:: Between Me And Him ::
.
.
.
.
[SEHUN]
Pagi ini seperti biasa aku ingin menyapa Luhan di halaman rumahnya karena dia memiliki kelas pagi. Membawa mug mengepul aku berjalan dengan percaya diri, hingga saat aku mengumpat dengan keras karena tersandung sesuatu dan ternyata itu adalah payung yang tergeletak di lantai. Aku seorang bujangan jadi tak ada yang merapihkan tempat bernaungku, orang tuaku juga tak peduli denganku dan memilih tinggal di luar negeri. Oh tidak apa-apa aku pun tidak begitu peduli, aku akan berkunjung jika hari natal tiba, aku masihlah anak yang baik.
"Jangan mengumpat sekeras itu Yuqi bisa mendengarnya!"
Tidak ada yang semanis tatapan galaknya menyapa di pagi hari, aku menoleh ke sisi kiriku lalu tersenyum membalasnya. "Selamat pagi Luhanie." Sapaku.
"Selamat pagi Sehun," Dia tersenyum amat sangat manis. "Kau tahu, kau memiliki waktu luang di pagi hari jadi daripada berdiri di depan pintu dengan cengiran idiotmu lebih baik merapihkan rumahmu."
Luhan sangat perhatian, dia tahu keadaan rumahku dan mungkin dia tahu pakaian dalam yang ku kenakan seperti aku tahu pakaian dalam yang dia kenakan hari ini, Calv* Kl*n. "Aku semakin menyukai perhatianmu setiap harinya, jadilah pacarku agar kau lebih sering menperhatikanku." Aku memainkan alisku lalu kulihat dia memutar matanya sembari terkekeh manis.
"Ya aku akan menjadi pacarmu jika aku tidak kunjung menemukan Alphaku." Katanya sembari memeriksa isi tasnya.
Aku berjalan keluar dari rumahku untuk menghampirinya, saat aku baru akan ke halamannya sebuah mobil berhenti tepat di depan Luhan. Aku tak memperhatikan ternyata Luhan tidak mengeluarkan mobilnya, aku mengernyit ingin tahu siapa pemilik mobil yang akan mengantar Luhan ke kampus.
Aku melotot begitu si pemilik mobil keluar menyapa Luhan dengan senyum yang terlihat sangat brengsek. Aku mengutuk diriku sendiri karena memilih lebih sering mendapat kelas siang, mungkin saja jika orang tuaku menunjang biaya kuliahku aku akan memilih kelas pagi dan lebih rajin lagi. Seorang Alpha harus bekerja paruh waktu untuk biaya hidup dan kuliahnya sebagai tukang antar makanan cepat saji dan kasir mini market? Luar biasa.
"Yuqi cepatlah kita akan terlambat!" Luhan berteriak pada satu-satunya adik perempuannya.
Yuqi keluar dari rumahnya dengan terburu-buru, matanya menangkap keberadaanku dan dia segera memelototiku seolah mengatakan -aku akan membunuhmu- jika aku terus melihat ke arahnya. Gadis itu masih SMP dan dia memiliki dendam padaku untuk sesuatu yang tidak jelas.
"Orang itu menghancurkan pagiku!" Dia mengadu pada Luhan dan aku memasang wajah polos tak tahu apapun. "Jangan pernah tertarik pada orang itu!"
Luhan dan si brengsek itu menaruh perhatiannya padaku. Tanganku amat gatal ingin melemparkan isi mug ini padanya ketika dia menatapku karena telah memenangkan lampu hijau dari adik perempuan Luhan.
"Sehun jangan lupa benahi rumahmu, aku punya video game baru yang ingin aku mainkan denganmu."
Kekesalanku lenyap begitu saja, itu seperti ajakan kencan! Aku mengencangkan peganganku pada telinga mug-ku lalu setelah mereka pergi aku dengan perasaan sangat bahagia melompat tinggi mengabaikan isi mug-ku. "Yes" Aku mengepalkan tangan kiriku di depan dada lalu menggerakannya seolah tengah meninju wajah brengsek Kris.
CRASSSH!
"Fuck!"
