-HiddeN-

PART 2

KYUMIN PAIRING!

DON'T COPY PASTE! THIS IS MY IDEA!

if you don't like 'the story' or 'KYUMIN' or 'GS', PLEASE... DON'T READ & GO AWAY! OK?!

.

.

owh... sorry, don't copy paste! This is real idea from my mind!

.

.

.

(kalau bisa, bacanya sambil dengerin lagunya Sunny Hill – Once in Summer)

Donghae tak henti-hentinya memandang ke arah luar dari balik jendela apartement di mana Sungmin tinggal. Melihat salju yang semakin sore, semakin lebat saja, membuatnya putus asa. Ia tak mau berperang kembali melawan salju-salju itu. Membayangkan dinginnya saja, bulu kuduknya ikut berdiri. Apalagi merasakan langsung untuk kesekian kalinya? Oh, tidak. Terima kasih.

Tak jauh dari Donghae, Sungmin yang baru saja keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah buku bersampul ungu, tersenyum melihat wajah polos Donghae dari arah samping.

"ada masalah?" ucap Sungmin membuka pembicaraan mereka. Sungmin kini berada di samping kanan Donghae, ikut memandang salju yang turun dari balik jendela.

"ada." Jawab Donghae singkat tanpa melirik sedikitpun ke arah Sungmin.

Sungmin mengernyit. "ada? Masalah apa? Oppa bisa menceritakannya padaku. Mungkin aku bisa membantumu."

Kali ini Donghae menoleh ke samping kanan, di mana Sungmin berada. "begitu ya?" Sungmin mengangguk penuh tanpa harus berpikir.

"kau lihat di luar sana?" Donghae menggerakkan dagunya ke arah luar jendela pada Sungmin. Sungmin mengikutinya.

"Han gang?"

Donghae menghela napasnya pelan namun, terdengar berat. Perlahan, lengan kanannya merangkul pundak Sungmin, membawanya lebih dekat. "Sungminku yang pintarrr… lihat yang ku tunjuk." Kali ini Donghae menunjuknya dengan ibu jari.

"jembatan?" tebak Sungmin polos tanpa dosa.

Raut Donghae sedikit kesal serta mendengus, mendengar jawaban polos dari sang kekasih. "ck, yang putih, Lee Sungmin… yang putih! Bukan Han gang! Apalagi jembatan,"

"kau benar-benar membuatku gemas. Kau ingin aku menciummu, ya?"

Pluk. Buku yang Sungmin peluk sedari tadi, mendarat di kepala Donghae. Begitu cepat.

"hentikan pikiran kotormu, Oppa!"

Buku yang sebelumnya sempat mendarat di kepala Donghae, kini beralih ke tangan sebelah kiri. Tangan kanan Sungmin menyambut lengan Donghae yang masih menggantung di pundaknya. Meraihnya dengan lembut.

"ada apa dengan salju?" lanjutnya. Sungmin berusaha melanjutkan pembicaraannya dengan Donghae.

Donghae diam sejenak. "aniya. Tidak ada apa-apa." Senyumnya mengembang untuk Sungmin.

"aku menginap, ya?"

"oppa ka-upppffttt"

Tangan kiri Donghae yang menganggur, ia segera mengarahkannya cepat, membekap mulut Sungmin. Bukan untuk pertama kali, kedua, ataupun ketiga kalinya. Donghae hafal betul, Sungmin sudah pasti akan menolak permintaannya untuk menginap di apartementnya malam ini. Karena itu, ia segera membekap mulut Sungmin.

"mobilku… ku tinggal di kantor. Ban kanannya bocor. Aku belum menghubungi bengkel karena i-phoneku mati. Kau tahu, aku datang ke apartementmu hari ini dengan bus. Lari melawan salju yang dinginnya bbrrr... ." Sungmin yang awalnya tak suka dengan ulah Donghae yang membekapnya, kini diam pasrah. Mendengar seksama cerita Donghae yang menurutnya'sedih' . Bahkan lebih menyedihkan ketimbang memotong lima buah bawang.

