Konnichiwa minna-san! para pembaca setia saya! XD *ngarep* dan juga para calon-calon stalker! B-) huehehehe okeoke, first of all, makasih banyak buat review2nya ya dan kritikan ataupun saran juga! hontou ni arigato gozaimasu! maaf kalo chapter yang ini agak lama ya, soalnya banyak tugas, PR, ulangan, dll *curcol*. okay, Ggio sekarang udah mengalami masa-masa yang agak sulit, ditambah tugasnya jadi stalker! hmm, gimana ya cara dia biar bisa jadi stalker handal? Lets read it!


Chapter 2: First Step to Become a Stalker

Hening. "I-Ishida… kau serius?" kali ini ia tambah shock mendengarnya. Ishida hanya mengangguk ketakutan. Mereka berdua merenung. Ggio lagi setres mikirin seandainya ia besok sengaja ngobrol sama Soi Fon, apa yang bakal Toushirou dan gengnya lakukan padanya? Dijamin tuh badan ga utuh deh pas pulang sekolah nanti. Emang bakal diapain? Digebukin habis-habisan pake berbagai macam cara dan benda. Saat itu pun Ggio langsung mual ngebayanginnya. "Ubh…" ditutupnya mulutnya, dan Ishida menepuk pundaknya. "Tenang Ggio! Kita lihat saja keadaan besok!" lagi-lagi si otaku yang satu ini justru tambah semangat dan tertantang untuk melakukannya, tak memedulikan atau bahkan sadar akan teman di sampingnya yang lagi menderita karena mual setelah ngebayanginnya itu.

"Ishida…" bukannya menoleh, justru Ishida malah menulis sebuah summary tentang apa saja yang harus dilakukan dan disiapkan untuk besok dengan kecepatan tinggi, MAX!, sampe-sampe Ggio ngeri ngeliatnya. Ggio, dengan sekuat tenaga dan segenap keberaniannya, mencondongkan sedikit kepalanya ke buku kecil tadi, yang sekarang lagi dipakai buat nulis sama Ishida. "Dia lagi nulis apa ya? Feeling ga enak nih…" sampai akhirnya ia bisa membaca tulisan mengerikan yang isinya….

"…ngerayu Soi Fon biar dia putus sama Hitsugaya…" Ggio langsung muntah.

"Bakayaroooo! ISHIDA! Kau mau bunuh aku ya!? Yang bener a- "

"Habis aku bingung! Otak udah mentok nih!" Ishida balik protes ke Ggio, wajar saja, kali ini pikirannya sudah kacau balau entah ke berbagai arah, sekarang malah saling nyekek, apalagi ntar bunuh-bunuhan? Jangan deh, soalnya malu diliatin anak-anak yang lain.

Perkelahian mereka terus berlanjut sampai akhirnya bel masuk berbunyi dan memecah konsentrasi berantem mereka berdua. "…kita lanjutkan nanti…." Ggio membuang muka sambil menghela napas, sementara Ishida hanya mengiyakan dengan malas dan kembali ke tempat duduknya.

"Yak, kita akhiri dulu pelajaran kita di hari ini…" ucap sang guru menyudahkan pelajarannya. Kali ini waktu berjalan agak cepat bagi Ggio. Sepertinya ia tak konsentrasi saat jam pelajaran hingga sekarang ini, yaitu saat bel pulang berbunyi. Sampai akhirnya seseorang menepuk pundaknya, menyadarkannya dari lamunan ga jelas itu. "Ggio…!" sapa si cowok berkacamata itu dengan cheerful.

