Disclaimer © Tite kubo

(Bleach bukan punya saya)

Dandelion

By

Ann

Warning : Au, Ooc, typo(s), fic ini pernah saya publish chap 1-5 dengan akun saya yang lain—akun kolab dengan teman—, tetapi belum diselesaikan. Kali ini saya republish dengan keinginan kuat untuk menyelesaikannya. Wish I can do it!

Tidak suka? Bisa klik 'Close' atau 'Back'.

and

Selamat membaca!

Apa kau tahu, Nona. Kau membuatku tak bisa mengalihkan mataku darimu. Kau membuatku percaya adanya cinta pandangan pertama.

Bab II

Meet You Again

Itu dia orangnya!

Si perawat di lokasi kecelakaan tadi pagi.

Ichigo benar-benar takjub dengan nasib baiknya. Ia baru saja menginjakkan kaki di ruang tunggu klinik ayahnya dan menemukan wanita yang dicarinya. Ia memang berencana akan mencari tahu tentang wanita Kuchiki itu. Namun sebelum sempat mencari ia sudah menemukannya. Tuhan memang benar-benar sedang berbaik hati padanya. Sekarang ia bisa memandangi wanita berambut hitam itu, rambut hitam yang pastinya akan sangat cantik jika wanita itu memanjangkannya. Sayang, wanita itu memangkasnya pendek, hanya sedikit di bawah garis telinga. Andai dibiarkan panjang pasti ia akan terlihat sangat memesona.

Mata Ichigo menyipit dan perutnya menegang saat menatap wajah wanita itu, mengamati mata berwarna amethist dan bibir merah muda yang lembut. Tubuhnya yang mungilnya pasti menyimpan energi yang tidak ada habisnya, bergerak kesana-kemari dengan lincah seakan memilik sayap kecil yang transparan. Di mata Ichigo wanita itu terlihat sangat feminin, begitu manis dan sangat seksi. Ya, sangat seksi. Meski di mata pria lain mungkin wanita itu terlihat biasa saja namun bagi Ichigo wanita itu sangat amat spesial.

Sementara Ichigo mengamati, wanita itu membungkuk mengambil mainan di lantai dan tersenyum pada seorang bocah lelaki sembari menyerahkan mainan tersebut. Perut Ichigo terasa melilit saat melihat senyuman itu, andai senyuman itu diberikan untuknya ia pasti langsung melempar ketakutannya akan komitmen seumur hidup dan langsung melamar Rukia detik itu juga. Namun sebuah panggilan untuknya membuat pikiran itu terbang jauh dari benaknya.

"Ichigo!"

Ichigo mengerjap, berusaha menyadarkan dirinya, dengan enggan mengalihkan pandangannya dari Rukia, dan memusatkan perhatian pada wanita yang tersenyum ke arahnya.

"Eh—halo, Rangiku." Ia tersenyum pada yang sudah menjadi resepsionis klinik ayahnya sejak klinik itu dibuka delapan tahun lalu. "Kau tampak seseksi yang kuingat," ujarnya seraya memberi satu kedipan nakal pada wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu.

"Jangan menggodaku, bocah." Resepsionis itu meninju pelan lengan atas Ichigo, membuat pria itu terkekeh pelan.

"Jadi, rayuanku tidak mempan padamu."

Rangiku menyeringai. Lalu mengacungkan tangan kirinya ke depan wajah Ichigo, membuat pandangan Ichigo terfokus pada sebuah cincin berlian di jari manisnya. "Aku akan menikah bulan depan," ia mengumumkan.

"Kau akan menikah? Lalu bagaimana denganku?" Ichigo meletakkan kedua tangannya di dada, berakting seperti orang yang patah hati. "Tak tahukah kau, jika selama ini aku sangat mencintaimu?"

Mata Rangiku menyipit ke arahnya dan wanita itu berkata, "Anak muda, kau sudah melewati batas."

"Maaf," ucap Ichigo tapi nampaknya ia sama sekali tidak merasa bersalah.

"Kata-kata seperti itu seharusnya kau ucapkan pada wanita yang ingin kau nikahi bukan padaku," Rangiku menasehati.