Setelah dirasanya cukup, Donghae melepas bekapannya. "itupun, kalau kau tega melihatku mati kedinginan."

Bibir kanan Sungmin tertarik, membentuk smirk usai mendengar pernyataan Donghae yang sangat berlebihan. Konyol. Yah, Donghae memang seperti itu. Bersikap berlebihan untuk mendapat belas kasih dari orang lain. Termasuk pada Sungmin.

.

.

.

Setelan kemeja putih panjang serta celana hitam panjang, masih melekat di tubuh atletis milik Donghae. Bagian lengannya yang panjang, ia lipat sampai batas siku. Selama ditinggal Sungmin mandi, tubuhnya sedari tadi nyaman bersandar di atas sofa putih yang tepat berhadapan dengan tv, sambil membaca buku yang tergeletak begitu saja di atas meja.

Dengan raut wajah yang terlihat serius, tangan Donghae kembali membuka lembaran-lembaran kertas putih yang di dalamnya terdapat tulisan-tulisan dengan tinta hitam. Sesekali, dahi serta alisnya ikut mengernyit. Merasakan langsung maksud cerita dalam buku tersebut.

"oppa, jangan bilang sore ini kau tak mau mandi!"

Sungmin berdiri di depan pintu kamarnya sambil membenarkan handuk yang membungkus rambutnya yang masih basah. Berharap Donghae menjawab pertanyaannya namun, Donghae tengah sibuk dengan kegiatan membacanya. Dan sepertinya, suara Sungmin yang menyuruhnya mandi itupun, ia tak mendengarnya.

"OPPA…!" Sungmin mengeraskan suaranya.

"eooohh… ." Donghae menjawabnya pelan namun, sangat santai.

Penasaran, Sungmin mendekati sofa putih miliknya. "ah, Oppa membacanya?" ucap Sungmin saat tubuhnya berada dekat dengan Donghae. Kemudian, ia duduk di tempat yang sama seperti Donghae.

"buku apa ini? Tak ada judul ataupun nama penulisnya." Donghae menggerutu. Masih membaca bukunya, tanpa melirik ke arah Sungmin yang duduk di dekat kakinya.

Sungmin memutuskan untuk mengambil remote yang tergeletak di atas meja, dan menyalakan tv untuk mencari acara musik. "itu buku yang sebentar lagi akan terbit,"

"aku penulisnya. Kenapa?" lanjut Sungmin.

Donghae menelan salivanya berat, dan tubuhnya bangkit dari sofa. Sehingga kini, tubuhnya sejajar dengan Sungmin. Duduk di samping Sungmin. "kau menghabiskan waktu malammu hanya untuk membuat cerita murahan seperti ini, chagiya?"

"padahal ceritanya sangat sederhana tapi, kenapa penerbit Dream itu menerima naskahmu dengan mudah?" tanya Donghae tak percaya.

Sungmin menoleh ke arah Donghae yang ada di samping kanannya. "wanita dengan penampilan sederhana, mempunyai hati yang lebih tulus dibandingkan dengan wanita berpenampilan mencolok, Oppa. Begitupun dengan sebuah buku. Cerita sederhana yang mengandung arti akan lebih dipahami pembaca dan mendapat tempat di hati mereka daripada buku dengan cerita rumit tapi, tak mengandung arti." Jelasnya.

"seperti pepatah, don't judge a book by it's cover!"

Sungmin merebut buku tadi dari tangan Donghae, dan menutupnya cepat. Setelahnya, ia menjulurkan lidahnya pada Donghae, 'merong'.

"kenapa kau menutupnya? Aku lupa tadi sudah sampai halaman berapa?!" Sungmin menutup kedua telinganya, menolak mendengar rengekan anak asuhnya, ah, bukan. Kekasihnya.

"ck. Baiklah. Lee Sungmin, bukumu bagus. Tulisanmu rapi. Ceritanya juga sangat menarik. Sangat!" Donghae berusaha untuk membujuk Sungmin.

