Summary: Setengah triliun. Sebuah nominal angka yang bisa membuatnya memilikimu.
One Piece © Eiichiro Oda
Half Trillion © Viero D. Eclipse
Pairing: Ace x Luffy (AceLu)
Rated: M (For Explicit Kissing Scene)
Warning: AU, Shounen Ai/YAOI, Kissing scene eksplisit (Awas nosebleed), Padat deskripsi dan mungkin OOC?
Don't like? Don't read!
-Part 2-
He's Yours
.
Ada sebuah alasan mengapa ia menjadi milikmu...
.
"AARRGGGHH!"
Jeritan sakit menggema, melengking menggetarkan setiap gendang telinga yang ada. Beberapa pria berpakaian serba hitam tampak mengerang lara dengan segenap luka yang terpahat di tubuhnya. Percikan merah bernamakan darah menjadi saksi bisu. Ya. Sebuah saksi bisu atas kejinya theater penganiayaan lalim itu.
"Cepat katakan padaku, siapa yang sudah mengutus kalian untuk berbuat seperti ini!" Pernyataan itu begitu tajam, seakan-akan dikatakan dengan segenap naluri untuk membunuh. Amarah menguasai nalar. Itulah realita yang sudah mengguyur seorang Gol D. Ace saat ini. Bisnisman muda itu seakan terbakar oleh api emosi tatkala pertanyaannya tak digubris sama sekali. Lekaslah ia melayangkan tendangan keras ke salah seorang tumpukan mafia yang sudah hampir sekarat.
Duaaakk!
"Aaarrgghh!"
"CEPAT KATAKAN SIAPA YANG SUDAH MENGUTUS KALIAN!"
"Tu-Tuan Teach! Marshall D. Teach! Di-dialah yang sudah mengutus kami!"
"Teach..." nama itu seakan menjadi duri saat tergurat dari mulut Ace. Nama dari seorang bajingan rendah yang selalu mengincar barang lelangnya. Pria menjijikkan itu masih belum menyerah juga. Setelah beberapa bulan Ace membeli Luffy, ternyata rival terkutuknya yang satu itu masih terobsesi untuk merealisasikan hasrat terpiciknya. Sudah berkali-kali ia mencoba untuk menculik Luffy. Seperti saat ini. Entah, ini sudah merupakan mafia urutan ke berapa. Beruntung, aksi kotor itu selalu saja berhasil digagalkan oleh Ace.
Dan pria bergelar tinju api itu kembali menikam para mafia suruhan Teach-yang ia anggap sampah itu-dengan tatapan pembunuh. "Tolong sampaikan pada bos kalian yang jahanam itu. Jika ia masih berani menyewa mafia atau melakukan apapun untuk menculik 'istri'ku lagi, maka aku tak akan segan-segan untuk membunuhnya dengan tanganku ini. MENGERTI!"
Para mafia itu sungguh mengerti bahwa ancaman yang diguratkan Ace bukanlah main-main. Lebih baik menurutinya daripada nyawa mereka yang melayang sia-sia. "Ba-Baik, ka-kami mengerti!"
"Bodyguard! Cepat kalian bawa mereka pergi dan laporkan perkara ini ke polisi!"
"Kami mengerti, Tuan Ace!"
Dan kumpulan mafia itu pada akhirnya dijerat dan diseret keluar dari kediaman Ace. Pria bermata obsidian itu lekas mengarahkan pandangan ke samping dan menghampiri barang lelangnya yang sudah tampak tersungkur dengan beberapa luka lecet yang terukir di tubuhnya.
"Luffy! Kau tak apa-apa?"
"Ah, tenanglah, Ace. Aku baik-baik saja." Dengan bantuan sang master, Luffy pun berhasil berdiri dan bertumpu pada kedua kakinya yang lebam. Pemuda itu mengusap aliran darah di sudut mulutnya dan mencoba mengatur ritme napasnya. Dari keadaannya, sudah jelas bahwa Luffy mencoba mempertahankan diri dengan cara bertarung dengan kumpulan mafia suruhan Teach. Meskipun ia adalah orang yang cukup kuat, tapi Luffy tak akan sanggup menaklukkan dua puluh orang mafia sekaligus. Pemuda itu kalah jumlah. Beruntung Ace datang tepat waktu dan membantunya untuk menghajar kumpulan mafia itu. Atau mungkin...
Justru Luffylah yang menahan Ace untuk 'tidak membunuh' segenap mafia suruhan Teach.
Master-nya itu tampak hilang rasio saat pertama kali menatapnya yang sudah dalam keadaan babak belur. Opsi teraman dalam hidup ini adalah; jangan pernah membuat sang tinju api marah besar. Dampaknya akan sangat fatal.
"Andai saja kau tak menolak tawaranku untuk memberimu beberapa pengawalan bodyguard, tentu hasilnya tak akan seperti ini, Luffy! Bagaimana jika tadi aku tak datang tepat waktu? Bisa-bisa, kau sudah ada di tangan Teach sekarang!" Kemarahan kembali meracuki nalar Ace. Pria itu marah karena khawatir. Ia tak ingin terjadi apa-apa dengan Luffy. Wajar saja. Putra Dragon itu terlalu berharga untuknya. Luffy adalah rasionalitasnya. Dan jika pemuda itu direnggut darinya, maka Ace akan gila.
Lain halnya dengan Luffy yang hanya bisa menghela napas pasrah melihat kecemasan berlebihan master-nya itu. "Aku tak butuh bodyguard, Ace! Aku pasti bisa mengatasi mereka jika jumlahnya tak sebanyak itu! Aku bukanlah orang lemah!"
"Iya, aku tahu jika kau kuat, Luffy. Tapi setidaknya, dengan pengawalan bodyguard, kau tak akan kesulitan untuk melawan mereka! Kau itu ceroboh! Salah satu dari mafia keparat itu hampir saja menyuntikkan obat bius dosis tinggi ke dalam tubuhmu! Bagaimana kalau kau berhasil diculik, hah! Aku tak mau tahu lagi, Luffy. Mulai sekarang, kau harus mendapat kawalan ketat dari beberapa bodyguard utusanku!"
Dengan ketus, Ace lekas membelitkan seuntai kain di lengan Luffy untuk menghentikan laju darah yang mengalir dari luka gores pemuda itu. Luffy menggeleng miris, tak mengerti sama sekali dengan ketakutan Ace yang mulai irasional itu. Semakin lama, keposesifan master-nya semakin terlihat. Bahkan, tak jarang pula ia melihat Ace geram di saat ada orang lain yang mendekatinya.
