Halo!

Terima kasih atas review yang kalian berikan ;; (Akira Kuroba, Chicken Vulpes, Leomi no Kitsune, ichigo, Chic White, Shigure, Tsukiyomi Sirayuki, IcaRosica, dan Shinju Yoichi)

Cerita ini dibuat lebih pendek supaya update-nya bisa lebih teratur. Semoga kalian terhibur :')

Warning: Hint pairing and pieces of puzzles to solve!

Disclaimer: D.C/Case Closed bukan milik penulis dan merupakan sebuah mahakarya dari Gosho Aoyama, di sini penulis hanya memiliki hak penuh atas fanfic ini dan akun di mana fanfic ini berada.


.

.

Door #2 Knock First

Let the doors be shut upon him, that he may play the fool no where but in's own house.

—William Shakespeare, Hamlet

.

.

Semua orang pernah mengatakan padanya betapa mereka membenci caranya menyelidiki lawan bicaranya hanya dengan sepasang bola mata. Mereka bilang itu menyebalkan, membuat risih, menakutkan, mengganggu privasi.

Ia tahu itu dan mengakuinya.

Hanya dengan sepasang bola mata yang bermahkotakan iris biru secerah langit di musim panas ia menyelidiki lawan bicaranya. Memerhatikan setiap detail pada tubuhnya, gerak-geriknya, dan mencoba membongkar kebenaran yang ditutupi kalimat manis.

Sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa hilang.

Tetapi, ia tidak pernah menyangka bahwa hal itu bisa seMENYEBALKAN ini.

"Ruam merah itu," jeda sesaat, "dimana kau mendapatkannya?"

Sebelah alis Shinichi terasa berdenyut.

Lawan bicaranya mungkin tidak bisa melihat bagaimana ia menggigit mulut mug berisi kopi yang sejak 3 menit lalu menempel pada bibirnya.

Ya, saat ini fokus pria yang memaksa untuk disapa Nano itu tertuju pada leher Shinichi yang dipenuhi ruam merah dan terasa sangat gatal.

"Serangga," jawabnya pelan. "Aku menginap di pos polisi dan lokasinya sangat dekat dengan sawah."

Nano hanya mengerucutkan bibirnya sambil mengangguk. Setelahnya ia menambahkan, "kau yakin bukan seseorang yang menggigitmu? Seseorang yang tinggal bersamamu misalnya."

"A-!?"

"Maksudmu aku?" tanya seseorang dari balik punggung sofa yang diduduki oleh Shinichi. Tidak lama setelah pertanyaan itu terdengar, seorang remaja laki-laki muncul dan menepuk pundak Shinichi yang tersedak. "Pertama kali mereka bertemu denganku mereka mengira aku adalah detektif dan sekarang mereka pikir aku adalah vampir. Shinichi-niichan, kurasa kau harus berhenti mengajakku ke lokasi kejadian."

Shinichi menepuk dadanya untuk terakhir kalinya. Dengan satu hembusan nafas ia merasakan kelegaan setelah mendapatkan kembali nyawanya yang ia rasa hampir melayang karena seteguk cairan hitam favoritnya.

Menoleh kearah remaja lelaki yang menjulurkan kepalanya disampingnya, detektif itu berseru, "Conan? Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau ada latihan?"

Remaja yang disapa Conan itu menggeleng lemah.

"Pelatih membatalkannya. Ia bilang wanita yang bekerja di cafe dekat stasiun menerima tawarannya untuk makan siang bersama. Apa Shiho sudah menyiapkan sarapan?"

Shinichi menggeleng. "Shiho pulang besok. Nakamori-keibu ada di dapur sejak tadi, bagaimana kalau kau melihatnya?"

Remaja itu mengangguk patuh.

Sebelum beranjak dari tempatnya ia memerhatikan polisi yang menjadi lawan bicara Shinichi. Dua pasang bola mata saling menatap satu sama lain dan petugas bernama Nano itulah yang menjadi orang pertama yang mengalihkan pandangannya.

"Kau—ehm, Edogawa Conan, benar? Sepupu jauh dari Kudo-san?"

Shinichi adalah yang pertama kali menganggukan kepalanya.

Remaja laki-laki itu kemudian berkata, "penghuni tetap di rumah ini hanya aku dan Shinichi-niichan. Yukiko-neechan dan Yusaku-jiisan datang sesekali, Shiho datang setiap pagi untuk menyiapkan sarapan—" ia mengecilkan suaranya menjadi bisikan yang bisa terdengar jelas oleh Shinichi. "—yah, walau terkadang ia akan menginap jika Niichan memintanya—" ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "—dan Kaito sudah tidak tinggal disini sejak enam bulan yang lalu."

