Assassination Classroom © Yuusei Matsui
Story by gugigi173
Dedicated for Azusanyan-chan
.
.
Angin Sore dan Istanaku
Cerewet.
Karma itu sebenarnya bahagia—pakai banget malah, bisa menikahi anak orang secantik dan sepintar Rio. Terlebih mereka sudah pacaran sekitar enam tahun, entah beruntung atau memang takdir, mereka bisa sampai naik ke pelaminan. Karma itu mencinta Rio begitula pula sebaliknya. Karma itu suka banyak hal dari Rio, termasuk masakannya yang sebenarnya tidak begitu enak. Karma itu suka sifat dan kepribadian Rio, karena hal itu selalu jadi moodbooster untuknya.
Tapi dari segala hal yang Rio punya, ada satu hal yang Karma paling tidak suka.
"Karma, tadi aku ketemu Rinka di jalan! Manis banget deh, dia gandengan sama Chiba-kun, hihihi."
Siang itu, Rio menatap Karma yang sedang membaca koran sambil menikmati sekotak susu stroberi.
"Hmm." Karma masih membalik-balik halaman koran, mencari berita yang bisa menarik perhatiannya.
"Aku ngobrol-ngobrol sama mereka lamaaaaaaa banget!"
"Hm, terus?"
"Katanya mereka mau nikah dua bulan lagi. Dan tebak bagian kerennya!"
Rio tersenyum lebar, meski suaminya tidak meliriknya sedikitpun.
"Kamu orang pertama yang tahu?"
"BINGO! Yayangku paling pinter deh nebak pikiran bidadari ini!"
Rio berpindah ke dekat Karma yang masih saja sibuk dengan korannya.
"Terus ya, terus!" Karma menjauh sedikit saat Rio berbicara terlampau dekat dengan telinganya.
"Tiba-tiba Chiba-kun ditelpon atasannya, disuruh pergi ke kantor waktu itu juga. Jadi ya aku sama Rinka cuma berdua. Tapi gara-gara Rinka nggak mau langsung pulang, dia ngajak aku ke toko kue yang paling terkenal di sana. Aku pesen strawberry cake, dan rasanya, YUMMY!"
Karma mulai tidak fokus dengan tulisan berita di hadapannya. Dia merasa khawatir kalau-kalau Rio tidak akan—
"Terus ya say—"
—berhenti bicara.
"—pas kita berdua mau balik, ternyata ada Isogai di sana!"
Karma membuang nafas lelah. Koran di tangan benar-benar tak lagi menarik perhatiannya. Padahal ini hari minggu—hari untuknya beristirahat dari jam kantor yang kelewat menyiksa. Tapi masa' waktu istirahatnya harus habis dipakai untuk mendengar celotehan Rio yang terlampau lebih membosankan dari dikte yang diberikan atasannya hampir setiap hari.
Karma meletakkan koran yang tanpa disadarinya sudah rusak teremas.
"Jadilah kita ngobrol-ngobrol dulu. Ternyata dia kerja jadi pelayan di sana, terus—"
"Rio."
"—sepuluh menit kemudian dia pergi dan begitu balik ke kita lagi, dia bawain menu kue terbaik di sana buat kita. GRATIS! Dan yang paling nggak aku duga itu—"
"Rio."
"—ternyata manajernya yang ngasih itu buat kita, gara-gara—"
"RIO."
"—dia seneng liat kita yang temenan baik sama Isogai—"
"RIO. SAYANG. CINTAKU. BIDADARIKU. MALAIKATKU." Karma lelah. Hatinya lelah. Hayatinya lelah. Telinganya tak kuasa menahan segala celotehan Rio lagi.
"Hm? Apa? Kenapa Karma?"
"Tadi pagi aku ngeliat alien di alun-alun, terus tiba-tiba mereka lemparin kertas yang isinya 'Ayo kita ketemuan, manusia!'," Karma berkata dengan intonasi meyakinkan. "Nah, jadi sekarang, maaf aku harus ketemu sama mereka, takutnya mereka udah pulang."
Rio terdiam. Karma harap-harap cemas dengan reaksi Rio selanjutnya. Padahal Karma tahu betul kalau istrinya itu pintar, pandai, cerdas, jenius, tapi masa' iya bakal gampang dikibuli dengan cara begitu? Memangnya Rio bocah SD yang sering dikasih asupan cerita putri dongeng yang bertemu alien untuk menyelamatkan kerajaan kucing yang kalah dari pasukan ikan asin?
"EEEH? BENERAN?! Ya udah, gih, pergi! Jangan lupa take a selfie sama mereka! Kali aja bisa kita kirim fotonya ke Koro-sensei lewat kuburannya, terus—"
'Duh, anjay sekali istriku.'
"—nanti juga bisa aku pamerin ke temen-temen—"
"Rio."
"Hm?"