"Kau... tak perlu mengkhawatirkanku sampai seperti ini, Ace-"
"Tentu saja aku pasti akan sangat khawatir padamu, Luffy! Karena kau adalah ISTRIKU! ORANG YANG PALING KUCINTAI DI DUNIA INI!" Gertakan itu membuat Luffy terhenyak kaget. Pemuda itu lekas memalingkan pandangan ke samping. Meresapi segala pernyataan yang telah tergurat ke telinganya itu.
Istri...
Ya, benar. Mereka berdua telah resmi menikah. Tepat seminggu setelah Ace membeli Luffy. Bisnisman muda itu benar-benar melamar Luffy untuk dijadikan sebagai pendamping hidupnya. Luffy tak punya pilihan lain dan sama sekali tak keberatan dengan pernikahan itu. Ia sudah banyak berhutang budi pada sang master.
Ace telah memberikan segalanya pada Luffy. Tempat tinggal mewah, makanan enak setiap hari, sebuah gym untuk berlatih bertarung dan apapun yang diminta oleh putra Dragon itu, sang tinju api pasti akan menyanggupinya. Bahkan, ketidaksiapan Luffy untuk melayani kebutuhan suaminya saat berada di atas ranjang pun, Ace bersedia menolerir itu. Ia akan selalu menunggu hingga Luffy siap. Ia tak akan mau memaksa Luffy untuk melakukan hal yang tidak diinginkan oleh pemuda itu. Meskipun ia berhak menuntut nafkah batin dari Luffy selaku suami, namun Ace bukanlah budak dari guratan keegoisan. Ia masih memiliki bara empati.
Ini semua ia lakukan semata-mata sebagai wujud atas perasaannya terhadap Luffy.
Ia terlalu mencintai Luffy dan putra Dragon itu adalah segalanya bagi Ace.
"Kumohon, Luffy... untuk kali ini saja. Cobalah untuk memahami perasaanku. Aku khawatir padamu karena aku sangat mencintaimu. Aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi apa-apa padamu. Mengertilah," permohonan itu menggema, teriringi dengan pedihnya nada keputusasaan. Ace menunduk dengan guratan sendu yang melumuri benaknya. Ketakutan terbesarnya hanyalah satu. Yakni Luffy. Pemuda itu adalah kelemahannya. Jemarinya lantas menggenggam erat telapak tangan Luffy dan menempelkan parasnya di hamparan tangan pemuda itu.
Ia benar-benar begitu... rapuh.
Dan Luffy terhenyak menatap panorama itu.
Bayangkan saja. Sang tinju api, mafia terselubung yang tergabung dalam organisasi gelap Shirohige. Ia sudah termasuk dalam daftar orang yang paling berbahaya dan begitu kuat di mata dunia ini.
Dan ternyata...
Ia bisa menjadi serapuh ini... hanya karena Luffy.
Sejujurnya, putra Dragon itu tak tahu, sejak kapan perasaan sang master semakin bertambah untuknya. Dibalik sikap batu nan dingin Ace saat menghadapi orang lain, ternyata pria itu bisa menjadi lembut jika sudah berada di hadapannya. Pria itu tak setegas kelihatannya. Ace bisa saja bertingkah konyol jika di dekat Luffy.
Mungkin... hanya Luffylah yang tahu luar dalam dari sosok seorang Gol D. Ace.
Ya, sepertinya begitu. Mengingat bahwa bisnisman muda itu sudah menepati janji yang ia buat. Ia tak pernah menyakiti Luffy. Ia selalu melindungi pemuda itu dan bahkan menjadikannya sebagai prioritas utama. Secercah kebebasan juga masih ia berikan terhadap Luffy.
Dan dari seluruh dedikasi itu...
Salahkah jika sang master berharap bahwa intuisinya didengar?
Luffy tertunduk untuk sesaat. Meski ia bukanlah orang dengan tingkat intelegensi yang begitu tinggi, hal itu bukan berarti ia tak bisa memahami perasaan orang lain. Kedua matanya masih berfungsi dengan baik. Ia dapat melihat semua yang sudah dilakukan Ace untuknya. Pria itu begitu tulus. Semua yang ia lakukan adalah demi kebaikan Luffy sendiri.
Dan sampai detik ini...
Luffy masih belum sanggup membalas seluruh kebaikan itu.
Ia masih belum mampu mencintai Ace sepenuhnya.
Jangankan mencintai, memberikan nafkah batin saja tak bisa.
Ia hanyalah sebuah barang, bukan? Yang seharusnya bisa digunakan dengan baik oleh pembelinya. Bahkan sang master berhak memaksanya untuk menuruti perintah. Ia bukanlah pihak yang memiliki kebebasan dalam hal ini. Ia bahkan tak berhak mendapat perlakuan seperti manusia. Barang lelang diperlakukan seperti binatang, hah, itu sungguh wajar. Karena paradigma yang berlaku memanglah seperti itu.
Namun pada kenyataannya...
Luffy masihlah memiliki haknya sebagai manusia.
Dan sudah seharusnya ia membalas dedikasi itu.
"Ace..."
Pemuda itupun lekas menyematkan kedua tangannya di pinggang Ace, melingkarinya, memeluk tubuhnya. Dibenamkan parasnya itu di dada bidang sang master. Ace terhenyak dengan aksi Luffy. Putra Dragon itu hanya memeluknya dengan sekujur tubuh yang tampak gemetaran.
Menangis.
Ada suara isak tangis lirih yang menggema dari mulut Luffy.
"Go-Gomene... Ace..."
"Luffy..." suara Ace turut merapuh. Bersamaan dengan lunturnya rasa cemas yang bertransisi menjadi bias kelegaan. Permohonan maaf dari barang lelangnya itu menandakan bahwa ia sungguh sangat menyesal dengan semua ini. Perasaan hangat membasuh Ace dalam sekejap. Lekaslah ia membalas pelukan Luffy dan mendekap pemuda itu dengan sangat erat.
Sungguh...
"Aku sangat mencintaimu, Luffy..."
Diam.
Luffy hanya terdiam mendengar untaian frase yang selalu saja diguratkan Ace setiap saat. Sang master tak akan pernah lelah untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan terhadap Luffy. Meski ia tahu bahwa ungkapan itu tak akan pernah mendapatkan... jawaban.
