Let Me Love You

Summary:

Byakuya boleh saja pria paling tampan yang ada di muka bumi, tapi itu bukan jaminan dia bisa mendapatkan wanita yang diinginkannya, apalagi jika gadis itu bernama Rukia. AU.

All disclaimers apply. Dulu ada topik di sebuah radio swasta di Surabaya, "Kalau kamu jadi orang Jepang, pengen jadi siapa?" Banyak yang bilang pengen jadi Hideaki Takizawa, dll artis negari bunga Sakura tersebut. Waktu itu aku ngirim jawaban kaya gini, "Kalau jadi orang Jepang, aku pengen jadi pacarnya Kubo Tite, biar bisa baca jalan cerita Bleach duluan." Mungkin cuma dengan cara itu I could own Bleach. Sayangnya tidak! Jadi, Bleach cuma milik Kubo Tite-Sensei.

Chapter 2

"Halo?" Rukia memberi salam pada sang penelpon.

"Halo? Rukia? Ini Byakuya Kuchiki," suara dalam laki-laki menyapa telinganya.

Byakuya Kuchiki? Hampir Rukia tersedak air ludahnya sendiri. Dia tidak menyangka Byakuya akan menelponnya secepat itu. Baru kemarin malam dia memberi ijin ayahnya untuk memberikan nomor ponselnya pada pria itu.

"Kau sibuk sekarang?"

'Suaranya cowok banget' Rukia membatin dalam hati, sebelum menyadari menggelikannya pikiran tersebut.

"Apa aku mengganggu?" Byakuya bertanya ketika tidak ada jawaban dari seberang.

"Oh, tidak," Rukia buru-buru berkata.

"Masih di kampus ya?"

"Begitulah."

"Terima kasih sudah memberiku nomormu."

"Sama-sama."

Ichigo memperhatikan temannya dengan saksama. Baru kali itu dia melihat teman kecilnya berbicara dengan formal melalui telepon. Biasanya Rukia selalu menjawab telepon dengan santai, namun sekarang dia seperti menahan diri dan jaim alias jaga image.

"Sedang apa sekarang?"

Rukia memainkan pulpen di tangannya. "Mengerjakan tugas, tapi sudah hampir selesai. Byakuya-san sendiri?"

Rukia mendengar derak kayu ditarik dan suara kertas dibalik.

"Istirahat, jadi kupikir mumpung sedang senggang, aku menelponmu. Boleh kusimpan nomormu, kan?"

Gadis itu tertawa kecil. "Boleh saja."

"Trims," entah cuma perasaannya saja atau apa, tapi Rukia bisa merasakan Byakuya tersenyum lewat nada suaranya. "Kapan-kapan aku telpon lagi. Waktuku hampir habis."

"Ah, terima kasih sudah menelpon."

"Sama-sama Rukia. Bye."

"Siapa sih?" Ichigo tidak mampu menahan rasa ingin tahunya melihat mata violet di depannya berbinar dan senyum masih menghiasi bibir Rukia.

"Ada deh, " jawab Rukia sok rahasia. "Mau tahu aja."

Jelas cowok beralis berkerut itu sebal.

"Ngomong-ngomong, siapa saja nanti yang nonton?" Rukia mengalihkan pembicaraan. Dia tahu setiap laki-laki pasti tidak suka dikatai serba ingin tahu urusan orang.

"Renji dan Keigo," kerutan di dahi Ichigo hilang sedikit. "Chad ada kerja sambilan, dia tidak bisa ikut. Oi, Rukia, Keigo kirim salam tuh. Dia marah-marah karena kemarin aku lupa menyampaikannya."

Rukia geleng-geleng. "Tiap hari ketemu, masih saja kirim salam. Temanmu aneh sekali." Tapi teman-teman Ichigo tidak ada yang biasa. Ada Chad yang setinggi tiang listrik, Uryu si pintar, dan yang pasti, yang paling nyentrik tentu si Ichigo. Dari jauh saja orang pasti mengenali rambut menyalanya. Belum lagi figurnya yang selalu mengerutkan alis dan kulitnya yang agak gelap dari kebanyakan orang Jepang pada umumnya.

"Tahu tidak," Ichigo tersenyum usil, matanya berbinar jahil. "Renji hampir saja menonjok Keigo gara-gara salamnya itu. Geez, posesif sekali. Kalian sudah bubar kan?"

Kalau mata bisa membunuh, Ichigo pasti sudah di alam baka karena pandangan maut yang diarahkan Rukia padanya.

"Berhenti menggodaku soal itu! Berapa kali aku bilang, Renji sahabatku."

Bahkan sebelum mereka pacaran pun, Renji sudah protektif terhadapnya. Rukia tidak menyadarinya, tapi teman-teman di sekitarnya sangat jelas dengan perhatian yang diberikan Renji. Mereka berteman sejak kecil. Rukia merasa wajar kalau mereka sangat dekat.

Xxx

"Ingat Byakuya yang kuceritakan tempo hari? Tadi dia menelpon," Rukia nyengir. Seperti yang dia duga, teman se-flatnya, Momo Hinamori langsung menjerit histeris.