"Tapi…"

"Ya, ya, ya, aku tahu. Kau tidak ingin menikah setidaknya belum ingin dalam waktu dekat ini. Karena kau berpikir seorang isteri akan membelenggumu dan memenjarakanmu, memberimu banyak kewajiban dan tanggung jawab," potong Rangiku cepat. Ichigo hanya bisa meringis mendengarkan penjabaran Rangiku yang sama persis seperti yang ia katakan pada wanita itu saat ditanya kenapa ia tidak ingin menikah. "Tapi kalau kau menemukan wanita yang tepat, Ichigo. Kau akan rela mengikat dirimu dalam komitmen dan menerima semua tanggung jawab itu," Rangiku menambahkan. Seketika Ichigo mengembalikan pandangannya pada perawat berseragam merah muda berambut hitam sebahu yang tengah membantu seorang pria paruh baya duduk di kursi roda.

"Mungkin aku sudah menemukan wanita yang tepat," ia menggumam.

"Apa?" tanya Rangiku.

Ichigo tersenyum kecil. "Bukan apa-apa. Aku harus pergi menemui ayahku, dia pasti sudah menungguku," ujarnya seraya melangkah meninggalkan Rangiku. Sebelum pergi ia masih sempat melirik sekilas pada Rukia. Rangiku melihat hal itu namun segera mengabaikan hal itu dan mengikuti langkah Ichigo menuju ruang staf.

Dalam perjalanan menuju ruang duduk staf yang berada di bagian belakang klinik Ichigo memerhatikan sekelilingnya. Banyak yang berubah dari tempat itu semenjak terakhir kali ia berkunjung. Bangunan yang mulanya adalah sebuah rumah besar bergaya Eropa yang hampir rubuh telah disulap ayahnya menjadi sebuah klinik kecil dan dalam delapan tahun klinik itu berkembang pesat yang memiliki fasilitas kesehatan yang cukup lengkap. Di bagian tengah bangunan terdapat atrium—lobi beratap kaca—yang megah, yang memungkinkan banyak cahaya masuk ke dalam. Ayahnya juga sangat mementingkan kenyamanan karyawannya karena menurut Isshin kondisi kerja yang nyaman membuat karyawan lebih produktif, oleh sebab itu ayahnya membuatkan ruang staf dengan fasilitas lengkap dan luas bahkan melengkapinya dengan sebuah taman kecil dan kolam ikan Koi.

Ichigo menghentikan langkahnya di depan ruang bercat biru pucat itu. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat ayahnya, sang direktur klinik tengah mengobrol dengan dua orang berjas putih yang ia kenali sebagai Gin Ichimaru dan Jushirou Ukitake, dua dokter yang bekerja di klinik itu.

"Kupikir dokter-dokter di klinik ini super sibuk sehingga ayah repot-repot memanggilku pulang tapi nyatanya tiga dokter utamanya masih bisa mengobrol dengan santainya. Aku merasa kedatanganku kemari sia-sia," ujar Ichigo sembari melangkah mendekati tiga dokter itu.

"Ini dia yang ditunggu-tunggu." Gin menyeringai pada Ichigo dan memberi tepukan di bahu pria itu.

"My son~" Isshin bergerak untuk memeluk putra sulungnya, Ichigo yang tak sempat menghindar terpaksa dengan pasrah menerima rangkulan yang mungkin saja bisa meremukkan tulang-tulangnya itu. "Ayah merindukanmu~"

"Hentikan, ayah. Kau sedang mempermalukan dirimu sendiri di depan karyawan-karyawanmu," ujar Ichigo sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan sang ayah. Akhirnya sang ayah melepaskan pelukannya tapi kedua tangannya masih berada di bahu Ichigo. Matanya mengamati Ichigo dari kepala hingga kaki. "Tidak ada yang berubah darimu," ujarnya kemudian.

Ichigo memutar bola matanya. "Tentu saja, kita kan bertemu bulan lalu, Ayah. Perubahan sebanyak apa yang bisa terjadi dalam satu bulan," sahutnya.

"Banyak hal yang bisa berubah dalam satu bulan, Nak. Kau saja yang tidak tahu," kata Isshin. Ichigo memandangi ayahnya mencari maksud terselubung di balik kata-kata sang ayah.

"Apa yang membuatmu terlambat, Tuan Muda? Bukankah kau bilang akan sampai sebelum makan siang?"

