Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corporation. Tidak ada keuntungan material apapun yang saya dapat dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: AU (Universitas di Indonesia), bahasa tidak baku, typo(s).

Summary: Bulan Oktober berarti dua hal: menjelang akhir kepengurusan dan pemilihan umum mahasiswa. Oh, satu hal lagi. Drama.

dra(ke)ma oleh reycchi
ditulis untuk situasi politik kampus yang semakin tidak sehat


―rekrutmen terbuka

.

.

.

16 Oktober 2017

Pagi, Warga Kema!
Rekrutmen terbuka untuk Calon Ketua dan Wakil BEM Kema FADA dan Calon Anggota BPM Kema FADA sudah dibuka, loh! Yuk ambil formulirnya di Sekre BPM!

Pagi itu, ponsel Luka menerima sepenggal pesan yang dikirim melalui akun resmi BPM Kema FADA. Gadis itu sudah membaca isinya, tetapi tentu saja, ia tidak ada niatan untuk mendaftar. Hal pertama yang melintas di benaknya hanya ada satu: Piko mendaftar tidak, ya?

Piko adalah Ketua Himpunan Jurusan Data periode berjalan, ketua himpunannya Luka. Periode sebelumnya, Piko dan Luka sama-sama merupakan bagian dari BEM Kema FADA. Bedanya, Luka melanjutkan ke periode saat ini sementara Piko sibuk menjadi pejabat himpunan. Namun Luka tahu benar Piko masih peduli terhadap Kema FADA dan berambisi untuk memimpinnya suatu hari nanti.

Luka merasa cukup dengan mendukung Piko sebagai teman―tim sukses kalau perlu dan ditunjuk―untuk menjadi Ketua BEM Kema FADA. Gadis itu tidak berkeinginan untuk mendaftar, sama sekali tidak. Selain karena dia merasa dia bukan siapa-siapa dan tidak banyak yang mengenalnya, stereotip "ketua harus laki-laki" masih cukup kental di lingkup Kema FADA.

"Mam, aku berangkat!" seru Luka sambil meraih kunci mobilnya dari atas meja dan melesat begitu saja keluar dari rumah. Tidak apa-apa. Sudah biasa. Ibunya yang sedang asyik menyisir bulu kucing juga tidak akan repot-repot keluar hanya untuk melambaikan tangan kepada Luka. Menghabiskan waktu bersama kucing lebih menyenangkan untuk sang ibu ketimbang mengucapkan salam perpisahan kepada anak yang akan ditemui lagi nanti sore.

Setibanya di kampus tercinta Universitas Vokanesia, Luka mendapat kabar tidak mengenakkan.

"Piko masih di luar negeri, ikut konferensi se-Asia itu, pulangnya paling minggu depan," umbar Miki, pacar Piko.

Oh, oh, bukankah minggu depan adalah batas pengembalian formulir? Atau akan ada perpanjangan waktu? Atau tidak ada toleransi meskipun itu untuk seseorang yang mengharapkan jabatan di Kema FADA sekalipun?

"Tapi gak ada yang tahu juga Piko beneran mau nyalon atau nggak," lanjutnya dengan nada agak angkuh. "Aku juga gak tahu."

Loh? Jadi tahun ini Jurusan Data tidak akan mengirimkan calon ke BEM Kema FADA? Padahal Jurusan Data selama ini selalu mengirimkan calon, loh. Calon dari Jurusan Data ini hampir selalu menang bahkan. Kau Luka tidak salah ingat, sudah tiga periode berturut-turut calon dari Jurusan Data menjabat di BEM Kema FADA. Kalau tidak sebagai ketua, ya sebagai wakil ketua. Pokoknya, pasti menjabat.

Luka, mau bagaimana pun, akan tetap mendukung calon yang datang dari jurusannya. Gadis itu masih mengharapkan Piko mendaftarkan diri, sesungguhnya. Diam-diam gadis bersurai merah jambu itu berharap pendaftaran calon diperpanjang sehingga Piko bisa mendaftar.

