Chapter 2
" Song Seung Hyun.." panggil Kang Songsaengnim , " kalau kau hanya ingin melamun saja dan tidak berniat mendengarkan apa yang ku ajarkan, silahkan keluar dari kelas ini." Lanjutnya.
Tanpa pikir panjang, Seunghyun langsung beranjak dari bangkunya, membawa tasnya, kemudian keluar dari kelasnya tanpa melihat wajah gurunya. Kang Songsaengnim hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan muridnya yang satu itu.
" Kuharap tidak ada lagi yang melamun di kelasku." Ujar Kang Songsaengnim kepada murid-muridnya.
Sebenarnya Kang Songsaengnim juga merasa heran dengan kelakuan Seunghyun di tahun terakhirnya ini. Dulu dia anak yang rajin. Selalu menduduki peringkat teratas di kelasnya. Bahkan selalu masuk sepuluh besar seluruh sekolah. Tapi setelah memasuki tahun terkhir, anak itu berubah. Seunghyun sering sekali kabur dari kelas, tidak pernah memperhatikan pelajaran yang diberikan gurunya, bahkan membolos.
_Seunghyun PoV_
Kang Songsaengnim menyuruhku keluar dari kelasnya. Langsung saja kuraih tasku lalu beranjak meninggalkan kelas. Kang Songsaengnim menggelengkan kepalanya saat aku melewatinya. Dia pasti heran dengan sikapku akhir-akhir ini. Masa bodoh. Yang ada di kepalaku saat ini hanya tantangan dari ayahku.
Juara 1..kompetisi band tahunan Seoul..jika kami memenangkannya, ayah pasti akan mengijinkanku bemain gitar selamanya. Tapi..
Apa bisa kami mendapatkan juara 1? Kami belum pernah mengikuti kompetisi apapun. Kami membentuk grup band ini hanya untuk kesenangan semata. Karena kami sangat mencintai musik.
Aku menuju ke tempat dimana aku memarkir motor.
" Baiklah, aku akan mengatakan pada mereka tentang kompetisi dan tantangan ayahku." Ucapku pelan sambil menghela napas.
_PoV End_
_Chaehyun PoV_
Aku tidak menyangka kalau Seung mengatakannya. Ternyata dia memang benar mencintaiku. Kukira dia hanya main-main denganku. Setelah dia mengatakan hal itu, aku jadi yakin dengan perasaanku terhadapnya. Perasaanku kepadanya bukan hanya sekedar kasihan. Aku mencintainya. Aku membutuhkannya di sisiku. Dan aku tidak sanggup kehilangannya.
Hari ini toko sedang tutup. Jadi aku dan Yujin tidak perlu menjaga toko.
Tiba-tiba aku teringat Wonbin Oppa. Aku merasa bersalah padanya. Malam itu kami tidak jadi pergi ke tempat Kim Ajusshi, padahal Wonbin Oppa hanya sebentar di Seoul. Tapi bagaimanapun Seunghyun jauh lebih penting bagiku.
" Bagaimana bisa aku menghubungi Wonbin Oppa?" ucapku pelan, " aku bodoh sekali, kenapa aku tidak meminta nomor handphone nya..neon baboya Chaehyun ah." Lanjutku sambil memukul kepalaku.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Tidak ada nama. Langsung saja ku angkat.
" Yeoboseyo," jawabku.
" Chaehyun ah, " sahut suara seorang namja. Suara tersebut tidak asing di telingaku. Mungkinkah..
" Wonbin Oppa?" tanyaku bersemangat.
" Ne.." sahut Wonbin Oppa.
" Oppa..bagaimana kau bisa tahu nomor HP ku?" tanyaku penasaran.
" Malam itu, setelah kau menyuruhku pergi, aku langsung pergi menghampiri Yujin di Toko dan menanyakan nomor ponsel mu," jawab Wonbin Oppa, " apa kau sedang menjaga toko, Chae?"
" Aniyo Oppa, hari ini toko sedang tutup," jawabku.
" Jadi kau sedang dimana?"
" Aku sedang di rumah, Oppa."
" Kau mempunyai janji padaku, Chae," kata Wonbin Oppa, " bagaimana kalau hari ini kita ke tempat Ajusshi? Kau tidak sedang ada janji lain kan?"
" Sepertinya tidak ada, Oppa. Baiklah, kita bertemu dimana?" tanyaku kepadanya.
" Hmmmmm..bagaimana kalau di halte bus yang kemarin?" usulnya.
