The Impression

Author: Hoshi Yutaka

Part: Prolog

Rating: PG

Genre: romance

Pairing: too lazy to tell

Warnings: none

Disclaimer: you know, the usual…

Comments: my mind was wandering again, creating some wild imaginations and now I'm turning them into this

Avalon Kobayashi atau yang biasa dipanggil oleh orang-orang Avaron terjaga di tempat tidurnya, duduk dan sebagian tubuhnya masih ditutupi oleh selimut yang menjaganya agar tetap hangat. Dia menatap jendela kamarnya yang memberikan pemandangan gedung-gedung tinggi dan awan yang mendung, tidak begitu cerah.

Dia melihat jam digital yang ada di atas meja sebelah tempat tidurnya. Sudah pukul 7 pagi. Pantas saja dia terbangun. Dia menguap lebar-lebar dan menggeliat sejenak sebelum seseorang membuka pintu kamarnya, memperlihatkan dirinya di pintu.

"kau sudah bangun?" seorang pria yang sudah sangat dikenalnya datang ke kamarnya untuk memastikan dia sudah bangun atau belum.

"ya, aku sudah bangun. Ohayou, Kai…" jawab Avaron pada tunangannya. Uke Yutaka atau yang biasa dipanggil Kai oleh orang banyak, karena nama itu adalah nama panggungnya sebagai artis.

''aku sudah membuat pancake. Kau mau ?'' tanya Kai. Avaron bisa mencium sedikit wangi pancake yang baru saja matang. Dia bisa membayangkan pancake enak itu kini ada di atas meja makan di ruang makan apartemen mereka yang cukup elit ini.

''ya, tentu saja. Tapi aku siap-siap dulu.'' Avaron turun dari tempat tidurnya. Kai tersenyum padanya. ''kutunggu di ruang makan.'' Katanya sebelum dia menutup pintu.

Avaron melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi yang ada wastafel. Dia berdiri di depan wastafel itu, membuka kerannya, menampung air yang keluar dengan kedua tangannya, dan membasuhnya ke wajahnya yang masih terlihat mengantuk itu. Dia membersihkan wajahnya dengan facial washnya. Dia menyikat giginya juga.

Pagi itu, dia teringat kalau dia mempunyai acara yang sangat penting. Grand opening pet shop yang dia dirikan yang jaraknya hanya 3 blok dari apartemennya. Grand opening itu akan diadakan nanti siang, dia mengundang teman-teman dan kenalannya, terutama mereka yang mempunyai binatang peliharaan.

15 menit kemudian, dia keluar dari kamarnya dengan mengenakan T-shirt, jeans, dan jaket tipis kesukaannya. Menuju ke ruang makan dimana Kai sudah menunggu disana, dia sedang menuangkan jus jeruk yang baru dikeluarkan dari dalam kulkas ke dalam 2 gelas kosong.

"kau mau?" Kai memberikan gelas yang berisi jus jeruk itu. "ya, tapi setelah makan. Aku tidak ingin sakit perut karena minum jus sebelum makan." Avaron menaruh lagi gelas itu di sebelah piring pancakenya.

"ada rencana hari ini?" tanya Kai. Avaron menggelengkan kepalanya sebagai tanda kalau dia agak jengkel.

''grand opening pet shopku. Masa kau tidak ingat ?'' Avaron sudah ketiga kalinya mengingatkan tunangannya ini tentang grand openingnya. Kai memang pelupa.

"oh iya… kapan? Kau mengundang siapa saja?" Kai menepuk dahinya. "maaf, lagi-lagi sifat pelupaku kumat…"

"nanti siang. Aku mengundang teman-teman dan kenalanku, terutama mereka yang mempunyai peliharaan, aku ingin mereka menitipkan peliharaan mereka atau hanya membeli produk dari pet shopku untuk kesan pertama, kau mau datang?" Avaron menjawab sambil memotong pancakenya dengan garpu.

"aku ingin sekali, tapi tampaknya tidak bisa…" Kai terlihat tidak enak hati. "aku sibuk di studio untuk latihan persiapan tur… yang akan diadakan beberapa hari lagi…"

"ya, aku tidak akan lupa…" Avaron memaklumi. Dia tidak kaget. Karena sudah beberapa kali Kai melewatkan momen atau acara-acara penting bersamanya karena kesibukannya di band yang popularitasnya terkenal itu.

