Bab 2
"Selamat Tinggal" & "Selamat Datang"
Tak terasa sudah hampir setahun terlewati sejak ingatan diriku yang dulu kembali. Kali ini aku sudah benar-benar terbiasa dan nyaman dengan kehidupanku yang sekarang. Bangun pagi untuk bersih-bersih, mandi, sarapan bersama, bermain dengan anak-anak lain, makan siang, membantu Mrs. Hodgins atau Miss Claudia atau pun pengurus panti asuhan yang lain, mandi, makan malam, lalu saling bertukar cerita dengan teman-teman sekamar sebelum tidur.
Ah, kehidupan yang sederhana dan bahagia.
Selama setahun ini aku benar-benar terhanyut dengan keadaan yang ada. Saking terlenanya, sampai-sampai aku berpikir bahwa aku akan hidup seperti ini untuk selamanya. Dan… di titik itu akhirnya aku tersadar.
Mungkinkah aku akan terus hidup seperti ini?
Berkali-kali dalam setahun ini aku membohongi diri sendiri. Walau begitu, sebagai seseorang yang dulunya hidup hingga berusia tujuh belas tahun, aku tak bisa tidak memikirkan hal ini. Pada kenyataannya, tiap manusia selalu bertumbuh baik secara fisik maupun mentalnya, kan?
"Sarah, kamu baik-baik saja?"
Aku tersentak dan langsung menoleh ke samping kanan. Terlihat Luculia dan Charles yang memandangku heran (dan kurasa mereka khawatir). Aku baru sadar kami sedang membaca di ruang perpustakaan dengan sebelumnya Luculia memenangkan perdebatan untuk duduk di sampingku. Aku yang sebelumnya asyik membaca seperti mereka lama-kelamaan malah melamun sambil memandang langit yang terlihat pada jendela di hadapan kami.
"Ah, tidak apa-apa! Aku hanya keasyikan memandang langit. Lihat! Awannya banyak dan cuaca sedang cerah!" jawabku ceria, dan berharap gelagapanku tadi tak terasa.
"Ya, benar," Charles turut memandang jendela, "Langit terlihat cantik pagi ini."
"Jangan keseringan melamun, ya?" ucap Luculia mengingatkan.
Aku mengangguk meyakinkan, lalu kami bertiga yang tadinya ingin lanjut membaca disela dengan suara pintu yang terbuka.
"Semua anak cepat berkumpul di ruang utama! Mrs. Hodgins dan pengurus panti asuhan akan mengumumkan sesuatu!"
Kami segera berpandangan setelah salah satu anak panti asuhan yang lebih tua tersebut pergi.
.
Kami bertiga yang telah tiba segera mengambil tempat duduk di kursi makan yang panjang ini. Tampak ada beberapa anak yang baru saja tiba setelah kami hingga beberapa menit kemudian semua anak telah berkumpul dan duduk dengan tertib. Mrs. Hodgins yang sedari tadi telah menunggu segera bangkit dari duduknya.
"Anak-anak, kurang dari dua bulan lagi Hari Natal akan tiba."
Sontak semua jadi ribut sendiri, dan para pengurus langsung menenangkan kami. Omong-omong, Miss Claudia tidak terlihat sejak tadi. Apa jadwalnya hari ini jam sore, ya?
Pengumuman dari Mrs. Hodgins berlanjut dan akhirnya aku mendapatkan kesimpulan yang harus dibagikan untuk anak sebayaku. Ada semacam organisasi politik yang akan menyelenggarakan acara sosial dan mereka mengambil panti asuhan kami sebagai mitranya. Kami diharapkan dapat berpartisipasi dengan baik dan tidak berbuat nakal.
Hm… Sepertinya aku mengenal acara semacam ini. Acara yang diadakan oleh donatur tertentu untuk khalayak umum. Kalau tidak salah namanya sharety.
Aku jadi penasaran—Kira-kira, seperti apa Natal tahun ini, ya?
.