" Baiklah, aku akan bersiap-siap sekarang." Jawabku.
" Aku akan menunggumu disana. Sampai jumpa, Chae." Sahut Wonbin Oppa.
" Ne..sampai jumpa Oppa," sahutku, kemudian menutup ponselku.
Aku beranjak dari tempat tidurku. Bersiap-siap menuju halte dekat toko. Kali ini aku akan membuat Wonbin Oppa menikmati hari-harinya di Seoul. Dari kecil aku tidak mempunyai siapa-siapa. Saat dip anti asuhan, hanya Wonbin Oppa yang selalu menjagaku. Aku sudah menganggapnya sebagai kakak ku sendiri. Malam itu aku merasa bersalah padanya karena telah menyuruhnya pergi.
Ponselku bergetar kembali. Aku melihat nama di layarnya. Song Seung Hyun.
Aku mengangkat ponselku, "ne..wae geurae, Seung?"
" Kau dimana, Chae?" Tanya Seung.
" Aku sedang di rumah," jawabku sambil membuka lemari pakaianku, " ada apa, Seung?" tanyaku kepadanya.
" Kalau begitu aku kesana," sahut Seunghyun.
" Tunggu dulu, aku mau pergi," kataku cepat-cepat.
" Pergi?" Tanya Seung, " kau mau pergi kemana, Chae?" Tanya Seung kepadaku.
" Hmmmm.." aku diam sejenak," aku-pergi-menemani-Wonbin-Oppa-ke-tempat-Ajusshi." Jawabku cepat sekali.
Seunghyun diam, tidak menjawab. Apakah dia marah?
" Kenapa kau diam saja, Seung?" tanyaku khawatir, " aku hanya menepati janjiku padanya. Wonbin Oppa hanya kuanggap sebagai kakak. Dan aku hanya mencintaimu." Lanjutku.
Dia tertawa, " yaaa..Chaehyun ah. Aku tahu kau hanya mencintaiku. Kau pergi saja dengannya, aku tidak masalah."
Rasanya lega sekali mendengar perkataannya. Rupanya dia sudah berubah. Sikap egoisnya perlahan hilang.
" Baiklah kalau begitu, aku ke rumahmu nanti malam saja." Kata Seunghyun.
" Ne..sampai jumpa nanti malam, Seung." Sahutku, tersenyum.
_PoV End_
Wonbin menunggu Chaehyun di halte. Dia masih ingat kajadian malam itu. Selain ke tempat Ajusshi, sebenarnya dia ingin menanyakan tentang laki-laki itu. Dia ingin tahu, siapa sebenarnya laki-laki itu. Sepertinya dia sangat berarti sekali bagi Chaehyun. Sampai-sampai gadis itu rela menyuruhnya pergi demi mengejar laki-laki itu.
" Oppa.." panggil Chaehyun, setengah berlari menghampiri Wonbin.
Wonbin tersenyum, " sepertinya kau tidak sabar bertemu denganku ya, Chae?" ujarnya.
Chae hanya tersenyum mendengar perkataan Wonbin, " tentu saja, Oppa. Aku sudah lama tidak bertemu denganmu." Ujarnya.
" Baiklah, sepertinya bus yang akan kita tumpangi sudah datang," kata Wonbin, menunjuk bus yang datang dari arah sana. " aku tidak sabar menemui Ajusshi," lanjutnya.
Mereka naik ke dalam bus. Untung saja tidak banyak penumpang di dalamnya. Setelah mendapatkan tempat duduk, mereka mulai mengobrol dengan nyaman.
" Bagaimana rasanya tinggal di Jepang?" Tanya Chae penasaran.
" Sebenarnya tidak ada bedanya dengan tinggal di Seoul, hanya saja….." Wonbin tidak melanjutkan kata-katanya.
" Hanya saja apa?" Tanya Chae kembali.
Wonbin tersenyum, " sepertinya ada yang kurang, rasanya seperti separuh hatiku aku tinggalkan di Seoul."
Chae tampak berpikir, " hmmmmmm..apa kau punya seorang kekesih di Seoul ini, Oppa?" Chae tersenyum.
" Bisa dibilang seperti itu," jawab Wonbin, " tapi dia tidak tahu perasaanku padanya." Lanjutnya. " selain urusan pekerjaan, aku kesini juga untuk menyatakan perasaanku kepadanya."
Chae tertawa, " ya Oppa, kenapa kau tidak bilang kepadaku? Aku akan dengan senang hati membantumu." Ucapnya senang, " siapa nama gadis beruntung itu, Oppa? Apa aku mengenalnya?"
