[A Secret Splendor ― Sandra Brown]

DON'T LIKE! DON'T READ!

pichaa794 present

remake novel HunHan ver

A Secret Splendor

Chapter 2

.

.

Luhan menarik napas dalam-dalam, dan saat ia melakukan itu sebuah nama melintas di dalam pikirannya, Oh Sehun. Buruannya. Akhirnya ia bertemu dengannya, berbicara dengannya. Dan ia sudah mendengar laki-laki itu menyebut nama putranya. Minguk.

Dalam waktu sekejap ia sudah mengganti gaunnya dengan sebuah jas handuk. Ia melangkah keluar, duduk di salah satu kursi teras, menikmati kehangatan udara Hawaii. Ia menaikkan kakinya ke atas kursi, dengan dagu bertopang di atas lututnya ia menerawangi hamparan laut yang membentang di hadapannya.

Sehun mengira bahwa Xi adalah nama mantan suaminya. Yang tidak diketahuinya adalah bahwa ia telah melepaskan nama suaminya itu seperti seekor binatang yang meninggalkan kulit lamanya begitu ia selesai mengajukan surat permohonan cerainya. Ia tidak mau berurusan lagi dengan Hong Jonghyun, bahkan namanya yang sial itu.

Pas di saat ia mengira bahwa amarahnya pada akhirnya sudah mereda, perasaan itu justru muncul kembali, persis seperti sekarang ini. Bak selapis tirai kabut yang tidak bersuara, menyelubungi dirinya, mengaburkan pandangannya, dan membuat sesak napasnya.

Apakah ia tidak akan pernah dapat melupakan peristiwa yang menyakitkan hatinya di malam itu? Saat mantan suaminya untuk pertama kalinya menyinggung topik itu?

flasback on...

Luhan sedang berada di dapur rumah mereka di Beverly Hills, menyiapkan makan malam. Tidak seperti biasanya. Jonghyun langsung pulang ke rumah setelah jam kantor. Sorenya ia menelepon Luhan untuk mengatakan bahwa tidak akan ada yang melahirkan malam itu, dan bahwa ia sudah melaksanakan ronda kelilingnya lebih awal sehingga ia akan pulang pada waktunya untuk makan malam bersamanya.

Di dalam suatu perkawinan yang dalam waktu singkat ternyata sama sekali tidak sesuai dengan harapan Luhan, membuat makan malam bersama merupakan suatu hal yang langka. Kalau Jonghyun mau mencoba untuk memperbaikinya, Luhan akan melakukan kewajibannya dengan baik.

"Apa yang akan kita rayakan?" tanya Luhan begitu ia masuk dengan membawa sebuah botol anggur.

Jonghyun mengecup pipinya. "Apa saja," sahutnya

"Daging panggangnya akan matang sebentar lagi. Bagaimana kalau kau menengok Yuji sebentar? Ia ada di ruang keluarga sedang menonton Sesame Street."

"Ya Tuhan, Luhan. Aku baru saja sampai. Aku belum mau mendengar omongan soal Yuji. Sekarang ambilkan aku minum."

Tanpa protes, Luhan menurut, sebagaimana biasanya.

"Yuji kan anakmu," ujarnya saat mengulurkan Scotch padanya. "Ia begitu memujamu, tapi kalian begitu jarang melakukan sesuatu bersama."

"Ia tidak dapat melakukan hal-hal normal."

Luhan betul-betul tidak menyukai cara suaminya menenggak minumannya kemudian menyodorkan gelasnya ke arahnya untuk diisi lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Justru karena itulah kau harus..."

"Cukup! Semestinya aku tahu bahwa kalau aku pulang untuk membawa kabar bagus, kau akan merusak segala-galanya dengan rengekanmu. Aku mau ke ruang duduk. Panggil aku kalau makan malam sudah siap. Aku mau membicarakan sesuatu denganmu, jadi pastikan Yuji sudah makan dan setelah itu suruh tidur."

Kemudian Jonghyun meninggalkan ruangan. Luhan mengikuti dengan matanya dari belakang, sambil dalam hati menertawakan postur tubuhnya yang mulai tampak tidak karuan.

Namun Luhan toh berusaha untuk tampil simpatik dan menarik ketika makan malam bersama Jonghyun hari itu. Yuji sudah berada di tempat tidurnya setelah mendapat kecupan ala kadarnya dari ayahnya. Hidangan yang tersaji tampak nikmat sekali, karena di masa itu Luhan memang sedang senang masak-memasak.

