Pengacuhan Anak Baru now available in chapter 2, tags: Pengacuhan Anak baru ch. 2, Pengacuhan Anak Baru ch.2 : Makin, Pengacuhan Anak Baru chapter terbaru, Pengacuhan Anak Baru lastest update, time of update, update every month on 13th, chapter 2 summary, see previous chapter, Om Howa, Om, Howa, contact Om, Lightsho-ai, Mystery slowly but not too sure, Naruto, Indonesian, Mystery, Sasuke .U, Pengacuhan Anak Baru by Om Howa, Pengacuhan Anak Baru ©2014 Om howa all right reserved first published in 2014.
Disclaimer – Masashi Kishimoto
Rated – T 12. Harap bimbing anak anda yang masih di bawah umur dalam membaca fic ini.
Genre – Mystery, Friendship, School-life (kalo tersedia di ffn).
Summary – C2: Makin. Uang Sasuke hilang dalam jumlah yang tidak sedikit, hilangnya di kelas pula, kelas 3-1 yang mengacuhkannya, "Apa aku boleh–" tanggapan anak anak 3-1 pasti buruk! Warn Light sho-ai. "Bantu apa?" "Menjauh! Menjauh!"
Kode Merah (sabda Skipper : "Berharaplah kau hidup tidak untuk melihatnya..") - OOC-DOC, CCD, AU, cerita membingungkan anda pasti sulit menyerap isi dari fic ini. Mystery kacau, Friendship di kelas main chara nggak ada, authornya ngelawak dikit dikit, mungkin agak LIGHT shonen-ai, dan lagi miss type serangkai bersarang di sini. Semua itu karena authornya pelarian Saarne Institute. Bagi anda yang hanya membaca fic fic kece badai harap tutup tab ini atau kembali ke Naruto archive, karena fic ini bukan yang macam itu. Penting buat anda bahwa perusahaan yang menghandle fic ini tidak memberikan asuransi jiwa buat anda jika otak anda terbakar saat membaca seperti Patrick. Produk ini tidak disarankan untuk orang orang normal, takutnya abis baca ini langsung nggak normal. Bahasa nggak formal terdeteksi : 50%. Terakhir yang anda harus tau jika menyukai fic ini harap bacakan di kelasmu besok pagi, jika tidak suka, silahkan lindas gadget anda dengan truk sampah ehm— ralat, lindas aja authornya dengan tronton (audience : HOREEee..!).
Pengacuhan Anak Baru :
Case 2
Makin
Ide Produk
Ho-Wah
(Mourice : dan seterusnya, hore semua… *tampang malesin*)
'Klepto!'
Kata dasar dari sebuah penyakit bernama Kleptomaniac, penderita berkecenderungan untuk mengambil barang seseorang dengan alasan awal meminjam tapi tidak pernah dikembalikan, mencuri, sweep, atau sebenarnya memang otak maling. Apa benar sebenarnya di kelas 3-1 yang anaknya pintar pintar ini ada kleptonya, dan Sasuke yang menjadi sasarannya sekarang? Tidak, tidak mungkin, jangan kalap dulu tiba tiba berteriak teriak dan menuduh orang di depan sana, apalagi hubunganmu tidak bagus dengan seisi kelas ini, ingin diusir dan kembali ke SMPN 1?
Tapi ke mana barang barang itu hilang?
Kejadian barang barang hilang ini terus berkelanjutan, awalnya hanya benda benda kecil seperti penghapus, pensil, lalu mulai merambah ke buku tulis, lalu buku pelajaran, dan sekarang uang, mungkin esok hari nanti bisa jadi nyawa Sasuke yang hilang tiba tiba dan Sasuke sendiri tidak menyadarinya, dan siapa yang mencuri nyawanya? Masalah ini makin serius.
TELEDOR, CLUMSY.
Sasuke hanya bisa terdiam termenung, di tempatnya yang mojok dan dipojok. Untungnya, dia tidak menaruh semua uang bulanan ini di tas, dan hanya separuhnya saja. Sasuke berfikir berulang kali kalau tadi, tuh seharusnya dia buru buru membayarnya tidak usah menunggu hingga istirahat, Sasuke berfikir kenapa tidak orang tuanya saja yang datang untuk membayar, Sasuke berfikir, kenapa uangnya tidak semuanya saja dibawa dan tidak ditinggalkan di tas? Berfikir kalau seharusnya begini, begitu untuk beberapa saat yang lalu adalah hal yang sia sia. Lalu meyakinkan diri kalau ingatannya benar dan tidak menjatuhkan uang itu di suatu tempat, atau tertinggal di rumah.
