Pertama-tama, terima kasih buat yang udah baca chapter 1 (apalagi review!) Maaf agak lama update karena kuliah dan ini-itu bikin mood ngefic jadi down. Dan soal Rivaille, sudah ada rencana memunculkan ybs (spoiler ya, hehe) tapi soal kapan, itu nanti. Baguslah kalau memang belum ada yang bikin... saya akui, cerita macam ini rawan membosankan karena mau ga mau bakal banyak semi-OC bertebaran dimana-mana, tapi saya akan berusaha untuk ngebuatnya tidak (terlalu) membosankan.

Mohon komentar dan review, ya. Kritik atau saran juga boleh.


Shingeki no Kyojin (c) Isayama Hajime

Please Save My Earth/Boku no Chikyuu wo Mamotte (c) Hiwatari Saki


Dalam sepuluh tahun hidupnya, Ren dikenal sebagai anak yang tidak banyak bicara. Bukan maunya, ia hanya tak terbiasa. Sebagai anak tunggal yang kedua orangtuanya sibuk, Ren lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku atau main game. Di sekolah interaksinya dengan anak sebaya dan para guru juga biasa saja, seadanya. Ia tak punya teman dekat, dan tidak terlalu merasa itu masalah besar. Baginya hidupnya sejauh ini sudah lebih dari baik.

Kalau ada satu hal yang kurang ia sukai, mungkin itu adalah pertanyaan soal dirinya. Kalau sekedar ditanya hal-hal yang sudah pasti macam nama, usia atau nama orangtua, Ren tak masalah. Tapi kalau sudah menyangkut hobi, kegiatan, kesukaan, ia biasa butuh waktu lebih lama dari anak lain dalam menjawab.

Karenanya, tugas bahasa yang diberikan gurunya hari kemarin terasa sangat merepotkan untuknya. Nilai-nilainya sebenarnya tergolong bagus—kalau bukan nyaris sempurna, tapi tugas seperti ini kelemahannya. Kelasnya disuruh membuat karangan soal apa saja hal yang menurutnya menarik. Boleh pengalaman, tentang orang terdekat, atau apa saja. Mungkin bagi anak lain itu mudah, tapi bagi Ren, tidak. Butuh waktu cukup lama baginya untuk menulis, dan sebagian besar berakhir ia robek dan buang karena dirasa tidak cukup 'menarik'. Akhirnya, ia memutuskan untuk menceritakan soal pengalamannya saat kedua orangtuanya membawanya ke Taman Bermain, dan Ren (akhirnya) cukup puas dengan hasil kerjanya.

Tapi ternyata gurunya belum puas. Tidak hanya menulis, ia juga meminta mereka membacakannya satu demi satu di kelas. Ren agak gugup, dan berusaha untuk tidak menunjukkannya hingga ia tak mendengarkan cerita yang dibacakan oleh teman-teman sekelasnya. Ia memfokuskan diri untuk membaca ulang tulisannya dalam hati, memastikan tak ada kata-kata yang kurang tepat atau bagian yang tidak bagus, sampai lalu telinganya menangkap sesuatu.

"—Bernama Eren."

Ia segera mengangkat kepalanya, menoleh ke arah asal suara, dan ternyata di sana teman sekelasnya, Tanuma Hijiri, sedang membacakan karangannya sendiri. Eren… apa mungkin Ren salah dengar? Eren adalah nama yang sangat berarti baginya—nama seorang sahabat yang selalu ia mimpikan setiap malam.

"Dalam mimpi itu, ada banyak sekali raksasa! Aku sebagai Eren, dengan dua orang temanku, Mikasa dan Armin, sangat benci dengan raksasa bernama titan. Gara-gara ibu Eren dibunuh titan, Eren jadi ingin membunuh titan. Eren akhirnya masuk pelatihan tentara bersama Mikasa dan Armin supaya bisa mengalahkan titan."

Jantung Ren berdegup dengan sangat cepat. Karena—ini tak mungkin. Dia bilang dirinya melihat mimpi sebagai Eren? Tidak mungkin, karena ia sendiri selalu melihat mimpi sebagai seorang gadis bernama Mikasa. Ren selalu yakin itu semua hanya mimpi yang aneh dan tak perlu dipikirkan, tapi bagaimana mungkin anak bernama Hijiri itu juga mengalami hal yang sama?