Cup.

Satu kecupan singkat dari Sungmin mendarat di pipi kiri Donghae. Alat ampuh untuk membuatnya berhenti bicara.

"terima kasih atas semua pujianmu untukku, Oppa." Ucapnya begitu manis.

"kau mengecupku? Kau menciumku?" lirih Donghae tak percaya.

Sungmin menahan tawanya melihat tampang Donghae yang terlihat bodoh. "aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Cepatlah mandi. Sudah hampir malam. Mandi malam tak baik bagi tubuh,"

"dan aku akan menyiapkan makan malam. Oppa ingin ku masakkan apa?" ujar Sungmin sambil beranjak dari sofa putih, tak lupa membawa buku yang sebelumnya dibaca Donghae.

"apa yang kau masak, aku pasti akan melahapnya sampai habis." Jawab Donghae pasti.

Sungmin berjalan ke arah dapur. "ah, sayang sekali, hari ini aku tidak meminta kotoran Heebum. Jadi, aku tidak bisa membuat masakan kesukaanmu, Oppa."

"mworago?!"

.

.

.

Kacamata minus yang menempel di batang hidungnya yang mancung itu, semakin memperlihatkan dan memperjelas bahwa dirinya sangatlah tampan. Kyuhyun, ditemani sahabatnya, Hyukjae, sibuk membuka kertas-kertas yang berasal dari lima buah amplop besar berwarna cokelat. Mereka berdua berada di ruang kerja, apertement Kyuhyun. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.

Beberapa saat, tatapannya berubah tajam. Memandang sebuah amplop dengan nama yang sudah ia kenal sebelumnya. Ia meraihnya. Kemudian, melemparnya ke arah Hyukjae. Ke hadapannya. "untuk yang itu, jadwalkan fan sign bulan depan." Suruhnya tegas, tak terbantahkan.

"bulan depan?"

"bulan depan itu dua minggu lagi, Cho Kyuhyun. Banyak proses yang harus dijalani. Apa tidak terlalu cepat?" Hyukjae menggerutu pada orang yang berada di depannya.

Kyuhyun berjalan ke arah pintu. "itu tanggung jawabmu. Kalau kau dan anak buahmu bekerja cepat, kalian bisa mengejarnya." Tutur Kyuhyun dengan nada yang terdengar santai dan meninggalkan Hyukjae sendiri dari ruang kerja.

Setelah tubuh serta bayangannya menghilang dari balik pintu, Hyukjae melempar kembali amplop besar yang sebelumnya ia terima dari Kyuhyun. Berdecak kesal. Karena lagi-lagi, Kyuhyun selalu menyuruhnya seperti ini. Mendadak. Selalu. Membuatnya kembali berpikir keras untuk menyusun rencana kerja lebih cepat dan merampungkannya dengan sempurna.

.

.

.

Donghae menekan tombol angka di layar touchscreen i-phone putihnya yang baru saja dinyalakan. Tangan kirinya sibuk menggosok kepalanya yang basah dengan handuk.

"Shindong hyung, aku minta tolong agar anak buahmu membawa mobilku yang ku parkir di kantor."

"…"

"ani. Ban kanannya bocor. Kebetulan, aku tidak membawa ban cadangan."

"…"

"ne. gomapta, hyungnim."

Donghae mengakhiri pembicaraannya dengan Shindong. Ia kembali menaruh i-phone putihnya di atas meja rias Sungmin, dan melanjutkan mengeringkan rambut sambil berjalan ke arah lemari baju.

Sebentar. Jangan mengira kalau Donghae sering menginap di apartement Sungmin! menginap saja, baru ia lakukan malam ini. Tentu, dengan persetujuan Sungmin. Sungmin sendiri, termasuk tipe wanita yang tak mudah menerima pria di dalam apartementnya. Kebetulan, letak apartement Sungmin dengan tempat Donghae bekerja, bisa ditempuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Kadang, tiap jam istirahat kantor, Donghae datang ke apartement untuk istirahat sejenak, dan menikmati masakan Sungmin. Itupun kalau Sungmin berada di apartementnya. Tak lupa, Donghae selalu membawa baju ganti yang di titipkan di apartement ini.