Dia tidak bisa terima sekarang, sekarang pandangannya menjerumus kepada semua anak yang berlalu lalang di kelas, tidak semua anak anak ada di kelas saat istirahat, tapi cukup jumlah untuk bertanya kepada mereka, mengintimidasi, mengancam, menggeledah mereka.
Yakin? Apakah nanti kau tidak akan dipandang sebagai orang yang tiba tiba datang dengan masalah dan mencurigai seseorang yang sebenarnya tidak melakukan apa apa? Kau punya masalah? Masbuloh.
Sasuke sebenarnya ragu juga, ada pertimbangan ini itu, ini itu, inginnya dilaporkan langsung kepada guru, tapi sekarang lingkungan yang paling dasarnya adalah kelas ini, kelas yang penuh kebusukan ini. Tanyakan saja, anggaplah ini seperti SMP 1 saat dulu anak anaknya begitu terbuka dan saling berbagi satu sama lain! Sasuke berusaha mengirimkan pikiran pikiran positif yang mendorongnya untuk beraksi.
"Hei!"
Kelas langsung sunyi, semua pandangan langsung menuju kepada seorang laki laki emo yang berdiri sendiri di depan kelas. Panggilan itu mematahkan semua obrolan, aktivitas, dan merenggut perhatian.
Sasuke merasa sedikit terintimidasi dengan banyaknya bola mata yang menyerangnya, tapi pandangannya terus menatap ke depan. "Uangku hilang, aku tidak bermaksud menuduh kalian semua, tapi apa ada yang menemukannya?" Sasuke sudah mencoba sebaik mungkin yang dia bisa, walau nadanya masih konstan seperti karakternya, datar, lurus, dan terarah.
Hening, wlau perhatian rasanya berhasil didapatkan, tapi mereka masih hanya terdiam sambil menatap Sasuke, kacang, kacang mahal. Gagal sudah didapatkan Sasuke. Di sisi lain, ini seperti jawaban tidak ada yang melihatnya, atau tidak ada yang menemukannya, bagi Sasuke.
"Kalau begitu, maaf, tapi apakah aku boleh menggeledah kolong meja kalian satu persatu?"
Anak anak langsung menunjukan reaksi, diantaranya mereka mulai ribut dan sepertinya membicarakan soal keputusan Sasuke. Mereka merasa privasinya terganggu? Atau apa? Tapi ini penyelidikan, bukan? Tidak seharunya kalian merasa takut –kalau memang tidak bersalah. Atau Sasuke yang memang lancang?
Beberapa sekon ke depan, dengan harapan akan dijawab setelah keributan ini berakhir, tidak juga. Sasuke tidak dihiraukan lagi, ini. Baiklah, sepertinya dia lagi yang harus memulai duluan.
"Apa aku boleh–"
"Kenapa tidak lapor pada guru saja?"
"Apakah kau harus mengacak-acak kolong meja kami?"
"Apa kau tidak percaya kalau tidak ada yang mencurinya di kelas ini..?"
KICEP!
Akhirnya, setelah sebulan berlalu, dipojokkan dan diasingkan, Sasuke direspon juga, akhirnya! Sayangnya, responnya buruk.
Pandangan anak anak –terlebih mereka yang langsung mengutarakan suara dengan lantang untuk menolak Sasuke, walau bola mata Sasuke hitam dan menutupi semua perasaannya, rasa kicep, kecewa, dibenci, dan takut, tetap saja ada. Akankah rasa benci pada anak anak 3-1 akan dirasakannya juga?
Kelas hening setelahnya, setelah Sasuke dibungkam, dirinya dengan langkah pelan penuh depresi dan penolakan beranjak dari pusat perhatian ke sarangnya di pojokkan, diiringi dengan pandangan anak anak yang menusuk dari depan dan belakang. Ini memang bukan tindakan yang bagus dari awal, sangat, sia sia, dan menyesal. Dari awal memang seharusnya melapor langsung ke Guru, atau tidak usah melakukan apa apa saja lebih baik.
"Maaf, tapi kehilangan uang bukan tanggung jawab sekolah,"
Sasuke tidak bisa marah, tidak bisa melemfar benda terdekat ke guru yang bahkan namanya belum Sasuke ketahui ini, menuntutnya? Keluar dari Vibishana saja. Dia hanya bisa berdiri sambil menatap wajah laki laki yang agak muda yang duduk di mejanya yang sederhana sambil mengumpat di dalam hatinya tentang berbagai kebencian, kecewa, frustasi, dan hal hal lain yang neghatif.
