Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu di tengah malam itu membangunkan Hinata yang sedang tertidur. Ibu 2 anak itu pun membuka pintu depan. Dan ternyata Naruto baru pulang.
"Naruto-kun?"
"Selamat malam, Hinata." Naruto langsung masuk.
"Mau kubuatkan teh?" Tanya Hinata.
"Tidak usah, aku sudah terlalu lelah."
"Baik." Hinata lalu menutup dan mengunci pintu depan, kemudian ia masuk ke kamar dan melihat Naruto yang sudah tertidur pulas.
"Selamat malam, Naruto-kun." Ujar Hinata.
"Yosha!" Boruto berlari dengan cepat sambil memegang seekor kucing, meninggal kan, Konohamaru, Mitsuki dan Sarada yang berjalan santai.
"Si Boruto itu, dia sangat bersemangat, padahal kita baru saja menyelasaikan misi menangkap kucing yang hilang." Kata Mitsuki.
"Dia kan memang begitu, selalu bersikap bodoh." Ucap Sarada yang memancing tawa Konohamaru dan Mitsuki.
"Ini kucing mu." Ujar Boruto pada seorang gadis yang sepertinya seumuran dengan Konohamaru.
"Terima kasih, dimana anggota tim mu yang lain?" Tanya gadis itu.
"Mereka ada dibelakang." Boruto menunjuk ke arah belakang tanpa melihat ke belakang.
"Ada apa?" Tanya Konohamaru.
"Terima kasih karena telah menemukan kucing ku." Kata gadis itu, Konohamaru kemudian tersenyum, gadis itu lalu pergi.
"Hei, Konohamaru-sensei, kau suka ya padanya?" Boruto menggoda Konohamaru sambil menyenggol-nyenggol badan guru nya itu.
"Kau sendiri bagaimana? Kau suka kan sama Sarada?" Konohamaru malah balik menggoda, dan perkataan nya membuat pipi Sarada memerah.
"Aku tidak bersikap begitu."
"Tapi kau suka kan?"
"Hahaha, akui saja lah, Boruto." Ucap Mitsuki.
"Pergi saja lah kau, Mitsuki!"
"Ayo pergi, Konohamaru-sensei, kita biarkan mereka kencan." Mitsuki semakin menggoda Boruto.
"Aaaa!! Enyah lah kau Mitsuki!!"
Konohamaru dan Mitsuki kemudian pergi, meninggal kan Sarada yang sedang malu-malu kucing kepada Boruto.
"Ano, Boruto." Sarada mulai bicara.
"Ada apa?"
"Yang dibilang Konohamaru-sensei? Apakah kau benar-benar menyukaiku?" Tanya Sarada. Tapi Boruto tak kunjung menjawab.
"Boruto?" Sarada kembali memastikan. *piuw* /bunyi nya kira-kira begitu lah / Boruto menghilang di kepulan asap, dan ternyata Boruto yang tadi hanya lah sebuah Bunshin.
"Awas kau! Boruto!" Teriak Sarada.
Jauh dari Konoha, Sasuke berhenti di sebuah sungai, ia kemudian meminum air jernih dari sungai itu. Lalu melanjutkan perjalanan nya. Tak lama setelah meninggal kan sungai itu, ia menemukan sebuah perkampungan yang sangat sepi, hanya ada suara burung yang terdengar. Sasuke kemudian masuk ke dalam perkampungan itu.
Ia berjalan menyusuri dan membuka beberapa pintu rumah di kampung itu. Sasuke terkejut saat melihat tiga mayat disebuah rumah. Begitu juga dengan rumah yang lain nya, seluruh kampung itu diisi oleh orang-orang yang sudah meninggal. Mayat-mayat itu tidak memiliki luka, dan hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak dibunuh. Semua mayat tampak kurus kering hingga mereka terlihat seperti hanya kerangka yang dilapisi kulit, dan tidak ada daging sama sekali.
"Ada apa ini? Tidak ada luka di tubuh mereka, dan tidak tercium bau busuk." Ujar Sasuke
"Sepertinya mereka semua meninggal baru-baru ini." Sambung nya.
Di Konoha, Inojin pergi ke makam kakek nya. Hal ini sangat jarang terjadi, mengingat status Inojin sekarang adalah Genin dari Konoha.
"Aku membawakan bunga untuk mu, kakek." Kata Inojin.
"Maaf kakek, aku tidak bisa membawakan bunga Semanggi yang menjadi simbol klan kita, karena bunga itu sudah habis terjual. Aku janji, dilain waktu aku akan membawakan bunga Semanggi untuk mu."
"Hei Inojin, apa itu kau?!" Boruto kebetulan lewat di pemakaman itu.