Karma tahu Rio itu jenius, tapi wanita itu juga 'unik', bahkan nyerempet ke abnormal. Dia mengecup pipi Rio sebelum pergi mencari alien—yang mana sebenarnya Karma ingin bertemu Gakushuu untuk sekedar curhat tentang istrinya yang keliatannya agak 'bermasalah' ini.
"Jaga rumah say, berdoa juga gih, siapa tau kita dapet souvenir dari aliennya."
Bagi Karma sebenarnya itu lelucon krik, tapi sendirinya malah ingin tertawa saat melihat wajah bingung Rio.
Takut (Part 2)
Karma itu takut kelabang sejak SMP. Lucunya, Karma tidak pernah tahu apa penyebabnya. Hanya Rio seorang yang mengetahui kelemahan terbesarnya ini. Rio sering meledeknya soal ketakutannya pada kelabang. Soal Karma yang katanya takut sama sesuatu yang enggak banget, sampai malah menyangkut-pautkannya dengan bapak Asano Gakuhou—Rio sendiri bingung kenapa dia bisa ngomongin kepala sekolah SMP-nya dulu. Karma yang kena ledek biasanya jadi tsun-tsun, tapi dia tidak pernah marah karena tahu Rio takkan pernah menghianatinya dengan mengumbar aibnya. Duh, so sweet.
Karma takut kelabang, Rio juga pasti punya sesuatu yang dia takutkan. Kisah kedua, tentang istri sang iblis dan kelemahannya.
Malam itu, Rio berdiri di pinggir kasur sambil bersedekap. Kedua matanya menatap kesal pada pria berambut merah yang dengan santainya berbaring di sana setelah melewatkan makan malam mereka.
"Karmaaaaaa, gosok gigi duluuuuu. Jorok ih!" Rio menarik kedua kaki Karma, tapi kelihatannya tak berefek apa-apa.
"Hnnnngggh."
Kali ini Rio menepuk-nepuk punggung Karma tanpa ampun, yang hanya dijawab dengan lenguhan malas. Rio geregetan.
"Karma!" Satu cubitan keras menarik kulit pinggang Karma, membuatnya memekik kesakitan.
"Iya, iya." Karma berjalan malas keluar kamar, memenuhi permintaan Rio untuk yang menyuruhnya menggosok gigi. Sebenarnya Karma terlalu lelah malam ini. Setelah makan malam selesai, dia ingin langsung pergi bermimpi karena besok harus berangkat pagi-pagi untuk bekerja. Tapi karena rasa sayang Karma—yang sebenarnya adalah rasa takut—kepada Rio, Karma akan tunduk patuh padanya karena tak ingin melihat wajah ngambeknya besok pagi.
Di kamar, Rio bersenandung pelan sambil menyiapkan tempat tidur dan pakaian tidur Karma. Sepanjang hari ini mood-nya sangat baik, jadi dia dengan senang hati takkan memarahi Karma untuk malam ini.
Tiba-tiba, lampu padam dan segala penerangan lenyap. Sepertinya ada pemadaman listrik tiba-tiba malam ini. Kediaman Akabane kelihatan gelap gulita. Rio tidak suka ini. Dia tak nyaman dengan hal seperti ini.
"E-eeh. K-Karma?" Rio mencari-cari gagang pintu kamar, lalu secara tidak sengaja kakinya tersandung kursi kecil dari meja rias yang sebelumnya Rio letakkan disembarang tempat, membuatnya terjatuh.
"K-Karmaaaaa!" Rio merasakan cairan hangat di pelupuk matanya.
Tanpa menghiraukan rasa sakit di kakinya, Rio kembali berjalan dengan susah payah ke arah pintu dan membukanya. Dengan langkah pelan, dia mendekati pintu kamar mandi.
"Uuuuh, Karma? Karma?" Rio tidak menemukan Karma di sana, padahal dia membutuhkannya sekarang juga. Rio takut suasana seperti ini, apalagi jika dia sendirian. "Karmaaaa, kamu di mana?"
Rio tidak bisa meredakan apalagi menghilangkan rasa takutnya. Ia mulai menangis terisak-isak karena Karma tak kunjung menjawab panggilannya.
"K-karma ... kamu di mana? Uuhh, aku takut. Hiks, hiks."
Rio hampir menjerit kaget saat pundaknya disentuh, tapi telapak tangan seseorang berhasil membekap mulutnya. Rio tahu siapa itu.
"Karma?"
"Sssstt, nggak papa, aku di sini kok." Karma memeluk Rio, yang dibalas wanita itu dengan pelukan yang lebih erat.
"Uuh ... hiks, HUAAAA!"
Karma mengusap rambut pirangnya. Kedua tangannya tetap mendekap Rio untuk menenangkannya, dan dia akan terus melakukannya hingga Rio jatuh tertidur.
Rio itu takut gelap. Ini dimulai sejak kuliah semester tiganya. Karma sering bertanya tentang penyebabnya, tapi Rio selalu mengalihkan topik pembicaraan. Kelihatannya ia enggan menceritakannya kepada siapapun, termasuk kepada seorang Akabane Karma yang kini sudah setahun sudah resmi menjadi suaminya.