"Oke,"

Ujar Luhan sambil tersenyum dari seberang meja ke arah suaminya, begitu Jonghyun selesai dengan potongan kedua pie apelnya,

"Kau akan ceritakan padaku sekarang apa yang sebetulnya sedang kita rayakan?"

"Akhir dari semua permasalahan yang ada," sahut Jonghyun tanpa merinci.

Akhir dari semua permasalahan, bagi Luhan, berarti melihat Yuji dalam keadaan sehat dan hidup normal seperti seorang bocah berusia tiga tahun pada umumnya. Tapi dengan simpatik ia bertanya,

"Masalah? Ada masalah di klinik?"

"Yeah, tapi..." Ia menghela napas.

"...Luhan, kau tahu bahwa belakangan ini aku perlu... santai, sedikit hiburan. Karena setiap dari hari ke hari yang kudengar adalah keluhan wanita-wanita yang sakit perut atau jeritan-jeritan mereka yang akan melahirkan."

Luhan mencoba untuk menahan dirinya. Ayahnya tak pernah mempermasalahkan hal itu dalam praktek yang ditekuninya selama hidupnya, hingga akhirnya berkembang menjadi yang tebaik di kota Los Angeles. Tidak seperti Jonghyun , ia tidak pernah bersikap tidak toleran dalam menghadapi penderitaan pasien-pasiennya.

"Aku berjudi sedikit, lalu..." Ia mengangkat bahunya sambil tersenyum kecut dengan cara yang ia anggap meluluhkan hati.

"...Aku terperangkap. Aku terjebak di dalam utang."

Luhan membutuhkan beberapa waktu untuk mencerna apa yang baru didengarnya. Kemudian beberapa saat lagi untuk memerangi rasa paniknya. Yang pertama yang ia pikirkan adalah Yuji. Perawatan medisnya betul-betul mahal sekali.

"B-berapa... berapa besar utangmu?"

"Cukup untuk membuat aku terpaksa menjual praktekku atau tidak akan pernah bisa kutebus seberapa banyak pun bayi yang kubantu kelahirannya."

Luhan mulai merasa mual. "Ya Tuhan. Praktek ayahku."

"Brengsek kau!..."

Teriak Jonghyun sambil meninju permukaan meja dengan demikian kerasnya sehingga perabotan porselen dan kristal di atasnya bergetar.

"...Bukan praktek ayahmu lagi, tapi milikku! Milikku! Kau dengar? Ia cuma seorang dokter daerah pinggiran dengan metode-metodenya yang kuno, kemudian aku mengubah klinik itu menjadi..."

"Pabrik. Begitulah cara kau mengelolanya. Tanpa perasaan apa-apa pada mereka yang kau rawat."

"Aku menolong mereka."

"Oh, kau memang seorang dokter yang baik. Salah satu di antara yang terhebat. Tapi kau bekerja tanpa perasaan, Jonghyun . Kau tidak menganggap mereka yang kau rawat sebagai individu. Kau cuma peduli pada uangnya."

"Kau tidak pernah protes tinggal di sini. Begitu seorang pasien meninggalkan klinikku, ia akan merasa sebagai orang yang paling kaya di dunia."

"Kau memang pintar mengambil hati. Aku tahu itu. Aku tidak sebodoh itu. Tapi semua cuma sekadar basa-basi. Kau bisa mengambil hati seseorang sampai ia mengira bahwa kau betul-betul peduli."

Jonghyun menyandarkan tubuhnya, kemudian menyelonjorkan kakinya ke depan. Ekspresinya licik sekali.

"Kau tahu itu dari pengalaman?" gumamnya.

Luhan mengalihkan pandangannya ke piringnya. Dalam waktu yang cukup singkat setelah mereka menikah ia mulai menyadari bahwa keromantisan suaminya dalam mengekspresikan cintanya bukanlah untuk memenangkan hati seorang istri yang akan mengasihinya, melainkan sebuah praktek klinik yang sudah mempunyai nama dan laku.

"Ya. Aku tahu mengapa kau menikahiku. Kau mengincar klinik ayahku. Dengan sengaja kau mengakalinya sampai akhirnya ia kena serangan jantung dan meninggal. Kini kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan..." Amarahnya akhirnya tidak tertahankan lagi.

"...Dan sekarang kau bilang padaku bahwa kau akan kehilangan segala-galanya karena kau berjudi!"

