Love

Chapter 2 : Forever Love

Pairing : Kiba/Ino

.

.

Do you know? I don't know since when but

Your smile makes my tired soul rest.

(Wendy Son-Let You Know)

.

.

Tak pernah lagi ku hitung berapa hari yang telah hilang. Orang-orang datang dan pergi, namun aku tak pernah berusaha mengingatnya satu-persatu.

Aku hanya ingat namanya Sai Shimura, satu-satunya orang yang harus ku ingat. Ya... hanya dia.

.

.

Aku tak lagi bekerja di toko roti dekat stasiun. Tak ada gunanya, waktu itu alasanku bekerja di sana hanya agar bisa selalu melihat penampilan Sai dalam memainkan biola ajaibnya. Sekarang dia tidak ada, membawa serta sisa semangat yang masih ku punya.

Sai melupakanku, dan itu menyakitkan.

.

.

"Aku mencintaimu Sai."

Yang selalu ku tulis dalam buku diary, namun pada akhirnya aku meragukan sebaris kalimat itu. Karena nyatanya, segala tentang Sai perlahan mulai terasa hambar.

Seperti yang orang-orang katakan, rasa cinta akan memudar seiring berjalannya waktu, atau... karena hadirnya seseorang lain yang lebih pantas untuk dicintai.

.

.

"Namaku, Kiba Inuzuka."

Demikian yang pemuda itu katakan di suatu malam di bawah temaram lampu teras balkon.

"Aku tetangga barumu."

Bibir tipisnya naik, melukiskan sebuah senyum, yang entah kenapa membuatku begitu tertarik untuk memperhatikannya lebih, dan lebih.

Aku membalas senyumnya, namun tak mengatakan apapun sebagai respon. Tubuhku terlalu lelah hari itu, efek dari kerja yang berlebihan.

.

.

Kiba bekerja sebagai seorang fotografer, maka dia akrab dengan kamera. Tak jarang aku memperhatikannya tengah memotret pemandangan di sekitar tempat tinggal kami. Pemandangan di sini tidak terlalu bagus. Namun, aku kadang penasaran bagaimana hasil jepretan kameranya.

Tidak banyak yang ku tahu tentangnya. Hanya sebuah rutinitas harian, seperti berangkat kerja pada pagi hari dan pulang pada sore hari. Entah dimana dia bekerja, aku tak pernah menanyakan hal itu.

.

.

Saat itu adalah minggu pagi. Kerjaku libur. Sebenarnya aku masih ingin bermalas-malasan hingga siang. Tapi, gelombang rasa lapar menggerus tiap inci dinding lambungku. Membuatku bergegas mandi, berdandan seadanya dan keluar dari apartemen untuk mencari makan diluar. Rasa malas membuat otot-otot tanganku tak berkutik untuk membuat masakan sendiri.

Yang ku lihat pertama kali ketika membuka pintu adalah Kiba. Pria itu tengah sibuk mengambil gambar dari bunga mawar yang nyaris mati karena kekurangan air. Ranting-ranting kecilnya tampak begitu kecokelatan dan rapuh.

Pemuda itu menoleh ke arahku. Agak terkejut, namun tersenyum begitu mmm... aku tak bisa mengatakan itu manis. Karena dia tidak manis, tapi... memikat. Entah kenapa dia memiliki pesona di atas rata-rata.

"Oh maaf. Aku baru saja memotret bunga mawarmu."

Aku mengangguk, tersenyum dan merasa begitu kikuk.

"Omong-omong, kenapa kau membiarkannya sekarat seperti ini? Dia juga makhluk Tuhan." Ia terkekeh di akhir kalimatnya.

Aku nyaris tak bisa menertawakan hal itu. Sama sekali tidak lucu, karena bunga mawar itu selalu mengingatkan aku pada seseorang yang telah hilang. Tidak tahu dimana dia berada sekarang, dan seberapa mil jauhnya jarak diantara kami.

"Itu pemberian dari seseorang." Aku mendekati Kiba yang berdiri di dekat pembatas balkon. "Dia bilang, mawar ini akan membuatku selalu mengingatnya." Entah, apakah dia menangkap tatapanku yang sendu.

"Begitu rupanya." Dia mengangguk. "Dugaanku... kau tak ingin mengingatnya lagi?"

Aku menatap iris cokelat karamelnya yang memiliki tatapan begitu dalam, seolah aku tenggelam di sana.

"Maaf lancang."

Tertawa, satu-satunya hal yang ku lakukan untuk menutupi kecamuk yang mendera hatiku. Tetangga baru itu tak boleh tahu masalahku.

"Tapi tetap saja. Bunga mawar ini tidak bersalah padamu. Maka, rawatlah dia."

Aku tak bisa mendeskripsikan bagaimana suara Kiba. Tapi... tiap kata yang dia ucapkan seolah bisa menembus tulang-tulang rusukku. Ini baru pertama kali aku bertemu dengan seseorang sepertinya.

"Oh ya, siapa namamu?"

