Im Ok! But He's Not!
Byun Baekhyun x Park Chanyeol
Other cast:
Kim Jongin - Xi Luhan - Oh Sehun - Do Kyungsoo
Warn!
Boys Love, BoyxBoy
Chapter 1
.
.
Seorang namja manis sedang sibuk di dalam kamar kecilnya, dia melempar asal piyama tidurnya ke keranjang pakaian, kemudian tubuh kecilnya dibawa masuk ke dalam kamar mandi. Tak butuh waktu lama, dia sudah kembali dengan handuk putih yang melilit pinggangnya. Sambil memasang asal dasinya, dia mengoleskan eyeliner di sekitar matanya, kebiasaan dari SMP yang sialnya membuat namja manis itu tak bisa lepas dari yang namanya eyeliner. Beruntunglah dia, karena Eomma dan Appanya tak mengambil pusing soal itu. Selama itu tak bahaya, mereka tak akan melarang.
Byun Baekhyun. Namja manis tadi, baru saja turun dari ruangan terfavoritnya, dia melangkah ke meja makan yang masih sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Dia menghela napas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan dimana merupakan kamar kedua orang tuanya.
Baekhyun duduk di atas sofa, memasang sepatu lalu mengikat tali sepatunya sekencang mungkin. Dia berdiri, melirik ke arah jam dinding, masih terlalu pagi pikirnya. Namun dia sama sekali tak ingin terlambat hari ini, bisa-bisa dia akan dicincang oleh rusa cina itu. Lagipula dia harus melakukan sesuatu hal yang disukainya jika datang pagi-pagi sekali.
"Eomma, Appa, Baekhyun berangkat, ne!" teriaknya.
Hening. Sama sekali tak ada balasan. Baekhyun hanya mengangguk seolah dia baru saja dapat sebuah balasan. "Ne, aku akan berangkat hati-hati!" balasnya. Selalu. Setiap hari itu yang dilakukannya sebelum berangkat ke sekolah.
"Selamat pagi, Tuan!"
Baekhyun menoleh saat melihat seorang bocah bermata bulat dengan kaca mata bertengger manis di wajahnya, sedang tersenyum ke arah Baekhyun. Baekhyun hanya mendengus sebal, lalu menatap jam tangan hadiah ulang tahunnya yang ke 17 bulan lalu. Lalu pandangannya dialihkan ke arah manusia di depannya yang sialnyaa malah membuat mood nya buruk sekali.
"Kau terlambat 3 detik!" ujar Baekhyun menatap tajam namja manis itu. Tidak. Salah kalau kalian berpikir Baekhyun adalah seorang yang disiplin waktu. Apapun keadaannya, sudah sebenar dan sebaik apapun orang di depannya ini berbuat, tetap saja akan ada 1000 kesalahan bodoh yang pasti Baekhyun ucapkan kepadanya.
Do Kyungsoo, atau Kyungie, tapi Baekhyun lebih senang memanggilnya si pendek, pinguin, mata belo, burung hantu, atau sesuka hatinya saja. Omong-omong soal panggilan pertama, Baekhyun kapok memanggil Kyungsoo dengan sebutan itu, karena bukannya marah, Kyungsoo malah meledeknya sambil berkata. "Kau juga pendek, kalau kau lupa, Tuan!" dan sejak itu, kalimat Si Pendek menjadi momok tersendiri bagi Byun Baekhyun.
Mereka kenal karena saat pertama masuk ke Senior High School, Kyungsoo pernah dipalak oleh Sunbae mereka, karena saat itu keduanya memang baru kelas 10. Untunglah saat itu Baekhyun yang terlambat datang saat MOS tak sengaja memandang namja itu, dan dengan jurus Hapkidonya, Baekhyun langsung menendang kedua orang itu, sialnya lagi Baekhyun tak tahu kalau mereka adalah Seniornya. Alhasil keduanya dihukum keliling lapangan karena sudah membuat keributan di sekolah.
Sebenarnya hanya Baekhyun yang dihukum, namun Kyungsoo dengan senang hati mengatakan kalau dia juga terlibat di sana. Setelah 30 menit berkelliling, Baekhyun langsung berlari entah kemana, lalu Kyungsoo yang merasa berhutang nyawa terus mengekorinya dan mengucapkan terima kasih berulang kali. Karena kesal, akhirnya Baekhyun meminta Kyungsoo agar menjadi pembantunya, dan bodohnya Kyungsoo mau saja dan sejak itulah keduanya dekat. Dekat dalam artian, Baekhyun yang selalu semena-mena dengan namja malang itu.
"Tapi tuan, ini jam yang tepat," balas Kyungsoo.
"Memang, tapi apa kau tidak lihat hah! Bagaimanapun kau terlambat 3 detik, Do Kyungsoo!" Baekhyun menekankan kata-katanya.
"Arasseo, lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Kyungsoo mengalah, dia hanya tak ingin terlambat di pagi yang cerah ini hanya karena berdebat hal bodoh dengan tuan egois di depannya itu.
"Gendong aku sampai ke sekolah!" seru Baekhyun seraya merentangkan tangannya.
Kyungsoo melebarkan matanya yang sudah bulat. Apa tuannya ini gila? Memang sih jarak ke sekolah dari rumah mereka tidak sejauh Indonesia ke Korea, tapi melihat betapa semoknya badan namja di depan ini, Kyungsoo jadi merasa lebih baik dia ditonjok saja daripada harus menggendong Baekhyun. Oh ayolah, Kyungsoo masih sayang tulang rusuknya, bisa-bisa dia masuk rumah sakit karena kelelahan menggendong Baekhyun sampai ke sekolah.
