Damnation: Hannibal
Genre: Crime, School, Advent, Survive
Summary: It just, Boy With A Damnation.
~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~
Jika ada yang bertanya kemana Namikaze akan dibawa, sudah pasti jawabannya adalah mansion tempat tinggal keluarga Hyoudo. Adegan yang sangat klise di film yang mengusung tema kejahatan, bedanya di film tokoh utama biasanya akan menyembunyikan sebuah senjata untuk melarikan diri, atau paling tidak memberi tahu sekutu untuk membantunya kabur. Namikaze minus di 2 poin tadi, satu-satunya hal yang bisa disebut senjata adalah pisau lipat yang sejak tadi sudah disimpan oleh ke 9 yakuza yang mengiringinya yang terbagi dalam 2 mobil van.
"Hei.. Ossan. Kenapa kalian menculikku?" Tanya Namikaze dengan kepolosan yang dibuat-buat. Tidak mungkin seseorang akan mudah lupa dengan kejadian penikaman yang terjadi di depan matanya, terlebih lagi kemungkinan tersangka yang paling tinggi adalah dirinya.
"Sudah jelas, karena kau telah menghajar tuan muda Hyoudo dan juga menikam Aniki, beruntung Aniki itu kuat jika tidak sudah pasti dia mati saat itu juga." Penjelasan tanpa analisis mendalam itu keluar begitu saja dari mulut salah seorang yakuza di mobil yang mereka tumpangi. Dari perkataannya, Namikaze sudah tahu rencana busuk mereka. Dia akan dibawa menuju mansion Hyoudo, *disidang* oleh kepala keluarga Hyoudo lalu juga akan menjalani hukuman disana.
Jika berbicara fakta Namikaze sendiri mengakui jika dialah yang menjadi dalang dari 2 kejadian itu. Tapi tanpa bukti yang kuat, dia masih bisa merasa aman sebab akan muncul missing link, karena tidak akan ada yang bisa membuktikan keterlibatannya secara objektif.
Tidak mau membalas bualan para pengiringnya, Namikaze memilih untuk diam. Pikirannya melayang memikirkan berbagai macam kemungkinan yang bisa terjadi hingga akhirnya dia teringat telah melupakan satu fakta yang vital.
Bagaimana yakuza yang disebut Aniki tadi bisa tahu jika dia menyimpan pisau lipat di kantung celanannya?
'Indigo? Sial... ini akan merepotkan.'
Time Skip
MANSION HYOUDO
Seperti namanya, mansion alias rumah yang besar. Luasnya tidak kurang dari 3 hektar persegi dan berada di pinggiran kota, membuat mansion Hyoudo terlihat seperti tempat orientasi sekaligus markas besar para yakuza di kota Kuoh. Baru saja turun dari mobil, Namikaze langsung digiring menuju sebuah ruangan besar yang bisa ia sebut sebagai aula.
Di dalam aula itu telah berjejer rapi barisan petinggi yakuza keluarga Hyoudo, namun yang menarik perhatian Namikaze bukanlah mereka melainkan sebuah meja kerja yang terlihat paling besar dan mewah serta berada di tengah-tengah barisan petinggi yakuza yang ada di ruangan itu. Tidak diragukan lagi itu adalah tempat duduk bagi pemimpin yakuza Hyoudo saat ini.
Namikaze diarahkan menuju sebuah kursi yang berdiri sendiri menghadap barisan para petinggi yakuza, paham dengan maksudnya Namikaze langsung duduk di kursi itu tanpa banyak bicara. Sementara itu sembilan orang yang mengawal Namikaze berjejer rapi di belakang kursinya, nampaknya merekalah yang akan memberikan kesaksian di sidang ini.
Di depannya adalah para petinggi yakuza Hyoudo, sementara itu di belakangnya sudah siap 9 orang bersenjata yang siap bersaksi memberatkannya dan juga sekaligus mengeksekusinya. Tiba-tiba muncul suara bising dari arah para petinggi yakuza, ternyata suara itu timbul karena masing-masing dari mereka memberikan salam hormat kepada orang yang bisa Namikaze anggap sebagai pemimpin yakuza keluarga Hyoudo saat ini.