Saat Luka pulang, gadis itu tidak melihat siapa yang berjalan memasuki Sekretariat BPM Kema FADA dengan sebuah map di tangan. Gadis itu tidak benar-benar peduli juga sih, memangnya apa yang salah dengan membawa map ke dalam sekretariat?

Luka tidak tahu bahwa apa yang tidak ia lihat rupanya adalah sesuatu yang akan menjadi bahan obrolan sana-sini di hari esok.

.

17 Oktober 2017

"Luka! Udah liat postingan baru di Nistagram, belum?"

Suara tadi adalah milik Rin, salah satu teman Luka yang dapat diajak bergosip ria mengenai segala macam hal, mulai dari masalah cowok, akademik, rekomendasi lagu dan film, grup-grup eksklusif kampus, sampai soal politik jurusan dan fakultas. Rin ini juga salah satu mahasiswi Jurusan Data yang kebetulan satu angkatan dengan Luka, hanya saja ia satu tahun lebih tua. Tidak perlu dijelaskan asal-usulnya bagaimana, cukup Rin dan orang-orang tertentu yang tahu mengenai hal itu.

"Belum," sahut Luka sambil mengangkat ponselnya, hendak mencari tahu. "Ada apa emang?"

"Coba liat akunnya si Yohio."

Menuruti saran Rin, cepat-cepat Luka membuka aplikasi yang dimaksud dan mencari akun Yohio. Yohio ini, dulunya, adalah Ketua Legislatif Himpunan Jurusan Data. Kasarnya, dia adalah saingan Piko dalam hal memerintah himpunan. Piko berlaku, Yohio mengawasi. Piko berbuat salah, Yohio mengurangi nilai. Piko berbuat benar, Yohio menambah nilai. Seperti itulah kurang lebih hubungan mereka. Tidak terdengar harmonis, namun percayalah, pertemanan mereka jauh lebih kuat ketimbang konflik eksekutif lawan legislatif.

Rupanya Yohio mengunggah foto formulir pendaftaran yang ditimpa tulisan "jadilah pemimpin yang baik" atau semacamnya. Kemungkinan besar, formulir yang diunggah Yohio itu adalah formulir―

"Rin." Luka menatap Rin horor. "Dia nyalon jadi ketua?"

―pendaftaran Calon Ketua BEM Kema FADA.

Rin mengangkat bahu. "Mungkin dia hopeless karena gak mungkin jadi ketua BPM, makanya nyalonin diri ke BEM."

"Mau dia hopeless kek, mau dia takut gak jadi ketua kek, peduli amat! Emangnya dia punya latar belakang eksekutif? Ngerti apa dia soal BEM? Emangnya dia punya 'massa'? Terus si Piko gimana entar?"

"Jelas nggak, sih," balas Rin setengah acuh. "Paling yang jadi masalah itu Piko ya, soalnya dia jelas ngambis buat ke fakultas."

"Iya." Luka mengerutkan dahi. "Tapi si Yohio juga ... kenapa tiba-tiba dia banting setir ke eksekutif? Udah dua tahun ini dia berkecimpung di legislatif kok, emangnya bakal ngerti?"

"Nah, itu yang aku gak ngerti. Tapi ada yang bilang kalo mau jadi ketua sih gak harus ada latar belakang eksekutif, asal punya massa aja."

"Hah. Malo gak ada latar belakang eksekutif mau ngerti dari mana? Learning by doing itu nggak selalu efektif untuk segala jenis kegiatan."

"Iya, sih."

"Aku emang bilang bakal ngedukung calon anak Data, tapi kalo dia yang nyalon ..." Luka menggeleng. "No, big no."

Rin mengangguk. "Aku juga gak mau milih kalo dia yang nyalon."

"Yah." Luka mengangkat bahu, setengah kesal setengah abai. "Kita liat aja nanti kali, ya? Siapa tau dia gak balikin formulirnya."

"Hum."

.

18 Oktober 2017

Berita "Yohio mencalonkan diri jadi Ketua BEM Kema FADA" menyebar cepat layaknya virus menggerogoti sel-sel tubuh manusia. Hanya dalam waktu satu hari, separuh mahasiswa Jurusan Data sudah mendengar kabar itu. Jadilah bisik-bisik yang memenuhi koridor gedung jurusan adalah, "Piko ke mana? Kok yang nyalon jadi ketua malah Yohio?"