"Tapi, Tuan..."
Baekhyun lebih dulu memotong ucapan namja itu. "Ya ya aku tahu kau tak mau! Lain kali akan kubiarkan saja kalau kau mau diperkosa preman yang baru kutonjok semalam!" Selalu seperti itu! Kyungsoo mendengus mendengar ucapan namja mungil di depannya. Bukan apa-apa, karena sering terlihat berdua kemana-mana, jadi kalau Baekhyun terlibat perkelahian, maka dengan sendirinya Kyungsoo pun akan ikut dicari oleh mereka. Dan soal ucapan namja itu, memang benar. Kemarin Baekhyun memang menonjok wajah preman yang sialnya mencoba memegang bokong Kyungsoo. Kyungsoo mendadak ngeri sendiri.
"Baiklah ak—Yaa! Pelan-pelan naiknya!" Kyungsoo berteriak kuat saat Baekhyun meloncat naik ke punggungnya. Astaga! Tulang Kyungsoo benar-benar akan patah kalau begini. "Tuan, nafsu makanmu tinggi sekali yah beberapa bulan ini?" ujar Kyungsoo seraya membenarkan letak Baekhyun di belakang sana.
"Maksudmu aku gemuk? Yaa! Jangan mengataiku!" teriak Baekhyun tak terima. Padahal Kyungsso sudah menyindirnya sehalus mungkin, tapi memang dasar Baekhyun saja yang peka.
"Aku tidak bilang seperti itu, Tuan!" balas Kyungsoo sambil mencoba berjalan.
"Lalu kau ingin bilang apa?" tanya Baekhyun sewot. Kyungsoo menghela napasnya kasar, susah memang bicara dengan Baekhyun.
Kedua namja itu masih asyik berjalan, dengan salah satu di punggungnya yang sedang tersenyum bahagia, Kyungsoo merasa tulangnya benar-benar remuk saat Baekhyun bergerak-gerak, namun semua itu terganti saat sang Tuan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Kyungsoo. Entahlah, Kyungsoo senang saja jika namja itu manja-manja padanya.
Tin Tin
Suara klakson terdengar di samping mereka, Kyungsoo menoleh ke arah namja yang sedang menatap bingung ke arahnya—atau ke arah namja lain yang ada di gendongannya?—sambil menghentikan mobilnya.
"Hei Kyung, sampai kapan kau mau diperbudak oleh dia? Berhentilah melakukan hal bodoh!" teriak namja tinggi itu menatap lelah ke arah Kyungsoo yang justru tersenyum.
Baekhyun yang mendengar suara familier itu seketika mendongakkan wajahnya, dan mata mereka sukses bertemu di satu titik, Baekhyun merasa jantungnya berdebar tak tentu ritme setiap melihat namja itu. Sedangkan si tersangka hanya menggedikan bahunya acuh, dia terlalu malas menanggapi namja manis itu.
"Hai tampan! Ouh apa kau mau mengajakku berangkat bersama?" Baekhyun meloncat turun dari gendongan Kyungsso membuat sang empunya berteriak kesakitan sekaligus senang karena akhirnya beban berkilo-kilo itu turun juga dari punggungnya yang mendadak keram.
Namja tinggi itu merotasikan matanya kemudian menatap tajam ke arah Baekhyun. "Lalu meninggalkan Kyungsoo di sini? Bermimpi saja kau!" balasnya sewot.
"Ouh kenapa kau kasar sekali, baru bicara kau sudah seperti itu, apalagi kalau di ranjang emm? Dan lagipula dia hanya pembantuku tidak apa-apa, sayang!" balas Baekhyun tersenyum genit.
Namja tinggi itu mendadak bergidik mendengar ucapan Baekhyun yang rada mengarah ke lain. Lagian siapa juga yang mau main di ranjang dengannya, lalu mendengar Baekhyun akan mendesah—Yaa! Pikiran bodoh macam apa itu! batin namja tinggi itu berteriak tak terima.
"Aku tak peduli! Sebaiknya berhenti menyusahkan orang lain, kau ada di sini saja sudah membuat aku susah!" kalimat telak itu membuat sang biang onar terdiam, Baekhyun agak merasa tersentil dengan ucapan namja itu. Kyungsoo yang merasa situasi mulai berubah langsung melayangkan tatapan tajam ke arah namja yang sedang ikut diam di mobilnya itu.
"Pergilah! Jangan menyakiti hatinya!" ujar Kyungsoo langsung mencoba mendorong mobil itu dengan sia-sia. Dia semakin melebarkan matanya saat sang empunya mobil cuma bengong, setelah getokan kuat di wajahnya, barulah namja tinggi itu buru-buru pergi dari sana.
Baekhyun masih diam dengan sorot mata yang sulit diartikan, beruntunglah Kyungsoo memahami apa arti tatapan itu, dia mengelus lembut leher Baekhyun.
"Dia selalu seperti itu, Kyung. Kau saja yang selalu kususahkan tak pernah memarahiku seperti tadi, tapi dia? Bahkan aku tak pernah sekalipun menyusahkannya! Apa aku memang sudah keterlaluan padamu?" tanya Baekhyun menatap sendu ke arah Kyungsoo yang justru menggeleng.
"Tidak, hei berhenti berpikiran yang macam-macam! Ayo naik lagi ke punggungku," ujar Kyungsoo menepuk punggungnya.