''tapi, do me a favor… kalau teman bandmu, atau staffmu, atau rekanmu mempunyai peliharaan, sarankan mereka untuk datang ke petshopku. Anggap saja itu sebagai pengganti ketidak hadiranmu.'' Avaron meminta bantuan.

''ya, akan kusampaikan, Ava…'' Kai menyanggupi.

"aku malu… kenapa lagi-lagi, hari ini, kau lagi yang menyiapkan sarapan? Seharusnya itu tugasku." Avaron menatap Kai.

"memangnya kenapa? Aku tahu semalam kau capek karena kau pulang malam dan aku tidak ingin kau membunyikan alarm lagi…" Kai teringat kejadian beberapa minggu yang lalu, ketika Avaron mencoba untuk memasak kue dan kue yang dipanggang di dalam oven gosong dan membunyikan alarm.

"aku sedang belajar masak… sebagai calon ibu rumah tangga, itu kewajiban… aku tidak mau malah nanti kau yang memasak, sedangkan kau sendiri juga sudah sibuk di luar. Maksudku, singkatnya, bukan tugas suami yang memasak, bukan?"

"kau masih memegang tradisi lama, ya?" Kai tertawa. ''ya, maka dari itu aku tidak ingin sekamar denganmu sebelum kita menikah.'' Jawab Avaron tegas.

''Ava, Ava…'' Kai menggelengkan kepalanya. ''tidak apa-apa. aku tidak keberatan dengan itu…''

"tapi apa yang akan mereka katakan? Ibumu misalnya. Apa yang akan dia katakan kalau dia tahu aku tidak bisa memasak?"

"Ava, kalaupun dia tahu, dia tidak akan keberatan. Toh dulu sewaktu dia seusiamu, dia mengaku kalau dia juga tidak bisa memasak. Santai saja…''

Avaron tidak bisa santai. Entah kenapa, dia sangat mementingkan hal itu. Memasak, mengatur pakaian, membereskan rumah, berbelanja baginya itu adalah kewajiban sebagai perempuan apalagi yang sudah menjadi seorang istri. Dia sangat menanti pernikahannya, tapi dia juga tahu kewajibannya, dia tidak mau merepotkan suaminya atau memberikan kesan yang tidak baik pada anaknya di masa depan nanti.

''aku tidak bisa. Aku sudah membeli beberapa buku resep masakan. Nanti malam, kau akan makan masakanku." Avaron memutuskan.

"ah, jangan…" Kai protes. "kenapa?" tanya Avaron.

"karena terakhir kau memasak, rasanya agak… ngg… asin?"

"itu karena aku tertukar dengan garam dimana seharusnya aku menuang merica ke dalam masakannya." Avaron membela dirinya. "tenang, kali ini pasti berhasil."

"baiklah…"Kai mengalah. ''tapi aku akan menyiapkan nomor telepon delivery kentaki, untuk berjaga-jaga…''

"kau tidak akan membutuhkan itu…" Avaron berkata dengan yakin. "aku yakin, katsudon buatanku pasti akan enak."

"kau akan membuatnya dengan saus apa?"

"saus kari."

"kau yakin?" Kai memastikan. "memangnya kau bisa memasak kari?"

Tanpa sadar, kata-kata Kai barusan membuat Avaron kembali merasa tertusuk.

Setelah melepas kepergian Kai yang menuju ke studio untuk latihan, Avaron sendirian di apartemen yang elit ini. Apartemen ini ada di lantai 21 dan mempunyai ruang tamu, ruang TV, ruang makan, dapur, dan 2 kamar tidur. Rencananya, kalau mereka sudah menikah dan mempunyai anak, mereka akan pindah ke sebuah rumah. Karena Avaron ingin anak mereka tumbuh di atas tanah dan dapat bermain di halaman rumah. Baginya seorang anak yang tumbuh di apartemen tinggi seperti ini kurang baik untuk mereka.

Avaron membuka korden ruang TV dan cahaya terang pun memasuki ruangan, membuat ruangan yang bernuansa merah dan beige itu terlihat sangat anggun. Avaron memuji Kai dalam memilih interior seperti ini.