" Kau sangat mengenalnya," Wonbin memandangnya, " tapi aku akan memperkenalkannya kepadamu pada saat yang tepat, Chae."
" Jadi kau tidak butuh bantuanku?" Tanya Chae.
Aku sangat membutuhkan bantuanmu Chae. Sangat membutuhkannya. Aku butuh kau menerima perasaanku yang dari dulu sudah kurasakan. Iya. Gadis itu kau, Chae.
" Hmmmm…kurasa aku akan membutuhkan bantuanmu." Sahut Wonbin, tersenyum kepadanya.
" Ne Oppa, aku akan dengan senang hati membantumu, " kata Chae bersemangat, " gadis itu beruntung sekali bisa mendapatkan cintamu, Oppa."
Wonbin hanya tersenyum mendengar perkataan Chae.
_PoV End_
_Seunghyun PoV_
" Ne..sampai jumpa nanti malam, Seung." Sahut suara Chae.
Aku menutup ponselku. Wonbin. Aku yakin dia menganggap Chae lebih dari sekedar adik. Aku bisa melihat tatapan matanya malam itu. Tatapan matanya sama sepertiku kepada Chae. Walaupun aku tidak peduli, tetap saja ada sedikit perasaan takut yang kurasakan atas kehadiran laki-laki itu. Aku terlalu takut kehilangan Chae.
Kau seperti orang bodoh saja, Seung. Chae hanya mencintaimu.
Aku menuju ke restoran Hongki Hyung, karena aku mau membicarakan tentang kompetisi dan tantangan ayahku. Saat sampai disana, aku melihat Hongki Hyung sedang sibuk melayani para pengunjung restoran. Aku masuk ke dalam restoran.
" Seung, apa yang membuatmu datang kesini?" Tanya Hongki Hyung saat melihatku masuk.
Aku menghampirinya, " kau sedang sibuk, Hyung?"
Hongki Hyung menyuruhku duduk, " seperti yang kau lihat. Akhir-akhir ini restoran sangat ramai, sampai-sampai aku dan keluargaku kewalahan melayani pengunjung." Dia menghela napas." Kau belum menjawab pertanyaanku."
" Ada hal yang mau aku katakan kepada kalian, Hyung," ucapku.
Hongki Hyung tampak penasaran, " tentang apa, seung? Katakan saja."
" Aku ingin kita mengikuti kompetisi, Hyung." Kataku padanya.
" Kompetisi? Kompetisi seperti apa yang kau maksud?" Tanya Hongki Hyung penasaran.
Aku diam sebentar. Sedikit bingung menjelaskan padanya.
" Ayahku menantangku untuk menjuarai kompetisi band tahunan yang diadakan di Seoul," jawabku, " jika aku menang, dia akan mengijinkan aku bermain gitar bersama kalian selamanya. Tapi jika tidak…" aku terdiam sejenak, " aku harus meninggalkan Seoul, meninggalkan kalian semua, dan juga.." aku merasa tidak sanggup mengatakannya, " aku harus meninggalkan Chae."
Hongki Hyung hanya diam saja mendengarkan perkataanku. Kuharap dia mengerti apa yang yang sedang kurasakan sekarang. Kemudian dia menelpon yang lainnya. Menyuruh mereka dating kemari.
" Kau sudah yakin akan menerima tantangan ayahmu itu?" dia bertanya padaku.
" Aku membutuhkan kalian untuk menghadapi tantangan dari ayahku, Hyung." Jawabku.
Hongki Hyung tersenyum, " aku sudah menyuruh mereka kemari, sebaiknya kau bicarakan hal ini juga pada mereka. Aku tidak berhak mengambil keputusan, Seung." Sahutnya. " aku akan sangat senang membantumu, Seung. Kau tenang saja." Lanjutnya, tersenyum padaku.
Terima kasih Hyung. Hongki Hyung merupakan anggota paling tua di band kami. Dia sangat suka menyanyi. Selain itu, dia juga sangat peduli dengan anggota yang lain. Kami semua sangat menghormati dia sebagai Hyung.
Aku melihat Jonghun Hyung dan Jaejin Hyung memasuki restoran. Menuju ke tempat kami duduk.
" Yaa Seung, kemana saja kau?" Jonghyun Hyung menghampiriku, menarik kursi di depanku.
" Seharusnya aku yang bertanya padamu, Hyung," kataku sambil tertawa. " Sepertinya jadwalmu padat sekali ya."