"Boruto?"
Boruto kemudian masuk dan bertanya pada Inojin.
"Sedang apa kau disini?"
"Tidak ada, hanya ingin mengunjungi makam kakekku."
"Sudah selesai?"
"Sudah."
"Ayo kita pulang."
"Tunggu."
"Ada apa?"
"Boruto, apa kau tidak ingin mengunjungi makam kakek dan nenek mu? Kau sudah berada di pemakaman mereka, dan disini juga adamakam paman mu."
Boruto terdiam sesaat.
"Tidak perlu."
"Kenapa?"
"Aku tidak mengenal mereka, dan mereka tidak pernah tau aku ini siapa, karena mereka meninggal jauh sebelum aku lahir."
"Jadi itu alasan mu? Ayo lah Boruto, mereka itu keluarga mu."
"Himawari dan ibu sudah sering berkunjung ke makam paman Neji, mereka juga selalu membawakan bunga matahari untuk nya."
"Bagaimana dengan kakek dan juga nenek mu?"
"Alasan ku masih sama."
"Jika saja kau mengenal mereka, apakah kau akan mengunjungi makam mereka?"
"Itu tidak mungkin terjadi."
"Seandai nya saja kau bertemu dan berkenalan dengan mereka."
"Itu mustahil, Inojin."
"Tapi aku yakin akan hal itu."
"Sudah lah, aku masih memiliki urusan dengan Sarada, dia pasti sedang mencari ku sekarang, padahal sejujur nya aku tidak mau membahas hal itu lagi. Sampai jumpa, Inojin." Boruto pergi begitu saja, ia tidak mengajak Inojin untuk pergi bersama.
"Aku tau itu mustahil, tapi kenapa hanya karena dia tidak mengenal kakek dan nenek nya, dia sampai tidak mau mengunjungi makam mereka. Dasar Boruto." Ujar Inojin.
Boruto berbaring diatas rumput di tepi sungai kecil atau anak sungai yang dekat dengan jembatan dan agak curam. Iruka yang kebetulan lewat kemudian menghampiri Boruto.
"Hari yang melelahkan ya, Boruto." Kata Iruka.
"Ke-kepala sekolah?!" Boruto terkejut melihat Iruka yang sudah berada di samping nya.
"Tidak juga." Sambung Boruto.
"Ada apa? Kau terlihat tidak seperti biasa nya, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Iruka.
"Mengenai keluarga ayah ku."
"Kalau begitu, cerita kan padaku, apa yang kau pikirkan tentang keluarga ayah mu?"
"Aku berpikir, seandai nya saja aku bisa mengenal mereka."
"Begitu ya, aku bisa menceritakan tentang mereka padamu."
"Kau mengenal kakek dan nenek ku?"
"Aku tau siapa mereka, tapi kami tidak saling kenal. Meskipun begitu, aku bisa menceritakan tentang mereka padamu."
"Baiklah."
"Kau tau kan, kalau ayah mu itu adalah yatim piatu sejak usia nya baru beberapa jam?"
Boruto mengangguk.
"Kakek dan nenek mu meninggal karena Kyuubi yang berada dalam diri ayah mu, saat itu, Kyuubi dikendalikan oleh orang dari klan Uchiha, akibat dari serangan Kyuubi, aku juga menjadi yatim piatu."
"Jadi, kenapa ayah masih mau mendatangi makam orangtua nya meskipun dia tidak pernah mengenal mereka?"
"Maksudmu, karena kau tidak mengenal kakek dan nenek mu, kau jadi tidak perlu mendatangi makam mereka?"
"Ya."
"Kau ini aneh sekali."
"Tapi asal kau tau, Naruto itu pernah mengenal orangtua nya." Sambung Iruka.
"Tentu saja, saat ayah ku masih bayi."
"Saat ayah mu masih remaja, dia juga pernah bertemu dengan orangtua nya, bahkan mereka mengobrol lagi."
"Benarkah? Bagaimana caranya?"
"Aku tidak tau, karena Naruto bilang, pertemuan pertama nya dengan ayah juga ibu nya terjadi di dalam tubuh nya."
"Pasti akan sulit jika dijelaskan, benarkan?"
"Tidak juga jika Naruto yang menjelaskan nya padamu langsung, mungkin kau bisa menanyakan hal tersebut saat ayah mu itu sudah pensiun dari jabatan nya."
"Bagaimana dengan ayah ku? Dia sangat terlihat sibuk dan bodoh. Maksudku, aku tau dia harus menjaga kedamaian ini, tapi dia juga punya keluarga yang harus dilindungi nya."
"Semua orang di Konoha ini adalah keluarga bagi Naruto, jadi dia selalu melindungi keluarga nya."