Aku mengumpat sangat keras ketika kopi yang tak kusadari melayang di atasku terjatuh membasahi rambut hingga pakaianku dengan suhu panas yang masih terasa.
.
.
.
Aku melajukan vespa berwarna kuning dengan garis oranye milik restoran cepat saji ke kampusku, aku meminjamnya sebentar dan paman Park memerbolehkanku karena aku tak memiliki waktu lagi untuk mengambil motorku di tempat parkir tadi. Aku memencet klakson seperti orang gila karena orang-orang mendadak memenuhi jalan dan menghalangiku, hari ini dosen Lee tidak akan memberiku toleransi.
Aku cukup panik untuk menginjak rem jadi aku membelokan dengan tajam motor tua ini sehingga aku terguling bersama dengan motor ini di rumput tempat parkir di kampusku. Karena itu Luhan aku jadi mendadak tidak bisa menginjak rem yang seharusnya cukup mudah di lakukan. Aku mengerang mendapat beberapa lecet di tanganku, tidak sakit memang hanya saja itu mengotori pakaianku.
"Sehun apa yang kau lakukan!" Luhan berteriak dan segera berlari menghampiriku, memeriksa keadaanku dengan raut wajahnya yang panik. Aku memandangi wajahnya tanpa berniat untuk bangkit dari posisiku meskipun dia menarikku untuk bangun.
Saat dia menarikku untuk kedua kalinya dia terhuyung dan jatuh di atas tubuhku, helayan rambutnya yang lembut menyapu wajahku. Aku mencium harum shampo yang dia gunakan untuk mencuci rambut lembutnya bercampur dengan aroma tubuhnya yang memabukan, aku secara reflek memeluk pinggangnya dan mendekatkan hidungku pada lehernya. Demi Tuhan baunya benar-benar enak!
"Se-Sehun!"
Jika saja dia tidak menjerit memanggilku mungkin aku sudah mengklaimnya, aku segera melepaskan pinggangnya dan akhirnya membantunya yang tetap bersikeras ingin aku berdiri karena tarikan tangannya yang terlalu lembut.
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin menabrak seseorang?" Dia bertanya sarkas. "Untung itu adalah aku, jika orang lain? Kau akan berakhir di kantor polisi!" Dia berkacak pinggang sembari memandangku seolah aku ini orang yang beruntung karena akan menabraknya.
Dia memperhatikanku secara detail begitu menyadari sesuatu, tangan yang berada pada pinggangnya perlahan turun lalu menatap mataku. "Ada apa dengan..." Dia menggantungkan kalimatnya.
Aku tersentak lalu segera membuka helm konyol berwarna mencolok milik restoran tempat aku bekerja paruh waktu, aku mengapitnya di antara pinggang dan lenganku dengan membalikan bagian depannya karena aku tak mau Luhan melihat nama restoran itu. Luhan tidak tahu aku bekerja paruh waktu, dia tidak tahu aku selama ini bekerja untuk menopang hidupku.
"Kau tahu aku terlambat, aku meminjam kendaraan konyol ini karena punyaku ada di bengkel." Aku tertawa canggung setelah menjelaskan kebohongan padanya.
Seorang Alpha tidak bekerja sebagai bawahan, mereka selalu menjadi yang teratas tapi tidak denganku. Oh aku bahkan tidak tahu kenapa aku ini terlahir sebagai seorang Alpha jika kehidupanku tidak seperti Alpha pada umumnya, dengan orang tua yang mengabaikanku memperlengkap pertanyaan mengapa aku lahir sebagai seorang Alpha. Untungnya Alpha tidak memiliki perasaan yang sesensitif Omega, itu yang membuat kami disebut Alpha karena kami tangguh, aku tidak begitu merasa sakit di dada ketika mereka mengabaikanku dan aku bersyukur untuk itu.
Luhan mengangguk lalu memberiku senyum tipis. "Aku akan pergi ke kantin," Dia menunjuk dengan ibu jarinya, "Cepatlah masuk ke gedung teknik." Dia mengingatkan tentang keterlambatanku.