" Seung benar, Hyung. Seharusnya kami yang bertanya padamu," sahut Jaejin Hyung, tiba-tiba menyambar minumanku, " kudengar dari Hongki Hyung, kau mau menyampaikan sesuatu pada kami, Seung."
Kemudian aku menceritakan tentang tantangan ayahku pada mereka.
" Hmmmm..juara satu ya," gumam Jonghun Hyung, " sepertinya tidak masalah bagi kita. Kita punya suara emas Lee Hong Ki." menepuk punggung Hongki Hyung, tertawa, " Iya kan, Hongki?"
" Yaa Jonghun ah..kau kira mendapatkan juara satu di kompetisi band tahunan Seoul itu mudah. Kompetisi itu bukan semacam kompetisi band anak sekolahan." Ujar Hongki Hyung, dia tampak serius. " jika ingin memenangkannya, kita harus serius latihan."
" Kenapa kau serius sekali, Hongki. Tidak memenangkannya pun tidak akan membuat hidup kita hancur kan?" sahut Jonghun Hyung, melirik ke arahku sambil tertawa.
" Kau ini..aish sudahlah. Seung, jangan hiraukan orang gila ini. Kami akan membantumu. Kau tenang saja." Hongki Hyung menepuk pundakku.
" Sepertinya kita melupakan satu orang lagi." Kata Jaejin Hyung yang dari tadi hanya diam saja. Sepertinya dari tadi dia hanya fokus pada minumannya saja.
Minhwan menghampiri kami, masih dengan seragam sekolahnya.
" Uri Minanie sudah pulang sekolah rupanya." Kata Jonghun Hyung, tertawa.
Hongki Hyung menatap ke arah Jonghun Hyung. " diamlah Jong."
Jonghun Hyung diam. Masih menahan tawa. Hongki Hyung menyuruh Minhwan duduk. Kemudian menyampaikan semuanya kepadanya. Minhwan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan Hongki Hyung.
" Bagaimana, Minhwan?" Tanya Hongki Hyung kepadanya, " kau ikut?"
Minhwan tampak berpikir sejenak. " Asalkan tidak menggaggu sekolahku, aku ikut." Jawab Minhwan. " tenang saja Seung, aku akan membantumu." Dia menoleh ke arahku, tersenyum.
Aku bersyukur mempunyai teman-teman seperti mereka. Teman-teman yang ayah anggap tidak berguna. Tunggu saja ayah. Aku akan membuat ayah mengerti bahwa mereka tidak seperti yang ayah pikirkan.
_PoV End_
_Chaehyun PoV_
" Apa kau yakin tidak mau aku antar sampai rumah?" tanya Wonbin Oppa.
" Aniyo, Oppa," akul bersiap-siap turun dari bus. " Kalau kau mengantarkanku pulang, itu artinya kau harus turun dari bus ini. Setelah itu kau harus naik bus lagi menuju rumahmu." Jawabku cepat, " aku tidak mau membuatmu repot, Oppa."
Wonbin Oppa menatapku cemas.
" Gwaenchanayo, Oppa." Aku tersenyum padanya. Laju bus semakin lambat. Sepertinya sudah mau sampai.
" Hati-hati, Chae." Ucap Wonbin Oppa padaku." Terima kasih karena hari ini kau sudah menemaniku."
Aku menoleh ke arahnya. " Ne, Oppa." Jawabku sambil melambaikan tangan.
Hari ini menyenangkan sekali. Aku merasa kembali ke masa lalu. Saat-saat bersama Wonbin Oppa. Andai saja aku mempunyai kakak laki-laki seperti dia.
Aku mempercepat langkahku. Kenapa malam ini dingin sekali ya? Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku mantel. Kemudian aku teringat sesuatu. Aigoo..Seunghyun!
Aku semakin mempercepat langkahku. Setengah berlari menuju rumah.
Ternyata benar, Seunghyun sudah menungguku di depan rumah.
" Kau lama sekali sih," kata Seunghyun jengkel. " Aku hampir beku menunggumu disini."
Aku menghampirinya, " Mianhae, Seung. Aku lupa."
" Lupa? Sepertinya kau terlalu senang menemani orang itu seharian ya. Sampai-sampai kau melupakanku."
" Orang itu punya nama, Seung." Nada bicaraku terdebgar sedikit jengkel padanya.
" Sudahlah," potong Seung, "ayo naik."
Naik? Aku benar-benar tidak tahu harus menjawabnya apa. Tanpa melihat ke arahnya, aku naik ke motornya.