"DIA BERSALAH...! EKSEKUSI SEKARANG JUGA..!" Tak lama berselang setelah duduk di kursi kebesarannya, pemimpin yakuza Hyoudo langsung mengumumkan keputusannya. Tanpa pemberatan, tanpa pembelaan, semua celah untuk beragumen telah ditutup rapat hanya dengan dua frasa yang baru saja keluar dari mulutnya.
Seketika sembilan orang yakuza yang berada di belakang Namikaze langsung mengeluarkan pistol dari saku dalam jas yang mereka gunakan. Mengeluarkan sebenarnya bukan kata yang tepat karena saat ini mereka merasa deja vu dengan kejadian ini, pistol itu telah mereka genggam namun mengeluarkannya terasa sulit, sepertinya jas yang mereka kenakan tersangkut sesuatu di bagian bawahnya.
"KUBILANG EKSEKUSI SEKARANG JUGA!" Perintah yang sama keluar untuk kedua kalinya dari mulut sang pemimpin yakuza Hyoudo, segelintir hal sederhana yang sangat jarang ia rasakan setelah menjadi pemimpin kelompok yakuza.
Menanggapi perintah dari sang pemimpin, kesembilan yakuza yang berada di belakang Namikaze langsung menarik paksa pistol mereka, dan hasilnya sama seperti kejadian serupa yang baru saja mereka lalui saat berada di Kuoh Gakuen.
Brukk... Brukk...Brukk...
Tubuh kesembilan yakuza yang berada di belakang Namikaze langsung ambruk ke lantai dan tak lama kemudian muncul genangan darah dibalik tubuh mereka. Bau anyir darah langsung menyebar di ruangan itu dengan bantuan air conditioner, wangi harum yang ada di aula telah berubah menjadi bau anyir dari darah segar manusia, membuat siapapun yang tidak terbiasa dengan baunya merasa mual.
"Oy... oy... Ojii-san, jika ingin mengadakan sidang bukankah kita perlu berbicara baik-baik terlebih dahulu?" Bangkit dari posisi duduknya, gerakan Namikaze membuat perhatian seisi ruangan tertuju ke arahnya. Dari arah depan, terlihat Namikaze sedang mengambil sebuah pistol dan beberapa magasin.
"Menarik, apa yang ingin kau bicarakan, Shounen?" Sang pemimpin dadi yakuza Hyoudo itu tetap menunjukkan kewibawaannya. Sebuah pistol dan beberapa magasin tidak akan cukup untuk mengintimidasinya, apalagi para petingginya masih berjejer rapi di sampingnya.
"Tergantung apa maumu, kita bisa berbicara soal kejadian yang menimpa anakmu dan juga para bawahanmu. Itupun jika kau bisa menahan amarahmu, Ossan." Dengan satu tangan, Namikaze menyingkirkan poni lempar yang selama ini menutupi kedua matanya. Terlihat ekspresinya yang menampilkan wajah serius berbeda dengan suaranya yang terasa mengejek.
MEANWHILE
KEDIAMAN ICHIRAKU
Ichiraku tinggal di sebuah rumah sederhana yang cukup dekat dengan kedainya. Karena dia membuka kedai dari sore hingga malam, biasanya dipagi hari suasana rumahnya terlihat sepi.
"Heeh... jadi Serafall-san itu senseinya Namikaze?"
"Benar, aku adalah sensei termuda yang diterima mengajar di Kuoh Gakuen."
Kediaman Ichiraku di pagi hari ini terlihat lebih hidup dengan obrolan dua wanita yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah Serafall, orang yang dititipkan Namikaze kepada Ichiraku. Bermalam di rumah orang asing memang terasa canggung bagi Serafall, namun setelah menonton film, bergosip, mandi, dan tidur bersama Ayame kecanggungan itu berubah menjadi keakraban, dan keakraban itulah yang mengantarkan mereka menuju pembahasan yang paling menarik mengenai Namikaze dan Ichiraku.
"Ayame, kenapa kau tidak sekolah? Jika ingin, aku bisa menbantumu belajar untuk masuk ke Kuoh Gakuen." Tanya sekaligus tawar Serafall. Tidak enak rasanya jika hanya meminta bantuan tanpa bisa membalas budi, dan dengan tawaran itu Serafall ingin membalas budi keluarga Ichiraku.