Tapi Karma tak pernah mempertanyakan hal ini sejak enam bulan yang ke belakang. Dia berpikir kecuali Rio bersedia menceritakannya sendiri, Karma tidak akan pernah mencari tahu. Karma hanya cukup memaklumi semuanya, lalu selalu berada di sisi Rio saat wanita itu merasakan ketakutan.
Akhir.
"Aku ... tidak tahu kalau semuanya akan jadi begini."
"Maaf, Rio."
Tubuh wanita dengan helaian pirang itu bergetar hebat. Batinnya berkecamuk, merasa tidak bisa menerima kenyataan. Di depannya, seorang pria berambut merah bermarga sama dengannya membuang muka, enggan menatap sepasang iris biru yang mulai berkaca-kaca.
"Siapa wanita itu? Apa kasih sayangku untukmu masih belum cukup?"
Suaranya parau. Kedua telapak tangannya basah oleh air mata. Dari semua wanita di dunia, dari semua kesempatan, kenapa dia harus mengalaminya?
"Karma ..., bisa ... kita ulangi ini dari aw—"
"Maaf Rio, aku pikir ... aku tidak mau. Aku—"
"Aku mencintamu." Suaranya jelas dan tegas. Rio mencintainya, dia takkan pernah melepaskan Karma kepada siapapun. Tidak peduli sikapnya kelewat posesif, sampai kapan pun Rio takkan membiarkannya pergi.
"Maaf, tapi aku tidak ... lagi," lirih Karma hampir tak terdengar.
Rio menatapnya nanar. Dia terlalu berharap banyak kepada Karma. Dan sekarang dia sadar, bahkan hubungan pasangan paling unik seperti mereka pun bisa kandas di tengah jalan.
"Jadi kita berpisah?" tanyanya dengan suara parau.
"Sekarang juga aku akan pergi dari sini. Maaf."
Karma hendak beranjak ketika Rio menahan lengannya. Kedua iris tembaga itu menangkap rasa depresi dan kehilangan di mata biru milik wanita itu. Dia bisa merasakan cengkraman di lengannya yang semakin kuat.
"Untuk terakhir kalinya ...," Rio berujar lirih dengan berurai air mata. "Bisakah aku mendapat ciuman terakhir darimu ... di keningku?"
Karma mengerjap.
"Anggap saja salam perpisahan, ya?" Rio mulai menggenggam tangan Karma. "Kumohon ..."
Pria berambut merah itu tak kuasa menolak. Tidak apa-apa, hanya untuk terakhir kali.
Kedua tangannya meraih kepala Rio, kemudian bibirnya mengecup pelan kening Rio. Hanya untuk yang terakhir kalinya, anggap ini adalah hadiah perpisahan untuk orang yang pernah aku cintai.
Rio menikmati kecupan perpisahan yang diberikan Karma. Wajahnya penuh jejak air mata. Tapi tidak apa-apa, ini akan menjadi hari yang tidak akan pernah dia lupakan.
Di bawah cahaya senja yang menyusup lewat jendela, Rio melepaskan cintanya.
Pada akhirnya, ikatan yang kau sebut dengan cinta sejati pun bisa berakhir suatu hari nanti.
-FIN-
A/N :
Fic ini didedikasikan buat Azunyan-san yang juga suka nulis fic KaruRi.
Makasih buat yang sudah fav dan follow. Makasih juga buat BaekSooya99, xstarbyul96, chindleion, renarxher, Ratu Obeng a.k.a Kuo, dan Galyca yang udah sempat-sempatnya ngasih review. Especially buat Azunyan~
Maafkeun penguin kecil ini yang cuma bikin dua chapter, soalnya nggak punya ide lagi /cry
Dan buat arti judulnya yang keliatan aneh itu, 'angin sore' buat cinta yang selalu menerpa(?) dan 'istanaku' untuk kediaman Akabane. Yah, intinya pengen ngasih tau kalo fic ini AU!Married .-.
Oh iya, ada omake juga di bawah~
.
.
.
.
-OMAKE-
"Rioooo, udah dong nangisnya. Mata kamu ntar bengkak lho," ujar sosok pria berambut merah yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Habisnya kamu tega Karma!" Rio sesenggukan, di tangannya terdapat novel berbahasa inggris yang sedikit rusak karena basah terkena air mata.
"Suruh siapa nyuruh aku berdialog begitu. Lagian ngapain juga sih mesti di drama-in gitu?"
"Kan biar feel-nya dapet. Huueee ... ceritanya udah bagus, kenapa endingnya kampret begini?"
"Dasar baperan. Besok pagi kalo kantung mata kamu item, jangan salahin aku lho ya ..." Karma melengos memasuki kamar tidur, meninggalkan Rio yang masih duduk sambil tetap sesenggukan.
"Kamu jahat Karma!"