"Dan adikku, Yoshio, dia menjadi Armin dalam mimpinya. Kami sering bercerita soal mimpi kami, dan rasanya menyenangkan sekali seperti menonton film! Aku jadi penasaran apa Eren bisa membunuh semua titan atau tidak."

Tanuma Hijiri menarik nafas, membuat Ren sadar kalau sedari tadi dia menahan nafas, "Sudah selesai, bu!"

Caranya bercerita kacau balau dan tidak mudah dimengerti, tapi jelas Ren sangat mengerti. Guru mereka hanya menatap dengan pandangan bingung harus merespon bagaimana, dan akhirnya sambil tersenyum dan mengatakan cerita Tanuma Hijiri sangat menarik, ia menyuruh orang berikutnya untuk membacakan bagian mereka. Ren tak lagi bisa konsentrasi melatih membaca karangannya, dan terus menerus melirik ke arah Tanuma dengan gelisah.

Akhirnya saat gilirannya membacakan cerita tiba, ia tak bisa melakukan yang terbaik. Cara membacanya cepat dan tampak terburu-buru, membuat bu guru tersenyum geli dan menyuruh Ren untuk membaca pelan-pelan saja. Teman sekelas tertawa, Tanuma Hijiri juga tertawa. Ren tak bisa tidak mencuri pandangan ke arahnya.

Maka saat akhirnya makan siang tiba, ia memberanikan diri menghampiri Tanuma, dan sambil merendahkan suaranya, ia bertanya, "Tanuma. Soal cerita mimpimu tadi, apa itu benar?"

Mereka tidak dekat dan jarang berbicara. Ren dikenal sebagai anak yang serius, karena itu, jelas Tanuma Hijiri nampak sedikit terkejut karena ia tiba-tiba menghampirinya dan bertanya demikian.

"Eh… iya, benar. Kenapa memang?"

Ada perasaan aneh yang tak bisa Ren deskripsikan. Ia merasa… senang. Mungkin ini perasaan Mikasa yang masih bersisa dalam dirinya? Mikasa sangat menyayangi Eren. Bagi Mikasa, berada di dekat Eren saja cukup. Apa perasaan Mikasa dalam mimpinya memberinya pengaruh sampai ia pun merasa senang saat bertemu dengen Eren?

"Aku—," tapi ia tak tahu harus mengatakan apa, isi kepalanya dipenuhi terlalu banyak pertanyaan. Soal Eren, dan, Armin! Bagi Mikasa, bagi gadis dalam mimpinya, keberadaan Armin juga adalah sosok yang sangat penting. Dan tiba-tiba disuguhi kenyataan kalau ia bukan satu-satunya orang yang bermimpi soal raksasa, terlebih, mereka bermimpi sebagai Eren dan Armin. Ia tak tahu harus berkata apa.

"Aku," akhirnya dengan pikiran kosong, ia mengatakan, "Aku Mikasa."

Tanuma Hijiri nampak terdiam, antara kaget dan tak tahu harus berkata apa. Dua orang anak laki-laki yang duduk di dekat mereka tiba-tiba menyahuti, "Ehh, Serizawa, ternyata kau hobi begituan juga?"

"Wah, walau selama ini seringan diam, ternyata Serizawa khayalannya tinggi juga, ya."

Tanuma Hijiri berdiri, tak menghiraukan kedua anak itu, alih-alih, ia menatap tajam pada Ren, "Apa maksudmu?"

Kesadaran Ren segera kembali dan ia merasa kalau tindakannya barusan agak bodoh. "Aku hanya, tidak. Tak apa. Lupakan."

Dan dengan setengah terburu, ia kembali ke mejanya dan menyelesaikan makanannya yang belum disentuh. Tapi kali ini tampaknya Tanuma yang merasa penasaran, dan ia menghampiri meja Ren, serasa meminta perhatian. "Serizawa, maksudmu barusan, kalau kau Mikasa itu apa? Mau mengejek soal cerita mimpiku?"

Ren segera menoleh, "—Tentu saja tidak."

"Lalu kenapa?"