Walau itu sia sia juga,
Nggak apa apa, yang penting sudah mencobanya. Kita tidak akan tau sebelum mencobanya, dan ini bisa dijadikan pelajaran.
"Apa? Uangnya hilang?" Itachi bukannya tidak kedengaran, tapi dia tidak percaya atas kehilangan uang oleh adiknya. Ngomong ngomong, kenapa itachi nganggur terus, ya, dari chapter kemarin?
Sasuke tidak begitu berani menatap wajah Itachi sekarang, pandangannya agak tertunduk, jarak diantara mereka juga agak jauh. "Iya..."
Seperti yang anda sekalian bisa baca, Itachi memberi kode dengan tangan untuk memanggil Sasuke agar adiknya bisa ke sisinya lebih dekat. Sasuke sudah merasa tidak enak, banget, dia juga bisa membaca detik detik berikutnya dia akan diapakan, bagaimanapun juga dia mendekat ke Itachi.
"Duh!" kali ini, bukan hanya tojosan kedua jari Itachi, tetapi Sasuke disentil jidatnya, kode keras atas apa yang dilakukannya.
Itachi, masih dengan kerutan legendaris di wajahnya menatap Sasuke, sementara Sasuke mencoba untuk tidak mengusap dahinya. "Aku bukan anak kecil lagi!" katanya dengan nada agak merajuk, merengek.
Itachi terdiam di awal, "Kalau begitu kenapa masih bisa kehilangan uang? Itu namanya masih seperti anak kecil."
Walau itu menyesal bilang ke abang, kakak, dan nii-chan sendiri dan malah diomelin.
Nggak apa apa, yang penting udah terbuka sama keluarga? Kakak.
Sudah dia rencanakan hari ini sepulang sekolah untuk mampir ke sebuah toko. Hari ini dia tidak pulang bersama dengan Naruto karena Sasuke tidak menemukannya. Toko apa? Toko xx yang menjual xx, karena Sasuke merasa terpukul atas kehilangannya kemarin, dia membuat sebuah rencana untuk tidak kehilangan lagi pada masa yang akan datang.
Sasuke tertarik dengan gembok kecil yang nggak lucu ini.
Sasuke melihat gembok itu sekali lagi, melihat label harganya. Untuk berjaga jaga, tidak, ini harus, Sasuke tidak lagi ingin kehilangan yang terpenting untuknya. Gembok ini bisa dipasangkan diantara 2 resleting tasnya untuk mengunci, walau dia tau dia akan sedikit membutuhkan waktu untuk memasang dan melepasnya, apalagi di kondisi yang kebakaran jenggot atau terburu buru. Sasuke pun menetapkan hati dan mengambil gembok yang masih dalam kemasan itu. Tapi dia tidak berfikir sampai bagaimana kalau dika kehilangan kuncinya, dan akhirnya dia harus menggunting tasnya.
"Hei, beli gembok buat apa..?" Refleknya, Sasuke langsung menoleh. Apa ini? Seorang SPG dengan suara laki laki menghampirinya.
'Oh,' respon pertama Sasuke saat melihat Naruto ada di belakangnya, gembok kecil yang masih dalam kemasan itu masih dalam genggamannya, "Untuk.. menggembok sesuatu.."
"You Don't Say, Sasuke."
Jujur saja sebenarnya Sasuke ingin merahasiakan ini dengan dirinya sendiri.
"Untuk dipasang di resleting tas," siapa yang nanya mau dipasang di mana? Naruto sendiri mulai tertarik dengan jawaban Sasuke yang setengah setengah ini, tertarik untuk lebih mengoreknya.
"Buat apa dipasang di tas? Memangnnya kamu setiap hari membawa uang satu tas penuh itu?" Pikiran orang orang ketika sesuatu digembok adalah, di dalam barang itu ada sesuatu yang penting. Naruto masih melihat gembok yang ada di tangan Sasuke dan Sasuke malah seolah menyembunyikannya dengan agak mengepalkan tangannya.
Sasuke menghembuskan nafas dengan agak berat, sedikit, dia lihat di depannya ini masih ada seorang anak dengan rasa kepo yang tinggi. "Ya.. uangku pernah hilang, dalam jumlah yang banyak."
"Hah..? Di kelas? Bagaimana carannya?!" Benar dugaan Sasuke, kalau dia menjawabnya, penyelidikan ini makin akan terus berlanjut, dan memang masih akan terus berlanjut. Yaudah, lah, yah.