Tok tok tok.

"oppa, kau sudah selesai mandi?" suara Sungmin dari luar.

"ne. Wae?" jawab Donghae sambil mengenakan kaos putih pendeknya.

"jja. Palli nawa (cepatlah keluar)! Makanannya sudah siap. Aku tunggu di meja makan, ya."

"OK!" jawab Donghae singkat dengan Inggrisnya. Kedua tangannya apik mengambil sebuah kotak pink yang sebelumnya ia ambil dari dalam dashboard Hyundainya siang tadi, dari dalam tas kerjanya.

.

.

.

Sungmin mengerjapkan kedua matanya saat melihat Donghae berjalan ke arah meja makan, ke arahnya. "oohh... Oppa, meositda (oppa, kau tampan sekali)." Sungmin memuji Donghae.

Donghae yang hanya memakai celana tidur panjang kotak-kotak berwarna dark blue, serta kaos putih, dengan handuk warna cream yang menggantung tepat di pundaknya itu, tersenyum puas. "of course." Ujarnya mantap.

"eeeyyyy… ." sorak Sungmin kecewa saat mendengar jawaban Donghae yang begitu percaya diri dengan ketampanannya.

Donghae menarik kursinya yang berhadapan dengan Sungmin. Duduk. Tatapannya beralih ke atas meja makan, di mana makanan tersedia dengan rapi di sana. "sup rumput laut, telur dadar, dan… ." Donghae menyebut satu per satu makanan yang tersedia.

"kimchi." Timpal Sungmin, diakhiri sebuah senyuman puas. Karena Donghae menyukai makanannya itu.

"perlu ku ambilkan?" tawar Sungmin pada Donghae.

"aniyo. Gwaenchana. Aku akan mengambilnya sendiri." Jawab Donghae. Ia tak mau membuat Sungmin tambah repot karenanya, setelah memasak banyak untuknya malam ini.

Perlahan, Donghae beranjak dari duduknya. Membuat Sungmin yang akan menyendok nasi, mengikuti gerak-geriknya.

"oppa, kau mau kemana?" Sungmin menyuapkan nasi ke mulutnya, sambil menunggu jawaban Donghae. Ia mengernyit saat tahu Donghae berjalan ke arahnya.

Cup.

Kecupan pelan nan hangat dari Donghae, mendarat tepat di pipi kiri Sungmin. Sungmin yang tengah mengunyah, menghentikan kegiatannya tersebut. Ia tak menyangka Donghae akan menciumnya sebelum mereka makan bersama.

"gomawo." Tutur Donghae lirih.

Sungmin mengadahkan kepalanya untuk menatap Donghae yang masih berdiri di dekatnya. "musun iriya? (ini… apa maksudnya?)" Sungmin tak mengerti dengan tingkah Donghae yang terlalu manis menurutnya.

"ucapan terima kasih." Ujar Donghae singkat.

"untuk?" lanjut Sungmin.

Donghae mensejajarkan tubuhnya dengan Sungmin. Berlutut. "karena sudah bersamaku selama ini."

"oppa, kau-"

"lima tahun bersama, walaupun masih tahap berpacaran, tentu bukan hal yang mudah. Baik orang lain, atupun kau dan aku. Kita. Kita berdua,"

"Aku yang terlalu kekanak-kanakkan. Aku yang egois. Aku yang selalu merepotkanmu, membuatmu malu, dan sifat-sifatku yang lainnya, kau selalu sabar dengan semua itu. Sesekali, aku melihatmu menangis karena semua itu. Tapi, kau masih setia di dekatku. Sampai saat ini." Tutur Donghae.

"bukan candle light dinner. Bukan di atas bukit berbintang. Bukan di tepi pantai. Tapi, di sini." Donghae meraih kotak pink yang sebelumnya ia sembunyikan di balik handuk yang melingkar di pundaknya. Sungmin memperhatikannya seksama.