"Bukannya tidak ingin, tapi belum boleh. Karena kejadian di masa lalu, aku tidak bisa bersekolah. Tapi tenang saja, tahun ajaran baru ini aku akan mulai bersekolah tapi aku tidak akan diizinkan untuk mendaftar ke Kuoh Gakuen." Jawab Ayame dengan nada sedih yang terkandung di dalamnya. Serafall menganggap tanda itu bukan untuk tanda berhenti bertanya, malahan dia menjadi tertarik dengan kejadian yang dimaksud Ayame. Dengan bercerita ke banyak orang, masalah akan terasa lebih ringan bukan?
"Mengenai masalah dua tahun yang lalu, kau bukan dalam posisi yang tepat untuk menceritakannya, Ayame." Sebuah suara pria dewasa menginterupsi obrolan *gadis* mereka. Ichiraku dengan masih memakai celemek dan ikat kepala untuk memasak, berdiri di gawang pintu kamar Ayame. Sementara itu Ayame hanya menampakkan ekspresi sebalnya kepada sang Ayah.
"Karena kau adalah Senseinya Namikaze, aku rasa kau memang harus tahu dia itu seperti apa." Ujar Ichiraku yang membuat rasa penasaran Serafall menjadi-jadi.
"Namikaze itu... bukan dari negara ini, dia baru saja datang ke Jepang 2 tahun yang lalu. Entah asalnya dari mana tapi melihat ciri fisiknya, kurasa dia berasal dari Rusia." Berhenti untuk mengambil nafas, Ichiraku melanjutkan ceritanya.
"Aku adalah mantan anggota Ocean Dust, kelompok pembunuh bayaran yang bekerja di wilayah pasifik dan berpusat di Jepang, dulu saat masih ada." Sebagai bukti dari perkataannya, Ichiraku melepaskan kan celemeknya dan mengangkat baju yang dia kenakan sampai sebatas dada. Menampilkan badan yang memiliki banyak bekas luka akibat latihan maupun misi yang ia jalani saat masih aktif di dunia hitam.
"Aku memutuskan keluar dari Ocean Dust, menikah dengan wanita yang kucintai, lalu membangun keluarga dengan pekerjaan baru sebagai pemilik restoran ramen. Setelah belasan tahun, istriku meninggal karena menyelamatkan Ayame dari kecelakaan lalu lintas. Lalu aku dipanggil lagi untuk bergabung dengan O.D karena mereka menganggap pengunduran diriku selama ini sebagai cuti."
"Cerita selanjutnya sangat klise, aku dan Ayame tertangkap, saat aku akan dieksekusi ditempat setelah tertangkap karena dianggap telah melanggar kontrak dengan pemimpin O.D, tiba-tiba sebuah helikopter mendarat di landasan gedung tempatku akan dieksekusi. Orang yang mengemudikan helikopter itu adalah Namikaze."
"Singkat cerita pasukan O.D yang mengejarku malah menjadikan Namikaze sebagai target karena menganggapnya bersekongkol denganku. Akhir dari malam itu adalah Namikaze berhasil meloloskanku dari maut, dan kami membantai pasukan O.D yang mengejarku sekaligus menyelamatkan Ayame. Sera-san, apa kau tahu nama depan Namikaze?" Tanya Ichiraku sebagai penutup cerita panjangnya.
'Nama.. depan... Namikaze... kalau tidak salah...'
"Naruto. Naruto Namikaze?"
"Benar, yang kuceritakan tadi adalah soal Menma. Namikaze Menma. Dia adalah kakak dari Namikaze Naruto. Menurut Naruto, Menma mati saat mengabulkan permintaanku untuk menghancurkan Ocean Dust agar aku dan putriku bisa hidup tanpa bayangan ketakutan." Kata Ichiraku memberikan konklusi di akhir ceritanya, sebuah ringkasan mengenai hidupnya 2 tahun terakhir. Karena kejadian itu jugalah Ayame harus terkurung tanpa boleh lepas dari pengawasan Ichiraku sekurang-kurangnya selama 2 tahun agar dia semakin yakin bahwa siapapun yang mengincarnya sudah tidak berminat lagi. Sementara itu Serafall?
