Apa dia tak menyukai keputusan orang tua kami?

Apa dia sudah memiliki orang yang Ia sukai?

Apa dia merasa bahwa aku tak cukup baik baginya?

Apa tak ada rasa sedikit pun darimu untukku, Saki?

Oh ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

.

.

A Sasusaku story

-Kapan,Sakura?-

Disclaimer characters ©Masashi Kishimoto

Cahaya matahari di pagi hari mulai masuk melalui celah-celah di tirai jendelaku. Oh ya Tuhan, rasanya mata ini amat sulit terbuka. Tidak, ini bukan sulit terbuka, tapi memang aku yang tidak ingin membukanya. Ini terasa lebih berat dari biasanya. Semalam setelah kami mendengar kabar mengejutkan dari orang tua kami, aku hanya terdiam, sementara gadisku, dia tersenyum. Senyum yang terlihat seperti dipaksakan. Dan disepanjang perjalanan menuju rumah, kami hanya terdiam dan ketika kami sampai di rumahnya ia mungucapkan selamat malam sebelum turun dari mobilku.

.

.

Kudengar, pintu kamarku mulai terbuka. Seseorang masuk, tapi ternyata bukan yang kutunggu seperti biasanya. Bukan gadisku yang masuk, tetapi Ibuku. Aku sedikit kecewa, kemana gadisku? Kemana Sakura? Ohya, tentu saja dia tidak disini sekarang karena orang tuanya sudah pulang dari luar kota. Semoga saja begitu. Aku pun bangun dengan rasa kecewaku. Setelah mandi aku segera bersiap-siap memakai pakaianku. Tiba-tiba kudengar suara dering handphone ku berbunyi. Itu dari Sakura!

Saki

06:10 AM

Sasuke-kun, hari ini aku tidak bisa berangkat bersamamu.

Aku diantar Ayah. Kau hati-hati dijalan yaa.

Oya, jangan lupa sarapan!

Entahlah, sepertinya aku sedikit tersenyum membaca pesan darinya. Setidaknya sikap perhatiannya padaku mengurangi rasa kecewaku saat ini. Aku pun keluar dari kamarku dan segera menuju ruang makan. Di sana sudah ada Ibu dan Ayahku. Aku duduk di sebelah kursi kosong yang biasanya ditempati gadisku. Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan sesuatu pada kedua orang tuaku dari semalam. Tapi , sebelum aku bertanya semalam, kedua orang tuaku dan orang tua Sakura malah sibuk dengan percakapan mereka mengenai persiapan pernikahan kami. Sementara kami tidak bisa bertindak apa-apa karena kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk menanyakannya.

"Ayah Ibu, kenapa kalian memutuskan sesuatu tanpa menanyakannya padaku? Lagipula kami masih terlalu muda untuk menikah, terutama Sakura."

Tanyaku to the point.

"Sayang, kami tahu kok kamu menyukai Sakura dan kamu pasti akan senang jika menikah dengan gadis yang kamu cintai. Ayolah, kasihan pada kami yang sudah tua dan ingin segera memiliki cucu." Jawab Ibuku.

"Hn. Ibumu benar, Sasuke"

"Tapi, bagaimana dengan perasaan Sakura? Tolong beri kami waktu untuk berfikir"

"Oke, akan kami pertimbangkan,Sayang. Dan sebaiknya kamu harus cepat bergegas karena sekarang sudah pukul 8"

"Baiklah. Ayah Ibu aku berangkat"

.

.

.

Aku sampai di saat yang tepat karena bel masuk baru berbunyi. Namun rencanaku untuk ke kelas Sakura pagi ini gagal karena aku harus segera mengikuti bimbingan untuk skripsiku. Mungkin saat istirahat nanti aku bisa bertemu dengannya. Aku pun segera mengambil handphone ku lalu mengirimkan pesan pada gadisku untuk bertemu di taman belakang. Setelah kukirim pesanku, ternyata ia langsung membalasnya.

Saki

09:10 AM

Jam satu siang? Baiklah, tapi aku datang agak telat ya, Sasuke-kun.

Oke, sekarang aku sudah menunggu gadisku selama 20 menit di taman tempat kami kemarin bertemu. Kulihat ia datang menghampiriku. Ada yang aneh dari dirinya. Rambutnya terlihat sedikit berantakan. Oh tidak, aku tak boleh berfikiran negatif tentang gadisku. Ia tak mungkin melakukan itu dengan orang lain karena setahuku gadisku tidak pernah dekat dengan laki-laki selain diriku. Atau mungkin aku yang tidak tahu kalau gadisku pernah didekati seorang lelaki? Oh ya Tuhan, pikiran gila ini mulai menggangguku. Lalu gadisku pun segera duduk di sebelahku. Kami duduk di rerumputan hijau di taman kampus. Kuhadapkan tubuhku ke arahnya lalu kurapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menatapku dalam diam. Tapi aku masih sibuk merapikan rambutnya. Tak lama kemudian dia mulai berbicara.