Pertanyaan itu membuat Ichigo menoleh pada pria berambut perak panjang yang berdiri di sebelah ayahnya.

"Ukitake-san," sapanya sembari menyalami pria yang lebih tua darinya itu. "Sebenarnya tadi—"

Belum sempat Ichigo menyelesaikan penjelasannya Rangiku sudah menyeletuk, menggagalkan usahanya untuk menjelaskan.

"Bukannya apa, Ukitake-san, tapi siapa. Dan aku tebak yang membuatmu terlambat adalah seorang wanita."

Ichigo mendengus sebal. "Bisakah kau memberiku waktu untuk memberi penjelasan, Rangiku."

Rangiku jelas mengabaikannya karena wanita itu kembali bertanya. "Jadi siapa dia? Apa wanita yang digosipkan denganmu itu? Si model seksi itu?"

Kalau saja pertanyaan itu keluar dari mulut orang lain bukannya seorang yang sudah lama ia kenal Ichigo pasti langsung membentaknya tapi karena Rangiku yang mengatakannya ia terpaksa bersabar. "Dia tidak ada hubungannya," sahutnya masam.

Kesunyian menyeruak seketika setelah sahutan masam Ichigo. Semua orang tahu penyebab Ichigo keluar dari rumah sakit tempatnya bekerja dan kembali ke kota kelahirannya adalah gosip-gosip yang tersebar di media tentang kedekatannya dengan seorang model dan penyanyi yang tengah naik daun, Neliel tu odelschwanck.

"Sebenarnya aku terlambat memang karena seorang wanita." Ichigo memecah kesunyian.

Gin menyeringai. "Dasar playboy."

"Semoga yang kali ini adalah calon menantuku," kata Isshin tiba-tiba. Yang membuatnya langsung mendapat pelototan dari Ichigo.

"Rupanya ayahmu sudah tidak sabar ingin melihatmu menikah, Ichigo," tambah Ukitake. "Jadi cepat ceritakan tentang wanitamu ini."

Ichigo heran kenapa semua orang bersemangat mendengarkan ceritanya tentang seorang perawat yang ia temui di tempat kecelakaan beberapa jam yang lalu. Sepertinya mereka semua sangat ingin ia segera melepas status lajangnya.

"Dia hanya seorang perawat yang kutemui di lokasi kecelakaan siang ini. Aku belum pernah bertemu dengannya sebelum ini."

"Kecelakaan? Di mana?" tanya Ukitake.

"Persimpangan yang mengarah ke luar kota."

"Ah, di daerah situ memang sering terjadi kecelakaan," ujar Isshin.

"Ada tikungan tajam di sana, dalam sebulan terakhir sudah terjadi tiga kecelakaan di tempat yang sama," Gin menambahkan.

"Mungkin sebaiknya ditambahkan rambu-rambu peringatan di tempat itu," kata Ukitake.

Sementara para pria membahas tentang persimpangan tajam yang sudah merenggut banyak nyawa itu Rangiku menyikut Ichigo dan berbisik, "Cantik tidak?"

"Eh?" Ichigo terlihat bingung.

"Perawat itu. Dia cantik, tidak?" Rangiku memperjelas pertanyaannya.

Ichigo tersenyum lebar. "Sangat," jawabnya.

"Kau suka padanya, kan?" tebak Rangiku.

"Aku tidak bisa bilang tidak."

"Cinta pandangan pertama," Rangiku memekik. Membuat perhatian tiga dokter itu beralih kepadanya, menatapnya, meminta penjelasan. "Ichigo jatuh cinta pada wanita itu, si perawat," ia menjelaskan dengan penuh semangat.

"Benarkah?" Isshin tak kalah bersemangatnya dari Rangiku dan memberondong Ichigo dengan pertanyaan. "Siapa namanya? Apa dia tinggal di kota ini? Kau sudah meminta nomor telepon dan alamatnya, kan?"

Ichigo menarik napas dalam, ia tak mengira ayahnya akan seheboh ini. Seharusnya ia sudah menduganya mengingat antusiasme kedua orang tuanya untuk segera menikahkannya tapi karena pikirannya sedang dikuasai oleh seorang wanita berambut hitam, ia jadi melupakan hal-hal lainnya.