Aku segera memungut motor vespa milik paman Park lalu memarkirkannya dan segera berlari sekencang mungkin menuju gedung teknik, Luhan masih berdiri di sana sembari tersenyum dan menggeleng padaku saat aku menoleh sejenak.
.
.
.
Demi untuk berkencan dengan Luhan aku meminta izin dengan alasan ada kelas hingga larut, pulang lebih awal untuk membenahi tempatku agar Luhan merasa nyaman, dan suatu keberuntungan bagiku karena aku melihat Luhan di halaman rumahnya. Aku menghentikan motorku tepat di depannya, menahan bobot kendaraanku dengan kakiku lalu menyapanya.
Dia terlihat sangat cemas ketika menatapku dan aku tak tahan untuk tetap berada di atas motorku, aku menarik standar motorku lalu turun dan berdiri di hadapannya. "Apa yang terjadi?" Tanyaku. Kulihat kilatan di matanya, perlahan air mata terus membendung dan akhirnya jatuh dari matanya yang manis.
"Y-Yuqi belum pulang dan dia tidak mengangkat teleponku, Sehun apa yang harus aku lakukan!" Dia berbicara dengan suara yang bergetar, aku secara naluriah mengulurkan tanganku dan memeluknya untuk menenangkannya.
Omega itu sangat rapuh,mereka akan benar-benar panik dan tak tahu harus melakukan apa jika ketakutan sudah menguasai mereka, Omega adalah makhluk yang harus dilindungi dan kehadiran Alpha memang untuk melengkapi Omega dan begitupun sebaliknya. Mencintai dan melindunginya apapun yang terjadi, aku siap melakukan itu bahkan lebih jika diberi kesempatan untuk menjadi matenya bahkan jika hanya dikehidupan ini.
"Tenanglah, semua baik-baik saja kau tak perlu khawatir," Aku mengusap lembut punggungnya. "Mungkin baterai ponsel Yuqi habis dan dia harus mengerjakan sesuatu dengan temannya." Dia menatapku dan aku tak bisa membiarkan air matanya turun mengotori pipinya yang halus. Aku mengusapnya dengan pelan lalu tersenyum menenangkannya.
"Kita akan mencarinya dan kita akan menemukannya."
Ibu dan Ayah Luhan belum pulang mereka orang tua yang aktif di kantor sedangkan di sini Luhan mengurus rumah dan adiknya, Luhan yang memasak Luhan juga yang membenahi rumah dan belanja. Entah bagaimana Omega akan sangat fleksibel dengan pekerjaan rumah walaupun mereka laki-laki, mungkin karena mereka terlahir untuk menuruti Alpha dan di mana pun di seluruh dunia Omega akan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.
Aku seolah membelah angin dengan motorku, aku mengendarai motor seperti aku ini seorang pembalap profesional. Luhan di belakangku memeluk pinggangku erat dengan jemarinya yang mencengkram jaketku khawatir, aku bisa merasakan perasaannya seolah perasaan kami adalah satu.
Kami menyusuri dengan perlahan sekolah Yuqi, hanya segelintir orang yang masih ada di sana dan kami sudah menanyakan Yuqi pada mereka dan hasilnya tetap sama, mereka mengatakan Yuqi sudah pulang. Luhan sudah akan menangis lagi dan aku lagi menenangkannya dengan berkata tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.
Kami kembali menyusuri sekitar sekolah Yuqi, kami masuk ke kawasan apartemen kumuh dekat dengan sekolah Yuqi. Aku memutuskan untuk mematikan mesin motorku, menyusuri kawasan ini dengan mata kami yang mengawasi setiap tempat. Mungkin hanya sedikit yang tinggal di sini karena kulihat ada banyak bangunan yang tak layak huni, tempat ini mungkin hanya menjadi tempat berkumpulnya anak-anak badung.
Kami berhenti dan tersentak ketika seorang gadis berlari begitu paniknya dengan isak tangis yang menggema di tempat yang cukup mengerikan ini, tak lama setelah itu kami melihat beberapa orang keluar dan mereka mengejar gadis itu. Begitu sedikit cahaya memberi aku dan Luhan penglihatan tentang rupa si gadis kami terkejut, itu Yuqi.
"Yuqi!" Teriak Luhan.
