Author's Note : Chapter 2! sedikit bingung mikir kelanjutannya.. gara gara. kebanyakan begadang-kah? Udah 2 hari ga tidur.. -,-" *curhat colongan

First of all, thanks berat buat review-nya, kritik dan sarannya memotivasi saya untuk buat yang lebih bagus lagi haha*moga moga sih lebih bagus :D

Marianne Vessalius : Makasih Anne, salam kenal juga :). Makasih juga buat Favorite-nya :D

Crystal-Green : Maksih banyak koreksinya, nanti bakal di-edit :) makasih :)

Shane Prochainezo : Iya, salam kenal juga, bro/sis? :) haha Amiiin! saya juga berharapnya bakal seru :D dan iya, ini fic action. :)

Sekar. Nasri : Makasih warm welcomenya senior :) makasih banyak koreksinya, bakal diusahain ga diulangin lagi kedepannya. Untuk yang "penghianat" itu, saya juga tadinya bingung, pake k ato ngga, ternyata pake ya.. haha. Maap. Haha iya setuju , sempet kesel sendiri kalo liat endingnya season 2. Masa ga jadi sih itu berdua? :(

Halicalilove12 : Tentu boleh halcali-chan :) yes I am anak baru haha, tapi kalo baca fanfiction udah daridulu, sampe akhirnya tangan gatel ga tahan pengen ikutan nulis..Uuntuk bahasa, emang sengaja dibuat agak agak kasar, karena settingannya udah pada gede, dan namanya juga remaja :D tapi bakal dikurangin juga kok kalo emang dianggap kasar :). untuk Taiora, rencananya bakal ada kok. tunggu aja, bola itu bundar, tak ada yang tak mungkin *euforia piala dunia haha. Iya sih emang udah banyak. Lagian gregetan aja, dimunculin tiap season satu-satu. Ga bisa langsung 7"nya apa? :(

Ya, ini Chapter 2, semoga menyenangkan untuk dibaca :)

Disclaimer : Digimon bukan milik saya

last word : enjoy :)


Pulau File, (pulau musim gugur) 22/06/2006 17.38 PM

Kami berempat berlari melewati hutan menuju rumah Gennai, yang terletak dibawah laut. Aku melihat ke arah Takeru yang berlari jauh di depan. Entah apa yang merasukinya sehingga sama sekali tidak melambat atau kelelahan, padahal Daisuke yang adalah anggota klub sepakbola yang tubuhnya dilatih setiap hari sudah mulai melambat. Aku ingat saat melihat sorot wajah Takeru saat Palmon datang dan mengatakan bahwa Demon sudah kembali. Wajahnya penuh dengan kebencian.

"Sial, andai saja V-mon ada disini dan bisa berubah menjadi Lighdramon, dia bisa membawa kita ke rumah gennai secepat kilat! V-moooon!" teriak Daisuke yang sudah mulai kelelahan. keringat mengucur dari dahi laki laki bergoogle itu.

"Daisuke!" Terdengar balasan dari depan kami, sepertinya V-mon datang untuk mengejar Palmon. Kami beruntung.

Kami berhenti berlari. Membiarkan V-mon datang ke pelukan Daisuke.

"V-mon! Bagaimana keadaan semuanya disana? Apa mereka baik baik saja? Bagaimana keadaan Patamon?" Tanya Takeru dengan muka cemas, sangat terlihat kalau dia sedang panik.

"Aku.. aku tidak tahu...begitu Demon datang, Gennai menyuruhku dan Palmon untuk pergi mengejar kalian, tapi Palmon masih dibelakang, mungkin masih lama untuk sampai kemari." Kata V-mon sambil terengah engah.

"APA?" Keringat dingin mengucur dari leherku, kalau Palmon masih dibelakang V-mon, lalu siapa yang daritadi bersama kami? Aku, Takeru, dan Daisuke saling berpandangan, kami tidak bisa menyembunyikan wajah ketakutan kami.

Kami bertiga menoleh kebelakang, ke arah Palmon yang misterius itu. Palmon itu menunduk terdiam, dan tidak lama kemudian tersenyum lebar.

"Hihihihi... ketahuan ya? Apa boleh buat... tak kusangka akan ketahuan secepat ini.."