"Aku tahu namanya tapi tidak tahu dia tinggal di kota ini atau tidak dan aku tidak sempat meminta nomor telepon dan alamatnya karena dia buru-buru pergi, dia terlihat tidak ingin tinggal lebih lama bersamaku," jawabnya.

"Baru kali ini aku mendengar ada wanita yang tidak mau tinggal lama bersamamu," ujar Gin. "Dia pasti sangat hebat sampai tidak terpengaruh dengan pesonamu."

"Kurasa kau perlu usaha ekstra untuk menemukan wanita impianmu ini," Rangiku menambahkan.

"Sebenarnya tidak perlu karena aku sudah bertemu lagi dengannya." Senyum kecil muncul di wajah Ichigo saat ia memikirkan kemungkinan untuk menemui Rukia lagi setelah ia keluar dari ruangan ini.

"Di mana?" tanya Rangiku.

"Di sini."

"Di sini? Maksudmu di klinik ini? Dia salah satu pasien klinik ini?" kali ini Ukitake yang bertanya.

"Bukan pasien, dia seorang perawat. Perawat di klinik ini."

"Perawat klinik ini?" Isshin berdeham. Pikirannya langsung tertuju pada perawat yang baru diajaknya berbicara tadi pagi. "Maksudmu Rukia? Apa yang wanita yang sedang kau bicarakan ini Rukia?"

"Ya."

Jawaban Ichigo membuat raut wajah keempat orang yang berdiri di sekitanya nampak serius. Ichigo menatap mereka bergantian, sorot matanya penuh tanda tanya. "Apa ada masalah dengan itu?"

"Sudah, lupakan saja. Dia bukan tipemu," sahut Rangiku pelan. "Dia sama sekali bukan tipemu," ia menambahkan dengan lebih keras.

"Aku tidak setuju," sanggah Ichigo, kilatan aneh nampak di matanya saat memandang wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya itu. "Menurutku, dia jelas-jelas adalah tipeku."

"Tidak." Rangiku menggeleng pelan. "Dia tidak cocok. Rukia takkan tahan denganmu."

"Biarkan dia yang memutuskan."

"Jangan coba-coba, Ichigo, bahkan memikirkannya pun jangan."

Sayangnya hanya hal itu yang ia pikirkan sejak ia melihat wanita itu membungkuk di dekat pengendara motor yang terluka, dengan pipi bersemu merah di bawah udara dingin dengan ekspresi panik.

"Dia datang kemari untuk mendapatkan kedamaian, ketenangan, dan menghindari masalah yang sedang ia hadapi," Gin memberitahunya dengan wajah yang sama seriusnya dengan Rangiku. "Jadi dia tidak butuh tambahan masalah darimu."

Ichigo mengangkat sebelah tangannya dan memandang mereka dengan penasaran. Kenapa kedua orang itu sangat protektif terhadap Rukia? Sebenarnya bukan hanya kedua orang itu tapi ayahnya dan Ukitake pun sepertinya protektif terhadap Rukia.

"Aku tidak ingin memberinya masalah."

"Tentu saja. Kau hanya akan memacarinya lalu mematahkan hatinya," ujar Rangiku sinis. "Tapi lupakan saja. Kalau kau berani menyentuhnya, aku akan menghajarmu, dia tidak pantas disakiti."

Mata Ichigo berkilat marah sementara tinjunya terkepal di kedua sisi tubuhnya. "Aku tidak berniat menyakitinya."

"Memang, tapi dia akan tersakiti. Jadi, kumohon lupakan saja. Jangan dekati Rukia," pinta Rangiku.

"Kenapa dengan kalian? Tadi kalian menyemangatiku tapi sekarang kalian mati-matian melarangku mendekati Rukia. Adakah yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Ichigo menatap mereka satu persatu lalu berhenti di ayahnya. "Ayah?"

Tepat saat itu seorang perawat masuk. "Ada dua panggilan mendesak dan Rukia perlu seseorang untuk memeriksa pasien."

"Masukkan panggilan itu ke daftarku," ujar Gin seraya berdiri.

"Aku akan mengurus panggilan satunya," kata Ukitake.

"Aku akan kembali ke posku," Rangiku mengikuti langkah Gin dan Ukitake keluar dari ruang staf.

Ichigo ikut berdiri. Ia menatap ayahnya, "Aku yang pergi memeriksa pasien Rukia," ujar Ichigo.