Namun Baekhyun menggeleng dan justru berjongkok di depan namja bermata bulat itu. "Tidak! Kali ini kau yang aku gendong, ayo naik!" seru Baekhyun kelewat semangat. Dan pagi itu, dihabiskan Baekhyun menggendong Kyungsoo sampai ke sekolahnya, sambil kedua namja itu sesekali terkikik geli saat Kyungsoo menceritakan lelucon kuno yang sudah bertahun-tahun selalu diceritakannya.
.
.
Namja jangkung tadi menyimpan asal mobilnya di pelataran parkir SMA Kyung Internasional. Beberapa Yeoja yang memang berada di sana, baik Hoobae maupun yang seangkatan dengannya tak tahan melihat bagaimana aura kuat yang terpancar dari si tampan itu, mulai menggila seperti biasanya. Sedangkan si objek pandangan hanya menggedikan bahu acuh. Tipe Sunbae yang tak ingin pamer, padahal dalam hatinya bangga setengah mati.
Namja itu menyender di salah satu sisi mobilnya. "Apa aku terlalu kasar padanya tadi?" pikirnya sambil melirik ke arah gerbang sekolah yang dipenuhi siswa siswi berlalu lalang. Sedangkan orang yang dimaksudnya bahkan tak kelihatan batang hidungnya.
"Ouh, lihatlah siapa yang sedang menungguku?" Suara itu menyentakkan si namja tadi dari lamunannya. Dua orang lelaki manis tiba-tiba muncul di hadapannya, tentu saja dengan Kyungsoo yang sudah turun dari gendongan Baekhyun.
"Siapa juga yang menunggumu, aku sedang menunggu Sehun, kok!" Selalu seperti itu (2) Baekhyun berdecak sebal dalam hatinya Ck! Kapan kau berhenti melalukan hal ini sih?
"Oh benarkah itu? Tapi wajahmu tidak bilang seperti itu, Tuan Park!" seru Baekhyun seduktif, seraya memamerkan eye smile andalannya, membuat namja di depan sana bersusah payah menahan dirinya agar tidak membanting Baekhyun ke ranjang saat ini juga.
"Yaa! Berhentilah menjadi orang bodoh, Baek! Kau tak lelah seperti ini? Ini bahkan sudah 6 tahun!" Chanyeol menggeram di tempat.
Park Chanyeol. Tampan. Tinggi. Punya Senyum Menawan. Kaya. Empat hal itu yang paling melekat di dirinya. Tapi sayang hidupnya tak seindah drama korea. Orang tuanya meninggalkan dia seorang diri, sehingga harus bertahan hidup hanya dengan bantuan saudara yang sesekali mengunjunginya. Dia hanya satu dari segelintir remaja yang haus kasih sayang orang tua, karena itulah sifat dan tingkahnya berubah seiring dengan berjalan waktu.
Orang nomor 1 yang jadi incaran Baekhyun, bahkan semenjak mereka sama-sama tercantum sebagai salah satu siswa Junior High School. Dulu, keduanya sangat dekat sekali, bahkan tak jarang ada yang mengatakan kalau mereka punya hubungan. Dimana ada Baekhyun, di situ akan ada Chanyeol, begitu pula sebaliknya. Namun, sejak peristiwa beberapa tahun lalu, persepsi orang tentang mereka yang punya hubungan langsung terpatahkan begitu saja. Sejak itu tidak ada lagi yang namanya Baekhyun milik Chanyeol.
Tidak lagi saling bicara, bahkan ketika mereka berpapasan aura gelap seketika mendominasi. Baekhyun yang memang dasarnya tidak tahan diam-diaman, langsung mencoba mengembalikan Chanyeol seperti semula lagi, tapi nihil, bahkan Chanyeol tak menanggapi semua usahanya. Namun bukannya menyerah, Baekhyun makin gencar menggoda dan akhirnya hal itu menjadi kebiasaan menyenangkan ketika melihat namja itu kesal setengah mati padanya. Setidaknya, Chanyeol tidak diam seperti dulu lagi.
Baekhyun cinta dengan Chanyeol. Tapi, tidak dengan Chanyeol. Bahkan namja tinggi itu sering memaki dan memarahi Baekhyun, bukan, salah kalau kalian pikir Chanyeol tidak menyukainya, hanya saja ada satu kebiasaan yang membuat Chanyeol selalu naik darah jika bertemu namja itu di jalan.
Saat pertama masuk SMA, Lee Taeyong, Sunbae mereka masuk rumah sakit karena lehernya dipelintir kuat Baekhyun. Untung saja tidak patah. Walaupun saat itu Baekhyun hanya berusaha menolong yeoja yang hendak dipalak oleh si Senior. Tapi tetap saja, itu merupakan hal kriminal, sehingga anak itu di skors sampai seminggu.
Beberapa bulan lalu, Kim Taehyung, Adik kelasnya yang nyaris saja menabrakkan diri di kereta karena sudah lelah tiap hari dibully Baekhyun, hanya karena dia tidak sengaja mengintip Baekhyun yang sedang ganti baju di dalam toilet. Sial sekali saat itu Taehyung benar-benar kebelet B.A.B, namun nafsunya mendadak hilang saat melihat tubuh mulus Baekhyun di dalam sana. Sejak itu dia selalu jadi incaran bully dari si Byun.