Donghae membuka kotak pink miliknya. Sebuah cincin emas putih dengan satu bulatan kecil batu permata di tengahnya, berkilau indah akibat pantulan cahaya lampu.

"jadilah istriku."

'jadilah istriku'. Kalimat yang berhasil membuat mulut Sungmin mengatup tak percaya. Melamar? Yah, Donghae melamarnya saat akan makan malam. Saat winter. Tidakkah itu hal yang manis?

Niat awal Donghae yang ingin melamar Sungmin di tempat yang romantis, pupus. Ini karena hal-hal yang tak terduga sebelumnya. Ban mobil yang bocor dan tanpa mereka tahu, salju turun semakin deras. Saat mandi tadi, Donghae tak henti-hentinya mengumpulkan ide untuk melancarkan aksinya tersebut. Beruntung, Sungmin mengizinkannya untuk menginap. Sehingga, ia bisa menjalankan rencananya. Melamar Sungmin.

"oppa."

Sungmin kembali diam. Ia sendiri tak tahu harus berkata apa lagi dan sangat terkejut dengan aksi dari kekasihnya, Donghae. Lima tahun lalu, pria pertama yang meminta dirinya untuk menjadi kekasih Donghae, melamarnya?

Sungmin menelan salivanya berat, dan menarik nafas dalam-dalam. "mianhae, hajiman… ." Donghae mengernyitkan dahinya setelah mendengar kata maaf dari Sungmin. Sungmin menolaknya?

Kedua mata Sungmin mulai berkaca-kaca. "lima tahun yang lalu, seorang pria datang ke rumahku. Saat itu… hujan sangat deras. Orang tuaku memaksaku untuk menemuinya karena mereka tak tega melihat pria itu basah kuyup. Padahal, dia tahu kalau saat itu… aku sudah tak ingin berkenalan dengan pria setelah masa kelamku." Sungmin sedikit terisak mengenang masa lalunya.

"terlepas dari itu semua, aku sangat berterima kasih pada pria itu. Lee Donghae. Pria yang mengenalkanku apa arti hidup berpasangan. Lee Donghae berhasil membuka hatiku dan mengajarkanku apa itu cinta. Lee Donghae selalu menyebutku wanita sempurna walaupun, pada kenyataannya aku tak sempurna itu." Satu butir air mata, jatuh di atas pipi kanan Sungmin. dan disusul di pipi kanannya.

"oppa, nan jeongmal haengbokhada. (oppa, aku benar-benar bahagia)"

Sungmin menubrukkan badannya pada Donghae. Sambil menangis pelan, Sungmin memeluk Donghae sangat erat. Seolah tak mau lepas dari sosok pria yang dicintainya itu.

"Saranghaeyo."

Dengan ucapan terakhir Sungmin, Donghae membalas pelukan Sungmin. Mengusap kepalanya pelan, sambil mengecupnya lembut.

"Lee Sungmin, nado saranghae."

Tanpa harus Sungmin mengatakan sesuatu, Donghae menyimpulkan sendiri kata-kata yang di ucapkan Sungmin sebelumnya. Sungmin menerima lamarannya. Tangis yang dihasilkan Sungmin, tiba-tiba menjadi tangis kebahagiaan bagi Sungmin. Juga bagi Donghae.

.

.

.

"cepatlah menikah."

Kyuhyun mendongakkan wajahnya ke arah suara tersebut berasal. Dilihatnya seorang pegawai coffee shop sekaligus teman wanitanya, Victoria, berdiri di dekatnya sambil membawa dua buah gelas putih, berisi cairan cokelat panas. Minuman kesukaannya. Machiato.

Pekerjaannya yang mulai padat, membuatnya terlihat sedikit stress. Belum lagi, tidak sinkronnya dirinya dengan Hyukjae. Selalu berbeda pendapat. Keduanya diberi rasa ego yang tinggi oleh Tuhan. Memilih untuk keluar dari apartementnya, menyambangi coffee shop yang letaknya tak jauh dari tempatnya tinggal, pilihan tepat.