"…Ishida…" balasnya lemas. Disodorkannya sebuah buku kecil miliknya tadi ke meja Ggio, tapi ia tetap mengabaikannya saja, tak peduli. Mereka berdua terdiam, ternyata Ishida juga masih galau, sama kayak Ggio. Dikarenakan hembusan angin yang entah berasal darimana, buku kecil itu membuka dirinya sendiri akibat sapuan angin tersebut dan sampailah pada halaman yang berisi tentang biodata seseorang. Kerjaan stalker sih, kayak gini jadinya. Stalker? Apakah Ishida juga seorang stalker? Dengan dibuatnya buku sekecil ini hanya untuk memuat biodata tiap orang penting maupun nggak penting dengan informasi dan data yang amat akurat, beserta foto-fotonya juga, apakah ia pantas disebut seorang stalker handal? Lagian juga nggak semua orang peduli sampe bela-belain ngabisin waktu buat bikin benginian dan sampe dirahasiain banget, kan? Kalau dipikir-pikir, Ggio sendiri belum pernah menyadari dan menanyakannya ke orangnya sendiri. Tercetuslah niat untuk menanyakannya. "Ishida, apakah kau seorang stalker juga?" ia tak merespon, hanya ada tatapan serius di matanya, tapi bagi Ggio ada sedikit kegelisahan yang menyelimuti tatapan temannya ini. Setelah diam sejenak, akhirnya Ishida mulai angkat bicara. "Menurutmu?" ia malah balik tanya.

"….yaaah… kayaknya sih iya…" jawabnya sambil menggosok-gosok bagian belakang kepalanya.

"Dan kalau iya, kenapa?" Ggio menghela napas.

"Gapapa, cuma.. artinya aku bisa meminta sedikit saran dan tips kan pas misi nanti?" Ishida menaikkan alisnya.

"Misi?" ia kebingungan.

"Iya, misi kita buat nguntit si cewek bernama Soi Fon ini- "

"J-Jadi kau mau melakukannya!?" mata Ishida langsung berbina-binar, benar-benar senang dan amat excited akan ketertarikan Ggio pada tawarannya itu.

"H-Hah? K-karena kau maksa sih, tapi ya sudahlah, akan kusanggupi…"

"Yes! Tenang saja! Arigato Ggio!" Ishida saking senangnya sampai menjabat tangan Ggio segala dan ngacak-ngacakkin rambut temannya itu sampe berantakan ga jelas.

"T-Tunggu dulu… emang caranya buat jadi seorang stalker itu kayak gimana sih?"

Ishida tampak kebingungan (lagi), "caranya?" Ggio mengangguk penasaran. Ishida tertawa kecil melihat temannya yang satu ini. "Yang perlu kau lakukan adalah….."


*Ggio Vega's POV*

"Dasar si Ishida itu, penjelasannya terlalu panjang sih! Malah tambah ribet dan nggak ngerti jadinya…" keluhku sambil menendang batu kerikil yang terletak di pinggir trotoar tempatku sedang berjalan menuju rumah. Yang sedari tadi kupikirkan hanyalah tentang misi yang diberikan Ishida ini. Memang sih yang kutahu tentang stalker itu hanyalah seorang penguntit yang biasanya ngefans banget sama idolanya atau begitulah. Tapi kebanyakan teman-temanku beranggapan kalau stalker memiliki arti kata lain, dan kebanyakan dari mereka beranggapan negatif. Ugh, makanya itu sampai sekarang aku masih ragu akan hal ini, takut akan merusak harga diriku di mata murid lain. Apalagi setelah insiden kecil tadi pagi, cuma gara-gara telat dikit aja sampe segitunya banget. Yah, kelas unggulan sih, jadi sepintar apapun aku tapi kayaknya cap anak berandalan itu masih melekat padaku hingga sekarang, mau tak mau. Dan apalagi kali ini Ishida menyuruhku melakukan hal seperti ini, apa jadinya ntar kalau ketahuan murid lain? "Hah…" aku menghela napas. Memandangi langit biru yang sudah agak berubah menjadi oranye akibat waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.

"Sudah kubilang, jangan pernah ganggu aku lagi. Sudah beberapa kali kalian menyakitiku dan Yoruichi-sama? Apalagi yang kalian butuhkan?" tiba-tiba terdengar suara seseorang tak jauh dari tempatku berada. Dan aku pun langsung menghampiri sumber suara itu berasal, sepertinya seorang anak perempuan. Suara orang ini terdengar tegas, tidak terima, dan begitu menentang akan sesuatu hal. Aku memejamkan mataku sambil berkonsentrasi mendengarkan percakapan ini, dan sesekali melihat keadaan di sekitarku. Stalker mode, Activate!

