Chapter 2

.

.

.

A LIE

DISCLAIMER MITSURO KUBO & STUDIO MAPPA

VICTUURI

RATED T (buat jaga-jaga. Soalnya author tidak tahu bagaimana kedepannya)

ROMANCE, HUMOR (sementara ini dulu. Tidak tahu genre pastinya)

WARNING! SUPER OOC, TYPO EVERYWHRE, EYD NGASAL

GAK SUKA? JANGAN BACA

A/N : Chapter kali ini nyaris full flashback. Oh ya, Universitas yang ditempati Yuuri itu Universitas Negeri St. Petersburg. Kemarin lupa nulisnya.


Flashback

8 bulan yang lalu.

Seorang pemuda berkacamata, berambut hitam, dan err... sedikit gemuk (atau mungkin sangat) melangkahkan kakinya memasuki gerbang dan berhenti tepat ketika dia melewati gerbang itu. Mata hazelnya menatap bangunan yang berada dihadapannya dengan kagum. Tidak terbayang olehnya dia bisa berada disini sekarang.

Universitas Negeri St. Petersburg.

Katsuki Yuuri, nama pemuda berkacamata itu kembali melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam lagi, mengelilingi bangunan yang megah ini. Tidak henti-hentinya dia memuji bangunan dari Universitas terbagus di Rusia ini. Wajahnya yang manis menyiratkan rasa kebahagiaan yang tiada tara.

"Waah, tidak kusangka aku bisa berada disini sekarang." Ungkap Yuuri. Dia masih tetap dengan ritual 'lihat melihat'nya. Hingga sebuah suara yang sangat keras mengagetkannya.

"DIHARAPKAN BAGI MAHASISWA BARU, UNTUK SEGERA BERKUMPUL DI TEMPAT JURUSANNYA SEKARANG!"

Suara keras dari speaker pengumuman itu membuat semua orang kaget dan segera berlari menuju tempat perkumpulan di jurusan masing-masing. Yuuri pun berlari menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh seniornya.

Sesampainya di sana, Yuuri langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan. Jantungnya berdegup kencang saat duduk di kursi. Yuuri menoleh ke kiri kanan, rata-rata orang disekitarnya orang-orang bule dan hal itu semakin membuat Yuuri gugup karena merasa dirinya seperti rakyat jelata yang tersesat diantara kalangan bangsawan.

"Ukh... kenapa orang-orangnya cakep-cakep semua? Aku jadi makin grogi. Mana Phichit berada di jurusan yang berbeda pula. Aku tidak punya teman untuk ngobrol." Gumam Yuuri yang semakin down. Well, Yuuri memang bukan orang yang pandai dalam mencari teman.

"SELAMAT DATANG PARA MAHASISWA BARU!"

Kelamaan berpikir, Yuuri tidak sadar kalau senior-seniornya sudah berada diatas podium (atau panggung. Author tidak tahu namanya). Kaget (lagi) dengan suara mic yang sangat keras, sontak Yuuri langsung mengangkat kepalanya yang semula menunduk tadi.

DEG

Seketika Yuuri merasa jantungnya berhenti berdetak.

Waktu serasa berhenti saat itu juga.

Manik biru saphire yang pertama kali dilihatnya saat mengangkat kepala membuatnya terpesona. Seakan dia tersedot kedalam kilauan mata indah itu hanya dalam sekali tatap.

"Perkenalkan, namaku Victor Nikiforov. Angkatan kedua dari jurusan ekonomi ini. Senang berkenalan dengan kalian semua."

Yuuri bersumpah, dia langsung 'jatuh' begitu melihat pemuda bernama Victor itu.


Pagi hari di St. Petersburg.

Iris hazel terbuka perlahan, sedikit menyipit begitu merasakan sinar matahari yang menembus sela-sela gorden. Yuuri menggeliatkan badannya, tangannya dengan pelan meraih hp yang berada tepat disamping bantal kepalanya.

Pukul 09.00 pagi.

Yuuri kembali meletakkan hpnya. Merubah posisinya menjadi telentang. Menatap langit-langit kamar sembari mengumpulkan nyawa sampai dia terjaga sepenuhnya. Setelah dirasa nyawanya sudah terkumpul semua, Yuuri merubah posisi menjadi duduk. Kedua tangannya diangkat keatas, melakukan perenggangan. Mengucek-ngucek matanya sebentar lalu memakai kacamatanya.

"Untung hari ini libur. Aku jadi tidak perlu buru-buru bangun." Batin Yuuri. Dia beranjak dari kasurnya dan menuju pintu kamarnya. Begitu Yuuri membuka pintu, dia langsung disambut oleh anjing pudel yang besar.

"GUK!"

"Ah, Maccachin, ohayou." Sapa Yuuri dengan senyum manisnya. Dia mengelus kepala anjing pudel yang bernama Maccachin itu.

Ya, Maccachin adalah anjing pudel peliharaan Victor yang dititipkan oleh Victor semalam karena si majikan sedang pulang ke rumah. Yuuri dengan senang hati menerima tawaran Victor untuk menjaga Maccachin, berhubung dia juga sangat suka dengan anjing dan Maccachin mengingatkannya dengan anjing pudel yang pernah dipeliharanya dulu. Sayang anjingnya sudah mati.

"Guk guk." Maccachin mengelilingi kaki Yuuri. Seakan-akan meminta makan ke Yuuri. Yuuri kembali mengelus kepala Maccachin dan tertawa kecil.

"Hahaha, iya iya. Aku tahu kau pasti lapar kan? Maaf karena aku baru bangun. Ayo kita sarapan sekarang." Kata Yuuri sambil menuju ke dapur. Maccachin mengikuti Yuuri dari belakang dengan semangat begitu mendengar kata 'sarapan' dari Yuuri.

Yuuri menaruh kue manju di mangkuk makanan Maccachin. Anjing pudel satu ini memang suka sekali dengan kue manju. Semunya berawal dari Victor yang selalu seenak jidat mengambil makanan Yuuri di kulkas dan tanpa sengaja menjatuhkan kue manju ke lantai hingga Maccachin yang memakannya sampai habis. Sungguh tak disangka oleh Yuuri kalau Maccachin akan sangat menyukai kue manju.

"Guk guk." Gonggong Maccachin lagi setelah Yuuri menaruh kue manju ke angkuknya. Dia mengibas-ngibas ekornya seakan mengucapkan 'terima kasih'.

"Kamu manis sekali Maccachin. Benar-benar jauh berbeda dari majikanmu yang menyebalkan itu." Kata Yuuri yang masih setia dengan senyum manisnya karena melihat tingkah laku Maccachin yang sangat manis dimatanya.

Yuuri pun duduk di kursi makannya dan memakan sarapannya dengan khidmat. Sudah lama Yuuri tidak merasakan sarapan pagi dengan setenang ini. Karena biasanya pemuda berambut silver itu akan datang mengganggunya dan menyuruh Yuuri ini itu sehingga Yuuri selalu buru-buru sarapan agar tidak terlambat pergi ke kampus. Sedangkan Victor yang sudah selesai sarapan selagi Yuuri mengerjakan perintah Victor-yang sebenarnya sarapan itu Yuuri bikin untuk dirinya, tapi Victor selalu memakannya duluan-sudah pergi ke kampus duluan meninggalkan Yuuri.

Jujur saja, kalau bisa, Yuuri ingin sekali mengusir Victor dari kamarnya karena gara-gara pemuda berambut silver itu Yuuri selalu sedikit memakan sarapannya atau tidak sarapan sama sekali dan selalu nyaris telat memasuki kelasnya di kampus. Sayangnya pengusiran itu selalu tidak mempan oleh Victor. Pernah sekali Yuuri meminta Victor untuk tidak mengganggunya di pagi hari, tapi dengan satainya Victor menjawab "Ini bagus untuk dirimu agar kau selalu olahraga lari pagi ke kampus dan kau tidak makan banyak karena kau bisa saja kembali gendut seperti dulu." Oh, betapa Yuuri inginnya meninju muka tampan Victor saat itu, tapi si rusia kampret itu sudah pergi meninggalkannya saat Yuuri ingin melaksanakan aksi meninjunya itu. Poor Yuuri.

Dan akhirnya Yuuri bisa merasakan sarapan pagi dengan tenang. Awalnya dia terlihat senang, tapi lama-lama Yuuri menghentikan makannya dan menatap makanan yang berada di depannya. Iris matanya menyiratkan kesepian. Merasa sepi karena pagi ini terlalu tenang tanpa keberadaan pemuda berambut abu-abu itu.

PLAK

"Apa yang kau pikirkan Yuuri?! Seharusnya kau senang karena dia tidak mengganggumu lagi! Ukh.. tapi rasanya tetap saja..." Yuuri menampar dirinya kembali karena perang batin di dalam dirinya. Maccahin yang melihat tingkah laku majikan keduanya yang tiba-tiba jadi aneh itu hanya bisa diam. Yuuri yang stress dengan perang batinnya akhirnya memutuskan untuk berhenti makan dan pergi mandi untuk menenangkan pikirannya yang semakin aneh.