Tak terasa tiga hari lagi hari yang dinanti-nantikan akan tiba! Seluruh penjuru panti asuhan sudah didekorasi sedemikian rupa hingga aku berulang kali sempat tidak mengenalinya. Pasti saat acara nanti panti asuhan sesak dengan orang dewasa, entah itu panitianya ataupun dokumenternya.
Aku mengawasi sekitar dengan saksama. Luculia bersama beberapa anak lain sibuk di dapur. Charles tak terlihat sejak tadi pagi, yang kuyakini dia digiring Miss Claudia untuk bantu-bantu entah apa. Mrs. Hodgins pun tak terlihat karena seingatku beliau sedang berdiskusi dengan panitia penyelenggara.
Baiklah! Dengan cekatan dan was-was aku pergi ke luar setelah mengenakan jaket kesayanganku. Salju makin menumpuk saja dari yang terakhir kali kulihat. Hhh… Musim dingin memang tidak cocok untuk diriku yang terlalu anti dingin.
Tak terasa pintu gudang sudah berada di hadapanku. Dengan hati-hati aku berusaha membuka kuncinya, lalu segera masuk dan kembali menutup pintu. Belum selangkah kuambil, sebuah suara unik yang kukenal membuatku berjengit kaget.
"Kau benar-benar cari mati dengan datang ke sini."
"Vierra! Kamu mengagetkanku, tahu?"
"Aku yang seharusnya marah! Sudah kuingatkan untuk tidak mengunjungiku selama musim dingin, dan apa yang kau lakukan sekarang?"
"Ukh! Aku hanya ingin mengobrol denganmu sebentar!"
"Dua minggu yang lalu kau sudah ke sini. Dan, di saat itu juga kau kena demam karena kelamaan di sini!"
"Baiklah, baiklah! Aku akan segera kembali setelah selesai bercerita."
Perdebatan kami selesai sepihak dan aku mengambil posisi duduk di atas tumpukan kardus yang dialasi koran. Setelah pertemuan pertama kami, aku yang penasaran terus-menerus mengunjunginya di sekitar gudang. Awalnya Vierra bersikap acuh padaku, namun lama-kelamaan dia yang sepertinya lelah akhirnya mulai menerima keberadaanku.
Aku sendiri memiliki trik untuk mendapatkan kunci gudang. Mulanya aku beralasan ingin memilah barang gudang yang mungkin bisa didaur ulang. Hingga akhirnya para pengurus panti asuhan terbiasa dengan diriku yang terkadang pergi membongkar gudang. Ya ampun, dosa kedua yang terus-menerus kuulangi selama setahun ini.
Tak terasa aku telah selesai menceritakan segala hal yang kualami. Selama ini memang hanya Vierra yang mendengarkanku, tak pernah sebaliknya. Aku sendiri tak berani menanyakan tentang dirinya. Biarlah dia beranggapan aku hanyalah seorang anak kecil yang bahagia bisa menemukan teman peri ajaib yang diimpikan. Keadaan akan jadi sulit jika dia menyadari pemikiran gadis berusia tujuh belas tahun dalam diriku ini.
"Sepertinya itu acara yang menyenangkan. Kuharap tidak terjadi hal-hal buruk saat itu."
Aku tersenyum seraya mengangguk setuju. Benar. Kalau yang terjadi nanti adalah hal lucu, setidaknya bisa menambah kehangatan suasana pada acara itu.
Rasanya makin tidak sabar menantikan hari acara itu tiba.
.
Aku segera merebahkan diri di atas kasur. Natal tahun ini benar-benar sangat berkesan bagiku! Acara dimulai dengan sambutan dan sebagainya serta nyanyian dari tim anak panti asuhan yang sejak dulu memang dilatih menjadi kelompok paduan suara. Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama. Hidangannya benar-benar menggugah selera! Setelahnya, diumumkan bahwa kado-kado untuk kami telah disimpankan oleh pihak panti asuhan untuk dibuka besok pagi.