"Oy oy oy! Tak usah cerewet begitu, dasar yankee!" suara mereka terdengar sangat jelas di telingaku ketika aku berada di dalam Stalker Mode.

"Aku bukan yankee, sudah beberapa kali kutegaskan ke kalian bukan?"

"Hegh, biarkan saja dia mati, toh memang salah dia sendiri, suruh siapa ngelindungin cewek ga penting kayak kamu!?"

"…" cewek ini tak merespon, hanya terdiam, sepertinya. Emosi? Bukan, entah apa…

Aku terus mendengar dan mencerna percakapan mereka berdua. Aku melirik sedikit ke arah mereka, masih sembunyi-sembunyi biar nggak ketahuan. Sepertinya perempuan yang satu ini menutup indentitasnya dengan memakai jaket hoodie agar seluruh wajahnya tertutup. Tapi pria yang ia ajak bicara itu memakai pakaian sekolah, entah berasal darimana, seorang punk kayaknya, apa pemimpin geng ya? Dan.. siapa Yoruichi yang ia sebut tadi? Kayaknya aku pernah denger nama itu. Setelah beradu mulut agak lama, kayaknya sekarang mereka udah selesai dan mau kembali ke…."ARAHKUUUU!?" oh tidak. Cepat sembunyi Ggio!

"Sial!" ucap anak perempuan itu ketika berjalan melewatiku tanpa ada rasa curiga sedikitpun, sepertinya kalau mengumpat di sini nggak kelihatan, kan gelap ketutup tong sampah. Bau sih, eww…

Kukira ini semua akan lancar sampai tiba-tiba cewek ini berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, tepatnya ke arahku! "Ng? sepertinya ada sesuatu di situ…" saat itu pun jantungku berdetak amat kencang, keringat bercucuran saking deg-degannya. Apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Untung saja tiba-tiba ada kucing yang lompat dari arahku dan berdiri di tong sampah, jadinya hanya menutup kecurigaannya saja, juga kucing ini sepertinya amat menarik perhatiannya. Tapi si cewe ini malah tambah ngedeketin.

"Oh, kucing ya?" suaranya terdengar agak lebih tenang dan sedikit… ceria dari yang barusan. Kayaknya dia penyuka kucing deh, yah namanya juga cewe, kan?

"meoooong…!" kucing itu membalasnya dengan jinak dan ramah. Tapi cewe ini bukannya pergi malah ngeladeni si kucing buat main! Arghhhh please pergi secepatnya! Mana kebelet pipis lagi…. Terus terang saja, aku kebelet pipis. Anehnya, suara pria yang adu mulut dengan cewek ini barusan malah menghampirinya.

"Ada apa?" tanyanya sinis sambil batuk sedikit, kayaknya seorang perokok berat, kecium banget bau asap rokok sampe ke sini.

"….bukan urusanmu.." syukurlah, sepertinya ia pergi karena kehadiran pria ini.

"Huh, dasar cewek aneh! Tapi yang penting Hitsugaya-san akan senang pada kami! Ha Ha Ha!"

"Hitsugaya?" aku terkejut mendengarnya. Beberapa saat setelah ia pergi, aku langsung berdiri dan kabur dari tempat itu, dan si cewek udah lenyap entah kemana. Phew! Tapi rasanya, dengan kemampuanku untuk sembunyi sambil menguping pembicaraan mereka itu kayaknya udah bagus banget. Yosh! Ggio, ini langkah awalmu untuk menjadi seorang stalker! Ishida pasti senang akan hal ini. Tanpa kusadari, sepertinya aku mulai menyukai pekerjaan menjadi seorang stalker kayak gini. Mungkin sih…

UHUK!