Shinichi hanya diam saat Conan selesai menjelaskan sementara petugas bernama Nano sibuk mencatat apa-apa saja yang telah diucapkan oleh remaja berusia 13 tahun itu.

Sepertinya ia suka sekali mencatat.

Setiap kata yang ia dengar, setiap benda yang ia lihat, dan setiap gerakan yang dilakukan oleh penghuni kediaman Kudo tercatat dalam buku catatan kecilnya. Melihat hal ini Shinichi hanya bisa bertopang dagu sambil mengingat salah satu mantan rekan kerjanya yang cukup lama tidak ia temui.

"Jadi, Kuroba-san memang pernah tinggal disini?" tanya petugas itu setelah sosok remaja tadi menghilang dari pandangannya. Ia mengangkat kepalanya dari buku catatannya dan menatap Shinichi yang saat itu menjawab dengan sebuah anggukan kepala.

Respon dari Shinichi rupanya membangkitkan rasa penasaran Petugas Nano. Pria itu lantas menggeser posisi duduknya menjadi sedikit lebih condong dan kedua tangan siap mencatat apa yang akan diucapkan lawan bicaranya.

Dengan penekanan di setiap kosakata yang ia ucapkan, Nano bertanya, "apa yang terjadi?"

Satu alis Shinichi terangkat dan kini tersembunyi dibalik helai poninya yang belum ia rapihkan. "Apakah pertanyaan itu harus kujawab?"

Nano mengangguk.

"Bisa saja ia meninggalkan rumah ini karena ia telah mendapatkan apa yang ia butuhkan—informasi permata contohnya? Atau akses masuk kepolisian? Atau bisa saja kesepakatan kerjasama?"

"Hei!"

Shinichi tahu ada yang aneh dengan polisi dihadapannya.

Tidak. Semua kejadian yang menimpanya pagi itu adalah sebuah keanehan.

Pertama, sepasang polisi mengetuk pintunya dengan kekuatan super mereka dan mengganggu tidurnya. Kedua, sepasang polisi itu memberikannya sebuah surat perintah untuk menggeledah rumahnya. Ketiga, Nakamori-keibu tidak ikut serta dalam sesi interogasi dan memilih untuk menetap di dapur. Keempat, petugas baru bernama Nakano Nobuo (Nano) dihadapannya.

Sejak ia datang tingkah lakunya membuat Shinichi merasa terganggu. Setiap pertanyaan yang ia ajukan tidak memiliki dasar yang jelas—Tunggu... Apa tujuannya datang ke kediaman Kudo tadi?

Shinichi bisa mengingatnya dengan jelas bagaimana mereka—Petugas Nano itu terutama—menjawab ketika ia bertanya 'boleh aku tahu atas dasar apa kalian mau menggeledah rumahku?'.

Kurang lebih petugas itu menjawab mereka datang karena mendapati laporan bahwa hang glider Kaito KID mendarat di Kediaman Kudo. Lalu mereka juga mengatakan telah melakukan pengamatan—sejauh apa yang mereka amati, Kaito KID tidak pernah keluar dari rumah besar itu.

Tetapi jika ia menghubungkan semua penjelasan itu dengan percakapan kecil kedua polisi sebelum ia membuka pintu rumahnya, ia memikirkan sebuah kemungkinan yang sangat pahit.

Hipotesis yang telah sejak lama ada namun belum ada bukti kuat untuk membenarkannya.

"Aku paham tujuanmu adalah menyelidiki apakah aku dan Kaito KID bekerjasama atau tidak, tetapi kuharap kau tidak—" dengan cepat Shinichi merapatkan kembali kedua bibirnya.

Tidak, tidak...

Ia tidak bisa sembarangan mengatakan apapun dan membiarkan petugas di hadapannya mendapatkan kepingan puzzle yang mereka butuhkan.

Tahan dirimu, Shinichi... "Maaf, banyak hal terjadi belakangan ini."

Petugas Nano itu mengangguk paham dan nampak tidak mempermasalahkan tinggi nada bicara detektif di hadapannya.

"Ia tinggal disini karena orangtuaku yang memintanya. Akhir-akhir ini ia tidak lagi tidur disini dan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah lamanya."

"Ah, ya," petugas Nano mengetuk pena yang dipegangnya pada pergelangan tangannya. "Semua orang pasti akan merasa rindu jika orang terdekatnya pergi. Lalu, hal apa yang terjadi diantara kalian?"

Orang ini tidak paham, eh? "Bukan hanya diantara kami. Belakangan ini ia mendapat cukup banyak masalah. Pencurian properti pertunjukan, mobil hancur karena ulah penggemar, dan ia harus membatalkan beberapa pertunjukan di luar negeri karena kondisi cuaca. Aku tidak ingin kecurigaanmu—dan semua interogasi ini—pada akhirnya menambah beban pikirannya. Hanya itu."

