[unedited]

beware of typo exist


Seokjin langsung terkesiap dan mengejabkan matanya cepat.

mimpi itu lagi…

Entah disebut mimpi buruk atau bagus, mimpi sama yang sekali lagi berputar dalam tidurnya. Kejadian yang telah berlalu lebih dari satu tahun itu masih terbayang dalam pikirannya. Padahal menurut pribadi Seokjin tak ada yang benar-benar istimewa dari kejadian itu.

Kecuali kenyataan putrinya koma selama satu minggu setelahnya, membuat ke khawatiran membuncah hingga Seokjin hampir tidak bisa tidur sama sekali selama putrinya belum membuka mata. Memastikan buah hatinya tetap bernafas setiap detik. Ia bahkan hampir tak mengizinkan matanya untuk berkedip. Namun tentu saja semua manusia memiliki batas. Kesehatan tubuhnya menurun drastis dan Seokjin ditemukan pingsan tepat disebelah ranjang putrinya saat hari ke enam. Dua hari kemudian Ia terbangun dengan senyum Taehyung yang memenuhi pengelihatan. Hampir tidak mempercayai matanya sendiri hingga telinganya mendengar suara manis yang meneriakan "mama!" serta tangan kecil yang melingkari lehernya segera membuatnya tersadar. Dan Seokjin menangis sambil menciumi kedua pipi merona Taehyung kecil yang tertawa pelukannya.

.

Bangun dari tidurnya, meilirik jam di tembok kamar sesaat sebelum benar-benar berdiri. Pukul tujuh pagi, dan ini hari sabtu. Seokjin melirik laki-laki yang tadi terdur di sebelahnya dengan tidak terlalu rapi. Biasanya saat hari libur begini orang-orang di rumah baru akan bangun pukul delapan nanti. Tapi tidak ada salahnya kan jika dia sedikit merubah hal itu hari ini?

"Namjoonie, ayo bangun.."

Yang di panggil hanya bergerak gelisah sesaat lalu membalikan badan. Seokjin memutar bola matanya melihat tingkah lelaki yang sudah menjadi teman hidupnya selama sepuluh tahun itu. Mengulangi perbuatannya lagi, kali ini ia juga menepuk bahu suaminya.

"hey, ini sudah pagi.."

Seokjin bisa melihat Namjoon melirik jam dinding dengan matanya yang bahkan belum terbuka setengah, namun setelahnya ia tersenyum saat mendengar laki-laki itu menyahut dengan suara serak khas bangun tidur.

"15 menit lagi aku keluar.."

Puas akan jawaban yang dilontarkan suaminya, ia melirik sebuah box bayi di pojok ruangan dengan seorang bayi yang tertidur dengan tenang di dalamnya. Memutuskan untuk membiarkan anggota termuda keluarga itu untuk tidur lebih lama, Seokjin membawa dirinya keluar dari kamar itu setelah menggosok gigi dan mencuci mukannya lalu berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Melewati dua pintu kamar pertama dengan ukiran "H" dan "J", Seokjin langsung menghampiri pintu kamar kedua sebelah kanan dari arah tangga, mengabaikan pintu kamar dengan ukiran "Y" di depannya. Membuka pintu dengan ukiran huruf "T" itu perlahan, Seokjin mendapati dua orang anak balita yang tertidur sambil memeluk satu sama lain dengan posisi si anak perempuan yang terlihat nyaman tenggelam dalam pelukan si anak laki-laki.

sudah ku duga Jimin akan tertidur disini lagi…

Seokjin menghela nafas saat anaknya lagi-lagi melupakan perintah kecil untuk tidak tidur sekamar dengan saudara perempuannya. Tapi ia sendiri tidak mampu menyembunyikan senyum saat melihat pemandangan lucu di depannya.

yah, lagi pula mereka belum mengerti apapun yang aku dan Namjoon jelaskan. Mungkin memang sebaiknya menunggu hingga mereka sedikit lebih besar sebelum memisahkan kamar si kembar.

Melangkah masuk tanpa menimbulkan suara, Seokjin membuka tirai dan jendela di sana, membiarkan udara pagi yang segar memenuhi kamar itu. Saat dirinya membalikan badan menghadap kasur queen size yang di tiduri kedua anaknya, Seokjin kembali tersenyum saat mendapati putranya terbangun hanya dengan mendengar suara kecil yang ia timbulkan.

Jiminie memang yang terbaik.

Menggeliat perlahan, berusaha tidak mengganggu tidur adik perempuannya. Jimin menoleh kearah sumber bunyi yang membuatnya terbangun.