Dia masih bingung. Cerita tadi masih sangat membingungkan dan bahkan tidak menjelaskan siapa itu Namikaze yang sebenarmya dan malah mengangkat karakter baru yang merupakan kakak dari Namikaze. Tapi Serafall mengurungkan niatnya untuk membantah cerita tadi, dia paham jika kejadian itu merupakan kenangan pahit untuk keluarga Ichiraku.
Tapi tunggu sebentar!
Jika Namikaze siapalah itu bisa membantai pasukan bayaran bersama dengan ditemani seorang veteran seperti Ichiraku, lalu bagaimana caranya Namikaze akan menyelesaikan masalahnya dengan keluarga yakuza?
"Ichiraku-san. Jangan bilang Namikaze Naruto sekarang..."
"Tentu saja. Sengaja atau tidak, lama atau sebentar, Namikaze pasti akan tertangkap oleh yakuza Hyoudo. Mereka adalah penguasa di kota ini, selama masih berada di Kuoh mereka bisa melakukan apa saja."
Sefafall diam seribu bahasa. Belasan skenario muncul di kepalanya. Tidak, itu bukan skenario mengenai seberapa hancur keadaan Namikaze saat pulang nanti, yang dipikirkan Serafall lebih rumit dari pikiran posesif itu. Pikiran Serafall kembali mengingat keluarganya, keluarga Sitri.
Drrr... Drrrr... Drrr...
Suara getaran antar 2 benda padat itu membuyarkan semua konsentrasi yang ada disana. Bunyi itu berasal dari handphone Serafall yang di charge diatas meja, menandakan ada panggilan yang masuk.
"S-Sona..." Ucap Serafall lirih membaca nama yang tertulis di layar handphone miliknya. Dengan sedikit keraguan, Sera menjawab panggilan itu.
"Moshi-moshi..."
"Onee-sama, Kuoh telah runtuh. Hyoudo sudah musnah. Jika kau ingin kembali, Sitri akan menerimamu dengan tangan terbuka."
MEANWHILE
MANSION Hyoudo
Hyoudo, bukanlah satu-satunya keluarga yakuza yang ada di negeri Jepang. Ada banyak keluarga yakuza yang tersebar di seluruh Jepang, masing-masing dari mereka biasanya memiliki sebuah kota yang menjadi basis kekuatannya. Meski memiliki banyak faksi, namun sangat jarang terjadi perselisihan antar keluarga yakuza. Tanpa kompetisi, semua keluarga yakuza telah puas dengan posisi dan pengaruhnya di suatu kota. Bisa dibilang yang terjadi selama bertahun-tahun ini disebut sebagai status quo. Keadaan tanpa pemenang dan tanpa pecundang, semuanya telah menjadi babi yang sudah puas hanya dengan memakan kotoran. Namun status quo itu nampaknya akan segera hancur dalam sekejap.
"JANGAN BERCANDA!" Teriakan dari sang kepala keluarga Hyoudo menggema di aula yang setiap saat dapat berubah menjadi medan pertempuran yang berat sebelah. Tangan kanannya sudah menggenggam erat gagang katana yang tersarung rapi di pinggangnya
Melihat negosiasinya ditolak mentah-mentah, Namikaze mulai kehilangan minat untuk meneruskan pembicaraan ini. Selama pembicaraan ini berlangsung, dia sudah ditanya alasan mengapa menyerang Issei, hingga trik apa yang dia gunakan untuk melumpuhkan 10 yakuza Hyoudo di gerbang utama Kuoh Gakuen dan juga di aula ini. Namikaze dengan senang hati menjawab semua pertanyaan itu karena menurutnya, menyamakan persepsi kedua belah pihak sebelum bernegosiasi adalah hal yang penting.
Namun usaha yang dibangun dengan 10 korban yakuza Hyoudo itu gagal ketika Namikaze bilang. *Baguslah kalau kau sudah paham kenapa anakmu itu perlu kuberi pelajaran. Jadi sekarang... serahkan kepala Hyoudo Issei.* Begitulah awal dari situasi menegangkan ini.