Mata makhluk itu berubah memerah, kegelapan tiba tiba muncul menyelimuti tubuh makhluk itu. terlihat dari dalam kegelapan tubuhnya berubah membesar, dan mulai terlihat menyerupai sosok manusia. Sesaat kemudian, kegelapan itu sirna. Muncul sesosok yang mirip perempuan cantik barambut pendek yang memakai gaun malam ala miko jepang. Perbedaannya dengan miko jepang umumnya, gaunnnya berwarna ungu dan tidan menutupi pundaknya., kakinya terlihat memakai armor dan geta berwarna hitam, bersayap empat, diantaranya sayap Lady Devimon, dan dua lagi berbentuk seperti sayap Pico Devimon baerwarna hitam.

"Perkenalkan." Katanya sambil tersenyum dengan bibir yang seakan diberi lipstik hitam legam. "Aku Lilithmon."

~Chapter 2 : Withered Flower

Los Angeles Modelling School 22/06/2006 17.38 PM

Sore hari di sebuah Universitas yang terletak di tengah kota Los Angeles, para mahasiswa sudah menaiki motor sport atau mobil mereka masing masing dan mengendarainya sampai ke Starbucks, Melrose Avenue, atau ke sebuah private party. Universitas ini memang Universitas untuk mereka yang kaya raya. Tidak ada seorang mahasiswa pun yang naik bus umum. Di dalam satu kelas, dua orang yang merupakan mahasiswa dan mahasiswi universitas ini masih terlihat untuk surfing internet via wireless dan chatting, Tiba tiba mahasiswi itu berhenti memainkan jarinya di tuts keyboard laptopnya.

"Perasaanku tidak enak.. kenapa tiba tiba begini?" Mahasiswi itu bertanya kepada dirinya sendiri. Perasaan tidak enak tiba tiba menyeruak ke dalam hatinya, seakan ada sesuatu yang buruk terjadi.

"What's up Mimi? What's with the look on your face? " Tanya sang mahasiswa sambil menyeruput hazelnut latte yang baru dibelinya. Mahasiswa itu adalah Wallace, seorang anak terpilih dari Amerika yang pernah bertarung bersama kami untuk melawan digimonnya sendiri, Kokomon. Kukira dia seumuran denganku, ternyata hanya berbeda satu tahun dengan kakakku.

Mimi sekarang tengah bersekolah di Los Angeles Modelling School, sebuah Universitas besar untuk mereka yang bercita-cita menjadi model di Los Angeles. Dia berpacaran jarak jauh dengan kak Koushiro.

"Wallace... perasaanku tak enak.. Apa ada sesuatu dengan keluargaku? Koushiro? Teman-teman? Palmon?" Mimi terlihat sangat tidak tenang.

"Tenang Mimi, kau baru saja chat dengan Koushiro tadi. Jadi pasti dia tidak apa apa, teman teman baru saja pulang dan ke arah yang berbeda beda. Aku tidak yakin ada sesuatu yang buruk yang menimpa mereka. Orangtuamu juga baru saja meneleponmu supaya jangan pulang telat kan? Mereka juga mungkin tak apa-apa, sedangkan Palmon..." Wallace berhenti berbicara, dia terlihat bingung tentang apa yang harus dikatakan mengenai Palmon, karena tak ada jaminan Palmon aman disana.

"Bagaimana kalau kita pergi ke dunia digital?" Kata Terriermon yang tiba tiba menyembul dari tas Wallace yang ia letakkan di sebelah laptop Mimi.

"Whoa, kau mengejutkanku Terriermon!" kata Wallace yang tidak sengaja melompat karena kaget. "Aku tidak ingat sudah menaruhmu di dalam tas?" Tanyanya.

Terriermon adalah digimon milik Wallace, digimon kecil bermata bulat, bertelinga panjang dan bertanduk kecil . Tubuhnya berbentuk seperti boneka. Secara pribadi, aku mengaggapnya lucu sekali!

"Sudahlah, jangan mempermasalahkan hal kecil, Wallace." Terriermon menggoyang-goyangkan telunjuknya naik turun dan tersenyum "Ayolah.. tidak apa apa kan kita ke Dunia Digital sekarang?" pintanya.

Mimi tersenyum. "Tentu tidak apa-apa Terriermon, aku juga ingin pergi. Kau ikut, Wallace?" tanya Mimi.

"Umm.. okay, no problem." Jawabnya.

Mimi tersenyum. Dia mengutak atik laptopnya, mencoba membuka gerbang dunia digital.

Tak berapa lama layar laptopnya bercahaya dan menunjukkan bebrapa data data yang berbentuk layar lain didalamnya, bentuk baru dari gerbang Dunia Digital. Indikator lampu hijau yang ada di kiri bawah gerbang itu terlihat bersinar.