"Maccachin, aku mandi dulu ya." Kata Yuuri setelah membereskan meja makannya. Maccachin hanya menggonggong seolah menjawab iya. Yuuri pun memasuki kamar mandi.

Beberapa menit setelah itu, Yuuri keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. Maccachin yang melihat Yuuri keluar segera menghampiri Yuuri.

"Guk guk guk." Yuuri menolehkan kepala ke samping. Berpikir apa yang sedang dimaksud Maccachin.

"Kau ingin jalan-jalan? Kalau begitu tunggu sebentar ya. Aku pakai baju dulu." Kata Yuuri lalu memasuki kamarnya. Yuuri membuka lemari pakaiannya dan memakai baju kaos lengan panajng yang biasa dan celana jeans. Sebelum menutup pintu lemarinya, Yuuri melihat buku catatan kecil miliknya yang berada didalam laci kecil lemarinya yang terbuka sedikit. Yuuri mengambil buku kecil itu dan melihatnya dalam diam. Bernostalgia dengan masa lalu dimana gara-gara buku kecil inilah dia menjadi pesuruh Victor seperti sekarang.

.

.

Flashback

"Perkenalkan, namaku Victor Nikiforov. Angkatan kedua dari jurusan ekonomi ini. Senang berkenalan dengan kalian semua." kata pemuda berambut silver yang bernama Victor sambil mengedipkan sebelah matanya. Semua perempuan yang ada di ruangan itu-bahkan laki-laki juga- terpesona dengan ketampanan senior yang berdiri dihadapan mereka sekarang. Seketika ada panah cupid yang menancap dihati mereka tatkala Victor mengedipkan matanya.

"KYAAAAA! VICTOR!" teriak semua perempuan baik itu mahasiswa baru ataupun yang lama. Sedangkan laki-laki masih diam melihat Victor meski dalam hati mereka mungkin juga ikut berteriak. Termasuk Yuuri yang sedang menutup hidungnya. Antisipasi jika kalau akan ada darah yang keluar dari hidungnya karena melihat senyum sejuta watt nya Victor.

"Hahaha, mahasiswa tahun sekarang semangat-semangat ya. Semoga kalian bisa betah di sini." Kata Victor yang kembali diiringi dengan teriakan semua perempuan. Victor tertawa melihat ekspresi wajah orang-orang disekitarnya yang menurutnya sangat lucu.

"Kak Victor! Kakak lahir tanggal berapa?" tanya salah seorang mahasiswi di depan Victor. Semuanya langsung menatap Victor dan memasang wajah penasaran.

"Ulang tahunku itu..." Victor memberi jeda sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya. Seolah-olah berpikir. Para mahasiswa baru semakin menatap Victor dengan penasaran. Menunggu jawaban dari senior ganteng mereka. Yuuri pun ikut menatap Victor dengan penasaran. Siapa tahu dia bisa memberikan kado saat ulang tahun Victor nanti.

"Ulang tahunku itu... ra-ha-si-a." Jawab Victor dengan senyum yang berbentuk hati. Seketika para mahasiswa baru berteriak protes. Sedangkan para mahasiswa lama hanya menghela napas. Sudah menduga bahwa itulah jawaban yang akan keluar dari mulut pemuda berambut silver itu. Meskipun Victor mahasiswa yang paling populer di kampus ini, tapi tidak ada seorang pun yang tahu tentang Victor. Baik itu hari ulang tahunnya, makanan kesukaannya, hobinya ataupun tempat tinggalnya. Benar-benar pemuda yang begitu misterius. Itulah yang semakin membuat orang-orang semakin menyukainya.

"Eeehh? Kenapa kak? Beritahu kami dong!" teriak para mahasiswi memohon. Victor hanya tertawa kecil dengan permohonan mereka. Lelah dengan teriakan para mahasiswi yang tak kunjung reda, Chris, pemuda berambut pirangsekaligus teman Victor mengambil mic yang Victor pegang.

"Sudahlah kalian semua. Victor tidak akan memberitahu kapan ulang tahunnya. Apapun yang kalian tanyakan tentangnya tidak akan ada yang dia jawab. Bahkan kami saja yang sudah lama bersamanya tidak tahu apa-apa tentangnya kecuali namanya." Kata Chris yang semakin membuat para mahasiswa baru kembali mendesah kecewa. Victor kembali tertawa dan mengambil kembali mic yang Chris pegang.

"Nah, kalian dengar sendiri bukan? Yang ngomong ini sahabatku sendiri lho. Maaf ya tidakk bisa memberitahukan kalian. Hanya saja aku punya alasan tersendiri untuk tidak memberitahukannya. Tidak apa-apa kan?" Victor memasang wajah menyesal. Membuat para mahasiswi disana merasa bersalah dan buru-buru meminta maaf kepada Victor meski didalam hati mereka merasa kecewa karena tidak bisa mengetahui apa-apa tentang idola mereka sendiri.

"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai perkenalannya. Dimulai dari senior-senior dulu ya. Ayo Chris!" Victor menyerahkan mic ke Chris. Sesi perkenalan pun dimulai. Yuuri menatap Victor dengan sedih dan kecewa.

'Kenapa kak Victor tidak mau memberitahu tentangnya ya? Kalau begini aku tidak bisa bertanya apa-apa. Padahal aku ingin sekali mengobrol dengannya.' Batin Yuuri kecewa. Terlalu lama larut dengan ikirannya, Yuuri tidak sadar kalau sudah gilirannya untuk perkenalan. Orang yang berada disamping Yuuri menyenggol kecil Yuuri sehingga tersadar dari lamunannya.

"Eh? Eh? Ada apa?" tanya Yuuri kepada orang yang disampingnya. Yang ditanya menepuk jidatnya. Ketika dia hendak menyuruh Yuuri untuk mengenalkan diri, tiba-tiba Victor berbicara.

"Pemuda yang memakai kacamata disana, perkenalkan dirimu!" kata Victor. Yuuri kaget dan sontak saja dia langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya memerah karena malu ditegur sama Victor sekaligus karena dilihat oleh semua orang.

Saat Yuuri menatap Victor, dia bisa melihat pemuda berambut silver itu terkejut melihat Yuuri meski hanya sekilas. Yuuri mengerjapkan matanya heran. Apakah tadi dia hanya berhalusinasi saat melihat wajah kaget Victor?

Victor berdehem dan kembali berbicara kepada Yuuri. "Siapa namamu?". Yuuri kaget (lagi) ketika Victor berbicara padanya. Wajahnya kembali memerah.

"Ka-Katsuki Yuuri." Jawab Yuuri dengan gugup. Victor menatap Yuuri dengan intens. Yuuri bertambah gugup karena ditatap oleh Victor.

"Katsuki? Dari Jepang ya?" Tanya Victor yang masih belum bisa melepas pandangannya dari Yuuri. Yuuri mengangguk lemah sebagai jawaban. Victor tersenyum kecil melihat jawaban Yuuri.

"Berapa tanggal lahirmu?" tanya Victor sekali lagi. Semuanya memandang Victor dengan kaget. Tidak menyangka Victor akan bertanya ke Yuuri. Karena daritadi Victor hanya diam saja saat mahasiswa lain memperkenalkan diri.

"Eh... 29 November." Jawab Yuuri. Rasa gugupnya hilang seketika. Dia jadi bingung kenapa Victor menanyakan hal yang tidak penting baginya.

Victor menutup mulutnya, berusaha menyembunyikan senyumannya yang semakin melebar. Dengan tenang, dia kembali bertanya ke Yuuri.

"Hobimu?"

"Etto...hobiku...skating." jawab Yuuri agak pelan.

Sekali lagi mahasiswa yang ada disana terkejut dengan jawaban Yuuri. Tidak menyangka badan se ehemgendutehem itu bisa skating. Mereka jadi penasaran apakah pemuda bernama Katsuki Yuuri ini akan baik-baik saja saat berskating tanpa jatuh sama sekali.

Berbeda dengan Victor. Dia menunjukkan wajah senang tapi kesannya seram. Tangan Victor masih setia menyembunyikan senyumnya... atau mungkin lebih tepat seringainya. Iris biru saphire nya berkilat senang begitu mendengar jawaban Yuuri yang sepertinya sudah bisa dia tebak. Chris yang merasakan aura-aura aneh dari Victor melirik ke sahabatnya. Menaikkan sebelah alisnya melihat kilat mata Victor yang tidak pernah dia tunjukkan selama ini.

Mirip tatapan seorang predator yang sudah menemukan mangsanya.