Sebagai respon terhadap teriakan pemimpinnya, keempat petinggi yakuza keluarga Hyoudo itu langsung mengambil sikap siaga. Sebagian ada yang mengontak anggota yang berada di luar hingga ada yang bersiap dengan Katana, tanto yang siap dilempar, dan senapan serbu yang siap memuntahkan ratusan timah panas tiap menitnya.
Namikaze berdiri dari posisi duduknya untuk yang kedua kali, kali ini dia menuju salah satu mayat yang ada disana dan mengambil sesuatu dari kantong jasnya. Sementara itu kelima petinggi yakuza yang ada di depan masih sibuk mengamati apa yang akan dilakukan oleh seorang pemuda yang telah banyak merepotkan mereka dalam 2 hari ini, apakah dia akan kembali duduk untuk berbicara atau berbalik melawan setelah tujuannya terang-terangan ia kemukakan di depan orang yang sangat tidak tepat, yaitu Ayah dari target yang ingin ia bunuh.
Namikaze berputar 180 derajat, bukan untuk duduk di kursi buluknya tadi melainkan untuk melemparkan sesuatu yang dia pegang di tangan kanannya. Membuat benda itu melayang di udara dan menuju ke arah para petinggi yakuza Hyoudo, lemparan Namikaze tidak terlalu cepat dan kuat namun cukup tinggi. Membuat semua mata yang ingin melihat benda yang ia lempar harus mendongak ke udara, membuat pertahanan mereka terbuka lebar selama beberapa detik.
"HAAAAHHHH...!" Tembakan senapan serbu salah satu petinggi yakuza Hyoudo langsung memberondong ke arah benda yang dilempar Namikaze. Benda itu bukanlah granat, flashbang, ataupun bom asap, benda itu sangat tabu walaupun hanya sekedar diperlihatkan di muka umum melebihi tabunya senjata api yang asli.
"HENTIKAN TEMBAKANMU BODOH! JIKA KEPALA ITU PECAH..."
Kraaak...
Benda yang dilemparkan Namikaze itu pecah seiring dengan berondongan peluru yang mengenainya, membuat isi dari benda itu berhamburan ke jatuh mengenai siapapun yang ada di bawahnya. Secara reflek kelima petinggi yakuza Hyoudo saat itu juga langsung menutup mata dan menggunakan tangannya untuk melindungi indra penglihatannya dari hujan darah dan isi organ kepala.
Dor... Dor...
Dor... Dor...
Dor... Dor... Dor... Dor...
8 tembakan beruntun itu disarangkan Namikaze ke 4 petinggi yakuza Hyoudo, masing-masing tubuh mendapat 2 tembakan di kepala yang akan mengakhiri hidupnya cepat atau lambat, menyisakan seorang pemimpin dari yakuza Hyoudo.
"Jackpot." Mengakhiri aksinya, Namikaze menembakkan pistolnya secara brutal dengan memakai kedua tangannya, ketika peluru habis dia langsung mengganti magasinnya secepat yang dia bisa lalu kembali menembak. Tidak ada belas kasihan walau saat ini musuh yang harus ia eliminasi hanya 1 orang.
Namikaze berhenti menembak setelah menghabiskan magasin ketiga di masing-masing tangannya, dia telah menghabiskan total 6 magasin hanya untuk membunuh satu orang yang menurutnya perlu dibuat lebih berkesan daripada yang lain. Sementara itu kondisi bos yakuza Hyoudo saat ini telah berwujud mengenaskan, tidak kurang ada 50 peluru yang bersarang di tubuhnya, membuat kematiannya menjadi lebih cepat dari keempat bawahan setianya.
"NAMIKAZE! KELUARLAH DENGAN DAMAI! JIKA TIDAK ADA TANGGAPAN DALAM 2 MENIT, PASUKANKU AKAN MASUK KE DALAM UNTUK MEMBUNUHMU!"
"AKU ULANGI, JIKA KAU TIDAK KELUAR DALAM 2 MENIT, SELURUH KELUARGA YAKUZA HYOUDO AKAN MEMBUNUHMU!"