Kedua obsidian Luffy terpejam. Hamparan mulutnya terkatup rapat. Deretan gigi itu tergertak erat. Memang, ia tak bisa menjawab pernyataan itu secara verbal. Namun, ia percaya.
Ia percaya bahwa ia pasti akan bisa menjawabnya... dalam waktu dekat.
Dan ia harus mampu membalas perasaan sang master.
Ia sudah tak ingin lagi memberikan harapan kosong.
Karena bagaimanapun juga...
Gol D. Ace adalah suaminya.
~AxL~
"APA? JADI GOL D. ACE SI TINJU API ITU ADALAH MASTER-MU, LUFFY?"
"Kau tak perlu berteriak begitu, Usopp!"
.
.
Sebuah restoran terlihat menjadi sebuah wadah diadakannya reuni kecil antar para barang lelang yang sudah memiliki master sendiri-sendiri. Setelah beberapa tahun berpisah, pada akhirnya kumpulan insan itu bisa saling melepas jeratan rindu. Ada guratan kebahagiaan yang terukir di paras Luffy tatkala wajah-wajah lama kawannya telah menjadi sebuah panorama yang ia lihat saat ini. Mereka semua tak berubah. Dalam artian, yang tak berubah adalah prasasti kepribadian mereka. Entitas fisik sudah pasti terkontaminasi dengan bulir-bulir transisi karena faktor usia. Itu merupakan hal yang sangat wajar.
Misal saja; Nami yang kini terlihat lebih dewasa di usianya yang sudah menginjak dua puluh tahun. Kombinasi rambut cokelat kemerahannya tampak terurai bergelombang dengan panjang yang melebihi bahunya. Ia begitu bersahaja. Sama halnya dengan Robin yang terlihat semakin matang saja di usianya yang menginjak tiga puluh tahun. Bahkan, Usopp juga masih berhidung panjang seperti dulu. Atau mungkin bertambah panjang? Entahlah.
"Tak kusangka bahwa kau akan mendapatkan seorang master seperti Gol D. Ace, Luffy. Kau dihargai berapa? Mata dunia tahu bahwa pria itu sangatlah kaya." Nami menunjukkan bulir kurositasnya. Sudut bibirnya tertarik, menyimpulkan sebuah senyuman tipis. Usopp dan Robin mengarahkan atensi mereka pada sosok Luffy. Pemuda bermata obsidian itu tampak menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aku dihargai... setengah triliun."
"APAAAA! SE-SETENGAH TRILLIUN!" Usopp menganga. Robin hanya tersenyum, seperti bisa menduga akan adanya fakta ini.
"Aku tidak terkejut. Pemuda baik sepertimu memang pantas dihargai dengan nominal itu, Luffy." Sebuah pujian yang membuat Luffy terkekeh. Nami bertopang dagu untuk sesaat.
"Wow... itu harga yang tinggi sekali. Sanji saja waktu itu hanya menghargaiku sebesar seratus miliyar. Tapi tak mengejutkan juga. Aku yakin, si tinju api itu bisa menghargaimu dalam skala di atas triliun jika ia mau." Spekulasi yang digemakan Nami semakin membuat kapasitas kejayaan Ace tergambar dengan gamblangnya. Bisnisman sekaligus mafia itu sangatlah kaya. Luffy juga terkadang tak habis pikir, kenapa takdir membuatnya memiliki seorang master dengan kejayaan dewa seperti Ace. Sungguh, hal itu merupakan hal yang terlalu utopis meski pada akhirnya menjadi kenyataan juga.
"Lalu, bagaimana ia memperlakukanmu, Luffy? Apa kau diperlakukan seperti budak?" Usopp bertanya dengan nada selidik. Ada raut khawatir yang tergambar di paras pemuda berhidung panjang itu. Nami tampak menengguk segelas air. Sedangkan Robin berekspresi tak terdefinisi.
Luffy terdiam sejenak. Bingung harus merangkai jawaban seperti apa. Kehidupannya dengan sang master justru berjalan sebaliknya. Ia sungguh tak pernah mendapat perlakuan budak dari Ace. "Ia memperlakukanku dengan baik, Usopp. Bahkan, sebulan yang lalu, kami berdua sudah resmi... menikah."
...
...
"APAAAAA!"
BBBUUUUURRRRSSSTTT!
Air yang diteguk Nami mendadak tersembur keluar dari mulutnya, menghantam paras Usopp, sukses membuat wajah pemuda berhidung panjang itu menjadi basah. Robin hanya tertawa melihat panorama konyol itu.
"A-Apa? Ja-Jadi, Gol D. Ace menikahimu, Luffy?" Nami benar-benar syok kali ini. Tak menyangka bahwa motif Ace membeli kawannya ternyata seperti itu. Usopp tampak mengusap parasnya dengan kain serbet. Pemuda itu benar-benar sewot.
"Kau ini apa-apaan, Nami! Menyemburkan air ke wajahku segala!"
"Ah, ma-maafkan aku, Usopp. Aku terlalu kaget tadi." Gadis yang menjadi istri sah dari pemilik Baratie itu lekas membantu membersihkan paras Usopp dengan kain serbet. Luffy mulai cemberut dengan segenap keraguan kawannya.
"Aku serius! Kalau kalian tak percaya, kalian lihat saja ini, ne!" Jemari milik Luffy tampak mengeluarkan sebuah foto yang ada di dalam dompetnya. Lekaslah ia letakkan potrait foto itu di atas meja agar ketiga kawannya bisa melihat dengan seksama. Dalam foto itu, terlihatlah seorang Gol D. Ace dengan balutan jas hitam pernikahan yang begitu rapi dan juga seorang Monkey D. Luffy yang tampak berdiri di samping bisnisman itu dengan mengenakan...
"GAUN PENGANTIN!" Usopp dan Nami mendadak tepar ke bawah dengan tidak elitnya. Robin hanya menggemakan tawa melihat reaksi itu. Semburat merah menjalar di paras Luffy.
"Me-Memangnya kenapa jika aku memakai gaun pengantin? Ini tidak lucu, tahu!" Barang lelang milik Gol D. Ace itu mulai cemberut seraya melipat kedua tangannya. Dengan senyum tipis, Robin menggelengkan kepalanya.
"Ini memang tidak lucu, tapi jujur saja, kau terlihat cantik dan manis jika mengenakan gaun pengantin, Luffy-san."