"Ino Yamanaka."

.

.

Hanya karena sebuah perbincangan singkat waktu itu, tahu-tahu Kiba sudah menjadi bagian penting dari keseharianku. Kami mulai dekat dan mengenal satu sama lain. Menjadi akrab, menjadi sahabat, lalu berakhir dalam sebuah hubungan yang ku sebut spesial.

Kiba memang bukan makhluk buas yang menggigit, tapi kemungkinan menjadi lebih buruk bisa saja terjadi. Ketakutan itu yang selalu mendominasi isi otakku. Kendati demikian, aku selalu berusaha meyakinkan diri bahwa apapun yang terjadi nanti, aku akan tetap menerima konsekuensi akhirnya.

.

.

Kiba menyukai lemon tea. Dia bilang rasa lemon tea seperti rasa kehidupan, ada asam yang dia ibaratkan seperti cobaan, rasa manis adalah bentuk lain dari kebahagiaan, dan aroma teh adalah bentuk lain dari cinta, kasih sayang, dan rasa simpati. Aku tidak begitu mengerti bagaimana dia bisa mendeskripsikan hal itu dengan begitu menakjubkan. Tapi, itu benar. Dan aku menyukai kefantastisan pemikirannya.

.

.

Bagiku...

Kiba identik dengan aroma musim semi, cerahnya sinar matahari pagi dan angin sejuk sore hari. Dia... sebuah deskripsi mengenai seseorang yang sempurna. Memang, dia tidak mirip dengan gambaran dewa-dewa yunani yang tanpa cela. Tapi akhir-akhir ini, aku mengerti bahwa sebuah kesempurnaan tergantung dari sudut pandang. Dan bagiku, Kiba... sempurna.

.

.

Kiba sering datang ke apartemenku ketika dia libur kerja, dan aku tidak disibukkan dengan berbagai kegiatan di toko buku.

Dia suka bermain gitar, mendengungkan nada-nada yang berasal dari petikan alat musik itu. Lalu, suara baritonenya akan menggumamkan lagu-lagu barat yang tak semuanya ku pahami.

.

.

When you fight for every breath

And the waves are over head

Let me lay your mind to rest

I will stand by you

When all of your dreams are shattered

And Your world is left in tatters

Kiba bilang stand by you dari Marlisa Punzalan adalah lagu favoritnya, dan nyaris tiap kali jemarinya bermain dengan gitar kesayangannya, lagu itu tak pernah absen dari bibirnya.

.

.

"Aku... mencintaimu, Ino."

Dia menggumamkan kalimat itu berkali-kali. Lirih... dan semakin nyata. Aku tahu, itu bukan pertama kalinya aku mendengarnya. Namun, kali ini segalanya berbeda. Kiba yang kali ini berdiri di hadapanku tampak seperti seseorang dari negeri dongeng.

Masih cukup pagi, fajar baru saja menyingsing dan digantikan semburat tipis sinar mentari. Aku tak kuasa menahan haru ketika dengan kaku dan gugup pria di hadapanku itu berjongkok. Salah satu kakinya menumpu tubuhnya dan kaki yang lain tertekuk ke depan. Dalam keremangan cahaya jingga lampu teras balkon, aku mampu melihat wajahnya yang berhiaskan senyum halus.

"Will you marry me?"

Sebuah kotak kecil terbuka, menampakkan benda kecil berwarna putih mengkilat. Itu..

.cincin?

"Mau kah kau menikah denganku?" Dia mengulangi, membuat jantungku berpacu dua kali lebih cepat dan makin tak terkendali.

Pelan, aku mengangguk. Menarik tangannya untuk kembali berdiri. Karena... sungguh tak nyaman membiarkannya berada pada posisi seperti itu.

"Kau mau menikah denganku?" Untuk yang kesekian kali dia menanyakan hal yang sama. Barangkali untuk meyakinkan dirinya bahwa jawabanku sama, 'ya, aku akan menikah denganmu.'

Aku menangis dalam diam ketika perlahan ia menarik tanganku dan memakaikan cincin bermata berlian putih itu ke jari manisku. Tanganku gemetaran, namun dia berusaha menggenggamnya dan memberikan kehangatan di pagi yang dingin.

"Aku memang bukan pria yang sempurna. Dan... sungguh, tak ada manusia yang sempurna. Tapi... aku akan berusaha untuk membuat tiap langkah kehidupanmu menjadi sempurna."

Pagi itu, aku tahu... Tuhan telah menjawab doa-doaku selama ini. Dia menghilangkan yang tidak perlu dalam hidupku, lalu menggantinya dengan yang lebih baik. Aku hanya berharap, Kiba akan selalu bersamaku, tidak meninggalkanku seperti apa yang telah Sai lakukan.

End

Cuma fic yg ga sengaja diketik di sela-sela kesibukan. Jadi maafkan jika feelnya ga bisa ditangkep.

Oke... makasih buat yg udah mau baca, tinggalkan kritik dan sarannya...