Sementara itu Namikaze sebagai satu-satunya entitas hidup di ruangan itu sedang mengobservasi sekitarnya. Ternyata ruangan ini bukan hanya sekedar aula biasa, melainkan sebuah aula yang dilengkapi dengan kamera, perekam suara, bahkan sampai kuncinya dibuat otomatis, karena tidak ada lubang kunci di bawah gagang pintu selayaknya pintu konvensional.
'Bahkan jika aku ingin, aku tidak mungkin keluar karena kunci ruangan ini.' Namikaze kekurangan pilihan, atau sebenarnya semua pilihannya telah hangus ketika dia memutuskan untuk membantu Senseinya.
Ngomong-ngomong soal Serafall-sensei, Namikaze bisa membayangkan seperti apa wajah bingungnya ketika masalah ini telah selesai. Dialah yang meminta Namikaze membantunya menyelesaikan masalahnya dengan Hyoudo Issei, tapi masalah ini telah menjadi lebih rumit dari yang Namikaze kira.
Sampai akhirnya kumpulan skenario di kepala Namikaze telah mengerucut menjadi 2 pilihan, membiarkan Serafall ditangkap oleh Hyoudo untuk dieksploitasi dengan alasan membayar perbuatannya, atau dia harus membantai keluarga inti Hyoudo agar alasan yang ada di pilihan pertama tidak lagi relevan dan Serafall terbebas dari sangkut paut masalah dengan keluarga Hyoudo.
Memberikan peringatan tidak masuk ke dalam pertimbangan Namikaze dalam masalah ini, memberikan waktu kepada sebuah organisasi besar untuk membuat rencana adalah pilihan terbodoh yang pernah ia pikirkan.
Dari luar terlihat aula dimasuki oleh Namikaze dan para petinggi yakuza keluarga Hyoudo tengah dikepung oleh gerombolan yakuza berpakaian hitam, mereka adalah bagian dari yakuza Hyoudo yang dipanggil oleh salah seorang petingginya agar segera kembali ke Mansion ini karena situasinya berubah menjadi berbahaya.
Pintu aula itu perlahan-lahan terbuka, pertanda bahwa situasi gawat yang mereka dengar sudah teratasi, atau setidaknya itulah yang mereka pikirkan. Karena kontrol penuh ruangan aula kebanggaan Hyoudo itu berada di bawah kendali bos besar mereka.
Namun yang pertama kali keluar dari ruangan itu bukanlah bos mereka. Secara harfiah mereka masih bisa dikatakan sebagai bos yakuza Hyoudo, meskipun hanya tinggal kepalanya saja.
1
2
3
4
5
Total ada 5 kepala yang dilemparkan dari dalam ruangan itu, yang membuat gerombolan yakuza di luar marah bukan pada jumlahnya, tapi kepala siapa saja yang telah dilempar dari sana. Itu semua adalah kepala para petinggi yakuza keluarga Hyoudo.
Ketika pintu telah terbuka sepenuhnya, barulah terlihat sebuah siluet pria duduk dengan arogan di kursi yang biasanya diduduki oleh orang yang akan segera mati dieksekusi. Siluet itu bukan hanya duduk dengan pose arogan, namun salah satu tangannya mengacungkan jari tengah.
"Jackpot... BITCH!"
~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~
AN:
Harap diingat dan juga ingatkan saya kalau saya lupa, saya menulis cerita CRIME bukan cerita EDGY seputar pembunuhan.
2k-3k word masih menjadi zona nyaman saya.
Di fanfic ini saya mencoba menahan diri, tidak banyak trik atau alur yang langsung saya bocorkan dan akan saya tumpuk sebagai asset cerita ini ke depannya.
Saat ini saya masih merasa enjoy menulis cerita ini, entah karena ide yang fresh atau saya sudah lelah kena WB mulu.
Update cepet? Saya bakal update kalau sudah siap. Entah cepat atau lambat, jangan gunakan patokan mingguan, harian dan sebagainya untuk melihat kapan fanfic ini update.
Siapa saya? Apa itu penting? Tidak. Baca aja cerita yang saya tulis, jangan memikirkan siapa yang membuatnya. Belajarlah memiliki taste sendiri.