"Kyaaaa.." seperti seorang fangirl, Momo bertepuk tangan dengan semangat. Untung dinding flat tebal. Coba kalau tidak, pasti tetangga pada marah-marah menggedor pintu dan meminta kedua gadis itu untuk tidak ribut.

Momo gadis yang selalu ceria dan optimis. Dia suka sekali cerita roman. Lucunya, tiap kali Rukia dekat dengan seseorang, Momo-lah yang paling semangat, melebihi si empunya roman sendiri.

"Dia bilang apa?" Momo memutar kursinya, ingin tahu cerita rekannya itu.

"Bukan hal yang signifikan sih," Rukia mengibaskan tangannya. "Cuma ngobrol biasa saja."

"Tidak apa-apa," gadis yang lebih tinggi dari Rukia itu memberi semangat. "Kan baru sekali ini telpon."

Rukia tertawa. Senang sekali mempunyai teman seperti Momo.

"Kok pulang malam, Rukia?"

Rukia mengangsurkan tempura, yang disambut Momo dengan senang hati. Itu makanan favoritnya. "Habis nonton."

"Dengan Byakuya?" Momo melongo.

"Aduh, bukan," Rukia menyebutkan teman-temannya.

"Renji?" Momo mengunyah tempuranya pelan-pelan. "Jujur saja, aku tidak mengerti persahabatanmu dengan Renji. Mengherankan sekali kalian masih bisa berteman baik setelah putus."

Rukia mengangkat bahu. "Mungkin karena kita mulai sebagai teman."

"Kau beruntung sekali."

"Kenapa begitu?"

"Yah." Momo mencari kata yang tepat. "Tidak banyak yang mempunyai sahabat sedari kecil sampai dewasa, langgeng lagi."

Baru saja Rukia menghempaskan tubuh mungilnya di kursi ketika Momo bersuara lagi.

"Aku jadi penasaran, seperti apa Byakuya."

Rukia menerawang. "Aku tidak begitu ingat," jawabnya jujur. "Waktu itu aku tidak memandangnya. Seingatku, dia berambut hitam, matanya juga gelap-mungkin sih-. Rambutnya panjang dan orangnya tinggi. Itu saja."

"Harusnya kau lebih perhatian," Momo melotot, sedikit menyalahkan Rukia. Dia jenis orang yang sangat antusias, yang menurut Rukia lucu sekali.

"Ah, Momo. Aku kan tidak tahu. Aku pikir cuma sekali itu saja aku bertemu dia. Tidak menyangka akan lebih jauh dari itu. By the way," gantian Rukia yang menatap galak. "Jangan berpikir atau membayangkan macam-macam. Kami cuma berteman."

"Hello, kau pikir pria dewasa akan iseng untuk sekedar mencari teman?" Momo melempar pandangan tak percaya. "Terlebih lagi, dia langsung minta nomormu ke ayahmu. Dia pasti serius. Kau bilang, dia sudah tua kan?"

"Yah, beberapa tahun diatas kita."

Ada perasaan aneh menyusup dalam diri Rukia. Terus terang, selama ini pria yang dekat dengannya tak lebih tua tiga tahunan darinya. Kurang lebih mereka seperti teman. Jelas Byakuya tidak bisa dianggap teman.

"Argh," dia mengerang dalam hati. Lama-lama dia jadi berpikir seperti Momo. /Kemana diriku yang cuek dulu?/

Tidak ingin berpikir lebih lanjut lagi, Rukia beranjak ke kamarnya. Baru saja dia keluar dari kamar mandi, ponselnya berbunyi.

"Renji? Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa," suara Renji Abarai terdengar malas-malasan. Bukan hal aneh teman sejak kecilnya itu menelpon tanpa alasan.

"Cuma buang pulsa, bukannya sombong lho."

Rukia mendengus tapi tak urung dia tersenyum.

"Tahu tidak, tadi rasanya seperti ada yang memanggilku dan berkata 'Rukia membutuhkanmu'. Karena aku teman yang baik, aku turuti saja suara malaikat dalam kepalaku."

"Ichigo langsung tobat kalau sampai kau bisa mendengar malaikat."

"Oi, jahat sekali," Renji protes.

"Baru tahu ya?"

"Tidak, aku sudah tahu dari dulu, tapi pura-pura tidak tahu."

"Kenapa tetap jadi temanku?"

"Mukjizat."

"Beneran kau cuma buang pulsa!"

Seringnya Renji telpon cuma untuk mengajak bertengkar. Namun kali ini, Rukia merasa lega setelah adu mulut dengannya. Rasanya stres karena kuliah dan Byakuya menguap seketika.

"Oke deh, sampe besok."

"Oke," Rukia menutup telpon.

Tidak sampai semenit dia langsung terlelap. Malam itu mimpinya tentang seorang pria berambut segelap malam tersenyum samar padanya.

TBC

A/N: Benar teman-teman, yang telpon tak lain dan tak bukan ya Byakuya sendiri. Gampang ditebak ya? Hehe. Jangan kuatir, review se-gaje apapun aku terima dengan senang hati kok ^_^. Ah, rasanya beda sekali membaca review dalam bahasa ibu daripada bahasa asing. Apa nanti aku nulis cerita dalam bahasa Jawa sekalian ya? Ohoho.