Victoria menaruh dua gelas tadi di atas meja. Satu diantaranya, ia berikan pada Kyuhyun. Tangannya membuka topi dark blue setelan seragam kerjanya, dan menarik kursi kosong di sebelah Kyuhyun.

Kyuhyun meraih kopi pemberian Victoria. "sedang ku pikirkan." Ia menyeruputnya pelan.

"bagus!" ucap Victoria mantap.

"kalau ternyata kau menikah denganku... ." Kyuhyun menoleh ke arah Victoria. Victoria menatapnya dengan tatapan tak suka.

"otte?" lanjutnya

Victoria meraih topinya dan menaruhnya di atas kepala Kyuhyun. Menutup kepalanya sampai batas hidung. "menikahlah dengan topi kerjaku. Kalian terlihat sangat serasi. Aku memberi restu penuh."

"hahaha… ." Kyuhyun tertawa sedikit keras. Sambil melepaskan topi dari kepalanya. Beruntung, coffee shop yang didatanginya sepi.

"waeyo? Bukannya kau sudah lama menyukaiku?" tanya Kyuhyun ditambah sedikit candaan.

Victoria menyeruput kopinya pelan. "Cho Kyuhyun itu… temanku. Chingu. Cho Kyuhyun itu… sudah seperti saudaraku. Kakakku. Oppa. Aku tidak mau merusak persaudaraan kita. Kau ingat itu!" jelas Victoria setelah menghabiskan setengah coklat panasnya. Sedikit mengancam Kyuhyun.

Senyum Kyuhyun melebar, menandakan ia sangat senang. Bahagia dan beruntung bertemu teman, sekaligus saudara seperti Victoria. Sebesar apapun masalah yang ditimpanya, Victoria selalu siap sedia mendengar semua keluh kesahnya. Orang tua merekapun, sudah saling kenal. Jadi, tak ada kata canggung bagi mereka berdua.

Victoria menggeser kursinya, lebih dekat dengan Kyuhyun. Kedua tangannya segera menyentuh kedua pundak Kyuhyun. Menggeser tubuh Kyuhyun untuk berhadapan dengannya. "lihat aku!" pintanya, dan Kyuhyun menurut.

Dengan tatapannya yang tajam, Victoria menatap kedua bola mata Kyuhyun. Menganalisanya lebih dalam. Berakhir dengan senyum yang tertahan. "arasseo!"

"kau sedang jatuh cinta, ya?!" tebaknya dengan nada yang begitu ceria. Kyuhyun yang ditatapnya, diam saja.

"ah! Bunga mawar yang ku beli siang tadi, bagaimana? Kau sudah memberinya pada gadismu itu? Berhasil tidak? Aku ingin dengar ceritanya! Palli!"

"sssttt…!" Kyuhyun menaruh ibu jari di atas bibirnya. Menyuruh Victoria untuk diam.

"sudah." Jawabnya Singkat.

"baguslah kalau begitu. Berarti perjuanganku melawan salju hari ini tidak sia-sia. Sebagai ucapan terima kasih, kau bisa mentraktirku makanan mahal. Apa saja yang penting mahal. Tiga restoran? Lima restoran? Ah, terserah kau saja. Tapi… ,"

"kau belum cerita siapa nama gadis itu."

Victoria meminta jawaban Kyuhyun. "siapa?" ia tak berhenti memandangi Kyuhyun. Berharap Kyuhyun mau bercerita padanya.

Dari semua rentetan pertanyaan yang dikeluarkan Victoria untuknya, hanya pertanyaan terakhir yang mampu membuatnya tersenyum kecil. Wajahnya menghangat mendengar pertanyaan 'siapa?', masuk ke dalam gendang telinganya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Malam dingin dengan suhu menyentuh -1˚ ini, sepertinya dirasa sangat panas. Buktinya, keringat kecil muncul di keningnya begitu saja. Ah, jatuh cinta mengalahkan segalanya.