Oh "Pagi eomma!" ucapnya setengah berbisik kepada Seokjin.

Terkesan dengan tingkah anaknya, Seokjin menjawabnya dengan perlahan. "Pagi Jiminie.."

Namun tetap saja, saudara kembar yang tidak pernah berpisah semacam si kembar Kim ini pasti memiliki kesamaan. Karena pada kenyataan keduanya sama-sama mudah terbangun ―mungkin sebelumnya pelukan Jimin terlalu nyaman―, Taehyung menggeliat gusar dalam tidurnya mendengar percakapan super kecil antara ibu dan saudaranya.

Gadis kecil itu sedikit membuka mata saat tangannya yang ingin ia gunakan untuk mengucek mata ditahan oleh seseorang. Namun segera ia tutup kembali saat sebuah kecupan mendarat perlahan di kedua kelopak matanya. Setelah membuka matanya perlahan, ia mendapati wajah sang kakak yang tersenyum cerah kearahnya.

"Pagi Taetae-ah!"

Mengejab beberapa kali sebelum ia menjawab dengan penuh semangat, "Pagi juga Jiminie!", dan Taehyung memberi sebuah kecupan manis di pipi chubby kakaknya.

Seokjin semakin melebarkan senyum saat melihat kedua anak kembarnya berbagi kasih sayang.

"Pagi Taehyungie.. mama tidak di peluk juga nih?"

"Mama!", Taehyung segera berlari turun dari tempat tidur, melompat ke pelukan ibunya yang telah menyejajarkan tinggi, dan memberi kecupan selamat pagi di pipi kanan sang mama. Jimin menyusul setelahnya dan Seokjin terkekeh pelan saat merasakan kecupan kecil di pipi kirinya. Membalas dengan ciuman hangat di dahi, kemudian ia mengusak pelan rambut keduanya.

"Jah! Sekarang kalian berdua sikat gigi dan cuci muka lalu bantu mama membangunkan kakak kalian, umma akan menyiapkan sarapan"

"Siap kapten!"

Seokjin memerhatian si kembar yang segera melesat menuju kamar mandi. Keduanya nampak bersemangat ―yang Seokjin harap akan selalu begitu. Melihat Jimin yang mengangkat tubuh kecil Taehyung untuk memencet saklar lampu, lalu tertawa saat rambut panjang Taehyung yang sedikit ikal di ujungnya menggelitik wajah.

Tanpa sadar ia termenung. Taehyung termasuk mungil untuk anak seumurannya, jika pada umumnya anak seumuran mereka sedang dalam masa pertumbuhan yang pesat, nampaknya hal itu tidak berlaku pada si kecil Taehyung yang bahkan perbedaannya hampir tidak terlihat jika dibandingkan dengan tahun lalu, berbeda dengan Jimin yang pertumbuhannya terlihat jelas.

Tidak, Seokjin bukan termenung karena hal itu, lagi pula Taehyung baik-baik saja. Anak itu bahkan sangat sehat, dan tidak pernah mendapat serangan pada masalah pernafasannya lagi sejak setahun lalu. Tidak ada yang salah. Hanya saja sosok Taehyung selalu membuatnya teringat pada seseorang. Seseorang yang sangat berharga.

eonni…

Seokjin langsung tersadar sebelum lamunannya semakin jauh, lalu ia segera membawa dirinya keluar dari ruangan itu dan turun ke lantai bawah menuju dapur, menyiapkan sarapan seperti yang ia janjikan kepada dua buah hatinya.

.

.

Jimin mengerutkan keningnya sambil berdiri di depan kamar dengan ukiran huruf "Y". Ia dan Taehyung baru saja selesai dengan urusan di kamar mandi dan memutuskan untuk segera melaksanakan perintah kedua dari eommanya. Tadi saat adik yang lebih muda 10 menit darinya itu menarik tangannya dengan semangat menuju kamar kakak pertama mereka, Jimin menahannya dan segera mengusulkan agar mereka melakukannya secara terpisah sehingga lebih menghemat waktu. Yang lebih kecil sih senang-senang saja, dan segera berjalan menuju kamar dengan ukiran huruf "H" lalu masuk dengan riang gembira untuk membangunkan kakak laki-laki tertuanya sesuai permintaan Jimin.

Namun sesaat kemudian, Jimin tersadar atas kebodohannya. Itu artinya dia harus membangunkan Noonanya seorang diri. Jika noonanya seperti Taehyung yang disentuh sedikit langsung terbangun atau seperti putri kerajaan di film-film yang sering ditonton hyungnya diam-diam sih tidak apa-apa.