" Kau ingin jatuh ya?" tanya Seung tiba-tiba saat aku sudah di belakangnya. " Pegangan yang erat, Chae." Seung meraih tangan kananku, melingkarkannya ke pinggangnya.
_PoV End_
_Wonbin PoV_
Aku melihat dia berjalan menjauh.. ada yang aneh dengan Chae.. dari tadi dia tampak tidak tenang seolah olah ada yang di tunggunya.. dia juga ingin sekali cepat pulang.. apa dia tidak nyaman pergi denganku..? atau… ada yang menunggunya di rumah..?
Apa pria kemarin itu…? aku penasaran.. aku tidak bisa tinggal diam..
"Ahjusshi! Aku mohon hentikan busnya.." teriakku tiba tiba dan membuat beberapa orang yang ada di bus menatapku heran. Aku tidak peduli..
"Aku mohon ahjusshi.. ada barang nona itu yang tertinggal dan itu sangat penting. Aku harus mengembalikannya…" ujarku berbohong.
Akhirnya sopir bis menuruti keinginanku dan menghentikan bus di pinggir jalan… "Jeongmal gomawo ahjusshi.." ucapku saat aku akan turun dari bus.
Aku berlari kecil berusaha menyusul Chae.. tapi aku tetap menjaga jarakku.. aku tidak mau dia tahu aku mengikutinya..
Maafkan aku Chae.. aku yakin kau akan marah sekali jika kau tahu aku membuntutimu seperti ini.. tapi, aku benar benar tidak tenang..
Aku menghentikan langkahku tidak jauh dari rumah Chae.. dan aku yakin mereka tidak akan melihatku disini.. mereka..? ya.. mereka.. aku melihat namja yang kemarin sudah ada di depan rumah Chae.. siapa dia? Apa dia kekasih Chae..? tetapi dia tampak seperti anak sekolah..? apa mungkin… tapi mengapa Chae tidak mengatakan apapun padaku..?
Mereka pergi.. Bocah itu membawa Chae pergi dengan motornya.. kemana mereka pergi malam malam begini..? ya~ mengapa aku tidak tenang..? apa yang aku pikirkan..? Wonbin ah~ Chae bukan gadis seperti itu.. dia bisa menjaga dirinya..
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.. aku akan berpura pura tidak tahu apapun.. aku akan menyelidiki siapa bocah itu.. aku harus memastikan kalau.. Chae akan tetap menjadi milikku…
_PoV End_
_Chaehyun PoV_
" Kau mau membawaku kemana, Seung?" tanyaku agak cemas. " Ini kan sudah malam."
" Ini baru jam 9 malam." Jawabnya santai, " sudah kau diamlah saja. Kau hanya cukup mempererat peganganmu agar tidak jatuh." Seung menyalakan mesin motornya.
Selama perjalanan, Seung hanya diam saja. Dia mempercepat laju motornya. Hal itu membuat udara malam terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Aku memperhatikannya dari belakang. Pantas saja dia jengkel kepadaku. Dia pasti menungguku lama sekali. Dia tidak mengenakan mantel ataupun pakaian tebal sejenisnya. Tidak ada syal yang melilit di lehernya. Anak ini bodoh apa tolol sih. Sudah tau cuaca sedingin ini dia tidak mengenakan pakaian hangat apapun. pasti kedinginan Aku mempererat pelukan tanganku.
Dia menghentikan motornya di depan sebuah sekolah. Ternyata dia membawaku ke sekolahnya. Mau apa dia malam-malam mengajakku ke sekolahnya? Aku benar-benar tidak tahu jalan pikirannya. Sesaat setelah dia menghentikan motornya, aku turun.
" Mau apa kita kesini malam-malam, Seung?" tanyaku penasaran.
Tanpa pikir panjang Seung menarik tanganku. Tangannya dingin sekali.
" Tunggu dulu," aku melepaskan syal yang melilit di leherku.
" Apa lagi, Chae? Sudah kubilang kau ha.." aku membungkam bibirnya dengan tanganku.
" Kau ini bodoh atau apa? Kau tidak tau ya kalau cuaca sangat dingin. Memangnya kau tidak punya mantel ya? " Aku melilitkan syal ke lehernya, " kau pasti kedinginan saat menungguku tadi." Aku memegang sisi wajahnya dengan kedua tanganku.
