Silahkan perhatikan WARNING terlebih dulu sebelum membaca.

Keputusan membaca ada ditangan anda -devilsmile-

WARNING ! (Warning penting untuk mengetahui apa saja yang tersaji dalam fict ini) :

Alternative Universe, Straight Pair KakaSaku, Out Of Character, Point Of View, Typo(s), etc.

Disclaimer :

Naruto Masashi Kishimoto

Tanggung Jawab Ryuku S. A .J

Tanggung Jawab, Last Chapter

Sakura berdiri merenung dijendela kamarnya. Emeraldnya yang bercahaya menyiratkan kegalauan serta kecemesan yang tak ada bandingannya. Jantung hatinya masih belum menampakkan diri didalam gelap malam. Entah apa yang membuat belahan jiwanya menjadi agak pemurung dan terkadang suka berucap yang tidak jelas beberapa hari sebelumnya. Ini juga yang membuat Sakura khawatir…karena Kakashi tidak kembali kerumah selama 3 hari.

xXx

Kakashi terdiam diatas sebuah tempat tidur. Bukan tempat tidur dirumahnya tetapi tempat tidur penginapan yang telah ia tempati selama 3 hari. Hatinya masih menolak keras akan perintah yang mengharuskannya menyakiti sang istri tercinta. Mungkin sebagian orang akan mengira dia adalah seorang pengecut yang pergi tanpa alasan jelas. Sudah begitu dirinya juga meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Bisa saja tetangga sekitar mengira bahwa Kakashi pergi entah kemana karena sedang selingkuh atau juga mereka akan mengira kalau dia dan Sakura sedang bertengkar. Kelakuan Kakashi hanya akan membuahkan argumentasi yang egois dari para tetangganya.

Kakashi hanya bisa diam dan diam. Bukannya ia tak mau mencari cara untuk masalah ini tapi ia hanya tak bisa mencari cara agar keresahannya berkurang. Jika itu tidak berkurang tentu saja ia akan setres mendadak. Cobalah berpikir jernih Kakashi Hatake!

'Drrt drrt'

Kakashi melirik layer handphone-nya. Tertera jelas nama 'My Wife' disana itu berarti Sakura yang menelpon. Tapi Kakashi hanya diam dan tak menggubris panggilan itu sama sekali malah kini ia melemparkan pandangannya keluar jendela. Disaat handphone-nya berhenti bergetar, Kakashi segera meraihnya. Bukan untuk menghubungi Sakura tetapi menghubungi seseorang yang tentunya dapat membuat Kakashi lega setiap berbicara dengan orang itu.

"Kak Sasori…sepertinya aku bisa mengikuti kemauanmu…"

xXx

Sakura membuka matanya kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Tubuhnya agak lelah karena semalam ia tidur terlalu larut dan sekarang bangun terlalu pagi. Ia berusaha membuka matanya sekedar untuk membuat pandangannya normal kembali. Sejenak ia bersandar pada dinding. Memikirkan Kakashi…

'Ya Tuhan… kemana dia?'

Sakura kembali berjalan menyusuri anak tangga rumahnya. Setelah turun, segera ia langkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sakura membasuh wajahnya yang agak kusut. Kepalanya terangkat sehingga kini dia dapat bercermin. Betapa lesunya wajah Sakura saat itu. Tak bersemangat seperti biasanya.

'Tok tok'

Sakura tersentak saat mendengar ketukan pintu. Dia segera merapihkan rambutnya yang awut-awutan, kembali membasuh wajahnya serta menyempatkan untuk menggosok giginya.

"Sebentar!"

Setelah semuanya beres, Sakura segera mempersiapkan dirinya didepan pintu. Dirinya berharap kalau Kakashi-lah yang berada dibalik pintu tersebut.

"Kaka-eh?"

"Pagi Sakura."

Sepertinya harapan Sakura tidak terkabul. Bukan Kakashi yang muncul disana melainkan atasan Kakashi. Sehabis membawakan secangkir espresso pada Ibiki, Sakura duduk dan mulai membuka pembicaraan.