.

.

.

"kebesaran ya?" tanya Donghae seusai memakaikan cincin di jari manis tangan kanan Sungmin. terlihat sedikit longgar.

"gwenchana. Aku akan memakainya sebagai liontin di kalungku." Sungmin meraih lehernya. Membuka kaitan kalung yang melingkar di lehernya.

Jari-jari tangan kirinya melepas cincin yang sebelumnya Donghae pakaikan untuknya. Memasukkan salah satu ujung dari kalung tadi ke dalam cincin, dan kembali memasangnya pada leher.

"otte?"

"yeoksi… fashionista jinjja!" puji Donghae sambil membentuk sebuah screen tiruan, dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari kedua tangannya.

"Oppa, sepertinya semua masakanku berubah menjadi makanan dingin." Tutur Sungmin sambil memandang sedih semua masakannya.

Donghae ikut memandangi makanan di atas meja makan. "sepertinya begitu."

Sungmin menghela nafasnya berat, kemudian menoleh kembali ke arah Donghae. "ini semua karena oppa." Donghae menoleh cepat.

"eoh?"

"Oppa melamarku sebelum makan. Dan lihat masakanku. Mereka pasti sedih karena aku tidak jadi melahapnya." Ujar Sungmin berimajinasi.

"andwae! Kau tidak boleh tidak makan! Kau harus makan!" Donghae mengambil sendok Sungmin, menyendok nasi, dan menaruh kimchi serta telur dadar di atasnya. Sendok tadi bergerak kmendekati mulut Sungmin.

"aaa… !" Donghae menyuruh Sungmin untuk membuka mulut. Menyuapinya.

"mwoya?!" ucap Sungmin tak terima dirinya diperlakukan layaknya anak kecil.

Donghae menunjukkan senyuman manisnya pada Sungmin. "aku tahu, kau itu lapar. Perutmu bunyi saat memelukku tadi."

Sungmin menahan senyumnya. Malu. Dengan sedikit usaha, Sungmin akhirnya membuka mulut. Menerima suapan dari calon suaminya tersebut. Mengunyahnya pelan. Namun, ada rasa yang menurutnya berbeda. Ah, suapan dari Donghae, dirasanya sangat nikmat. Berbeda dengan suapan lainnya. Apa inikah rasanya setelah dilamar seseorang? Pikirnya.

"Lee Sungmin… ." panggil Donghae.

"ne?"

Donghae memicingkan matanya. "kau tahu tidak, aku juga lapar." Celetuknya.

"ah. Oppa mianhae. Umm… siapa suruh oppa menyuapiku?"

"tapi, ku lihat, kau menikmatinya. Aigoo… ." Donghae mendengus pelan. Menaruh sendoknya di atas mangkuk Sungmin, dan berjalan kembali ke kursi di mana sebelumnya ia duduk.

"apa perlu ku panaskan lagi supnya?"

Donghae menggelengkan kepalanya cepat. "tidak usah. Supnya masih hangat."

"arasseo."

Sebelum menyantap makanannya, pandangan Donghae kembali beralih menatap Sungmin. Kalung dengan cincin pemberiannya dari hasil melamar Sungmin, terlihat sangat indah saat Sungmin yang memakainya. Ia kembali tersenyum.

Sungmin yang akan menyendok sup rumput laut, mendapati Donghae tersenyum padanya. "oppa, waeyo?"

"aniyo. Chagiya, makanlah yang banyak."

Sungmin tersenyum. "neeee… ."

Sungmin menuruti perintah Donghae. Ia menyendok nasi dengan ukuran yang tidak seperti biasanya. Ini winter. Siapapun, akan menambah jatah makanannya lebih banyak dari hari biasa. Belum lagi, aksi lamaran Donghae yang sedikit menyita waktu makan malamnya, membuat keduanya semakin lapar.

.

.

.

"perlu ku bantu untuk mencucinya?" tanya Donghae saat membantu Sungmin membereskan piring, mangkuk, serta sendok dan sumpit kotor ke tempat cuci piring.