Tangan yang awalnya menutup seringaian itu turun. Mulutnya yang menyeringai berubah menjadi senyuman berbentuk hati. Iris biru saphire itu menyipit karena senyumnya yang lebar. Terlihat tampan tapi mempunyai kesan yang sangat mencekam. Sekali lagi Chris menatap heran ke Victor yang sangat berbeda dari beberapa menit yang lalu.

"Senang berkenalan denganmu, Katsuki Yuuri."

Dan Chris berani sangsi dia merinding begitu mendengar gumaman Victor setelah dia berbicara tadi.

'Akhirnya kutemukan kau... Yuuri.'

.

.

.

Setelah perkenalan dan berbincang-bincang dengan senior mereka, semua mahasiswa memiliki aktifitas bebas. Yuuri kembali mengelilingi kampus sendirian. Hingga akhirnya dia beristirahat di bagian belakang kampus.

"Haaahh... tidak kusangka mengelilingi kampus ini sangat mengras tenagaku." Kata Yuuri kemudia duduk di bangku (anggaplah di belakang kampusnya ini ada taman. Author gak tau bagaimana universitas St. Petersburg ini). Yuuri mendonggakkan kepalanya melihat langit. Biru yang sangat indah. Membuat Yuuri teringat dengan seniornya, Victor.

'Kenapa tadi kak Victor bertanya kepadaku ya? Padahal orang yang disampingku bilang kalau kak Victor diam saja pas mahasiswa baru yang lain memperkenalkan diri mereka. Dan benar saja setelah aku selesai memperkenalkan diri kak Victor kembali diam.' Batin Yuuri yang masih melihat langit. pikirannya kembali melayang ke adegan perkenalan beberapa menit yang lalu. Dia masih ingat betul Victor berbicara dengannya dan tersenyum kepadanya. Membuat Yuuri kembali merona begitu mengingat senyum Victor.

'Apa ini hanya perasaanku saja atau selama perkenalan tadi kak Victor memang melihatku terus?' batin Yuuri lagi. Dan sedetik kemudian Yuuri menutup wajahnya yang semakin memerah dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Berusaha menyingkirkan pikiran ngaconya.

"Ti-tidak mungkin! Itu sama sekali tidak mungkin!" teriak Yuuri. Untung tidak orang disana, kalau ada Yuuri akan dianggap gila oleh orang lain.

Disaat Yuuri yang lagi-lagi sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba dia mendengar suara orang yang tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk. Yuuri menghentikan aksi gilanya dan menoleh ke belakangnya. Kepo dengan suara yang sempat didengarnya tadi, Yuuri perlahan-lahan menuju ke sumber suara. Dia mengendap-ngendap layaknya seorang pencuri handal.

Begitu dia tinggal beberapa meter lagi untuk mencapai sumber suara, Yuuri melihat Victor dan reflek dia langsung bersembunyi di semak-semak. Sedikit menyembulkan kepalanya dari semak-semak. Dia melihat ada Victor dan seorang perempuan berambut hitam panjang. Kalau Yuuri tidak salah ingat, cewek itu adalah seniornya.

"Victor... aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Kata perempuan berambut hitam itu dengan gugup dan pelan. Wajah cantiknya memerah karena ditatap oleh Victor. Yuuri semakin mempertajam pendengarannya. Kepo dengan pembicaraan dua orang di depannya.

"Ya? Kau mau bilang apa?" tanya Victor dengan senyum gantengnya. Perempuan di depannya semakin memerah begitu Victor tersenyum. Setelah dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya (metode menenangkan diri ala author) perempuan berambut hitam itu mengangkat suaranya.

"Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Maukah kau menjdai pacarku?"

Yuuri kaget begitu mendengar pernyataan cinta dari perempuan itu. Tidak menyangka dia akan menguping pernyataan cinta seseorang. Oh,sepertinya dia telah menodai telinganya untuk menguping plus menodai matanya karena melihat privasi seseorang. Apa kata ibunya yang nun jauh disana nanti? Ok lupakan, mari kembali fokus ke pernyataan cinta perempuan tadi.

Victor diam saja melihat perempuan yang dihadapannya. Perempuan itu kembali menundukkan wajahnya. Wajah cantiknya masih tetap merona. Deg-degan menunggu jawaban dari Victor. Yuuri pun ikut deg-degan. Kepo Victor akan menjawab apa, menerima atau menolak perempuan itu. Dan entah kenapa, opsi pertama tadi membuat Yuuri jadi sakit hati. Dia tidak rela jika Victor menerima perasaan perempuan itu dan mereka akan berpacaran. Tapi Yuuri tidak mempunyai hak untuk melarang Victor menyukai perempuan itu. Hell, dia bukan siapa-siapanya Victor. Dia hanya sekedar junior yang sempat mendapat perhatian dari seniornya.

Tapi tidak apa-apa kan jika Yuuri sedikit berharap Victor menolak perempuan itu?

Yuuri kembali fokus ke dua orang didepannya. Yuuri menyipitkan matanya begitu melihat tatapan dingin Victor ke perempuan itu. Dan kemudian Yuuri melihat Victor menghela napas pelan dengan ekspresi kesal. Hey, dia tidak salah lihat kan tadi?

"Maafkan aku." Jawab Victor dengan ekspresi menyesal. Well, sepertinya Yuuri memang salah lihat tadi. Mungkin ini efek dari mata minusnya.

Perempuan itu mendonggakkan kepalanya. Menatap Victor dengan sedih.

"Maksudmu... kau menolakku?" tanya perempuan itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Oh wow, Yuuri melihat drama picisan disini.

Victor tersenyum kecil. Ekspresi menyesal masih setia terpasang di wajahnya. Yuuri mendadak curiga dengan ekspresi Victor sekarang. Terkesan seperti... bohongan?

"Maafkan aku lady. Bukannya aku tidak menyukaimu, tapi..." belum sempat victor menyelesaikan omongannya, perempuan itu mendekatkan diri ke Victor dan berteriak lumayan kencang.

"Tapi apa?! Kalau kau menyukaiku, kenapa kau menolakku?! Kalau kita saling menyukai, kita bisa berpacaran bukan?!" teriak perempuan itu tidak terima. Air matanya sudah mengalir deras, membasahi wajah cantiknya. Ah, teriakannya terdengar pilu sekali di telinga Yuuri. Dia benar-benar melihat drama picisan sekarang. Secara live action pula.

Victor memegang tangan perempuan itu dan mencium punggung tangannya. Jleb, Yuuri merasa sakit hati melihat adegan cium tangan didepannya. Jemari Victor perlahan-lahan menghapus air mata yang mengalir dari mata perempuan itu. Fix, Yuuri makin sakit hati. Apa dia kabur aja sekarang daripada makin sakit hati? Tapi yuuri kepo dengan jawaban Victor. Akhirnya Yuuri memilih tetap berada di semak-semak untuk melihat drama picisan ini sampai akhir.

"Kau cantik... aku menyukaimu... tapi kita tidak bisa berpacaran..." kata Victor yang mengelus pelan wajah perempuan itu.

"Kenapa?" tanya perempuan itu yang masih terisak sedih. Jika alasan Victor tidak mau berpacaran dengannya karena Victor terlalu populer dan takut kalau dia akan di bully oleh orang lain, maka dia akan siap untuk menerima bully an itu asalkan bisa berpacaran dengan Victor. Begitulah yang dipikirka perempuan itu dan juga Yuuri. Sepertinya Yuuri mulai berpikir kalau Victor beneran menyukai perempuan itu. Yaah, wajar saja sih. Perempuan itu cantik, tidak heran Victor menyukainya. Sigh, Yuuri makin sakit hati memikirkannya.

"Karena... rasa sukaku padamu hanya sebatas rasa suka dari teman ke teman, tidak lebih."

Perempuan itu terpengangah mendengar jawaban Victor yang diluar dugannya. Begitu juga dengan Yuuri yang ikut-ikutan kaget. Beda sekali dengan yang dipikirkannya tadi! Ekspetasi memang tidak sesuai dengan realita!

"A-apa katamu?! Kau serius?!" perempuan itu masih tidak percaya dengan jwaban Victor. Dia yakin telinganya salah mendengar tadi.

"Iya lady. Aku menyukaimu, tapi hanya sebatas teman." Jawab Victor. Membuat perempuan itu semakin down dengan jawaban Victor. Yuuri menganga mendengar jawaban Victor yang terdengar santai sekali keluar dari mulut pemuda itu. Apa pemuda berambut silver itu tidak memikirkan perasaan perempuan yang ada di depannya yang sekarang sudah berubah menjadi seongok arca tak bernyawa karena jawaban ala friendzone nya itu?

"Tapi kumohon jangan sedih lady." Victor menggenggam erat tangan perempuan itu. Membuatnya kembali ke alam sadar.

"Aku bukanlah lelaki yang pantas berada disampingmu. Kuharap kau menemukan lelaki yang lebih baik dariku. Dan aku harap kau tidak membenciku karena aku menolakmu. Kau adalah teman terbaikku, aku tidak ingin mengakhiri hubungan kita ini." Kata Victor dengan mata yang berkaca-kaca. Yuuri melongo melihat Victor. Pemuda berambut silver ini beneran menyesal atau tidak?