"Ya, di kelas. Tapi kalau kau bertanya bagaimana caranya, aku juga tidak tau," kalau Sasuke tau, maka dia akan menggunakan Sharingan-nya untuk menyerang si klepto.
"Terus, bagaimana, ketemu tidak uangnya?"
"Sampai sekarang, tidak. Sekolah juga tidak bertanggung jawab."
#iya, liat juga, tuh si howa nggak bertanggung jawab, author males nulis narasi, dasar! Nggak usah idup, lo!
Mereka keluar bersama sama dari toko itu, entah apa yang dilakukan Naruto di sini Sasuke juga tidak tau dan tidak bertanya juga, yang lebih ganjil adalah dia tidak membeli apapun dari toko, lalu apa motif sebenarnya? Mereka juga tidak janjian akan ke mari. Sasuke tidak begitu tergugah untuk mewawancarai anak yang ada di sebelahnya ini. Diantara mereka masih sepi belum ada pembicaraan.
"Hey, Sasuke," kata Naruto tiba tiba, Sasuke lagsung menoleh ke samping dan memasang wajah bertanya.
"Bagaimana kalau minggu ini kita jalan-jalan?"
"Tidak, sebentar lagi ada pekan ulangan harian," wajah ceria Naruto, nadanya yang antusias, langsung dibalas cepat dengan suara yang tegas dan dingin. Naruto langsung merubah ekspressinya, seperti yahhh..
"Sasuke ini memang pintar banget, ya, yang dipikirkan hanya soal belajar.. dan belajar terus," maksud Naruto sebenarnya adalah memuji.
Sasuke menarik ujung bibirnya sebelah, "Pintar?" Ada reaksi lain dari Sasuke, Naruto makin serius menatapnya. "Kalau sudah pintar, justru seharusnya aku tidak perlu belajar lagi," bilang aja kalau nilai lu makin ancur belakangan ini makanya gaya belajar melee, atau lu berasa seneng banget dibilang pinter padahal nilainya terus merosok.
Naruto mulai memikirkan soal dirinya sendiri yang malas belajar dan memiliki masalah soal nilai akademik, kelihatannya ini terdengar seperti Sasuke sedang menceramahi Naruto. "Kalau begitu, Sasuke bantu aku, ya!"
"Bantu apa?" Omongan Naruto gaje.
"Belajar, ajari aku!"
Sebenarnya, Sasuke merasa senang karena kepintarannya berarti bisa diakui seseorang walau itu hanya Naruto. Tapi dia berpikir bagaimana kalau ada soal yang Sasuke tidak tau saat mengajari Naruto, Sasuke yang malah diajari Naruto karena sebenarnya dia yang lebih pintar, atau kalau saat mengajari Naruto bodohnya malah kelihatan banget, padahal dirinya sudah dipercayai sebagai orang yang bisa mengajar! Berbagai bayangan neghatif menggerayangi pikiran Sasuke, muncul atas ketakutannya sendiri. Arghh, kenapa jadi begini, sih? Seperti tidak pernah mengajari orang lain saja! "Bukannya aku tidak mau, tapi.. minta ajari saja yang lain... yang lebih pintar dariku.."
Tanpa pikir panjang lagi "Kita belajar bersama saja, lah, ya! Nanti kalau ada yang susah, kan bisa dikerjakan bersama sama! Ya? Ya? Ya!" Bagi Sasuke, ini sama saja. Energi Naruto yang antusias, impresif, dan, hebring itu mengerubuti Sasuke yang kelabu.
"Baiklah."
Bus langsung datang, berhenti, jawaban dari Sasuke mengubah segalanya.
Sambil berjalan masuk ke dalam, Sasuke masih banyak pikiran. Sepertinya dia memang terlalu banyak mikir, atau memang kepinteran jadi mikir mulu. Bayangan Sasuke soal mengajari teman, belajar bersama, kerja kelompok.. adalah..
Akhirnya nggak belajar, dan malah ngobrol, bercanda, dan, main masing masing. Yang bekerja paling hanya si A, sukur sukur si B juga mau ikut bantu, itu juga kalau disuruh. Pengalaman di SMP 1, menanamkan sebuah pola pikir belajar lebih baik dalam situasi yang tenang dan terisolasi, bahwa kalau ada tugas kelompok lebih baik dikerjakan oleh 1 orang saja, yang bisa dipercaya, yang aktif, dan peduli agar semuanya terkendali dan sesuai keinginan si A, daripada harus berteriak teriak memerintah si B, C, dan D haarus begini dan begitu, kalau mereka kerjanya benar, dan akhirnya malah berantakan. Tunggu dulu, ini hanya ada dirinya dan Naruto. Kenapa Sasuke seperti terlalu takut? Ada perasaan lain yang bermacam macam. Kenapa dari awal rasanya..
