Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

CHAPTER 2

.

Hinata mengalihkan perhatiannya dari TV yang sedang ia tonton dan berganti menatap Sasuke yang baru saja pulang bekerja.

Sasuke menghentikan langkahnya dan menatap Hinata. Pandangan matanya lalu berubah tajam.

Melihat tatapan Sasuke, Hinata langsung berkeringat dingin.

Kenapa kau menatapku seperti itu Sasuke?!

Sasuke lalu mengalihkan perhatiannya pada boneka singa yang ada dipangkuan Hinata.

Seandainya saja tatapan Sasuke bisa membakar pasti boneka itu akan langsung jadi abu. Dengan sikap protektif Hinata memeluk boneka itu.

"A-a-a-ada apa?" Tanya Hinata sambil berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

"Kau adalah wanita berhati busuk. Melihatmu membuatku muak."

Amarah Hinata langsung meledak. Ia bangkit berdiri.

"KALAU BEGITU JANGAN MELIHATKU! Ceraikan saja aku detik ini juga! Akan kupastikan aku keluar dari kehidupanmu!" Teriak Hinata.

Pria ini benar-benar membingungkan. Jika ia benci padanya maka lebih baik berpisah. Mudah kan?!

Sasuke menyilangkan tangan di dadanya. "Rencana busuk apa yang akan kau lakukan kali ini huh."

"A-aku ti-tidak memiliki rencana busuk atau apapun itu! Aku sudah menyadari kesalahanku. A-aku sudah berubah!"

"Kau pikir aku akan mempercayainya?" Mata Sasuke berkilat marah.

"Lalu me-mengapa k-kau tidak bisa mempercayaiku?" Tantang Hinata.

"Kau berulang kali berusaha mencelakai Sakura, tidak hanya kejadian tempo hari. Kau pernah berusaha mendorong Sakura agar jatuh dari tangga. Kau juga merusak rem mobil Sakura agar membuatnya kecelakaan. Kau pernah hampir mencelakai Sakura dengan mencoba mendorongnya dari balkon lantai dua. Bahkan kau juga pernah berusaha meracuni Sakura dan membuatnya dirawat di rumah sakit. Belum lagi banyak kebohongan dan fitnah yang kau sebarkan untuk menjatuhkan reputasi Sakura."

Hinata hanya bisa mematung ketika mendengar Sasuke mengatakan daftar kejahatan yang dilakukan Hinata Hyuuga dulu. Tak heran Sasuke tidak mempercayainya! Hinata benar-benar jahat.

Dan kini ia terjebak dalam tubuh wanita itu.

Oh Hinata… mengapa kau berubah menjadi sejahat itu…

"Ta-tapi a-aku benar-benar sudah berubah." Kata Hinata dengan jujur.

"Aku masih tidak mempercayai hal itu."

Hinata mendesah. Ingin sekali ia menangis. Ia bukan Hinata Hyuuga yang asli oke?! Mengapa ia harus menanggung semua beban dari pemilik tubuh ini?!

"Hey Sasuke…" Bisik Hinata sambil menatap Sasuke. "Bisakah kau melepaskanku? Aku berjanji tidak akan mengganggumu dan Sakura. Ba-bahkan a-aku akan me-merestui hubungan kalian!"

Sasuke membisu.

Suasana terasa sunyi diantara mereka. Hinata masih menunggu jawaban dari Sasuke.

Sasuke masih tetap diam.

Hinata kemudian menjadi jengkel. Secara spontan ia mengambil sandal yang tengah ia kenakan dan melemparnya ke arah Sasuke. Lemparannya tepat mengenai dada dan kepalanya.

"Kau berani melakukan ini padaku!" Bentak Sasuke.

Untuk sesaat nyali Hinata menciut akan tetapi rasa marah yang ada di hatinya membuat ia menjadi berani.

"I-ini karenamu juga! A-aku berubah menjadi baik kau justru ti-tidak mempercayaiku. Ka-kalau begitu aku akan menjadi jahat saja sekalian!"

Hinata membekap mulutnya. Apa yang baru saja ia katakan ini?!

Sasuke tersenyum sinis. "Lihat. Kau mulai menunjukkan sifat aslimu."

Hinata kini beralih melemparkan bantal kecil yang ada di atas kursi. Si brengsek itu bahkan menghindarinya!