"Hiiiieee!" Luffy melotot syok. Semburat merah di parasnya semakin bertambah pekat. Curiga, Usopp menghujamnya dengan pandangan skeptis.
"Tak kusangka, Luffy. Kau meminta gaun pengantin untuk acara pernikahanmu..."
"Bu-Bukan begitu, Usopp! Ace yang menyuruhku untuk mengenakan gaun pengantin! Padahal aku sudah bersikeras untuk menolaknya. Tapi tetap saja dia memaksa! Aku benci dengan gaun pengantin. Berkali-kali aku tersandung hanya karena roknya yang terlalu panjang, ne!" Protes Luffy, sewot.
"Yang dikatakan Luffy sepertinya benar, Usopp. Dia tak akan mungkin meminta gaun pengantin sebagai busana pernikahannya. Pasti ini adalah bagian dari fantasi Gol D. Ace. Tak kusangka ternyata dia adalah orang yang seperti itu..." sebongkah keringat jatuh di samping kening Nami. Gadis itu lantas menatap lagi gambaran foto pernikahan Luffy. "Tapi aku setuju dengan Robin. Kau terlihat cantik dan manis dengan gaun pengantin, Luffy. Lelaki manapun bisa mendadak gay jika melihat foto ini..."
"Ah, sudah! Jangan mengataiku cantik dan manis terus-menerus! Aku ini bukan wanita!" Pemuda bermata obsidian itu lekas mengambil kembali foto pernikahannya dengan terburu-buru. Malu. Luffy sedikit merasa salah tingkah. Ketiga kawannya hanya tertawa melihat geliat itu.
"Wah, berarti sekarang namamu bukan Monkey D. Luffy lagi. Tapi Gol D. Luffy! 'Istri' sah dari Gol D. Ace! Sebuah nama marga yang cocok sekali untukmu, Luffy! Fuhuhuhu! Aku turut senang atas semua ini," Nami menepuk kedua telapak tangannya dengan pelan. "Aku sungguh tak menyangka bahwa kau akan menjadi orang kaya seperti ini!"
Robin mengulum senyum tipis. "Dan sang tinju api juga merupakan seorang pendamping yang sangat cocok dan serasi untukmu, Luffy-san. Hanya seorang pria yang kuat dan tangguh seperti dia yang bisa menaklukkan perangai liarmu."
"Tak ada yang menyangka. Putra dari kriminal berbahaya, Monkey D. Dragon akan berjodoh dengan putra dari Gold Roger, bangsawan terkaya di South Blue. Ini sungguh mengejutkan," gumam Usopp singkat. Luffy hanya membenamkan parasnya di hamparan meja seraya menggeram pelan.
"Sudahlah, teman-teman. Jangan bicarakan hal ini lagi, ne..."
"Kenapa tidak? Topik ini sungguh sangatlah menarik untuk kita perbincangkan, Luffy! Kami bahkan penasaran. Bagaimana kau menjalani hari-harimu sebagai orang yang sudah memiliki suami? Dan bagaimana kau melayani kebutuhan suamimu. Ayolah, Luffy~ Ceritakan pada kami! Ya! Ya!" Nami tertawa kecil. Gadis itu seakan memiliki spekulasi bahwa hari-hari yang dijalani Luffy pasti akan penuh dengan kejutan. Mengingat Luffy adalah seorang pemuda yang begitu polos dan ceroboh. Kejadian konyol pasti tak akan lepas dari putra Dragon itu.
Usopp bahkan tampak menyeringai. "Hahahaha... aku ragu. Apa kau bisa melayani suamimu, Luffy? Apa kau sudah tahu tentang hal-hal yang seperti 'itu'?"
"Ah, Usopp! Jangan menghina Luffy seperti itu! Sindiranmu terlalu menohok, tahu!"
"Hei, aku hanya bercanda saja, Nami! Tak perlu marah begitu 'kan?" sungguh, mereka tak pernah menyadari bahwa hal itu berimplikasi pada Luffy.
Pernyataan Usopp seakan menjadi sebuah tombak tajam yang menembus tepat di pelipis intuisi pemuda bermata obsidian itu. Ia tertunduk. Baiklah. Kawannya itu mungkin hanya berniat untuk bercanda. Namun ironisnya, candaan itu merupakan sebuah realitas yang sesungguhnya.
Robin tampak menautkan kedua alisnya melihat panorama janggal itu. "Ada apa, Luffy-san?"
"Yang dikatakan Usopp itu benar. Sampai saat ini, aku masih belum mampu... untuk melayani Ace."
Hening.
Tak ada tanda-tanda bahwa Luffy sedang main-main. Putra Dragon itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Hal itu membuat rasa bersalah mencercah nalar Usopp secara bertubi-tubi. Nami melayangkan tatapan tajam ke arah pemuda berhidung panjang itu.
"Ah, ma-maafkan aku, Luffy. Aku sungguh tak bermaksud untuk-"
"Tak apa-apa, Usopp. Aku mengerti," seutas senyum disimpulkan Luffy secara tipis. Meski pemuda itu mencoba ceria, tetap saja ada kilat sendu di balik kedua obsidian itu. Putra dari Monkey D. Dragon itu menyibakkan pandangan ke samping. "Semenjak Ace berkata bahwa ia ingin mencintaiku dan menikahiku, aku sungguh ingin membalas perasaannya padaku, ne. Aku ingin melayaninya. Tapi... aku tak tahu bagaimana caranya. Aku masih... ragu."
"Luffy..." ada guratan iba yang terpapar di paras Nami. Usopp dan Robin juga terhanyut dalam rasa simpati. Mereka tak menggemakan frase untuk sesaat. Luffy menangkap itu sebagai tanda untuk melanjutkan penjelasannya.
"Ace sangat baik padaku. Ia memberiku segalanya. Ia selalu melindungiku. Ia bahkan menuruti semua permintaanku, ne. Ia juga menghargai ketidaksiapanku ini. Ia bersedia untuk menunggu..." pemuda itu tampak mendekap dirinya sendiri. "Sungguh, aku tak pernah mendapatkan master sebaik ini dalam hidupku. Baru kali ini ada seorang master yang ingin... mencintaiku."
Penjelasan itu membuat Nami tersenyum. "Seperti yang pernah kubilang dulu, Luffy. Kelak kau akan mendapatkan seorang master yang mencintaimu dengan segenap hatinya. Dan aku yakin. Gol D. Ace adalah pria yang ditakdirkan untukmu. Kalian sudah digariskan untuk bersama."