Yuqi menangis dan tak bisa berkata apapun, Luhan memeluknya dan berusaha menenangkannya meski berderai air mata. Aku mengepalkan tanganku, menatap anak-anak yang berdiri di depanku dengan tatapan membunuh, nafasku memberat menahan ledakan amarah.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanyaku tanpa membuka katupan gigi, menekan semua kataku dan memancarkan dominasiku sebagai seorang Alpha.
Mereka bergetar dan perlahan mundur dan lari. Tentu aku tak akan membiarkan anak-anak brengsek yang telah membuat Yuqi menangis pergi begitu saja, aku berlari menyusul mereka dan entah mengapa langkahku terasa sangat ringan sehingga aku berlari begitu cepat dan dapat menyusul mereka tanpa menunggu waktu lama. rasanya benar-benar ingin membunuh cecunguk-cecunguk kecil ini.
Aku memukul mereka sangat cepat dan tepat, wajah dan perut, mereka tergeletak di bawah merintih kesakitan. Aku menarik salah satu anak berseragam sekolah itu, mencengkram kerahnya dan membuatnya melayang di tanah. "Apa yang kalian lakukan pada Yuqi?" Tanyaku dan anak itu meringis.
"Kalian ingin kubunuh?!"
Teriakanku menggema seperti auman singa, saat aku akan memukul wajah anak brengsek ini Luhan membuatku berhenti. "Se-Sehun hentikan." Suaranya sangat pelan namun aku dapat mendengarnya dengan jelas.
Aku menjatuhkan anak ini pada temannya yang lain, jika Luhan tak memintanya aku mungkin saja sudah membunuh tiga pecundang kecil ini.
.
.
.
Kau tahu kencanku dengan Luhan gagal karena keadaannya yang masih syok, aku tak mengapa hanya saja kenapa si Kris ini giat sekali menunggu Luhan di dekat rumahnya padahal kami pulang agak larut? Aku mengantar Luhan dan Yuqi dengan motorku, melanggar tata tertib berkendara untuk kali ini tak mengapa karena ini mendesak.
Yuqi sangat trauma karena dirinya mendapat pelecehan seksual dari... mungkin teman-temannya? Aku tidak tahu Yuqi tidak bisa menceritakan lebih detailnya karena tertelan tangis. Mobil Kris mengikuti kami begitu kami melewatinya, aku mendecakan lidahku merasa kesal dengan upayanya untuk bertemu Luhan.
Di depan rumah Luhan kami di sambut wajah cemas dari ibu dan ayah Luhan, mereka menghambur memeluk tubuh mungil Yuqi beserta tubuh Luhan, menenggelamkan tubuh mungil Yuqi di antara mereka lalu menangis bersyukur putri mereka pulang dengan selamat. Aku tersenyum melihat pemandangan mengharukan ini, aku mungkin merasa agak iri.
Aku menoleh begitu mendengar pintu mobil tertutup di belakangku, Kria keluar dengan wajah khawatir lalu segera menghampiri keluarga Luhan. "Bibi, Paman, apa yang terjadi?" Dia bertanya dan melewatiku begitu saja tanpa menghiraukan keberadaanku.
Mereka berbicara dengan air mata dari ibu Luhan yang tak hentinya turun dan bersyukur anak-anaknya tak mengalami lecet sedikit pun. Aku tersenyum miris ketika semua orang menghiraukan keberadaanku, siapa peduli tentang terima kasih? Tanpa kata sederhana itu aku akan tetap membantu siapapun tanpa pamrih walau jasaku tak dianggap.
Tidak masalah, hanya saja Tuhan tolong beri aku kehidupan selanjutnya yang lebih baik.
Aku berbalik, berjalan pada motorku lalu mendorongnya hingga di depan rumahku. Aku tak menyalakan mesin motorku karena tak ingin merusak momen mereka dengan seolah aku memberi kode akan kehadiranku. Lagipula pahlawan selalu pergi setelah urusannya selesai tanpa pamit, ya seperti itu.
.
.
To be continued...
.
.
Hai? bagaimana? suka atau bosan? review untuk bab ini bisa? saya mau tau :)