Di tengah-tengah acara, aku tak sengaja melihat seorang wanita dengan perut agak besar dan seorang pria saling berbisik seraya melirik kerumunan anak-anak di sekitarku. Sepertinya mereka akan memiliki anak pertama. Aku jadi teringat adik balitaku di kehidupanku sebelumnya. Tapi, mengapa mereka melihat ke arah kami, ya?
Aku duduk untuk memperbaiki posisi dan dengan iseng mengawasi sekitar. Lagi-lagi hanya aku yang berada di kamar. Suasana di ruang utama benar-benar ramai hingga sebahagia apa pun aku tetap saja tidak bisa menahan rasa pusing yang mulai menyerang. Lagipula, saking lelahnya aku sudah mulai mengantuk.
Kuputuskan membaringkan diri dengan nyaman. Aku tak sabar untuk menceritakan hari ini ke Vierra. Semoga dia tidak marah besar jika aku kembali menemuinya nanti.
Tak terasa, pandanganku berubah gelap dan tak lama mimpi aneh namun menyenangkan datang.
.
Siang ini aku melamun dengan buku terbuka lebar di depan mata. Setelah tadi pagi kami membuka kado masing-masing dan sarapan, entah mengapa Luculia dan Charles dipanggil Miss Claudia untuk berbicara dengan Mrs. Hodgins. Padahal saat itu aku sangat senang karena mendapat syal rajut dan topi musim dingin.
Sekarang yang kurasakan hanyalah bosan. Untunglah saat ini ruang perpustakaan sedang sepi sehingga aku lebih leluasa melamun. Bahkan di dalam ruangan pun aku masih merasa kedinginan. Dan, sekali lagi, untunglah tadi aku hanya menyimpan topi rajut itu dan langsung memakai syal rajut berwarna jingga kekuningan ini.
Setelah berdiam dan berpikir cukup lama, akhirnya aku bangkit dan menyimpan buku yang (pura-pura) kubaca sejak tadi. Baiklah! Aku akan mencari mereka!
Rasanya mustahil mereka masih di ruang Mrs. Hodgins selama itu, jadi kuputuskan untuk pergi ke ruang utama dan melihat apakah mereka ada di sana. Hm… Mereka tak ada di sini. Aku segera bertanya pada anak lain dan mereka bilang bahwa keduanya belum kembali sejak tadi.
Aku berterima kasih dan segera melangkah pergi. Rasa takut mulai kurasakan. Mengapa mereka lama sekali di sana?
Tanpa kusadari pintu ruang Mrs. Hodgins telah ada di depan mata. Aku takut, tetapi juga penasaran. Apa nanti aku akan dimarahi karena seenaknya datang kemari? Tapi, tunggu. Aku hanyalah anak kecil, dan inilah keuntungannya. Orang dewasa pasti memaklumi tingkah anak kecil yang masih belum mengerti banyak hal, kan?
Aku mendekati pintu untuk mengetuk, namun refleks menahan nafas. Ada suara tangisan! Yang terpikirkan di otakku hanya satu: Luculia.
Tak mungkin mereka melakukan hal buruk dan dihukum, kan?
Walau baru berumur enam tahun, namun aku telah hafal watak kedua anak itu. Mereka tak pernah melakukan hal buruk dan hanya bersikap nakal sewajar anak lain. Yah, aku sendiri termasuk dalam anak lain tersebut.
Mengabaikan etika, dengan hati-hati aku malah membuka pintu untuk mengintip dan menguping. Walau tak jelas, terlihat Mrs. Hodgins yang membelai lembut pucuk kepala kedua anak itu dengan Miss Claudia yang mengawasi dengan tatapan kasihan. Sesuai dugaanku, suara tangis itu dari Luculia, namun ternyata Charles pun meneteskan air mata.
Lho? Tunggu. Ada apa ini?!
"Kalian tak perlu menangis. Kalian harus bahagia mulai dari sekarang hingga nanti!" ucap Mrs. Hodgins yang masih berjongkok dan sesekali mengusap air mata mereka.
"Tapi," Luculia menyahut dengan terbata-bata, "Kami sudah bahagia di sini! Kami tidak mau pergi!"