Seminggu yang lalu, teman seangkatan mereka, Jung Daehyun, benar-benar pindah sekolah karena terlalu takut dengan aura hitam Baekhyun. Dan lagi, dia juga tak sengaja salah memberikan contekannya, sehingga satu-satunya anak yang tak lulus ujian harian itu hanya Baekhyun. Karena tak terima, Baekhyun menambahkan namja malang itu ke dalam buku daftar nama yang wajib dia Bully. Dan, benar saja setiap hari dia selalu mengerjai namja itu. Daehyun malang. Beruntunglah dia sudah pindah sekarang.
Tidak hanya itu, banyak hal lain yang Baekhyun lakukan sampai membuat sang pujaan hati serta orang yang dibully lelah dan berencana mengakhiri hidup seperti Taehyung. Kalau diceritakan lebih banyak, maka cerita ini tak akan pernah berakhir. Itulah mengapa sampai sekarang, Chanyeol tidak menyukai sifat namja manis itu. Tingkahnya sangat tidak cocok dengan wajah manisnya. Ah Sial!
"Aku? Lelah? Tidak akan sayang " balas Baekhyun seraya tersenyum manis. Tuhkan, Chanyeol tidak salah menilai kalau Baekhyun ini memang manis, tapi tidak dengan sikapnya yang suka keterlaluan. Satu-satunya orang yang tahan dekat dengannya hanyalah Kyungsoo, emm kurasa bukan hanya Kyungsoo.
"Baekkie! Yaa! Kau telat lagi, eoh!" teriak seorang namja cantik sambil melototkan matanya, sedang si tersangka utama hanya menatap malas ke arah namja yang sedang berjalan menuju ke arah mereka.
"Aish kau menganggu acara menggoda kekasihku tau," Baekhyun memgerucutkan bibir tipisnya sambil menatap ke arah Chanyeol.
Chanyeol mendelik tak suka. "Bermimpi yang tinggi sana!" Chanyeol langsung pergi meninggalkan ketiga orang itu. Bisa gila dia lama-lama terjebak dengan mereka.
Baekhyun menatap kepergian Chanyeol dengan tersenyum, lalu dia melirik ke arah dua namja yang sama pendeknya dengan dia.
"Berhenti memasang wajah seolah kau baik-baik saja!" balas namja cantik itu.
"Luhan benar, Baek!" tambah Kyungsoo memandang prihatin ke arah Baekhyun yang masih tersenyum ke arah mereka.
Xi Luhan. Namja cantik. Pintar. Baekhyun sangat senang memanggilnya Lulu atau rusa cina, baginya Luhan adalah tipe sahabat sekaligus Eomma kedua untuknya. Seperti dengan Kyungsoo. Mereka juga kenal sudah sangat lama, bedanya Luhan ini temannya dari sejak dalam perut, karena orang tua mereka berteman baik, jadilah sampai sekarang Luhan mendedikasikan dirinya untuk menjaga Baekhyun kapan dan dimanapun namja manis itu membutuhkan dirinya.
Luhan sangat paham dengan namja manis itu. Alasan dia menjadi seperti ini, dan segala seluk-beluk tentang Baekhyun pun sudah dia hafal di luar kepala. Siapa orang yang disukainya? Makanan favoritnya? Bahkan ukuran Celana Dalamnya, sudah Luhan ketahui. Oke kalimat terakhir memang terlalu Vulgar, tapi semanis-manisnya mulut Baekhyun, ucapan Luhan akan lebih manis mengatakan sesuatu tanpa bersusah payah untuk difilter terlebih dahulu. Tapi meski begitu, Baekhyun sangat menyayanginya, dia tak akan membiarkan siapapun menyakiti kedua orang yang disayanginya. Do Kyungsoo. Xi Luhan.
"Aish, berhenti mengkhawatirkanku, Lu!" balas Baekhyun.
Luhan menatap tajam namja itu. "Aku akan memukul kepala si tiang itu kalau kau masih mencoba menggodanya," ancam Luhan.
"Jangan berani-berani memukulnya, Lu! Sampai kapanpun aku tidak akan berhenti, kecuali kalau aku sudah lelah dengan semua ini. Jadi jangan lagi berharap agar aku berhenti, karena kau tahu jawabannya hanya satu. Tidak Akan Pernah!" seru Baekhyun tertawa di sana sambil masuk ke dalam sekolah yang sudah sepi, karena bel masuk berbunyi.
Luhan menatap tajam namja mungil yang sedang berjalan angkuh di depan sana. Lalu pandangannya dialihkan ke arah Kyungsoo yang sama-sama menatap dengan ekspresi datar. "Kyung, lain kali kita harus bekerja sama untuk memukul si tiang sialan itu!" ujar Luhan dengan semangat yang menggebu-gebu.
Kyungsoo mengangguk semangat. "Kau benar, aku juga capek melihat Tuanku seperti itu terus!"
"Ah ya, Kyung, kudengar ada anak baru di kelas kita!" seru Luhan langsung menarik lengan namja bermata doe di sampingnya.
"Benarkah itu? Aku jadi penasaran, seperti apa orangnya!"
.
.
"Annyeong. Namaku Kim Jongin. Kalian bisa memanggilku Kai. Terima kasih!"
Para siswa dan siswi yang ada di kelas 12-A mendadak terdiam saat namja tinggi berkulit tan memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah ke arah mereka. Dan dengan semangat, mereka membalas dengan senyum manis. Tidak semuanya. 5 orang di belakang sana hanya diam tak menggubris sama sekali apa yang sedang terjadi di depan sana. Bukan tanpa alasan, kelima orang itu sudah tahu, ah maksudku hanya 4, karena Kyungsoo sama sekali tidak mengenal siapapun namja di depan sana, yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.