"Seperti biasa, kau selalu mengambil kesimpulan seenaknya tanpa memperhatikan baik-baik ucapanku..." Ia menuang anggur ke dalam gelasnya untuk ia tenggak sekaligus.

"...Ada sebuah peluang bagiku untuk menghasilkan uang banyak."

"Caranya? Obat-obatan terlarang?"

Jonghyun menatap istrinya dengan pandangan tidak simpatik, namun ia toh melanjutkan bicaranya.

"Kau ingat waktu aku mengupayakan bayi untuk diadopsi sepasang suami-istri sekitar setahun yang lalu? Mereka tidak mau ribut-ribut, tidak mau repot, pokoknya seorang bayi dengan surat-surat resmi."

"Aku ingat," sahut Luhan dalam nada waswas.

Apa yang ada di dalam kepalanya saat itu? Jual-beli bayi di luar jalur hukum. Ia punya potensi untuk melakukan itu. Luhan menggigil.

"Aku berkenalan dengan teman mereka hari ini. Dalam suatu pertemuan rahasia karena mereka orang terkenal."

Ia berhenti sebentar untuk mendramatisir suasana, dan Luhan tahu bahwa suaminya mengharap ia memohon padanya agar mau menyingkapkan identitas mereka. Tapi di kemudian hari Luhan menyesal bahwa ia tidak melakukan itu.

"Aku belum pernah bertemu dengan pasangan yang begitu menginginkan seorang bayi seperti pasangan ini. Mereka sudah mengupayakan segalanya supaya si istri bisa hamil. Hasilnya nihil. Tapi si suami sudah diperiksa. Kondisinya seperti sebuah pistol yang siap tembak...," ujarnya sok lucu. Luhan menyimak dengan serius, ekspresinya tidak berubah.

"...Kubilang bahwa aku akan mengupayakan cara bagi mereka untuk mengadopsi seorang bayi tanpa ribut-ribut. Tapi istrinya menolak. Ia hanya mau bayi suaminya."

"Rasanya aku menangkap maksudmu."

"Dari suaminya, dari benih suaminya," ujarnya dalam nada seakan ia pemain teater. "Mereka meminta padaku untuk mencarikan seorang ibu yang cocok untuk mengandung bayi mereka dengan sperma si suami. Lalu tadaaa! mereka mendapatkan seorang bayi."

"Aku pernah dengar tentang ibu-ibu seperti itu. Bagaimana tanggapanmu? Apa itu mungkin? Apakah kau akan melakukan itu untuk mereka?"

Jonghyun tertawa. "Tentu saja. Aku akan melakukan itu untuk mereka demi imbalan uang yang mereka janjikan. Seratus ribu dolar. Lima puluh buat si ibu. Lima puluh untukku."

Luhan menahan napasnya. "Seratus... tentunya orang kaya terkenal."

"Mereka cuma menuntut seorang bayi yang sehat serta jaminan bahwa rahasia mereka terjaga. Itu saja, Lu. Artinya suatu pemasukan yang tidak terdaftar. Mereka bilang bahwa mereka akan membayar secara tunai."

Tidak etis memang, tapi toh tidak melanggar hukum. Sulit bagi Luhan untuk membayangkan bahwa ada wanita yang mau melakukan itu.

"Dimana bisa kau dapatkan seseorang yang bersedia mengandung seorang anak hanya untuk dilepas begitu saja setelah itu."

Jonghyun menatap lurus-lurus ke dalam matanya. Luhan merasakan bulu kuduknya berdiri. Untuk sesaat mereka sama-sama seperti terpaku.

"Kurasa aku tidak perlu mencarinya jauh-jauh," ujarnya kemudian.

Wajah Luhan berubah menjadi pucat. Tentunya bukan dirinyalah yang dimaksudkan suaminya.

Istrinya sendiri!

"Jonghyun ," ujar Luhan, hatinya sebal mendengar nada panik di dalam suaranya, "kau kan tidak punya maksud untuk membujukku..."

"Ya."

Luhan langsung berdiri dan memutar tubuhnya, tapi laki-laki itu sudah keburu berada persis di belakangnya. Lengannya nyaris keluar dari sendinya saat ia menghentakkan tubuh Luhan agar berhadap-hadapan dengannya. Wajahnya gelap, dan percikan ludahnya ke mana-mana saat ia berkata dalam nada geram,

"Coba kau pikirkan, Luhan. Kalau kau lakukan ini untukku, uangnya buat kita semua. A-aku... kita tidak perlu membaginya dengan siapa-siapa."