"Aku selalu ingin tau, loh, bagaimana caranya orang pintar itu belajar," maksudnya apa, nih? Naruto sebenarnya agak mengagetkan Sasuke dari lamunanya, terlebih, suaranya yang tiba tiba, dan posisinya di samping Sasuke, ah, dia sudah berani mendekat.
"Bagaimana caranya mereka belajar agar jadi orang pintar..?" walau pandangannya tidak menyerangnya, Kata kata Naruto yang seperti ini malah membuat Sasuke tambah menanamkan pikirannya kalau saat belajar bersama, mengajari, atau apalah itu bersama Naruto, dirinya harus benar benar prima, wibawanya orang pintar. Walau mereka lumayan dekat hingga saat ini, masih saja Sasuke tidak ingin menunjukan sisi jelek dirinya dan ingin orang orang menganggap dirinya selalu prima, sempurna, tidak ada minusnya.
"Hahhhh...! Panas sekali di luar!" Pintu utama dibuka dari luar.
Keluhan Naruto terdengar begitu keras, sambil dirinya berlari lari kecil ke dalam rumah, dengan agak segan Sasuke mengikutinya dari belakang sambil melirik lirik ke kanan dan ke kiri.
"Pah, aku bawa teman, nih!"
Siapa sebenarnya bapaknya? Sosok ayah dari anak hyper ini?
Sasuke memandang ke arah yang dituju Naruto, ruang tengah, "Kayaknya nggak ada," bisik Naruto pelan pada dirinya sendiri. Naruto tidak juga menemukannya, lalu dia melihat ke dapur yang ada di samping, dan memang bapaknya sedang tidak ada di rumah. Mau bersembunyi di mana memang sosok Minato yang sudah dewasa itu? Rumah Naruto secara teknis lebih kecil dari punya Sasuke, yang ada halaman belakang plus kolamnya itu.
"Sudahlah, Sasuke! Naik ke atas saja, yuk!" Naruto menoleh ke Sasuke yang ada di belakangnya, diiringi dengan langkah selanjutnya mmenuju tangga yang ada di depannya.
Belum menaiki tangga dan masih ada di belakang Naruto, "Misi, pah!" Sasuke melihat seorang ayah muda yang sedang mengepel tangga dan dilewati oleh Naruto dengan kata kata. Sebentar saja, orang yang memang ayahnya Naruto ini –wajah mereka mirip, hanya saja lelaki rajin ini jauh dan lebih jauh lagi lebih cakep daripada Naruto #authornye yang ngomong# menoleh pada Sasuke dan tersenyum, dia pastinya merasakan keberadaan yang lain.
Hanya dua langkah dari tangga ke kiri, itulah kamar Naruto, Sasuke dipersilahkan masuk olehnya. Biasa, sebuah set ranjang, lemari, dengan kesan agak berantakan khas Naruto –walau sebenarnya Naruto sempat membereskan kamarnya sebentar karena Sasuke akan datang- dan, aroma asing rumah orang. Naruto segera duduk di lantai tengah kamarnya dan mengajak Sasuke untuk melakukan hal yang sama, dan karena keterbatasan, tidak aadaa meja di sana.
Setelah mereka berdua duduk dan saling berhadapan dalam jarak yang cukup dekat, keheningan sempat terjadi.
"Jadi..?" Sasuke memandang Naruto dengan tatapan agak bingung.
"Yah, silahkan dimulai, Sasuke!"
Sasuke membawa sebuah tas kecil yang biasanya dibawa ketika les, mulai merogohnya lalu mengoyak isi di dalamnya dan dikeluarkan. Sedikit-sedikit, Sasuke kepo juga dan memandang ke penjuru ruangan yang sebenarnya tidak punya style tertentu itu. Naruto di depannya terlihat sudah sangat kelewat siap, tapi Sasuke tidak merasa yakin dengan kesiapannya, lihat saja beberapa sekon ke depan, apa yang terjadi.