Luffy hanya membisu mendengar itu. Meresapi baik-baik apa yang sudah dikatakan Nami. Peluang teori itu menjadi nyata begitu besar. Probabilitas itu bisa saja terjadi.
Gol D. Ace bener-benar merupakan jodohnya.
Dan Robin pun mencoba untuk menghunus pemuda itu dengan sebuah tombak tanya kepastian.
Sebuah tombak tanya yang membuat Luffy terbelalak.
"Luffy-san, apa kau sangat menyukai suamimu?"
Bibir Luffy seakan bergetar saat mengguratkan jawaban, "te-tentu saja aku sangat menyukai Ace! Ia sudah memberikan segalanya padaku. Aku... aku tak ingin jauh darinya! Aku sangat sayang padanya."
Ketiga kawannya tersenyum mendengar itu. Nami kembali menopang dagunya. "Kalau begitu, apa yang kau ragukan, Luffy? Jika Ace sangat berarti bagimu, kau pasti bisa membalas dedikasi dari master-mu itu 'kan?"
Berkata memang sungguh mudah. Tapi realisasinya? "Aku tahu itu, Nami. Tapi... A-Aku masih ragu, ne. Aku ragu jika perasaanku pada Ace tidak sama besarnya dengan yang Ace rasakan terhadapku. Ia begitu perhatian padaku. Dan aku... aku bingung harus membalas perlakuannya seperti apa. Aku ingin mencintainya juga tapi... aku tak tahu caranya."
Putra Dragon itu tampak membuang pandangan ke samping. Tak dapat dinafikkan bahwa ada semburat merah di parasnya. Walau bagaimana pun juga, Luffy hanyalah pemuda biasa yang bisa merasakan berdebar-debar dan pergolakan perasaan. Tak bisa dipungkiri, membicarakan Ace selalu membuatnya bertingkah seperti ini. Sedikit gelagapan, mencoba menyembunyikan rasa malu. Berusaha tenang dibalik kerasnya debaran jantung miliknya. Tapi geliat itu tetaplah kasat di mata kawan-kawannya.
Luffy hanyalah seorang pemuda polos yang terkadang tak mengerti dengan apa yang sudah ia rasakan sendiri.
Hasrat itu semakin besar dan terkadang putra Dragon itu tak menyadarinya.
Clueless.
Ah, mungkin itulah sebuah gambaran yang tepat untuk mewakilkan bagaimana prasasti diri dalam kepribadian anak itu.
Nami hanya tertawa dengan semua itu. "Hahaha! Dasar bodoh! Apa kau tak sadar, Luffy? Kau itu sudah sangat mencintai suamimu. Cinta itu tak perlu diukur kadarnya. Tak ada alat pengukur untuk perasaan itu. Berbeda dengan uang yang bisa kita hitung nominalnya," gadis itu lekas bersandar di hamparan kursinya. Atensinya kembali berfokus pada Luffy. "Yang perlu kau lakukan adalah merasakannya dan melimpahkannya pada orang yang kau kasihi, Luffy. Biarkan intuisi yang membimbingmu."
"I-Intuisi?" putra Dragon itu mulai bertampang bingung, tak mengerti. Usopp tampak menghela napasnya.
"Hah, sudahlah. Lebih baik kau rasakan dan turuti saja instingmu, Luffy. Jika kau ingin melakukan tindakan 'ini' pada suamimu, maka lakukanlah. Tak perlu kau tahan lagi."
"Tindakan 'ini'?"
"Benar. Misalnya saja pelukan? Jika kau ingin memeluk suamimu maka peluk saja dia. Kau tak perlu ragu. Lakukan saja seperti biasanya. Toh, kau menghajar preman juga tak bilang-bilang dulu. Langsung main hajar saja," jelas Usopp dengan kedua tangan bersila di dada. Robin mengangguk setuju dengan saran itu.
"Yang dikatakan Usopp-san itu benar. Jika kau ingin membalas perasaan master-mu, tunjukkan saja dengan perhatian dan perlakuan yang sederhana. Seperti pelukan atau ciuman? Aku yakin, lama-lama, kau pasti akan siap untuk menginjak 'step' yang lebih tinggi lagi, Luffy-san."
"Ya. Nikmati saja alurnya, Luffy. Jika kau sudah terbiasa dengan kontak fisik sederhana itu, kau hanya tinggal melihat kamus kamasutra saja untuk mendapat pengetahuan tentang 'step' kontak berikutnya," tambah Nami penuh percaya diri. Mencoba untuk menalar semua penjelasan itu, Luffy pun refleks menggaruk belakang kepalanya.
"Ka-Kamasutra? Apa itu?"
Hening.
Sebongkah keringat mendadak jatuh di samping pelipis ketiga kawannya.
"Ah, sudahlah. Sepertinya untuk 'step' itu, biar suamimu saja yang mengajarimu langsung, Luffy. Yang jelas, ikuti saja intuisimu. Cintai master-mu dan nikmati alurnya."
~AxL~
"Bagaimana? Tadi kau sudah bertemu dengan kawan-kawan lamamu?"
"Ah, iya. Sudah. Acara reuninya berjalan dengan lancar, ne."
"Oh. Baguslah jika begitu."
.
.
Ada raut kelegaan di paras Ace saat mengetahui akan hal itu. Bisnisman itu kini terlihat terduduk di sofanya dengan jemari yang masih setia berkutat pada koran yang ia baca. Luffy terlihat duduk di sampingnya. Putra Dragon itu lantas melontarkan cengiran padanya.
"Terima kasih karena kau sudah mengijinkanku untuk bertemu dengan teman-teman lamaku, Ace. Para master-ku terdahulu tak pernah mau mengijinkanku untuk bertemu siapapun. Menyebalkan." Gurat cemberut terukir di paras Luffy. Ace hanya tersenyum mendengar itu.
"Tak masalah, Luffy. Selama kau tak lepas dari pengawasan para bodyguard-ku, kau kuijinkan untuk pergi ke mana saja. Aku tak berhak mengekangmu. Kau itu bukan budak. Dan lagi, kau juga sudah menjadi 'istri'ku. Sudah menjadi tugasku untuk membuatmu bahagia." Pernyataan itu membuat semburat merah menjalar di paras Luffy. Pemuda itu hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepalanya.
Hening.