"Aku akan mencoba untuk melupakan percakapan ini. Tolong lepaskan tanganku. Kau menyakitiku."

"Keadaannya akan lebih parah kalau kau didepak keluar dari rumah yang nyaman ini. Dan bagaimana dengan Yuji? Biaya perawatannya akan terus menggerogoti kita habis-habisan. Juga warisan ayahmu yang berharga itu. Apakah kau akan membiarkan klinik itu tenggelam dalam utang hanya karena kau mempertahankan prinsip-prinsip mulukmu?"

Luhan merenggut lengannya dari cengkeraman Jonghyun , dan sudah akan meninggalkannya. Namun apa yang baru diucapkannya membuatnya berpikir lagi, meskipun idenya betul-betul tidak waras sama sekali. Ia tidak dapat membiarkan Jonghyun melepas hasil jerih payah ayahnya hanya gara-gara kalah berjudi. Dan Yuji! Bagaimana kalau mereka tidak dapat membayar biaya perawatannya lagi?

"A-aku yakin... m-mereka menemuimu bukan dengan harapan bahwa istrimu yang akan menjadi ibu bagi bayi mereka."

"Mereka tidak akan tahu. Mereka tidak ingin tahu siapa ibu si bayi dan juga tidak ingin ibu si bayi tahu siapa mereka. Mereka mau bayi ini lahir sebagai anak mereka sendiri. Yang mereka tuntut hanya seorang wanita yang sehat untuk melahirkan seorang bayi yang sehat. Hanya sebagai semacam sarana."

"Jadi aku cuma itu di matamu? Semacam sarana untuk menebus utang-utangmu? Semacam sarana untuk mendapatkan uang?"

"Kau toh tidak menggunakannya untuk hal-hal yang lain. Apa salahnya kalau kau gunakan untuk mengandung seorang bayi."

Luhan merasa amat terpukul menanggapi penghinaan suaminya. Memang betul. Jarangnya frekuensi hubungan seks mereka selalu merupakan suatu masalah di antara mereka.

Daripada memulai suatu perdebatan sengit, yang biasanya akan berlanjut dengan pemaksaan seks atas dirinya, ia berkata,

"Aku tidak ingin mengandung lagi. Mengandung anak suami orang. Aku memiliki Yuji dengan berbagai macam pertimbangan. Aku capek sekali begitu pulang dari rumah sakit. Rasanya fisikku sudah tidak kuat lagi untuk itu. Apalagi secara psikis."

"Kau kuat kalau kau mau. Dan jangan sok naif mengenai mengandung anak orang lain. Itu kan cuma suatu proses biologis. Sebuah sperma dan sebuah telur. Jadi seorang bayi. Cuma itu."

Luhan mulai merasa muak. Bagaimana suaminya bisa bersikap seperti itu atas keajaiban yang ia saksikan setiap hari? Luhan tidak tahu kenapa ia masih juga berdiri di sana untuk berdiskusi dengan suaminya, kecuali kalau ia melihat kemungkinan peluang jalan keluar baginya.

"Lalu apa yang akan kita katakan pada orang- orang? Maksudku, kalau aku pulang kelak dari rumah sakit tanpa bayi."

"Kita bisa bilang bahwa si bayi lahir dalam keadaan tidak bernyawa, bahwa kita terpukul dan tidak menginginkan suatu upacara pemakaman, atau entah apa pun."

"Tapi bagaimana dengan para staf rumah sakit? Kan ada peraturan ketat yang melarang dokter untuk merawat sendiri anggota keluarganya. Bagaimana cara kau menukar, memberikan b-bayiku... bayi itu kepada seorang wanita yang tidak pernah hamil dan memberikan klarifikasi bahwa yang punyaku meninggal?"

"Kau tidak usah pusing soal itu, Luhan," sahut Jonghyun dalam nada tidak sabar.

"...Biar aku yang urus detailnya. Dengan uang semua akan diam. Para perawat di ruang bersalin semuanya setia padaku. Mereka akan melakukan apa yang kukatakan."

Rupanya ia sudah biasa melakukan transaksi-transaksi seperti itu. Namun bagi Luhan ini merupakan suatu hal baru, yang memberikan perasaan tidak enak pada dirinya.

"Bagaimana cara k-kita... melakukannya?"

Kini setelah menganggap bahwa istrinya mau di ajak bekerja sama, Jonghyun menjadi antusias.

