Main Cast :

VerDin

Genre :

AU! Bromance, Hurt and Drama. Stepbrother ! BL/Yaoi Hurt!

Summary :

"Ephitet keluargamu berbanding terbalik", Vernon ingin sekali memiliki waktu yang lama -berduaan dengan adik manisnya. "Karena itulah kita bersaudara". Namun Dino selalu mengingatkan bahwa mereka bersaudara.

Disclaimer :

Vernon is MINE !

WARNING!

IF YOU DON'T LIKE THIS FICT! DON'T READ!


Chapter 2


Ready?

Happy Reading

.

.

.

Point:

- Vernon Chwe ; Aktor dan Pelajar (not homeschooling) /18 tahun

- Dino Lee; Pelajar /18 tahun


Writer : Hansollee


Rupanya Dino hanya tidak ingin semuanya menjadi ke salah pahaman berlanjut. Mengingat ia juga hanya ingin bersama Ibunya tanpa gangguan orang lain. Namun, ketika Ibunya tersenyum manis dan mengenakan gaun yang terlihat elegan di pakai, yang sepadan dengan raut wajah beliau, membuat Dino merubah pemikiran tetapnya selama bertahun-tahun. Jika ia tidak bisa menjaga Ibunya -selamanya, setidaknya ada yang melindungi Ibunya nanti.

Ibu.

Ibu.

Ibu.

Dino selalu memikirkan Ibunya, dia sangat sayang dan menghormati Ibunya. Tapi jika dia terus seperti ini yang ada dia seperti anak kurang kasih sayang. Entahlah, Dino bingung sendiri.

Dia begitu gusar, cemas ada kalau mengingat penolakan halus Vernon.

"Aku tidak mengerti, kenapa semuanya rumit?", Dino memegang erat stang sepedanya. Dahinya mengkerut jelas dengan tatapan fokus ke depan. Hembusan angin tak menyurutkan kegelisahan bercampur rasa kesal di benaknya. Semakin beku; "Kenapa ia begitu sulit diberi keringanan? Aku terima jika ia menolak kehadiranku nanti, tapi... bagaimana dengan Ibu?" bisik Dino di akhir kalimat, ketika ia melewati jalanan yang mulai di terangi lampu-lampu jalan dan suhu udara yang meningkat membuat Dino sedikit memperlambat kayuhan sepedanya. Matanya sesekali mengedar ke sisi jalan yang penuh dengan foodcourt dan butik juga pedagang kaki lima saat ia melewati taman kota.

Sudah lewat dari jam 6 sore. 10 meter dari taman kota ia sampai di rumahnya, di sebelah selatan ia melihat gedung tinggi nan megah dengan billboard besar di sisi kirinya.

Choi's Coorporation,

Di bawah sebuah Showroom mobil, Kantin dan Resepsionis Hotel. Benar; lantai 2 sampai 11 itu Kamar Hotel dan beberapa ruang spa juga kolam renang di tiap lantai serta ruang makan mewah dengan pemain musik yang sangat berkelas. Paling puncak di lantai 12 itu rumah kedua keluarga Choi -informasi dari Ibunya ngomong-ngomong.

Betapa beruntung Ibunya mendapat pria seperti Tuan Chwe yang sangat baik dan dermawan juga berwibawa. Ia ingat ketika pertama kali bertemu dengan Tuan Chwe 3 hari yang lalu, Ibunya pulang di antar Tuan Chwe. Dino keluar rumah, sekitar jam 9 malam kalau tak salah, ia menyambut Ibunya. Dan berakhir dengan keputusan makan malam bersama malam ini.

"Aku tak yakin dengan ini, Ibu.." lirihnya masih menatap gedung tinggi di seberang jalan. Sempat menarik nafasnya beberapa saat dan menahannya, ia merasakan sesak. Terlalu sesak malah. Dino mengalihkan pandangannya, lalu ia mengkayuhkan sepedanya agak cepat. Takut Ibunya menunggu.

.

Benar saja dugaannya. Ibunya menunggu sampai menghabiskan 2 cangkir teh sedang di ruang tamu. Menunggu kepulangannya, raut wajah khawatir ada, namun tetap terlihat cantik karena tertutupi wajah berseri-serinya. Tentulah ini malam penentuan.