"Bagus, gerbangnya terbuka. Kalian siap?" Tanya Mimi

"Ready when you are." Jawab Wallace tersenyum

"Bring it!" Jawab Terriermon sambil mengedipkan mata dan mengacungkan jempolnya.

"Digiport open!"

Pulau File, (pulau musim gugur) 22/06/2006 17.40 PM

"Lilithmon?" Tanyaku. Kuakui aku takut. Aku tidak pernah melihat digimon dengan aura kegelapan sebesar ini selain Demon.

"Ya, Aku Lilithmon, satu dari 7 raja iblis Dunia Digital." Jawabnya. "Tapi tenang saja, aku tidak datang untuk menyerang kok, hanya datang sebagai pemberi perngatan." Lilithmon tersenyum, menunjukkan tangan kanannya yang aneh, berwarna hitam pekat dan terlihat... berbahaya.

"Sebetuuulnya aku sudah diwanti-wanti Barbamon agar tidak membocorkan rahasia ini pada siapapun, tapi khusus untuk kalian, akan kuberitahu~." kata Lilithmon, tersenyum sambil menaruh telunjuk kirinya di bibirnya.

"Dunia Digital akan segera berubah. dalam waktu dekat, kami akan mengumpulkan digimon digimon kegelapan, dan melakukan penyerangan secara sembunyi-sembunyi ke Kota Malaikat. semua digimon cahaya akan berubah menjadi budak kegelapan. Dan dunia ini akan menjadi milik kami, penguasa kegelapan." katanya sambil menaruh kedua tangannya di dagu. Ekspresi wajahnya menunjukkan kepuasan. "Ooh.. memikirkannya saja sudah membuatku sangat bersemangat~" Tutupnya

Kota malaikat? Bertahun tahun aku dan yang lainnya melakukan perjalanan di Dunia Digital, aku tidak pernah melihat atau bahakan mendengar mengenai Kota malaikat..

"Apa kau tidak sedang membohongi kami? Aku tidak pernah mendengar adanya kota di Dunia Digital yang bernama Kota malaikat? dan kalaupun ada, kau pikir kami akan membiarkannya terjadi?" Daisuke mengepalkan tangannya. Ketakutan di wajahnya hilang. "Saatnya berubah, V-mon."

"Ya!" kata V-mon bersemangat

"Digi-Armor Digivolve!" teriak Daisuke. cahaya biru yang berasal dari digi-egg persahabatan menyelimuti tubuh V-mon.

"V-mon Digivolve to... Lighdramon!"

"Kalian mencoba melawan? Aku sungguh tidak mengerti.. kalian takkan mungkin mengalahkan kami ataupun menggagalkan rencana besar kami." kata Lilithmon tenang.

"Pergilah, temui digimon yang lain, kita butuh mereka. Soal dia," Daisuke melihat ke arah Lilithmon. "Kalian tenang saja, Aku akan menghadapinya disini." kata Daisuke yang kemudian menaiki tubuh Lighdramon.

"Baiklah, Tunggu kami Daisuke! kami akan segera kembali untuk menolongmu!" Kata Takeru sambil berlari pergi meninggalkan Daisuke dan Lighdramon. Aku berlari mengikuti Takeru, kami berlari menerobos hutan cukup jauh sampai Daisuke dan Lighdramon tak terlihat lagi. Dengan mengandalkan D-3 untuk memastikan lokasi digimon kami yang berada di rumah Gennai.

"Hikari, gunakan D-Terminal untuk menghubungi yang lain. Kita butuh bantuan mereka!" Kata Takeru sambil berlari.

"Baik" Kataku. Aku merogoh sakuku dan mengambil D-Terminal milikku. Aku pun membuka D-Terminal untuk menghubungi kakakku dan yang lainnya.

"Keadaan darurat, segera datang ke Dunia Digital!" Aku menulis kata-kata itu di D-Terminalku dan mengirimnya, semoga semua bisa sampai sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

Sementara itu, Daisuke dan Lighdramon berlari secepat kilat ke arah Lilithmon.

"Lightning Blade!" Tanduk Lighdramon dialiri Petir bertegangan tinggi. Dia menerjang ke arah Lilithmon, yang dengan mudah dapat menghindar dengan memutar tubuhnya ke samping kanan, melompat dan menaiki tubuh Lighdramon yang hampir melukainya.