Isshin menerutkan dahinya. "Ichigo…"

"Aku juga dokter umum di klinik ini," potong Icigo lancar. "Aku harus memulai kerjaku sesegera mungkin, bukan? Mungkin sekarang adalah saat yang tepat."

"Ichigo, kau harus mendengarkan ayah. Aku tahu kau tertarik pada Rukia, tapi Rangiku dan Gin benar. Dia bukan tipemu." Nada bicara ayahnya terdengar tajam. "Kau tidak boleh mengganggunya."

Ichigo menatap ayahnya lekat-lekat. "Apa ada penjelasan dari larangan-larangan ini?"

"Kau tidak membutuhkan Rukia, sama halnya seperti dia tidak membutuhkanmu."

"Tak ada penjelasan lebih lanjut?"

Isshin mendesah. "Rukia tak ingin kami membicarakannya, jadi aku tak akan melakukannya. Tapi bisa dibilang bahwa mustahil bagi wanita sepertinya menginginkan pria sepertimu."

Mata Ichigo menyipit. "Pria sepertiku?" Ia menunduk menatap dirinya sendiri. "Apa yang salah denganku? Aku punya satu kepala, dua tangan dan dua kaki. Aku tidak menderita penyakit parah yang memungkinkanku mati dalam rentang waktu lima tahun mendatang. Aku juga tidak mengalami gangguan mental. Bisa dibilang aku pria normal."

"Tidak ada yang salah denganmu." Isshin tersenyum sementara tatapannya mengamati rangka tubuh berotot putranya. "Sama sekali tidak ada yang salah."

"Lalu?"

Isshin mendesah seraya menggeleng. "Dia tidak menginginkan siapa-siapa, Ichigo. dan sekarang aku peringatkan kau, aku tidak mau dia dipermainkan. Dia sudah mengalami cukup banyak hal."

Apa yang telah wanita itu alami?

Ichigo menyahut dengan nada pelan. "Aku tidak punya kebiasaan mempermainkan wanita, Ayah."

"Memang tidak, kau hanya tidak pernah serius," ujar ayahnya dengan nada datar. "Tapi Rukia berbeda. Dia kemari untuk kehidupan yang tenang, dan tepat seperti itulah yang akan dia dapatkan. Biarkan dia, Ichigo, atau ibumu akan membunuhmu."

"Kuduga semua ini gara-gara seorang pria." Wajahnya nampak suram saat memikirkan kemungkinan itu. "Apa orang itu memukulnya? Menyakitinya entah dengan cara apa? Aku bisa menemukan orang itu—"

Ayahnya memotong ucapan itu dengan sikap tak sabar. "Singkirkan tinjumu, Ichigo. Ini bukan pertempuranmu." Isshin menjatuhkan tubuhnya di kursi. "Kami semua sangat ingin membantunya, tetapi ia tidak mau menerima lebih daripada yang telah kami berikan. Kuduga, yang ia butuhkan adalah persahabatan. Dia kesepian. Ibumu dan aku terus-menerus mengundangnya ke rumah tapi dia selalu menolak."

"Aku akan menjadi teman yang baik," ujar Ichigo pelan, membuat dahi ayahnya berkerut.

"Tidak, Ichigo! Aku tidak mau—"

"Tenanglah, Ayah." Ichigo menumpangkan sebelah tangan di bahu ayahnya, sementara senyum penuh percaya diri tersungging di bibirnya. "Kau harus belajar bersikap santai. Kau sudah terlalu tua sehingga jangan sampai stress."

"Terlalu tua!" Ayahnya tersedak dan terbatuk-batuk, sementara Ichigo cuma menyeringai.

"Percayalah, Ayah. Aku tidak akan menyakiti Rukia. Aku janji."

Tapi ia ingin sekali menyakiti orang yang sudah menyakiti Rukia.

Dengan benak yang masih bergulat memikirkan kemungkinan itu, Ichigo berbalik dan berlari keluar ruangan sebelum ayahnya sempat memperingatkannya lagi. Satu hal yang pasti: ia akan menemukan latar belakang di balik kesedihan itu.

Itu dokter berambut jingga di lokasi kecelakaan tadi pagi.

Napas Rukia seolah terhenti dan ia memandangi pria yang sedang menuruni anak tangga itu, pria berkaki jenjang dan luar biasa tampan.