"K-kau benar-benar brengsek! Me-menurutmu mengapa a-aku jadi jahat hah?! Itu karena aku cemburu pada Sakura sehingga aku ingin melenyapkannya! Aku berubah menjadi jahat karena aku mencintaimu! Aku menjadi jahat karena aku ingin memilikimu!"

Hinata kembali membekap mulutnya. Tubuhnya terkulai lemas ke lantai. Apa yang baru saja ia katakan ini?

Air matanya tiba-tiba membanjiri pipinya.

Kenapa ia tiba-tiba menangis?

Hinata kini memegang dadanya yang terasa nyeri dan perih.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah ini… respon dari tubuh Hinata Hyuuga yang sesungguhnya?

Hinata menangis tersedu-sedu. Dadanya semakin sesak dan sakit.

Oh, Hinata… seberapa besar penderitaan yang telah kau tanggung karena mencintai Sasuke…

Tangis Hinata semakin menjadi-jadi.

Ia menangis meratapi hidup Hinata Hyuuga yang dipenuhi kepahitan. Ia menangis meratapi kesedihan Hinata Hyuuga yang keinginan terbesarnya hanyalah ingin mendapatkan cinta suaminya.

Tubuh Hinata Hyuuga kini adalah tubuhnya. Memori Hinata Hyuuga kini adalah memorinya. Kesedihan Hinata Hyuuga kini adalah kesedihannya. Penderitaan Hinata Hyuuga kini adalah penderitaannya.

Hinata masih belum mampu berhenti menangis.

Dalam benaknya ia melihat seorang wanita yang dengan setia menanti kepulangan suaminya hingga larut malam. Meski wanita itu lelah dan mengantuk ia tetap sabar menanti.

Wanita itu mencintai suaminya dengan tulus. Ia menyerahkan seluruh hatinya pada Sasuke akan tetapi Sasuke justru menghancurkannya berkeping-keping hingga tak bersisa.

Hatinya terasa perih ketika melihat memori tentang Sasuke yang memeluk Sakura dengan mesra.

Hatinya terasa perih ketika melihat memori tentang Sasuke yang sedang mencium Sakura.

Oh Hinata… hidup seperti apa yang telah kau jalani…

Hinata memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Ia sulit bernafas.

Seperti banjir, memori-memori itu memenuhi benaknya. Sasuke… Sasuke… Sasuke… Sakura… Sasuke dan Sakura… Naruto… Sasuke… Sakura… Neji… Keluarga Hyuuga… Sasuke… Sakura… Sasuke… Sasuke…

Kebanyakan adalah memori tentang Sasuke. Sasuke… Sasuke… dan Sasuke…

Hinata kini meringkuk di lantai. Hatinya sakit. Ia masih terisak-isak. Dadanya sesak. Air mata mengaburkan pandangannya.

Oh Hinata… seperti inikah rasa sakit yang telah kau tanggung?

Rasanya sakit sekali…

Hinata memejamkan matanya. Secara perlahan kesadarannya menghilang.

.

.

Hinata membuka matanya yang terasa berat.

Ia berada di kamarnya.

Ia melirik jam digital yang ada di samping tempat tidurnya. Pukul 03.17 pagi.

Hinata perlahan bangun dan pergi ke kamar mandi.

Ia melihat bayangannya di cermin. Rambutnya acak-acakan. Matanya bengkak dan sembab. Dan juga sedikit merah. Pipinya terasa lengket karena bekas air mata. Tenggorokannya terasa kering.

Setelah keluar dari kamar mandi ia mendapati boneka singanya yang berada di samping bantal.

Ah, Hinata ingat sekarang.

Pasti Sasuke yang telah menggendongnya ke kamar saat ia tak sadarkan diri. Sasuke juga yang telah membawakan boneka singa ini padanya.

Aku tidak menginginkan belas kasihanmu, dasar pria brengsek!

Hinata merebahkan dirinya di atas ranjang. Dadanya sudah tidak terasa sakit lagi.

Perlahan air matanya jatuh. Ia tidak ingin tinggal di rumah ini lagi. Ia tidak ingin melihat Sasuke lagi. Ia ingin bercerai dengan Sasuke.

Apa yang harus kulakukan?

.

.