"Ibu, aku pulang terlambat"

Mrs. Lee mengangguk sembari tersenyum hangat. Ia menghampiri putra kecil manisnya itu lalu mencium kening Dino. Menatap putra yang ia rawat selama hampir 18 tahun dengan lembut.

Dino merasa bersalah, ia membalas senyum Ibunya dengan wajah letih. Memeluk Ibunya sembari menarik nafas panjang, matanya menutup. "Aku menyayangi Ibu", lalu membuang nafasnya pelan.

"Aku akan siap-siap" kata Dino.

"Ya, pukul 7 nanti akan ada yang menjemput kita" kata Mrs. Lee sembari mengusap lengan Dino.

"10 menit lagi? Apa tidak apa-apa?" tanya Dino, kali ini Mrs. Lee melihat anaknya merengut lucu. Terkekeh kemudian.

"Hmm.. Cepatlah bersiap", aksessoris di sekitar rambut Ibunya, menjadi perhatian utama bagi siapapun yang melihatnya. Piara perak sebesar kepalan tangan orang dewasa, di tengahnya terdapat berlian dan terselip beberapa perak asli. Dino sempat tertegun melihat itu, ia ingin marah seakan keluarganya terendah dan hanya melihat materi. Ia takut Vernon beranggapan lain tentang ini. Tuan Chwe yang memberikannya, Dino yakin sekali.

"Ya Ibu"

Dino berlalu memasuki kamarnya, dan hanya orang kelewat tak peduli akan ucapan Dino sedingin es tadi. Mrs. Lee tersenyum getir mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Dino paling mengerti dirinya, selalu mengutamakannya. Ia bangga, namun di hati kecilnya mengatakan.

'Tundalah, Dino lebih membutuhkanmu'

Membuatnya bingung. Inilah yang paling ia benci dari apa yang di miliki 'suami' tak bertanggung jawabnya. Sifat dan tingkah laku Dino mirip sekali dengan 'suami'nya. Sebagai seorang Ibu, ia hanya bisa berdo'a yang terbaik dan semuanya bisa di terima oleh keluarga kecil nan sederhananya ini.

"Kau sudah berusaha Dino-ah.."


Wangi parfum Burberry menguar ketika Dino membuka pintu kamarnya -begitu menenangkan. Ia merasakan matanya memanas, bibirnya ia gigit keras-keras tak mempedulikan bibirnya akan terluka atau tidak. Ia takut, sangat takut jika terjadi sesuatu saat mereka benar-benar membahasnya.

Tentang keluarga.

Dino tak sanggup, memiliki keluarga terpandang dan selalu mempublikasikan keberadaan mereka. Sorotan kamera dan wartawan sebentar lagi akan makanan sehari-hari mereka. Membayangkan itu, pikirannya melayang ke Ibunya.

"Ibu... Ibu..."

Adalah rapalan atau mantra paling ampuh Dino, di saat dirinya tak mampu menahan kekesalan atau kemarahannya yang melampaui batas. Dia tidak akan bisa marah, malah yang keluar suara isakan tertahannya. Ia tidak lemah, ia hanya terlalu lelah, Ibunya selalu mengajarkan apapun yang terjadi -segenting apapun keadaanmu nanti janganlah bermain fisik. Dan jika itu adalah sebuah resiko nyawa yang harus di ambil, sekalipun itu; Diam dan tersenyumlah untuk mereka yang menggenggam tanganmu.

Tubuhnya merosot, menjatuhkan kedua lututnya sebagai tumpuan tubuhnya di lantai marmer dingin itu. Termenung sesaat, sebelum kekesalannya kembali menguasai pikirannya.

"Ibu.. Akkkkhh!", Dino menggeram tertahan. Ia memukuli tubuhnya sendiri dengan brutal, memukuli kepalanya hingga ia merasakan denyutan sakit di bagian pelipisnya. Dan berakhir menjambaki rambutnya frustasi.

Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Tak ada kata lain, selain 'Ibu' yang merajai mulutnya.

Lelah. Dino mengambil udara sebanyak-banyaknya, rambut dan seragam sekolahnya kusut, suara dentingan jam menyadarkan Dino. Ia berdiri perlahan, beranjak ke kamar mandi kemudian.

"Terserah saja". Dino tidak mau ambil pusing lagi, dia tidak akan peduli tentang keluarga Chwe lagi. Ia hanya perlu mementingkan Ibunya saja.