"Ada apa datang kemari?" Tanya Sakura agak khawatir.

"Aku datang untuk mencari Kakashi. Apa dia ada?"

Sakura menunduk.

"Dilihat dari ekspresimu sepertinya Kakashi juga tidak ada disini. Maaf ya Sakura, karena kami Kakashi pergi." Sakura tersentak tak percaya dengan perkataan Ibiki.

"Apa maksud Anda?"

"Sakura sebenarnya…"

xXx

Kakashi berdiri didepan Café kecil sambil memutar-mutar handphone-nya. Menunggu sang kakak ipar yang datangnya lama sekali. Coba bayangkan cowok tampan seperti Kakashi berdiri sendirian sudah begitu di flirt pula sama cewek yang kebetulan lewat. Pasti ada yang berpikir kenapa dia tidak langsung saja masuk ke Café, sayangnya saat Kakashi hendak masuk…satpamnya berkata: "Maaf…dilarang masuk sendirian." membuat Kakashi menganga tidak percaya.

"Yo Kakashi!" Panggil pria berambut merah yang tampangnya sulit dikategorikan orangtua atau anak-anak.

"Lama sekali, Kak. Sudahlah kita langsung bicarakan didalam."

"Haha, maaf ya."

Kakashi dan Sasori segera masuk kedalam Café. Awalnya mereka tidak langsung membicarakan inti pembicaraannya hanya sekedar bahasan ringan untuk menuntun keduanya ke bahasan yang berat.

"Apa hanya itu satu-satunya cara?"

"Iya. Setidaknya kau masih bisa mengunjunginya setiap ada waktu luang yang penting itu adalah keselamatannya."

"Tapi…aku tidak yakin aku bisa."

"Pasti Kakashi. Lagipula ini tidak untuk selamanya, seperti kataku tadi..kau bisa mengunjunginya kapanpun."

"Benar juga tapi apakah dia tau tentang ini, Kak?"

"Dia akan segera tau."

xXx

"Jadi begitu…pantas saja Kakashi menjadi aneh belakangan ini." Ucap Sakura sambil tersenyum kecut.

"Maaf Sakura. Tapi…kami bisa mengcancel itu kalau kau dan Kakashi-yah seperti yang tadi kuucapkan."

"Aku bisa. Apapun akan kulakukan demi dia. Dan juga terima kasih telah memberikan cara terbaik untukku dan Kakashi."

"Sama-sama tapi tetap saja aku harus meminta maaf. Kalau begitu aku harus pamit, terima kasih Sakura." Pamit Ibiki seraya melangkahkan kakinya menuju pintu.

"Yah, hati-hati dijalan."

Setelah Ibiki beranjak pergi dari rumahnya menggunakan kendaraan kantor, Sakura hanya bisa memandangi kepergian orang itu sambil menggenggamkan kedua tangannya dan tak henti menyuarakan nama 'Kakashi' didalam hatinya.

xXx

Kakashi sudah terdiam cukup lama setelah mendengar ucapan Sasori yang mengharuskan dirinya dan Sakura untuk sesuatu. Bagi Kakashi hal itu sangatlah berat tetapi ia kembali berpikir kalau hal ini tidak ia lakukan maka hasilnya akan membuat dia maupun Sakura menderita. Jadi ya hanya ini saja yang bisa ia perbuat. Demi kebahagiaan Sakura kelak.

"Baiklah kalau begitu. Kapan bisa dilakukan?" Tanya Kakashi. Sasori sedikit kaget dan hampir saja memuncratkan minumannya saat Kakashi bertanya seperti itu.

"Ehem! Segera saja. Tapi kau harus pulang dulu dan menjelaskannya pada Sakura. Setelah semuanya jelas kessokan harinya kau bisa segera ke pengadilan."

"Baik!"

"Nah, sekarang kau pergi. Aku mau tetap disini sebentar."

"Ok. Terima kasih Kak!"

Kakashi segera berlari keluar dan meninggalkan Sasori didalam Café tersebut sendirian. Tak lama setelah bayangan Kakashi menghilang, Sasori mengambil telepon genggamnya dan mencoba untuk menghubungi seseorang.