Lilithmon menyentuh dagu Daisuke dan mendekat ke tubuhnya"Dengar, aku tak ingin menyakiti kalian. Kalian hanya akan mati konyol bila mencoba melawanku.." Bisik Lilithmon di telinga kanan Daisuke.

"Ugh.." Daisuke menjauh dar Lilithmon, dia turun dari tubuh Lighdramon "Alirkan listrik ke tubuhmu, Lighdramon!"

"Haaaaaaaa!" Lighdramon mengalirkan listrik bertegangan tinggi ke tubuhnya sendiri, yang meledakkan daerah sekitar dan Lilithmon yang berada di atasnya. Daisuke berlari menjauh, mencoba menghindar dari imbas ledakan yang mungkin terjadi.

BLAR! Ledakan itu menghancurkan tanah dan beberapa pohon di sekitarnya, tapi Lilithmon masih duduk dengan tenang di atas Lighdramon. Tidak terlihat adanya bagian tubuh yang hangus ataupun terluka.

"Tidak mungkin!" Daisuke terkejut.

"Apa? Sudah selesai? Bagaimana kalau kau mencoba sekali lagi? hihihi" Lilithmon tertawa kecil

Lighdramon menggoyang goyangkan tubuhnya, mencoba menjatuhkan Lilithmon dari atas tubuhnya, walau tanpa hasil.

"Tidak perlu susah payah mencoba begitu, aku akan turun sendiri" kata Lilithmon. Digimon berbentuk wanita cantik itu turun dari tubuh lighdramon dan berdiri di hadapannya. "Nah, ayo... lakukan serangan terbaikmu, aku takkan menghindar" Lilithmon tertawa kecil.

"Jangan meremehkanku!" Lighdramon berteriak "Blue Thunder!" Tanduk-tanduk yang ada di punggung Lighdramon bercahaya, mengeluarkan serangan petir bertegangan tinggi

Petir itu menyambar tepat ditubuh Lilithmon, menyebabkan ledakan di sekitarnya.

"Berhasil!" Daisuke mengepalkan tangannya.

Ledakan itu menyebabkan asap ledakan yang cukup lebat. Menutupi pandangan Daisuke dan Lighdramon. Tepat pada saat itu, Daisuke berkeringat dingin. pengalamannya bertarung selama ini membuat instingnya tahu, kalau ini belum selesai, dia merasakan firasat buruk, seakan sesuatu akan segera datang dan membunuhnya.

"Lari..." Gumamnya.

"Larii! Lighdramooon!" Daisuke berteriak.

Terlambat. sebelum Lighdramon berhasil lari, Lilithmon melesat dari dalam kepulan asap, tubuhnya tak terlihat tergores sedikit pun. Ia tersenyum.

"Nazar Nail.." Lilithmon mengeluarkan tangan kanan hitamnya yang kini diselimuti kegelapan dan menyentuh armor Lighdramon. Seketika armor Lighdramon hancur lebur

"Apa?" Lighdramon terkejut dan berlari mundur

"Sekarang, selesailah.." bisik Lilithmon kepada Lighdramon. Lilithmon sangat cepat, ia mampu mengejar lari Lighdramon. sambil tersenyum, Lilithmon mengarahkan tangan kanannya ke arah tubuh Lighdramon yang tidak terlindungi armor.

"Ini tidak mungkin!" Daisuke terkejut. Lelaki berambut hitam itu berlari ke arah Lighdramon untuk melindunginya.

"Percuma, kau terlam...!" Tangan Lilithmon berhenti. Kesempatan itu dipakai Lighdramon untuk mundur dan kembali berubah menjadi V-mon. "Apa ini?" Tangan Lilithmon terbelit sesuatu seperti akar akar kecil yang menarik tangannya mundur.

"Poison Ivy!" Sosok yang tak asing lagi terlihat memanjangkan tangannya yang ternyata adalah akar akar kecil yang menghentikan tangan Lilithmon. Sosok itu adalah Palmon. Mimi,Wallace, dan Terriermon berada di belakangnya.

"Palmon! Mimi! Wallace! Terriermon!" Daisuke lega. Akhirnya bantuan datang untunya dan V-mon.

"Ada apa Daisuke? Seperti bukan kau saja" goda Terriermon yang kemudian diaminiWallace.

Lilthmon memutuskan paksa jeratan poison ivy Palmon. "Hei, hei... sudah kubilang aku di sini bukan untuk bertarung. Kenapa sangat bernafsu untuk bertarung denganku?" Lilithmon tertawa kecil. "Apa kalian sangat menyukaiku? Hihi.."