Dilihat lagi buku apa yang dikeluarkannya di tangan, Sasuke tentunya tidak membawa semua mata pelajaran sekolah, hanya yang dia pikir sulit untuk Naruto saja, dan dia baru menyadari sekarang kalau sebenarnya mau belajar apa? Dari pada bingung "... Kalau begitu.. apa pelajaran yang menurutmu susah?"
"Matematika, Kimia, ekonomi,.. Geografi, dan kemarin aku parah sekali saat Sejarah.." Naruto terlihat masih sedang berfikir apa lagi pelajaran yang susah, tidak disukai, males, baginya, Sasuke tidak bisa berkomentar apa apa dan hanya diam saja. Naruto lalu memandang wajah Sasuke lagi, sepertinya 'hanya' segitu saja pelajaran yang susah. Mungkin Naruto lebih baik masuk Bahasa jika SMA kelak.
"Lalu apa yang paling susah?"
"Matematika," love get! Sasuke sudah prepare untuk mata pelajaran yang paling legendaris nggak disukain ini. Sasuke segera menjamah buku matematika, itu buku tulis matematikanya yang berisi rangkuman pribadinya, sebenarnya.
"Susah di materi yang mana? Yang mana yang tidak bisa?" Kata Sasuke sambil membalik-balikan halaman buku.
"Semuanyaa!"
Wajah Sasuke langsung bermuka seperi WTF! Nih anak serius apa hanya bercanda saja? Tapi dilihat lagi, pandangan Naruto yang seperti orang yang tidak pernah serius itu. "Serius?"
"Serius, semuanya." Naruto menjawab jujur se-jujur jujurnya. Naruto memandang wajah Sasuke seolah tidak ada yang salah dengan yang diucapkannya, sedangkan Sasuke yang memiliki tingkat intelejensi lebih tinggi menganggap ini sangat salah. Kalau selama ini tidak ada materi yang dimengerti, bagaimana dia bisa belajar dan melanjutkan sekolah? Sasuke juga ingin jujur, dia tidak pernah bertemu dengan orang seperti Naruto, walau itu di SMP 1 yang gembel. Lalu untuk materi SKL yang ada 13 ini Sasuke mau dibayar berapa untuk privat 1 anak?
Sasuke hanya bisa berharap beberapa saat kedepan pengajaran ini tidak akan jadi membosankan, membosankan bagi Naruto karena itu anak nggak ngerti.
"Jadi sebenarnya, fungsi itu tinggal dimasukkan rumusnya saja, 'x'nya diganti dengan angka yang sudah ditentukan," wajah Sasuke terlihat begitu sabar, dan Naruto yang selalu memperhatikan dirinya dengan wajahnya yang tidak meyakinkan. Apa sebenarnya dia mengerti atau tidak, Sasuke ragu. Kadang kala Sasuke menengok ke jam di handphonenya –di kamar Naruto nggak ada jam- sudah jam berapa ini, karena sebenarnya dia sendiri masih ada urusan lain di rumah.
"Hoh, kalau yang masih dasar dasarnya saja, sih, aku tau!" Naruto terlihat sangat percaya diri dengan soal dari Sasuke, itu memang yang paling mendasar, kalau tidak bisa rasanya keterlaluan.
Memang, tidak ada yang aneh dengan kerja Naruto, tapi Sasuke yang memerhatikannya dari tadi merasa Naruto lama sekali mengerjakannya, walau dia lihat pensil itu terus bergerak. "Bisa tidak?" tanya Sasuke.
"Bisa, bisa, ini aku sedang menghitung!" Manik Naruto yang biru menggugah tak bisa lepas dari angka angka yang sebenarnya nilainya sedikit tapi caranya ngeribetin. "Aku hanya... Rasanya untuk matematika otakku itu susah sekali bergeraknya!"
"Kalau itu hanya karena kau yang kurang latihan, iya 'kan? Kau malas?" Sasuke hits the bull'seye, Naruto hanya bisa nyengir karena memang benar begitu, Sasuke menatapnya dengan datar acuh.
"Mmmm... Sasuke, ini kok beda modelnya dengan yang tadi?" Naruto tiba tiba mengalihkan pandangannya pada Sasuke di sebelahnya.
Sasuke segera melihat nomer yang dimaksud, "Apa? Ini hanya sedikit perubahan saja," santai banget jawabnya.
"Oh.. seperti apa, aku belum dijelaskan model yang seperti ini?"