Dia berjalan ke kamar mandi kamarnya dan mengambil keranjang yang ada di balik pintu kamar mandi. Keranjang itu berisi pakaian-pakaian kotornya dan kemudian dia beranjak ke kamar mandi ruang TV untuk mengambil keranjang pakaian milik Kai. Dia lalu membuka sebuah pintu kayu yang ada di sebelah dapur. Di balik pintu itu adalah ruang laundry. Terdapat 2 buah mesin cuci. Dan di atasnya ada lemari kayu yang berisi alat-alat untuk mencuci. Dia memasukkan seluruh pakaian kotor dari kedua keranjang yang dia bawa ke dalam mesin cuci, memasukkan beberapa sendok deterjen ke dalam sebuah kotak kecil yang ada di sebelah pintu mesin cuci, menyetel air terlebih dahulu sebelum dia menyalakan mesin cuci dengan suhu 40 derajat. Sisanya, dia biarkan mesin cuci itu bekerja dengan sendirinya.

Semenjak dia pisah rumah dari keluarganya yang ada di Hokkaido, dia merasa dia harus mandiri. Apalagi ketika Kai mengajaknya untuk tinggal bersama di apartemen ini. Lama-kelamaan, dia mulai terbiasa mengerjakan semua ini sendirian. Dia bisa menyeterika pakaiannya sendiri dan juga pakaian Kai, dia bisa membersihkan apartemen besar ini sendirian, semuanya sudah bisa dia tangani kecuali memasak.

Saat dia keluar dari ruang laundry, dia mendengar bel apartemen berbunyi 2 kali. Ketika Avaron menghampiri pintu dan mengintip dari lubang pengintip, ternyata tamunya adalah seseorang yang sudah dia kenal. Avaron membuka pintunya dan menyapa tamunya.

"hai, Avaron-san…" tamunya adalah seorang gadis yang usianya beberapa tahun lebih muda darinya yang berusia 24 tahun. "apa Kai-san ada di rumah?"

"oh, Naoko-san, Kai baru saja pergi ke studionya… ada apa? Akan kusampaikan kalau kau datang kemari." Jawab Avaron. Naoko Kiyomizu adalah asisten Kai. Avaron masih tidak percaya, Kai yang hanya seorang drummer bisa mempunyai seorang asisten. Kata Kai, masing-masing member bandnya mempunyai asistennya sendiri-sendiri. Avaron tidak akan pernah mengerti dunia entertainment. Kalaupun mengerti, dia lebih memilih untuk tidak peduli.

"tidak usah, Avaron-san. Aku pikir dia masih di rumah. aku mengantarkan make up kit miliknya. Dia berkata lebih baik dia saja yang menyimpannya daripada aku. Oh ya, hanya sekadar informasi, Kai-san akan memanjangkan rambutnya!" kata Naoko sambil menyerahkan sebuah kotak besar berwarna hitam ke tangan Avaron.

"apa? Aku tidak mengerti. lebih baik kau masuk saja dulu, Naoko-san…" Avaron membuka pintunya lebar-lebar untuk mempersilahkan tamunya yang berambut cokelat yang diwarnai itu. Dia ingin menanyakan maksudnya dari 'Kai-san akan memanjangkan rambutnya' tadi.

"tidak apa. Sebentar lagi aku harus pergi. Aku ada pertemuan jam 9 nanti. Aku kesini hanya untuk mengantarkan ini. Sampai jumpa, Avaron-san !''

"tunggu! Maksudmu apa dengan Kai ingin memanjangkan rambutnya tadi?" Avaron mencegah Naoko untuk pergi.

"ya, anda pasti tahu maksudku…" jawab Naoko samar-samar karena dia sudah lebih dulu meninggalkan Avaron.

Avaron menaruh make up kit titipan itu ke dalam kamar Kai. Sambil membayangkan bagaimana jadinya kalau Kai… memanjangkan rambutnya?

Avaron jadi gemas sendiri saat membayangkannya. Dia pernah melihat Kai dengan rambut berwarna cokelat yang baginya warnanya seperti kotoran. Avaron memarahinya di apartemen karena Kai membawa-bawa rambut itu ke dalam rumah. Avaron tidak suka melihat cowok mewarnai rambutnya. Tapi karena itu adalah bagian dari pekerjaan Kai, dia masih bisa mentolerir sedikit. Dia memberi syarat pada Kai agar hanya mengenakan model rambut yang aneh-aneh itu hanya di panggung atau untuk keperluan pekerjaan. Model rambut yang menurut orang-orang adalah gaya visual kei atau apalah itu. Dia tidak mau melihat tunangannya datang ke rumahnya dengan penampilan mengerikan seperti itu.