Rupanya hampir semua orang memiliki pemikiran yang sama dengan Luka.

Luka ingin mencari klarifikasi atas informasi yang ia terima, entah itu berarti klarifikasi atas kesalahan informasi yang ia dapat atau justru kebenaran. Luka memang tidak berharap informasi yang beredar bak wabah penyakit mematikan itu benar, namun harapannya bukanlah sesuatu yang harus dijadikan prioritas untuk saat ini.

Maka Luka menemui Yohio.

"Yohio," panggil gadis bersurai merah jambu itu dengan nada tegas yang diam-diam menyimpan kekhawatiran.

"Kenapa, Luk?"

Tanpa basa-basi lebih dulu, Luka langsung bertanya, "Kamu nyalon jadi Ketua BEM?"

Bukannya menjawab, Yohio hanya menyunggingkan senyum tipis sebelum akhirnya berjalan menjauhi Luka. Kurang ajar, mana pemuda itu tidak mengucapkan selamat tinggal atau semacamnya pula!

Dan hari itu, Luka tidak berhasil mendapatkan jawaban yang ia harapkan. Sayang sekali.

.

19 Oktober 2017

Sedang dilangsungkan Forum Ganteng-Ganteng Anak Data alias forum khusus laki-laki angkatan Luka hari itu. Luka, tentu saja, tidak ikut hadir. Ia hanya menitipkan pesan kepada salah seorang di antara mereka untuk menyampaikan hasil forum tersebut. Bahasan utamanya, seperti yang Luka duga menjadi latar belakang diadakannya forum, adalah Calon Ketua BEM Kema FADA.

Sayangnya, Piko yang masih di luar negeri tidak dapat menghadiri forum itu. Padahal justru dialah yang menjadi bahasan utama. Dia dan Yohio.

Selain Forum Ganteng-Ganteng Anak Data, hari itu pula diadakan forum angkatan fakultas alias Forum FADA 2015 untuk para perwakilan jurusan. Isinya, tentu saja, adalah bahasan "siapa yang akan mencalonkan diri dan siapa yang akan menjadi tim suksesnya". Oh, sebelumnya, harus ditegaskan bahwa Luka dan teman-teman seangkatannya adalah Mahasiswa FADA Vokanesia Angkatan 2015. Kepengurusan 2018 alias kepengurusan tahun berikutnya adalah kepengurusan dimana angkatan merekalah yang menjabat sebagai petinggi-petingginya. Itu sebabnya hampir seluruh mahasiswa FADA 2015 tampak sibuk membahas siapa yang akan mencalonkan diri menjadi Ketua BEM Kema FADA.

Terkadang, pemikiran "daripada orang-orang sibuk nanya dan gak ada yang nyalon juga, mendingan aku yang maju" melintas di benak Luka. Jujur, gadis itu tidak merasa dirinya tidak pantas memimpin FADA―bahkan seorang senior pernah menyarankannya untuk mencalonkan diri. Luka rasa dirinya bisa saja mencalonkan diri, sebagai wakil tentu saja. Masih ingat stereotip "ketua harus laki-laki" itu?

Luka tidak mencalonkan diri bukan karena tanpa pertimbangan, tentu saja. Satu, dia merasa calon dari setiap jurusan seharusnya hanya ada satu sehingga suara himpunan tidak terpecah. Sekarang saja masalah Piko dan Yohio sampai harus dibuat forum, bagaimana nanti kalau tiba-tiba Luka ikut mencalonkan diri? Bisa-bisa harus forum angkatan tiga hari tiga malam.

Dua, Luka tidak punya teman laki-laki di luar jurusan yang benar-benar ia percaya dan sepemikiran dengannya dalam hal memimpin. Teman laki-laki sih banyak, tetapi yang tepat untuk diajak memimpin bersama? Rasanya Luka belum menemukan meski hanya satu.