"Pertama- tama kita harus memastikan dahulu bahwa kau tidak sedang hamil." Ia menyeringai culas.

"...Tapi itu bisa dipastikan, tidak jadi masalah. Ya, kan? Aku akan menunjukkan kepada mereka catatan medismu, yang tidak ada cacat celanya. Tidak ada masalah saat kau mengandung pertama kali. Kita tanda tangani kontrak nya. Prosedurnya aku selesaikan di kantor."

"Bagaimana kalau aku sampai tidak mengandung?"

"Kau pasti akan mengandung. Aku akan memastikannya."

Bulu kuduk Luhan berdiri. "Aku harus mempertimbangkannya lebih dahulu."

"Buat apa...,"

Ujarnya dalam nada meninggi. Tapi begitu melihat Luhan mengangkat dagunya, ia melunakkan cara pendekatannya dan mencoba bersikap lebih simpatik.

"Oke. Aku mengerti. Pikirkanlah selama beberapa hari tapi mereka menginginkan jawabannya menjelang akhir minggu ini."

o.o

Luhan memberikan jawabannya pada keesokan paginya. Jonghyun betul-betul senang sekali waktu itu. Kemudian Luhan mengajukan persyaratan-persyaratannya.

"Kau bilang apa?" desisnya.

"Kubilang, aku mau setengah dari jumlah uang yang kau terima setelah bayi itu lahir, berikut dengan surat-surat cerai kita, yang sudah ditandatangani dan dilegalisir. Kita tidak berhubungan intim selama aku mengandung. Begitu aku keluar dari rumah sakit dengan uangku, aku tidak mau melihatmu lagi."

"Kau tidak akan meninggalkanku, Sayang. Kalau ada seseorang yang ditinggalkan di sini, maka itu adalah kau! Demi reputasi klinik itu, kau tidak akan meninggalkanku."

"Dulu mungkin. Ketika ayahku masih hidup. Tapi begitu kau mengelolanya, perlahan-lahan reputasinya terus memburuk. Aku tidak mau di situ untuk menyaksikannya menjadi semakin parah. Klinik itu bukan lagi sesuatu yang dapat kubanggakan." Luhan menegakkan tubuhnya.

"...Kau sudah memanfaatkanku untuk memperoleh klinik itu. Kini lakukan apa yang kau mau dengan klinik itu. Aku akan mengandung bayi ini, karena uangnya akan memungkinkanku dan Yuji terbebas darimu. Ini terakhir kali kau masih dapat memanfaatkan aku, Dr. Hong Jonghyun ."

Suaminya menyetujui semua persyaratan yang diajukannya. Meskipun ia tidak pernah mengungkapkan apa-apa, Luhan merasa yakin bahwa para kreditornya mulai menekan dirinya. Sebagai seseorang yang sudah terdesak ia tidak memiliki pilihan lain selain menerima persyaratan-persyaratan itu.

Kemudian, ketika Luhan meninggalkan rumah sakit, dengan perasaan dilecehkan, kosong, tapi bebas, ia sama sekali tidak menyesali keputusannya. Uang yang ia peroleh setelah sembilan bulan itu akan memungkinkan dirinya memberikan perawatan yang lebih baik kepada Yuji.

flasback off...

Tapi kini, setelah hampir dua tahun berlalu, ia mulai merasa tidak enak akan keputusannya untuk mengandung anak seseorang yang tidak ia kenal sama sekali. Impian pasangan Oh terwujud begitu Luhan mengandung seorang bayi laki-laki. Anak itu telah memperkaya kehidupan mereka, dan bagi Sehun menjadi semacam jangkar untuk bertahan, alasan untuk terus hidup di saat hampir seluruh dunianya terasa seakan runtuh.

Tidakkah itu cukup untuk membebaskan Luhan dari perasaan bersalahnya? Mengapa ia terus dihantui oleh perasaan itu? Biar bagaimanapun sekarang sudah terlambat baginya untuk mengubah apa yang terjadi.

Sementara merenungkan kembali kejadian yang kemudian membawanya ke tempat yang terpencil ini, tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Sekarang ia berdiri untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku karena posisi duduknya sebelumnya.

Ia melewatkan malam yang tenang di dalam kamarnya, dengan menulis-nulis sedikit, sambil menimbang-nimbang kapan ia akan mengatakan kepada Sehun siapa ia sebenarnya, dan bagaimana ia dapat meminta padanya agar diizinkan untuk melihat putranya.

l..l

l..l

l..l

"Hai."

