Disclaimer : Masashi Kishimoto

Don't Like Don't Read

.

.

.

"Aku benar-benar ingin anak perempuan…"

Ucapan Mikoto membuat ketiga lelaki yang tengah menyantap hidangan makan malam mereka menghentikan sejenak kegiatannya. Sasuke yang baru berusia enam tahun menatap ibunya antusias, sedangkan Itachi hanya mengernyit bingung karena tiba-tiba ibunya berbicara hal seperti ini. Lain halnya dengan Fugaku, pria itu menatap tajam istrinya.

"Kaasan buat membuat adik bayi saja," Sasuke menyarankan dengan wajah berbinar.

"Tidak bisa!" Fugaku menolak tegas gagasan yang diinginkan oleh istri dan putra bungsunya tersebut.

Senyum di wajah Sasuke langsung menghilang, ia kemudian melanjutkan makannya dengan wajah ditekuk. "Tou-san nyebelin, aku juga ingin punya adik perempuan," gerutu Sasuke.

Bocah itu ingin tahu rasanya menjadi seorang kakak, yang bisa melindungi adiknya dari bahaya.

Mikoto mendelik pada suaminya, lalu menepuk pucuk kepala Sasuke agar tidak ngambek lagi. "Kau benar-benar ingin adik perempuan, Sasu -chan?"

Sasuke mengangkat wajahnya, mengangguk cepat dengan binar di matanya. "Hai, Kaasan," sahut Sasuke antusias.

Mikoto tersenyum anggun, lalu melirik suaminya. "Mintalah pada Tousan-mu," ujar Mikoto mengedipkan mata pada Sasuke.

"Eh, kenapa?" Sasuke bingung, kenapa harus minta sama ayahnya, bukannya yang melahirkan bayi itu perempuan, apa mungkin ayahnya bisa melahirkan juga? Kalau iya, ayahnya memang benar-benar super.

"Jadi, ayah bisa melahirkan adik juga, Kaa-san?" Sasuke mengeluarkan isi kepalanya.

Itachi yang tengah minum sedikit tersedak dengan pertanyaan polos Sasuke, lalu melirik ayahnya dan terkekeh melihat ekspresi yang biasanya kaku itu.

"Mikoto!" Fugaku sedikit berseru memanggil nama istrinya, namun hanya dibalas dengan kikikan geli oleh wanita itu.

"Jadi, kapan Tou-san akan memberiku adik?" tuntut Sasuke.

Fugaku mendesah, lalu mengambil gelas yang berisi air putih dan meminumnya habis. "Pria tidak bisa hamil Sasuke, yang bisa hamil adalah ibumu," jelas Fugaku akhirnya.

Sasuke masih menatap ayahnya, "Lalu kenapa Tousan melarang kaasan membuat adik bayi?"

Rahang Fugaku sedikit mengeras, ia bingung bagaimana menjelaskannya pada Sasuke. Itachi dan istrinya tidak membantu sama sekali, mereka malah ikut memasang wajah penasaran seperti Sasuke.

Tsk, tidak mungkin 'kan ia menjelaskan tentang keadaan istrinya pasca melahirkan Sasuke. Bisa-bisa, Sasuke lebih bertanya lagi dan ia akan semakin bingung menjelaskannya.

"Kenapa Tousan?" kembali bocah itu meminta jawaban, hingga melupakan makanan favoritnya di atas piring.

Fugaku mendesah, lalu menatap putra bungsunya. "Habiskan makananmu, Sasuke," titahnya untuk menghindar dari pertanyaan Sasuke.

Namun, Sasuke tetep kekeuh dan membalas tatapan ayahnya. "Tidak mau!" tolaknya dengan kedua tangan terlipat di atas meja.

Fugaku, memijit pangkal hidungnya, kembali melirik istri dan putra sulungnya yang pura-pura sibuk dengan santapan mereka. pria itu tahu bagaimana keras kepalanya Sasuke, jika jawaban yang dinginkannya belum ia dapatkan, pasti putranya akan mencari tahu hingga ia mendapatkannya. Terkadang, sifat Sasuke yang seperti membuatnya kewalahan.

Bukannya kau sendiri yang mewariskannya, eh?

"Sasuke…"

Sasuke memandang ayahnya, "Jadi…?"

Fugaku menghembuskan nafasnya. "Kaasan tidak bisa melahirkan lagi, jadi kau tidak bisa punya adik," jelas Fugaku.

Kedua alis Sasuke bertautan, "Kenapa?"

Ck, kenapa pertanyaan yang dilontarkan Sasuke selalu membutuhkan jawaban yang panjang, desah kepala keluarga Uchiha itu.

"Itu—"

"Konbanwa!"

Suara melengking dari seorang gadis merah jambu menginterupsi perkataan Fugaku, biasanya ia akan sangat marah jika ada menganggu ucapannya. Namun kali ini, ia merasa diselamatkan oleh suara cempreng yang sangat dikenalnya.

Mikoto yang melihat kedatangan Sakura lalu menghampirinya dan menuntunnya duduk di sebuah kursi di samping Sasuke.