Charles hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir.
"Tak apa, Sayang. Mr. Tolkien dan istrinya pasti menyayangi kalian seperti kami semua—Bahkan, mungkin nanti mereka akan lebih dan sangat menyayangi kalian!"
Luculia hanya mampu menggeleng kuat, sementara Charles terus menyeka air mata.
Tunggu. Sepertinya aku tahu apa yang tengah terjadi. Rangkaian teka-teki yang otomatis terbuat di otakku akhirnya terpecahkan.
Jadi, begitu, ya? Ternyata, pasangan suami-istri yang malam itu kulihat mencuri pandang ke arah kami ternyata memerhatikan Luculia dan Charles. Hasilnya, mereka sepakat untuk mengadopsi kedua anak itu, yang kuyakini setelah berdiskusi dengan Mrs. Hodgins.
Aku tidak tahu harus merasa apa. Bahagia? Iya, karena kedua sahabatku yang terasa seperti saudara sendiri akan diadopsi dan memiliki orang tua. Selain itu, wanita itu tengah mengandung, kan? Mereka pasti akan menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia!
Walau bagaimana pun, jujur saja aku tak bisa menampik kesedihan yang tiba-tiba ini.
Aku mengatur nafas dengan perlahan, lalu segera melancarkan ide yang spontans muncul.
"Luculia? Charles?"
Aku menyembulkan kepala di balik pintu dengan tingkah polos khas anak-anak. Reaksi terkejut mereka tetap memberiku tekanan batin walau sudah diprediksi. Meski sulit, aku tetap tersenyum dan tahu-tahu sudah memeluk keduanya.
Aku melepas pelukan dan hanya memegang pundak mereka sambil tersenyum lebar, "Selamat, ya! Kalian akan segera punya orang tua, lho!"
"S-Sarah…"
"Ssshh! Aku tahu! Pasti kalian sedih karena akan pergi meninggalkan kami, kan? Tapi, tenang saja! If you're happy, then we happy too!"
Yang kurasakan selanjutnya adalah pelukan erat disertai basahnya kedua bahuku.
Aku hanya bisa berdoa, semoga kami semua tetap bahagia walau telah berpisah.
.
Kudengar Luculia dan Charles akan dijemput tiga hari lagi setelah urusan surat-menyurat pengadopsian selesai.
Aku berpikir, akan lebih baik jika kami tidak lagi saling berinteraksi. Menurutku, hal itu lebih efektif untuk merelakan kepergian orang terdekat. Sayangnya, aku tidak bisa menyamakan pola pikirku dengan anak-anak yang bahkan belum masuk sekolah dasar. Karena itulah, aku berusaha untuk terus tersenyum sebelum mereka benar-benar pergi.
"Di sini ada Williams?"
Obrolanku dengan Luculia dan Charles seketika berhenti. Miss Claudia yang berdiri di pintu ruang perpustakaan segera menangkap keberadaan kami. Seketika kulihat sekilas raut wajahnya berubah tak nyaman sebelum akhirnya kembali datar dan tegas.
"Ada apa, Miss Claudia?" tanyaku seraya menghampirinya.
"Mrs. Hodgins ingin bicara denganmu di ruangannya."
"Baik," aku menoleh ke belakang dan melambaikan tangan kanan, "Aku pergi dulu, ya!"
Aku berjalan di samping kiri belakang Miss Claudia. Benakku makin menguarkan banyak pertanyaan dengan detak jantung yang mulai berpacu. Ada apa, ya?
Miss Claudia mengetuk pintu dan segera mendapat izin masuk. Pintu terbuka dan dapat kulihat dua buah kursi di hadapan Mrs. Hodgins diduduki dua orang dewasa, pria dan wanita. Aku kembali mengekori Miss Claudia dan tiba di sisi kanan kedua tamu tersebut.
Sebenarnya, ada apa, sih?
"Perkenalkan, dia adalah Sarah Williams," aku yang masih bingung segera menunduk hormat dan kembali mengawasi orang dewasa di sekelilingku, "Apakah benar anak ini yang Anda cari, Mr. Kane?"