Sehun berlari ke sudut lapangan tenis sambil menengadahkan wajahnya ke arahnya. Luhan sedang menempati mejanya yang biasa.

"Tampangmu sejuk seperti ketimun."

"Dan kau tampak panas."

Sehun tertawa. "Aku memang kepanasan. Chanyeol benar-benar membuatku kewalahan hari ini."

"Begitu juga sebaliknya."

Luhan telah mengikuti babak terakhir pertandingan yang berlangsung dengan seru itu, dan menurutnya penampilan Sehun tadi betul-betul sesuai dengan potensinya sebelum musibah dan alkohol mempengaruhi permainannya.

Sehun tampak senang bahwa Luhan memperhatikannya.

"Yeah, aku berhasil melakukan beberapa pukulan yang baik," ujarnya merendah. "Lumayan untuk memperbesar nafsu makanku."

"Tidak perlu terburu-buru. Aku menikmati permainanmu."

Sehun membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, kemudian sambil berlari kecil kembali ke tengah-tengah lapangan dan berseru kepada Chanyeol yang tampak sudah penat bahwa waktu istirahat mereka sudah habis.

Dalam pertandingan berikutnya Sehun betul-betul bermain dengan serius sekali. Ia menyambut bola pertama Chanyeol dengan pukulan seorang pro andalan klubnya.

Tanpa memedulikan sorak-sorai wanita-wanita yang kembali bergerombol seperti sekumpulan kupu-kupu di balik pagar lapangan, Sehun melangkah dengan letih menuju ke tempat Luhan berada.

"Bukankah biasanya seorang matador melemparkan telinga atau ekor atau apa pun bagian dari si banteng ke arah pujaannya sebagai dedikasinya kepadanya?"

Luhan tertawa. "Kukira begitu. Tapi kumohon, jangan kau potong telinga Chanyeol."

"Aku tidak punya apa-apa untuk kulempar kecuali sebuah bola tenis. Atau sebuah handuk penuh keringat."

"Aku pilih bolanya."

Sehun melambungkan bolanya ke arahnya, yang ditangkap Luhan dengan tangkas, lalu ia mengangguk dengan luwes sebagai tanda terima kasih.

"Tolong pesankan empat gelas air minum untukku. Aku akan segera bergabung denganmu," ujar Sehun.

Luhan memperhatikan saat ia menyelempangkan tali tasnya di pundaknya kemudian berjalan menuju ruang ganti. Ia melambaikan tangannya ke arah Luhan sebelum menghilang di balik pintu tebal yang terbuat dari metal itu.

Pernakah terpikirkan dalam benaknya wanita yang telah melahirkan anaknya?

Tanya Luhan dalam hati sambil melambai ke arah pelayan untuk memesankan air minum untuk Sehun dan juga segelas es teh lagi untuknya.

Pernahkah terpintas dalam pikirannya bagaimana perasaan wanita itu saat mengandung benihnya di dalam tubuhnya? Suatu keintiman yang sama sekali tidak intim.

l..l

l..l

l..l

Pada hari Jonghyun memutuskan bahwa Luhan sedang subur—setelah melakukan pemantauan atas suhu tubuhnya dengan sebuah termometer khusus selama beberapa hari berturut-turut—ia menyuruhnya untuk datang ke kliniknya setelah jam prakteknya.

Dalam keadaan telanjang dan tidak berdaya, Luhan berbaring di atas meja pemeriksaan sementara suaminya memasukkan ke dalam rahimnya sebuah tabung, yang akan diisi dengan cairan sperma dan dibiarkan di situ sampai Luhan mengeluarkan cairannya sendiri. Kalau seluruh proses berjalan lancar, hasilnya akan positif.

"Sikapmu sama dinginnya seperti saat kau melakukannya secara alami, Luhan," ujar Jonghyun sambil menyeringai ke arahnya.

"Pokoknya cepat,"

Sahut Luhan dalam nada capek. Ucapan-ucapan sinis suaminya sudah tidak membangkitkan reaksi apa-apa lagi di dalam dirinya.

"Masa rasa ingin tahumu tidak tergugah sedikit pun? Hmm? Kau tidak ingin tahu bagaimana tampangnya? Siapa dia? Harus kuakui bahwa dia tampan. Apa kau tidak mau dirangsang sedikit supaya tidak tahu-tahu jadi begitu saja?" Tangannya meraih dada Luhan. "Aku bisa melayanimu. Semua sudah pulang."