Ren diam, bingung memilih kata-katanya. Tanuma terus menunggu, sampai kemudian dia membuka mulutnya lagi, "Kalau begitu, pulang sekolah nanti, jangan langsung pulang. Aku akan membawa Yoshio."

Anehnya, Ren setuju. Ia mengangguk, mereka kembali ke meja masing-masing dan makan dalam diam. Sesekali, Ren akan mencuri pandang ke arah Hijiri, dan ternyata yang bersangkutan sedang melakukan hal yang sama ke arahnya. Ia yakin sesi kelas berikutnya akan terasa menyiksa.

Begitu kelas selesai, Tanuma Hijiri segera menghampirinya dan mengajaknya ke kelas adiknya, Yoshio, Armin. Ren sedikit gugup. Mimpi soal Mikasa dan titan selalu dianggapnya bunga tidur dan dia tak pernah sekalipun berpikir untuk menceritakannya pada siapapun, dan di sinilah dia, mengaku sebagai Mikasa pada orang yang mengatakan dirinya Eren.

Ia mengangguk sedikit gugup saat adik Tanuma yang bernama Yoshio menatapnya sekilas dan menatap ke arah kakaknya dengan pandangan yang bertanya 'ada apa?' dan tanpa basa-basi, Hijiri segera mengatakan, "Dia bilang dia Mikasa."

Tanuma adik jelas tampak terkejut, dan tak lama kemudian mereka sudah berkumpul duduk di salah satu kursi taman.

"Jadi, Serizawa… maksudmu kau Mikasa tadi itu, apa itu benar?"

Ren menghela nafas. Ia memang harus menceritakannya. Sambil mengangguk, ia membuka mulutnya, "Selama ini… kupikir aku satu-satunya yang bermimpi seperti itu."

Bukan mimpi terbaiknya. Menjadi perempuan, yatim piatu dan harus berada di bawah ketakutan mati dimakan raksasa jelas bukan hal menyenangkan. "Dalam mimpi namaku Mikasa. Kedua orangtuaku sudah meninggal gara-gara orang jahat. Aku—maksudku, Mikasa lalu tinggal bersama keluarga Yeager. Kemudian dia bertemu Eren," ia melirik pada Tanuma Hijiri, "Dan Armin…," lalu Tanuma yang adik. Ekspresi di atas wajah kedua orang di depannya nampak berubah saat mendengar ceritanya. Terutama yang kakak. "Aku ga cerita sama sekali ke dia soal itu, loh, Yoshio! Maksudku—aku memang cerita ke teman-teman sekelas kalau aku Eren, dan ada Mikasa dan Armin, tapi aku nggak cerita kalau Mikasa yatim piatu!"

Yoshio hanya mengangguk-angguk, antara bingung dan terkesima. Dengan senyum lebar, Hijiri menghampirinya, dan, memeluknya.

Ren mengerjap.

"Luar biasa, Mikasa! Akhirnya kita bertemu!" Ia melepaskan pelukannya, dan menatapnya dengan sungguh-sungguh, "Ah, akhirnya bertemu tidak tepat karena aku nggak nyangka bakal ada Mikasa juga—tapi ini benar-benar hebat! Iya kan, Yoshio! Kita menemukan Mikasa! Mikasa, loh!"

Dengan berapi-api, ia menoleh pada adiknya, membiarkan Ren yang masih bingung harus bereaksi bagaimana (antara tidak tahu harus menanggapi apa, terlebih ia masih kaget dengan pelukan tiba-tiba Hijiri—ia tak terbiasa bersentuhan seperti itu dengan yang bukan keluarga).

Yoshio, si adik, tersenyum lebar juga, "Ya, ini seru sekali, Hiji-nii!" Kini ia menoleh pada Ren, "Mikasa… salam kenal!" Ia mengulurkan tangannya, "Aku Tanuma Yoshio, adik Tanuma Hijiri. Di dalam mimpi, namaku Armin Arlert."

Ren menerima uluran tangannya, "Serizawa Ren… dalam mimpi, namaku Mikasa Ackerman."

Hijiri nampak bersemangat dan bergabung, "Aku Tanuma Hijiri! Di dalam mimpi, namaku Eren Yeager," dan menoleh pada keduanya, "Jadi sekarang… bagaimana?"

Bersambung


Dan bukan... bukan BL, saya janji.

Yuyukangkang, 061213