"Kelihatannya enak," ucap Sakura takjub memandang hamparan makanan di atas meja.

Sasuke yang tadinya sibuk menginterogasi ayahnya kini sudah mengalihkan perhatiannya pada Sakura. Hal itu membuat Fugaku bisa bernafas lega.

"Ibu dan ayahmu belum pulang lagi?" Sasuke melirik tetangganya yang tengah sibuk menyendok sup di mangkuknya.

Sakura mengangguk, "Aku bosan di rumah sendirian, jadi kesini," sahutnya tersenyum.

Sasuke mengangguk, kembali melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. Namun, bocah itu kembali teringat dengan pertanyaannya yang belum dijawab ayahnya. "Jadi bagaimana Tousan? Kenapa aku tidak bisa punya adik," cecarnya.

Fugaku mendengus, dan Itachi hanya bsia tertawa dalam hati melihat kerutan di wajah ayahnya.

Dan saat itu juga, Fugaku mendapat pencerahan dari pertanyaan putranya. "Bagaimana kalau Sakura yang jadi adikmu, Sasuke?" sarannya.

Mikoto mengangguk antusias, "Kau benar Fugaku-kun."

"Aku sendiri tidak keberatan mempunyai adik semanis Sakura," akhirnya Itachi mengeluarkan suaranya juga.

"Bagaimana?"

Kini, giliran Fugaku, Mikoto dan Itachi yang meminta jawaban dari Sasuke.

"Aku tidak mau!" tolak Sasuke tegas.

"Kenapa?" Sakura yang tadinya sibuk dengan supnya menatap Sasuke dengan mata hijaunya yang terlihat sedih, " apa Sasuke-kunmembenciku?" lirihnya.

Sasuke terlihat kelabakan, "Bukan seperti itu," tepis Sasuke. "Apa kau lupa?" tanyanya gugup.

Sakura menatap Sasuke dengan iris beningnya, kening lebarnya sedikit mengerut karena tengah bingung dengan maksud Sasuke.

Sasuke menghela napas, lalu menyentil pelan jidat Sakura. "Kau 'kan sudah berjanji akan menajdi istriku. Kalau kau menjadi adikkku, kita tidak bisa menikah," jelas Sasuke.

Tiga orang dewasa di ruangan itu hanya bisa melongo dengan ucapan Sasuke.

"Kenapa kita tidak bsia menikah?" Sakura masih belum mengerti.

Sasuke menyeka bekas kuah sup di sudut mulut Sakura. "Jelas tidak bisa, incest itu bukannya tidak boleh ya? Kalau kita menjadi saudara, nanti kita tidak bisa menikahkarena kita ini adik kakak," terangnya menepuk pucuk kepala gadis yang satu tahun lebih muda darinya itu.

Sakura tersenyum lebar, lalu mengangguk semangat dan kembali melanjutkan makannya dengan tenang. Sasuke tersenyum, dan ia juga melakukan hal yang sama seperti Sakura.

Namun lain halnya dengan Fugaku dan Mikoto , mereka shock dengan ucapan Sasuke barusan. Bagaimana bisa putra bungusnya yang polos bisa terkontaminasi dengan kata-kata seperti itu. Apalagi mengenai incest, bagaimana bisa Sasuke mengetahui istilah tersebut.

"Sasu-chan," panggil Mikoto.

"Hmm…" balas Sasuke masih sibuk dengan sup tomat kesukaannya.

"Kau belajar darimana uhm…incest?" Mikoto sedikit kaku ketika mengucapkan kata itu.

"Dari komik Itachi -nii, " sahut Sasuke tanpa mengalihkan perhatiannya dari sup di hadapannya, "komik aniki banyak incest-incest-nya," jelas Sasuke.

Fugaku dan Mikoto menatap tajam putra sulungnya.

Itachi bergidik mendapat dua serangan combo dari ayah dan ibunya. "Ah, aku sudah selesai, selamat malam…" Ia langsung ngibrit menuju kamarnya sebelum diberikan pidato khusus nantinya.

"Aku akan membakar komik-komik laknat itu," dengus Fukagu.

Mikoto mengangguk, kali ini setuju dengan apa yang dikatakan suaminya.

"Tousan, Kaasan, aku buat adik bayinya bersama Sakura saja, dia 'kan perempuan pasti bisa hamil seperti kaasan." Sasuke turun dari kursinya dan membantu Sakura degan wajah cerah.

"Sakura mau membuat adik bersama 'kan?" Sasuke tersenyum lebih lebar dengan ide cemerlangnya.

"Hu'um, tentu saja. Ayo buat sekarang," sahut Sakura antusias.

Fugaku dan Mikoto hanya bisa melongo, tidak menyadari putranya dan Sakura sudah berlari menuju kamar sasuke.

Ehh! Apa jangan-jangan?

Sontak, mereka berdua berlari menyusul Sakura dan Sasuke ke kamar putra bungusnya.

Sepertinya, malam ini adalah malam yang sangat sibuk dan melelahkan.

.

.

.

Fin