Kai melirik siapa saja yang mengisi bangku-bangku keramat di belakang sini. Dua bangku paling kiri dekat jendela, dia mengenal kedua orang ini, bahkan dari SMP karena mereka memang dulunya seangkatan. Luhan dan Baekhyun yang hanya menatap malas ke arah namja tinggi itu. Bergeser ke sebelah kanan sana. Isinya sama juga, teman seangkatannya ketika SMP, namun Kai memang tidak akrab dengan mereka karena tidak sekelas. Chanyeol dan Sehun. Lalu yang terakhir, bangku tengah yang hanya diisi seorang namja imut yang memakai kacamata.
"Aku Kai, siapa namamu," sapa Kai saat melihat namja imut di sampingnya yang menatap bingung ke arah dirinya.
Kyungsoo tersenyum paksa. "Do Kyungsoo, salam kenal Kai-ssi!" balasnya seramah mungkin, maklum Kyungsoo agak alergi dengan yang namanya teman baru lagipula dia hanya tak ingin terlalu akrab, takutnya Kai akan berakhir seperti Daehyun dan korban lainnya. Kalian tahu sendiri kan apa alasannya.
"Kyung, jangan berbicara pada orang asing! Kau tahu, sembilan-puluh-lima-persen, orang asing itu jahat!" celetuk Baekhyun tiba-tiba dari bangkunya, membuat Kai maupun Kyungsoo terpaksa menoleh. Padahal di depan sana, Lee Ssaem sudah memulai pelajarannya, namun karena tak ingin mendapat bogeman mentah dari si Iblis kecil, Kyungsoo terpaksa meladeni ucapannya.
"Baik, Tuan. Lagipula dia sepertinya tidak jahat," balas Kyungsoo sepelan mungkin, namun tetap saja Kai bisa mendengar percakapan mereka berdua.
"Kau mana tahu, kau kan tidak satu sekolah dengannya. Dan kau, Kai, jangan pernah bicara dengan Kyungsoo lagi!" seru Baekhyun menatap tajam namja di samping Kyungsoo itu.
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin berteman dengannya," Kyungsoo mendelik tak suka saat Kai menjawab pertanyaan Tuannya itu. Matilah Kau Kai! Batin Kyungsoo berteriak.
"Kalau kubilang jangan yah jangan! Kau tidak punya telinga!" Suara Baekhyun mulai tak santai. Kai terdiam melihat aura mengerikan yang keluar dari tubuh Baekhyun.
"Baek, cukup! Kau menakutinya!" Chanyeol bersuara saat melihat namja mungil itu menahan diri untuk tak bertindak sekarang juga. Membangkang perintah Baekhyun, sama saja bunuh diri perlahan. Kau tidak akan permah tahu apa yang ada di dalam kepala anak itu, bisa saja kau akan berakhir seperti Taeyeong, Taehyung atau si Daehyun.
"Kau jangan ikut campur urusanku!" balas Baekhyun mendelik tak suka, sedang Chanyeol mendadak ikut diam karena terlalu takut kalau Baekhyun tiba-tiba mengamuk di sini. Kan tidak lucu kalau Kai langsung mau pindah sekolah, padahal belum satu jam dia mendudukan pantatnya di bangku.
"Tuan Byun, kalau anda masih berisik, maka silakan keluar dari kelasku!" Lee Ssaem akhirnya angkat bicara saat melihat situasi tak mengenakan di belakang sana.
Baekhyun melirik ke arah Seonsaengnimnya yang menatap datar dirinya, kemudian dengan senyum bahagia dia berdiri dari bangkunya lalu berjalan santai menuju ke depan sana.
"Dengan senang hati, Ssaem!" serunya kelewat tenang, membuat Lee Ssaem mengutuk ucapannya sendiri. Dia sudah kenal Baekhyun 3 tahun, tidak seharusnya kalimat 'silakan keluar' itu dia ucapkan. Harusnya dia menghukum yang lebih spesifik, seperti menghapal rumus newton, atau menuliskan proses fotosintesis di tempat gelap, dan hukuman yang setidaknya lebih berbobot di bandingkan keluar kelas. Ah, dia lupa kalau yang dihadapannya ini si biang onar kelas kakap.
Sebelum Baekhyun benar-benar keluar dari sana, matanya diarahkan ke bangku tengah di belakang sana. Dengan senyum misteriusnya dia menatap remeh ke arah Kai seakan sedang mengisyaratkan. Permainan baru dimulai, Kim Jongin!
.
.
"Lu, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu, aku sudah tak kuat menahan semuanya, aku tidak peduli setelah ini kau mau marah, memukul atau apa terserah padamu, yang jelas aku akan mengatakan semuanya padamu, kumohon Lu aku tak akan mengulang ucapanku sampai dua kali, jadi..." ucapan Sehun terpotong karena Luhan sudah mendahulinya terlebih dahulu.
"Apa segitu susahnya untuk bilang, Xi Luhan, aku Oh Sehun mencintaimu, jadi maukah kau jadi pacarku!" ujar Luhan datar.
Mata Sehun membola mendengar ucapan Luhan barusan. "Bagaimana kau tahu?" tanyanya bingung. Luhan tak menjawab, dia mengarahkan telunjuknya ke arah balik pintu dimana terdengar suara berisik-berisik yang sedari tadi mengganggu indera pendengaran Luhan. Sehun mengintip pelan-pelan, kemudian matanya semakin melotot saat melihat siapa orang yang sedang bersembunyi di sana.