"Aku sudah dengar semuanya dari Palmon. Dan apapun rencana kalian, aku yakin itu bukan untuk kebaikan Dunia Digital." kata Mimi. Lambang Sincerity di dada gadis berambut coklat panjang itu bersinar. "Kami harus menghentikan kalian, dan itu dimulai dari kau! Ayo, Palmon."

"Baik!" Jawab Palmon.

"Palmon digivolve to... Togemon!"

Lambang Sincerity milik Mimi bersinar makin terang.

"Togemon digivolve to... Lilymon!"

"Ayo, kita juga Terriermon!" kata Wallace

"Ya! Terriermon digivolve to... Gargomon!"

"Ayo Lilymon, Gargomon!" Teriak Mimi

Lilymon terbang mendekati Lilithmon. Lilithmon menyadarinya dan melesat ke depan Lilymon

"Percuma, Nazar Na..." belum sempat tangan kanan Lilithmon mencapai tubuh Lilymon, Meriam bunga Lilymon sudah diarahkan tepat ke wajahnya.

"Flower Cannon!" Bum! Flower cannon yang diarahkan tepat ke wajah Lilithmon meledak. membuatnya jatuh terbaring ke tanah tanpa pertahanan..

"Urgh!" Lilithmon Menggeram. Saat menyondongkan kepalanya ke atas dan berniat berdiri, Gargomon sudah berada di depannya.

"Wanita cantik, sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini padamu tapi. Apa boleh buat.. Gargo Pellets!"Gatling gun di kedua tangan Gargomon bercahaya, lusinan peluru ditembakkan mengenai seluruh tubuh Lilithmon yang masih terbaring dan meledakkannya.

"Nazar Nail!" Lilithmon yang tampaknya tidak terluka oleh serangan Gargomon berdiri dengan cepat dan menyentuh gatling gun di kedua tangan Gargomon. Menghancurkannya berkeping keping.

"Gargomon! Mundur!" Teriak Wallace.

Terlambat, Jangkauan kaki Lilithmon lebih panjang dari Gargomon. Lilithmon menendang Gargomon dengan keras, membuatnya terpental jauh ke arah pepohonan, menghantam dan mematahkan pohon yang menahannya. Serangan itu berhasil membuat Gargomon berubah kembali menjadi Terriermon.

"Ugh..." Terriermon memegangi perutnya, kesakitan.

"Terriermon!" Wallace berlari untuk mengambil dan menyelamatkan Terriermon.

"Kalian... cukup membuatku kesal.. terutama.." Lilithmon melirik ke arah Lilymon dan melesat secepat kilat ke depannya, Menendang perut Lilymon dengan Lututnya.

"Agh!"Lilymon kehilangan keseimbngan di udara. Lilithmon kemudian memukulinya bertubi-tubi dan melemparnya hingga Lilymon bebenturan keras dengan pepohonan.

"Lilymon!" Mimi berlari ke arah Lilymon.

Lilithmon mengepakkan ke-4 sayapnya, bersiap melesat ke depan Mimi untuk menyerangnya.

"Fire Rocket!" V-mon yang berubah menjadi Flamedramon menyelimuti dirinya dengan api dan menrebangkan dirinya ke arah Lilithmon untuk menghentikannya.

" Pengganggu!" Lilithmon menghentikan Fire Rocket Flamedramon menggunakan tangan kirinya untuk menangkap dan mencekik leher Flamedramon yang masih terbungkus api. Tangannya dapat menembus roket api berkecepatan tinggi itu dengan mudah. api yang menyelimuti Flamedramon padam.

"Khh.." Flamedramon berusaha menyingkirkan tangan Lilithmon dari lehernya dengan kedua tangannya. Tapi tak berhasil, Lilithmon jauh lebih kuat dari apa yang terlihat.

Flamedramon mulai lemas, Lilithmon melpaskan tangannya dan dengan cepat memukul perut Flamedramon menggunakan tangan kanannya dengan sekuat tenaga, yang membuatnya terpental menghantam tanah dan menghancurkan tanah di sekitarnya. Flamedramon yang kesakitan berubah kembali menjadi V-mon.

"Mustahil..." Daisuke terlihat putus asa. Dia berlari ke arah V-mon dan menggendongnya "Andai saja Ken ada disini.." Gumamnya.

"Daisuke.. maaf.." Kata V-mon lemas.