Lain Yuuri, lain lagi perempuan itu. Perempuan itu tersentuh dengan perkataan Victor. Hingga akhirnya matanya sekali lagi berkaca-kaca dan menggenggam balik tangan Victor.

"Aku mengerti Victor. Kalau kau menganggap aku teman, tidak apa-apa. Tapi kumohon jangan menangis. Kita akan tetap berteman selamanya." Jawab perempuan itu mantap. Lah? Ini kok malah jadi kebalik? Yuuri makin lelah dengan semua ini. Drama picisan yang dilihatnya tadi berubah menjadi stand up comedy baginya.

"Benarkah? Terima kasih lady. Kau telah memaafkanku." Jawab Victor dengan senyum sejuta watt nya. Perempuan itu kembali memerah. Tidak sadar kalau Victor melepaskan genggamannya dari tangannya.

"Nah lady, apa kau tidak lapar? Kau terlihat pucat dan kurus sekali. Sebaiknya kau pergi makan agar kau tidak sakit." Kata Victor. Dan sekali lagi perempuan itu tersentuh karena Victor perhatian padanya. Sepertinya dia sudah melupakan penolakan Victor tadi.

"Baiklah Victor. Kalau begitu aku pergi ke kafetaria dulu. Sampai jumpa!" kata perempuan itu kemudian pergi sambil melambai-lambaikan tangannya ke Victor dengan wajah yang berseri-seri. Victor balik melambaikan tangannya. Yuuri speechless melihat adegan absurb ini. Hancur sudah kesan romance dan hurt/comfort tadi. Sedih lihatnya.

Setelah perempuan itu tidak terlihat wujudnya lagi, suasana kembali hening. Entah kenapa Yuuri belum ada niatan untuk pindah dari tempat persembunyiannya. Dia merasa masih harus melihat apa yang akan dilakukan Victor setelah ini. Yuuri harus memastikan sikap Victor yang berubah-ubah tadi. Ada yang mencurigakan dari pemuda berambut silver ini.

"Cih!"

...

What?

Cih?

Siapa tadi yang ngomong?

Victor?

Serius?

Yuuri melotot ke Victor. Tadi itu beneran berasal dari mulut pemuda berambut silver ini?

"Apa-apaan tadi? Dasar wanita jalang. Bisa-bisanya dia bilang suka kepadaku sedangkan dia jelas-jelas terkenal sering berkencan dengan cowok lain."

WHAT?!

INI BENERAN VICTOR NIKIFOROV?!

BUKAN ORANG LAIN?!

Entah untuk keberapa kalinya Yuuri kaget. Menatap Victor dengan tidak percaya. Tidak menyangka Victor akan mengeluarkan kata-kata seperti itu. Dan kemana perginya ekspresi ramahnya tadi?! Kenapa ekspresinya jadi seram begini?! Jangan-jangan ekspresi yang dilihat Yuuri dari tadi pagi itu bohong semua! Sumpah demi apa?!

"Cih, bikin muak saja menghadapi wanita-wanita jalang seperti itu. Aku butuh pelampiasan untuk melepaskan amarahku!" muka Victor semakin seram. Yuuri menatap horror Victor layaknya iblis. Victor Nikiforov yang asli sangatlah seram. Sumpah, beneran kata pepatah yang sering didengar Yuuri. 'jangan menilai orang dari covernya' dan pepatah itu terbukti dengan nyata sekarang.

"Haaah... sepertinya aku harus mencari Yuuri."

DEG

Jantung Yuuri berhenti seketika.

Apa katanya?

Mencari Yuuri?

Untuk apa?

Yuuri merinding mendengar perkataan Victor. Untuk apa Victor mencarinya? Apa hubungannya dengan kekesalan Victor sekarang? Dan apa yang akan terjadi dengannya kalau bertemu dengan Victor disaat pemuda berambut silver itu sedang badmood? Apakah Victor akan membunuhnya? Tapi dibanding dengan itu semua...

KENAPA MESTI NAMA YUURI YANG DISEBUT?!

Entah Yuuri ke ge-eran atau bagaimana, Yuuri tahu kalau banyak nama 'Yuri' di dunia ini, tapi Yuuri yakin 'Yuri' yang disebut Victor adalah dirinya. Entah kenapa dia bisa seyakin itu. Firasatnya mengatakan seperti itu. Yuuri merasakan alarm tanda bahayanya berbunyi jika dia bertemu Victor sekarang.

'Aku harus kabur. Bahaya kalau aku ketahuan oleh kak Victor sekarang.' Yuuri pun mulai memundurkan badannya ke belakang (jadi dia tiarap tapi mundur ke belakang jalannya). Pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara sedikitpun. Agar tidak membuat pergerakan sekecil pun.

Sip, Victor tidak menyadari keberadaannya. Yuuri bisa kabur dengan selamat.

Tapi sayangnya, sepertinya dewi fortuna tidak berpihak kepadanya.

Disaat Yuuri masih merangkak mundur di semak-semak, Yuuri melihat ada lipan tepat di depan wajahnya - atau mungkin tepat di depan hidungnya- ketika Yuuri menunduk. Lipan itu seakan mengatakan 'hai' ke Yuuri yang membatu.

Dan akhirnya...

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Yuuri berteriak sekencang mungkin seperti cewek dan melompat. Perlu diberitahu, Yuuri bukannya takut dengan lipan, tapi siapa sih yang tidak kaget ketika kau menoleh dan menemukan makhluk panjang dan berkaki banyak tepat di depan wajahmu. Itu horror bung.

Victor yang hendak pergi tiba-tiba jantungan dengan teriakan kencang Yuuri dan langsung menoleh ke belakang. Dan alangkah terkejutnya dia begitu melihat Yuuri duduk diantara semak-semak. Tunggu dulu, sejak kapan Yuuri ada disana? Apa dia daritadi bersembunyi disana dan menguping pembicaraan tadi?

"Katsuki Yuuri?" tanya Victor memastikan. Yuuri yang shock malah bertambah shock ketika Victor memanggilnya. Niatnya ingin kabur diam-diam, tapi gara-gara lipan terkutuk itu Yuuri jadi ketahuan. Sekarang bagaimana? Kalau ditanya Victor sejak kapan dia ada disini Yuuri mau jawab apa? Mengintip plus menguping pembicaraan tadi? Bisa dibunuh beneran dia.

"Eh...eh... hai...kak Victor..." sapa Yuuri terbata-bata. Oh my god! Yuuri mati kutu sekarang! Mau kabur tapi gak bisa! Mau diam aja bisa-bisa dibunuh! Victor mendekati Yuuri tanpa melepas pandangannya dari Yuuri. Yuuri merinding disko seketika. Heck... pasokan oksigennya semakin lenyap tatkala Victor semakin mendekat.

Victor berjongkok di depan Yuuri. Menatap Yuuri dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Yuuri mandi keringat dingin. Wajahnya pucat seperti orang mati. Dalam hati Yuuri berdoa, berharap Victor tidak bertanya macam-macam kepadanya.

'Kami-sama, aku tahu aku telah nakal karena mengintip dan menguping pembicaraan orang. Aku siap menerima hukuman apapun asalkan jangan orang yang berada di depanku ini yang menghukumku.' Batin Yuuri mengulang doa yang sama terus menerus. Plus ditambahi mantra-mantra.

"Apa yang kau lakukan disini?"

DEMI APA DIA BENERAN NANYA HAL YANG PALING YUURI TAKUTI SEKARANG?!

(Ya iyalah Yuuri. Dimana-dimana kalau ada orang yang nongol tiba-tiba kayak hantu pasti bakal ditanya seperti itu.)

"Eh... ti-tidur?" Yuuri salah mengambil nada bicara. Bukannya menjawab tapi malah bertanya. Sip, Yuuri terdeteksi sebagai orang yang payah dalam berbohong.

Victor tertawa kecil mendengar jawaban Yuuri. Bukannya terpesona dengan tawa ganteng itu, Yuuri semakin horror mendengarnya. Baginya sekarang tawa Victor terdengar seperti tawa seorang iblis.

"Aku bertanya kepadamu, kenapa kau malah bertanya balik." Kata Victor geli. Yuuri hanya memasang senyum kaku. Plis, tolong cepat selesaikan suasana mencekam ini. Yuuri tidak tahan lagi.

"Eh... ahahaha... iya juga ya..." jawab Yuuri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Victor tersenyum. Bukan senyum ramah yang tadi tapi senyum... yaaah kau tahulah bagaimana senyumnya orang yandere.

Glek

Yuuri kesulitan menelan ludahnya sendiri. Bagaimana ini? Apa dia akan dibunuh oleh Victor?