Satu-satunya penampilan visual keinya Kai yang Avaron suka hanya saat Kai masih mempertahankan warna rambut aslinya yang hitam itu, tanpa extension, tanpa pewarna, tanpa apapun yang bersifat buatan.

Tapi kalau dia membayangkan rambutnya Kai menjadi panjang seperti miliknya… dia tidak mau nanti orang-orang salah mengira dia adalah wanita karena make up visual kei Kai bisa dibilang cukup cantik.

Dan itu hanyalah salah satu alasan Avaron kenapa dia tidak mau Kai bergaya seperti itu saat sedang menjadi orang biasa. Tapi alasan sebenarnya adalah, Avaron tidak ingin tersaing oleh Kai.

Walaupun seorang wanita, Avaron sama sekali tidak tahu menahu soal berdandan. Kalau pun berdandan, itu hanya sekali dua kali, terakhir dia berdandan saat pesta kelulusan kuliahnya dulu. Itu juga ibunya yang mendandaninya. Dia tidak ingin orang lain tahu kalau calon suaminya lebih tahu banyak soal berdandan daripada dirinya. Dia tidak ingin orang lain menemukan eyeliner misalnya, di rumah Avaron, dan bertanya apa ini milik gadis berambut hitam itu, Avaron akan menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan sangat malu kalau eyeliner itu adalah milik Kai. Dia tidak mau hal itu terjadi.

Setelah itu dia pergi ke kamarnya sendiri, mengambil handphonenya yang ada di atas meja sebelah tempat tidurnya dan mengirim e-mail ke Kai kalau asistennya menitipkan alat make up dan Avaron sudah menaruhnya di kamarnya.

Baginya, tamu undangan dan beberapa calon pembeli yang mengunjungi pet shopnya saat dia baru datang sudah cukup banyak. Kebanyakan dari mereka membawa binatang peliharaan mereka. Ada yang membawa anjing dengan tali kekang yang dibawa oleh majikannya, ada yang membawa kucing dan ditaruh di dalam carry bag mereka, dan ada juga yang membawa kelinci mereka!

Avaron masuk ke dalam petshopnya yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung apa yang dia butuhkan itu. Dia mempunyai kenalan dokter hewan dan dia mengajak dokter hewan itu untuk bekerja di pet shopnya. Dokter hewan itu menyanggupi. Baginya tidak ada salahnya bekerja di tempat lain selain di tempat prakteknya.

Avaron mempunyai seorang karyawan. Dia adalah seorang gadis yang baru lulus SMA dan dia sedang mencari uang untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang kuliah. Maka dari itu Avaron memberinya pekerjaan disini. Gadis itu adalah anak tetangganya di rumahnya yang di Hokkaido, namanya Aya Goto. Aya sangat manis dan dia tidak banyak tingkah. Dia gadis yang apa adanya, ramah dan juga rajin.

Aya menunggu Avaron di balik meja kasir sambil melayani beberapa tamu yang ingin membayar produk yang disediakan di pet shopnya. "konnichiwa, Avaron-san!" Aya menyapa Avaron.

Avaron melambaikan tangannya pada Aya. Kemudian dia melayani beberapa tamu yang menanyakan berbagai macam hal padanya. Dari hari dan jam apa tokonya dibuka dan ditutup, dimana letak makanan anjing, juga meminta penjelasan bagaimana caranya merawat peliharaan mereka.

Dengan sabar dan ramah Avaron menjelaskan semua pertanyaan itu satu demi satu. Sesekali dia memperlihatkan hewan peliharaan yang dia jual. Seekor kucing anggora yang dia beri nama Toran, sepasang hamster jenis Siria yang dia beri nama Akito dan Airi, dan seekor anjing Pomeneranian bernama Mogu.

Tanpa sadar, dia sudah bekerja sampai menjelang malam. Tamu-tamu dan customer mulai pergi dan toko pun kembali sepi. Sekarang hanya ada Aya dan Avaron saja. Aya sedang menyapu lantai dan memberi makan para peliharaan. Sedangkan Avaron mengatur barang-barang dan stock ke lemari display.