Selalu saja begini. Jika subtansi dari poin pembicaraan mereka telah selesai disampaikan, pasti akan sulit untuk mencari topik pembicaraan yang lain. Hal itu bukan karena mereka berdua adalah orang yang pasif. Bukan itu. Namun, karena... hawa canggung itu masih saja terasa meski mereka sudah tinggal bersama selama sebulan lebih. Dan hal itu sungguhlah wajar.
Ace adalah seorang workaholic yang cukup sibuk. Ia jarang menghabiskan waktunya di rumah. Menjadi seorang bisnisman muda nan sukses yang memiliki banyak perusahaan di berbagai belahan dunia sungguh mampu untuk menyita waktunya. Belum lagi jika ia mendapatkan misi sebagai mafia dalam organisasi Shirohige. Tentu, hal itu akan menjadi sebuah dinding penahan yang cukup mampu untuk membuatnya tak bisa menginjakkan kaki di rumah lebih lama lagi.
Waktu luang bagaikan sebuah harta bagi Ace. Jika ia memiliki senggang waktu, ia pasti akan menghabiskan waktunya itu dengan berada di dekat Luffy seperti saat ini. Meski mereka hanya diam saja, hal itu bukanlah masalah untuk Ace. Melihat sosok dari sang 'istri' yang sangat ia cintai itu sudah mampu membuat ombak euforia menenggelamkan nalarnya.
Meski ia tak dapat menyentuh Luffy sekalipun, tak masalah. Ia tak ambil pusing dengan hal itu.
Dan hal itu berbanding terbalik dengan Luffy.
Wajarnya, sebagai seorang 'istri' yang baik, sudah seharusnya ia menyambut kedatangan suaminya, memanjakan tubuh lelah pendamping hidupnya itu dengan pijatan atau mungkin... melayani 'kebutuhan'nya yang lain. Kontak fisik misalnya. Menunjukkan perhatian tidaklah cukup dengan bersilat lidah menggemakan frase kosong. Realisasi berupa tindakan itu sangatlah perlu untuk menjadikan bukti akan adanya rasa cinta di antara mereka menjadi semakin maujud.
Dan Luffy tak pernah memberikan kontak fisik terdekat itu pada Ace. Jika mereka melakukan kontak fisik, pastilah Ace yang memulai dulu. Dengan respon Luffy yang serba bingung dan tak paham, master-nya hanya dapat terkekeh dan langsung menyudahi simbolik perasaannya itu. Pria itu juga pasti mati-matian menahan hasratnya. Lebih baik ia yang tersiksa daripada Luffy yang merasakan sakit.
Tapi sudah cukup.
Luffy tak akan membiarkan genangan klise itu berjalan statis tanpa perubahan. Sudah saatnya ia bertindak. Ia tak ingin membuat master-nya menunggu lama.
Ia ingin membuktikan bahwa ia sungguh layak...
Menjadi 'istri' dari seorang Gol D. Ace.
"Luffy? Apa yang kau lakukan? Hei-" Ace terhenyak di saat putra Dragon itu mulai meremas koran yang ia bawa dan lekas naik di atas pangkuannya. Luffy melempar koran itu jauh-jauh dan melingkarkan kedua tangannya di leher Ace. Sang master terbelalak kaget melihat itu.
"Hei, kenapa koranku kau buang?" bingung dengan sikap Luffy, Ace hanya dapat mengerutkan dahi saat melihat tatapan yang dilayangkan sang 'istri' terhadapnya. Luffy membisu sesaat, seakan menimbang-nimbang sesuatu. Sebulir keringat tampak mengalir di samping kening Ace. Was-was.
"Luffy? Kau kenapa?"
.
.
"Yang perlu kau lakukan adalah merasakannya dan melimpahkannya pada orang yang kau kasihi, Luffy. Biarkan intuisi yang membimbingmu."
"Hah, sudahlah. Lebih baik kau rasakan dan turuti saja instingmu, Luffy. Jika kau ingin melakukan tindakan 'ini' pada suamimu, maka lakukanlah. Tak perlu kau tahan lagi."
"Yang dikatakan Usopp-san itu benar. Jika kau ingin membalas perasaan master-mu, tunjukkan saja dengan perhatian dan perlakuan yang sederhana. Seperti pelukan atau ciuman? Aku yakin, lama-lama, kau pasti akan siap untuk menginjak 'step' yang lebih tinggi lagi, Luffy-san."
"Ya. Nikmati saja alurnya, Luffy. Jika kau sudah terbiasa dengan kontak fisik sederhana itu, kau hanya tinggal melihat kamus kamasutra saja untuk mendapat pengetahuan tentang 'step' kontak berikutnya,"
.
.
Pemecahan yang diberikan oleh kawan-kawannya terus terngiang dalam labirin penalaran Luffy. Intuisi. Meski ia tak mengerti apa maksudnya, namun ia bisa merasakan bahwa ada sebuah keinginan yang terjerit dari dalam benaknya. Ada sebuah pergolakan hasrat yang besar. Sebuah pergolakan hasrat yang membuatnya tak bisa menahan diri di saat kedua obsidiannya telah menatap sosok bingung Ace. Pria tampan yang ada di hadapannya itu adalah suaminya. Seorang suami yang sudah digariskan menjadi sesosok insan penopang bara cintanya.
Luffy tak akan menahannya lagi.
Apapun konsekuensinya, ia hanya dapat bertaruh... pada hal ini.
"Ace."
"Luffy, kau ke-mmmmppphhh!" Sebuah kontak yang sukses membuat jantung seakan meledak. Luffy tiba-tiba menghantamkan parasnya di paras Ace. Syok. Sang bisnisman itu begitu syok dengan apa yang terjadi. Benturan antar dua wajah itu begitu keras. Begitu keras hingga menimbulkan rasa sakit di wajah Ace. Bibir mereka sudah saling bertaut rapat. Sesak. Hamparan paras Ace serasa panas dan ia harus segera menghentikan semua ini.
"Mmmhhh! Lu-Luffy, apa yang kau lakukan!" Dengan cepatnya, Ace lekas mencengkram bahu Luffy dan menjauhkan pemuda itu darinya. Luffy terhenyak, bingung saat menatap sang master yang sudah tampak mengusap hidungnya. Paras pria itu merona merah. Belum sempat Luffy berkata lebih jauh, suaminya itu sudah membungkamnya dengan pernyataan skeptis.