"Tidak apa apa teman, tenang saja. Jangan patah semangat." Daisuke tersenyum.

V-mon dan Terriermon telah jatuh. Meninggalkan Mimi dan Lilymon yang terluka untuk bertarung.

"Jadi.. hanya tinggal kalian?" Lilithmon tersenyum. "Untuk kalian akan kuberikan sesuatu yang bagus"

Lilithmon melesat ke arah Mimi yang ketakutan, dan mendekatkan wajahnya. "Bye-bye" katanya, tersenyum lebar, matanya memerah, seperti warna api.

"Mimi! Awas!" Wallace dan Daisuke berlari ke arah Mimi, mencoba melindunginya, namun jarak antara mereka dan Mimi tidak memungkinkan mereka untuk menyelamatkannya tepat waktu.

"Mimi!" Lilymon melompat dan mendorong Mimi. Mimi terdorong jauh, meninggalkan Lilymon tanpa pertahanan di depan Lilithmon.

"Phantom Pain..." bisik Lilithmon.

Dari nafasnya keluar racun-racun yang kemudian terhirup oleh Lilymon. Dalam sekejap, Lilymon mersakan sakit yang luar biasa dari dalam tubuhnya.

"Aaaaaah! Aaaaaaaaaaahhh!" Lilymon mengerang kesakitan, dia terjatuh dan berteriak, sambil memegangi seluruh tubuhnya.

"Phantom Pain adalah racun yang paling berbahaya. Apabila terhirup, dia bisa menghancurkan susunan data orang yang menghirupnya separah mungkin dan menyebabkan... kematian. Hihihihihihi" Lilithmon tertawa keras.

"Tidak mungkin.." Wallace terdiam, ia mencoba memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini, namun tidak ada satu ide bagus pun yang melintas di otaknya, saat tiba tiba ia mendengar suara teriakan seseorang yang memanggil manggil Daisuke.

"Oiiiiii! Daisuke! Dimana kau!" Terdengar suara seseorang mamanggil Daisuke. Daisuke menganali suara itu. Itu adalah suara Taichi. Pertolongan telah datang.

"Ohh, ada lagi? Ini melelahkan.." Gerutu Lilithmon yang kemudian membuka portal kegelapan.

"Wish you luck, Anak anak manis, semoga kita bisa bermain main lagi lain kali~" Katanya tersenyum dan pergi meninggalkan Lilymon yang terbaring sekarat di hadapannya.

"Tunggu!" Daisuke mencoba mengejarnya, tapi portal itu telah tertutup.

"Tidak! Lilymon! Lilymon!" Air mata keluar dari mata Mimi, dia berlari dan memegang tangan Lilymon. "Lilymon.. kumohon.. bertahanlah.." isaknya.

"Mimi.. sudah..." kata Lilymon dengan suara yang sangat kecil, Walau terlihat jelas bahwa Lilymon bahkan tak memiliki kekuatan untuk berbicara lagi, dia masih bisa tersenyum "Baik.. baik.. Mimi.."

Daisuke dan Wallace yang melihatnya, merasa putus asa. Keinginan bertarung mereka hilang seketika.

"Siaaal! Siaal! Kenapa jadi begini!" Teriak Daisuke, memegangi kepalanya, dan menutup matanya "Ini mimpi! ini pasti mimpi!" teriaknya. Dia berlutut dan memukul-mukul tanah.

"Mimi..." Wallace tidak tega melihatnya dan memalingkan wajahnya..

"Daisuke!" Suara Taichi kembali terdengar. "Dimana kau!"

Daisuke yang mendengar teriakan Taichi, bangkit. "Aku disini!"teriak Daisuke dengan keras, berharap mereka bisa cepat menemukannya.

Taichi bersama Sora , Koushiro dan Piyomon datang berlari menghampiri Daisuke, Mimi, dan Wallace.

"Mimi? Wallace? Kalian berada disini juga? kalian baik baik saja?" Tanya Taichi cemas "Mana Hikari dan Takeru?" tanyanya lagi.

"Hikari-chan dan Takeru sudah pergi lebih dulu ke rumah Gennai, tapi.." Daisuke melirik ke arah Mimi.

Taichi melihat ke arah Mimi. Ia melihat Mimi terduduk menangis. Air mata gadis yang tegar dan ceria kapanpun dimanapun itu jatuh dan terus membasahi digitama yang ia peluk.


Chapter 2 selesai.

Kalau ada saran, kritik, atau flame, silakan :)