Petugas Nano lagi-lagi mencatat apa yang Shinichi ucapkan. Setelah selesai mencatat ia nampak mengulas kembali tulisannya dan berpikir sejenak. "Kau tahu dimana ia sekarang, Kudo-san?"

Shinichi sempat ragu untuk sesaat. Dua kali ia melirik ke arah jam dan kalender dalam ruangan itu sebelum ia menganggukan kepalanya.

"Hari ini adalah hari peringatan kematian ayahnya. Saat ini pasti ia sedang mengunjungi makamnya dan baru akan kembali sore nanti."

.

.

.

.

"Aku tidak tahu kau bisa memasak, Keibu-san."

Nakamori tertawa pelan sambil mengusap kepala remaja dihadapannya yang sibuk menyantap menu sarapan yang ia siapkan. "Aku tinggal berdua dengan putriku. Hingga ia berusia 10 tahun aku yang bertugas memasak untuknya. Kau harus belajar memasak, Conan-kun! Gosip yang beredar sepupumu itu sangat payah dalam hal memasak!"

Remaja itu mencibir saat tawa Nakamori membahana dalam ruangan tersebut.

"Itu tidak perlu," jelasnya setelah menenggak cairan nikmat penuh kehangatan itu. "Selama ia tidak memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan Shiho, kami tidak akan kelaparan. Kalaupun berakhir, aku akan menjodohkannya dengan wali kelasku. Ia selalu membawakan nasi kepal saat selesai tes."

Nakamori mengangguk-anggukan kepalanya. Mencoba membayangkan sesosok wanita yang berprofesi guru dan pandai memasak—ditambah dengan hati yang sesuci malaikat.

"Sepertinya pulang dari sini aku harus menelpon Aoko," gumamnya sambil menatap lurus sebuah figura foto pada dinding dapur.

"Kenapa kau tidak ikut menginterogasi, Keibu-san?" tanya Conan kemudian. Ia tidak menatap lawan bicaranya karena sibuk memerhatikan duri-duri pada menu ikan yang ada di hadapannya.

Tunggu!

Kenapa bisa ada menu ikan di kediaman Kudo? Bukankah mahluk satu itu telah dilarang keberadaannya?

"Aku dilarang untuk ikut dalam penyelidikan ini," jawab Nakamori pelan.

Ia menatap lawan bicaranya yang sepertinya terkejut dengan jawabannya lalu menoleh ke arah dimana dua orang tengah berbicara dengan cukup serius.

Satu helaan nafas keluar dari mulut pria berkumis itu.

"Hubunganku dengan Kaito-kun bisa mengganggu objektifitas penyelidikan. Karena itu mereka mengutus Nano-kun untuk menyelidikinya dan aku ikut bersamanya hanya karena ia tidak tahu dimana rumah Shinichi-kun."

Conan menganggukan kepalanya yang juga terarah pada sepasang dewasa di ruang tengah.

Sepertinya pembicaraan mereka cukup serius.

Remaja itu meletakan sepasang sumpitnya di atas mangkuk nasinya. Dengan badan yang sedikit condong ke depan ia menatap Nakamori dengan seksama. Diperhatikannya wajah tua itu seperti apa yang telah diajarkan Shinichi padanya.

Ekspresi, gerak bola mata, kedipan kelopak mata, irama pernafasan, gerak bibir, dan tarikan otot-otot wajah.

Shinichi bilang ia bisa mengetahui isi hati lawan bicaranya jika ia melakukannya. Terbukti beberapa kali ia ketahuan berbohong dihadapan sepupu jauhnya itu.

Setelah menatap selama beberapa menit ia menyerah dan kembali melanjutkan makanannya.

Sepertinya sepupunya itu mengajarkan sesuatu yang mustahil. Ya, anggap saja sudah bakat alami dari Kudo Shinichi untuk membaca pikiran orang.

Hmm.

"Sejak sebulan yang lalu aku mendapat kiriman surat. Entah dari siapa."

"Blackmail?" tanya Conan disela usahanya mengunyah.

Nakamori menggeleng pelan.

"Awalnya kukira itu sebuah lelucon. Surat itu berkata bahwa si pengirim tahu siapa Kaito KID sebenarnya. Lalu, datang surat kedua yang mengatakan untuk segera menangkapnya karena KID sudah didepan mataku."

Conan merasakan keningnya mengerut dan tanpa sadar ia menoleh ke arah Shinichi yang kini sedang menjelaskan sesuatu pada Petugas Nano.

"Apa surat itu bilang kalau Shinichi-niichan membantu KID?"