"Kau lihat yang tadi kan?" tanya Victor dengan nada rendah yang membuat Yuuri semakin takut. Yuuri merasa suaranya hilang hanya dengan mendengar nada rendah Victor. Matanya membelalak takut. Wajahnya semakin pucat begitu melihat Victor.

"Aku tanya sekali lagi, kau lihat yang tadi kan?"

"I-iya..."

"Semuanya?"

"I-iya..."

"Berarti... kau tahu sifat asliku kan?"

Yuuri mengangguk kecil. Aduh mami, rasanya Yuuri pengen nangis sekarang.

"Heh... tidak kusangka kau akan mengetahuinya secepat ini. Hebat juga kau Yuuri. Kau orang pertama yang mengetahui sifat asliku." Kata Victor yang sudah mulai terlihat santai. Merasa hawa mencekam tadi mulai berkurang, Yuuri bertanya kepada Victor.

"Kenapa... kau menyembunyikan sifat aslimu?"

"Huh?" Victor menaikkan sebelah alisnya. Tidak menyangka Yuuri akan bertanya seperti itu.

"Kenapa katamu? Karena aku ingin." Jawab Victor santai.

Yuuri jadi kesal mendengar jawaban Victor. Rasa takut yang dirasakannya tadi hilang sepenuhnya. Yuuri menatap Victor dengan berani.

"Karena ingin katamu? Emangnya apa gunanya kau menyembunyikan sifat aslimu itu? Kau takut dijauhi orang-orang karena sifatmu aslimu yang ternyata sangat menyebalkan itu? Takut imagemu hancur sebagai pangeran di tempat ini? Bukankah hal itu justru merepotkanmu?" Yuuri berceloteh panjang. Tidak peduli bahwa orang yang sedang diajak bicaranya ini adalah seniornya. Dan lupa bahwa dia sempat takut dengan seniornya ini tadi.

Iris biru saphire Victor sedikit melebar. Terkejut dengan perkataan Yuuri. Tapi sedetik kemudian Victor memasang evil smilenya.

"Heeee... Yuuri berani sekali ya. Padahal tadi kau terlihat begitu penakut dan pemalu." Kata Victor semakin mendekatkan diri ke Yuuri. Yuuri ingin mundur tapi tangan kanan Victor menahan punggungnya. Wajahnya dan wajah Victor jaraknya hanya tinggal beberapa centi. Yuuri yakin, jika Victor maju sedikit lagi bibir mereka akan berciuman.

"A-apa-apaan kau?! Menjauh sana!" Yuuri berusaha mendorong dada Victor, tapi pemuda berambut silver itu lebih kuat dari Yuuri. Victor semakin merapatkan badannya ke badan Yuuri. Benar-benar posisi yang sangat ambigu jika dilihat orang. Oh my god! Situasi macam apa ini?! Batin Yuuri pilu.

"Waw, bahkan kau sekarang memanggilku dengan sebutan 'kau'. Padahal tadi kau memanggilku 'kak Victor'."

"Lepaskan aku! Atau aku akan berteriak!"

"Silahkan saja. Aku bisa dengan mudah membungkammu." Jari telunjuk Victor berada di bibirnya. Sip, Yuuri kembali merasa horror. Situasi ini membuatnya seperti seorang gadis yang akan diperkosa.

"Yuuri mau mencobanya denganku?" sekarang tangan kiri Victor berada di belakang kepala Yuuri. Mulai mendorong kepala Yuuri semakin mendekat ke Yuuri sontak memerah. Oh oh oh! Masa sih Victor beneran mau melakukannya?!

5 cm lagi...

Yuuri megap-megap.

4 cm lagi...

Hidung mereka sudah bersentuhan.

3 cm lagi...

Yuuri kehabisan napas duluan.

2 cm lagi...

Bibir mereka mulai bersentuhan.

1 cm lagi...

...

CUKUP! YUURI SUDAH TIDAK TAHAN!

DUAK

BRUAGH

Dengan tenaga dari dewa, Yuuri membenturkan dahinya ke dahi Victor dan mendorongnya hingga Victor terjungkal ke belakang dengan tidak elitnya. Good job, Yuuri.

"DA-DASAR MESUM! KAU NYARIS MELAKUKAN PELECEHAN KEPADAKU! AKAN KUBONGKAR SIFAT ASLIMU KE ORANG-ORANG BIAR KAU DIBENCI OLEH MEREKA!" teriak Yuuri dengan wajah memerah kayak tomat dan dia segera berlari meninggalkan Victor yang terbaring dan memegang dahinya karena benturan dari kepala batu tadi.

Setelah Yuuri pergi, Victor baru mengubah posisinya menjadi duduk. Tangannya masih setia mengusap dahinya yang sepertinya memar. Oh no, dahi indahnya jadi cacat.

"Akh... sakit banget. Kepala Yuuri benar-benar seperti batu." Victor meringis kesakitan. Tidak menyangka Yuuri akan membenturkan kepalanya tadi. Tahu gini, mending Victor tidak usah slow motion melakukan hal tadi.

"Hm? Apa ini?" Victor melihat buku catatan kecil bewarna hitam di sampingnya. Dia mengambilnya dan melihat isinya. Setelah membaca beberapa halaman di dalamnya, Victor menyeringai. Ditutupnya buku catatan itu dan memasukkannya ke dalam kantong celananya. Dia berdiri, menepuk-nepuk celana dan bajunya yang sedikit kotor karena jatuh ke semak-semak.

Victor menegakkan badannya sambil menyisir rambutnya ke belakang. Membuatnya semakin terlihat tampan. Victor menatap ke arah dimana Yuuri kabur tadi. Seringainya masih belum lepas dari wajah gantengnya.

"Kau tidak akan bisa kabur dariku lagi, Yuuri."

.

.

.

"AAARRRGGGHHH! APA-APAAN TADI?! AKU NYARIS SAJA DILECEHKAN OLEH MAKHLUK MESUM ITU!" Yuuri berteriak dengan OOC nya sambil menjambak rambutnya.

Begitu kabur dari Victor, Yuuri segera berlari ke apartemennya (melupakan bahwa dia seharusnya masih berada di kampus). Membanting pintu kamarnya dan membaringkan dirinya di kasur sambil guling-guling tidak jelas. Wajah Yuuri kembali memerah mengingat adegan 'hampir' tadi. Entah itu memerah karena marah atau malu.

"Bisa-bisanya aku sempat menyukai orang itu! Untung juga aku tahu sifat aslinya jadi aku tidak perlu menyukainya yang membohongi publik itu!" mulut Yuuri tidak berhenti berceloteh. Disaat dia masih ber ba bi bu ria, tiba-tiba Yuuri membisu. Dia duduk dan memegang dadanya, merasakan detak jantungnya yang sangat cepat.

"Ke-kenapa aku ini?! Aku masih deg-degan saat Victor nyaris menciumku tadi. Ukh! Kenapa aku merasa senang saat dia nyaris menciumku tadi?! Sadarlah Yuuri!" Yuuri melanjutkan aksi gilanya. Membaringkan diri dan guling-guling tidak jelas. Hingga aksi gilanya itu terhenti karena mendengar bunyi bel.

Ting tong

"Eh? Siapa itu?" dahi Yuuri mengeryit heran. Siapa yang berbaik hati mengunjunginya? Apa tetangganya? Yaah, Yuuri memang belum menyapa tetangganya dari kemarin sih. Merasa tidak sopan karena belum menyapa tetangga, Yuuri turun dari kasurnya dan menuju pintu depan.

Cklek

"Iya? Sia-"

"Hai Yuuri."

BRAK

Yuuri menutup pintunya begitu melihat seonggok makhluk berambut silver muncul di depan pintu kamar apartemennya. Yuuri memijit dahinya, berharap dia hanya berhalusinasi tadi. Setelah melakukan metode penenangan diri, Yuuri kembali membuka pintunya perlahan.

"Hey Yuuri, kau tidak sopan sekali."

BRAK

Sekali lagi Yuuri menutup pintunya. Rupanya dia tidak salah lihat! Victor beneran ada di depan pintu kamar apartemennya sekarang! Kenapa pula Victor tahu tempat tinggalnya?! Tahu dari mana dia?!

"Yuuri! Buka pintunya!" Victor menggedor-gedor pintu kamar apartemennya Yuuri.

"NO!" jawab Yuuri yang menahan pintunya dengan punggung. Takut pintunya bisa jebol hanya karena gedoran Victor yang semakin mengganas.

"Buka pintunya Yuuri! Kau mau buku catatan kecilmu ini aku sebarkan ke orang-orang?!"

DEG

Apa katanya?

Buku catatan kecil?

Yuuri mengecek kantong celananya yang kini kosong.

Seketika Yuuri kembali memasang tampang horror.

"Kalau kau tidak mau membuka pintumu sekarang, aku akan me-"

"JANGAN!"

Yuuri membuka pintunya dan Victor memasang senyum kemenangan.