Seung hanya diam saja. Kemudian dia menarik tanganku. Membawaku masuk ke dalam sekolahnya. Dia membawaku menyusuri koridor-koridor yang agak gelap. Aku mempererat genggaman tanganku. Kenapa dia membawaku ke tempat menyeramkan seperti ini sih?
" Kau mau membawaku kemana, Seung?" tanyaku dengan nada ketakutan. " Kau membuatku takut saja."
" Kau tidak perlu takut, Chae. Ada aku." Sahutnya ringan.
Kemudian kami sampai ke depan perpustakaan. Rupanya pintunya tidak terkunci. Seung menarik tangan ku, membawaku masuk kedalamnya.
" Bukankah kau senang membaca buku?" tanya Seung, melepas tanganku. " tapi sepertinya kau tidak punya waktu untuk membaca satu pun. Sekarang saatnya kau membaca buku-buku itu sepuasnya." Dia menunjuk sederetan rak buku sambil tersenyum.
Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya.
" Kau membawaku kesini malam-malam hanya untuk menyuruhku membaca buku?" tanyaku, masih memeluknya. " Kau ini bodoh sekali. Mana bisa aku membaca ribuan buku itu hanya semalam."
" Kenapa kau terus saja protes sih?" ucap Seung, mempererat pelukannya. " aku hanya ingin membuatmu senang, Chae."
Aku melepaskan pelukanku. Kemudian mulai memilih-milih buku.
" Bagaimana aku bisa membaca dengan penerangan seperti ini?" aku menunjuk suasana sekitar rak buku.
" Hmmm..benar juga ya." Sahutnya sambil memilih-milih buku juga.
" Lalu untuk apa kita kemari, Seung?" tanyaku tidak sabar.
Kemudian dia menghampiriku, " kita kan bisa sekedar duduk-duduk disini." Jawabnya. " Apa kau tidak suka bersamaku ya? Kau bisa tahan seharian pergi dengan orang itu."
" Jangan mulai lagi, Seung." Aku mengembalikan buku yang tadinya mau aku baca ke tempatnya semula. Perlahan aku menurunkan tubuhku, menyandarkan ke rak buku di belakangku " Tunggu apa lagi? Katanya kau ingin duduk-duduk disini."
Aku merasakan Seung duduk disampingku. Tak lama kemudian, aku merasakan kepalanya menyandar di bahuku. Apa dia tertidur?
" Seung.." panggilku pelan.
" Hmmmm.." dia menyahut dengan gumaman.
" Kau tidur?" tanyaku lagi.
" Ayahku menantangku, Chae." Dia mulai berbicara. " dia menantangku memenangkan kompetisi band tahunan di Seoul." Dia berhenti sejenak, masih menyandarkan kepalanya di bahuku. " Jika aku tidak berhasil, aku harus berhenti bermain gitar dan dia akan mengirimku belajar ke luar. Meninggalkan Seoul."
Aku diam saja. Meninggalkan Seoul. Itu artinya dia akan meninggalkanku juga.
" Aku tidak ingin meninggalkan Seoul, Chae." Lanjutnya. " kenapa kau diam saja?"
" Oh..aniyo, Seung. Kau pasti bisa memenangkan kompetisi itu. Kau dan teman-temanmu sangat hebat memainkan alat-alat itu." Jawabku sambil menahan air mata.
Kau harus menang, Seung. Aku tidak mau kau meninggalkanku.
" Kalau aku kalah, aku harus me.." aku menyentuhkan jariku ke bibirnya.
" Ssstttt..kau pasti menang." Aku memandang wajahnya.
Kemudian dia menarik tubuhku kedalam pelukannya. Rasanya nyaman sekali.
" Baiklah, Chae. Aku pasti memenangkan kompetisi itu."
SRAKKK!
"Siapa di dalam…?"
Terdengar suara seorang laki-laki dari arah pintu perpus. Sepertinya dia adalah satpam yang sedang berpatroli.
Aku dan Seunghyun panik..
"Bagaimana ini, Seung..?" tanyaku panik. Dan aku melihat dia tidak kalah paniknya dariku.. "Seung…"
"Jika kita berdua sampai ketahuan disini.. habislah aku…" gumamnya.. "Orang tuaku pasti akan di panggil ke sekolah.. dan itu artinya, riwayatku untuk berada di sini akan tamat.. tanpa penawaran, ayahku pasti langsung mengirimku ke luar negeri. dia akan melakukan apapun untuk melindungi reputasinya, Chae…" katanya pelan dan tepat saat itu satpam sekolah masuk ke dalam perpustakaan..
"Seung…."
_PoV End_