Chwe.

Simon Chwe dan anak tunggalnya Vernon Chwe.

Seorang CEO Choi's Coorporation dan anaknya seorang Aktor yang baru-baru ini di perbincangkan publik setelah 3 tahun berkarir. Tentu suatu kemajuan yang bagus bagi pandangan orang.

Chwe itu keluarga sempurna. Terpandang, setelah marga Kim dan Jang. Karena kebanyakan orang bilang; Orang amerika lebih maju.

Maju; Dalam kata 'halus'nya utamakan pencitraan. Tapi apa yang terjadi setelahnya?

CEO yang di gandrungi banyaknya uang hingga milyaran dollar melirik ke seorang wanita beranak 1 yang di tinggalkan suaminya, yang tinggal di rumah sederhana -punya hak milik tanah kebun bunga di pinggiran kota Seoul.

That's so amazing!

Vernon Chwe; Siswa kelas 3 SMA yang sebentar lagi menghadapi Ujian sekolah harus mendapat ejekan dan lemparan 'bom' anak-anak pintar dengan nama orangtua bergelar Ir, apalagi yang kurang menakjubkan dari segi kebodohan mereka?

"Permisi Kim, maksudmu apa yang menurutmu lucu di sini?"

Vernon mendelik lurus ke dalam manik hitam Mingyu -senior 1 tahun lebih tua darinya. Ruangan yang mereka tempati pengap selama kurang-lebih 1 jam ini, lebih pengap ketika Mingyu menyalakan TV dan bagus sekali ia melihat berita tentang kedekatan keluarganya dan keluarga Lee.

Tapi yang versi sederhana.

"Lucu Chwe, lihat itu ayahmu 'kan? Romantis seperti biasa" ujar Mingyu sembari mendudukkan dirinya di kursi samping Vernon. Senyum manis penuh misteri punya Mingyu itu sedikit berlebihan; di maksudkan menyeramkan di suasana super panas ini.

Vernon mengepalkan kedua tangannya. Ia mendengus. "Aku harus pergi sekarang! Sungguh! Astaga...", Vernon mengerang melihat Mingyu yang begitu acuh padanya. "Gyu! Lepaskan borgol sialan ini! Adikku menunggu"

"Ini masih jam 6 sore lebih 22 menit. Bukankah jam 7 seperti biasanya? Eh, memangnya kau punya adik? Anaknya Chwe itu hanya ada dirimu loh", Mingyu menatap tepat di mata Vernon yang kembali mendengus dan menggerakan tangannya. Vernon menanggap kalimat tadi itu hanya candaan.

"Setidaknya-" Vernon menahan nafas melihat Mingyu meliriknya tajam. "Izinkan aku memakai bajuku" dengan nada memelas.

"Tidak!"

Mata Vernon melebar sempurna. "MINGYU! Kau mau aku sakit? Memangnya kau mau bertanggung jawab ketika di tanyai pihak agensi atau promotor filmku? Ayolah... Aku ini copy-an Dicaprio muda. Kau mau fansku terus-terusan hibernasi di kamar menunggu comback film trailerku?" desak Vernon. Ia benci bukan main dengan keadaan ia yang di dominasi seperti ini. Terlemah maksudnya.

"Memangnya aku terlihat peduli?"

Picik. Mingyu benar-benar picik, seolah-olah semuanya di angkap bercanda, hanya akting. Tak tahu jika kali ini ia benar-benar serius. Ia memikirkan adiknya yang tengah menunggu di ujung tangga. Menunggunya pulang dan memberikan sebatang cokelat setiap harinya. Tatapan mata Vernon menyendu lalu mengalihkan pandangannya ketika Mingyu menoleh menatapnya. Air Conditioner ruangan ini mati, Mingyu menggantinya dengan membuka jendela dan -jujur siapapun akan berpikiran sama jikalau Mingyu orang kurang waras se-kota seoul.

Ia berdecih. Dengan serampangan ia mengambil beer yang di letakkan Mingyu di depannya sejak tadi.

"Keparat kau!". Setelah mengatakan itu, Vernon meminum beer sekaligus dari botolnya. Mingyu tak menangkap nada bicara Vernon di kalimat umpatan tadi.