"Kau tau? Naruto yang dulu jauh lebih nakal daripada kau."
"Aku tidak meminta kau untuk menjelaskan sifat ayah ku dimasa kecil nya."
"Oh kalau begitu kau bertanya pada orang yang salah, aku ini dulu gurunya Naruto yang bahkan hampir tidak sanggup untuk mengajari nya. Jika kau ingin tau tentang Naruto seperti yang ada dipikiran mu saat ini, kau harus nya bertanya pada Sasuke."
"Ayah nya Sarada?"
"Ya."
"Tapi paman Sasuke tidak pernah pulang ke Konoha."
"Pernah, mungkin sekali."
"Lalu, paman Sasuke itu orang nya bagaimana? Menurut beberapa orang, dia sangat kuat dan keren."
"Dia juga bersifat dingin."
"Benarkah?"
"Aku bahkan tidak pernah melihat nya tertawa, tapi Naruto bilang, Sasuke pernah tertawa kencang. Aku cuma pernah melihat nya bertingkah aneh saat hari menjelang pernikahan nya dengan Sakura."
"Aneh bagaimana?"
"Seperti bukan Sasuke yang sesungguh nya."
"Maksudmu?"
"Karena kau belum mengenal nya, maka kau tidak akan mengerti."
Sarada ternyata daritadi menguping percakapan antara Boruto dan Iruka. Ia kemudian pergi setelah mendengar perkataan Iruka barusan. Pada awal nya Sarada ingin bertanya ulang pada Boruto tentang perasaan Boruto pada nya, tapi ia mengurungkan niat nya tersebut dan lebih memilih pergi.
"Nah kalau begitu, aku pergi dulu ya, masih banyak urusan yang harus aku urus." Ujar Iruka.
"Ya, silakan."
"Paman Sasuke ya, aku jadi penasaran, seperti apa dia itu." Ucap Boruto.
"Aku pulang." Kata Sakura yang baru sampai rumah di pukul 18:00.
"Mama, boleh aku bertanya?" Tanya Sarada.
"Silakan saja." Sakura membuka sendal nya.
"Kepala sekolah Iruka bilang, papa sangat berbeda saat menjelang hari pernikahan papa dan mama."
"Iya, Iruka-sensei memang benar."
"Yang menjadi pertanyaan ku, perbedaan apa yang dialami papa?"
Pertanyaan Sarada itu membuat pipi Sakura merah merona, Sakura tersipu malu mengingat masa lalu yang indah dan sangat manis.
"Kau bisa menceritakan nya, mama?" Tanya Sarada.
"Terlalu panjang kalau aku menceritakan semuanya, tapi, ada satu momen yang tidak bisa kulupakan hingga sekarang, bahkan mungkin sampai aku mati nanti. Momen yang sangat manis dari Sasuke. Kau mau mendengar nya?" Tanya Sakura. Sarada hanya mengangguk.
"Waktu itu, delapan hari sebelum pernikahan kami, aku meminta nya untuk membelikan ku bunga Mawar, tapi dia malah membelikan ku bunga Sakura. Dia sangat tidak tau jenis-jenis bunga. Jadi aku marah. Papa mu memberikan alasan yang membuatku semakin mencintai nya. Dia bilang : 'aku memiliki alasan mengapa aku malah membeli bunga Sakura dan bukan bunga Mawar. Aku membeli bunga ini untuk diriku sendiri, dan aku akan membawa nya kemana pun aku pergi, agar ketika aku melihat bunga ini, aku mengingat wajah mu, jadi disaat aku merindukan mu, aku hanya perlu melihat bunga Sakura ini, Sakura' aku tidak menyangka kalau Sasuke akan mengatakan hal seperti itu, tapi, saat itu dia benar-benar berbeda." Ujar Sakura sambil mengingat momen manis itu.
"Apa papa benar-benar mengatakan hal tersebut?" Sarada terlihat tidak percaya.
"Aku tidak tau, mungkin ada seseorang yang mengajari nya. Tapi aku yakin, kata-kata itu, dia yang memikirkan nya sendiri, tidak ada yang mengajari nya."
"Kuharap ada yang lebih aneh."
"Memang ada, tapi cuma itu yang paling aku ingat. Nah, sekarang, ayo kita makan, aku sudah sangat lapar sehabis seharian berada di rumah sakit."
Sarada kemudian membungkuk.
"Ada apa?" Tanya Sakura.
"Aku lupa masak."
"Apa?! Padahal aku sudah sangat lapar." Sakura juga ikutan membungkuk.
'Shannaro.' Batin Sakura.
Syihan Siregar
Cerita ini juga saya publish di akun Wattpad saya : @syihan_asiregar