Tatapanku yang sedari tadi fokus pada Mrs. Hodgins sekarang beralih ke depan. Kedua tamu yang kuyakini adalah sepasang suami-istri itu tampak sedang menelitiku. Aku hanya mampu memberikan senyum simpul dan mengalihkan pandangan. Duh, sebenarnya apa urusanku berada di situasi asing ini?
"Ya, benar," aku mendongak dan mendapati wanita itu tersenyum kepada Mrs. Hodgins.
"Sarah Williams, benar?" aku kaget karena tiba-tiba pria itu sudah berjongkok di hadapanku dengan senyum kecilnya, "Perkenalkan, namaku Thomas Kane."
Aku menjabat tangannya dengan ragu dan kembali tersenyum simpul, "Salam kenal, Mr. Kane."
"Dan, aku adalah istrinya," tahu-tahu wanita itu telah membungkuk di samping suaminya, "Namaku Ashley Kane. Salam kenal, Sarah," ujarnya dengan senyum anggun yang membuatku pangling.
Aku kembali berjabatan dan menjawab dengan kikuk, "Salam kenal, Mrs. Kane."
"Nah, Sarah Williams," aku kembali fokus pada Mr. Kane yang raut wajahnya bercampur aduk antara ramah dan serius, "Kalau kubilang, kami ingin mengadopsimu, apakah kamu mau ikut dan tinggal bersama kami?"
Hening sesaat.
"…"
Hah?
"P-Pardon?"
"Sayang, sepertinya dia tidak mengerti kata-katamu,"—'Tidak! Aku sangat mengerti maksud suami Anda, Mrs. Kane!'—"Biar aku yang menanyainya," Mrs. Kane kali ini ikut berjongkok dan menggenggam kedua tanganku dengan lembut, "Sarah, kami ingin agar kamu menjadi anggota keluarga kami. Apakah kamu mau?"
"Ya?"
Seketika kulihat seluruh orang dewasa di ruangan ini tersenyum cerah dan lega.
"Senangnya! Tak kusangka akan mendapat persetujuan secepat ini!"
Mr. Kane dan Mrs. Kane saling bertukar tatapan senang, sementara kulihat Mrs. Hodgins dan Miss Claudia memandangku bangga dengan linangan air mata haru.
Lho? Tunggu, tunggu! Mereka semua salah paham!
"Um, permisi—"
Tubuhku tersentak karena tiba-tiba mendapat pelukan erat, "Aku turut bahagia untukmu, Nak! Sama bahagianya seperti saat Luculia dan Charles!" Mrs. Hodgins mengusap pipi dan rambutku saat menatapku sejenak, lalu kembali memelukku erat.
Aku melirik Miss Claudia yang diam-diam menyeka air mata. Dia mencoba tersenyum saat memandangku. Aku hanya bisa memberi seulas senyum dengan hati yang mencelos.
Kurasa, aku tidak bisa mengatakan kebenarannya jika berarti harus menghancurkan kebahagiaan mereka atas diriku.
.
Pukul sepuluh pagi dan salju masih turun dengan lebatnya. Tapi, masa bodoh! Sepatu bot entah milik siapa ini kugunakan serampangan untuk menembus dataran salju. Jaket, syal, serta topi rajut tetap tak terlalu membantu menghalangi suhu dingin saat ini. Apalagi dengan suasana hatiku yang tiap detik makin kacau. Aku belum boleh mengeluarkannya hingga tiba di sana—Bertahanlah diriku!
Begitu kunci mengeluarkan bunyi, aku segera membuka dan menutup pintu dengan keras. Aku mengedarkan pandangan dan segera mendudukkan diri di atas lantai beralas kertas kardus yang masih bagus. Nafasku masih belum stabil dan aku menyandarkan diri sambil menerawang ke langit-langit gudang.
Sekuat apa pun aku menahan, pada akhirnya air mata ini tetap keluar. Aku sudah tak tahan! Apa yang sebenarnya harus kulakukan? Apa yang sebaiknya kulakukan?