Luhan menepis tangannya. Jonghyun tertawa tak simpatik. Apakah ia sungguh-sungguh mengira bahwa seringai culasnya itu akan membuat hatinya tergerak? Luhan membuang mukanya untuk menyembunyikan setetes air matanya yang bergulir turun.

"Cepat selesaikan, kumohon."

"Kita akan ulangi lagi ini besok," ujar Jonghyun begitu Luhan menghela dirinya ke dalam posisi duduk.

"Besok?"

"Dan besoknya lagi. Tiga hari selama kau sedang berovulasi." Jonghyun mencondongkan tubuhnya, kemudian membelai paha Luhan. "Sesudah itu kita tunggu hasilnya."

Luhan berdoa dalam hati mudah-mudahan ia langsung mengandung. Setelah membiarkan dirinya dilecehkan oleh suaminya seperti itu, ia benar-benar merasa enggan untuk mengulangi seluruh prosedur ini kembali pada bulan berikutnya.

Doanya ternyata dikabulkan. Setelah enam minggu, Jonghyun akhirnya yakin bahwa ia sedang mengandung. Ia mengabari pasangan suami-istri itu bahwa si ibu sudah mengandung. Ia menyampaikan kepada Luhan bahwa mereka senang sekali.

"Kau harus pastikan bahwa kau merawat dirimu baik-baik," ujarnya mengancam. "Aku tidak mau terjadi sesuatu yang akan mengacaukan ini semua."

"Aku juga tidak,"

Sahut Luhan ketika itu, sambil menutup pintu kamar tidurnya persis di muka suaminya.

Baginya, kehidupan di dalam kandungannya tidak memiliki wujud seorang bayi, suatu sosok dengan suatu pribadi. Baginya, si bayi cuma merupakan suatu sarana yang memungkinkan dirinya dan Yuji memiliki peluang untuk dapat meraih kebahagiaan, bebas dari Jonghyun , dengan keserakahan dan keegoisannya.

Selama minggu-minggu pertama di masa mual-mual dan pusing, dan selama hari-hari yang panjang dan melelahkan, ia mengantar Yuji bolak-balik ke rumah sakit. Ia mencoba untuk tidak menyesali kehadiran si janin yang tidak boleh sampai ia cintai.

Setiap kali ada yang memberikan ucapan selamat kepada mereka, ia memaksa dirinya untuk tersenyum dan menanggapi dengan senang perhatian mereka, termasuk rangkulan sok sayang suaminya.

Ketika untuk pertama kali ia merasakan janinnya bergerak, ia betul-betul bahagia. Namun cepat- cepat ia tepiskan perasaan itu ke dalam, salah satu sudut hatinya. Hanya pada waktu malam, saat ia berada sendirian di dalam kamar dan mengusapkan lotion ke atas perutnya yang semakin membesar, ia membiarkan dirinya mempertanyakan keberadaan si bayi.

Apa kah jenisnya laki-laki atau perempuan? Apakah matanya biru atau cokelat? Apakah mungkin ia mewarisi sesuatu darinya?

Dan pada saat itulah Luhan mulai mempertanyakan siapa si ayah, yang benihnya ia kandung. Bagaimana tampangnya? Apakah ia seorang laki-laki yang baik? Apakah ia akan menjadi seorang ayah yang baik? Apakah ia mencintai istrinya?

Tentunya demikian. Istrinya begitu mencintai suaminya sehingga rela membiarkan wanita lain mengandung anaknya. Apakah mereka bersama-sama saat laki-laki itu...

l..l

l..l

l..l

"Apa yang kau lamunkan?"

"Oh!" Luhan tersentak, tangannya menempel di dadanya saat ia berpaling ke sosok yang mengusik lamunannya.

"Maaf," ujarnya sungguh-sungguh. "Aku tidak bermaksud mengejutkanmu."

"Tidak apa. Sungguh."

Luhan tahu bahwa wajahnya merah padam saat itu dan tampangnya menunjuk kan kalau ia salah tingkah.

"Mudah-mudahan lamunanmu menyenangkan."

Matanya benar-benar tajam berlatar kulitnya yang bernuansa terbakar sinar matahari, dan dibingkai dengan alis yang hitam dan tebal. Giginya putih mengilat. Tubuhnya menebarkan aroma sabun dan cologne yang mewah dan segar. Sepertinya ia memang sengaja membiarkan rambutnya yang kelihatan masih lembap itu menjadi kering oleh panas matahari.