"Psst! Tuan, badanmu menghalangi kamera,"
"Kau saja yang terlalu pendek, Kyung"
"Aish Tuan, kenapa kameramu tidak bisa merekam!
"Yaa! Hidupkan dulu bodoh, aish bisakah kau tidak berisik nanti kita ketahuan!"
"Yaa! Wahai setan penghuni kelas, keluarlah dari persembunyian kalian!" teriak Luhan saat mendengar suara bersahut-sahutan itu.
BRAK!
Bersamaan dengan itu, dua orang namja pendek mendadak terjatuh saling menimpa, dengan Kyungsoo yang berada di atas tubuh Baekhyun. Kyungsoo buru-buru bangun saat sang Tuan berteriak kesakitan karena punggungnya akan remuk karena tertimpa badan Kyungsoo yang sialnya sama-sama bongsor dengannya.
"Sudah kuduga kalau kau pasti akan membocorkan rencana sakralku ini, Baek!" Sehun menghela napas lelah lalu kembali berdiri di sebelah Luhan yang ikut menatap tajam ke arah Baekhyun. Karena keduanya paham, Kyungsoo hanyalah korban. Sekali lagi, Kyungsoo hanya korban seorang Byun Baekhyun.
Oh Sehun. Tinggi. Tampan. Kaya. Walau ekspresi datarnya tidak ada yang bisa menyaingi, tetap saja dia akan jadi primadona sekolah dengan wajah tampannya itu. Teman sejati Chanyeol. Calon pacar Luhan. Dan sahabat baik bagi Baekhyun, walau kedengarannya agak aneh memang melihat betapa akrabnya Sehun dan Baekhyun yang sudah seperti saudara kandung.
Sehun mengenali Baekhyun saat dia terlibat tawuran beberapa tahun lalu di Sekolahnya, Baekhyun yang memang jago berkelahi membuat Sehun terperangah kagum, alhasil dia nyaris dihantam balok kayu, kalau saja Baekhyun tak menendangnya. Sehun nyaris marah dan tak terima, namun tak jadi saat melihat Baekhyun yang justru berdarah-darah di depannya sambil terus menghantam orang-orang di depan sana dengan beringas.
Sehun yang merasa bersalah langsung menarik paksa namja mungil itu ke rumahnya, lalu menelepon Luhan dan mengatakan kalau anaknya yang nakal itu sedang berdarah-darah. Tahu saja, Luhan malah memarahi Sehun habis-habisan, sedang Baekhyun hanya diam saja melihat mereka berdua yang seperti suami istri. Dan sialnya karena kelelahan, Baekhyun mendadak pingsan dan semakin membuat Luhan naik darah.
Sejak saat itu, Sehun selalu mengawasi Baekhyun, walau tidak secara terang-terangan, karena dia kenal betul dengan namja mungil itu, Baekhyun bukanlah tipe orang yang mau-mau saja dilindungi dengan cuma-cuma, apalagi dengan alasan kalau berhutang nyawa dan sebagainya. Dia memang nakal! Tapi percayalah, dia tak akan marah pada seseorang kalau tidak ada yang memulai.
"Aku kan mau mengabadikan semuanya, jadi kalian tak akan main rahasia-rahasiaan denganku, benar kan Kyung?" Baekhyun menyenggol lengan Kyungsoo, sedang namja itu hanya mengangguk mengiyakan.
"Bodoh Baek Bodoh! Kau menggagalkan semuanya, bahkan rencanaku sekarang jadi tidak spesial lagi," Sehun menghela napas lelah.
Baekhyun dan Kyungsoo terkikik geli. Baekhyun sudah tahu kalau Sehun memang punya perasaan lebih terhadap Eomma keduanya itu. Tak jarang, Baekhyun suka sekali menggoda mereka, walau kenyataannya hanya Sehun yang merasa tersindir, sedang Luhan, dia sih Biasa Saja. Makanya dia tidak heran waktu Baekhyun membocorkan rahasia Sehun kepadanya, kalau namja tinggi itu akan menembaknya dalam waktu dekat.
Luhan memutar bola matanya kesal, bergantian menatap Kyungsoo dan Baekhyun yang masih terkekeh kuat di sana, serta ke arah Sehun yang masih menunduk lesu di sampingnya. Jujur saja, sebenarnya Luhan juga menyukai namja itu, tapi sebisa mungkin dia bersikap seolah tak melihat keberadaannya, bukan tanpa alasan, dia hanya tak ingin menyakiti hati Sehun. Walau kenyataannya, Sehun selalu tersakiti ketika Luhan selalu tak menghiraukannya. Poor Sehun.
"Jadi Sehun-ah, bisa kau ulangi perkataanku tadi?" seru Luhan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Baekhyun dan Kyungsoo langsung diam mencoba fokus mendengarkan. Sedang Sehun, namja itu mendongakkan wajahnya bingung.
"Ucapan yang mana, Lu?" balasnya.
Luhan mendengus sebal mendapat jawaban seperti itu. Dia pikir Sehun ini tidak hanya bodoh matematika, tapi masalah sepele seperti saja dia tak bisa menyelesaikannya. "Yang mana saja, kenapa kau jadi bodoh sekali ketika berhadapan denganku?" tanya Luhan to the point. Sudah kukatakan, mulut Luhan itu Manis sekali.