Kena kau, Katsuki Yuuri.

.

.

.

Yuuri bertanya-tanya, dosa apa dia selama ini sampai-sampai dia terjebak dalam situasi sial ini? Seingat Yuuri, dia adalah anak yang berbakti dan tidak pernah melawan orang tua. Lalu kenapa dia sial begini. Apa ini hukuman karena mengintip pembicaraan orang tadi? Tapi hukumannya terlalu kejam kalau kayak gini.

"Apa kau tidak mempunyai niat untuk menghidangkan teh ke tamumu ini?" tanya pelaku yang tadi menggedor pintunya dan dengan seenak jidat masuk ke dalam kamar apartemennya.

Yap, disinilah Yuuri dan Victor duduk berhadapan di sofa kecil. Yuuri memandang keki orang yang berada di hadapannya sekarang. Victor yang dipandang seperti itu hanya tersenyum santai sambil menopang kepalanya dengan tangan.

"Tidak usah basa-basi. Cepat katakan apa urusanmu kesini?" tanya Yuuri bete. Berharap Victor cepat pergi dari tempatnya.

"Kasar sekali sih. Aku sudah berbaik hati mengantarkan bukumu dan kau membalasnya dengan seperti ini? Tidak pernah diajar sopan santun ya?" Victor mendengus. Yuuri skakmat ditempat. Apa yang dikatakan Victor ada benarnya. Tapi dia merasa tidak perlu bertingkah laku sopan ke pelaku pelecehan sesksual beberapa saat yang lalu.

"Baiklah, maafkan aku. Dan terima kasih karena sudah mengantarkan bukuku. Sudah puas sekarang? Apa kau bisa meninggalkanku?" tanya Yuuri.

Victor tertawa. Perempatan muncul di pelipis Yuuri. Apanya yang lucu hah?!

"Yuuri Yuuri, kau polos sekali. Kau pikir aku akan begitu saja mengembalikan bukumu dan pergi? Aku butuh imbalan atas kebaikan hatiku ini."

Kami-sama, bolehkah Yuuri meninju wajah ganteng tapi luar biasa menyebalkan itu sekarang? Itu namanya bukan baik hati! Ngelakuin kebaikan karena ada maunya doang! Tidak ikhlas tuh namanya!

Yuuri menggenggam tangannya erat-erat. Berusaha menahan diri untuk tidak melayangkan tinju ke Victor. Dia tidak mau melakukan hal itu. Dia masih anak yang baik dan tidak pernah main kasar ke orang-orang. Itu bukan ajaran dari sang mama dan papa. Dia masih ingin menjadi anak yang taat dan patuh kepada perintah orang tua.

"Baiklah, apa yang kau inginkan?" tanya Yuuri yang sudah lelah berdebat dengan Victor. Ingin ini semua cepat berakhir.

Victor tersenyum kemenangan. Semua berjalan sesuai rencananya.

"Aku ingin kau menjadi pelayanku."

"Hah?"

Yuuri memandang Victor dengan tatapan tidak percaya. Dia bukannya salah mendengar, Yuuri yakin dia mendengar dengan jelas apa yan dikatakan oleh Victor. Tapi dia ingin memastikan apakah Victor serius atau tidak. Dan sepertinya tidak ada tanda-tanda bercanda sedikitpun yang ditunjukkan oleh Victor.

"Kau serius?"

"Apa wajahku terlihat bercanda?"

Yuuri meneguk ludah. Demi apa dia harus menjadi seorang pelayannya Victor Nikiforov?!

"Dan bukan hanya untuk beberapa hari lho, tapi sampai kau lulus dari sini." Kata Victor yang ambah membuat Yuuri shock.

SAMPAI DIA LULUS DARI SINI?! ITU BERARTI MASIH ADA SEKITAR 4 TAHUNAN LAGI?!

"Tunggu dulu! Ini tidak seimbang dengan imbalan yang kau minta! Kau hanya mengantarkan bukuku, dan kau meminta imbalan dengan menjadikanku sebagai pelayanmu sampai aku lulus?! Jangan bercanda!" protes Yuuri. Dia tidak terima dengan permintaan Victor. Itu terlalu berlebihan.

"Heee... aku menjaga rahasiamu yang kau tulis di dalam buku ini. Seimbang bukan?"

"Kalau soal rahasia, aku bisa saja membocorkan sifat aslimu ke orang lain!"

"Silahkan saja kalau bisa. Kau pikir mereka akan percaya dengan omonganmu? Seorang Victor Nikiforov yang terkenal ramah dengan semua orang mempunyai sifat yang buruk? Siapa yang akan percaya dengan lelucon seperti itu? Sadarlah Yuuri! Kau itu hanya sekedar mahasiswa baru yang tidak ada apa-apanya. Yang ada kau hanya akan dibully karena berani menjelek-jelekkan sang idola kampus."

Yuuri terdiam. Apa yang dikatakan Victor benar juga, meski ada bumbu bumbu narsis di dalam perkataannya. Yuuri hanya mahasiswa biasa. Bisa jadi bukannya orang-orang akan percaya dengan omongan, tapi malah akan membully nya. Tidak, Yuuri tidak mau dibully. Perempuan akan sangat menyeramkan jika sudah membully seseorang. Belum lagi jika laki-laki yang juga ngefans sama Victor ikut membully nya. Bisa-bisa Yuuri selalu berakhir dengan luka-luka lebam di sekujur tubuh.

"Ditambah lagi jika kau membocorkan sifat asiku, saat itu juga aku akan membocorkan rahasiamu juga. Orang-orang akan percaya dengan omonganku daripada mempercayai omonganmu. Kau mau hal itu terjadi? Pembully anmu akan semakin bertambah lho."

Yuuri semakin menciut dengarnya. Sekali lagi perkataan Victor benar. Jika fans Victor akan membully nya karena telah menjelekkan Victor, ditambah lagi jika Victor membocorkan rahasia Yuuri yang sangat memalukan itu, bisa-bisa seumur hidup dia kan bulan-bulanan di kampusnya. Yuuri tidak ingin opsi terburuk itu terjadi padanya.

'Sepertinya aku tidak punya pilihan lain.' Batin Yuuri pasrah. Mau tidak mau Yuuri harus menerima permintaan Victor kalau ingin selamat.

"Jadi? Bagaimana Yuuri?" tanya Victor. Meski dia sudah tahu jawabannya apa.

Yuuri menghela napas panjang. Matanya yang terpejam tadi dia buka perlahan-lahan dan menatap Victor. Senyum Victor semakin melebar begitu melihat mata hazel Yuuri.

"Baiklah. Aku setuju."

Victor tidak bisa menahan rasa senangnya. Dengan cepat Victor beranjak dari kursinya dan memeluk Yuuri dengan erat. Membuat Yuuri kaget dengan pelukan mendadak Victor. Sungguh aksi yang sangat tidak terduga.

"Nah, begitu dong. Mulai sekarang kau resmi menjadi pelayanku. Apapun permintaanku harus kau turuti, ok?" tanya Victor menatap wajah Yuuri lekat. Yuuri kembali dibuat deg-degan oleh Victor. Sadar kalau wajahnya akan memerah, Yuuri segera menundukkan kepalanya, tidak ingin Victor melihat wajah merahnya.

"Ba-baiklah."

"Hmm... aku ingin kau menjawab seperti ini 'baiklah, Victor-sama'. Seperti pelayan-pelayan Jepang jika dia menyebut nama tuannya. Aku tidak salah bahasa kan?" kata Victor yang berusaha mengingat-ingat bahasa Jepang yang dia ketahui.

"Eh... i-iya." Jawab Yuuri. Tidak memprotes perkataan Victor. Dirinya masih deg-degan karena Victor masih belum melepaskan pelukannya.

"Nah, mana jawabanmu?"

"Ba-baiklah... Victor-sama." Wajah Yuuri semakin memerah karena memanggil Victor dengan sebutan 'sama'. Meski Yuuri menundukkan wajahnya, Victor bisa tahu kalau wajah pemuda berkacamata itu memerah. Bisa dilihat dari telinganya yang ikutan merah.( Aah~ kawaiinya)

"Ah, satu lagi." Victor masih belum melepaskan pelukannya. Entah kenapa memeluk Yuuri itu sangat enak baginya.

"Apa?"

"Di kampus nanti, aku ingin kau bersikap dingin kepadaku."

"Hah?" Yuuri menaikkan sebelah alisnya. Kenapa pula Victor meminta hal seperti itu?

"Pokoknya kau harus bersikap dingin kepadaku. Tunjukkan kalau kau sangat saja, mereka tidak akan membully mu selama kau tidak menjelek-jelekkanku."

"Tapi, kenapa aku harus melakukan hal itu?" tanya Yuuri yang masih belum menemukan titik terang dari permintaan aneh Victor.

"Sudahlah, kau akan tahu nanti. Intinya kau harus melakukannya."