''kata dokter Inoue, dia akan memulai prakteknya besok.'' Kata Aya sambil terus menyapu lorong.

''bagus. Kalau begitu, lebih baik kau bersihkan ruangannya yang ada di belakang hari ini, ya.'' Jawab Avaron yang mengatur barang tidak jauh dari Aya.

''tidak kusangka baru grand opening sudah cukup banyak yang datang.'' Aya berkata dengan nada capek tapi senang.

"semua ini karena brosur yang kau bagikan di daerah Shibuya itu, Aya. Terima kasih, ya."

"sama-sama, Avaron-san. Ngomong-ngomong, aku boleh bertanya satu hal?" Aya menyudahi kegiatannya dan mendekati Avaron. Avaron berbalik dan menanggapi. "tentu saja. Apa?''

''aku mempunyai seorang teman. Dia seusia anda dan dia sedang mencari pekerjaan.'' Kata Aya. ''dia seorang pemuda yang tertarik di dunia musik. Dia membutuhkan pekerjaan untuk mendanai band yang dia bentuk bersama teman-temannya.''

"oh, menarik juga." Avaron menyukai orang yang berusaha sukses dengan usaha sendiri. "memangnya dia tidak meminta uang dari orang tuanya?"

"orang tuanya sebenarnya meminta dia untuk kuliah dan menjadi seorang pekerja kantoran biasa. Tapi dia tidak mau kuliah dan malah membentuk band. Jadi, mereka kompromi. Dia boleh tidak kuliah, asal bandnya sukses dan murni dari hasil usahanya sendiri. Orang tuanya ingin melihat dia bertanggung jawab dengan keputusannya sendiri."

"hmm… bagaimana kalau kau membawanya besok? Aku ingin melihatnya."

"benarkah itu? Apa anda setuju?" Aya tersenyum.

"aku ingin menemuinya dulu sebelum aku memutuskan. Kalau dia benar-benar berniat dengan bandnya, kurasa dia pasti akan bekerja disini dengan giat."

"baiklah, Avaron-san! Aku akan membawanya besok!" Aya bersorak. "terima kasih banyak karena telah membantu kami!"

"ya, sama-sama. Oh ya, sekarang jam berapa?" Avaron melihat jam tangannya. "astaga! Sudah jam 7! Aku harus pulang dan menyiapkan makan malam! Sudah ya, Aya! Aku pulang dulu! Tolong bereskan sisanya, oke?" dengan buru-buru, Avaron meninggalkan semuanya dan mengambil mantelnya yang ada di gantungan sebelah pintu masuk sebelum pergi meninggalkan pet shop.

Avaron kembali ke apartemennya setelah membeli bahan-bahan untuk memasak katsudon di supermarket. Dengan terburu-buru, dia masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju ke dapur. Dia mencuci tangannya di bak cuci dan memakai celemek. Dia mengeluarkan seluruh bahan-bahan dari dalam kantong belanjaannya.

Langkah pertama, dia melembutkan daging ayam fillet dengan memukul-mukulnya. Setelah itu dia beri garam dan sedikit merica di atas ayam sebelum dia taruh di dalam sebuah baskom dan menutupnya dengan plastik.

Sambil menunggu, dia menyiapkan tepung, tepung roti, telur yang sudah dikocok, dan minyak yang dipanaskan. Dalam 30 menit, katsu sudah jadi dan dia tiriskan. Kemudian dia membuat saus karinya.

Dia mengiris sebuah apel dan memotong-motongnya. Tapi karena dia memotongnya terburu-buru, tanpa sengaja dia mengiris jarinya sendiri dengan pisau. Avaron menjerit dan terkejut saat melihat jari telunjuk tangan kirinya berlumuran darah. Dia dengan segera menuju kotak P3K yang ada di sudut dapur dan mengambil obat merah dan plester. Dia mencuci lukanya dulu sebelum dia mengobatinya.

Setelah lukanya beres diobati, dia kembali bekerja.

"and here it is, katsudon dan salad!" Avaron memamerkan hasil kerjanya kepada Kai yang sudah pulang pukul 10 tadi. "tapi sayangnya sudah agak dingin karena aku menunggumu pulang…"

"waw… terima kasih, Ava…" Kai dengan takjub menatap makan malam yang disiapkan Avaron di atas meja dengan rapi. Setiap porsi terdiri dari semangkuk nasi dan semangkuk kecil saus kari, 2 buah piring dengan katsu dan salad, dan segelas air mineral. Dilengkapi dengan sumpit.