Sehun menggaruk tengkuknya gatal. Kemudian menyengir ke arah Luhan yang semakin mengerucutkan bibirnya. "Yah, aku gugup tentu saja,"
Kini giliran Baekhyun dan Kyungsoo yang merotasikan matanya sambil melirik Sehun di sana. Baekhyun langsung melempar dasinya ke wajah Oh Sehun di depan sana, membuat yang lebih tinggi mendelik tak suka. "Tembak dia Oh Sehun! Kau ini pintar sekali sih!" Sindir Baekhyun. Luhan terkikik, kemudian melayangkan dua jempolnya ke arah Baekhyun, yang dibalas senyum kemenangan dari si empunya.
"Lu jadi pacarku!" seru Sehun sambil melirik namja cantik di sampingnya.
Baekhyun mencibir. "Kau mau mengajaknya pacaran, apa tawuran? Tidak romantis sekali!"
"Yaa! Baekhyun, bisa kau diam hah! Aish, itu kata-kata yang paling romantis yang aku ucapkan tau, tidak semua orang bisa mend..."
Chup
Luhan mengecup singkat bibir Sehun, membuat mereka bertiga shock. Sehun merasa kakinya melemas, Baekhyun tersenyum nakal, sedang Kyungsoo berusaha menutup mata Baekhyun agar tak melihat kejadian barusan.
"Diamlah Sehun. Kau seperti tidak mengenal anakku saja," ujar Luhan menjauhkan wajahnya.
Sehun tersenyum manis untuk yang pertama kalinya, kemudian memeluk Luhan erat. Baekhyun yang melihat keromantisan di depan sana, langsung ikut memeluk keduanya, lalu terjadilah aksi peluk-memeluk di dalam kelas itu. Baekhyun yang pertama kali melepas pelukannya, lalu menatap berbinar ke arah Luhan.
"Melihat kalian berdua, aku jadi merindukan Chanyeol! Lu jangan marah ne, aku akan menggodanya lagi!" seru Baekhyun sambil menatap wajah Luhan yang menampakkan amarah tertahan.
"Jangan mulai lagi, Baek!"
.
.
"Baek, pulang denganku kan hari ini?" tanya Luhan seraya memeluk namja manis itu sambil berjalan. Mereka berdua terlihat seperti kembar saja kalau sudah seperti itu.
"Aku pulang dengan Kyungsoo, lu!" balas Baekhyun. Kyungsoo yang ada di sampingnya hanya mengangguk mengiyakan.
"Maksudku kalian berdua, aku bawa mobil hari ini!" seru Luhan semangat.
"Tapi enakan jalan kaki, karena Kyungsoo bisa menggendongku, Lu. Kalau dengan kau, aku bisa kualat karena durhaka pada Eomma ku sendiri!" Baekhyun terkikik mendengar ucapannya sendiri. Kyungsoo mengutuk Baekhyun dalam hati, kenapa sih namja manis itu sangat hobi mengerjainya.
"Itu sih maunya kau, Tuan!" balas Kyungsoo merenggut sebal. Baekhyun dan Luhan tertawa senang di atas penderitaan Kyungsoo.
"Aku hanya becanda, Kyungie—Ouh lihatlah siapa yang baru saja lewat di depanku!" seru Baekhyun saat melihat seorang namja tinggi lewat di depannya. Merasa dipanggil, namja itu berhenti dan menoleh ke arah tiga orang itu.
"Kau bicara denganku, Baek?" tanyanya bingung.
"Lu, apa kau baru saja mendengar sesuatu? Kurasa ada yang bicara, tapi kenapa aku tak melihatnya ya?" tanya Baekhyun. Luhan hanya menggedikan bahunya acuh.
Namja itu mendengus. "Aku ada di sini, Baekhyun!" serunya lagi.
Baekhyun menatap tak suka. "Jangan sok akrab denganku, sialan!" Baekhyun mendorong tubuh Kai sampai menabrak kuat dinding di belakang sana. Dengan tatapan tajamnya dia menunjuk wajah Kai sambil menahan amarah yang memuncak.
"Lepaskan aku, Baek!" teriak Kai mencoba melepaskan diri, namun Baekhyun kembali memojokkanya, dia langsung menarik paksa tas namja itu dan melemparnya, kemudian dengan sigap Luhan memeluk erat tas itu.
Baekhyun melepaskan tubuh Kai dan mendorongnya sampai jatuh, lalu dia berbalik dan mengambil barang yang ada pada Luhan. Dia melirik ke arah Kai yang kini sudah bangkit dari jatuhnya. Baekhyun membuka resleting tas itu, kemudian memamer-mamerkan isinya kepada Luhan dan Kyungsoo. Luhan menaikturunkan alisnya, sedang Kyungsoo, dia hanya diam saja.
"Apa ini buku Tugas Rumah tadi, Lu? Sepertinya dia sudah selesai, bagaimana kalau aku koyak kertas sialan ini?" tanya Baekhyun melemparkan isi tas Kai sampai berserakan di lantai koridor, sementara tangannya yang satu langsung mengangkat tinggi-tinggi buku tulis itu di depan wajah Kai.
Kai menelan ludahnya gugup, dia menatap memelas ke arah Baekhyun. "Kumohon jangan menyobeknya, Baek. Pukul saja aku kalau kau mau!" ujarnya memohon dengan sangat.
