat. Tapi mata emerald dan bentuk wajahnya kok...kok...

"Karena itu, kamu harus sembunyi dulu dari paman Sasule-eh, Sasuke daripada jadi tambah ribet semua!"

"Aku ngerti. Tapi bukannya lebih bagus kalau kamu jelaskan dulu ke...lho, Sarada? Kenapa kamu?"

"Dulu...aku pernah berpikir kalau aku anak selingkuhan Papa dan bibi Karin." Kata Sarada datar, dan...penuh kesedihan. Tampaknya ia tengah membendung airmatanya, terlihat dari tetesannya yang semakin lama semakin deras.

"Ternyata...yang selingkuh itu...ADALAH MAMAH! WAAAAAAH!"

Dan sang gadis itu pun langsung lari, menangisi sekeras-kerasnya atas apa yang ia anggap sebagai dosa ibu kandungnya. Tentunya ia meninggalkan dua pemuda yang cuma bisa bengong melihat tingkahnya.

Setelah lama bengong, akhirnya Boruto menggetok kepala biang keroknya.

"Kamu sih!"

"Adaw! Oke, aku memang salah! Tapi bukannya kita harusnya mengejar dia sekarang?"

"Aduh! Bener, deh Shinachiku! Kenapa kita malah bengong kayak bolot tadi?" Seru Boruto sambil mengacak-acak rambutnya.

"Mendingan mencar daripada tambah lama. Lu kesana, aku ngejar ke arah lain-HEY! HEY! JANGAN LANGSUNG NGACIR!"

-ng-

HAHAHA! Malah jadi kacau beliau gini, deh! Apakah hancur sudah kesempatan Boruto jadi menantu Sarada, atau malah ini bisa membuahkan kebaikan di hari kelak? Nantikan saja ya, kelanjutannya!