Tiga, Luka tidak berambisi memimpin FADA. Okelah, mungkin dia ingin jadi petinggi FADA, tapi bukan pemimpin utama. Menurutnya, seorang pemimpin haruslah memiliki keinginan besar untuk memimpin, bukan hanya karena dia merasa dirinya mampu, tetapi juga karena dia ingin menciptakan perubahan menuju arah yang lebih baik bagi sesuatu yang ia pimpin. Luka tidak menemukan keinginan itu di dalam dirinya, jadi ia memilih untuk mundur teratur dan membiarkan para pemimpi berebut kursi. Luka cukup menjadi pemerhati yang baik dan benar dalam perjalanan menuju pemilihan ketua ini.

Akibat tiga hal itulah Luka mengharapkan adanya hasil yang baik dan memuaskan dari kedua forum hari ini. Luka tidak ikut andil di keduanya, tapi bukan berarti ia tidak peduli.

.

20 Oktober 2017

Forum Ganteng-Ganteng Anak Data berhasil memperjelas segala kesalahpahaman seluruh umat Data yang menyangka bahwa Yohio memanfaatkan Piko yang sedang berkelana ke luar negeri untuk mencalonkan diri sebagai Ketua BEM Kema FADA―setidaknya Luka pikir begitu. Rupanya, Yohio justru mengambil formulir itu untuk Piko. Yohio juga mengambil formulir, tetapi sebagai Calon Anggota BPM Kema FADA, bukan Ketua BEM.

"Entah kenapa aku bersyukur," ucap Luka pada Rin, Meiko, Miku, Lily, dan Aoki setelah kabar melegakan―bagi Luka―itu menyebar ke seluruh penggosip politik di Jurusan Data. Keenam orang itu adalah satu dari sekian banyak kelompok gosip politik di Jurusan Data.

"Seenggaknya bukan Yohio," sahut Rin diiringi anggukan kepala.

"Mau Yohio, mau Piko, aku tetap nggak mau milih," ujar Meiko tegas. "Aku bakalan milih kertas kosong, atau malah golput."

"Aku pasrah bakal milih yang dari jurusan kita aja," timpal Miku. "Tapi kalo Yohio ... aku juga mikir-mikir lagi."

"Aku biasanya memutuskan untuk nggak peduli sama politik Kema, langsung milih yang dari Jurusan Data aja." Lily tidak mau kalah ikut menyumbangkan suaranya. "Tapi kalo calonnya Yohio kayaknya mendingan nggak milih anak Data."

"Yohio ... nanti malah kayak waktu maba," gumam Aoki yang disambut oleh anggukan kelima orang lainnya. Mereka punya pengalaman pahit dengan Yohio di masa lalu, pengalaman yang mendorong mereka untuk tidak memilih Yohio mau seperti apa pun kondisinya.

Luka memasang senyum tipis. Kalau boleh jujur, Luka tidak mendukung Piko untuk menjadi Ketua Himpunan Jurusan Data dulu karena satu dan lain hal. Namun, jabatan selama satu tahun yang Piko emban dengan baik itu berhasil meyakinkan Luka untuk mendukungnya kali ini. Prinsip Luka satu, dia akan memilih calon dari Jurusan Data asalkan orang itu memiliki latar belakang eksekutif dan cinta Kema FADA. Sudah kok, itu saja.

"Berarti fix, calon dari Data itu Piko. Tinggal nunggu dia balik ngampus, nyari wakil, isi pendaftaran, jadi deh!"

Tidak ada yang tahu, termasuk Luka, bahwa masalah Piko dan Yohio tidak berhenti sampai "Yohio tidak mencalonkan diri sebagai Ketua BEM Kema FADA". Ada situasi yang jauh lebih gawat daripada itu.

Hanya saja, butuh waktu satu minggu untuk mengetahuinya.

.

.

.

TBC
―next: wakil formulir


A/N.

Belum drama, belum. /nak

Di sini masih warming up(?) dimulainya drama. Semua drama itu dimulai dari hal-hal kecil, 'kan? Kayak snapgram, misalkan, atau cuma omongan "dia nyalon, loh!".

Untuk chapter ini paling segitu dulu xD selanjutnya bakal lebih ngedrama (?).

Ditunggu komentarnya!