"Konan…temui aku ditempat biasa."

xXx

Kakashi berhenti cukup jauh dari kediaman yang ia tinggali bersama Sakura. Sebelumnya terlebih dahulu ia mengatur kembali laju nafasnya yang sangat memburu (jaraknya cukup jauh). Matanya mengamati setiap beluk bentuk rumahnya tapi kemudian matanya berhenti menjelajah karena menemukan sosok pujaan hati berada disana.

"Sakura?"

Sakura. Gadis yang tadi berada diluar kini beranjak masuk kedalam. Kakashi terus memperhatikannya sampai keinginan untuk menghampiri Sakura meledak-ledak hingga akhirnya ia berlari kesana, melompati pagar kayu yang tingginya hanya 1 meter.

"Sakura!"

Sakura terhenti sejenak. Perlahan badannya berbalik. Mata hijaunya membelalak lebar saat melihat orang yang dinantinya kembali dengan keadaan baik-baik saja.

"Kakashi!" Sakura berlari dan memeluk suaminya itu. Airmatanya jatuh berlinang karena sudah tak sanggup menahannya untuk keluar.

"Kau kemana saja?" Tanya Sakura disela tangisannya.

"Maaf ya…" Untuk saat ini yang bisa Kakashi lakukan hanyalah meminta maaf dan membalas pelukan hangat Sakura.

Selepas acara kangen-kangenan mereka berakhir, mereka memutuskan untuk tidak membicarakan masalah itu sampai semuanya sudah kembali normal. Pertama-tama mereka hanya duduk-duduk saja sambil saling mengejek satu sama lain, candaan ringan.

"Pasti kau sudah tau kan Sakura?"

"Eh?..."

Sakura menunduk sedih membuat Kakashi menjadi merasa bersalah.

"Tidak apa-apa…asalkan kita bisa bertemu-kurasa akan baik-baik saja."

"Benarkah? Kau tau, keputusan ini adalah keputusan yang paling berat yang pernah melandaku."

"Aku juga."

"Maafkan aku Sakura."

"Tidak perlu. Akulah yang harusnya meminta maaf. Andai saja aku ini tadinya hanyalah gadis biasa, tentunya kita tidak akan dilanda masalah seperti ini. Tapi sayang aku bukan itu." Sakura kembali menitikkan airmatanya. Kakashi terkejut dan segera memeluk Sakura dari depan.

"Semua ini akan segera berakhir. Jangan menangis lagi Sakura."

xXx

Keesokan harinya saat matahari masih setengah mengantuk, Kakashi dan Sakura segera menuju ke pengadilan setempat. Keduanya memantapkan hati untuk berpisah sementara waktu hingga semuanya berakhir. Sesampainya disana, mereka segera diminta untuk masuk dan mulai membersihkan segalanya.

"Ya ampun lamanya." Ucap seseorang yang tak lain adalah Sasori yang tengah menunggu diluar ruangan. Ia berharap kalau nanti adiknya akan tetap bersama Kakashi dilain hari.

Setelah 2 jam menunggu akhirnya Kakashi dan Sakura pun keluar. Mereka keluar dengan keadaan saling menggenggam tangan satu sama lain seakan-akan tak mau dipisahkan. Sasori bisa melihat kalau sebenarnya mereka itu saling mencintai satu sama lain dan berharap ini semua tidak pernah terjadi. Toh, lagipula yang mereka lakukan ini hanyalah untuk melindungi satu sama lain.

'Tuhan…cobaan ini terlalu berat untuk mereka berdua'

*Kakashi PoV*

Haah… akhirnya aku dan dia harus berpisah juga. Aku tak tau harus apalagi untuk mempertahankan biduk rumah tangga kami. Aku tidak ingin nyawa Sakura terancam hanya karena dia menjadi istriku. Dan kami berpisah bukan karena kami tidak saling mencintai ataupun memang tidak mau hidup bersama. Kami melakukannya semata-mata untuk melindungi satu sama lain walaupun keputusan ini terkesan egois.