"Haah... baiklah Victor-sama." Yuuri malas berdebat, jadi dia lebih memilih diam saja. Toh, dia juga akan tahu hal itu nanti.

"Ok, kalau begitu aku ke kamarku dulu. Sebentar lagi makan siang, masak yang enak-enak ya. Soalnya aku lagi malas masak di kamar" kata Victor yang baru saja melepaskan pelukannya dari Yuuri.

"Kenapa mesti makan di rumahku? Apa kau tidak capek pulang balik dari rumahmu ke rumahku?" tanya Yuuri bingung. Untuk apa Victor menghabiskan tenanganya hanya untuk makan di rumah Yuuri?

"Hee, aku belum bilang ya? Kamar kita itu bersebelahan lho. Penghuni kamar yang ada disebelahmu itu aku." Jawab Victor dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya dan mengedipkan sebelah matanya.

Yuuri menganga. Victor tinggal di sebelahnya?! Jadi tetangga yang belum ada dia sapa dari kemarin-kemarin itu Victor?! Jadi kamarnya bersebelahan dengan sang idola kampus sekaligus orang yang menjadikannya pelayan?! Kenapa takdir begitu senang mempermainkannya?!

Tapi kalau begini, Yuuri bisa saja membocorkan tempat tinggal Victor ke fans-fansnya. Tidak ada yang tahu kan dimana tempat tinggal Victor? Kalau Yuuri beritahu fansnya Victor, siapa tahu-

"Kuharap kau tidak memberitahu tempat tinggalku ke orang-orang Yuuri. Atau kau akan tahu akibatnya." Kata Victor dengan evil smilenya.

Sip, Yuuri tidak jadi menjalankan rencananya.

"Baiklah, aku pulang dulu ya. Jangan lupa makan siangnya." Kata Victor kemudian keluar dari kamar apartemen Yuuri. Yuuri yang melihat kepergian Victor hanya bisa melongo. Seolah-olah yang barusan terjadi hanyalah mimpi belaka.

Disaat Yuuri ingin kembali ke kamarnya untuk tidur, tiba-tiba Victor kembali membuka pintu yang belum sempat Yuuri kunci tadi.

"Satu lagi, aku ingin kau diet. Aku tidak mau mempunyai pelayan gendut. Dan aku minta kunci duplikat apartemenmu biar aku bisa bebas masuk. Repot kalau aku ingin masuk tapi kau malah menguncinya. Ok, hanya itu saja. Dasvidaniya Kobuta-chan~~"

Belum sempat Yuuri memproses perkataan Victor yang begitu cepat, pemuda berambut silver itu sudah menutup pintu. Yuuri kembali melongo ditempat. Otaknya masih memproses apa yang baru saja Victor katakan tadi.

10 %...

50 %...

100 %...

"JANGAN PANGGIL AKU KOBUTA, VICTOOOOORRRR!"

Teriakan Yuuri membahana sampai orang-orang luar bisa mendengarnya. Sedangkan pemuda berambut silver yang berada di samping kamarnya hanya bisa tertawa mendengar teriakan nyaring itu.

Kesenangannya baru saja dimulai.

.

.

.

Yuuri menghela napas panjang begitu mengingat masa lalu kelamnya. Andai saja dia tidak teledor waktu itu, mungkin saja hidupnya masih aman sentosa sekarang. Tai mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Yuuri tidak bisa mengulang kembali kesalahan yang dia buat dimasa lalu.

Sadar membuat Maccachin terlalu lama menunggu, Yuuri pun segera memakai mantelnya dan keluar dari kamar tidurnya.

Dan pemandangan yang dilihatnya begitu keluar dari kamar tidur sungguh mengejutkan.

"VICTOR?!"

Yuuri menunjuk Victor yang sedang duduk di sofa sambil memeluk Maccachin. Melambaikan tangannya ke Yuuri, mengabaikan ekspresi kaget dari pemuda berkacamata itu.

"Hai."

"KENAPA KAU ADA DISINI?! BUKANNYA KAU PULANG KE RUMAH?!" Yuuri kaget bukan main. Jelas-jelas Victor bilang dia sedang pulang ke rumah dan tiba-tiba wujudnya muncul di kamar apartemennya. Apakah Yuuri sedang berhalusinasi?

"Aku memang pulang ke rumah. Tapi aku tidak bilang kalau aku akan lama di rumah bukan?" jawab Victor santai. Dia mengelus-ngelus kepala Maccachin.

"Kenapa kau cepat sekali kembali? Kau baru saja pergi semalam dan pulang kembali pagi ini? Kukira kau akan lama di rumahmu."

"Dari bicaramu, kau ingin sekali aku pergi lama-lama. Dengar ya, aku tidak suka di rumahku. Lagipula aku kangen dengan Maccachin." Victor mencubit pipi Maccachin dan memeluknya dengan erat. Maccachin pun ikut-ikutan memeluk Maccachin. Saling melepas rindu walau hanya berpisah beberapa jam. Tidak sampai sehari malah.

Yuuri menggelengkan kepalanya melihat adegan kiss and cry yang ada di depannya. Dramatis banget ya. Bagus dijadikan drama lebay nih. Victor benar-benar berbakat menjadi seorang aktor.

"Lagipula... aku juga kangen denganmu, Yuuri."

"Hah?" Yuuri menoleh mendengar gumaman Victor yang tidak terdengar jelas. Dia menoleh ke Victor yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.

"Kau bilang apa tadi?"

"Nandemonai yo~" jawab Victor yang kembali memasang wajah cerianya dengan senyum berbentuk hati. Semenjak tinggal dengan Yuuri, Victor semakin mahir berbahasa Jepang. Meski hanya satu kata dua kata saja dan logatnya masih belum terlalu bagus. Karena Yuuri malas menanyakannya lagi dengan Victor, Yuuri lebih memilih diam saja.

"Kau tidak mau minum teh?" tanya Yuuri menuju dapur.

"Waw, ada apa ini? Kok tiba-tiba baik?" tanya Victor dengan nada super mengejek. Membuat perempatan muncul di pelipis Yuuri. Kemarin-kemarin tidak ditawari minum protes, sekarang giliran berbaik hati ditawari minum malah ngejek. Maunya apa sih makhluk satu ini?

"Bawel, terima aja nih." Kata Yuuri sambil meletakkan secangkir teh di meja. Kemudian dia duduk di sofa depan Victor.

"Tidak ada racunnya kan?" tanya Victor dengan wajah curiga. Yuuri benar-benar ingin melempar cangkir teh yang masih panas itu ke muka Victor.

Melihat wajah kesal Yuuri, Victor tertawa.

"Bercanda kok. Jangan dibawa serius." Kata Victor kemudian meminum tehnya. Yuuri diam melihat Victor. Kalau Victor lagi seperti ini, dia tidak ada bedanya dengan Victor yang biasa dilihat orang-orang. Siapapun yang melihat Victor seperti ini tidak akan percaya Victor yang sesungguhnya itu sangat menyebalkan.

"Kenapa melihatku terus? Terpesona dengan wajah gantengku ya?" Victor mulai narsis. Yuuri ingin muntah saat itu juga.

"Idih, amit-amit."

"Hahaha, kau tidak jujur Yuuri."

"Apaan sih?!"

Baru Yuuri ingin protes lebih lama lagi, Victor berdiri dari tempatnya dan menuju ke dapur. Beberapa saat kemudian Victor keluar dari dapur dan langsung menuju pintu keluar.

"Aku ke kamarku dulu ya. Sepertinya kau ingin mengajak Maccachin jalan-jalan, jadi kita pergi nanti siang." Kata Victor yang berada di depan pintu keluar.

"Eh? Kau juga ikutan pergi?"

"Tentu saja. Maccachin adalah peliharaanku. Apa aku tidak boleh ikutan?"

"Yaah, bukan begitu sih." Yuuri menggaruk belakang kepalanya. Entah kenapa begitu mendengar bahwa Victor akan ikutan pergi, Yuuri jadi deg-degan sendiri. Kesannya seperti kencan eh?

"Yuuri." Panggil Victor.

"Kenapa?"

"Kau makan dengan teratur? Badanmu kurus sekali."

Yuuri mengerjap bingung. Victor menanyakan keadaannya? Tidak salah dengar tuh? Sejak kapan pemuda berambut silver ini khawatir dengannya? Seingat Yuuri Victor tidak pernah perhatian padanya sejak 8 bulan yang lalu ini. Jadi, ada angin apa sampai-sampai Victor menanyakan keadaan Yuuri?

"Yaah begitulah. Memangnya ini gara-gara siapa sampai makanku tidak teratur?" jawab Yuuri sedikit menyindir Victor.

"Hee... begitu ya." Victor memasang wajah datar. Tapi Yuuri bisa melihat ada raut sedih diwajah ganteng itu. Yuuri semakin tidak mengerti, ada apa dengan Victor sampai-sampai dia berubah seperti ini. Apa yang terjadi padanya?