Sungmin menggelengkan kepalanya. "tidak usah. Aku akan mencucinya besok pagi saja. Supaya tidak terlalu dingin."

Donghae mangangguk. Ia meraih gelas kosong bekasnya dan menuangkan teh hangat yang dibuat Sungmin. Meneguknya sampai habis. "bunga mawar merah dari siapa? Kau membelinya?" tanya Donghae saat pandangannya menangkap vas bunga besar berisi mawar merah yang berdiri di samping tv.

"aku menaruhnya saat oppa mandi tadi,"

"bukan aku yang membelinya. Pemberian seseorang." Lanjut Sungmin. Dirinya masih disibukkan dengan sisa makanan makan malamnya yang ia taruh ke dalam kotak makanan dan menyimpannya ke dalam lemari es agar tidak basi.

Donghae berjalan ke ruang tengah dan duduk di atas sofa putih. "seseorang?"

Setelah urusan dapur selesai, Sungmin mengikuti Donghae untuk menonton tv bersama. "siang tadi, ada pria salah kamar apartement. Dia bilang, apartementku ini, apartementnya." Donghae mendengarkan cerita Sungmin dengan serius.

"Jelas-jelas ini kamarku. Untuk memastikannya, aku menunjukkan nomor apartementku padanya. Dan ternyata, dia pemilik nomor 116. Dia penghuni baru di apartement ini. Oppa, apa angka lima di papan nomor rumah punyaku sama persis dengan angka enam ya?"

"aniyo. Jelas berbeda. Memangnya kenapa?"

"pria itu bilang, angka lima punyaku, sama persis dengan angka enam miliknya. Aku bilang, lusa akan mengganti angka limanya." Sungmin menyudahi ceritanya dan memilih mengambil remote tv untuk menyalakan tv-nya.

"untuk apa menggantinya? Tidak perlu."

"aku takut, pria itu datang lagi karena salah ruangan." Sungmin memperjelas maksudnya.

"perlu ku antar?" tawar Donghae sambil menatap tv di depannya.

"tidak usah. Aku akan pergi dengan Wookie. Kebetulan lusa, Wookie ada janji dengan temannya."

"kencan lagi?" tebak Donghae yang di jawab tawa oleh Sungmin.

Sungmin menjatuhkan kepalanya di atas kedua kaki Donghae. Bersandar di sana sambil menyaksikan acara tv. "molla."

Tangan kanan Donghae yang menganggur, turun ke atas kepala Sungmin. Memainkan rambutnya lembut. Wangi vanilla yang dihasilkan shampoonya sore tadi, tercium oleh Donghae. "arraseo. Josimhae. (aku mengerti. Hati-hati)"

.

.

.

=TBC=

NB : *sigh* sedih euy mau updatenya :( gak tau kenapa saya jadi mellooowww... begini setelah tiba2 baca si "confirm" kemaren sore :( :( selamat menikmati aja ya... :'(

say thanks to : GOT7mark93 / Cho Hyun Ah SparKins 137 / Bunnyming1186 / abilhikmah / dewi. / allea1186 / fariny / gyumin4ever / amuri Cho / bee / dan para readers yang sudi membaca FF ini :)

terima kasih review2nya. Ini aku lanjut ceritanya ya. Tapi, maaf kalo gaje. Karena aku sendiri, orangnya gaje -_- Umm, dari semua review, sebagian ada yg tebakannya bener loh. Kalo Hyuk kenal sama Ming sih... kurang tau. hahaha aku sengaja bikin Hyuk di sini 'namja'. Dan untuk pertanyaan, "banyak yg tersembunyi ya di ff ini?". Aku jawab, gak banyak2 juga sih. kira2 0,1% lah #gubraggg

terakhir, untuk yang ngedo'ain Hae cepet putus sama Ming, terima kasih. Semoga do'anya dikabul. Tapi, aku ngarepnya Ming cepet putus sama yang baru diconfirm kemaren. hahahaahahahahaa *ngeluarin taring*