Tapi didalam hatiku aku berjanji, jika semua ini telah selesai dan tidak berhubungan lagi dengan masalah Sakura…aku berjanji akan kembali padanya. Kembali membangun kebahagiaan bersamanya. Dan bila saat itu tiba, aku tidak akan menyia-nyiakannya serta kalau diperbolehkan aku akan berhenti menjadi agen FBI agar kami tidak akan berpisah untuk yang kedua kalinya.

Tuhan…lindungilah istriku selalu…selamanya…

xXx 4 Tahun Kemudian… xXx

Seorang anak kecil berumur kurang lebih 4 tahun berlarian dari satu gang ke gang yang lain. Tiba-tiba ia berbelok tajam kedalam sebuah rumah yang sederhana. Ia masuk tanpa permisi dan mendobrak pintu rumah tersebut dengan kencang.

"Ibuuuu!"

Anak perempuan berambut perak kehitaman bermata hijau terang itu berlari kesana kemari sambil terus memanggil nama ibunya.

"Hyaaaa! Keponakan paman ini bawel sekali!" Seru seseorang sambil menggendong anak perempuan itu.

"Paman, Ibu mana?"

"Ibumu ada didapur sejak tadi." Jawab Sasori sambil memasang tampang sweatdropnya.

"Kalau daritadi didapur kenapa gak nyaut ya?"

"Mana Paman tau! Dasar!"

"C'mon Uncle Saso, ayo kita kedapur!" Pinta anak itu sambil jingkrak-jingkrak di gendongan Sasori hingga membuat paman berambut merahnya itu sedikit kesal.

Sampainya didapur, sang anak segera meminta turun dan segera berlari menuju sang Ibu yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.

"Ibu…" Panggil anak itu sembari menarik-narik baju Ibunya. Sang Ibu yang mempunyai warna mata yang sama dengan sang anak hanya bisa ber'hm' saja tanpa menoleh kearah anaknya.

"Ayah kenapa belum datang juga?"

Sang Ibu yang bernama Sakura berhenti dari pekerjaannya dan menatap sang anak. Dia berjongkok untuk menyamakan tinggi anaknya.

"Mungkin sebentar lagi. Kamu tunggu saja diluar, bagaimana?"

"Osh!" Anak perempuan tersebut segera berlari keluar. Sakura hanya bisa tersenyum lembut melihat tingkah laku anaknya.

"Kak tolong awasi Gin…" Pinta Sakura yang segera direspon oleh anggukan Sasori.

Gin, anak perempuan Sakura itu segera duduk manis diteras rumah hanya untuk menunggu sang Ayah datang. Ia tidak tau kalau sebenarnya Ayah dan Ibu mereka telah berpisah sebelum ia lahir. Toh kalaupun ia tau selama ini baik Ayah maupun Ibunya selalu bertemu dan sangat mesra sekali, jadi anak polos itu tidak terlalu memikirkannya.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya yang ditunggu pun datang. Seorang lelaki berambut perak yang menentang hukum gravitasi turun dari sebuah mobil violet. Gin yang tau itu adalah Ayahnya segera berlari menghampiri.

"Ayah lama sekali!"

"Haha, maaf ya." Kakashi segera menggendong anak perempuannya yang cukup berisik itu.

"Yo Kak Sasori!" Sapanya pada Sasori yang setelah itu hanya mengangguk dan masuk kedalam.

"Ayah kita bermain yang seru ya nanti!"

"Baiklah. Gin mau main apa?"

"Apa saja! Ibu juga harus ikut! Paman juga!"

"Wah, Gin akan merepotkan banyak orang nanti."

"Wahahahaha! Abisnya Gin disini suka bosan!"

"Ok. Terserah Gin sajalah."

"Yeaaaah! Ibu! Ayah sudah pulang!"

xXx DiEn xXx

Walah…map ya apdetnya lama (gak ketulungan) abis nyetuck banget sih, jadi bingung *ngeles*

Yasud silahkan review saja, hehehehehe… ^^b

Sankyuu~ yang mau baca…