"Yuuri, aku ingin bertanya padamu." Victor menatap Yuuri dengan intens, Yuuri hanya bisa diam dan mengangguk kecil.

"Saat aku pergi, apa kau merindukanku?"

Nah loh, pertanyaan macam apa ini? Beneran deh, Victor kesambet apa sampai-sampai bertanya seperti ini? Yuuri beneran tidak ngasih racun ke tehnya Victor kan?

Yuuri jadi gugup sendiri karena ditanya seperti itu oleh Victor. Dia melihat Victor yang masih menatapnya dengan intens. Aduh, mau sampai kapan Victor menatap Yuuri seperti itu? Ini benar-benar berbeda dari Victor yang biasanya! Ada apa sih dengan Victor?

Yuuri bingung menjawab pertanyaan Victor.

Apa dia merindukan Victor?

Soal itu...

...

...

...

"Ti-tidak tuh. Aku sama sekali tidak merindukanmu."

Victor sedikit melebarkan matanya begitu Yuuri menjawab. Keheningan pun kembali melanda. Victor tidak berbicara sama sekali. Dia hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya ke bawah. Yuuri jadi khawatir dengan keadaan Victor. Saat dia ingin bertanya ke Victor, pemuda perambut silver itu sudah berbicara duluan.

"Baguslah. Dengan begitu aku bisa lama-lama meninggalkanmu. Jadi aku tidak perlu repot-repot kembali hanya karena kau tidak bisa berpisah denganku ya." Kata Victor dengan wajah cerianya.

Yuuri terdiam. Lah? Jadi maksudnya Victor bertanya seperti itu hanya untuk memastikan hal itu saja? Yuuri jadi menyesal telah khawatir ke Victor.

"Apa-apaan sih! Pergi saja jauh-jauh! Tidak usah kembali kalau perlu!" kata Yuuri. Dia menolehkan kepalanya ke samping sambil menggembungkan pipinya. Tidak menyadari bahwa ekspresi wajah Victor semakin terlihat sedih saat Yuuri berkata seperti itu.

"Aku ke kamar dulu ya." Victor langsung membalikkan badannya dan membuka pintu keluar. Sesaat sebelum pintu tertutup, Victor menoleh kebelakang, menatap Yuuri sekali lagi.

"Makan yang banyak ya, Kobuta-chan~"

Brak

Dan pintu pun tertutup.

Yuuri menghela napas, lagi-lagi Victor memanggilnya Kobuta-chan disaat mau Victor pergi meninggalkan Yuuri. Oh plis, tadi Victor sendiri yang bilang Yuuri kurusan, tapi sekarang Victor memanggil Yuuri Kobuta. Yuuri benar-benar tidak habis pikir dengan Victor. Terkadang sifat pemuda berambut silver itu berubah-ubah. Yuuri jadi bertanya-tanya, Victor itu tidak memiliki kepribadian ganda kan?

Merasa haus, Yuuri pun menuju dapur untuk mengambil minum. Begitu tiba di dapur, Yuuri kaget melihat ada bungkusan di atas mejanya. Siapa yang meletakkan bungkusan ini disini? Yuuri pun teringat saat Victor tadi sempat masuk ke dapurnya sebelum pemuda berambut silver itu keluar dari tempatnya. Penasaran dengan isi bungkusan itu, Yuuri mengambilnya dan melihat isinya.

"Eh? Pirozhki?" Yuuri mengambil satu pirozhki itu dari kantongnya.

Pirozhki adalah makanan kesukaan Yurio, sepupunya Victor. Apa Victor mendapatkannya saat pulang ke rumahnya ya? Tapi seingat Yuuri, Yurio itu sangat pelit kalau sudah menyangkut hal yang disukainya. Victor saja pernah dimarahi Yurio karena memakan pirozhkinya Yurio, lalu kenapa Victor bisa membawa pirozhki kesini? Atau jangan-jangan Victor membelinya di jalan?

Ah, apapun itu Yuuri malah memikirkannya. Masalahnya sekarang adalah kenapa Victor memberikannya pirozhki?

"Kau makan dengan teratur? Badanmu kurus sekali."

"Makan yang banyak ya, Kobuta-chan~"

Yuuri teringat dengan perkataan Victor tadi. Masa sih Victor memberikannya makanan karena Yuuri terlihat kurus sekali. Sekhawatir itukah Victor dengannya?

Tapi kalau memang benar karena Victor khawatir dengannya...

Deg

Yuuri memasukkan pirozhki ke mulutnya dengan perlahan lalu menggigitnya.

Deg

Yuuri mulai mengunyah pirozhki itu.

Deg

"Saat aku pergi, apa kau merindukanku?"

Jantung Yuuri berdegup kencang. Tangan kirinya memegang dadanya.

"Victor no baka."

Yuuri menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Wajahnya memerah.

"Apa kau merindukanku?"

"Tentu saja aku merindukanmu."

.

.

.

Tepat disebelah kamar Yuuri, pemuda berambur silver tengah berbaring di kasurnya. Dia menutup matanya dengan tangannya. Anjing pudel yang berada di sampingnya pun tidak dihiraukannya sama sekali. Pikirannya masih terfokus dengan pemuda berkacamata yang ditemuinya tadi.

"Ti-tidak tuh. Aku sama sekali tidak merindukanmu."

"Begitu ya. Dia sama sekali tidak merindukanku."

Victor mengubah posisinya menjadi duduk. Tangannya masih menutup matanya. Kepalanya menunduk. Terlihat ekspresi sedih di matanya.

"Sudah saatnya kau meninggalkannya, Vitya."

Tangan Victor terkepal erat dan memukul tembok yang berada di sampingnya. Wajah sedihnya hilang digantikan dengan marah. Suasana dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi mencekam. Aura gelap yang dikeluarkan Victor sangat kuat. Membuat Maccachin yang berada di samping Victor menjauhinya karena aura gelap dari sang majikan. Victor benar-benar marah sekarang.

Victor Nikiforov kembali ke sifat aslinya.

Satu-satunya sifat yang belum pernah dilihat oleh Yuuri.

"Tidak akan..."

Victor semakin mengepalkan tangannya.

"Sampai kapanpun... apapun yang terjadi..."

Victor kembali meninju dinding yang sekarang sedikit retak.

"Aku tidak akan meninggalkan Yuuri lagi."

.

.

.

TBC


SELESAAAAAIIIII! AKHIRNYA TERKUAK JUGA KENAPA YUURI DAN VICTOR BISA SEPERTI ITU! Btw, kenapa Victor bisa mengenal Yuuri yaaa? Kira-kira rahasia Yuuri apa yaaa? Dan kenapa ada seseorang yang menyuruh Victor untuk meninggalkan Yuuri yaaa? Dan apa maksud Victor tidak akan meninggalkan Yuuri LAGI yaaa?

Semua itu akan terjawab di chapter mendatang!

Astaga, author gak nyangka bakal sepanjang ini jadinya. 23 halaman lho! Padahal niat awalnya hanya pengen 8-9 halaman. Sempat-sempatnya author ngetik chapter ini padahal author masih UTS :"v

Kebanyakan percakapannya ya? Author memang tidak pandai menjelaskan dalam bentuk kata-kata sih. Ini pun author kehabisan ide untuk chapter ini. Yaah, author tetap minta kritik dan sarannya supaya bisa lebih baik lagi untuk kedepannya

Verochi chan: Hohoho, author demen Victor yandere. Dan author akan mengabulkan harapanmu itu. Karena nanti akan ada adegan dimana Victor menyiksa seseorang yang dekat dengan Yuuri. Tapi tidak sampai parah banget karena ini bukan FF gore.

Hiro Mineha : Kenapa Yuuri tidak boleh masuk kamar Victor yaaa? Nanti akan author ceritakan. Dan orang yang akan melihat kamar Victor adalah Yuuri sendiri! Tapi itu masih agak lama.

Shin : Eeh! Beneran ngena banget ya?! Senangnyaaaa! Ke yandere an Victor akan semakin terlihat di chapter mendatang!

Nanaho Haruka : Iyaaa! Victor yandere memang sesuatu banget! Tenang, di FF ini bukan hanya Yuuri yang tersiksa, tapi Victor juga akan tersiksa!

Karen Ackerman : Pertanyaanmu sudah terjawab setengahnya di chapter ini~ hohoho, rahasia Yuuri masih belum bisa author kasih tahu. Sabar saja ya. Iya nih, author memang lemah di bahasa, jadi masih aneh kalimatnya. Tapi author akan berusaha keras agar FF ini semakin bagus.

TERIMA KASIH BUAT REVIEWNYAAAA! Doakan semoga author tetap rajin ngetik FF nya. Tidak berhenti di tengah-tengah seperti FF author yang dulu-dulu TT_TT

Sekian dari author, dasvidaniyaaa~~