"Apa yang baru saja kau lakukan itu, Luffy! Kau ingin meremukkan hidungku, hah!" Sungguh, benturan itu membuat hidung Ace terasa nyeri. Wajahnya seakan terhantam dengan palu. Ia tak habis pikir, mengapa Luffy tiba-tiba berbuat seperti itu.
Dan sang tersangka dari aksi itu terlihat menunduk dengan raut muram.
"Aku... hanya ingin menciummu, Ace."
"A-Apa?" sebuah pengakuan jujur yang membuat Ace terperangah. Apa ia tak salah dengar? Luffy ingin menciumnya? Jantungnya berdebar tak karuan dengan segenap realita itu. Luffy tak menunjukkan adanya tanda-tanda bahwa ia sedang bercanda.
"Me-Menciumku?"
"Benar. Apa tindakanku ini salah, Ace?" Luffy kembali bertanya dengan serius. Tidak. Tindakan barang lelangnya itu tidaklah salah. Justru inilah yang sudah lama ditunggu oleh Ace. Tapi tetap saja semua ini sulit diterima oleh rasio bisnisman itu. Sejak kapan 'istri'nya itu mau memantapkan diri untuk melakukan kontak fisik seperti ini dengannya? Bukannya Ace tak senang dengan transisi ini. Hanya saja semua ini masih terasa tak nyata. Masih terasa seperti delusi.
Tapi ini bukanlah sekedar imajinya saja.
Putra dari Monkey D. Dragon itu benar-benar tulus dengan apa yang sudah ia perbuat.
"Kenapa... tiba-tiba kau...?"
"Aku ingin membalas perasaanmu, Ace. Aku ingin mencintaimu." Cukup sudah. Pengakuan itu seakan membuat sekujur tubuh Ace gemetar. Sebuah pengakuan yang ia dambakan semenjak ia menikahi Luffy. Ia rela menunggu selama apapun sampai Luffy mau membalas perasaannya. Dan titik penantian itu telah berakhir di saat ini juga. Ternyata Tuhan tak sekejam itu padanya. Takdir tak membiarkannya menunggu lebih lama lagi.
Luffy sudah mencintainya.
Impiannya pun terwujud.
"Kau tak perlu memaksakan diri untuk menciumku jika kau ingin membuktikan bahwa kau mencintaiku, Luffy..." pandangan obsidian Ace tampak melembut. Ada bulir euforia yang tak dapat disembunyikan lagi dari dalam dirinya. Ia begitu bahagia. Dan Luffy pun menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah memutuskan, Ace. Aku ingin menciummu dan belajar untuk... 'melayanimu'. Aku benar-benar ingin mencintaimu, ne." Pernyataan itu membuat Ace menyeringai. Lekas ia topang dagu Luffy dan menengadahkan paras putra Dragon itu padanya.
"Jika kau ingin menciumku, kau harus melakukannya secara perlahan-lahan, Luffy..."
"Perlahan... lahan?" dan Luffy sudah tak mampu berkata lebih jauh lagi di saat Ace telah menautkan mulut mereka satu sama lain. Bisnisman muda itu menyematkan jemarinya pada untaian helai rambut raven Luffy, meremasnya dan semakin menghimpitkan paras pemuda itu pada parasnya. Tanpa cela sedikitpun. Tidak. Tak boleh sampai ada cela dalam kontak itu. Harus benar-benar terhimpit lekat. Ini memang terlihat rakus, tapi Ace sudah terlalu lama ingin mencumbui mulut mungil dari putra Dragon itu.
"Mmnnhh..." erangan pelan termuntahkan dari mulut Luffy. Terutama di saat Ace telah menikamkan lidahnya untuk menerobos masuk tanpa pandang bulu. Pria itu menginginkan tahta invasi. Syok. Kedua obsidian Luffy terbelalak lebar. Refleks, ia membuka mulutnya yang terkatup rapat secara perlahan. Dan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, lekaslah Ace menghunuskan lidahnya untuk membelit lidah Luffy sedalam mungkin.
"A-Ace-Aahhnn... Nnhghh!" Semilir desahan sang 'istri' membuat Ace seakan hilang kendali. Paras pemuda itu sudah tampak semakin memerah. Panas. Lidah mereka terus beradu sengit. Dengan lelehan saliva yang terus berguguran dari sudut mulut mereka. Sungguh tak peduli. Mereka masih tak ingin euforia ini berhenti. Meski napas semakin tersengal berat dan sudah ada di ambang batasnya. Mereka tak peduli. Kontak memabukkan itu sungguh bagaikan ekstasi yang mampu membutakan rasio.
"A-Ahhh... hahhh..." kontak terputus sesaat. Luffy yang memutusnya. Pemuda itu menyibakkan parasnya ke samping dan mencoba mengatur olah napasnya. Parasnya memerah panas. Pasokan oksigen menjadi prioritasnya saat ini. Dadanya terasa berat. Dan belum sempat ritme napasnya menjadi teratur, Ace sudah kembali menengadahkan wajahnya dan menciumnya lagi. Lebih dalam dari sebelumnya.
Lemas. Kontak itu sungguh terlalu memabukkan. Membuat sekujur tubuh Luffy lemas tak berdaya. Membuat Ace melebur dalam hilangnya kontrol diri. Putra dari Dragon telah mengalami kekalahan mutlak dalam peperangan hasrat itu. Setelah beberapa saat bertahan, mulutnya pun telah sukses terjajah dengan lalimnya. Lidah yang membelitnya itu masih tak menunjukkan tanda-tanda belas kasihan sedikitpun. Ace semakin menekannya dengan ganas hingga Luffy tak dapat berkutik lagi.
"Aakkhh... hgghhn... hahh..." intens mengerang dan sesekali hampir terbatuk karena jajahan lidah mengganas itu, jemari milik Luffy tampak tersanggah di bahu Ace. Sebagai penopang agar ia bisa bertahan. Sekujur tubuhnya gemetar. Pasokan udara kembali memaksa untuk dijadikan sebagai prioritas utama. Luffy sudah hampir tak bisa menahannya lagi. Beruntung hukum udara itu masih berlaku pada Ace. Suaminya lantas menghentikan aksinya dan melepas belitan lidah mereka. Napasnya memburu. Sama-sama membutuhkan oksigen.