Sasuke yang akan menjelaskan soal yang berbeda ini mulai merenggut pensil itu dari tangan Naruto untuk menggantikan Naruto yang tidak bisa melanjutkan soal, tapi Naruto tidak langsung menyerahkan pensilnya begitu saja. Sasuke memberi kode dengan tatapan lepaskan-sebelum-tanganmu-kupotong, akhirnya tangan mereka hanya bersentuhan saja dan tidak lepas juga. Sedetik kemudian, dengan tampang tak bersalah Naruto melepaskan pensil kayu HB itu.
"Ini hanya perlu metode eliminasi saja..." Sasuke terlihat sangat lihai dan menggurui, walaupun saat ujian matematika remedi.
Sambil melihat tangan Sasuke yang menyoret nyoret, "Sepertinya... aku tidak pernah diajari yang modelnya seperti ini jadi aku salah.." alibi.
Sasuke segera menghentikan tangannya dan menengok ke Naruto "Ini kan sebenarnya materi kelas 2 SMP.."
"Oh," hanya itu respon Naruto. Sebenarnya kalau Sasuke lebih frontal lagi, maka dia akan bilang 'nggak seharusnya lu udah naik ke kelas 3', tapi dia hanya tetap mengerjakan soal kembali.
O iya, setelah menengok sekejap pada Naruto tadi, Sasuke menyadari sesuatu "Hei, bisakah wajahmu menjauh sedikit...?" katanya seraya menoleh kembali pada Naruto. Bukannya keGR-an, walau pandangan Naruto terarah pada tangannya tetap saja jarak kedua wajah mereka rasanya terlalu dekat.
Naruto tidak segera menyingkir, tapi dia terus, makin terus memerhatikan wajah Sasuke, yay, mereka berdua bertatapan dengan jarak wajah yang sangat dekat. Tangan Sasuke masih berhenti, hanya aktivitas bola mata mereka yang saling mengirimkan pesan rahasia satu sama lain. Sasuke makin bingung dengan ini, tapi sekon terus bertambah dan bertambah Sasuke merasa ditatap seolah ada yang salah dengan dirinya, perlahan, Sasuke mulai memundurkan badannya namun seiring dengan itu Naruto mengikuti. "Sasuke, ada yang aneh.." katanya.
Wajah Sasuke langsung penuh tanya, "Kenapa ada yang mengalir dari hidungmu?"
Sasuke segera naik kewaspadaannya lalu juling menatap ke hidungnya sendiri, tatapan Naruto mulai berubah aneh dan dirinya mulai menjauh sekarang. Sasuke lalu meraba raba daerah antara hidung dan mulutnya, dan basah, dan tangannya kotor penuh warna menyala.
"Kau mimisan, Sasuke?" dan darah mimisan yang berasal dari pecahan pembuluh kapiler itu menetes ke lembar yang sedang dikerjakan Sasuke, entah kenapa nada suara Naruto mulai seperti takut takut.
Sasuke mengangkat tangannya dan melihat darah yang melumuri jari jarinya, panik. "Aku sudah lama tidak mimisan lagi, jadi.. sepertinya karena tadi cuacanya terlalu panas!" dan dia juga nggak dikasih minum jadi dehidrasi, padahal habis panas-panasan di luar tadi
"Ih, Sasuke, tanganmu menjijikan sekali!" Itulah respon Naruto ketika melihat tangan Sasuke yang menutupi hidungnya teraliri darah mimisan. Sasuke segera mengelap hidungnya dengan tangan, dengan kasar, eh, gila, tangan lu jadi makin banyak darahnya dong, jenius! Naruto makin mundur ke belakang dengan wajah penuh takut seolah dia phobia darah, sementara Sasuke yang justru mendekati Naruto menganggap ini tidak apa apa. Tangan Sasuke yang berdarah itu lalu menyibak baju Naruto, jadi di bajunya jadi ada darahnya.
"Menjauh! Menjauh!" demi, Naruto histeris.
"Tisyu, mana tisyu?!" Sasuke membuat permintaan sementara darah terus mengalir hingga ke lengannya.
"Nih, iiih!" Naruto sembarang melempar box tisyu yang tiba tiba muncul dengan sembarang ke arah Sasuke.
Akhirnya, seperti bayangan Sasuke sebelumnya, nggak jadi belajar dan malah ngehebohin soal mimisan.
'Kerja kelompok..'
Sasuke berusaha mensyukuri nikmat yang telah diberikan walau itu sebenarnya musibah. Sebenarnya sudah sejak awal kedatangannya di 3-1, sejak awal pengacuhannya, Sasuke memikirkan ada kemungkinan bukan hanya tugas individual saja yang ada, apalagi kalau pakai kurikulum 2013.