"Sasuke-kun.."

"Hn"

"Soal perjodohan itu.." belum sempat ia melanjutkan, aku lebih dulu memotong perkataanya.

"Kau tak perlu khawatir, Saki. Jika kau tak mau, aku akan berbicara pada kedua orang tua kita. "

Kulihat ada kekecewaan di raut wajahnya yang cantik. Tunggu! Kekecewaan? Mungkinkah…

"Sasuke-kun sepertinya aku…."

Kutunggu jawabannya..

"Belum bisa menerima perjodohan ini"

"Hn. Baiklah"

Oh ya Tuhan, apakah rasanya sesakit ini? Rasanya sakit sekali mendengar gadisku mengatakannya. Ini seperti ditolak sebelum menyatakan. Sungguh tak ada hal yang lebih menyakitkan lebih dari ini. Lalu ia memegang tanganku yang sedari tadi merapikan rambutnya. Ia menggiringku berdiri bersamanya. Tak lama kemudian ia mencium pipiku.

Cupp…

Aku membeku. Lalu dia berlari meninggalkanku dengan perasaan yang campur aduk.

.

.

.

Sepulang dari kampus aku langsung menuju kamarku. rasanya hari ini lelah dan…Sakit. Aku berharap aku bisa terlelap sesegera mungkin dan terbangun keesokan harinya. Namun, rencana tidurku sepertinya gagal karena Ibuku menghampiriku.

"Sayang, jangan langsung tidur dong. Kan masih sore"

"Aku lelah, Ibu"

"Kau yakin tak ingin menceritakan sesuatu padaku?"

"Hn"

"Hey, kau itu sama seperti ayahmu, selalu saja memberikan jawaban yang ambigu. Ohya, nanti malam kita akan makan di rumah Saki! Cepat bangun dan siap-siap, sayang!"

"Ibu, tak bisakah perjodohan ini dibatalkan?" tanyaku.

"Kau menginginkan itu?"

"Tidak! Maksudku, aku hanya tak ingin hidup tanpa cinta dari orang yang kusayangi, Ibu. Dan yang terpenting adalah aku tak ingin Sakura sedih karena perjodohan ini. Aku hanya ingin dia bahagia" jawabku kecewa.

"Dengar Sasuke, wanita itu pandai sekali menyembunyikan perasaannya. Kau tak akan pernah tau jika kau tak pernah bertanya tentang perasaannya"

"Tapi, ia berkata padaku bahwa ia tak bisa menerima perjodohan ini"

"Apa kau menanyakan alasannya?"

"Tidak"

"hey ayolah, sayang. Kau pasti tahu harus apa, hm?"

"Hn..baiklah"

Akhirnya aku-pun segera bangun dan bersiap-siap untuk makan malam di rumah Sakura.

.

.

.

Dan yaa.. Sekarang aku di sini, duduk tepat di depan Sakura. Saat ini kami semua sedang menikmati hidangan yang disajikan. Malam ini gadisku sangat cantik dengan balutan dress hitam tanpa lengan dan rambutnya digerai dengan indah. Kurasa makanan yang enak ini menjadi jauh lebih enak rasanya saat aku menatap gadisku. Namun sepertinya gadisku saat ini tidak konsentrasi dengan makanannya. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Mmm.. pasti tentang itu… yaa.. perjodohan kami. Seketika pikiranku buyar karena tiba-tiba orang tua kami menegur kami yang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Sasuke, Sakura.. kami ingin menawarkan sesuatu pada kalian berdua" Sahut ayahku to the point.

"Yaa, berhubung sepertinya kalian berdua sangat mempertimbangkan perjodohan ini. Kami ingin menawarkan kalian untuk tinggal bersama di rumah yang telah kami beli." Lanjut Ibuku.

"Kami akan beri kalian waktu selama 1 bulan untuk tinggal bersama dan memikirkan perjodohan ini. Jika hasilnya nihil, tentu saja kami tak akan memaksa kalian. Bagaimana?" Tanya Ibu Mebuki.

Aku terdiam, lalu menatap gadisku dan menunggu jawabannya.

"Baiklah, sepertinya aku menerima penawaran ini"

Jawaban gadisku membuatku sedikit kaget sekaligus senang. Aku tak menyangka bahwa ia akan menerimanya.

"Bagaimana denganmu Sasuke?" Tanya Ayah Kizashi.

"Hn, aku juga" jawabku segera.

.

.

.

Saat ini aku dan Sakura berada di taman miliknya. Kami duduk di hamparan rumput hijau sambil menikmati suasana malam. Rasanya kami sangat berbeda dan begitu canggung. Kami saling diam hingga akhirnya gadisku membuka percakapan.