"ayo, makan…" Avaron menarik kursi meja makan dan duduk. Kai mengikuti.

"Ava… kenapa dengan jarimu?" Kai memperhatikan jari telunjuk Avaron yang diperban. Dia memegang tangan Avaron dan melihatnya sejenak.

"eh, tidak apa-apa, kok. Tadi waktu memotong apel, jariku teriris…" Avaron menarik kembali tangannya.

''tapi kau tidak apa-apa, kan ?'' Kai memastikan.

"ya, tenang saja. tidak separah itu kok…" jawab Avaron santai. "ayo, kita nikmati makanannya sebelum lebih dingin lagi!"

"iya, iya, sayang…" Kai mengambil sumpitnya dan menyumpit seiris katsu lalu mencelupkannya ke dalam saus kari. "sayang…" Kai berhenti sejenak.

"ya?"

"kuah karinya terlalu encer… kau terlalu banyak menuangkan airnya…" Kai mulai mengkritik masakannya.

"memangnya iya? Padahal sudah kutakar airnya…" Avaron tidak percaya.

"percayalah padaku. Kalau tidak percaya, coba saja kau lihat saus karimu."

Ava mengambil mangkuk saus karinya dan memperhatikan kuahnya. Baginya kuahnya sudah pas. Tapi bagi Kai yang lebih ahli darinya, kuahnya encer. Berarti, dia gagal lagi.

"tapi rasanya boleh juga. Walaupun agak hambar… kau kurang memberi bumbu karinya, ya?" keluarlah kritikan kedua dari Kai.

"tapi, bagaimana katsunya?" Avaron bertanya.

"kenapa dagingnya masih terlalu asin?" Kritikan ketiga keluar saat Kai mengunyah katsunya. Avaron kemudian sadar kalau dia lagi-lagi tertukar mana yang garam dan mana yang merica.

Avaron lemas. Dia sudah gagal lagi. Dia menaruh sumpit yang tadi dia pegang dan berdiri dari duduknya. Tanpa menghiraukan panggilan Kai, dia berjalan menuju ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.

''Ava…'' Kai mengetuk pintu kamar dan memanggilnya dari luar. ''maaf, sayang…''

''tidak, seharusnya aku yang meminta maaf. Lebih baik kau telepon saja nomor delivery kentakimu…" balas Avaron dari dalam kamar. Dia duduk di atas tempat tidur dan memeluk lututnya dengan kedua lengannya.

"tidak usah. Aku akan makan masakanmu. Tapi aku tidak mau kalau kau tidak ikut makan. Kau sudah seharian bekerja di luar. Jangan sampai kau tidak makan malam…" Kai berkata dengan nada yang sangat khawatir.

"aku gagal…" Avaron tidak mempedulikan kata-kata Kai.

"tidak. Kau sedang belajar. Wajar kalau kau melakukan kesalahan. Saladnya enak, kok. Kalau kau ingin tahu…"

Avaron tertawa pahit. "tentu saja. aku kan hanya mencuci, memotong sayurannya dan memberinya mayonnaise… tapi tidak wajar kalau aku lagi-lagi tertukar mana yang garam dan mana yang merica."

"itu kesalahanku. Aku lupa memberikan tanda 'garam' dan 'merica' di botol penyimpannya. Besok akan kuberikan. Ayolah Ava… keluarlah… aku tidak ingin kau sakit…" bujuk Kai.

Karena luluh dengan bujukan dari pria yang dicintainya, Avaron akhirnya membuka pintunya dan melihat Kai berdiri di depannya. Avaron memeluk pria itu erat-erat.

"maaf kalau aku gagal…" Avaron berkata dengan lemas di pelukannya. "ya, tidak apa-apa." Kai membelainya rambutnya dengan lembut. "kita makan, ya…"

Avaron mengangguk pelan. Dia pun menurut saat Kai menarik tangannya menuju ruang makan untuk makan malam lagi. Avaron tahu kalau Kai saat ini menghargai usahanya yang sudah capek-capek memasak sampai jarinya teriris. Tapi Avaron tetap saja merasa tidak enak. Dia ingin Kai memujinya karena masakannya.