Sasuke ingin izin saja, ke mana, gitu. Dilihatnya anak anak 3-1 yang mulai berisik karena menjaring pasangannya masing masing, sementara di sisi pojok kelas Sasuke masih duduk berpangku tangan, dalam hatinya berkecamuk rasa kebingungan. Bagaimana, ini? Dirinya dulu selalu dimanja dengan kehadiran teman sekelas yang selalu menawarkan diri untuk menjadi pasangannya, sekarang, dia yang harus menangis darah mungkin agar anak anak yang mengacuhkannya ini mau menjadi pasangannya.
Ini ada tugas berpasangan untuk membuat fermentasi, bab Bioteknologi. Sasuke tidak memikirkan tentang dirinya yang belum dapat pasangan, karena dia pikir itu pasti tidak akan mudah menemukannya, di kelas 3-1 ini, Sasuke lebih terfokus pada koordinir Orochi-sensei tentang tugas sambil mencatat hal hal penting.
Penjelasan selesai, Sasuke menghentikan tangannya yang terus menulis. Langkah selanjutnya yang belum dilakukan adalah mencari pasangan, Sasuke tidak mau berfikir neghatif kalau dia tidak akan menemukan pasangan, dan ini juga tentang nilai biologinya. Biklah.. Kalau dihitung hitung, walau Sasuke tidak tau hari ini yang tidak masuk siapa, tapi ada 36 anak dalam kelasnya. Kalau dibagi dua.. harusnya ada 18 pasangan.
"Siapa yang belum dapat pasangan...?" pas banget.
Perhatian langsung teralihkan, Sasuke langsung mengacungkan tangannya seperti yang disebutkan, seorang diri.
Dirinya melihat anak anak lain disekitarnya, tidak ada yang mengacungkan tangan. Forever alone, kau, seorang diri. Anak anak 3-1 menatap dirinya.
Orochimaru lalu memanggil seorang murid untuk menghadapnya, Sasuke melihatnya tapi dia tidak tau apa yang mereka bicarakan berdua. Sepertinya latah, selanjutnya Sasuke yang dipanggil olehnya. Pikiran Sasuke adalah dia akan segera mendapatkan pasangan dengan bantuan guru, akhirnya.
Setelah ada dihadapannya, Orochimaru melihat dengan seksama kertas yang ada di tangannya, "Sasuke..ya?" katanya, Sasuke makin serius melihat senseinya. "Berpasangan dengan dengan Gaara, yah." Sensei itu menunjukan senyum lebar yang mistis.
"Hm?" Wajah Sasuke terlihat agak kaget, bingung, linglung, tidak tau, ya.. wajar saja. Siapa itu Gaara yang akan menjadi pasangannya?
Sasuke mengintip nama yang disebutkan di daftar absensi yang dipegang Orochimaru, sedikit membutuhkan ketelitian untuk memindai nama Gaara dalam daftar, ketemu, Gaara alfa hari ini. Tapi yang tidak biasa seterusnya adalah, Sasuke melihat absensi itu lebih luas lagi, ke kolom hari sebelumnya, terus, anak itu tidak pernah masuk sejak kedatangannya ke 3-1, diwarnai dengan keterangan alfa, izin, izin, alfa, sakit, setiap kotak.
Tugasnya harus jadi pada pelajaran biologi selanjutnya, minggu depan, dan nilainya adalah nilai praktek untuk pekan ulangan harian. Kemungkinan yang dipikirkan Sasuke adalah dalam kerja kelompok ini mungkin dirinya lagi lagi harus bekerja seorang diri, karena anak yang menjadi partnernya sesungguhnya tidak pernah hadir. Tapi kalau dipikir pikir lagi, sebaiknya begitu saja, lah, Gaara itu anak 3-1 'kan? Lupakan saja tentang membina hubungan yang baik dengannya. Lagi pula apa apaan itu tidak masuk terus hampir 1 bulan? Anak pembandel, pembolos handal, pemalas, dan tidak punya masa depan, Sasuke berfikir begitu. Tapi anak itu bisa masuk kelas spesial, kelas 3-1 kan? Sebenarnya siapa dia? Sasuke mengintip absensi itu sekali lagi Rei Gaara nama panjangnya.
Sepertinnya saya sekarang bisa menetapkan tanggal yang tetap untuk keluarnya chapter baru, ^^
Seperti yang di atas, tanggal 13, ya..~
Dichapter ini konfliknya nggak begitu memuncak, jadi saya isi dengan lawakan sedikit, haha..
berminat review?
God Bless U all..~