"Sepertinya tinggal denganmu akan sangat mengasyikkan Sasuke-kun"

"Tentu saja" jawabku percaya diri.

"Wooo.. pede banget sih kamu! Dasar pantat Ayam!" jawab gadisku sambil mencubit hidungku.

"Aww.. Sakit, Saki!"

"Biarin! Hihi"

oh ya Tuhan! Dia tertawa! Aku sangat senang akhirnya ia tidak seperti kemarin ataupun tadi siang. Aku pun akhirnya tersenyum melihatnya. Kulihat sepertinya dia merasa kedinginan dengan dress tanpa lengannya. Lalu, sesegera mungkin aku melepas jas hitamku dan kupakaikan di tubuhnya. Beberapa saat kemudian, perlahan gadisku merebahkan dirinya di rerumputan. Aku mengikutinya dan menyampingkan tubuhku agar bisa menatapnya. Gadisku mulai menutup matanya dan sepertinya ia sangat menikmati cuaca bagus malam ini. Kemudian tiba-tiba aku teringat pembicaraanku dengan Ibu di sore hari. Kurasa saat ini tepat untuk menanyakan padanya.

"Saki.." aku memanggilnya. Ia pun reflek membuka matanya dan menyampingkan tubuhnya. Dan kami pun saling berhadapan dan saling menatap.

"ya, sasuke-kun?" jawabnya. Aku tak ingin suasana ini menjadi canggung. Akhirnya tanganku pun tergerak untuk memainkan rambut panjangnya yang tergerai dengan indah.

"Aku ingin bertanya sesuatu padamu"

"hmm?"

"mengapa kau tak ingin dijodohkan denganku?"

"ohh..mmm.. kurasa aku belum bisa menjawabnya sekarang sasuke-kun.. Hmm.. tapi kita bisa lihat nanti saat kita tinggal bersama. Bagaimana? "

"Hn.. baiklah" jawabku sedikit kecewa.

Saat ini kami hanya saling menatap dalam diam. Aku sangat berharap saat kami tinggal bersama nanti, gadisku akan menerima perjodohan ini. Walaupun sekarang aku tak tahu apa alasannya menolak perjodohan ini, tapi aku yakin suatu saat nanti dia akan mengerti perasaanku dan membalasnya. Semoga saja…

.

.

.

Keesokan harinya aku bersama gadisku dan orang tua kami segera melakukan pindahan karena kebetulan kami berdua sedang tidak ada mata kuliah. Rumah ini sangat sempurna, orang tua kami membelikan sebuah rumah besar dua lantai yang berada di pinggir pantai. Di lantai satu rumah kami ada parkiran mobil, halaman yang luas, kamar tamu, serta ruang tamu dan juga dapur. Sementara kamarku dan kamar gadisku berada di lantai dua. Kamar kami bersebelahan dengan balkon yang sama dan lumayan luas. Di balkon kami terdapat ayunan yang menghadap ke laut. Dan Ya Tuhan, ini sungguh indah sekali! Setelah membereskan semua barang-barang, orang tua kami pun pamit pulang.

Saat ini kami sedang beristirahat di ruang tamu karena kelelahan. Gadisku sedang sibuk menonton tv sambil tiduran di paha ku, sementara aku mengecek pekerjaanku yang ada di ipad. Yaaa, walaupun aku kuliah, tetapi aku juga bekerja sebagai wakil direktur di Uchiha Corp. membantu ayahku mengurus sebagian perusahaan yang tersebar di negara ini. Awalnya memang terasa berat, tapi dengan otakku yang cukup jenius, aku pun bisa menghandle semuanya dengan baik. Setelah selesai mengecek pekerjaanku, aku pun meletakkan ipadku di meja dan mulai memainkan helaian rambut gadisku. Lalu ia pun membuka suaranya.

"umm sasuke-kun, kau mau makan apa malam ini?" tanya gadisku. Ya, aku sangat beruntung karena ia pintar memasak.

"Hn..terserah kau saja, saki" jawabku.

"huftt tak bisakah kau menjawab selain Hn-mu atau terserahmu itu?"

"apapun yang kau masak aku pasti menyukainya, sakura"

"benarkah?"

"tentu saja!"

"baiklah, aku rasa aku akan memasak sup tomat dan tempura"

.

.

.

.

Pagi ini hidungku rasa-rasanya mencium bau yang sangat sedap. Sepertinya gadisku sudah menyiapkan sarapan untuk pagi ini. Aku pun dengan semangat bangun dari tidurku dan menuju ke ruang makan yang ada di lantai satu. Kulihat berbagai macam masakan sudah tersedia di meja makan. Namun, tak kutemukan sosok gadis manis yang telah membuatnya. Ah, mungkin ia sedang bersiap-siap di kamarnya untuk kuliah. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menyikat gigiku terlebih dahulu di kamar mandi lantai satu. Saat kubuka pintunya, tiba-tiba aku melihat gadisku yang hanya memakai sehelai handuk di tubuhnya sedang menyikat gigi. Dan…

"Aaaaaaak… Sasuke-kun!" ia berteriak dan aku pun segera keluar dan menutup pintunya.