"Tidak secara gamblang," Nakamori menjawab. "Tetapi di salah satu surat memang disebutkan bahwa KID punya anak buah yang mengumpulkan informasi dan menyiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan. Tidak lama setelah itu aku mendapat email berisi sebuah link, disana ada beberapa foto Shinichi-kun dan foto KID."

"Lalu?"

Nakamori terdiam dan belum mengalihkan pandangannya dari sosok Shinichi. Keraguan mulai menyelimuti wajahnya yang nampak lelah dan ada seberkas raut cemas yang tidak bisa disembunyikannya. Inspektur polisi itu menghelakan nafasnya dan kini menunduk. Menatap lapisan meja marmer yang terasa dingin di kulitnya.

"Apa Kaito-kun sudah tidak tinggal disini?" Tanya pria itu berupaya mengalihkan topik pembicaraan. Ia nampak berusaha terlihat tenang didepan remaja berusia 13 tahun itu.

Conan menyuapkan nasi terakhir ke dalam mulutnya lalu menggeleng pelan. Setelah meletakan sumpitnya ia menjawab, "semua barang-barangnya masih ada dikamarnya. Ia tidur disini hanya saat ia ada keperluan di Beika atau saat libur atau saat ia dan Profesor merencanakan sesuatu."

"Sesuatu?"

"Mesin pembuat popcorn," Conan meneruskan. "Mereka bilang ingin menonton tv tanpa harus mengotori tangan dengan mentega dan karamel. Hasil terakhirnya hanya sebuah ledakan dan pintu rusak."

"A, ah.. Begitu rupanya..." Ujar Nakamori pelan dan entah hanya perasaan saja atau memang ada nada kelegaan dari cara pria berkumis itu menghelakan nafas.

Conan kemudian menumpuk piring kotornya dan menyingkirkannya untuk dibersihkan. Ia tidak berkata apa-apa saat itu, semuanya terdengar tenang—kecuali beberapa seruan terkejut dari arah ruang tengah dimana Shinichi dan Nano berada serta gemeretak suara piring yang ia bersihkan. Oh! juga suara air kran yang mengalir!

Usai membersihkan piringnya, remaja itu kembali bergabung dengan Nakamori. Bersama mereka memerhatikan percakapan antara Shinichi dengan Petugas Nano yang mulai terlihat sedikit memanas.

"Keibu-san, boleh kukatakan sesuatu?" Tanya remaja itu.

Seusai bertanya ia meraih sepiring sarapan yang belum tersentuh, meletakannya di atas sebuah nampan, dan berjalan menuju ambang pintu.

Jam sudah menunjukan pukul 11 dan menurut ingatannya—satu-satunya hal yang bisa ia anggap sederajat dengan sepupu kebanggaannya itu—Shinichi belum makan apapun sejak semalam.

Ia pulang, merayap bagai zombie lalu menyusup ke salah satu kamar (kamar Conan), dan mengigaukan nama-nama makanan dalam tidurnya. Ia juga sempat mengatakan betapa buruknya kualitas nasi di desa terpencil di daerah Tsugaru yang ia kunjungi sehingga pilihan makanan yang ia punya hanya sayuran dan buah-buahan.

Remaja itu merasa beruntung sepupunya tidak mengajaknya ikut serta. Imaji suatu wilayah tanpa makanan layak selalu menjadi mimpi buruknya.

Nakamori tidak menjawab dan hanya memerhatikan sosok remaja dihadapannya.

Sosok itu nampak sangat serius dan jika bukan pengalaman yang berbicara, saat itu ia merasa seperti sedang melihat sesosok Kudo Shinichi beberapa tahun silam. Tepat saat mereka pertama kali bertemu di tengah sebuah kasus pembunuhan.

Wajah muda dan segar yang memancarkan aura kebijaksanaan, ah, berwawasan luas.

Caranya memandang ke depan terlihat fokus. Seperti seekor elang yang menemukan mangsanya dari atas sana.

Benar-benar seperti duplikat dari Kudo Shinichi namun dalam ukuran yang sedikit lebih kecil.

Ah, jika Conan memutuskan untuk mengikuti jejak sepupunya, Jepang akan mendapat gelar negara yang bebas kriminal!

Conan nampak membuka mulutnya dan suaranya terdengar dingin dan mengancam, "jika kau temukan pakaian dalam wanita di kamar Niichan, jangan pindahkan walau hanya satu sentimeter." Ia menoleh ke arah Nakamori dan menyeringai dengan kedua mata membelalak—ugh... "Kau bisa mati karena keracunan."

Eh? Keracunan?

"Shinichi-niichan! Boleh kumakan ikan panggangmu?"


A/N:

Kaito akan muncul di chapter selanjutnya. Don't forget to drop a review, guys! Review-update berbanding lurus, lho! ;)