Gara-gara apa yang baru saja dilamunkannya itu, Luhan berusaha untuk tidak memperhatikannya sebagai seorang pria dengan wajah dan tubuh. Wajah yang tampan. Tubuh yang seksi. Pipi Luhan serasa terbakar begitu ia teringat apa yang dilakukan Jonghyun agar ia mengandung. Ia mengalihkan pandangannya sambil membasahi bibirnya.

"Aku tidak melamun," sahutnya dalam nada yang ia harap terdengar ringan. "Cuma merenung. Segalanya begitu indah. Gulungan ombaknya. Desiran angin."

Sehun menempati sebuah kursi di seberangnya. Ia mengenakan celana panjang berwarna gading dan polo shirt biru laut. Ia meminum air dingin dari salah satu gelas yang tersaji di depannya, dan kemudian berkata,

"Kadang-kadang aku suka turun ke pantai di depan rumahku, terutama di waktu malam. Dan duduk selama sejam atau lebih tanpa menyadari sudah berapa lama aku di situ. Rasanya seperti tidur, meskipun aku sama sekali tidak tidur."

"Kurasa bawah sadar kita memiliki suatu cara untuk mengisolasi kita di saat kita membutuhkan ketenangan."

"Ah-ha, jadi itu yang sedang kau lakukan? Kau sedang berusaha meniadakan keberadaanku."

Luhan tertawa. Mana mungkin ada wanita normal yang ingin meniadakan keberadaan seorang laki-laki dengan senyum seperti itu.

"Sama sekali tidak. Setidaknya, tidak sebelum kau mentraktirku makan siang," ujarnya meledek.

"Persis seperti Minguk. Selalu minta imbalan sebelum ia mau memeluk atau mencium..."

Namun begitu ia melihat perubahan di wajah Luhan, ia mengumpat di dalam hatinya.

"Luhan, ehm... aku tidak bermaksud melecehkan dirimu. Aku tidak mengharapkan imbalan apa-apa. Maksudku..."

"Aku tahu maksudmu," potong Luhan, sambil tersenyum lagi. "Dan aku tidak tersinggung. Sungguh."

Sehun menyipitkan matanya saat memperhatikan bentuk mulut Luhan. "Meskipun itu patut dipertibangkan, bukan? Soal mencium, maksudku."

"Masa?" sahut Luhan pendek.

Luhan telah menghabiskan sepanjang pagi untuk memutuskan apa yang akan ia pakai. Kini ia merasa kurang enak karena ulahnya yang begitu nekat.

Strapless hitamnya menempel di tubuhnya, mengikuti lekuk tubuhnya dengan indah. Rok putihnya berpotongan modis dengan kancing-kancing di sisi kirinya. Ia telah membiarkannya terbuka mulai dari batas tengah pahanya. Kakinya tampak putih dan mulus di balik bahannya. Sepatu sandalnya yang bertumit rendah terbuat dari kulit berwarna hitam dengan tali-tali yang melilit di pergelangan kakinya. Satu-satunya perhiasan yang dikenakan- nya adalah sebuah gelang putih dan sepasang anting-anting berbentuk cincin yang besar di telinganya.

Sewaktu ia berdiri di depan cermin di kamarnya, ia menilai penampilannya keren. Keren dan modis. Kenapa sekarang ia merasa bahwa penampilannya terlalu seksi?

Karena cara Sehun menatap dirinya. Ia merasa bahwa laki-laki itu tahu reaksi tubuhnya saat itu. Sebelumnya ia tidak pernah menilai dirinya sensual. Namun kini di bawah tatapan laki-laki itu seluruh keberadaannya seakan menggelenyar.

"Mungkin sebaiknya kita mulai dengan makan siang lebih dalu," usul Sehun kemudian.

"Oke."

l..l

l..l

l..l

To be continue

l..l

l..l

l..l

7 Desember 2017

kalau kalian ngikutin dari awal, pasti sadar apa yg beda dari chapter sebelumnya wkk bagian pro sengaja aku apus, karena emang itu ceritanya cuman sebagai teaser doang ckk~

semoga kalian suka dan terus ngikutin ceritanya yaa, mungkin ff HunHan sekarang jarang yg update tapi kalian tetap sayang Sehun Luhan kaaaan, hikss.

makasih yg udah ngefav follow dan review, luvyuuu

see u next timeee, byebyee...