Mingyu melebarkan matanya. Tapi tak lama terganti dengan seringaiannya. "Ini akibat kau mengganggu privasiku, Chwe"

"Pardon me?"

Si tampan lebih memilih kembali mengabaikan si blasteran. Meminum wine yang jarang sekali ia sentuh seraya melirik Vernon di balik gelas kacanya. Dan ia baru menyadarinya melihat Vernon...

Menahan tangis setengah mabuknya.

Vernon ada masalah: DETECTED!


Disamping kegetiran yang masih berlanjut, kalimat pertama yang ada pikiran Dino menyadari mereka sudah sampai di tempat kediaman keluarga Chwe; sedikit pesimis selingan "cemas" yang mulai memenuhi hatinya. Tubuhnya berdiri kaku -bukan takjub akan rumah megah yang sering ia lewati saat berangkat-pulang sekolah, melainkan terlalu larut dalam pemberontakan pikiran-hati dan batinnya. Pandangannya beralih menatap lurus ketika Ibunnya menggenggam erat jemari dinginnya, gelisah tambahan membuatnya semakin kehilangan akal.

"Ibu, aku...". Langkah Dino terhenti dengan sendirinya, nafasnya tercekat melihat beberapa maid dan penjaga keluar dari samping rumah dan berbaris layaknya menyambut seorang calon raja. Ini mengkhawatirkannya, ternyata memang tak mudah. Ingin sekali ia berbalik lalu menceburkan dirinya ke got, dan mengeluarkan bau busuk.

Pelipisnya berkeringat.

"A-aku tidak...belum...ma-maksudku-" Ibunya tersenyum manis, "aku mengerti. Sedari tadi aku menunggu kau mengatakan itu. Dino-ah, Ibu suka kau yang apa adanya", jemari keriput Ibunya menyentuk pundak Dino dengan lembut. Bodoh jika Dino menarik Ibunya pergi dari tempat ini secara mendadak. Pintu coklat besar terbuka lebar, menampilkan sosok terpuja nan gagah; Tuan Chwe dengan seorang tangan kanannya -ini juga informasi dari Ibunya- berjalan dengan angkuh setiap langkah kaki itu, serasa melumpuhkan otot sendinya. Perlahan, dari jarak jauh seperti inipun, wangi parfum mahal Tuan Chwe tercium menggelitik hidungnya. Begitu kuat dan menggoda. Sekali lagi Dino menahan nafasnya.

"Dino-ah", Ibunya memanggil. Mengabaikan seseorang yang akan menjadi calon pasangannya nanti. Raut wajah khawatir menggantikan kebingungan Dino menjadi cemas. Dino menatap Ibunya masih dengan menahan nafas. "Katakan sejujurnya, apa kau tidak setuju. Jangan selalu utamakan kebahagiaan Ibu, Ibu lebih menyayangimu nak". Dino menunduk dalam, melirik tangan kanannya yang tergenggam erat oleh tangan Ibunya. Entahlah, dirinya hanya merasa seperti penghianat. Andai Ayahnya tidak pergi pasti dia- "Ibu" "Ya?" Helaan nafas Dino terdengar berat. Tentu saja ini adalah keputusan tersulitnya. Merelakan semua dengan sepersekian detik bukan hal yang mudah ia terlalu mencemaskan keadaan Ibunya. Orang nomor 1 di dunia, hatinya.

Dino menatap yakin. Balas menggenggam tangan Ibunya tak kalah erat. "Kita coba" Tak percaya dan Mrs. Lee terlihat sedikit shock mendengar tanggapannya, ia tersenyum haru.

"Terimakasih, I Love U"

"Love U too, mom". Tuan Chwe tersenyum melihat itu.

"Ku rasa para maidku perlu mengganti dekor acara kita atau kokiku harus memasak sesuatu untukmu...", Dino dan Ibunya terdiam. Tuan Chwe terkekeh. Kerutan di ujung matanya menambah point kewibawaan sang CEO. "Atau hilangkan list minum Beer?"

Mereka tertawa.

- Ke STOP :v


TBC


Note : Tanggapannya gimana dengan chapter ini? Mulai ngerti konfliknya? Maaf kalo aneh :v pendek pula xD

MAKASIH BANGET YANG UDAH REVIEW :* APALAGI KALIAN SAMA SHIPPERIN NIH KAPEL KAYAK GUE :'v !