Mengapa tak pernah terlintas di benaknya sebelum ini?

Pria itu memiliki rambut yang sama seperti Masaki, dan Isshin pernah memberitahunya jika putra sulungnya bekerja di bagian gawat darurat. Jadi, seharusnya ia sudah bisa menduganya. Pria itu adalah Ichigo Kurosaki.

Mengapa hal ini harus terjadi? Ia menyayangi Isshin dan Masaki juga si kembar Karin dan Yuzu. Tapi Ichigo…

Rukia menelan ludah dengan susah payah saat memandang mata berwarna coklat itu. Ichigo adalah pemangsa. Mustahil ia bisa bekerja bersama Ichigo jika pria itu memandanginya seperti yang dia lakukan pagi tadi.

Seperti cara pria itu memandangnya sekarang.

Rukia tidak menyangka ia bisa terpikat pada seorang pria lagi dan kali ini reaksinya sangat kuat bahkan rasanya melebihi apa yang ia rasakan pada Renji. Tapi ia tidak ingin merasa seperti itu. Ini membuatnya bingung dan takut.

"Halo, lagi." Ichigo berhenti di anak tangga terbawah dan tersenyum ramah kepadanya sehingga Rukia harus mengakui kalau saat ini pria itu tak terlihat seperti pemangsa.

Rukia cuma bengong menatapnya. Tak pernah terlintas di benaknya jika ia harus bekerja bersama Ichigo, setidaknya tidak hari ini.

"Apa ada seseorang yang kaukhawatirkan?" pancing Ichigo, dan Rukia langsung mundur, menjauh darinya. Memberi jarak aman bagi dirinya dan Ichigo.

"Ya, aku hanya ingin menyampaikan ide kepada seseorang yang memiliki kompetensi untuk mendiagnosa penyakit pasien. Aku tahu kalian semua sangat sibuk hanya untuk mendengar—"

"Rukia." Ichigo menyela dengan lembut, sorot matanya menyelidik. "Kau boleh menyampaikan kepadaku. Aku dokter juga, ingat?"

Seperti ia butuh diingatkan saja! Performa pria itu yang mengesankan di lokasi kecelakaan tadi masih mengisi benaknya. Seandainya pria itu tidak membantu ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Ia terlalu panik sehingga mungkin akan mengambil tindakan yang salah.

"Apa kita bisa membicarakannya di dalam ruangan?" Rukia menoleh melewati bahunya menatap ruang periksa, di mana seorang gadis kecil bersama ibunya tengah menunggu. Namun, ia perlu berbicara dengan Ichigo sebelum membawa dokter itu menemui pasien ciliknya. "Kita tidak bisa berbicara di lorong."

Ichigo seketika menunjukkan sikap profesional, mata coklatnya terlihat sarat keingintahuan. Ia berjalan mendahului Rukia, mendorong pintu ruang kerja Gin yang tak tertutup rapat lalu menyamping memberi jalan bagi Rukia.

Setelah menutup pintu ruangan, Ichigo berdiri dengan punggung bersandar pada pintu, mengawasi Rukia dengan hati-hati. "Bicaralah."

Rukia menelan ludah. "Apa kau pernah menangani penyakit Kawasaki?"

Ichigo mengangguk. "Pernah sekali, waktu aku memeriksa pasien anak, tetapi itu jarang terjadi. Kenapa? Apa menurutmu kita punya kasus mirip itu?"

Rukia menatapnya dan mulai terlihat santai. Paling tidak pria itu tidak menertawakannya, atau mencemooh, atau berusaha menegurnya karena sudah melangkahi wewenang seorang dokter.

"Aku mungkin salah. Bisa kau beritahu aku tentang penyakit itu. Di buku teks yang aku simpan di ruang periksa tidak ada tercantum penjelasan tentang penyakit Kawasaki."

Ichigo menarik napas dalam-dalam lalu melangkah melintasi ruangan dan berhenti di depan jendela. "Penyakit Kawasaki—lebih dikenal dengan Mucocutaneous lymph node Syndrome atau Sindrom selaput getah bening—pertama kali dilaporkan pada tahun 1967 di Jepang. Penyakit itu diduga ada hubungannya dengan infeksi virus dan biasanya menyerang balita." Ia berbalik menatap Rukia dengan kening berkerut. "Tanda atau gejala apa yang terlihat pada anak itu?"