"maafkan aku, saki! Kau yang tidak mengunci pintunya!" tanpa menunggu jawaban darinya, setelah meminta maaf aku segera berlari ke kamar mandi yang ada di kamarku dan berharap semoga gadisku tidak akan marah padaku. Satu hal yang baru kuketahui. Ya Tuhan.. lekuk tubuh gadisku indah sekali. Dan mau tak mau aku harus mengatasi hasrat sialan ini di kamar mandiku.

.

.

.

.

Saat aku menuruni tangga kulihat gadisku sudah ada di meja makan dengan wajah yang bersemu merah seperti buah kesukaanku. Terlihat manis sekali. Aku pun segera menghampirinya dan duduk di depannya. Lalu sesegera mungkin aku meminta maaf lagi padanya atas kejadian yang tak terduga tadi.

"Saki, aku minta maaf. Aku tidak tahu jika kau ada di dalam kamar mandi itu"

"tidak sasuke-kun, harusnya aku yang minta maaf karena aku lupa mengunci pintunya" jawabnya dengan wajah yang semakin memerah.

"Hn, sudahlah tidak perlu dibahas lagi, saki. Ayo kita makan"

"Hmm" angguknya.

Kami pun akhirnya makan masakan yang telah ia buat. Sungguh masakan gadisku ini memang tak jauh berbeda dengan masakan ibuku. aku sangat menyukainya. Maklum saja karena mereka berdua sering masak bersama di dapur rumahku. Di sela-sela makan kami, aku pun bertanya padanya perihal kuliahnya.

"Saki bagaimana dengan kuliahmu?"

"Bagaimana apanya, sasuke-kun?"

"Ya bagaimana dengan mata kuliah dan teman-temanmu di kampus?"

"Hmm..Baik-baik saja kok. Semuanya bagus mmm..dan aku.. suka" ia sepertinya menjawab dengan ragu-ragu.

"benarkah?"

"mm.. ya tentu saja"

"Saki, janji padaku, jika ada apa-apa tolong segera kabari aku"

"Baiklah, Sasuke-kun"

Selesai makan, kami mencuci piring bersama dan segera bersiap-siap untuk berangkat. Hari ini aku tak bisa ke kampus karena harus mengurus beberapa hal di perusahaanku. Setelah aku mengantar gadisku, aku berkata padanya bahwa hari ini aku akan telat menjeputnya. Ia memberi anggukan dan kemudian ia mencium pipiku, lalu aku pun mecium keningnya. Aku akan merasa bahagia sekali andai kami bisa seperti ini setiap hari. Setelah sampai kantor aku pun segera menyelesaikan pekerjaanku, mengusahakan agar aku tidak telat menjemput demi gadisku.

.

.

.

Akhirnya aku pun menyelesaikan pekerjaanku tepat jam empat sore. Kurasa aku tak akan telat untuk menjemput gadisku di kampus nanti. Saat aku sampai di parkiran mobil kantorku, tiba-tiba handphone ku berbunyi. Ada panggilan dari sahabat kuningku, Naruto.

"Hallo, ada apa, Dobe?"

"Teme, aku sudah menyelidiki tentang Sakura di jurusan seni. Dan aku rasa kau harus segera kesini karna Sakura sedang dalam masalah. Saat ini Saku…."

"ADA APA DENGAN SAKURA,DOBE?! Aku akan segera kesana!"

TUT TUT TUT

….

TBC

Hallo teman-teman! Akhirnya setelah sekian lama fic ini baru update lagiiii huhuhu :')

Maafkan tomat ya semuanya, soalnya kemarin-kemarin tomat lagi sibuk banget kuliah karna mau UAS dan lagi banyak project gituu :'''''( .. mudah-mudahan teman-teman masih mau baca fic ini yahh hehe. Sekali lagi tomat ucapin makasih banyak lohh yaa buat para reader maupun silent reader yang udah sempetin waktunya buat baca, follow, nge-like apalagi nge-review. Semoga tomat bisa lebih baik lagi kedepannya dalam menulis. Hehehe

Salam sayang,

Sasusaku & sweettomato ({})

Thanks to :

williewillydoo, Sasara Keiko, Yoshimura Arai, echaNM,

Kazehaya Shiroe, Jamurlumutan462, 1,

Dewie867, shirazen, shaulaamalfoy, Dewazz,

Nox Serus, yencherry, Lady Bloodie, Guest,

Arashasa, CherystyFlorenza, As, Hyuugadevit-Cherry,

Kimberchan.