Aku terbatuk dan merasa sedikit lelah. Sepertinya ini efek samping dari terlalu lama penggunaan Stalker Mode deh. Yah apa boleh buat, dikarenakan keuntungannya banyak juga sih, yaitu suara pembicaraan (percakapan) yang aku dengar jadi lebih jelas, kemudian semuanya terasa sudah terekam di kepalaku. Sampe lupa aku meng-non aktifkannya. Stalker mode, Inactivated!

Yah, saatnya mencari udara segar dulu. Tarik napas dalam-dalam. Puah!


*Normal POV*

Keesokan harinya, Ggio datang terlalu pagi, nggak tau kenapa, kerajinan kali. Sepertinya kali ini ia tak mau telat dan dapat ocehan dari teman-teman di kelasnya. Pagi ini, kelasnya Ggio tampak agak sedikit ramai, khususnya di kalangan anak perempuan.

"Heeee, jadi menyenangkan banget ya di sana?"

"Seru dong!"

"Iya, hehehehe…"

Ggio kemudian berjalan melewati mereka, dan secara tak sengaja menguping suatu pembicaraan penting sebagai tugasnya menjadi seorang stalker handal.

"Soi Fon-san, jadi, oleh-oleh apa yang akan kau berikan ke Hitsugaya-san?"

Ggio segera memberhentikan langkahnya. "Soi Fon? Hitsugaya? Jadi mereka benar-benar pacaran ya." "Dan, yang mana cewek bernama Soi Fon ini?" gumamnya. Meskipun populer, Ggio tak begitu mengenal dan mengetahuinya, apalagi sifat-sifatnya. "Ah, aku pura-pura saja menjatuhkan pensilku ke arah mereka…"

TUK!

"Sumimaseeen, aku menjatuhkan pensilku- " tiba-tiba seseorang segera mengambilnya dan memberikannya pada Ggio yang baru saja merangkak (tadinya mau ngambil).

"Ini… punyamu kan?"cewek ini tersenyum manis dan sangat ramah.

"Eh, i-iya…" tanpa disadari, Ggio malah blushing. "A-Arigato- "

"Soi Fon-san terlalu baik sih, seharusnya dibiarkan saja! Tuh lihat, bekas anak berandalan sih, sampe-sampe mukanya merah kayak gitu! Bukannya bilang makasih ju- " keluh salah satu temannya.

"Nggak, tadi dia udah bilang makasih kok…" balasnya dengan ramah dan baik. "Siapa namamu, kalau boleh tau?"

"Eh? Ggio Vega, namamu?"

Cewek itu tersenyum ramah lagi, "Soi Fon… salam kenal ya…" Soi Fon mengulurkan tangannya, dan mereka berdua berjabat tangan.

"J-jadi… dia yang namanya Soi Fon…" pikirnya sambil berjalan kembali menuju tempat duduknya yang tak jauh dari Soi Fon. Memang sih, dari percakapan barusan saja sudah ketauan kalau ia tipe anak populer. Bagaimana tidak? Sudah baik, ramah pinter, dan pandai berteman. Tapi, Ggio merasakan ada yang nggak beres padanya. Senyumnya nggak biasa, dan mataya seperti menyimpan banyak kesedihan serta penyesalan mendalam. Itulah kesimpulan Ggio. "hmph, dengan ini, aku tau langkah selajutnya apa…." Ggio tersenyum lebar. Tapi, tanpa diketahuinya, sesosok misterius dengan senangnya tersenyum mencurigakan sambil mengamati gerak-geriknya dan Soi Fon dari kejauhan. "Kau sudah masuk perangkap ya, harimau bodoh…" dan ia pun pergi. Siapakah dia?


Hey Hey! gimana gimana? ada perubahan? jujur aja, saya suka banget sama pairing yang satu ini! GgioxSoi! hahaha, coba aja kalo di anime nya si Ggio itu ga mati yah-_- *sigh* pasi seru tuh! hahaha, REVIEW nya ya minna-san!