"Dia demam tinggi selama lima hari terakhir. Sebelumnya anak itu pernah diperiksa Ukitake-san. Ukitake-san menduga itu penyakit yang disebabkan virus, tapi sekarang di telapak tangan dan kaki anak itu muncul ruam merah yang mengerikan dan kulit yang terkelupas," papar Rukia. "Dan lidahnya merah seperti stroberi. Jujur saja, itulah yang membuatku berpikir tentang penyakit itu. Aku baru ingat tentang warna merah seperti stroberi itu dari pelatihan. Salah satu informasi tak berguna yang menempel di ingatan."

"Jelas-jelas itu berguna," ujar Ichigo pelan seraya melintasi ruangan lagi dan membuka pintu. "Ukitake-sansedang menangani pasien darurat jadi aku akan memeriksanya bersamamu."

Rukia mendahului Ichigo memasuki ruang periksa, lalu ia memperkenalkan dokter itu pada Hikari Mamiya dan ibunya, Sanae Mamiya.

Meski sedang demam, dan hal itu jelas-jelas membuatnya kesakitan. Hikari membelalakkan mata. "Aku melihatmu di telepici," ujarnya cadel, dan Ichigo tersenyum pada gadis kecil itu lalu duduk bertumpu pada satu lutut di depannya sehingga mata mereka sejajar.

"Benarkah?"

Gadis cilik itu mengangguk. "Mama bilang kau cakeb."

Sanae langsung merona dan Ichigo terbahak, jelas-jelas tidak terlihat malu mendengar ucapan semberono Hikari.

"Senang rasanya tahu kalau aku dianggap cakep." Ichigo benar-benar penuh percaya diri dan santai. "Tapi bagaimana menurutmu, Hikari-chan? Apa aku cakep?"

Hikari mengangguk penuh semangat. "Tapi wanita itu tidak cocok untukmu."

"Hikari!" tegur sang mama.

"Mama juga bilang begitu. Nell tidak cocok dengan doktel Ichigo, begitu kata mama."

Ichigo melirik Sanae, memberi wanita itu senyum menenangkan lalu kembali pada Hikari. "Kalau begitu siapa yang cocok untuk dokter Ichigo itu."

Hikari mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu. "Doktel lebih cocok dengan nee-chan."

"Nee-chan?" kening Ichigo berkerut.

Gadis kecil itu menunjuk ke arah Rukia sebagai jawaban.

"Untuk hal ini aku memilih untuk sepakat denganmu, Hikari-chan." Ichigo menoleh ke arah Rukia dan mengedipkan mata padanya. Yang langsung membuat wajah wanita itu merona.

"Kau muncul di televisi?" akhirnya Rukia bertanya.

"Begitulah," jawab Ichigo, jelas ia tak mau memberi penjelasan lebih lanjut.

"Kau tidak menontonnya?" Sanae membelalak. "Semua orang menontonnya, Kuchiki."

"Kurasa tidak semua orang karena aku tidak menontonnya," ujar Rukia dengan wajah yang semakin memerah.

Ichigo terkekeh pelan mendengar jawabannya.

"Dokter Ichigo pernah mengisi acara 'Ask Dokter' yang tayang setiap malam Selasa di stasiun 7. Itu acara telivisi yang menarik, membahas tentang berbagai penyakit dan cara praktis agar tidak mudah terserang penyakit. Karena acara itu dokter Ichigo menjadi sangat terkenal tapi dua minggu lalu tiba-tiba acara itu dihentikan dan baru minggu ini ditayangkan kembali dengan dokter yang berbeda sebagai pengisi acaranya." Sanae menjelaskan panjang lebar.

Rukia memerhatikan sementara Sanae menjelaskan tentang acara televisi yang melibatkan Ichigo sebagai bintangnya, Ichigo nampak tidak terganggu sama sekali. Pria itu berkonsentrasi memeriksa Hikari sambil menceritakan cerita lucu yang membuat gadis kecil itu tertawa.

"Sudah lima hari ini dia demam tinggi dan sangat rewel," ujar Sanae pelan sementara Ichigo memeriksa mulut dan mata Hikari.

"Apa dia juga terserang diare?"