Suara napas tersengal. Hawa panas. Dan mulut keduanya yang menganga, menampakkan benang saliva yang memanjang, mengikat ujung lidah mereka. Gambaran itu adalah sebuah bukti bahwa mereka telah berhasil melakukan ritual pertautan mulut itu. Luffy mulai menyentuh dadanya yang berdebar kencang dan mengusap mulut beserta dagunya yang sudah basah akan saliva implikasi dari kontak itu. Ace juga melakukan hal yang sama. Keduanya terdiam untuk sesaat, masih mencoba mengatur napas.
"Hahh... hhh... A-Ace... i-ini..."
"A-Ada apa, Luffy? Apa kau belum pernah melakukan hal ini sebelumnya?" Ace bertanya di sela-sela ritme napasnya yang masih tak teratur. Masih dengan semburat merah di parasnya, Luffy menggelengkan kepalanya dengan singkat.
"Be-Belum, Ace. Beberapa master-ku mencoba menciumku dan memperlakukanku dengan tak senonoh. Tapi aku selalu berhasil menghindarinya. Ciuman ini... baru kau yang menciumku bibirku sampai seperti ini. I-Ini juga merupakan ciuman... pertamaku." Putra Dragon itu tampak tertunduk. Sedikit merasakan gugup yang tak dapat dijelaskan alasannya. Suaminya itu hanya tersenyum. Jemarinya lantas membelai hamparan pipi Luffy dengan lembut.
"Apa kau menyukainya?"
"Eh?"
"Apa kau menyukainya, Luffy? Ciuman pertamamu... kurenggut dengan cara seperti ini." Mendengar itu, Luffy kembali memalingkan pandangan ke samping.
"Aku tak keberatan, Ace. Aku hanya ingin kau saja... yang melakukan hal ini padaku. Karena Ace adalah suamiku. Orang yang ingin kucintai..." sang bisnisman hanya terkekeh mendengar itu. Lekaslah ia mencium hamparan pipi Luffy dengan lembut dan berbisik singkat di telinga pemuda itu.
"Ini baru awalan saja, Luffy. Jika kau sudah siap untuk kusentuh lebih dari ini, datanglah padaku. Di saat itulah kita akan melangkah ke jenjang kontak yang lebih tinggi lagi... sebagai suami istri."
TBC
A/N: WTF? Saya janjiin bakal ada scene SMUT/Lemon implisit di fic ini. Tapi kenapa kissing scenenya eksplisit begini? Mana panjang pula... #Geplaks. Oh well. Tenang aja. Lemonnya tetep implisit kok. Aku gak bisa bikin lemon eksplisit. Tidak mampu Orz. Kemungkinan chapter depan itu chapter terakhir. Nih fic udah masuk kategori PWP deh...
Balasan Review:
Mizu no Kakera: Setengah triliun kan senilai 500 miliyar. Jadi nolnya masih 9. Klo udah masuk triliun nolnya udah 12. Hahaha! Lemonnya mungkin di chapter depan. Thanks ya reviewnya~
Micon: Hahaha! Thanks pujiannya. Mau alamat FB saya? Add aja. Pennamenya The-Reverend Messiah-Sullivan. Arigato reviewnya~
Kim D. Meiko: Hahaha! Iya, nih. Berhubung fic ini cuman berupa threeshot-an. Jadinya si Ace mendadak langsung ngelamar nikah gitu #Geplaks. alasan gak logis. Hahaha! Coba klo nih fic multichap panjang, pasti D-Brothers itu gak langsung fall in love gitu. Tapi hate-hate dulu. Tapi karena ini PWP, jadi, langsung aja tancep gas~ #plaks! Thanks ya reviewnya~
Lovely Orihime: Makasih buat pujiannya! Ikutin terus ya! ^^ Arigato~
Blooooodless: Ah, are you understand Indonesian language? Thank you for your review. ^^
Demon D. Dino: Acenya tahu kok kalo Luffy tuh cowok. Itu gaun pengantin dianya iseng banget. hahaha! Thanks reviewnya!
manusia semelekete: Udah saya lanjutkan ficnya~ Hehehe... Thanks reviewnya!
Aoi LawLight: Hahahah! Pertemuan mereka emang rada heboh ya? Thanks ya reviewnya! xD
Pearl Victory: Hahaha... jus lemonnya ada chapter depan, hon. Bukan di chapter ini. Trus yang kompetitor pelelangan juga gak terlalu kubahas karena nih fic fokusnya mungkin PWP. Thanks ya reviewnya~ x)
via-sasunaru: Kenapa Zoro tidak dengan Sanji? Itu karena saya pengennya yang reuni sama Luffy itu Usopp, Nami dan Robin #Geplaks. Thanks reviewnya!
Domi: Hahaha... ada sih gangguan Teach di chap ini. Tapi cuman sebatas siluet gini. Aku gak terlalu dalemin Teachnya juga. Karena takutnya, kalau aku dalemin, pasti plotnya bakal berkembang dan nih fic bisa jadi multichapter panjang. Jadinya ya, gini nih. Menjelma jadi PWP. Thanks ya reviewnya!
eleamaya: Pengennya juga gitu, kak. Ide awalku ini fic sebenernya multichapter panjang. Dimana si Ace beli Luffy karena kasihan. Dan gak langsung fall in love gitu. Tapi karena aku lagi males nambah hutang fic multichap (Fic Undercover Rockstar aja belum selesei), jadinya nih fic kuubah jadi fic PWP. Hahaha... Thanks reviewnya!
Vii no Kitsune: Ini udah panjang belum? #Plaks. Hahahaha... nih fic pendek kok. Jadi kalau untuk gangguang Teach, Boa dll kayaknya gak terlalu kudalemin. Chapter depan mungkin chapter terakhir. So, ikutin aja. thanks reviewnya!
Scarlet Natsume: Iya, ya? Rada mirip ama fic YGOmu yang itu. Aku gak pernah bikin fic setting jual beli begini. Jadinya ya iseng aja sekali-kali bikin begini. Oh ya, Luffy gampangan? Mungkin karena ini ide fic multichap yang ku-rush jadi PWP? Sbnrnya Luffy gak segampang itu sih. Kalo aku masukin proses developmentnya pasti nih fic bakal jadi multichap panjang. Karena aku males nambah hutang, jadinya nih fic kujadiin PWP aja. Thanks ya reviewnya!
ag-stalker: Wkwkwkwkwkw... AceLu emang selalu unyu ya? xD Thanks ya reviewnya!
At last, if you don't mind, REVIEW please~ Arigato~