Dadaku makin sesak, dan akhirnya aku memilih menyerah pada kelemahanku saat ini. Kedua lutut kupeluk dan wajahku bersembunyi di sana. Aku menangis, menangis, dan hanya menangis. Sesekali aku mengerang kesal dan kembali sesenggukan.
"Mengapa kau menangis, Bocah?"
Oh My Godness! Apa dia ini ninja profesional? Makhluk ini hobi sekali membuatku jantungan!
"Pekikanmu itu mirip suara tikus terjepit pintu," komentar Vierra seraya mendudukkan diri pada pinggiran meja rusak di dekatku.
"Sengaja kuredam! Itu agar orang lain gak mendengarnya!" sahutku kesal sambil menyeka mata.
"Jadi, ada apa kali ini? Aku tidak pernah melihatmu menangis sebelumnya."
Aku menghela nafas sejenak dengan hidung yang mulai tersumbat. Keraguan sempat kurasakan—Bagaimana dengan respons Vierra kali ini? Namun, aku tidak dapat menunda-nundanya lagi karena waktuku di sini hanya sampai besok. Pelan tapi pasti kuceritakan segalanya. Tentang acara Natal itu, berita pengadopsian Luculia dan Charles, dan terakhir tentang diriku.
Keadaan menjadi hening. Aku yang sedari tadi melarikan pandangan kini berusaha melihat reaksinya. Pandangan Vierra ke bawah dan tidak fokus—kupikir dia sedang melamun.
"Bagaimana dengan reaksi mereka?"
Aku turut menurunkan pandangan dan menerawang, "Mrs. Hodgins dan Miss Claudia senang dan terharu. Luculia dan Charles… Aku belum menemui mereka. Aku tidak berani menghadapi mereka dan anak-anak panti asuhan yang lain."
"Hm…" kali ini aku malah melamun karena mulai pusing, "Lalu, bagaimana denganmu?"
"Eh?" aku refleks mendongak dan tak disangka kedua mata kami bertemu, "Apa…?"
"Kau sendiri merasakan apa?"
"Aku… tidak tahu," lagi-lagi aku melarikan pandangan, "Aku turut senang sekaligus sedih untuk Luculia dan Charles. Tapi, untuk keadaanku sendiri… aku tak tahu."
Hening kembali dan kuputuskan untuk berbicara lebih banyak, "Well, aku memang salah. Maksudku waktu itu adalah meminta kepastian dari pendengaranku, bukan menyetujui pengadopsianku. Tapi, aku tak sanggup jika harus merusak kebahagiaan mereka untukku."
Pikiran dan hatiku kembali berkecamuk, "Kupikir, aku akan selamanya hidup bahagia, aman, dan sejahtera bersama semuanya di sini," aku berucap diiringi kekehan gagal.
"Dan, itu tidak mungkin."
"Benar," kurasakan air mata kembali berjatuhan, "Manusia… suatu saat nanti pasti punya kehidupan masing-masing. Tapi, aku…" kutarik bagian depan jaket ketika rasa sakit itu kembali terasa, "Aku… belum siap untuk itu."
Aku kembali terisak dengan tangan kanan yang makin kuat mencengkeram pakaian dan tangan kiri terus-menerus mengusap air mata yang belum mau berhenti keluar.
Aku tak peduli jika seluruh dunia menertawakan pemikiranku yang bodoh ini, tapi apakah ada setidaknya secuil kekuatan agar aku mampu bertahan setelah ini?
"H-Hei, apa yang baru saja kau lakukan?"
Aku spontans berhenti sesenggukan dan menengadahkan kepala. Mataku melebar dan tubuhku mematung. Terkejut luar biasa adalah apa yang kurasakan sekarang.
Di sekelilingku saat ini terdapat banyak pendaran cahaya kecil yang sewarna dengan tubuh Vierra. Titik-titik cahaya yang mirip kumpulan bintang di langit malam ini tampak sangat cantik dan menentramkan hati. Sesaat aku terpana hingga akhirnya kekagetan menyadarkanku.