"Ya beberapa kali." Sanae mengerutkan dahinya. "Menurut anda dia menderita penyakit apa?"

Ichigo meluruskan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di dada. "Kemungkinannya banyak," sahutnya lembut. "Tidak ada gunanya mendaftar semua kemungkinan-kemungkinan itu kepada anda, tetapi suster Kuchiki tadi curiga mungkin ini penyakit Kawasaki, dan kurasa dia benar. Beberapa orang berpendapat penyakit itu bisa muncul hanya setelah adanya infeksi virus. Tentu saja mungkin yang terjadi tidak seperti itu, jadi aku harus mengirimnya langsung ke dokter spesialis anak di rumah sakit sehingga mereka bisa melakukan beberapa tes."

"Beberapa tes?" Sanae nampak kaget. "Tes apa?"

"Sebagian besar tes darah," Ichigo menjelaskan. "Anda punya kendaraan, Mamiya-san?"

Wanita itu mengangguk, jelas terlihat jika ia kebingungan karena cemas. "Ya aku membawa mobil tapi—apa ini penyakit serius?"

Ichigo menumpangkan sebelah tangannya di pundak wanita itu. "Mungkin saja, asalkan kita langsung membawanya ke rumah sakit, aku akan sangat yakin dia baik-baik saja. Aku akan menelepon dokter spesialis anak itu sekarang sehingga ia tahu anda akan datang. Suster akan membantu anda menaikkan Hikari ke mobil sementara aku menulis surat rujukan."

Rukia membantu Sanae membawa barang bawaan mereka dan mengikuti wanita itu ke area parkir.

"Aku tadinya cuma memintamu memeriksa bercak-bercak itu." Sanae mendudukkan Hikari di kursi khusus anak lalu menggigit bibirnya. "Aku tidak mengira—"

"Mungkin saja itu bukan apa-apa," sela Rukia pelan, "Tapi lebih baik selamat daripada menyesal. Kami akan menelepon rumah sakit untuk mengecek kondisinya dan jangan sungkan menelepon kami jika anda butuh bantuan."

Ichigo berjalan melintasi area parkir dan menyerahkan sepucuk surat kepada Sanae. "Namanya dokter Uryuu Ishida dan dia sudah menunggu anda. Parkirlah di dekat pintu masuk dan langsung bawa Hikari ke instalasi khusus anak, sebelah kiri dari pintu masuk utama."

"Terima kasih, dr. Ichigo." Sanae duduk di kursi pengemudi lalu memundurkan mobil dengan hati-hati keluar area parkir sementar Ichigo dan Rukia mengawasinya.

Wajah Rukia nampak sedih. "Mungkin kita tadi seharusnya memanggil ambulans untuk mereka."

"Lebih cepat dengan mobil sendiri," sahut Ichigo blak-blakan sembari mengamit lengan Rukia dan membimbingnya kembali ke klinik. "Cepat masuk sebelum kau kena pneumonia*."

"Apa menurutmu itu tadi penyakit Kawasaki?"

Ichigo mengerutkan dahi. "Mungkin saja. Bisa saja itu penyakit yang disebabkan bakteri Streptococcus atau Sindrom Stevens-Jhonsons, yaitu sejenis penyakit kulit dengan gejala timbulnya ruam merah seperti luka bakar pada kulit dan selaput lendir. Penyakit itu seringkali disebabkan infeksi pernapasan atau reaksi alergi terhadap obat-obatan terutama antibiotik. Tetapi menurutku mungkin diagnosismu akurat. Aku terkesan."

Wajah Rukia merona di bawah tatapan hangat Ichigo, seraya bertanya-tanya bagaimana mungkin ia bisa bekerja bersama pria itu. Yang pasti, anggap saja dia sebagai dokter bukannya pria dewasa. Tetapi masalahnya, ia belum pernah bertemu dengan dokter yang memiliki senyuman yang berpengaruh kuat terhadap pernapasannya.

Bersambung…

*pneumonia: penyakit infeksi yang menyerang paru-paru yang diakibatkan oleh udara dingin.

Chap 2 up! Isi cerita tidak berubah dari yang pernah saya publish, hanya saja di beberapa bagian ada yang diperbaiki, terutama bagian typo-nya.

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca fic ini.

See ya,

Ann *-*