"Maaf telah merepotkanmu, Nii-san." Kata Hinata dengan sedikit malu-malu.

Neji menggeleng. "Tidak masalah, Hinata."

Melihat wajah Neji yang masih terlihat mengantuk Hinata merasa bersalah. Ia dengan tergesa-gesa keluar dari rumah itu saat masih pagi buta sambil menyeret kopernya. Ia lalu pergi ke apartemen Neji. Untunglah Hinata Hyuuga memiliki memori tentang alamat apartemen Neji.

Neji tidak berkomentar apapun ketika melihat Hinata yang menenteng koper besar dengan mata sembab datang menemuinya saat pagi buta. Ia hanya mempersilahkan Hinata masuk sambil membuatkannya teh. Mereka berdua kini duduk di sofa ruang tamu.

"Nii-san…" Panggil Hinata.

Neji menoleh. "Ya?"

"A-aku bu-butuh bantuanmu." Kata Hinata sambil menatap ke arah Neji dengan serius.

"Katakan saja, Hinata."

"Aku ingin bercerai dengan Sasuke." Kata Hinata dengan tegas.

Neji membelalakkan matanya. "Bercerai?! Apa kau yakin itu?!"

Hinata mengangguk. "Aku yakin sekali."

"Tapi kau sangat mencintai Sasuke! Pikirkan kembali keputusanmu ini."

"Aku sangat yakin." Hinata kembali mengulangi kalimatnya. "Aku. Ingin. Bercerai."

Neji menganggukkan kepala. "Jika itu maumu. Aku akan segera menghubungi pengacara."

"Pokoknya hari ini juga."

"Eh?!"

"Aku ingin bercerai secepatnya. Hubungi pengacara hari ini juga." Kata Hinata dengan mata berapi-api.

Neji menggaruk-garuk pipinya. "Mungkin kau harus-"

"Nii-san." Potong Hinata. "A-aku ti-tidak ingin melanjutkan pe-pernikahan ini lagi. Aku sangat lelah…" Hinata kembali terisak.

Neji mengusap kepala Hinata. "Ssshh… tenanglah. Aku akan mengurusi semuanya."

.

.

Sasuke memainkan boneka singa dengan surai hitam di tangannya.

"Target pergi dari rumah pukul 04.02. Um…" Kakashi membolak-balik dokumen di tangannya. "Um… intinya target pergi meninggalkan rumah dengan menangis."

Sasuke menaikkan alisnya. Jari-jarinya sibuk mengelus surai boneka singa.

"Disini dijelaskan jika Pukul 04.02 target pergi meninggalkan rumah sambil membawa sebuah koper besar berwarna hitam yang terlihat berat. Besar kemungkinan jika koper itu berisi pakaian dan barang-barang pribadi target. Dengan beruraian air mata target berjalan tertatih-tatih menyeret koper itu di jalanan yang masih sepi dan lengang-"

"Kakashi…"

Kakashi mendesah. "Apa yang terjadi kali ini Sasuke?" Tanya Kakashi.

Sasuke tetap diam, tidak ingin menjawab pertanyaan Kakashi. Ia masih memainkan boneka di tangannya.

"Mengapa kau membawa boneka itu ke kantor?!"

"Lanjutkan saja laporannya."

Kakashi menghela nafas. Ia lalu membaca dokumen di tangannya itu dengan serius. "Yang jelas saat ini target berada di apartemen Neji Hyuuga. Um… Agen meminta maaf karena tidak mampu mengumpulkan informasi yang memadai mengenai kondisi apartemen Neji Hyuuga." Kakashi hanya bisa terkekeh membaca laporan ditangannya itu.

"Apa ada hal yang lain lagi?" Tanya Sasuke.

"Ah! Ini yang paling penting. Pukul 10.16 Neji Hyuuga menghubungi pengacara yang bernama Kankurou Sabaku karena target ingin mengajukan gugatan perceraian."

"Apa?" Jari-jari Sasuke membeku.

Kakashi mengangkat bahunya sambil tertawa. "Istrimu ingin bercerai darimu. Selamat ya."

Sepasang mata hitam Sasuke berkilat marah.

.

.

Please review.

Oh Sasuke~ kau memang brengsek~ lihat saja nanti saat kamu jatuh cinta pada Hinata~

*Ketawa jahat*