"V-Vierra, untuk apa kau melakukan ini?" tanyaku seraya berdiri mendekatinya.
"Jika ini kekuatanku, maka aku tidak akan bertanya padamu, Bocah!"
"…" aku langsung terdiam membisu. Benar juga. Untuk apa dia bertanya jika dia yang melakukannya?
Hah? Tunggu. Tunggu dulu!
"Jadi, maksudmu yang melakukan hal ini adalah aku?!"
"Siapa lagi yang ada di sini selain kita berdua?"
"Haaah?! T-Tidak mungkin! Manusia macam apa yang bisa melakukan hal ini?! Bercandamu berlebihan, tahu!"
"H-Hei! Tenanglah! Seisi gudang ini akan hancur jika kau terus-terusan panik!"
"Apa?"
Aku memandangi sekitar dan ternyata cahaya-cahaya tadi berubah warna menjadi jingga. Selain itu—Oh, astaga!—beberapa barang melayang mengelilingi langit-langit gudang dengan kecepatan yang tak bisa dibilang pelan. Sebagian besar telah kehilangan kecepatan dan hanya mengambang di udara seperti trik-trik sulap yang pernah kutonton.
WHAT THE—APA YANG SEBENARNYA SEDANG TERJADI DI SINI?!
"V-Vierra! Apa-apaan ini?! Kenapa hal ini terjadi?! Untuk apa kau melakukan ini?!"
"O-Oi! Tenanglah! Benda-benda di sini bisa saja melukai kita!"
"Ap-Apa benar aku yang melakukan ini?! Bagaimana cara menghentikan semua ini?!"
"Hal pertama yang harus kau lakukan adalah TENANG! JANGAN MERASA PANIK!"
Aku langsung diam dan memejamkan mata. Kuatur nafas sestabil mungkin dan menjernihkan pikiran. Betul, jangan panik secara berlebihan!
Perlahan kubuka mata dan keadaan mulai sedikit tenang. Seluruh benda hanya mengambang rendah dan cahaya-cahaya itu kini berwarna ungu lembayung. Aku menatap Vierra untuk meminta penjelasan.
"Sudah tenang?" aku hanya bisa mengangguk, "Apa yang kau rasakan sekarang?"
"Err… Sedikit takut?"
"Baiklah," dia terlihat mengangguk-angguk lalu tak lama terbang mendekati wajahku, "Aku akan bilang kebenarannya, tetapi kau harus tenang dan terima apa adanya."
Aku segera mengangguk dan menjawab terbata, "Akan kuusahakan."
Vierra terlihat mengatur nafas, lalu dengan tatapan tajam dan yakinnya berbicara sejelas mungkin, "Sebenarnya, kau adalah seorang penyihir."
"Hah?"
Yang kutahu selanjutnya adalah bunyi dentaman barang-barang gudang yang berjatuhan.
.
Hari perpisahan ini akhirnya tiba. Barang-barang kami telah dipilah dan dibereskan. Baik aku maupun Luculia dan Charles akan sama-sama dijemput wali baru kami pukul sembilan pagi nanti. Tak kusangka ini hari terakhirku melakukan sarapan bersama mereka semua.
Kami bertiga berbagi jabat tangan dan pelukan dengan anak-anak lain dan pengurus panti asuhan. Bagian paling sulitnya adalah Mrs. Hodgins dan Miss Claudia. Dua orang yang telah menjadi sosok nenek dan kakak perempuan di dalam hatiku. Tangis kami pecah saat berada di pelukan orang paling berumur di panti asuhan ini, walau sempat tertawa lantaran mendapat ciuman maut dari beliau.
Wali kami akhirnya tiba dan inilah saat-saat yang dulu sering kuhindari. Kami bertiga kembali berjabat tangan dan berpelukan, lalu berjanji akan berusaha untuk berkirim surat. Kami, seperti yang sudah kuduga, berbalik dan tersenyum seraya kembali memeluk Mrs. Hodgins, Miss Claudia, serta beberapa anak dan pengurus panti asuhan yang ikut berada di luar.