Tapi ini kan Yoongi noona.

Waktu itu Hoseok hyungnya pernah memberi petuah. 'Jangan bangunkan Yoongi noona seorang diri kecuali kau bersama orang dewasa atau membawa teman seperjuangan'. Dan terakhir kali Jimin mencoba membangunkan noonanya seorang diri dua bulan yang lalu. Dirinya berakhir menangis keras di lantai karena tendangan telak sang kakak yang mengenai tulang keringnya. Meskipun akhirnya Yoongi bangun karena kebisingan yang ia buat. Tetap saja dia jadi pihak yang lebih menderita.

Jimin merinding saat memikirkan hal itu. Dan setelah pemikiran panjang seperti penentuan hidup atau mati, ia membuka pintu kamar di hadapannya dengan perlahan. Mengedarkan pandangan sesaat, ia terhenti saat melihat sebuah gundukan selimut yang menyembunyikan noonanya hingga sebatas dagu di atas tempat tidur.

"Noona?"

Jimin berjalan masuk. Menuju sisi lain ruangan dan membuka jendela disana dengan tangan kecilnya, memberi jalan untuk cahaya matahari masuk tanpa hambatan.

Yoongi tampak terganggu saat sinar matahari menyinari wajahnya tiba-tiba. Jimin mendekat ke arah tempat tidur kakaknya, menampakan ekspresi was-was yang lucu dengan kening berkerut dalam, pipi menggembung, dan bibir memanyun.

"Yoongi noona?"

Tidak ada respon.

"Yoongi noona!"

Tetap tidak ada respon dan Jimin mulai kehilangan kesabaran. Jadi dia naik keatas tempat tidur kakaknya dan melompat-lompat disana.

"Yoongi noona! Yoongi noona! Yoongi noona!"

Suara cempreng Jimin memenuhi ruangan, dan Yoongi masih belum meberi respon yang berarti. Jadi Jimin mengulangi hal itu sekitar 10-15 kali, hingga Yoongi yang masih tertidur tampak merengut terganggu dengan telinga memerah. Namun gadis itu tetap tak menunjukan pergerakan positif atau keinginan untuk membuka mata dan bangkit dari tempat tidur kesayangnya.

gezzzz noona!

"YAAK! YOONGI-AAAAAAAAAHH!"

"AH! BERISIK!"

PLAK

BRUK

"GYAAAAAAAAA! ASDFGHJK*&^%$#! HUWAAAAAAAAAAAAAA!"

Dan Jimin sekali lagi berakhir terjatuh dengan wajahnya yang mencium lantai terlebih dulu.

.

Di ruangan sebelah, Hoseok yang sedang menggendong Taehyung hendak keluar kamar, hampir terjungkal ke belakang saat Jimin berteriak tepat saat Taehyung melompat ke punggungnya.

Untung tidak jatuh.

Tapi Hoseok segera memasang wajah datar saat membayangkan apa yang terjadi di kamar sebelah saat suara dentuman seperti sesuatu (atau seseorang) terjatuh dengan keras terdengar, disusul oleh tangisan Jimin yang langsung memenuhi seluruh penjuru rumah.

Kan sudah ku bilang jangan membangunkan Yoongi noona sendirian.

.

Sementara di lantai bawah Namjoon yang baru saja memasuki dapur sambil menggendong Jungkook, segera menghentikan aktivitasnya untuk mengambil minum saat suara putra keduanyanya menggema di rumah mereka. Si kecil digendongnya yang masih setengah tertidur bahkan langsung membuka mata dan menegakkan tubuh sambil menatap bingung wajah ayahnya saat mendengar hal itu.

Namjoon melirik Seokjin yang juga menghentikan kegiatan membuat pancakenya sesaat. Dan saat pandangan keduanya bertemu, mereka terkekeh geli.

Lalu suara setengah panik setengah malas Yoongi terdengar.

"EOMMAA! HIDUNG JIMIN MIMISAN KARENA TERBENTUUURR!"

Dan setelahnya mereka menghela nafas.

satu lagi hari yang akan menjadi panjang.

.

.


Dudududuunn...

this is it~

Awalnya ga nyangka ff ini bakal banyak yang minat, dan udah nyiapin mental buat ngapus chap 1, eh ternyata... hahaha

dan semoga ini cukup menyenangkan meskipun pendek huhuhu..

see ya next time!