Baekhyun tersenyum miring. "Cih, aku bahkan tak sudi sekedar melihat wajahmu! Tanganku akan ikut kotor kalau memukulmu!" ujar Baekhyun, membuat Kai kembali menelan ludahnya susah payah.
Dua orang lainnya di belakang sana masih asyik memandang kegiatan di depan sana, selalu begitu, akan jadi acara hiburan tersendiri, saat melihat bagaimana beringasnya seorang Byun Baekhyun, kalau sudah bertemu dengan mangsanya. Tak peduli itu Sunbaenya sendiri, anak guru, bahkan anak kepala sekolah sekalipun dia tak akan pernah kenal takut.
Chanyeol hendak menyudahi acara mari-membully yang dilakukan Baekhyun, namun tangan Sehun lebih dulu menahan namja itu. "Apa?" tanya Chanyeol menatap wajah datar Sehun.
"Jangan!" ujar Sehun.
"Jangan apanya?" tanya Chanyeol bingung.
"Jangan kesana!" balas Sehun.
Chanyeol berdecak sebal. "Bukan urusanmu, lebih baik kau bawa pulang rusa cinamu itu!" balas Chanyeol melepaskan diri.
"Aku tau kau dendam padanya, tapi tolonglah, jangan seperti ini! Sampai kapan kau akan berpura-pura seperti itu? Sampai dia tau semuanya?" ujar Sehun mengingatkan.
Chanyeol diam saja, namun dia menggeleng kuat. "Kau selalu mengingatkanku saat kejadian itu, ah sial! Memikirkannya malah membuatku sedih!" ujar Chanyeol frustrasi, namun dia tak membalas ucapan Sehun saat namja jangkung itu meneriakinya dengan kata 'Jangan' lagi.
Baekhyun hampir melancarkan aksinya, kalau saja buku yang ada di tangannya tidak berpindah saat seorang namja tinggi tiba-tiba muncul di antara mereka berempat. Baekhyun menatap tajam ke arah Chanyeol, walaupun dia menyukai namja itu, tapi tetap saja dia tak akan membiarkan siapapun yang berani menghalangi pekerjaannya.
"Cukup, Baek!" ucap Chanyeol seraya mengembalikan buku itu kepada Kai yang sedang diam menatap interaksi keduanya.
Kai merasa dejavu dengan kejadian ini, bedanya waktu dulu, bukan Chanyeol yang menyelamatkannya, tapi justru Baekhyun yang menggagalkan amukan Chanyeol padanya. Kai tersadar dari lamunannya saat Chanyeol melambaikan tangan di depan wajah namja jangkung itu.
"Kau diam Chanyeol! Aku tak peduli, sekalipun itu kau, aku tak akan membiarkanmu menggagalkan rencanaku!" teriak Baekhyun kalap dan langsung hendak menonjok wajah Kai di depan sana, untunglah Chanyeol langsung memeluk Kai, sebagai gantinya tubuh namja itulah yang jadi bahan amukan Baekhyun.
Kai terdiam. Kenapa namja ini tiba-tiba baik padaku, padahal dulu, justru dialah yang hendak memukulku? batin Kai bergejolak.
"Kubilang menyingkir dari tubuhnya sialan!" teriak Baekhyun terus memukul tubuh Chanyeol membabi buta. Luhan yang merasa hawa tak enak di situ segera turun tangan, dan menarik paksa Baekhyun agar menghentikan aksi brutalnya itu. Bisa mati Chanyeol kalau dipukul seperti itu. Kyungsoo langsung memeluk erat tubuh Baekhyun, mencoba menenangkan Tuannya yang masih tersulut emosi.
"Uljima, Baekhyunee!" bisik Kyungsoo pelan. Perlahan, Baekhyun mulai jinak dalam dekapan namja imut itu.
Chanyeol melepaskan pelukannya, kemudian menatap tajam ke arah yang lebih pendek. "Kau sudah kelewatan, Baek. Mau berapa siswa lagi yang habis di tanganmu hah!" teriak Chanyeol kalap.
Baekhyun tak marah tidak juga takut. Sungguh. Tapi dia justru sedih melihat bagaimana bisa Chanyeol memarahinya seperti ini. Selama dia kenal dengan namja itu, sekalipun Chanyeol tak pernah memarahinya. Tapi, kenapa saat ini dia tiba-tiba berubah seperti sekarang?
Baekhyun tersenyum miris ke arah Chanyeol dan Kai. "Kau berhasil merebut semua dariku, untuk yang kedua kalinya, Kai!" serunya langsung pergi dari sana. Kyungsoo langsung berlari mengejar Baekhyun yang sudah jauh di depan sana.
Luhan menatap tajam Chanyeol. "Kau akan mati ditanganku, kalau dia sampai kenapa-napa!" ujarnya ikut berlari menyusul dua namja di depan sana.
Chanyeol hanya diam tak menjawab, kemusian dia melirik ke arah Kai yang masih mematung di sampingnya. Chanyeol menepuk pelan bahu namja itu.
"Kau tidak apa-apa, Kai?"
Kai tersadar, kemudian mengangguk pelan. "Ah nde, aku baik-baik saja!" balas Kai sambil menatap sendu ke arah depan sana, sedang Chanyeol, namja itu menampilkan ekspresi yang sukar ditebak. Namun satu-satunya orang yang tahu, hanya namja jangkung berwajah datar di belakang sana, yang daritadi menyaksikan semuanya di belakang layar.
"Kau tak berubah, Chan!"
TBC
Chapter 1 RnR yehet!
_Baekhyunwife