"Goodbye, Mrs. Hodgins," bisikku, dan dapat kurasakan senyumnya.
Kami berbalik dan menghampiri wali kami yang sama-sama berada di dekat mobil masing-masing. Mrs. Kane mengelus kepalaku sekilas, lalu menuntunku masuk ke bagian tengah mobil. Tiba-tiba terbersit ide yang harus dijalankan agar nanti hatiku tak merasa janggal.
"Luculia! Charles!" mereka yang baru saja akan masuk ke mobil sepertiku langsung menoleh, "Goodbye!" ucapku dengan senyum lebar dan tangan terlambaikan.
Setelah mendapat balasan yang serupa, kami akhirnya masuk ke mobil dan mulai pergi.
Panti Asuhan St. Elizabeth—Tempat pertama yang menjadi rumah diriku yang sekarang.
.
Sepanjang perjalanan aku mengalami fase yang terus terulang—Memerhatikan pemandangan, tidur, bangun, memerhatikan pemandangan, tidur, dan kembali bangun. Mrs. Kane yang rupanya menyadari bahwa aku mabuk darat segera memberi minuman hangat dan menyuruhku untuk berbaring saja. Untuk pertama kalinya aku melihat kota, namun rasa mual ini tak tertahankan!
Akhirnya setelah entah berapa jam perjalanan kami tiba juga pada tujuan. Aku yang masih merasa mual dan pening berusaha sekuat tenaga menjaga keseimbangan. Seketika diriku terpaku pada bangunan yang kini berada di hadapanku—Rumah tingkat dua yang sederhana namun indah.
Aku sedikit kaget saat tahu Mrs. Kane merangkulku lembut, "Mari kita masuk."
Pintu utama rumah dibuka oleh Mr. Kane dan saat itulah tiba-tiba perasaanku kembali menghangat, "Selamat datang di Kediaman Kane!"
~ To be continued ~
~ Author ground ~
Author: Assalamu'alaikum, or Moshi-moshi, Minna! :)
… Saya heran, bagaimana bisa jadi sepanjang ini? Walau begitu, saya tetap berterima kasih kepada kalian yang bersedia membaca ff ini. #Terharu O:)
Karena lagi-lagi begitu banyaknya words, maka mungkin obrolannya bersambung pada chapter selanjutnya. :) (Mudah-mudahan, sih…) Selamat menikmati ceritanya! :D
Oke, balasan reviewnya! :)
~ KhumairohAri22 ~
Makasiiiiihhhh banyak! XD Duh, mendadak kepala saya jadi besar, nih. /Woi! Iya, rencana awal saya itu inginnya publish di wattpad kemudian di ffn. Tapi, karena suatu masalah yang ribet, jadilah di ffn duluan. Saya pribadi juga lebih sering publish cerita di sini dibanding yang lain.
Betul tuh betul! :D Heroine alias Catharina sibuk mikirin akhir nasibnya, makanya gak sadar kalau orang sekeliling udah lope-lope ke dia dari duluuuu banget. Duh, saya harap si Katarina akhirnya sadar dari kepolosannya karena hidupnya sudah pasti damai, aman, dan tenteram.
Oh, begitu toh. Kalau saya udah baca sejak dua tahun lalu (dapat file dari sahabat saya), dan rencananya mau mengulang nonton filmnya. Yang pasti, novelnya seru dan lebih lengkap, filmnya lebih merealisasikan imajinasi kita.
Benar, turut berduka. Hontou ni arigatou (Thank you very much) udah mau baca karya gaje saya ini. Terima kasih atas dukungannya! O:) Kamu juga yang semangat di sana! :D
All: Silakan memberi kritik, saran, dan komentar serta pertanyaan! :) Akhir kata, hontou ni arigatou gozaimasu, terima kasih atas perhatian dan pengertiannya, dan sampai jumpa~! :D O:)
RnR? :)
